top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10069 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sebuah Pamflet, Sebuah Panduan Menghadapi Pandemi

    SEBUAH pandemi penyakit paling ganas dalam sejarah umat manusia terjadi pada 1918-1919. Sekitar 50 juta orang tewas di seluruh dunia. Penyebab pandemi adalah virus influenza A H1N1. Proses penularan virus yang cepat dengan tingkat kematian yang tinggi membuat banyak pihak kewalahan, termasuk pemerintah Hindia Belanda.

  • Pekik “Merdeka” Sukarno di Singapura

    PASCA Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, setiap kali orang bertemu pasti akan mengucapkan salam “Merdeka”. Bahkan, pekik perjuangan “Merdeka” ditetapkan Maklumat Pemerintahan tanggal 31 Agustus 1945 sebagai salam nasional, yang berlaku mulai 1 September 1945. Caranya ialah dengan mengangkat tangan setinggi bahu, telapak tangan menghadap ke muka, dan bersamaan dengan itu memekikkan “Merdeka”.

  • Ramuan dan Roh Jahat dalam Menghadapi Pandemi

    PADA 1918-1919, kegalauan mengatasi pandemi influenza Flu Spanyol, termasuk pengobatannya, mendorong pemerintah dan masyarakat bereaksi.

  • Skinny Jeans, Punk, dan Rock & Roll

    PERNAHKAH Anda menyaksikan Grease? Film musikal yang dibuat pada 1978 itu mengisahkan seorang gadis remaja asal Australia, Sandy (Olivia Newton John), jatuh cinta pada Danny (John Travolta), seorang pemuda Amerika. Sesungguhnya Danny juga menyukai Sandy, tapi posisinya sebagai ketua geng berandalan di sekolah menghalanginya untuk mengungkapkan perasaan pada Sandy. Teman sepergaulan Danny juga menganggap Sandy gadis kolot, terlalu alim, dan tak modern. Demi merebut hati Danny, setelah melalui perenungan panjang, Sandy mengubah diri menjadi gadis pemberontak yang keren, misterius, dan sedikit liar. Ia mengenakan kaos hitam ketat yang dipadu-padankan dengan celana jins superketat (skinny jeans). Dua puluh tahun lebih setelah kemunculan pertamanya, skinny jeans masih mewakili nilai yang sama: pemberontakan.

  • Jalan Multatuli Menuju Lebak

    MULTATULI, nama pena Eduard Douwes Dekker, jengah menyaksikan pemerasan dan penganiayaan terhadap rakyat bumiputra oleh penguasa lokal. Sebagai orang Belanda, ia juga tak setuju dengan sikap pemerintah kolonial Belanda yang mendiamkan kezaliman itu.

  • Siapa Peduli Rumah Multatuli?

    RUMAH itu berdiri agak tersembunyi di balik bangunan baru Rumah Sakit Umum Dr Adjidarmo, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten. Rerumputan tumbuh liar di halaman. Lantai berdebu, kaca nako merosot hampir lepas dari jepit penyangganya, meja-kursi yang tergeletak tak beraturan menambah kusam penampilan rumah. Rumah itu pun lebih menyerupai kantor yang lama tak digunakan ketimbang bekas kediaman asisten residen yang namanya terkenal ke seantero jagat: Eduard Douwes Dekker alias Multatuli.

  • Ernest Douwes Dekker, Indo Jadi Menteri

    MULTATULI punya seorang "cucu", yang kelak meneruskan semangatnya, bernama Ernest Douwes Dekker –lebih dikenal dengan nama Danudirdja Setiabudi. Persisnya cucu dari Jan, kakak kandungnya. Nama Setiabudi diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah kota penting di Indonesia. Setiabudi bernama asli Ernest Francois Eugene (EFE) Douwes Dekker. Ia lahir di Pasuruan, Jawa Timur, 8 Oktober 1879, sebagai anak ketiga dari pasangan Auguste Henri Eduard Douwes Dekker dan Louisa Margaretha Neumann. Auguste seorang broker bursa efek dan agen bank, sedangkan Louisa putri seorang Jerman yang kawin dengan perempuan Jawa. Oleh orang-orang terdekatnya, ia biasa dipanggil Nes. Sedangkan rekan-rekan seperjuangan menyebutnya DD. Ernest menempuh pendidikan dasar di Pasuruan, HBS di Surabaya, lalu sekolah elite Gymnasium Willem III di Batavia. Setelah lulus, ia bekerja di perkebunan kopi Soember Doeren di lereng selatan Gunung Semeru, Malang, Jawa Timur. Karena konflik dengan sang manajer, ia dimutasi ke perkebunan gula Padjarakan di Kraksaan dekat Probolinggo. Pada masa itu di Jawa selalu terjadi sengketa pembagian air irigasi antara pabrik gula dan para petani. Sikap Ernest bahwa Padjarakan telah merebut hak petani. Ia lalu mengundurkan diri.

  • Perkara Naturalisasi Malaysia, Dulu dan Kini

    NEGERI Jiran melawan balik. Federasi sepakbola Malaysia FAM akan mengajukan banding setelah sebelumnya tujuh pemain naturalisasi Timnas Malaysia dianggap ilegal oleh FIFA. Ini bukan kali pertama Malaysia tersandung problem naturalisasi di lapangan hijau.

  • Belajar dari Sepakbola Tionghoa

    PADA mulanya, sepakbola di Hindia Belanda hanya dimainkan oleh orang-orang Barat, terutama Belanda. Sepakbola adalah prestise. Tak mau disebut warga negara kelas dua, sepakbola kemudian dimainkan oleh orang Tionghoa, juga bumiputra. Perkembangan ini ditunjang pula oleh kebijakan Politik Etis. Sekolah-sekolah yang didirikan oleh Belanda seperti MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), AMS (Algemene Middelbare School), dan HBS ((Hogere Burger School) mengajarkan olahraga, dan salah satunya sepakbola.

  • Vasily Zaitsev dan Tradisi Sniper Rusia

    HINGGA kini, keberadaan sniper masih diselubungi misteri. Militer di banyak negara sengaja “menyembunyikannya”. Dalam sejarah, “hanya Soviet yang pernah memuja-muja sniper, sewaktu Perang Dunia II dengan apa yang mereka namakan ‘sniperisme’,” tulis Chris Petit dalam tulisan yang dimuat guardian.co.uk/books: “Bang, Bang – You’re Dead”.

  • Roman Cinta dan Politik

    SULAIMAN, tokoh utama dalam novel Azalea, merasa politik bukan dunianya. Ia bukan hanya tak tertarik, tapi juga ngeri karena politik acap dipakai sebagai alat pemaksa. Dan ia selalu punya jawaban ketika ia ditanya mengenai aktivitas politiknya.

  • Bertahan dari Hukuman IOC, Dulu dan Sekarang

    KOMITE Olimpiade Internasional IOC menggugat Indonesia sebagai imbas pemerintah Indonesia tak memberikan visa bagi kontingen Israel untuk mengikuti Kejuaraan Dunia Senam Artistik 2025 di Jakarta (19-25 Oktober 2025). Ini bukan kali pertama Indonesia berurusan dengan IOC soal Israel.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page