Hasil pencarian
Cari di situs ini
10063 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Jalan Panjang Memulangkan Fosil “Manusia Jawa”
SETELAH lebih dari satu abad berdiam di Belanda, fosil Pithecanthropus erectus/Homo erectus temuan perwira KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) cum penjelajah Eugène Dubois bakal dipulangkan ke Indonesia. Fosil yang acap dijuluki “Manusia Jawa” itu diserahkan bersamaan dengan sekira 28 ribu items fosil koleksi Dubois lainnya. Menurut laman resmi Kementerian Luar Negeri RI, koleksi-koleksi Dubois itu resmi diserahterimakan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda Gouke Moes kepada Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon di Pusat Biodiversitas Naturalis, Leiden, Belanda Jumat (26/9/2025) lalu. Namun belum dipastikan kapan semua koleksi tersebut bakal dikirimkan ke Indonesia. Kendati sekadar tulang femur (paha), cranium (tempurung), dan gigi, fosil “Manusia Jawa” menjadi objek yang paling disorot karena merupakan temuan fosil Homo erectus pertama. “Manusia kera yang berjalan tegak” itu dianggap missing link dalam Teori Evolusi Charles Darwin. Dubois menemukannya di Trinil, Ngawi, Jawa Timur, tepatnya di tepi Sungai Bengawan Solo. Bukan dalam sekali upaya, ia menemukanya dalam sejumlah ekskavasi selama dua tahun (1891-1893).
- Hari-hari Omar Dani di Nirbaya
HAMPIR tak ada lagi warga sekitar yang mengetahui tentang Penjara Nirbaya. Kompleks Rumah Tahanan Militer (RTM) Nirbaya di Kelurahan Pinang Ranti, Jakarta Timur itu kini telah menjadi permukiman padat penduduk. Dulu, RTM Nirbaya adalah penjara bagi sejumlah tokoh elite yang disangka terlibat dalam Gerakan 30 September (G30S) 1965.
- PKI di Tangan Tokoh Tua
PADA awal 1946, tokoh-tokoh PKI dari Belanda dan Australia mulai berdatangan ke Indonesia. Organ yang mereka temui adalah PKI Joesoef yang tak diakui dan sudah dilikuidasi. Ada grup pemuda yang pada 1943 berusaha bikin jaringan dan merupakan sisa dari sel-sel partai yang dibangun Musso. Grup lainnya telah menyusun perlawanan anti-Jepang di Jawa Barat atas usaha Widarta. Pada Maret 1946, mereka mengadakan rapat di Jakarta serta memutuskan melakukan konsolidasi. Menurut Soe Hok Gie, Maruto Darusman kemudian menemui pimpinan PKI waktu itu, Moh. Sjah, dan berdiskusi. “Maruto menarik kesimpulan bahwa PKI yang ada ngawur dan harus ditumbuhkan,” tulis Gie dalam Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan. Pada Maret 1946, mereka mengadakan rapat di Jakarta dan memutuskan melakukan pembersihan di kalangan PKI dan mengelar konferensi.
- September Hitam
Rentetan peristiwa kelam yang menyebabkan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di Indonesia pada bulan September.
- Reshuffle Kabinet 100 Menteri
Kabinet Merah Putih Presiden Prabowo memiliki lebih dari seratus pejabat tinggi. Hal ini serupa dengan Kabinet Dwikora II Presiden Sukarno. Keduanya sama-sama pernah melakukan reshuffle terhadap menterinya.
- Perjuangan Pasangan Sutomo dan Sulistina dalam Masa Revolusi
Kisah dan peran Sutomo alias Bung Tomo dan istirnya, Sulistina selama masa revolusi kemerdekaan.
- Dosen vs Pangdam
LETNAN Kolonel (Letkol) Herman Pieters mesti memutar otak dan berupaya keras. Komandan Resimen Infanteri ke-25 di Maluku –yang merupakan bagian dari komando Tentara dan Teritorium (TT) VII Wirabuana pimpinan Letnan Kolonel Ventje Sumual– menyaksikan kemunduran di tanah kelahirannya, Maluku, pada pertengahan 1950-an. Pasalnyaa, di zaman Hindia Belanda Maluku sudah punya sekolah guru dan sekolah menengah menterang, namun di masa Indonesia merdeka justru hanya punya SMA. Wacana pembangunan perguruan tinggi di Maluku pun mengemuka, hingga akhirnya berdiri perguruan tinggi. Pada Juli 1955, muncul lembaga Yayasan Perguruan Tinggi Muluku di Ambon. Elien Utrecht dalam Melintasi Dua Zaman menyebut Herman Pieters sebagai orang yang memrakarsai pendirian kampus tersebut. Pada permulaannya, yayasan itu diizinkan mendatangkan para dosen dari Jawa dan Makassar. Salah satu dosen yang dipinjamkan adalah Ernst Utrecht, ahli hukum Indo lulusan Leiden.
- Sersan Mayor Kejam di Tanjung Priok
SEBAGAI anggota polisi militer Jepang (Kempeitai), yang punya reputasi besar atas kekejamannya di daerah pendudukan semasa Perang Pasifik atau Perang Dunia II di Asia, dia berada di Jawa pada Maret 1942. Posnya di Tanjung Priok, sebuah daerah “basah” di Jakarta. Namanya Ueyama Shizuo. Pangkatnya Sersan Mayor (Serma). Serma Ueyama memang bukan perwira berpengaruh. Namun kiprahnya sebagai Kempeitai yang kejam terkenal di kalangan lawannya. Serma Ueyama disebut Het Vrije Pers tanggal 3 Desember 1948 sudah menebar teror kepada para tahanan Kempeitai di sekitar tempat tahanan Tanjung Priok sekitar April 1942 hingga September 1945. Tak hanya para pria, para wanita juga menakutinya. Dia dianggap memberi siksaan yang tidak manusiawi. Pada Oktober 1943, beberapa orang Ambon berurusan dengannya. Seorang Ambon bermarga Pattinawa (Pattinama) telah dia tendangi dan pukuli. Selain itu, orang Ambon bernama Tanasa atau Tanasale juga disiksanya. Belakangan, kepada tahanan-tahanan tadi Ueyama dituduh “telah membakar lengannya dengan koran yang direndam dalam bensin, menempelkan rokok yang menyala ke pahanya, dan mengurungnya di dalam sel selama tiga hari dengan tangan terikat di belakang punggung, tanpa makanan atau minuman.”
- Cerita di Balik Pembangunan World Trade Center
KOMPLEKS World Trade Center dipandang sebagai salah satu tonggak kejayaan Amerika Serikat setelah kemenangan Sekutu pada Perang Dunia II. Meski begitu, rencana pembangunan proyek ambisius ini sudah mengemuka sejak sebelum perang. Ketika itu, salah satu anjungan yang ditampilkan dalam New York’s World Fair 1939 dinamai World Trade Center yang didedikasikan untuk “perdamaian dunia melalui perdagangan”. Menurut Randy Laist dalam The Twin Towers in Film: A Cinematic History of New York’s World Trade Center, kehadiran World Trade Center dalam pameran dunia itu bukan suatu kebetulan sebab penyelenggaraan World Fair kerap dimanfaatkan untuk merayakan kemajuan teknologi terbaru peradaban Barat. New York’s World Fair 1939 menonjol karena penekanannya pada masa depan utopis yang didorong oleh teknologi, seperti diwakili oleh bentuk arsitektur luar biasa dari Trylon, Perisphere, dan Helicline, struktur geometris raksasa yang menjadi simbol acara tersebut.
- Dari Rumah yang Dijarah
PENJARAHAN rumah pejabat dan politisi, disertai kerusakan puluhan fasilitas publik di berbagai kota, mengejutkan banyak orang. Yang lebih mengejutkan bukan hanya kekacauannya. Tapi juga reaksinya: masyarakat tidak serentak mengutuk, sebagian justru merasa lega, bahkan menyebutnya “karma instan” atau “pajak sosial mendadak.”
- Aksi Beken Jagoan Senen
SITUASI Jakarta memanas sejak tim kecil pasukan payung Inggris (Sekutu) dan Belanda mendarat pada 8 September 1945. Terlebih ketika pasukan Inggris yang tiba pada 29 September membawa pejabat NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda). Rakyat curiga mereka akan mengembalikan penjajahan Belanda. Kecurigaan rakyat membesar setelah Belanda tak mengindahkan perintah Panglima Sekutu Letjen Christison yang memerintahkan para tawanan dan interniran Sekutu yang dibebaskan tetap tinggal di kamp demi keselamatan mereka. “Dalam waktu singkat di Jakarta terbentuk sebuah komunitas orang-orang Belanda yang cukup besar, yang berupaya memulihkan pola kehidupan dari zaman sebelum perang,” tulis Robert Cribb dalam Gejolak Revolusi di Jakarta 1945-1949 . “Orang-orang Belanda, Indo, dan Ambon, yang mengaku sebagai penjaga keamanan mulai berkeliaran di jalan-jalan.” Di sisi lain, para pemuda berbondong-bondong menggabungkan diri ke berbagai badan perjuangan atau membentuk badan perjuangan sendiri untuk mempertahankan kemerdekaan. Bentrokan pun pecah dengan pasukan Belanda. Kawasan Senen dan sekitarnya menjadi arena pertempuran. Banyak dari pejuang merupakan jagoan dan orang “dunia hitam.” “Rasa frustrasi akibat kuatnya tekanan Belanda mungkin merupakan salah satu di antara sekian faktor yang menyebabkan dunia hitam Batavia tertarik dengan pergerakan kaum nasionalis Indonesia,” tulis Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949 . Bang Pi’i dan Bang Amat Bey (Mat Bendot) yang paling populer. Pi’i punya pasukan yang diberinya nama Sebenggol. Anggota pasukan itu semua tukang copet. Mereka lalu bergabung ke dalam Oesaha Pemoeda Indonesia (OPI) dan ketika Laskar Rakjat Djakarta Raya terbentuk, mereka ikut bergabung. Bentrokan makin sering terjadi setelah eks serdadu Batalyon ke-10 KNIL (bermarkas di selatan Lapangan Waterloo/Lapangan Banteng), dengan bantuan tujuh kompi tentara KNIL yang didatangkan dari luar Jawa (mayoritas orang Ambon), membentuk Batalion X (Tiende Bataljon). Mereka terkenal brutal terhadap penduduk. Arogansi mereka membuat para pejuang membalas. Mereka kerap menyerbu tangsi-tangsi Batalion X. Dari atas Bioskop Grand dan sekitarnya mereka menembaki truk-truk Belanda yang keluar dari markas Batalion X. Sontak tembakan balasan pun terdengar. “Si Pi’i punya pistol dan kalau menembaki Belanda dia paling depan. Pi’i pun menjadi sangat populer di wilayah Pasar Senen dan Tanah Tinggi,” tulis Misbach Yusa Biran dalam Kenang-Kenangan Orang Bandel . Suatu hari, Hendrik, pemuda Indo daerah Bungur yang menjadi kaki tangan Belanda, dan beberapa serdadu Batalion X berkeliling kampung menggunakan truk. Mereka menembaki penduduk sekitar Senen. Banyaknya korban membuat pejuang Indonesia marah. Pi’i, Amat Bey, Itjang, Mas’ud dan jagoan-jagoan Senen lainnya, langsung mengepung tempat persembunyiannya di Poncol. Hendrik dan beberapa temannya tewas. Kematian Hendrik membuat Belanda kian marah. Pasukan Belanda, yang tak menghormati keberadaan Inggris, mengepung Kalibaru. Di sana mereka menghadapi pejuang yang dipimpin Bang Itjang. Namun, menurut Yusuf dan Husni Abdullah, anak buah Bang Itjang, kala itu tak terjadi pertempuran karena Bang Itjang memilih mengajak duel. “Bang Itjang dikeroyok serdadu Belanda,” ujar Yusuf, dikutip majalah Warnasari No.115, 1988. Itjang akhirnya kehabisan tenaga dan ditawan di markas Batalion X. Dia disiksa habis-habisan agar mengeluarkan informasi. Lantaran Itjang tak buka mulut, Batalion X akhirnya menitipkan Itjang ke Rumah Sakit Umum Pusat (kini RSCM). Dengan bantuan para jagoan Senen dan simpatisan Republik yang bekerja di rumah sakit itu, Itjang berhasil dibebaskan. “Itu pun dilaksanakan dengan melalui got-got yang ada di sekitar RSUP,” tulis Dinas Sejarah Militer Kodam V Jaya dalam Sejarah Perjuangan Rakyat Jakarta, Tangerang dan Bekasi dalam Menegakkan Kemerdekaan RI . Itjang langsung memindahkan markasnya ke Cempaka Putih. Dari sana mereka melancarkan serangan-serangan kepada lawan. Tangsi Penggorengan di Guntur menjadi sasaran yang paling sering mereka serang. Pada suatu malam, gabungan laskar dan pejuang Jakarta melancarkan serangan ke Gedung Fafa di Jalan Raden Salah. Dua perwira Belanda tewas dalam serangan itu. Serangan itu membuat Belanda kian murka. Didukung pasukan Inggris, mereka melancarkan operasi pembersihan para pejuang pada 18 November. “Saat itu, Gang Sentiong, Pal Putih, Senen, dan Grand betul-betul menjadi medan laga paling dahsyat,” ujar Yusuf. Bentrokan bersenjata di Jakarta baru mereda setelah Perdana Menteri Sutan Sjahrir, atas desakan Sekutu, mengeluarkan perintah agar kekuatan bersenjata Indonesia mengosongkan Jakarta pada 19 November. Perintah itu dipatuhi para pejuang dengan menyingkir ke luar kota. Medan pertempuran pun bergeser ke Krawang-Bekasi.*





















