top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10067 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sri Nasti Rukmawati Mencoba Melepas Trauma 1965 dengan Suara

    SRI Nasti Rukmawati (74 tahun) tidak melupakan hari-hari setelah Peristiwa 1965. Baginya hari-hari itu adalah hari mengerikan yang selalu menghantuinya. Hari-hari yang suram itu membalik putaran roda hidupnya dan keluarganya.

  • Yang Terpisah Karena 1965

    SRI Nasti Rukmawati (72) tak pernah lupa hari-hari setelah Peristiwa 1965. Baginya, hari-hari itu merupakan hari melelahkan, mengerikan, dan menakutkan. Yang lebih penting, hari-hari itu membalikkan nasibnya, nasib orangtuanya, nasib adik-adiknya, dan entah nasib berapa ratus ribu orang lain yang dicap kiri.

  • Banjir Darah di Cibugel

    TUGU itu menjulang seolah menantang langit. Tingginya lima meter. Ia berada persis di depan kantor Desa Cibugel. Kendati tanpa keterangan apapun, warga Cibugel tahu tugu itu merupakan pengingat atas suatu peristiwa mengerikan yang pernah melanda desa mereka sekitar 60 tahun lalu.

  • Cerita dari Nirbaya

    HATI anak perempuan mana yang tak bergidik ngeri menyaksikan ayahnya meringkuk dalam tahanan. Perasaan itulah yang dialami Dina Indira kala menginjakan kaki di penjara Rumah Tahanan Militer (RTM) Nirbaya, Jakarta Timur. Ayah Indira adalah Mayor Jenderal TNI Moersjid, salah satu tahanan politik (tapol) rezim Orde Baru pada awal 1970. Ketika pertama kali mengunjungi Moersjid di Nirbaya, Dina masih bocah kelas 6 SD.

  • Para Pemikir Ekonomi Syariah di Indonesia

    EKONOMI syariah sedang bergeliat di Indonesia. Merger tiga bank syariah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menjadi babak baru ekonomi syariah di Indonesia. Demikian pendapat K.H. Ma’ruf Amin, Wakil Presiden sekaligus Ketua Dewan Pembina Masyarakat Ekonomi Syariah, dalam artikelnya di Kompas, 17 Februari 2021.

  • Tragedi Kematian Kennedy

    PADA November 2013, rakyat Amerika Serikat memperingati 50 tahun kematian Presiden John Fitzgerald Kennedy. Acara digelar di kantor-kantor pemerintahan hingga kampus. Tua-muda berbaur untuk mengenang atau mengenal lebih jauh presiden ke-35 mereka yang gugur diterjang timah panas. Semasa hidupnya, Kennedy dikagumi dan cintai rakyatnya. Terutama karena kebijakannya yang berpihak pada rakyat banyak, dari jaminan kesehatan hingga peningkatan upah, dari penyediaan perumahan hingga pemenuhan hak-hak sipil. Di panggung internasional, Kennedy meredakan Perang Dingin dengan memilih jalan damai. Uni Soviet dan Kuba, dua seteru abadi Amerika Serikat, pun menaruh hormat padanya. Dan rakyat Amerika pun terkejut mendengar kabar kematiannya. Dunia ikut berduka. “Ini berita buruk,” ujar pemimpin Kuba, Fidel Castro. Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Khrushchev menangis tersedu-sedu di Kremlin. Sukarno yang telah menyiapkan wisma negara untuk menyambut kedatangan Kennedy, merasa kehilangan mendalam. “Katakan padaku, mengapa mereka membunuh Kennedy?” Komisi Warren, yang dibentuk seminggu setelah pembunuhan Kennedy, menyimpulkan Lee Harvey Oswald sebagai pelaku tunggal. Banyak yang tak puas. Muncul beragam teori tentang pelaku lain. Kematian Kennedy seolah sebuah misteri, hingga kini. Sebagai bentuk penghormatan, Historia menurunkan laporan khusus peringatan 50 tahun kematian Kennedy. Kami mengupas kisah kematiannya yang tragis dan beragam teori yang menyertainya. Tak lupa pula masa bulan madu hubungan Amerika Serikat dan Indonesia di masa pemerintahan Kennedy.* Berikut ini laporan khusus pembunuhan Kennedy. Misteri Kematian Kennedy Oswald Pelaku Tunggal Dari CIA Hingga Mafia Ini Sebuah Kecelakaan Arsip Pembunuhan Kennedy Kennedy dalam Sengketa Irian Barat Wisma untuk Kennedy Pentas Terakhir Bobby Kennedy

  • From West to East: Soebandrio’s Diplomatic Journey

    The city of London felt cold that day, on the first day of November 1950. At least that was how Ganis Harsono felt after arriving from his long journey from Jakarta. At the Indonesian embassy building on Rutland Gate, Kensington, Ganis met with the Indonesian ambassador to the United Kingdom in connection with his appointment as press attaché at the Indonesian embassy. Like the cold London air, Ganis recalled that the meeting felt stiff and unfriendly.

  • Drama Penangkapan D.N. Aidit

    D.N. Aidit jadi buronan setelah terjadinya peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965. Pemimpin Partai Komunis Indonesia (PKI) itu dianggap sebagai dalang intelektual di balik gerakan makar tersebut. Untuk memburu Aidit, pihak Angkatan Darat menggelar operasi intelijen. Pengejaran berlangsung sampai ke Jawa Tengah dipimpin oleh Kolonel Jasir Hadibroto, Komandan Brigade Infantri IV Kostrad. “Pasukan saya ditarik dari Kisaran, Sumatra Utara. Kami tidak jadi menyerbu Malaysia, tetapi dialihkan ke Jawa Tengah untuk melakukan pengejaran sisa-sisa oknum G30S,” ujar Jasir dalam harian Kompas , 5 Oktober 1980. Dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang , wartawan senior Julius Pour mencatat, hanya dalam tiga minggu, tim intelijen Brigif IV berhasil melacak jejak Aidit. Sampai akhirnya masuk laporan berkualifikasi A-1, terjamin kebenarannya. Bahwa pada 21 November 1965, persembunyian Aidit pindah dari Kletjo, di bagian barat kota Solo, ke Sambeng. Sesudah menerima info tersebut, jaring-jaring perangkap mulai ditebar pasukannya di Kampung Sambeng, sekitar 300 meter dari Stasiun Kereta Api Solo Balapan. “Sekitar pukul 21.00, setelah rumah sasaran dikepung rapat, Letnan II (Inf.) Ning Prajitno bersama anak buahnya mendobrak persembunyian Aidit,” tulis Julius Pour. Sewaktu rumah persembunyian Aidit didobrak dan digeledah ternyata kosong tidak berpenghuni. Dalam penyisiran nampak sebuah kaca mata baca tergeletak di meja tetapi pemiliknya tidak ditemukan. Namun, ketika seorang prajurit bernama Kosim menggeser lemari makan, ditemukanlah pintu darurat menuju kamar rahasia. Dalam ruangan tersebut terdapat lemari pakaian. Majalah terbitan Pusat Sejarah ABRI, Senakatha , No. 13, Januari 1992 mengisahkan drama yang cukup unik dalam upaya meringkus Aidit. Prajurit yang membuka lemari pakaian itu terperanjat kaget begitu mendapati sesosok manusia. Soalnya, ada pakaian gantung yang bergerak-gerak seirama gerak napas seseorang. Rupanya Aidit bersembunyi dalam bilik lemari pakaian. Dia berdiri di balik pakaian gantung. Dengan sigap, sang prajurit menyingkap baju panjang tersebut dengan posisi siap tembak. Terjalinlah percakapan singkat antara Aidit dan prajurit. “Angkat tangan… Keluar dan menyerah!” perintah si prajurit. “Ya… Kamu tahu saya Aidit?" ujar orang tersebut “Baik… Bapak sekarang saya tangkap,” jawab prajurit. Aidit coba menggertak: “Nanti dulu. Saya ini Menko. Kamu tidak berhak menangkap saya.” Si prajurit mulai habis kesabaran. “ Mengko ? Apa…? Saiki! ” katanya seraya menyeret Aidit. Rupanya si prajurit salah dengar. Ucapan Menko yang dimaksud Aidit adalah jabatannya dalam pemerintahan sebagai Menteri Koordinator. Sementara itu, sang prajurit yang berasal dari Kartosuro ini menafsirkannya sebagai “ mengko ” yang dalam bahasa Jawa berarti nanti. “Maka dengan spontan dijawabnya dengan “ saiki ” yang artinya sekarang. Ada-ada saja,” tulis Senakatha . Menurut Julius Pour adalah Letnan Prajitno yang memerintahkan Aidit mengangkat tangannya dan keluar dari persembunyian. Setelah Aidit ditemukan, Prajitno memerintahkan Sersan Idit Sukardi mengikat tangan Aidit. Dengan tertangkapnya Aidit, mereka bersiap untuk menghadapkannya kepada sang komandan, Kolonel Jasir Hadibroto.*

  • Yang Kita Lupakan dalam Peringatan Hari Pahlawan

    UNTUK menjadi sebuah bangsa, orang-orang butuh disatukan. Dalam Kongres Pemuda I, seperti yang kita tahu, Tabrani ngotot agar Bahasa Indonesia yang menjadi bahasa persatuan, bukannya bahasa Melayu seperti usulan Yamin. Kenyataannya, saat itu belum ada yang namanya Bahasa Indonesia. Tapi toh bahasa itu diciptakan untuk memberikan identitas, untuk membedakan antara “kita” dan “mereka” untuk mempersatukan.

  • Senjakala Partai Murba

    KENDATI harus mulai dari nol, Ketua Umum Partai Murba Sukarni tetap optimis partainya bisa kembali berbenah dan berbicara banyak dalam Pemilu 1971. Untuk itu, Sukarni merangkul Partai Indonesia (Partindo); pecahan dari Partai Nasional Indonesia (PNI), berhaluan kiri, dan ditindas pasca-1965. Bahkan sejumlah tokoh kawakannya seperti Ibrahim Yacoob alias Iskandar Kamel dan Djon Pakan ditempatkan dalam jajaran pimpinan Murba.

  • Potret Jakarta Setengah Abad Berselang

    YURI Melnik, pria paruh baya asal Uni Soviet, berjalan menyusuri jalanan Jakarta sambil menenteng kamera Canon Canonet QL19. Melihat Patung Dirgantara, dia berhenti sejenak, mengarahkan kameranya, lalu memotret. Saat itu sekira pertengahan 1960. Lalu lintas Jakarta masih lengang. Tak terlihat antrean kendaraan yang mengular seperti sekarang.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page