Hasil pencarian
Cari di situs ini
10064 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ramuan Politik Massa Mengambang
BILA pada masa Sukarno politik “dilantik” jadi panglima maka semasa Orde Baru, kecuali dalam Pemilu, masyarakat dipisahkan dari kehidupan politik formal. Demi stabilitas dan pembangunan, konsep “massa mengambang” yang digaungkan Ali Moertopo diadopsi oleh pemerintah Orde Baru. Karena Orde Baru mendapuk ekonomi jadi panglima.
- Hikayat Ali Moertopo-Soemitro
15 JANUARI 1974. Ratusan mahasiswa dan pelajar berkumpul di halaman Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Salemba. Mereka lalu bergerak menuju Universitas Trisakti di Grogol. Rencananya, mereka akan membacakan tuntutan, yang dikenal dengan Tritura Jilid II, berisi seruan pembubaran lembaga Asisten Pribadi Presiden (Aspri), turunkan harga, dan hukum para koruptor. Di tengah perjalanan, jumlah demonstran bertambah dan terpecah-pecah.
- Siasat Spion Komando Jihad
PESAWAT Garuda DC-9 Woyla mengangkut 48 penumpang dari Bandara Kemayoran Jakarta menuju Bandara Polonia Medan, pada 28 Maret 1981. Para pembajak mengalihkan penerbangan menuju Penang, Malaysia. Setelah mengisi bahan bakar, pesawat melanjutkan penerbangan menuju Bangkok, Muangthai (kini Thailand), dan mendarat di Bandara Don Muang. Pesawat diparkir di spot pangkalan Angkatan Udara Kerajaan Thailand, sekira dua kilometer dari terminal bandara.
- Asmara Serdadu Belanda
PELUIT kapal berbunyi kencang di Pelabuhan Amsterdam. Salam perpisahan dengan papan-papan bertuliskan pesan menandai awal perjalanan Flip Peeters, seorang prajurit wajib militer berusia 21 tahun. Keluarga dan sanak saudaranya melepas dengan berat. Begitu pula tunangannya, Gerda.
- Kala Pejabat Berolahraga
BUNG Tomo, anggota Konstituante yang dikenal karena aksi heroiknya dalam Pertempuran Surabaya tahun 1945, berdiri di tengah lapangan hijau. Begitu semua pemain siap, ia meniupkan peluit panjang. Kick off dimulai dengan tendangan kehormatan yang dilakukan oleh Ketua Parlemen Mr. Sartono. Sesaat setelahnya laga pun dimulai.
- Setiabudi's Last Message to Sukarno
At his cool house on Jalan Lembang 410 in Bandung, Eugene Douwes Dekker or Danudirdja Setiabudi, was approached by a man who was a stranger to him on December 31, 1949. The “guest” introduced himself as Soedradjat and came with several other people.
- A.H. Nasution di Balik Pembubaran DPR
MULUTMU harimaumu. Pepatah itu agaknya tak pernah diindahkan eks anggota DPR asal Partai Nasdem Ahmad Sahroni. Pasalnya, jawabannya – “Yang menuntut pembubaran DPR adalah orang paling tolol sedunia”– atas tuntutan demonstran beberapa waktu lalu memicu kemarahan publik yang disusul kerusuhan. Sahroni akhirnya menanggung risikonya, rumah diserbu massa dan barang-barangnya dijarahi hingga Sahroni sendiri kemudian dinonaktifkan partainya dari DPR.
- Sepak Terjang Pemuda dari Sumedang
PADA lokasi bekas rumah bersejarah di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 berdiri sebatang tiang menjulang tinggi dengan simbol petir di pucuknya. Sederet kalimat tertera pada dasar tiang itu: “Disinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta.”
- Lakon dalam Pusaran Revolusi
KEMAYORAN, pada suatu sore, 14 Agustus 1945. Beberapa pemuda berkumpul di sebuah kebun pisang dekat lapangan terbang Kemayoran. Saat itu Chaerul Saleh, Asmara Hadi, A.M. Hanafi, Sudiro, S.K. Trimurti, dan Sayuti Melik berniat menemui Bung Karno dan Bung Hatta yang kabarnya akan mendarat dari Saigon, Vietnam. Sesuatu telah membuat mereka gundah. Jepang telah kalah perang sementara kemerdekaan untuk Indonesia direken sebagai hadiah Jepang.
- Anak Menak Revolusioner
MUNGKIN Nonoh tak pernah menyangka anak lelakinya kelak menjadi pemuda yang berperan dalam revolusi Indonesia. Dia lahir pada 16 Oktober 1914 di Sumedang, Jawa Barat sebagai anak ke-14 dari 16 bersaudara. Ayahnya Raden Haji Soelaiman, seorang pendatang Demak, Jawa Tengah.
- Saujana Merdeka Menteri Sederhana
SOSOKNYA tak terlalu tinggi. Kumis tipis melintang dan jenggot lumayan panjang menghiasi wajah tirusnya. Hanya kacamata bundar dan pakaian sederhana yang selalu menemaninya ke mana pun dia pergi. Gaya hidupnya bersahaja. Namun sosok pendiam itu memiliki peran yang tidak sedikit dalam hari-hari di sekitar revolusi 17 Agustus. Tekadnya dalam berjuang memerdekakan rakyat begitu kuat. “Rakyat kita belum merasakan benar apa kemerdekaan itu,” ujar Ibrahim Isa, mengutip keterangan Wikana kepada Fransisca C. Fanggidaej, yang pernah menumpang di rumah dinas Wikana di Solo, suatu waktu.
- Tersisih dari Perahu Partai
PERISTIWA Madiun 1948 menyudutkan PKI ke tubir jurang kehancuran. Partai berlambang palu-arit itu dituduh berada di belakang peristiwa yang disebut-sebut sebagai “pemberontakan” itu. Sebelas orang tokoh PKI ditembak, yakni Amir Sjarifuddin, Maroeto Daroesman, Suripno, Oey Gee Hwat, Sardjono, Harjono, Sukarno, Djokosujono, Katamhadi, Ronomarsono, dan D. Mangku. Sebelum mereka dieksekusi, Musso telah terlebih dahulu ditembak mati oleh tentara.





















