Hasil pencarian
Cari di situs ini
10069 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Makna Patung Bung Karno di Aljazair
SEBUAH taman apik dengan patung artistik ditengahnya berdiri di salah satu bundaran teramai di Alger, Aljazair. Dua aspek yang saling berpadu dengan serasiitu merupakan gambaranMonument de Soekarno yang rencananya akan diresmikan 18 Juli 2020. Patungnya berbentuk sosok Bung Karno setengah dada sedang berpidato dengan gaya khas tangan menunjuk ke atas. Sosok founding fatheritu dipilih karena dianggap paling pas sebagai jembatan persahabatan Indonesia dan Aljazair yang terpisah jarak sekira 12 ribu kilometer.
- Ki Bagus Hadikusumo Pujangga dari Kauman
KI Bagus Hadikusumo dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah yang berperan besar dalam penyusunan dasar negara. Dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dia memaparkan pentingnya Islam sebagai dasar negara. Kendati cita-citanya kandas, Ki Bagus tetap memegang komitmen berbangsa dan bernegara.
- Jejak Pejuang Jepang dalam Perang Kemerdekaan di Medan
KAPAL-kapal besar bersandar di Pelabuhan Belawan, Medan, pada pengujung 1945. Ribuan tentara Jepang menanti dipulangkan ke negeri asalnya. Sesuai kesepakatan kapitulasi, tentara Jepang harus menyerahkan senjatanya kepada Sekutu. Sebagai pengganti, mereka dibekali sangu sebesar tiga bulan gaji. Namun, tidak semua dari tentara Jepang itu bersedia dipulangkan. Sebagian dari mereka kemudian menggabungkan diri dengan pejuang Indonesia.
- Hidup Gembira Tanpa Cemas Masuk Neraka
MENJELANG bulan Ramadan tahun 2015, tetiba saja jagad twitter heboh. Penyebabnya adalah Lukman Sardi, aktor pemeran Kiai Ahmad Dahlan dalam film Sang Pencerah, mengumumkan telah meninggalkan Islam untuk masuk Kristen. Pengakuannya itu diunggah di Youtube, disebarkan melalui twitter, mengundang berbagai komentar, mulai puja-puji sampai caci maki.
- Cerita Lawas dari Rumah Susun
KOMPLEKS rumah susun (rusun) di Jalan Kebon Kacang IX, Jakarta Pusat, tak pernah sepi. Pagi hari, anak-anak berlarian menyusuri jalan setapak di kompleks. Siang hari, giliran para pedagang tekstil muncul. Mereka mengambil stok barang dari dalam rusun. Sore hari, ibu-ibu berkeliling kompleks sembari menggendong bayi. Malam hari, para pemuda bernyanyi dan gitaran.
- Bentrokan TNI dan Polisi
TAK puas atas penanganan kasus pembunuhan rekan mereka yang ditangani Kepolisian Resor Ogan Komering Ulu, Sumatra Selatan, ratusan anggota Batalyon Artileri Medan 15 Tarik Martapura mendatangi Mapolres pada 7 Maret 2013. Dalihnya akan berdialog, tetapi mereka malah mengamuk.
- Anak Historis Kamper
HERMAN Neubronner van der Tuuk, yang dikirim Perkumpulan Alkitab Belanda tiba di Barus, di pantai barat Sumatra Utara, pada 1856. Tujuannya: menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Batak. Ketika berada di sana, dia membeli banyak benda kuno, yang ditemukan beberapa tahun sebelum kedatangannya, dari para penggali liar.
- Benyamin Sueb, Raja Lenong Main Film
SETELAH sukses menyanyi dengan menelorkan sekitar 70 album rekaman, Benyamin Sueb kemudian main film. Dia terjun ke dunia perfilman di saat yang tepat: awal tahun 1970-an perfilman Indonesia mengalami masa keemasan. Saat itu, perfilman begitu menggairahkan. Permintaan pasar yang sangat besar telah menggeser film-film impor. Munculnya film Pengantin Remaja makin memperkuat perfilman nasional. Sebelum dirilis di Indonesia, film ini sudah mendapatkan penghargaan di Festival Film Asia di Taipei, Taiwan. Dan beredar di Singapura, Malaysia, Thailand, Hongkong, dan Filipina. Bahkan, film ini menjadi film Asia pertama yang diputar di Jepang.
- Benyamin Sueb, Ikon dari Kemayoran
SEBUAH pekarangan rumah di salah satu kampung di Kemayoran, Jakarta. Seorang bocah enam tahun asyik bermain pada suatu siang tahun 1940-an. Kulitnya legam, berbadan cebol dan tambun. Ia hanya bercelana kolor. Tiba-tiba suara keluar dari mulut seorang kakek yang berada di dekatnya. Si kakek minta tolong pada bocah itu, yang merupakan cucunya. “Ben, beliin engkong tape,” kata si kakek. Si bocah langsung menghampiri kakeknya, mengambil uang receh dan menuju ke tempat tukang tape biasa mangkal. “Pekerjaan” itu sudah menjadi kebiasaan bagi si bocah.
- Benyamin Sueb, Perkutut Berhenti di Lampu Merah
MANTAN Presiden Amerika Serikat Jimmy Carter pernah berkata, “Jika Anda ingin tahu Amerika, dengarlah Bob Dyland”. Mungkin juga dalam hal tertentu demikian pula lagu-lagu Benyamin: mengantarkan pendengarnya menyelami kota Jakarta pada zamannya. Lagu-lagu Ben, demikian ia akrab disapa, memang banyak melukiskan rona kehidupan orang Jakarta. Lewat lagunya ia bicara mulai got mampet, dua tetangga yang berselisih, pertengkaran tukang kredit sampai soal memandikan burung perkutut. Semua ia ceritakan dengan kata-kata sederhana, mudah dicerna, dan seringkali penuh jenaka. “Kehadiran Benyamin melalui karya-karya yang mengangkat persoalan sehari-hari warga masyarakat, betawi khususnya, menjadi semacam maujud dari seluruh kebudayaan betawi itu sendiri. Lewat karyanya itu ia menjelma menjadi ikon regional dan bahkan nasional yang melampaui batas-batas geografis budaya betawi. Benyamin adalah manifestasi terbesar yang dimiliki oleh betawi,” kata sejarawan dari Komunitas Bambu JJ. Rizal kepada Historia.ID.
- Benyamin Sueb Ngider Ngelenong Ngerap
SUATU hari, Benyamin Sueb sangat ingin bertemu Bing Slamet, artis pujaannya. Ben ingin lagu ciptaannya dinyanyikan Bing. Ben putar otak. Akhirnya dia dapat akal: lewat Ateng Ben dikenalkan pada Bing. Ben lalu menemui Bing di studionya, dan menawarkan lagunya. “Ini Bang lagunya,” kata Ben. Bing membaca sekilas, moncoret-coret sedikit dan mengubah syairnya. Ben tampak puas. Dan benar, setelah lagu berjudul Nonton Bioskop itu dirilis –yang delapan tahun sebelumnya ditolak penyanyi Fenti Effendi– langsung meledak. Ben senang bukan kepalang. Dia pun ketagihan menulis lagu. Tapi, atas saran Bing Slamet, sebaiknya Ben menyanyikan lagu-lagunya sendiri. Anjuran Bin terbukti manjur. “Titik awal karier seni profesional Ben bermula dari band kecil bernama Melody Boys,” tulis Ludhy Cahyana dalam biografi Benyamin, Muka Kampung Rezeki Kota.
- Pu Yi, Kaisar China Terakhir tanpa Titah
PADA 2 Desember 1908, Aula Kedamaian Istana Terlarang. Ribuan orang berkumpul menghadiri upacara penobatan kaisar baru. Upacara biasanya memakan waktu sepanjang hari. Sebelum penobatan, kaisar baru harus menerima para pemimpin tentara istana, menteri, pejabat sipil dan militer, raja kecil, serta gubernur untuk melakukan kowtow (penghormatan).





















