Hasil pencarian
Cari di situs ini
10064 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Berpisah di Jalan Dempo
RUMAH yang terletak di Jalan Dempo No. 7A, Menteng, Jakarta Pusat, itu tak begitu besar dan lebih menyerupai paviliun. Ukurannya memanjang ke belakang dengan dua kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, ruangan kecil di bagian belakang, dan gudang. Semuanya serba kecil. Wikana menjadikan kamar tidur sekaligus tempat kerja. Pada rumah pemberian Chairul Saleh itu sederet pagar dan pintu berdiri cukup tinggi.
- Pesan Terakhir Setiabudi untuk Sukarno
DI rumahnya yang sejuk di Jalan Lembang 410 Bandung, Ernest François Eugene Douwes Dekker alias Danudirdja Setiabudi dihampiri seorang pria yang asing baginya pada 31 Desember 1949. Pria “tamu” itu mengaku sebagai Soedradjat dan datang bersama beberapa orang.
- Jenderal Moersjid, dari Deputi Yani hingga Penjual Roti
SETELAH bebas dari penjara, hari-hari Jenderal Moersjid diisi dengan membantu sang istri berjualan roti. Sebagai seorang tentara tulen, kegiatan pascapensiun demikian tentu bertolak belakang dari karakter Moersjid. Tapi, apa boleh buat. Agar dapur keluarganya bisa terus ngebul, Moersjid yang semasa aktifnya dikenal sebagai perwira jago tempur itu tak minder jualan roti.
- A Forgotten Exploding Arsenal
BEHIND a series of high cliffs, a monument stands tall on the banks of the Cisokan River in Ciranjang sub-district, Cianjur, Indonesia. The monument looks dreary. Plastic waste and leaves are scattered around it. A line of faded writing can be read on the body of the monument: “Peristiwa Pertempuran, Pasukan Banteng-Hisbulloh/Sabilillah-Rakyat lawan Tentara Inggris" (The Battle of Banteng-Hisbulloh/Sabilillah-People against the British Army).
- Amuk Semeru di Masa Lalu
KETENANGAN warga Kabupaten Lumajang, Jawa Timur (Jatim) pada Sabtu (4/12/2021) sore mendadak berubah jadi kegemparan. Langit berubah kelam seiring gemuruh akibat erupsi dahsyat Gunung Semeru. Gunung tertinggi di Pulau Jawa (3.676 mdpl) itu mengeluarkan kepulan asap pekat dan hujan abu vulkanik yang mencapai Kabupaten dan Kota Malang.
- Gunung Semeru Memantapkan Pulau Jawa
GUNUNG Semeru yang terletak di antara Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, meletus pada Sabtu, 4 Desember 2021. Erupsi gunung berapi tertinggi (3.676 m) di Pulau Jawa ini menelan 22 korban jiwa. Semeru bukan sembarang gunung. Dalam kosmologi Hindu, Semeru (Sumeru atau Meru) merupakan pusat jagat raya. Gunung ini juga berkaitan dengan pemantapan Pulau Jawa sebagaimana diceritakan kitab Tantu Panggelaran yang ditulis pada 1557.
- Gunung Agung 70 Tahun Jual Buku
KABAR buruk datang dari Gunung Agung. Toko buku legendaris itu beberapa hari terakhir ramai diberitakan akan mem-PHK karyawannya secara besar-besaran. Langkah itu diambil pihak manajemen lantaran terus merugi. Terbaru, pihak manajemen memastikan akan menutup semua toko Gunung Agung yang tersisa pada 2023. “Keputusan ini (Toko Buku Gunung Agung tutup) harus kami ambil karena kami tidak dapat bertahan dengan tambahan kerugian operasional per bulannya yang semakin besar,” kata pihak manajemen Gunung Agung, yang berpusat di Kwitang, Jakarta Pusat, sebagaimana diberitakan kompas.com, 22 Mei 2023. Hingga awal milenium ini, Kwitang terkenal dengan pasar buku bekasnya. Tak hanya anak sekolah, kaum intelektual yang berada di Jakarta biasa mencari buku di tempat ini. Padahal, sebelum tahun 1953 kawasan Kwitang masih sepi.
- Kapitalisme “Unik” ala Indonesia
MESKI sudah lewat 20 tahun lebih sejak kemunculannya, Rise of Capital masih punya relevansi dengan kondisi sosial-ekonomi dan politik Indonesia saat ini. Di saat banyak orang merindukan masa Orde Baru, buku ini seakan mengingatkan betapa banyak sisi buruk rezim itu. “Relevansi buku Rise of Capital lebih relevan lagi dengan tanda-tanda bangkitnya kembali Orde Baru,” ujar sejarawan Hilmar Farid dalam peluncuran buku terjemahan ini di Jakarta.
- Nasionalisme Dua Sisi
PAPUA adalah “batu sandungan”. Komplektisitas relasi Jakarta-Papua membuat penanganan pulau di ujung timur Indonesia itu tak berujung selesai. Pola penanganan pemerintah pusat, dengan pendekatan keamanan, turut memperkeruh suasana.
- Posisi Pandai Besi dalam Sejarah Nusantara
ANN Dunham, antropolog Amerika Serikat dan ibu Presiden Amerika Barack Obama, terpaku heran melihat dua pembesar desa menunjukan sikap takzim pada perajin keris, Pak Djeno. Mereka berbicara dengan nada yang direndahkan. Kepala mereka seringkali menunduk ketika mendengar Pak Djeno berbicara. Tak seperti yang Ann kenal, sikap mereka berbeda; tak ada kelakar dan tawa dari mereka sebagaimana biasa. Dua pembesar itu menemani Ann yang sedang menyusun disertasi mengenai pandai besi di Indonesia. Pada 1988, Ann menyambangi desa di Sleman, Yogyakarta, untuk menambah bahan-bahan penulisan.
- Awal Mula Tambang Batubara
KUTAI Kartanegara dan Penajam Paser Utara akan menjadi ibukota baru Indonesia. Dua wilayah ini terletak di Kalimantan Timur, provinsi kaya sumber daya alam. Tambang batubara terbesar di Indonesia berada di provinsi itu, di wilayah bernama Sangatta, Kabupaten Kutai Timur.
- 19 November 1846: Mula Tambang Batu Bara
DEMI memenuhi kebutuhan batu bara yang terus meningkat, Ratu Belanda menggelontorkan anggaran sebesar f 50.000 per tahun untuk penggalian tambang batu bara di wilayah Kalimantan Selatan. Keputusan yang dibuat pada 19 November 1846 didasarkan atas hasil eskpedisi sebuah tim penelitian. Kala itu Kalimantan Selatan merupakan bagian dari Zuider-en Oosterafdeeling van Borneo atau Karesidenan Kalimantan Selatan dan Timur. Kekayaan alam Kalimantan sejak lama menarik perhatian orang Eropa untuk melakukan penelitian. Salah satunya H. von Gaffron yang kemudian terkenal dengan eksplorasi emas dan batu bara. Kemudian pada 1843 geolog C.A.L.M. Schwaner dan beberapa orang yang tergabung dalam De Natuurkundige Commissie (Komisi Ilmu Pengetahuan Alam) melakukan ekspedisi di Karesidenan Kalimantan Selatan dan Timur. Ekspedisi ini dilakukan atas permintaan pemerintah kolonial. Pengetahuan Schwaner tentang geologi Kalimantan digunakan untuk kegiatan eksplorasi batu bara pada tahun-tahun berikutnya. Menurut Nugroho Nur Susanto dalam Oranje Nassau, Pengaron: Awal Batu Bara di Indonesia , hasil penjelajahan Schwaner pada tahun 1843-1846, yang kemudian baru diterbitkan tahun 1853 dengan judul Borneo Beschuving Het Stroom Gebied Van Den Barito , berisi informasi tentang kekayaan alam tambang batu bara di daerah Riam. Berbekal laporan ini, kegiatan survei lanjutan pun dilakukan. Dikirimlah tim-tim eksplorasi dan usaha lanjutan. Operasional tambang pemula “De Hoop” dan Hermina memang belum bisa memenuhi target yang diharapkan. Tapi, catat Susanto, harapan membumbung tinggi bahwa bahan tambang batu bara melimpah di Kalimantan bagian selatan ini. Informasi itu juga memunculkan hasrat dari pemerintah Hindia Belanda untuk melakukan eksploitasi. Residen Kalimantan Selatan A. L. Weddik kemudian menyampaikan kepada Kerajaan Belanda bahwa sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan mengandung sumber daya bumi yang melimpah. Itulah sebabnya pada 19 November 1846 Ratu Belanda menyediakan anggaran sebesar f 50.000 per tahun untuk menggarap “daerah baru” ini. Bambang Subiyakto dalam Dinamika Perekonomian Hulu-Hilir Sungai: Bank Indonesia dalam Lintasan Sejarah Kalimantan Selatan menyebut anggaran tersebut diberikan melalui aparatur pemerintahan daerah setempat. Hal itu disampaikan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jan Jacob Rochussen. Rochussen juga memberikan instruksi untuk menambang batu bara dan memilih daerah Riam dekat Martapura. Untuk melakukan penambangan di Kalimantan Selatan, pemerintah Hindia Belanda mendesak Sultan Banjarmasin untuk memberikan konsesi tambang batu bara di wilayah sekitar kekuasaan Kesultanan Banjarmasin. Sebab, Kalimantan Selatan merupakan wilayah inti warisan dari Kesultanan Banjarmasin. Izin konsesi diperoleh pada 1849 untuk penggalian tambang batu bara di wilayah Pengaron (Riam Kiwa), Kalangan, dan Banyu Irang. Konsesi tambang batu bara pertama di Pengaron dengan nama Oranje Nassau diresmikan oleh Gubernur Jenderal J. J. Rochussen pada 28 September 1849. Konsesi ini menghasilkan 10.000 ton batu bara per tahun. Jumlah produksinya terus meningkat hingga 14.794 ton di tahun 1854. Seiring perkembangannya, pemerintah Hindia Belanda memberikan konsesi kepada perusahaan swasta Julia Hermin untuk membuka tambang batu bara di Banyu Irang pada 1853. Setahun kemudian, di lokasi yang sama, perusahaan Delf juga membuka dua tambang batu bara. Tahun-tahun berikutnya konsesi diberikan kepada perusahaan-perusahaan swasta lainnya. Dalam koleksi Arsip Nasional RI, Kontrak Kalimantan No. 23 dan 56-2, izin konsesi dari Kesultanan Banjarmasin kepada Pemerintah Hindia Belanda ditegaskan melalui surat perjanjian bertanggal 30 April 1856 tentang batas-batas penggarapan tambang batu bara di Banyu Irang. Konsesi tambang batu bara pertama di Pengaron menjadi tonggak penting awal eksploitasi batu bara di Nusantara. Tapi Oranje Nassau juga menyimpan cerita kelam, yang bertalian dengan suksesi kepemimpinan Kesultanan Banjarmasin. Menyusul wafatnya Sultan Adam (1857), Belanda mengangkat Pengeran Tamjidillah sebagai sultan karena menyetujui keberlangsungan tambang di Pengaron. Rakyat Banjar yang lebih menghendaki Pengeran Hidayatullah sebagai sultan pun mengobarkan perlawanan yang dikenal dengan Perang Banjar. Perang Banjar meletus pada 1859 dan dipimpin oleh Pangeran Antasari. Menurut Nugroho Nur Susanto, Perang Banjar tidak serta merta meletus begitu saja. Ada kaitan langsung dengan penolakan aktivitas pertambangan batu bara Oranje Nassau , yang lokasinya tak jauh dari tanah apanage Pangeran Antasari. Selain itu, Belanda mengeksploitasi masyarakat lokal untuk bekerja di Oranje Nassau secara paksa dan dibayar sangat murah. Pekerja yang dianggap malas tak jarang dihukum cambuk menggunakan rotan. Perang Banjar berdampak pada kedaulatan Kesultanan. Secara sepihak Belanda membubarkan Kesultanan Banjarmasin, kendati perlawanan rakyat terus berkobar. Hingga kini, Kalimantan Selatan dikenal sebagai salah satu penghasil batu bara terbesar di Indonesia.*





















