top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • “Raja Hutan” Bob Hasan Pulang ke Haribaan Tuhan

    MOHAMMAD ‘Bob’ Hasan berpulang ke haribaan Illahi pada Selasa (31/3/2020) di usia 89 tahun. Taipan kayu yang intim dengan Soeharto sang penguasa Orde Baru itu meninggal di RSPAD Gatot Subroto setelah lama menderita kanker paru-paru. Siapa tak kenal Bob Hasan? Ia salah satu pengusaha dan kroni Soeharto paling berpengaruh sepanjang Orde Baru. Kedekatan itu membuat ia leluasa berbuat, termasuk memberi perhatian terhadap olahraga atletik di Indonesia. Terlebih, setelah ia menjabat ketua PB PASI sejak 1978. Pada cabang-cabang lain, ia juga bersumbangsih di Percasi, PB PABBSI, dan PB Persani. Bob Hasan lahir di Semarang pada 24 Februari 1931 dengan nama The Kian Seng. Identitas orangtuanya tak jelas. Banyak sumber menyebutkan Bob menjadi mualaf dan berganti nama menjadi Mohammad ‘Bob’ Hasan setelah diangkat anak oleh Gatot Soebroto, perwira TNI yang dihormati banyak perwira muda macam Ahmad Yani dan Soeharto semasa revolusi fisik hingga Orde Lama.

  • Keindahan yang Terjaga dari Hutan Tua

    SIAPAPUN akan takjub bila mengunjungi Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Begitu memasuki pintu gerbang Rowobendo, Anda akan disambut pemandangan rimbunan pohon mahoni di kanan-kiri jalan. Begitu indah. Bak lukisan atau sebuah tempat nun jauh di masa lalu. Tapi ini awal dari perjalanan yang akan mengejutkan Anda. Alas Purwo punya objek wisata yang terbilang lengkap dan mempesona. Dari pantai pasir putih hingga padang savana. Dari situs sejarah yang menggelitik hingga goa-goa yang beraroma mistik. Anda bisa menunggangi ombak, meneliti hewan liar, dan masih banyak lagi. Alas Purwo memiliki keanekaragaman hayati dan satwa yang mengagumkan. Pada masa Hindia Belanda, kawasan hutan ini ditetapkan sebagai cagar alam (1920) lalu suaka margasatwa (1936). Statusnya kemudian meningkat jadi taman nasional (1992) dan juga ditetapkan sebagai kawasan lindung nasional (2008).

  • Sukarno Menembus Hutan Bukit Barisan

    SETELAH memberitahu istrinya, Inggit Garnasih, Sukarno berkeliling kota Padang untuk mencari Woworuntu. Kepada rekannya itu Sukarno hendak mencari bantuan tempat tinggal. Meski tak mudah, Sukarno akhirnya menemukan tempat tinggal Woworuntu dan segera mengetuk pintu rumahnya. Tuan rumah kaget begitu mendapati tamunya adalah Ir. Sukarno, kawan yang saat itu menjadi tokoh perjuangan kemerdekaan paling populer. “Dia memelukku. ‘Sukarno, saudaraku’,” kata Woworuntu berteriak sambil berlinang air mata saat menyambut tamunya, dikutip dalam otobiografi yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Pertemuan dua kawan yang lama tak jumpa itu begitu hangat. Tanpa disangka Sukarno, Woworuntu menawarkan apa yang diinginkan Sukarno. “Bawalah keluarga Bung Karno ke sini...bawalah ke sini dan anggaplah ini rumah Bung Karno sendiri,” kata Woworuntu yang berharap akan mendapat teman di rumahnya karena anak-istrinya telah dia ungsikan akibat suasana kota tak kondusif menyusul kedatangan tentara Jepang. Keluarga Sukarno pun tinggal di rumah Woworuntu dan menempati kamar Woworuntu. Tuan rumah sendiri pindah ke kamar lain.

  • Kebakaran Hutan Masa Majapahit

    KEBAKARAN hutan di musim kemarau bukan hanya terjadi di masa kini. Tapi juga terjadi di masa Jawa Kuno. Ada beberapa petunjuk yang bisa menggambarkan kebakaran hutan pada masa lalu. Salah satunya Prasasti Katiden II atau Prasasti Lumpang. Prasasti tembaga itu ditemukan di Desa Katiden, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, pada lereng timur Gunung Arjuna. Berdasarkan pembacaan ahli epigrafi Puslit Arkenas, Titi Surti Nastiti, prasasti itu berisi pengumuman resmi pengukuhan kembali perintah pejabat Majapahit yang meninggal di Krrtabhuwana. Dia adalah penguasa yang mengeluarkan Prasasti Katiden I (24 Maret/22 April 1392). Sementara penguasa yang mengukuhkan ulang tiga tahun kemudian adalah Sri Bhatara Parameswara. Pengumuman itu ditujukan kepada pancatanda yang berkuasa di Turen, dan pejabat lainnya seperti wedana, juru, dan buyut. Seruan juga ditujukan kepada penduduk di sebelah timur Gunung Kawi, baik yang berada di timur atau di barat sungai.

  • Nasib Orang Indonesia di Jepang Pasca Perang

    PEMBACAAN teks Proklamasi pada 17 Agustus 1945 menjadi tanda berakhirnya hubungan tidak resmi Indonesia dan Jepang. Selama kurun tiga tahun (1942-1945), bahkan sejak tahun 1930-an, telah banyak orang Indonesia yang menetap di Jepang. Sebagian besar memilih Negeri Sakura itu sebagai tempat menuntut ilmu. Menurut sejarawan Universitas Waseda Ken’ichi Goto dalam Jepang dan Pergerakan Kebangsaan Indonesia, orang Indonesia pertama yang mendapat kesempatan belajar ke Jepang adalah Madjid Usman dan Mahjuddin Gaus. Keduanya berasal dari Minangkabau. Permohonan mereka disampaikan pada 1932 oleh konsulat Jepang Naito Keizo kepada Menteri Luar Negeri Uchida Koya di Tokyo. “Saya mohon agar orang-orang asing seperti ini yang masih belum memahami bahasa Jepang dapat diberi kelonggaran untuk belajar di sekolah Jepang,” tulis Naito.

  • Kolonel Jepang di Medan Area

    ACEH, pertengahan 1946. Kota Lhok Nga dibekap sunyi. Tak ada sama sekali bulan atau bintang hadir di langit malam itu. Dari arah pemukiman penduduk, beberapa bayangan manusia mengendap-endap. Mereka tak lain para gerilyawan Indonesia pimpinan Pawang Leman, Alamsyah dan seorang pembelot Jepang bernama Kolonel Kuroiwa. Tim kecil pejuang Aceh itu tengah mengadakan operasi kontra sabotase yang akan dilakukan tentara Jepang. Dari informasi yang didapatkan dari Kuroiwa dikabarkan bahwa sebelum meninggalkan markas besar mereka di Lhok Nga, tentara Jepang yang telah menyerah kepada Sekutu dan akan dikembalikan ke tanah airnya itu, akan meledakkan ribuan bom. “Bom-bom yang sengaja ditimbun oleh para tentara Jepang itu akan diledakkan melalui suatu knop yang dikendalikan oleh aliran listrik,” ungkap jurnalis senior Medan, Muhammad TWH.

  • Untuk Golkar dari Eddy Sud

    NAMANYA sohor di dunia perfilman era 1970-an sebagai Eddy Sud. Padahal nama aslinya Eddy Sudihardjo. Dia pernah muncul bersama Ateng, Iskak, hingga Bing Slamet dan kerap tampil sebagai orang tua yang berwibawa dalam film-filmnya. Kariernya di dunia hiburan sebenarnya dimulai jauh sebelum 1970-an. Sebelum dikenal lewat Kwartet Jaya (bersama Ateng, Iskak, dan Bing Slamet), Eddy pernah tergabung dalam grup lawak SAE (bersama Bing Slamet dan Atmonadi). Lelaki kelahiran Klaten, 20 Agustus 1937 ini adalah lulusan SMA De Britto, Yogyakarta dan pernah kuliah ekonomi sebentar di Universitas Gadjah Mada. Sejak muda, dia bermain film. Buku Apa-Siapa Orang Film Indonesia, 1926-1978 menyebut, film pertama Eddy adalah Berabe (1960). Setahun berselang, ia main dalam Marina dan Kuntilanak. Namun film-film itu tak serta-merta membuatnya terkenal.

  • Oslo dan Perdamaian Israel-Palestina

    LANGIT cerah menaungi halaman Gedung Putih di Washington DC, Amerika Serikat, 13 September 1993. Dalam sebuah footage itu, tampak Presiden Amerika Bill Clinton tersenyum haru melihat dua pemimpin negeri yang bermusuhan, Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin dan Ketua Palestine Liberation Organization (PLO) Yasser Arafat, berjabat tangan erat dalam suasana hangat. Rabin maupun Arafat sepakat berdamai dan menghakhiri 50 tahun konflik lewat peresmian Persetujuan Oslo. Footage yang disiarkan ke seluruh dunia itu jadi kabar gembira buat warga dunia. Namun hanya sedikit yang tahu bagaimana kesepakatan damai Israel-Palestina itu bisa terjadi setelah bertahun-tahun negosiasinya selalu membentur “tembok”. Footage itu merupakan bagian dari film bertajuk Oslo garapan sutradara Bartlett Sher. Film drama tersebut menggambarkan detail negosiasi-negosiasi alot delegasi kedua belah pihak sebelum sama-sama menyepakati Declaration of Principles (DOP) dari Persetujuan Oslo I yang berisi 17 pasal kesepakatan.

  • Upaya Jepang Menimba Pengetahuan Dunia

    DITERAPKANNYA aturan sakoku (politik isolasi dari bangsa asing) selama kurun 1639-1853 pada era Tokugawa (1603-1867) berdampak besar pada perkembangan ilmu pengatahuan dan kebudayaan di Jepang. Selama lebih dari 200 tahun, sangat sedikit informasi tentang dunia Barat yang bisa diterima publik Negeri Sakura. Segala akses diatur penguasa militer (shogun) Jepang yang begitu kuat bekuasa. Politik isolasi membuat Jepang tidak bisa sembarang dikunjungi bangsa asing. Pengajar Program Studi Jepang Universitas Indonesia Bambang Wibawarta dalam “Dejima: VOC dan Rangaku” dimuat Wacana Oktober 2008, mencatat hanya ada dua bangsa yang bisa menjalin hubungan dengan pemerintahan Tokugawa: Cina dan Belanda. Belanda diketahui masuk ke Jepang sekitar tahun 1600 –sebelum Tokugawa Ieyasu mendirikan dinasti Tokugawa dan sakoku diterapkan. Ketika itu, kapal Belanda De Liefde yang mengangkut 24 orang awaknya dihantam badai. Kapal terdampar di sekitar Teluk Usuki, Kyushu. Mereka lalu diselamatkan dan diterima oleh daimyo (tuan tanah) Kyushu Otomo Yoshimune. Sebagian dari mereka bahkan dijadikan penasihat perdagangan luar negeri, serta penasihat pembuatan peta dan kapal.

  • Uang Invasi Jepang

    KETIKA Jepang menduduki Indonesia pada Maret 1942, segala tatanan pemerintahan Belanda pun dilucuti. Di sektor perekonomian, secara bertahap Jepang membangun sistem keuangan, membubarkan bank-bank Belanda, hingga mencetak uang. Pada awalnya, Jepang tak mencetak uang sendiri. Mata uang lama dari pemerintahan sebelumnya masih berlaku, yakni gulden ("rupiah Belanda") dan uang militer (gunpyo) –dikenal juga dengan istilah uang invasi. Hal itu diatur dalam Undang-Undang (UU) No. 1 yang dikeluarkan Jepang pada 7 Maret 1942. Yang dimaksud uang militer adalah uang yang telah dipersiapkan Jepang untuk daerah-daerah pendudukan: gulden untuk Hindia Belanda, straits dollar untuk Semenanjung Malaya dan Kalimantan Utara, rupee untuk Burma, peso untuk Filipina, dan pound untuk Australia (Australia Trust Territories). Gulden Jepang kemudian juga dikenal sebagai "rupiah Jepang".

  • Gerakan Anti-Gundul Pelajar Masa Jepang

    MATAHARI bersinar terik pagi itu. Wajah murid-murid Sekolah Menengah Tinggi (SMT) Jakarta penuh peluh. Mereka masih senam pagi atau taiso bersama seorang guru di lapangan. Mereka kelihatan senang meski lelah. Ini kebiasaan baru murid sekolah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia. Tujuannya agar murid lebih disiplin dan fisiknya kuat. Seorang pengawas sekolah (minami san) lalu memanggil guru di lapangan. Dia menyampaikan SMT Jakarta akan memberlakukan aturan kepala gundul untuk guru dan murid-murid lelaki. Guru meneruskan informasi itu ke para murid. Karuan wajah murid-murid lelaki berubah muram. Aturan menggunduli rambut berlaku umum di tiap jenjang pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah bala tentara Dai Nippon. Dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. “Kita harus gundul seperti keadaan mereka,” kata Daan Jahja, mantan murid sekolah umum, yang kelak menjadi Panglima Divisi Siliwangi dalam Di bawah Pendudukan Jepang: Kenangan Empat Puluh Dua Orang yang mengalaminya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page