top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10064 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Akhir Kabinet Sutan Sjahrir Pertama

    KABINET presidensial Presiden Sukarno hanya bertahan kurang lebih dua bulan. Begitu pula dengan penggantinya, Kabinet Sutan Sjahrir pertama tidak bertahan lama. Sejak awal berdirinya Kabinet Sjahrir pada November 1945, unsur-unsur oposisi sudah mulai bermunculan dan melancarkan serangan.

  • Kritik Terhadap Kabinet Sutan Sjahrir

    TIGA hari setelah Kabinet Sutan Sjahrir diumumkan pada 14 November 1945, terjadi pertemuan pertama Belanda-Indonesia di Jakarta di bawah pimpinan Panglima Tentara Sekutu Letnan Jenderal Philip Christison. Tokoh Belanda yang hadir daam pertemuan tersebut antara lain Letnan Gubernur Jenderal H.J. van Mook, Ch. O. van der Plas, P.J. Idenburg, dan Baron van Asbeck. Sementara wakil Indonesia adalah Perdana Menteri Sjahrir, Menteri Penerangan Amir Sjarifoeddin, Menteri Pekerjaan Umum Putuhena, dan Menteri Perhubungan Abdul Karim. Selain itu, Penasihat Politik Kementerian Luar Negeri Inggris, Mr. Dening, hadir sebagai wakil dari pihak Inggris.

  • Alex Kawilarang Menolak Disebut Pahlawan

    PADA paruh pertama 1990, Kolonel Inf. (Purn.) Alexander Evert Kawilarang mengalami sakit keras. Usianya memang sudah memasuki kepala tujuh. Hidupnya diperkirakan tidak lama lagi. Oleh karena itu, panitia negara buru-buru mengurus penyerahan Bintang Gerilya untuk Kawilarang. Seremoninya berlangsung di rumah sakit. “Saya dengar ada beberapa orang yang dulu bawahan saya yang lapor kepada Presiden [Soeharto]. Ketika itu saya sakit keras, satu tahun di rumah sakit karena kanker. Dipikir ini orang sudah mau mati. Maka diberikan Bintang Gerilya. Jadi dapat Bintang Gerilya masih di rumah sakit,” kenang Kawilarang dalam majalah Mutiara, No. 838, 12–18 November 1996.

  • Misi Orde Baru Menggerus PNI dan NU

    SEBELUM pemilu pertama Orde Baru pada 1971, rezim Soeharto perlu waktu lima tahun untuk mengonsolidasi kekuatan. Sejak Soeharto memegang mandat kekuasaan lewat Surat Perintah 11 Maret 1966, Indonesia mulai merapat ke Barat. Konsolidasi ke luar ini guna memastikan investasi modal asing masuk ke Indonesia. Orientasi ke Barat sekaligus menegaskan ulang posisi Indonesia dalam konteks Perang Dingin yang di era Sukarno cenderung ke Timur. Selain itu, politik luar negeri Indonesia di bawah Soeharto juga lebih membatasi aktivitasnya di lingkup Asia Tenggara.

  • NU Seteru Orde Baru

    MENJELANG pemilu 1971, rezim Orde Baru mengerahkan tentara untuk menghabisi basis-basis NU. Banyak warga NU dari pedalaman Jawa Barat meninggalkan rumah-rumah mereka untuk menyelamatkan diri. Losarang di Indramayu adalah desa yang paling menderita dan warganya paling banyak mengungsi ke kantor pusat PBNU di Jakarta. “Saya menyaksikan rumah penduduk dan masjid dihancurkan. Di beberapa rumah yang kami masuki, kami melihat betapa rumah-rumah itu ditinggalkan dengan tiba-tiba oleh penghuninya. Di atas meja makan sebuah rumah, misalnya, masih ada piring nasi dan cangkir-cangkir kaleng. Di atas piring-piring itu berserakan makanan yang sudah membusuk. Memilukan sekali,” kata Panda Nababan dalam otobiografinya, Menembus Fakta. Sebagai wartawan Sinar Harapan, Panda diajak Rois Syuriyah NU KH Jusuf Hasyim untuk meliput hancurnya basis NU di Losarang. Jusuf memberikan bahan-bahan tulisan yang berisi pengakuan warganya bahwa tentara menggunakan organisasi Angkatan Muda Siliwangi. “Inilah yang dipakai menjadi ujung tombak menghancurkan kami,” kata Jusuf.

  • Melatih Andjing NICA

    LEBIH dari tiga tahun terpisah membuat Martin Florimond Alexis Goede (1909-1993), serdadu Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) asal Suriname, serius mencari istrinya begitu ada kesempatan usai Jepang menyerah pada Sekutu. Istrinya, Francisca Anna Vermeer (1918-1984), juga ditahan dalam kamp interniran sejak Jepang menguasai Hindia Belanda tapi beda kota. Martin, yang kelahiran Paramaribo, 7 Agustus 1909, beruntung akhirnya bisa menemukan Anna dan membawanya bersama-sama pergi kembali ke sebuah kamp. Walaupun sudah bebas dari tentara Jepang yang lebih dari tiga tahun menjadikan mereka tawanan perang, tak ada pilihan bagi orang-orang Belanda selain kembali kamp setelah Agustus 1945. Setelah kedatangan tentara Inggris ke kota-kota pelabuhan di Jawa, banyak orang Indonesia mengamuk terhadap orang Belanda maupun orang-orang yang dianggap membantu Belanda.

  • Sejarah Pembentukan Kementerian Agama

    PERNYATAAN Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas bahwa Kementerian Agama adalah hadiah untuk NU menjadi kontroversi di media sosial hingga trending topic. Tanggapan pun datang dari berbagai kalangan, terutama PBNU, MUI, dan Muhammadiyah.

  • Abuya Dimyathi Menolak Dibebaskan

    ABUYA Dimyathi, ulama berpengaruh di Banten sekaligus pemimpin Pondok Pesantren Cidahu, mengkritik intimidasi Golongan Karya (Golkar) kepada masyarakat Pandeglang menjelang Pemilu 1977. Dia juga menyampaikan kepada masyarakat bahwa Golkar bukanlah pemerintah. Golkar sama seperti Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Demokrasi Indonesia adalah peserta Pemilu 1977. Abuya Dimyathi pun dianggap pemberontak bahkan dilabeli PKI. Dia ditangkap pada 14 Maret 1977 dan ditahan penjara Pandeglang. Santri dan jawara bersama masyarakat turun ke jalan untuk membebaskan Abuya Dimyathi. Mendengar rencana pembebasannya, Abuya Dimyathi menulis surat, lalu memanggil seorang sipir untuk menyampaikannya ke salah seorang anaknya, Abuya Murthado. Saat itu, Abuya Murthado masih seorang pemuda berusia 19 tahun. Dia belum memperoleh gelar Abuya dan tak banyak dikenal orang.

  • Tiba di Banda, Bung Hatta Tempati Rumah Hantu

    GEMALA Rabiah Hatta, putri kedua Bung Hatta mengisahkan kembali pengalaman ayahnya saat dibuang ke Pulau Banda, Maluku pada 1936. Bung Hatta yang saat itu baru saja tiba dari Boven Digul, pembuangan sebelumnya, harus segera menemukan rumah untuk tempat tinggal barunya di Banda. Hari semakin sore, rumah tak kunjung didapat. Sampai kemudian dia temukan sebuah rumah tak berpenghuni. “Tapi penduduk bilang kepada Bung Hatta kalau rumah itu ada hantunya, makanya nggak ada orang berani tinggal di situ,” ujar Gemala menuturkan kembali kisah ayahnya dalam seminar “Banda Dulu, Kini dan Esok” di Galeri Nasional, Selasa, 3 Oktober 2017. Bung Hatta menanggapi santai kabar seram itu dan memutuskan untuk tetap menempati rumah hantu itu. Desas-desus di kalangan warga Banda, hantu selalu tiba di malam hari: menyerupai seorang lelaki yang menyeret peti mati. Hantu itu akan datang lewat pekarangan depan rumah, menuju teras. Tapi tiap kali empunya rumah keluar, seketika pula hantu itu menghilang. Lantas bunyi misterius itu kembali muncul saat tuan rumah kembali menutup pintu rumah. Setelah bersetuju dengan pemiliknya, Bung Hatta menempati “rumah hantu” itu pada malam pertama masa pembuangannya di Banda. Tak ada hantu datang sebagaimana dikisahkan warga. Keesokan harinya warga bertanya-tanya keheranan mengapa Bung Hatta bisa melewati malam tanpa ketakutan. “Biasanya kalau ada orang menginap di sana tak pernah bisa tahan karena ketakutan. Orang-orang mengira Bung Hatta sakti, kayak ulama yang bisa mengusir hantu,’” ujar Gemala. Selama melewati enam tahun lebih (1936-1942) masa pembuangan di Banda, Bung Hatta tetap tinggal di rumah itu. Kesibukan sebagai orang buangan politik dilaluinya dengan membaca buku, menulis dan mengajari anak-anak Banda menulis dan membaca di teras rumahnya. Selain Hatta, Sjahrir, Tjipto Mangoenkoesoma dan Iwa Kusuma Sumantri juga dibuang ke pulau yang sama. Gemala juga mengutip kisah ayahnya dari Des Alwi, tokoh Banda, anak angkat Sjahrir yang juga dekat dengan Bung Hatta. Des bercerita tentang Hatta yang tak bisa berenang dan meminta anak-anak Banda mengajarinya. “Dulu ayah kalau berenang berpakaian lengkap, celana panjang dan bersepatu. Anak-anak Banda waktu itu ketawa semua melihat Bung Hatta.” Masa penahanan Hatta dan Sjahrir berakhir pada awal 1942. Sebuah pesawat amfibi Catalina datang menjemput mereka. Kedatangan balatentara Jepang membuat Belanda harus menyelamatkan dua pemimpin gerakan nasionalis Indonesia itu. Pesawat kelebihan beban, terpaksa Hatta mesti merelakan dua peti buku ditinggal di Banda. Kepada Des Alwi harta berharga itu dititipkan.*

  • NU dalam Pemilu Pertama Orde Baru

    AWALNYA pasangan Prabowo-Sandiaga Uno menolak membawa sengketa hasil Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK). Namun, setelah ada aksi 22 Mei 2019 yang memakan korban jiwa, kubu 02 akhirnya mendaftarkan juga gugatan ke MK. Tim kuasa hukum BPN (Badan Pemenangan Nasional) dipimpin oleh Bambang Widjojanto, mantan komisioner Komisi Pemberantasan Korupsi.

  • Soebandrio Tidak Menyesal Masuk Penjara Orde Baru

    DI tangga lobi Istana Merdeka, sekumpulan wartawan berjejer untuk meliput berita. Mereka sigap mencegat siapa saja pejabat negara yang keluar dari dalam Istana. Waktu itu, Presiden Sukarno memanggil sejumlah menteri ke Istana untuk rapat kabinet terbatas.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page