Hasil pencarian
Cari di situs ini
10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- PDI Masukkan Seniman ke Parlemen
PEMILIHAN umum (Pemilu) 2024 tinggal hitungan bulan. Berbagai pihak yang akan mengikutinya telah mulai bermanuver untuk mendapatkan simpati rakyat. Partai politik, misalnya, mulai intens melalukan lobi-lobi politik dan melancarkan berbagai manuver. Salah satunya menarik artis untuk dijadikan anggota guna menarik sebanyak mungkin suara rakyat. Pelibatan artis sebagai anggota partai bukanlah hal baru. Itu telah dimulai oleh Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada masa Orde Baru. PDI adalah hasil fusi partai-partai berhaluan nasionalis dan menampung kelompok Katolik dan Kristen di dalamnya. Sepanjang Orde Baru, partai ini selalu berada di urutan ketiga dalam Pemilu baik dalam nomor urut maupun perolehan suara. Padahal, satu elemen utamanya yang bernama Partai Nasional Indonesia (PNI) adalah juara pertama Pemilu 1955.
- Benny Moerdani, Penjaga Setia Penguasa Orde Baru
BENNY Moerdani menelan pil pahit setelah Presiden Soeharto mencopotnya sebagai Panglima ABRI. Setelah menyingkirkan Benny, Soeharto mengalihkan tangan kepercayaannya kepada kelompok politisi. Dia pun mulai merapat ke kalangan Islam untuk memantapkan kekuasan. Hingga Soeharto lengser, hubungannya dengan Benny tak pernah kembali seperti semula: renggang, dingin, dan berjarak. Pada 29 Agustus 2004, Soeharto dan Benny Moerdani kembali bersua. Namun dalam pertemuan kali ini, tak ada pembicaraan. Benny yang dulu tersohor karena sangar hanya terbujur kaku. Peti mati menjadi pembaringannya. Di hari minggu itu, Si Raja Intel menghembuskan nafas terakhir pada usia 71 tahun. Di hadapan jenazah Benny, Soeharto yang telah uzur menundukan wajah seraya melantunkan doa. Itulah penghormatan terakhirnya untuk sang pelindung setia. Mereka berdamai di senjakala kehidupan.
- Gedung Parlemen di Antara Dua Rezim
KOMPLEKS parlemen alias Gedung MPR/DPR/DPD RI belakangan jadi bahan ledekan di aplikasi Google Maps lantaran ada yang menyunting. Belum jelas siapa yang menyuntingnya namun sudah kadung geger di jagat maya. Menurut laman support Google, siapapun yang memiliki akun Google memang bisa menyunting label sebuah lokasi, namun penyuntingannya tentu akan ditinjau pihak Google terlebih dulu. Kehebohan itu muncul lewat akun Twitter @recehtapisayng pada Minggu (2/7/2023). Tag lokasi gedung parlemen itu diubah sebutannya antara lain dengan olok-olok “Perkumpulan Tikus Berdasi”, “Sarangnya Tikus Tikus Kantor”, “Istana Tikus Berdasi, hingga “Peternakan Tikus”. Respon sejumlah legislator terhadapnya pun beragam. Ada yang meradang karena merasa ledekan itu tak beretika. Ada pula yang menganggap hal itu sekadar bentuk “perhatian” publik.
- Membaca Ulang Sejarah Parlemen Indonesia
PARLEMEN Indonesia menjadi salah satu topik yang jarang diulas dalam sejarah Indonesia. Sejak awal, narasi sejarah lebih menonjolkan bagaimana perang menjadi strategi dalam merebut kemerdekaan. Padahal, diplomasi juga turut andil dalam pengakuan kedaulatan Republik Indonesia. Dan Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) mengambil peran di dalamnya. Untuk kembali melihat bagaimana sejarah KNIP menjadi pondasi Parlemen Indonesia, Museum DPR RI bersama Historia.ID menggelar Pameran Daring bertajuk “Komite Nasional Indonesia Pusat: Mukadimah Parlemen Indonesia” yang dibuka pada Senin, 18 Oktober 2021. KNIP dibentuk pada 29 Agustus 1945 dengan beranggotakan 137 orang. Lembaga yang diketuai Kasman Singodimedjo awalnya befungsi sebagai pembantu atau penasihat presiden. Melalui Maklumat Wakil Presiden nomor X, KNIP diserahi tugas-tugas legislatif serta turut menetapkan Garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebelum DPR dan MPR dibentuk.
- Semaoen Anak Didik Sneevliet
PADA siang hari 16 Juli 1917, untuk sebuah pekerjaan propaganda buruh serikat kereta api, Semaoen dan Henk Sneevliet pergi mengunjungi Probolinggo. Atas anjuran seorang kusir, mereka menuju sebuah hotel di tengah kota Probolinggo. Ketika pesuruh hotel membawa koper masuk dan Sneevliet tengah duduk di kursi goyang, pemilik hotel datang menyambangi Sneevliet dan bertanya, “siapakah inlander yang datang bersamamu itu? Apa pekerjaanya?” “Dia kolega saya, tuan,” kata Sneevliet sopan. “Apakah dia seorang guru?” tanya pemilik hotel berkulit putih itu. Sneevliet kembali mengatakan bahwa lelaki yang pergi bersamanya itu kawannya tak lebih tak kurang. Mendengar jawaban tersebut, pemilik hotel mengatakan bahwa hotelnya tidak biasa menerima seorang tamu bumiputra untuk menginap. Dia berkilah merasa tak enak dengan tamu-tamunya yang lain. “Ada hotel lain di sini, milik seorang Tionghoa, di mana orang seperti kawanmu itu bisa menyewa kamar,” kata pemilik hotel, sontak membuat Sneevliet marah.
- Layar Lebar Chadwick Boseman
TAK hanya “Wakanda”, para penggemar Marvel di segala penjuru bumi diguncang kedukaan dengan wafatnya Chadwick Aaron Boseman. Sang Raja T’Challa alias Black Panther itu mengembuskan nafas terakhir pada Jumat, 28 Agustus 2020, di usia 43 tahun karena kanker usus besar. Boseman yang kondang dengan peran itu di film-film franchise MCU, Captain America: Civil War (2013), Black Panther (2018), Avengers: Infinity War (2018), dan Avengers: Endgame (2019) sudah masuk dunia “showbiz” sejak 2003 lewat serial televisi Third Watch. Seni peran sudah jadi minat sosok kelahiran Anderson, 29 November 1976 itu sejak sekolah di SMA T.L. Hanna pada 1995. Dia mengawalinya sebagai sutradara teater sekolahnya. Selepas lulus pun Boseman mengejar pendidikan tinggi di bidang yang sesuai minatnya, sinematografi, di Universitas Howard, Washington DC dan kemudian turut dalam Program Mid-Semester Musim Panas Oxford di British American Drama Academy.
- Jejak Kak Seto
KETUA Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi, yang dikenal sebagai Kak Seto, dihujat karena peduli kepada anak-anak Putri Candrawathi dan Ferdy Sambo. Maklum Ferdy Sambo dan istrinya sedang menjadi “musuh bersama” masyarakat karena terlibat dalam pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yoshua Hutabarat. Kak Seto khawatir dengan anak-anak Putri dan Ferdy Sambo. Dia mendengar anak mereka yang remaja menjadi sasaran perundungan (bullying). Sementara anak yang paling kecil masih membutuhkan air susu ibu. Putri pun tidak ditahan dengan alasan kemanusiaan. Sehingga masyarakat membandingkan perlakuan terhadap Putri dengan ibu-ibu dari masyarakat biasa yang dipenjara bersama anak-anaknya. Publik juga menilai kepedulian Kak Seto hanya kepada anak-anak Putri dan Ferdy Sambo. Kak Seto bukan “anak kemarin sore” dalam membela anak-anak Indonesia. Kehadiran orang-orang yang peduli kepada anak-anak seperti Kak Seto selalu dibutuhkan mengingat hak-hak anak kerap dilanggar bahkan oleh orang tuanya sendiri.
- Ahmad Subardjo Menteri Urusan Diplomasi
RUMAH besar bergaya arsitektur kolonial di Jl. Cikini 82, Jakarta Pusat kerap menjadi tempat resepsi pernikahan dengan nuansa estetis. Rumah itu juga disewakan untuk pameran hingga pertunjukan seni dan budaya. Sejak tahun 2024, rumah itu memang telah difungsikan sebagai ruang publik komersial. Namun, tak banyak orang tahu, rumah itu menyimpan memori sejarah berdirinya Republik Indonesia. Di rumah itulah Kementerian Luar Negeri Indonesia mula-mula menjalankan tugasnya. Pemiliknya adalah Ahmad Subardjo, menteri luar negeri pertama. Demi kepentingan negara, dia menjadikan rumahnya sebagai kantor departemen luar negeri. Lhaksmi Pujiwati Insia, putri sulung Ahmad Subardjo kelahiran 23 Juni 1936, masih ingat masa-masa di Cikini 82 ketika ayahnya bertugas sebagai menteri luar negeri. Sebagai anak menteri, keluarganya hidup biasa-biasa saja tanpa perlakuan khusus atau privilese dari negara. Meski demikian, keluarga mendukung sepenuhnya usaha Ahmad Subardjo sebagai abdi negara tanpa pamrih. Apalagi, saat itu masih dalam suasana genting perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
- Jejak Multatuli Setelah Meninggalkan Lebak
DI atas kapal uap yang berlayar menuju Singapura, Eduard Douwes Dekker terkenang masa-masa bertugas di Hindia Belanda. Dia baru saja mengundurkan diri sebagai Asisten Residen Lebak. Saat itu tahun 1857 dan dia tak bisa tinggal lebih lama tanpa pekerjaan. Pria berusia 30-an itu memiliki keluarga dan utang. Dia tak memiliki banyak uang untuk membawa keluarganya ke Eropa, sehingga dia berangkat sendiri sementara keluarganya tetap tinggal di wilayah koloni. Pada akhir Mei atau awal Juni, Dekker tiba di Marseille, titik awal perjalanan keliling Eropa. Selain Prancis, Italia dan Jerman masuk dalam daftar yang hendak dikunjunginya. Ketiganya merupakan pusat perkembangan politik dan sosial yang pesat setelah revolusi sepanjang tahun 1848 hingga 1849. Dekker hidup berpindah-pindah. Akibatnya, kontak dengan istrinya, Everdine, jarang terjadi. “Saat itu, dia belum melangkah lebih jauh dari beberapa rumah judi di Eropa. Kini, karena untuk sementara dia menjalani hidup sebagai duda yang belum menikah lagi... dia bisa membiayai petualangannya... Selama perjalanan, dia tidak sering mendapatkan pelajaran tentang gaya penulisan, tetapi justru lebih banyak pelajaran hidup,” tulis Paul van ‘t Veer dalam Het Leven van Multatuli.
- Krakatau Tak Pernah Selesai
KETIKA Gunung Krakatau meletus hebat pada 27 Agustus 1883, laut datang menerjang dengan kekuatan yang sulit dibayangkan manusia. Jejak amukannya kini masih tertinggal di Rawa Gribig, Tanjung Lesung. Jauh dari garis pantai, di tengah rawa dan hutan bakau, ratusan bongkah koral berserakan. Ukurannya pun luar biasa, dengan beberapa bongkah hampir mencapai lima meter. Di bawah lumpurnya tersimpan endapan pasir tsunami setebal hingga setengah meter dan batu apung dari letusan gunung. Ratusan bongkah koral itu menjadi semacam monumen alam bagi bencana besar yang telah berlalu lebih dari satu abad. Tetapi semakin lama melihat Krakatau, semakin terasa bahwa 1883 bukanlah titik akhir. Krakatau bukan sekadar gunung yang meletus pada 27 Agustus 1883. Ia adalah sistem gunung api yang berulang kali mengubah lanskap Selat Sunda. Sebagian jejaknya tersimpan dalam naskah, sebagian dalam tanah dan dasar laut, sebagian lagi dalam ingatan manusia.





















