Hasil pencarian
Cari di situs ini
10062 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- AR Baswedan Merajut Keindonesiaan
SURAT KABAR Tionghoa peranakan, Matahari, 1 Agustus 1934, memuat foto menggemparkan. Seorang pemuda keturunan Arab mengenakan beskap dan blangkon, menyerukan kepada kaumnya agar bersatu membantu perjuangan bangsa Indonesia. “Di mana seseorang dilahirkan, di situlah tanah airnya,” ujar pemuda yang bernama Abdul Rahman Baswedan, yang lahir pada 11 September 1908. Dia adalah sosok yang lengkap: wartawan, politikus, diplomat, bahkan budayawan. Pengamat politik, Fachry Ali, mengatakan bahwa pada 1934 saat Indonesia masih sebagai konsep, AR Baswedan berani menyatakan dirinya dan kaumnya bertanahair Indonesia. Dalam Konferensi Peranakan Arab pada Oktober 1934, dia tidak ragu mendeklarasikan Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan Arab: tanahair peranakan Arab adalah Indonesia.
- Diego Maradona dalam Pangkuan Mafia
SENIMAN kanvas lapangan hijau jempolan itu menyapa sekira 75 ribu fans Napoli di Stadion San Paolo, 5 Juli 1984. Gemuruh chant “Diego!…Diego!” menyambut sang bintang itu, Diego Armando Maradona. Ia dipuja bak juru selamat buat Il Partenopei , julukan Napoli. Adegan itu jadi salah satu highlight dalam film dokumenter bertajuk Diego Maradona: Rebel, Hero, Hustler, God garapan Asif Kapadia, sineas yang juga meracik dokumenter mendiang pembalap Ayrton Senna ( Senna , 2010) dan musisi Amy Winehouse ( Amy , 2015) yang mendatangkan Piala Oscar. Dokumenter berdurasi 130 menit ini baru bisa disaksikan dalam salah satu program screening di Festival Film Cannes, Minggu (19/5/2019). Bagi yang penasaran, saat ini baru sekadar bisa mengintip trailer resminya berdurasi dua menit lantaran baru akan diedarkan resmi pada 14 Juni 2019. Di situ, Asif lebih dulu ingin membangkitkan euforia saat Maradona disambut riuh puluhan ribu tifosi Napoli. Tak ketinggalan ia juga menyisipkan masa kecil Maradona yang hidup dalam ekonomi sulit, di mana bola jadi mainan termahal baginya. Bola yang selalu ia peluk saat tertidur di salah satu rumah sangat sederhana di pemukiman kumuh Buenos Aires, Argentina. “Buat saya bola adalah mainan terindah. Bola menjadi sumber kehidupan saya,” sebut Maradona dalam trailer itu. Bintang asal Argentina itu memang sedang memasuki puncak kariernya saat h engkang dari La Liga bersama Barcelona dan berlabuh ke Serie A bersama Napoli. Cerita selanjutnya sudah diprediksi sejak lama: Napoli mendobrak hegemoni para raksasa Serie A asal utara (Juventus, Inter Milan, AC Milan) dan tengah (AS Roma). Sepanjang bersama Napoli, Maradona menambah lima titel ke lemari gelar klub: Scudetto Serie A 1986-1987 dan 1989-1990, Coppa Italia 1986-1987, UEFA Cup (kini Europa League) 1988-1989 serta Supercoppa Italiana 1990. Namun bukan ini yang jadi intisari Diego Maradona . Kapadia tak ingin filmnya berpusar pada prestasi, melainkan bagaimana hidup seorang Maradona tak lagi sama setelah hijrah dari Barcelona di Katalan, Spanyol ke Napoli di Campania, Italia. Sejak kepindahan itu, kehidupan Maradona tak sekadar dalam lingkaran sepakbola lagi. Camorra, organisasi mafia yang berpusat di Napoli, sudah menyeretnya ke dalam lingkaran dunia hitam. Kapadia mengaku, ide itu didapatnya saat tengah melakukan finishing proyek Senna . Obsesinya terhadap Maradona makin kuat setelah produser Paul Martin mendapat akses terhadap arsip video Maradona berdurasi 500 jam yang belum pernah terpublikasikan. Ia lantas menggabungkannya dengan wawancara langsung dengan Maradona. Maka dalam trailer- nya, beberapa potongan gambarnya tetap nyampur antara footage berwarna dan hitam putih. Iringan musik yang nge- beat saat muncul gambar Maradona di Stadion San Paolo seketika berubah getir lewat lantunan biola klasik saat potongan gambar beralih ke masa-masa gelap Maradona di Napoli, garapan editor Chris King. Bicara arsip-arsip video,koleksi itu sebelumnya berada terpisah di Argentina dan Italia. Mengutip Deadline , 18 Mei 2019, video-video itu sebelumnya direkam dua tim kameramen yang dipekerjakan agen dan manajer Maradona, Jorge Cyterszpiler. Selain untuk rencana membuat film tentang Maradona, gambar kamera dan video itu diambil sebagai langkah preventif kalau Maradona jadi korban penculikan mafia. Tantangan sesungguhnya dalam produksinya adalah saat menanyakan hal-hal sensitif terkait mafia kepada Maradona. “Anda punya nyali menanyakan hal-hal ini langsung pada saya. Kebanyakan orang akan bicara di belakang saya. Oleh karenanya saya respek pada Anda’,” ujar Maradona sebagaimana ditirukan Kapadia. Sejak itu, wawancara berjalan lebih mengalir. Dinaungi Mafia, Dihantui Narkoba Kapadia memang tak menjelaskan detail lantaran belum waktunya film tayang. Namun jika menengok beberapa catatan lain soal kehidupan Maradona di Napoli, hidupnya benar-benar tak lepas dari lingkaran setan mafia Camorra, utamanya dari Klan (keluarga) Giuliano. Jangankan saat sudah berseragam Napoli, jamahan tangan Camorra sudah terasa saat Maradona berhasil diboyong dari Barcelona. Wartawan investigasi asal Inggris Jimmy Burns dalam Maradona: The Hand of God menyingkap soal bagaimana Napoli menyisihkan Juventus yang juga kepincut Maradona, serta menangkal tawaran Barca memperpanjang kontrak di periode transfer musim panas 1984. “Negosiasi transfer Maradona dibicarakan dalam sejumlah pertemuan rahasia antara Juliano dan Cyterszpiler, baik di Barcelona maupun di Pulau Ischia pada Mei hingga Juni 1984. Selanjutnya jelang akhir masa transfer, Maradona menolak tawaran (petinggi Barcelona, Joan) Gaspart. Sebelum deadline tutup transfer 29 Juni, Maradona meneken kontrak bernilai USD6,4 juta untuk sang pemain dan USD13 juta untuk Barcelona,” tulis Burns. Saat konferensi pers pertama Maradona di Stadion San Paolo, 5 Juli 1984, gosip tentang adanya sokongan dana dari mafia Camorra sempat bikin marah Presiden Napoli Corrado Ferlaino. Pertanyaan itu datang dari jurnalis Prancis Alain Chaillou dan seketika ia digiring personel keamanan ke luar ruang preskon. “Ferlaino tampak marah dan menunjuk pintu keluar. ‘Pertanyaan Anda menghina kami. Napoli adalah kota yang jujur. Sebagai presiden klub, saya meminta Anda pergi’,” kata Ferlaino dikutip Burns. Bisa jadi luka lama terasa nyeri lagi lantaran paman Ferlaino dibunuh salah satu klan mafia Camorra. Ferlaino sendiri sesungguhnya tak pernah tertarik pada Maradona. Ketertarikan pada Maradona justru muncul dari Juliano, direktur olahraga Napoli yang sudah lama memantaunya. Ferlaino justru bernafsu memboyong tiga pemain asing dari Inter Milan. “Pada menit-menit akhir deadline , Ferlaino mengirim amplop tertutup berisi nama tiga legiun asing Inter Milan ke otoritas liga. Tapi ketika otoritas liga mengumumkan dan mencatat nama-nama transfer yang muncul dari amplop Napoli, hanya nama Diego Maradona,” sambung Burns. Amplop Ferlaino ternyata sudah lebih dulu ditukar oleh kurir misterius yang menyusup ke kantor ofisial liga. Ditengarai, kurir misterius itu orang suruhan mafia Camorra. Diego Armando Maradona (tengah) berpose bersama dua anggota mafia Camorra (Foto: Repro Blood Brothers: A History of Italy & Three Mafias) Terlepas dari itu, Maradona jadi milik Napoli, atau lebih tepatnya mafia Camorra? Pasalnya, Maradona diberikan ini-itu untuk memastikan hidupnya banyak senang di Napoli. Bahkan medio 1989 muncul sebuah foto sohor yang menampakkan Maradona berada di tengah-tengah anggota mafia Camorra dari Klan Giuliano. Saat itu Maradona diundang ke pernikahan sepupu Lovigino. “Saya akui dunia itu sangat melenakan. Mafia. Organiasi yang bagi kami orang Argentina adalah hal baru…ke manapun saya pergi ke salah satu klub malam milik mereka, saya diberikan (arloji) Rolex, mobil…saya tanya apa yang harus saya lakukan? Mereka bilang, ‘Tidak ada, hanya harus berfoto bersama dengan kami.’ Saya bilang terima kasih,” ujar Maradona dalam otobiografinya Yo Soy El Diego . Makin lama, hidup Maradona makin tidak tenang. Ia selalu dalam pantauan mafia. “Empat bulan setelah foto itu tersebar, Maradona mengklaim Camorra mengancam keluarganya jika tidak menurut hingga membuatnya takut kembali ke Napoli setelah libur kompetisi,” ungkap John Dickie dalam Blood Brothers: A History of Italy’s Three Mafias. Bukan hanya itu, makin lama berhubungan dengan mafia, hidup Maradona makin rusak. Selain sering bolos latihan, ia pun mulai sering mengonsumsi kokain meski kebiasaan buruk itu diduga pertamakali dilakoninya pada 1982 sejak masih berseragam Barcelona. Baca juga: Intisari Rivalitas Sepakbola Sejagat Kebiasaan buruk itu membuat Maradona kena batunya pada 1990. Mengutip Independent , 5 Juli 1994, Maradona diciduk di Bandara Fiumicono atas kasus penyelundupan kokain senilai USD840 ribu yang juga diduga berkaitan dengan bisnis narkoba Camorra. Dalam persidangannya di Roma, Maradona lantas divonis penjara 14 bulan ditambah denda USD3.200. Hukuman Maradona lalu ditambah 15 bulan larangan aktivitas dalam sepakbola setelah positif saat dites doping. Masa-masa kelam itu gagal membuatnya kembali seperti sedia kala meski kariernya tetap masih berjalan sampai 1997.
- Di Balik Permohonan Maaf
DALAM kunjungannya ke Indonesia pada 20-22 November mendatang, Perdana Menteri Belanda Mark Rutte akan menyampaikan excuse (permohonan maaf) kepada sebelas janda korban eksekusi Kapten Raymond Westerling di Sulawesi Selatan. Ada kalangan yang khawatir hal itu hanya akan membuka kotak pandora santunan bagi para korban. Selama enampuluhan tahun, isu excuse atas kejahatan perang menggeliat dan menggelisahkan masyarakat Belanda. Ada apa di balik ini? Pada Januari 1969, selama 20 menit, Joop Hueting, mantan serdadu Belanda, menceritakan sebuah kisah di televisi: “Di tengah kampung itu ada sebuah rumah. Dua anak buah kami, satu kopral dan satu lagi, prajurit, masuk dan kopral itu menghabiskan peluru mitraliurnya di sana. Aku masuk ke dalam rumah, di remang-remang kegelapan itu tampak lima sampai 20-an perempuan, anak-anak, dan laki-laki…. (A)ku saksikan darah muncrat, jeritan, dan suara kematian di dalam rumah itu...” Kisah Joop Hueting segera mengguncang Negeri Kincir Angin. Sejak itu, Belanda tak kunjung rampung dengan isu kwestie Indie veteranen (masalah veteran Hindia Belanda), excessen (ekses-ekses perang), oorlogsgeweld (kekerasan dalam perang), atau oorlogsmisdaden (kejahatan perang). Eksekusi, penganiayaan, dan pemerkosaan terhadap warga sipil tersembunyi di balik kisah 200-an ribu tentara Belanda yang dikirim ke Indonesia. Namun khalayak Belanda juga mulai menyadari kekejaman tentaranya di sana. Baca juga: Belanda Akan Minta Maaf Kepada Indonesia Pada 1969, atas desakan oposisi di parlemen, Perdana Menteri Piet De Jong menanggapinya dengan menerbitkan Excessennota . De Jong menyatakan, “menyesali terjadinya ekses-ekses tersebut, namun tetap berpendapat bahwa Angkatan Perang kami secara keseluruhan bertindak korek.” Sejarawan Cees Fasseur, penulis Excessennota , menyebut korban kekerasan perang masa itu hanya sekitar 20-an orang. Bermunculanlah kisah, novel, buku dan debat publik seputar episode yang menghadapkan Belanda secara frontal pada masa kelamnya. Sejarawan Loe de Jong, dengan karya standar tentang Belanda di masa Perang Dunia II, menyebut ulah tentara Belanda di Indonesia sebagai oorlogsmisdaden (kejahatan perang), namun dia ditekan agar mencabut istilah tersebut. Sebaliknya, Excessennota pun digugat. Cees Fasseur belakangan mengakui, “Mungkin, saya khilaf.” Tapi bagaimana dengan sikap politik pemerintah Belanda? Sejak 1990-an isu kekerasan perang selalu berbuntut soal excuse (permohonan maaf) kepada Indonesia. Pada 1995, Joop Hueting, yang kemudian menjadi guru besar Psikologi di Brussel, kembali tampil. Dia menuduh pemerintah Belanda menyembunyikan sesuatu. “Tak ada satu pun kasus yang menjadi isu (yang terselesaikan),” katanya di suratkabar Trouw . Baca juga: Mencari Titik Temu Dua Sudut Pandang Sejarah Tahun itu, Indonesia genap 50 tahun merdeka. Sejumlah kalangan mendesak, dalam kunjungan kenegaraan ke Indonesia, Ratu Beatrix menghadiri perayaan 17 Agustus 1995 di Istana Merdeka dan menyampaikan excuse . Namun pemerintahan Perdana Menteri Wim Kok mendapat tekanan dari kalangan veteran tentara Indie agar membuang jauh-jauh usulan seperti itu. Akhirnya Ratu Belanda menginap di Singapura dan batal hadir pada perayaan resmi kemerdekaan Indonesia. Dia berkunjung tanpa menyampaikan excuse . Sudah menjadi rahasia umum, ayah Ratu Beatrix, Pangeran Bernhard, dan Partai Liberal-Konservatif (VVD) akrab dengan lobby veteran Indie dan menjadi semacam pelindung mereka. Dalam percaturan diplomatik, bentuk paling empuk dan sederhana adalah pernyataan “penyesalan” atas apa yang telah terjadi. Sementara excuse bisa sekadar ungkapan politik dan moral atau menjadi suatu konsep hukum yang mengandung implikasi. Excuse dengan implikasi yuridis sangat rumit dan tak pernah terjadi. Yang kerap menjadi isu di Belanda adalah excuse sebagai ekspresi politik-moral; tapi ini pun tersendat-sendat. Pada 2005, Menteri Luar Negeri Belanda Bernard Bot menghadiri perayaan resmi 17 Agustus dan menyatakan “Belanda berada pada sisi yang salah” pada masa Perang Dunia II di Indonesia. Saat itu Pangeran Bernhard sudah tiada dan para veteran pun makin lanjut usia. “Kehadiran saya dapat dipandang sebagai penerimaan (aanvarding) secara politik dan moral terhadap tanggal (17 Agustus 1945) tersebut,” ujar Bot. Dengan kata lain, Bot tak menyatakan pengakuan politik-yuridis terhadap kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 melainkan “menerima” secara de facto kemerdekaan. Dengan demikian, isu excuse pun tak tuntas. Baca juga: Ganti Rugi Penjajahan Perlukah Indonesia secara resmi menerima excuse dan pengakuan resmi Belanda atas 17 Agustus 1945 sebagai Hari Kemerdekaan? Menjelang kunjungan Ratu Beatrix pada 1995, Menteri Luar Negeri Indonesia Ali Alatas menyangsikannya. “ Moeten wij oude koeien uit de sloot halen? (Haruskah kita membongkar hal-hal masa lalu?),” katanya kepada Ranesi ( Radio Nederland Seksi Indonesia ) . Pemerintahan Orde Baru, yang membuka dan merawat hubungan diplomatik dengan Belanda, secara pragmatis berkepentingan demi hubungan dagang dan pembangunan ekonomi. Prakarsa excuse Belanda bisa menerbitkan sejumlah isu lain yang terkait. Misalnya, bagaimana dengan kasus-kasus kejahatan perang yang dilakukan para pemuda pejuang Indonesia terhadap warga sipil Belanda atau eks tawanan perang Jepang di Jawa pada masa yang di Belanda disebut periode “bersiap” (1946-1947)? Tak kalah penting, layakkah kita menyambut excuse Belanda atas kejahatan perang tentaranya di Indonesia, ketika pada saat yang sama pemerintah Indonesia melestarikan impunitas terhadap kejahatan perang tentaranya di Timor Timur (1975-1999) dengan cara menguburnya melalui Komisi Bersama Indonesia-Timor Leste untuk Kebenaran dan Persahabatan (CTF) pada 2008? Baca juga: Kamera Max Stahl di Timor-Leste Betapa pun, isu excuse sekali lagi dimaksud untuk menyelesaikan endapan emosi dan moral Belanda-Indonesia. Dilema Belanda ini akhirnya mendapat terobosan melalui pintu lain, yaitu generasi baru para praktisi hukum yang duduk di kehakiman dan kejaksaan. Berkat pembelaan ahli hukum kejahatan perang Prof Lisbeth Zegveld pada 2011 –dengan bantuan aktivis Belanda asal Menado Jeffrey Pondaag– untuk kali pertama Dewan Hakim di Den Haag meluluskan tuntutan santunan ganti rugi para janda Rawagede (kini Balongan, Jawa Barat) terhadap negara Kerajaan Belanda atas kasus kejahatan perang berupa eksekusi massal. Padahal, selama puluhan tahun terakhir kasus-kasus semacam ini dianggap “kadaluwarsa”. Maka, untuk kali pertama pula, pemerintah Belanda diwakili Duta Besar Koos van Dam menyampaikan excuse kepada korban kejahatan perang di Indonesia pada 2011. Sejak mencuatnya kasus Rawagede, ulah Westerling digugat melalui meja hijau. Lisbeth berhasil menemukan sebelas janda dari sejumlah desa yang menjadi korban eksekusi pasukan Westerling semasa bertugas “memulihkan ketertiban dan keamanan” di Sulawesi Selatan. Pemerintah koalisi Partai Buruh (PvdA) dan Partai Liberal-Konservatif (VVD) tak segera memberikan tanggapan tegas namun juga tak menampik. Isu itu mencuat ke permukaan ketika R. Ten Broecke, wakil VVD di parlemen, menyatakan menolak santunan baru dengan alasan “hanya akan membuka kotak pandora”. Menteri Luar Negeri Frans Timmerman dari PvdA menjauhi pernyataan ini. Situasi neraca moneter Belanda menunjukkan perlunya menekan defisit anggaran yang berada di atas patokan Uni Eropa, dengan keharusan menambah penghematan dan pemasukan pendapatan negara. Baca juga: Belanda Tawarkan Kompensasi Bagi Korban Santunan senilai 200-an ribu euro bagi kesebelas korban Westerling tentu tak berdampak signifikan bagi penghematan negara. Karenanya, kecemasan “kotak pandora” pun segera ditampik. Sebaliknya, mengingat pentingnya meningkatkan perdagangan Indonesia-Belanda, excuse malah diharapkan dapat membantu membuka jalan bagi para pebisnis Belanda. Indonesia, dengan angka pertumbuhan sekitar 6 persen berkat peningkatan investasi asing, dipandang punya prospek ekonomi menjanjikan. Nilai perdagangan Indonesia-Belanda tahun lalu mencapai 3,5 milyar euro. Di Uni Eropa, Belanda memimpin dengan status mitra dagang kedua terbesar dengan Indonesia. Kesediaan Perdana Menteri Mark Rutte, yang berasal dari partai VVD dan selama ini setia kepada kalangan veteran Indie, untuk menyatakan excuse dan memberi santunan tampaknya merupakan isyarat diplomatik segar demi meningkatkan hubungan dengan Indonesia. Excuse dan santunan akan disampaikan duta besar Belanda dalam kunjungannya ke Sulawesi Selatan dalam waktu dekat.
- Omar Dani Menunggu Hari Eksekusi
Vonis mati itu jatuh pada malam Natal 1966. Si terhukum, Laksamana Madya Omar Dani, mantan Menteri/Panglima AURI berdiri tegap mendengarkan putusan hakim. Sorot matanya nanar. Sesekali dia menggigit rahang seolah pasrah menahan rasa pahit. Mahkamah Milliter Luar Biasa (Mahmilub) mendakwa Dani melakukan perbuatan makar. Di saat yang sama, umat Islam sedang menunaikan ibadah puasa karena sedang bulan suci Ramadan. “Allahu Akbar! Allahu Akbar,” Omar Dani haya bisa berseru demikian dalam batin waktu vonis dibacakan sebagaimana terkisah dalam biografinya Tuhan Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku yang disusun Benedicta Surodjo dan J.M.V. Soeparno. Sembari menanti eksekusi hukuman mati, Omar Dani pun dijebloskan ke Rumah Tahanan Militer (RTN) Nirbaya, Jakarta Timur. Tahun silih berganti. Memasuki tahun 1975, Omar Dani belum juga dihadapkan ke gerombolan regu tembak. Sementara itu, seorang penghuni baru memasuki RTM Nirbaya. Mochtar Lubis namanya, pemimpin redaksi surat kabar Indonesia Raya . Mochtar dipenjara karena pemberitaan Indonesia Raya yang kritis terhadap peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari 1974). Dia diangggap menyudutkan pemerintah, sehingga Presiden Soeharto pun marah. Mochtar yang kena apesnya. Di RTM Nirbaya, Mochtar dan Dani berkawan akrab. Paviliun tempat mereka mendekam bersebelahan. Keduanya kerap kali bercengkrama. Mochtar mengenang bahwa Omar Dani semasih berpangkat letnan udara pernah menjadi instruktur terbangnya waktu belajar di Aeroclub beberapa tahun silam. Pada malam hari, Mochtar dan Dani makan bareng bersama tahanan Gestapu lainnya. Suasana persahabatan sangat terasa diantara mereka. “Saya makan bersama Jenderal Pranoto , Laksamana Omar Dani, Soemardjo, Syukur, Danu, Aji. Semuanya mengumpul makanan dari rumah (paviliun tahanan), dan dimakan bersama-sama sebagai satu keluarga,” kenang Mochtar Lubis dalam memoarnya Nirbaya: Catatan Harian Mochtar Lubis dalam Penjara Orde Baru. Lama bergaul di tahanan, Mochtar jadi paham betul kebiasaan dan pergumulan yang dialami Omar Dani. Kepada Mochtar, Dani menuturkan setiap malam menjelang tidur, dirinya selalu berdoa. “Agar Tuhan menguatkan hati saya, jika di tengah malam pintu diketuk dan saya dibangunkan ke tempat penembakan mati,” demikian munajat Dani. “Aduh sayang, aku amat terharu mendengar kata-katanya yang diucapkan dengan amat tenang,” kata Mochtar Lubis kepada istrinya, Siti “Hally” Halimah dalam catatan harian bertanggal 2 April 1975. Cobalah bayangkan, ungkap Mochtar, selama 9 ahun, Omar Dani menyiapkan dirinya menghadapi peluru yang akan merenggut nyawanya. Saban malam, Dani mengucapkan selamat tinggal dan mendoakan keselamatan. Alangkah kuat jiwanya. Kepada Hally, Mochtar menyatakan rasa hormatnya kepada Dani. Rasa simpati mendorong Mochtar untuk berdoa agar Tuhan mengampuni kesalahan Dani. Mochtar juga berharap agar penguasa Orde Baru mengembalikan Dani kepada keluarganya. “Penderitaannya selama sembilan tahun seharusnya dapat diterima sebagai tahanan bagi segala apa yang dituduhkan kepadanya,” kata Mochtar. Doa dan harapan itu baru terjawab dua puluh tahun kemudian. Pada 1995, pemerintah membebaskan beberapa tahanan politik, termasuk Omar Dani yang sudah hampir tiga puluh tahun mendekam dalam bui. Dani yang telah sepuh itupun luput dari bidikan regu tembak.
- Membayangkan Sejarah di Masa Depan
SEMINAR sejarah nasional baru saja rampung digelar. Sejumlah putusan dan rekomendasi telah dihasilkan. Sejumlah isu penting terkait kesejarahan dikemukakan. Persoalan pembelajaran sejarah di sekolah membuka pokok penting rekomendasi. “Pendidikan Sejarah harus dapat menjawab tantangan, baik dalam menghasilkan sejarawan yang terampil mengolah data, memanfaatkan teknologi, dan menguasai keterampilan dalam menyajikan sejarah yang menarik bagi generasi milenial,” ujar sejarawan UI Andi Achdian yang membacakan rekomendasi. Tahun ini, seminar sejarah nasional mengusung tema “Membayangkan Indonesia di Hari Depan”. Perhelatan berlangsung pada 4—5 Desember 2019 di Aston Priority Simatupang Hotel & Conference Center. Seminar ini menghasilkan 4 butir rekomendasi yang dirumuskan oleh tim dari Direktorat Sejarah Kemendikbud dan sejarawan dari kalangan akademisi maupun profesional. Sejarawan UGM Sri Margana menjadi ketua perumus dengan anggota Triana Wulandari (Direktur Sejarah Kemdikbud), Agus Widiatmoko (Kasubdit Sejarah Nasional), Abdul Syukur (Sejarawan UNJ), Andi Achdian (Sejarawan UI), dan Erwien Kusuma (Sejarawan Publik/Konsultan Museum). Sementara pembacaan rekomendasi diwakili oleh Andi Achdian. Dalam pembelajaran sejarah, khususnya di sekolah ditekankan pentingnya inovasi dan kreatifitas. Cara ini dapat dilakukan dengan menjadikan materi-materi museum di Indonesia sebagai subjek pengayaan pembelajaran sejarah. Selain itu, pembelajaran sejarah dituntut memanfaatkan perkembangan teknologi untuk lebih menarik minat siswa belajar sejarah. Demikianlah rekomendasi butir pertama. Keadilan dan keberagaman dalam historiografi turut menjadi perhatian dan merupakan rekomendasi butir kedua. Oleh karena itu, penting sekali mengembangkan kajian sejarah yang menitikberatkan nilai keberagaman untuk penguatan integrasi nasional. Di samping itu, menuliskan kembali sejarah nasional dengan perspektif baru dan memperjelas periode sejarah yang masih samar dapat merumuskan dengan benar kepentingan-kepentingan nasional. Butir ketiga merekomendasikan penulisan sejarah dengan mengangkat tema-tema baru yang berkembang dalam masyarakat. Perhatian pada tema ekologi, kesetaraan gender, ketimpangan regional dan anti-kekerasan perlu dikembangkan dalam historiografi Indonesia. Selain itu, perlu dipikirkan dan dirumuskan bagaimana cara menyajikan sejarah untuk generasi milenial. Menuliskan ulang sejarah Indonesia dengan perspektif baru juga dianggap perlu sebagai proyeksi dalam historiogafi sejarah nasional ke depan. Gagasan “menulis ulang” diperlukan untuk memperbaiki buku Sejarah Nasional Indonesia (SNI) yang selama ini dipakai sebagai induk pengembangan kurikulum pendidikan sejarah. Terakhir, wacana sertifikasi sejarawan ikut mendapat tempat sebagai hasil rekomendasi. Peningkatan profesionalisme sejarawan melalui sertifikasi sejarawan merupakan langkah penting dalam mendorong kemajuan pengetahuan sejarah di Indonesia. Sertifikasi profesi sejarawan berkait erat dengan regulasi mutu bagi mereka yang berkecimpung di bidang sejarah. Ini juga sebagai kebijakan dalam memperhatikan kesejahteraan sejarawan ataupun mereka yang berprofesi dan menekuni bidang sejarah. Oleh karena itu sejarawan masa depan dituntut mampu meningkatkan profesionalisme profesinya. Keterampilan dalam memanfaatkan perkembangan teknologi dapat menjadi penunjang dalam mengangkat kualitas penelitian maupun sejarawan itu sendiri. Sejarawan juga diharapkan mempertimbangkan perubahan yang terjadi dalam pemahaman masyarakat tentang sejarah. Gagasan sertifikasi sejarawan menutup rekomendasi Seminar Sejarah Nasional Indonesia tahun 2019. Butir-butir rekomendasi tersebut didasarkan pada saran-saran dari 93 pemateri seminar dan pembicara kunci selama konferensi berlangsung. Isu sertifikasi sejarawan sendiri masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan sampai saat ini.
- Kampung Akuarium, Cagar Budaya dan Kehidupan Baru
Jakarta Utara termasuk salah satu wilayah perdagangan tersibuk di Jakarta. Di sini ada Pelabuhan Sunda Kelapa dan Tanjung Priok. Sunda Kelapa berkembang sejak abad ke-16, sedangkan Tanjung Priok bergeliat memasuki masa kolonial Belanda abad ke-19. Selain perdagangan, aktivitas keilmuan juga tumbuh di wilayah ini. Ustaz Wahyu Alimudin berpose di belakang pelabuhan Sunda Kelapa. (Fernando Randy/ Historia.id ). Catatan sejarah menunjukkan adanya aktivitas keilmuan di Jakarta Utara. Di Kampung ini pernah berdiri Visscherij Station (Stasiun Perikanan). Penggagasnya bernama Dr. J.C. Koningsberger, kepala laboratorium Zoologi Pertanian di Kebun Raya Bogor. Didirikan pada Desember 1905, bangunan Visscherij Station ini awalnya berukuran kecil dan semipermanen. Bangunan bekas laboratorium di kawasan Kampung Akuarium. ( Foto : Repro dari dokumen Chandrian Attahiya ) Gambar mural tentang laut yang banyak terpampang di tembok Kampung Akuarium. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kampung Akuarium yang berbatasan langsung dengan laut di pelabuhan Sunda Kelapa. (Fernando Randy/ Historia.id ). Chandrian Attahiyat, arkeolog Universitas Indonesia, mengatakan kepada historia.id bahwa Visscherij Station berkembang pesat dalam 15 tahun. Perkembangan ini menuntut perbaikan dan perluasan bangunan Visscherij Station. Sepanjang 1919–1922, pemerintah Hindia Belanda membangun ulang Visscherij Station. Baca juga: Miris, Nasib Bandara Internasional Pertama di Indonesia Setelah rampung, nama Visscherij Station berganti menjadi Laboratorioum voor het Onderzoek der Zee disingkat LOZ. LOZ kemudian lebih dikenal dengan sebutan Aquarium karena memiliki akuarium yang terbuka untuk umum sebagai tempat rekreasi. Pada 1955, nama LOZ berubah menjadi Lembaga Penyelidikan Laut (LPL). Nama LPL berubah menjadi Lembaga Oseanologi Nasional (LON) di bawah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 1970. Tujuh tahun kemudian, LON-LIPI pindah kantor. Suasana saat di Kampung Akuarium. (Fernando Randy/ Historia.id ). Aktivitas warga yang menghuni rumah sementara di kawasan Kampung Akuarium. (Fernando Randy/ Historia.id ). Gedung lama LON pun terbengkalai. Daerah sekitarnya jadi tak bertuan. Orang-orang dari berbagai latar belakang mendudukinya dan membangun permukiman. Baca juga: Nasib Kawasan Kastil Batavia yang Tergerus Zaman “Saya pertama kali datang kesini tahun 1994. Tidak jelas ini tanah siapa. Banyak nelayan yang membangun bangunan tinggal disini, termasuk saya. Hingga sekarang,” ujar Rohim (60), warga setempat. Para warga yang beraktivitas di Kampung Akuarium. (Fernando Randy/ Historia.id ). Maket bangunan rumah susun yang akan di bangun di Kampung Akuarium. (Fernando Randy/ Historia.id ). Seorang warga melintas di depan kamar mandi umum di Kampung Akuarium. (Fernando Randy/ Historia.id ). Rohim dan anaknya Nur Hasanah yang sudah puluhan tahun tinggal di kawasan Kampung Akuarium. (Fernando Randy/ Historia.id ). Kian hari, daerah Aquarium kian padat. Hingga muncullah sebutan Kampung Akuarium. Untuk mengatasi masalah sosial dan kekumuhan di daerah ini, Gubernur Basuki Tjahaja Purnama menggusur permukiman ini pada 2016. Tapi Gubernur Anies Baswedan membangun kembali permukiman di sini melalui rumah susun. Bahkan pelatakan batu pertama sudah dilakukan pada 17 Agustus 2020. Baca juga: Saat Jakarta Sunyi karena Pendemi Pro-kontra pun mengalir. Sebab wilayah ini termasuk dalam Kawasan Cagar Budaya. Para penentang pembangunan rusun berpendapat tidak seharusnya Kawasan Cagar Budaya dibangun tempat tinggal. Sebaliknya para pendukung kebijakan ini berpendapat, penetapan Kawasan Cagar Budaya bukan berarti tak boleh ada pembangunan permukiman. Gawang sepakbola yang digunakan oleh warga untuk berolahraga setiap sore di kawasan Kampung Akuarium. (Fernando Randy/ Historia.id ). Indri berpose di kawasan tempat tinggalnya Kampung Akuarium. (Fernando Randy/ Historia.id ). Dua orang warga saat beristirahat di kawasan Kampung Akuarium. (Fernando Randy/ Historia.id ). Suasana saat ini di Kampung Akuarium. (Fernando Randy/ Historia.id ). Ada sekitar 99 KK yang menunggu untuk pembangunan rumah susun di Kampung Akuarium. (Fernando Randy/ Historia.id ). Aktivitas warga di Kampung Akuarium. (Fernando Randy/ Historia.id ). Perdebatan tentang pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya bukan hal baru di kota ini. Saat ini mungkin yang paling tepat adalah menemukan titik temu. Seperti kata Wasiyem (59), salah satu warga yang sudah hampir 20 tahun hidup di sana. “Saya berharap kami dapat hidup berdampingan dengan cagar budaya. Saling menjaga dan tidak menggusur satu sama lain.” Suasana malam hari di Kampung Akuarium. (Fernando Randy/ Historia.id ). Wasiyem berharap dapat hidup bersama dengan kawasan Cagar Budaya. (Fernando Randy/ Historia.id ).
- Bertahan Menghadapi Resesi Ekonomi
MENTERI Keuangan Sri Mulyani memprediksi penurunan angka pertumbuhan ekonomi Indonesia terkait pandemi Covid-19. Ada beberapa skenario penurunannya. Dari paling moderat berada di kisaran 4 persen sampai terburuk di angka -0,4 persen. Ini berarti Indonesia terancam masuk tahap resesi ekonomi dan orang harus bersiap menghadapinya untuk keluar sebagai "pemenang" atau "pecundang". Resesi ekonomi adalah kondisi perekonomian sebuah negara dan rakyatnya sedang memburuk. Ditandai oleh berkurangnya produksi, melemahnya pendapatan, meroket atau merosotnya harga barang, dan bertambahnya pengangguran. Resesi ekonomi pernah menghampiri Indonesia beberapa kali, misalnya pada dekade 1930-an. Resesi bermula dari luar Hindia Belanda, dari kejatuhan harga saham di bursa New York, Amerika Serikat, pada Oktober 1929. Pangkalnya beragam rumor minor tentang perusahaan di sana. Tapi paling fatal ialah rumor bahwa sejumlah bank tak bisa membayar uang simpanan nasabah.
- Manusia Kanibal Tertua
Sejuta tahun yang lalu, nenek moyang manusia berkeliling, berburu, dan memakan sesamanya. Berburu daging manusia dinilai lebih menguntungkan dibanding mengejar hewan lain. Homo antecessor merupakan spesies manusia purba yang diperkirakan telah hidup antara 1,2 juta sampai 800.000 tahun yang lalu di dataran Eropa. Situs Smithsonian menjelaskan, spesies yang kontroversial ini diyakini oleh sebagian kecil antropolog sebagai leluhur terakhir Homo sapiens dan Neanderthal sebelum kedua spesies itu berpisah. Mereka disebut pula sebagai manusia kanibal tertua. "Fosil yang ditemukan di situs arkeologi berisi tanda-tanda kanibalisme yang tidak perlu dipertanyakan lagi," kata peneliti dari Pusat Penelitian Nasional untuk Evolusi Manusia (CENIEH) Spanyol, dalam studi yang mengamati tingkah laku perburuan Homo antecessor , sebagaimana dikutip Newsweek . Adalah Jesús Rodríguez, Ana Mateos, dan Guillermo Zorrilla, ilmuwan yang berada di balik penelitian ini. Studi yang diterbitkan dalam Journal of Human Evolution itu dihasilkan setelah mempelajari fosil tulang tujuh individu di situs arkeologi Spanyol, Gran Dolina. Mereka menemukan bukti yang jelas tentang praktik kanibal atau antropofagi dalam istilah antropologi. Itu seperti gigi manusia, luka dan patah tulang yang memperlihatkan sumsum. Temuan ini ada di antara sembilan spesies mamalia lainnya dan 22 individu yang tidak dimakan. Para peneliti pun menggunakan model matematika untuk memahami mengapa kanibalisme terjadi meski banyak mangsa lain yang tersedia. Mereka menganalisis kasus kanibalisme, sebagai salah satu opsi mencari makan. Para ahli pun menimbang antara perburuan manusia dan hewan lain dalam hal usaha dan berapa besar manfaat nutrisi yang mereka bisa dapat. Berburu manusia purba, kata mereka, nyatanya dilakukan demi mendapatkan manfaat maksimal dengan biaya minimum. Dengan kata lain praktik ini adalah bagian dari strategi berburu yang menguntungkan bagi pendahulu manusia modern itu. “Analisis kami menunjukkan kalau Homo antecessor, seperti juga predator lainnya, memilih mangsanya berdasarkan keseimbangan antara keuntungan dan usaha yang dikeluarkan,” jelas Rodríguez, dikutip laman resmi CENIEH. Seperti Daily Mail laporkan, Homo antecessor sadar kalau hewan lain mengandung kalori yang lebih banyak per gigitannya. Namun, kemudahan dan kurangnya upaya yang mereka keluarkan dalam berburu manusia membuat itu lebih hemat energi dalam jangka panjang. “Mengingat prinsip seimbang tadi, manusia adalah pemangsa di peringkat atas. Artinya, jika dibandingkan mangsa lainnya, akan banyak makanan yang bisa diperoleh dari manusia dengan usaha yang minim,” lanjut Rodríguez. Praktik kanibal ini juga didorong tingkat pertemuan yang tinggi antara sesama manusia. Peneliti lainnya, Ana Mateos, mengatakan, bagi Homo antecessor lebih mudah menemukan manusia daripada hewan lain. “Mayat yang dikanibal adalah orang-orang dari anggota kelompok yang telah meninggal karena sebab yang berbeda,” jelas dia. Sejauh ini diketahui kalau kanibalisme adalah praktik manusia sejak lama dan tersebar luas. Namun, penyebab mereka memilih mengonsumsi manusia lain masih menjadi perdebatan hangat. "Beberapa penjelasan dimungkinkan untuk perilaku kanibalistik, mulai dari motivasi sosial dan budaya hingga penyebab gizi murni," jelas para peneliti. Dalam penelitian sebelumnya, arkeolog Inggris James Cole menghitung nilai gizi tubuh manusia dan menerapkannya pada temuan Palaeolitik. Hasil studinya, yang diterbitkan dalam Scientific Reports , mengajukan ide bahwa kanibalisme tidak harus hanya didorong oleh kebutuhan akan nutrisi. Ini mengingat nilai kalori daging manusia tidak sekuat mangsa potensial lainnya pada saat itu. “Ini mengindikasikan ada juga alasan sosial dan budaya untuk kanibalisme prasejarah,” kata Cole dikutip Newsweek. Cole yang tak terlibat dalam penelitian itu berkata kalau temuan terbaru ini membantu interpretasi alasan kanibalisme di antara leluhur kuno manusia, yaitu motivasi perilaku kanibalisme menggunakan teori pencarian makan yang optimal. "Pendekatan semacam itu sangat unik dan menunjukkan kalau meskipun ada masalah dengan lebarnya waktu, kita masih dapat menghasilkan interpretasi baru dari perilaku kompleks yang dilakukan leluhur hominin kita," katanya.
- Teknologi Penyaringan Air di Kesultanan Banten
PADA 1596, pelaut Belanda, Willem Lodewijckz mencatat, air sungai di Banten sangat kotor dan keruh menimbulkan bau busuk yang menusuk hidung. Pada 1787, pelaut Belanda, Van Breugel, juga menyebut air sungai Banten rasanya tawar, kotor dan berbau busuk. Kondisi air seperti itu karena Banten Lama adalah wilayah pantai di dataran rendah. Sungainya mengalir lamban dan penuh lumpur. Penduduknya juga sering membuang sampah ke sungai. Meski begitu, air sungai tetap dimanfaatkan termasuk untuk minum sehingga banyak penduduk sakit. Masyarakat di luar keraton memanfaatkan air tanah untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Mereka menggali sumur untuk air tawar dengan ongkos sangat murah. Sumur banyak ditemukan di daerah Pabean, Pamarican, Surosowan, Masjid Agung, Pacinan, Dermayon, Kepandean, Kaloran, dan Jambangan. Dari tipologinya, ada keragaman bentuk sumur, ukuran dan bahan pelapis dindingnya. Sonny C. Wibisono, arkeolog senior Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) melihat kalau semua sumur telah menggunakan pelapis dinding. Penyekat berfungsi mencegah masuknya secara langsung resapan air baik dari atas maupun samping. “Gejala ini diduga untuk mengatasi peresapan air laut ke dalam sumur yang dapat terjadi pada lingkungan pantai seperti Banten,” kata Sonny ketika ditemui di kantornya. Di Keraton Surosowan, dinding sumur berbentuk silindris dan terbuat dari bata dan karang. Batu karang yang dibentuk balok berfungsi sebagai penyaring dan penawar air laut. Batu diletakkan melintang di dalam sumur. Sumber air yang masih asin atau payau secara sendirinya tersaring. Penduduk tinggal menimba air tawar di permukaannya. “Kami mencoba, memang tawar. Orang-orang di sana adaptif sekali dengan lingkungannya,” ujar Sonny. Di Masjid Agung, Dermayon, Pacinan, dan Pamarican, sumur-sumur silindrisnya menggunakan bahan pelapis bata. Di Kepandean, Kaloran, sumur-sumurnya memakai bahan terakota. Sementara di wilayah Jambangan, sumurnya berbentuk kerucut dan pelapisnya berbahan terakota dan karang. Selain sumur, Kesultanan Surosowan memiliki Tasik Ardi seluas 6,5 ha yang mengambil air dari Sungai Cibanten. Danau buatan ini dibangun untuk rekreasi keluarga sultan pada masa Maulana Yusuf (1570-1580). Baru pada 1701, danau buatan itu dikembangkan untuk memasok air bersih ke keraton yang jaraknya 1,5 km dengan beda ketinggian tiga meter. Teknisnya, air keruh dijernihkan dengan teknologi penyaringan yang disebut pengindelan. Menurut Sonny penyaringan air itu harus melalui tiga pangindelan, yaitu pengindelan abang, putih, dan emas. Ketiga pengindelan dibuat oleh Lucas Cardeel. Bangunannya dari bata berbentuk persegi panjang, atap lengkung, sebuah pintu di sisi utara, dan lubang berbentuk lingkaran sisi berlawanan. “Keberadaan pintu dan ukuran ruang dalam bangunan diperkirakan dapat menampung air sebanyak 56,7-100,24 m3,” catat Sonny. Cara kerjanya, air diendapkan lalu disaring dengan pasir dan ijuk. Saluran ditutup selama pengendapan. Setelah tiga hari, saluran air dibuka. “Saya kira raja punya petugas khusus untuk itu,” kata Sonny. Air bersih disalurkan dengan pipa-pipa terakota menuju bak pemandian di dalam tembok keraton hanya dengan memanfaatkan kemiringan. Air kemudian dialirkan ke dalam pipa-pipa lainnya dan keluar melalui pancuran-pancuran. Aliran air diperderas dengan mengatur ukuran pipa sedemikian rupa. Ukuran dibuat semakin mengecil agar daya dorong menguat. Menurut Sonny, tiga pengindelan yang dipakai bukan hanya meningkatkan kualitas air. Secara teknis pengindelan juga berfungsi mengumpulkan air. “Di sini sudah ditampung dengan permukaan lebih tinggi, lalu disalurkan dengan pipa yang lebih sempit, dibuat berkelok, lalu dipecah banyak sekali, sehingga deras,” jelas Sonny. Menurut Sonny ulu-ulu air berperan penting sebagai perawat saluran. Selain membuka dan menutup pintu pengindelan, mereka merawat dan menjaga saluran air dari sedimentasi. Selain untuk keperluan air bersih di dalam Keraton Surosowan, air Tasik Ardi dipakai untuk mengairi sawah di sekitarnya. “Yang lolos untuk konsumsi keraton, yang tidak lolos dialirkan untuk persawahan di timur keraton,” ujar Joesoef Boedi Arijanto, kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten.
- Bukan Orang Biasa
Tahun 1927. Haji Agus Salim mendapat undangan untuk mengikuti suatu konfrensi internasional di Mekah yang diselenggarakan oleh tokoh-tokoh dunia Islam kala itu. Namun karena status Agus Salim sebagai pengeritik pemerintah kolonial, para pejabat Hindia Belanda mempersulitnya mendapatkan paspor. Namun setelah menghubungi sana sini dan berupaya keras, paspor itu pun akhirnya bisa keluar di Surabaya. Kendati demikian, Kongsi Tiga (nama kapal laut yang akan berlabuh menuju Saudi Arabia) sudah terlanjur akan bergerak dari Batavia. Karena itu dalam catatan kertas sangatlah mustahil Agus Salim bisa ikut berlabuh bersama kapal tersebut ke Mekah, mengingat jarak Surabaya-Batavia saat itu termasuk memakan waktu lama. Mengetahui situasi sulit yang dialami Agus Salim, H.O.S. Tjokroaminoto (pimpinan Syarikat Islam) mengontak pimpinan Kongsi Tiga di Jakarta lewat telegram. Dia mengancam: jika kapal tersebut berangkat tanpa Agus Salim maka dijamin tahun depan tidak akan satu pun jemaah haji yang akan menggunakan jasa Kongsi Tiga. Ancaman itu berhasil: kapten kapal Kongsi Tiga terpaksa menunda keberangkatan selama 2x24 jam. Agus Salim kemudian tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Batavia. Betapa kagetnya salah satu tokoh Syarikat Islam tersebut saat muncul di pelabuhan disambut dengan semacam upacara kehormatan oleh para kru kapal. Mereka berbaris rapi di sepanjang jalan menuju pintu masuk dan membuat gerakan salut ketika Agus Salim lewat di depan mereka. Meskipun merasa penasaran dengan sambutan istimewa itu, Agus Salim tetap menahan diri untuk tidak berkata apapun. Hingga setelah berada di dalam kapal, ia pun bertanya kepada kapten kapal. “Mengapa saya disambut dengan cara seperti itu? Bukankah saya hanya orang biasa?” ujar Agus Salim, seperti ditulis dalam buku Seratus Tahun Haji Agus Salim . Dengan agak jengkel, sang kapten lantas menjawab: “Kapal ini tidak akan menunda keberangkatannya selama 2x 24 jam hanya untuk menunggu orang biasa.”
- Seabad Dokumentasi Seni Kriya Indonesia
PEMERINTAH kolonial Belanda tak melulu berkutat dalam masalah politik dan sumber daya alam. Mereka sempat menerbitkan lima jilid buku dokumentasi kerajinan tangan Indonesia yang menjadi babon perkembangan seni kriya. Pemerintah kolonial menugaskan Johan Ernst Jasper dan R.M. Pirngadie berkeliling Indonesia untuk mencatat segala seni kerajinan tangan rakyat. Jasper yang berayah Belanda dan ibu Indonesia, kemudian diangkat menjadi gubernur Yogyakarta pada 1928-1929. Sementara Pirngadie asal Banyumas kemudian dikenal sebagai pelukis bergaya mooi indie. “Pemerintah (Hindia Belada, red ) menugaskan Jasper mengembangkan kesenian dan kerajinan pertunjukan di kalangan penduduk setempat,” kata Christina M. Udiani, editor Seni Kerajinan Pribumi di Hindia Belanda dalam bedah buku itu di Ruang Pamer Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta, Jumat (27/10/2017). Dari penjelajahan itu, Jasper dan Pirngadie menerbitkan lima jilid buku berjudul De Inlandsche Kunstnijverheid in Nederlandsch Indie . Jilid 1 tentang anyaman (1912), jilid 2 tentang tenunan (1912), jilid 3 tentang batik (1916), jilid 4 tentang emas dan perak (1927), dan jilid 5 tentang logam lain selain emas dan perak (1930). Jasper dan Pirngadie berkolaborasi sejak 1904. Pada Oktober-Desember 1906, mereka menjelajahi Jawa sampai Madura. Pada Februari-Maret 1907, sampai ke Sulawesi Selatan, Sumatra Barat pada Juni-Agustus 1907, kemudian bergerak ke Sumatra Utara pada Agustus-Oktober 1908. “Prosesnya 18 tahun sampai lengkap lima jilid diterbitkan,” lanjut Christina. Semua kerajinan yang mereka temukan terdokumentasi dengan lengkap, dari material, cara, sampai nama alat yang digunakan. Bahkan, bukan hanya penelitian soal kriya, tapi juga sisi linguistiknya. Misalnya, bagaimana kata “menganyam” bisa dikenal dalam berbagai daerah di Indonesia. “Jadi, buku ini bisa dianggap panduan atau manual. Ada resep-resep mencampur warna, teknik menganyam, ada semua,” ungkap Christina. Naniek Harkantiningsih, peneliti senior di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, mengatakan bentuk-bentuk kriya yang kini ada sebenarnya telah ada sejak masa prasejarah. Seperti kerajinan tanah liat, bahkan logam dan batuan mulia seringkali ditemukan dalam tradisi penguburan sebagai bekal kubur. “Tidak hanya melihat barang-barang pada masanya saja yang dijelaskan Jasper dan Pirngadie. Pada masa yang lebih lampau lagi juga dijelaskan oleh mereka,” ujar Naniek. Naniek melihat buku ini sebagai salah satu bukti pelestarian seni kriya. Karenanya cara ini bisa ditiru dengan melanjutkan kembali pendokumentasian yang telah dilakukan Jasper dan Pirngadie. “Karena teknologi berkesinambungan,” ujarnya. Menurut Naniek dalam pengembangan seni kriya di masa depan, rekonstruksi tinggalan arkeologis bisa menjadi modal. Seperti halnya yang dilakukan para pengrajin kain tenun Sumba. Mereka mengambil motif kain dari ragam hias yang ada di kubur batu megalitik di Sumba. Di Banten banyak ditemukan tembikar dari abad 16 yang kaya ragam hias. Seniman merefleksikan motif itu ke dalam batik. Lusiana Limono, praktisi seni tekstil, menambahkan ternyata dari buku diketahui ada beberapa kerajinan yang kini kembali menjadi tren, terutama bagaimana masyarakat masa Hindia Belanda menggunakan pewarna alam. “Ilmu pewarnaan alam adalah kearifan lokal dan dari kebiasaan. Pesan 100 tahun lalu didengar lagi kini,” kata Lusiana. Kini, kelima jilid itu kembali diterbitkan dengan judul Seni Kerajinan Pribumi di Hindia Belanda.
- Presiden Ketularan Menteri Perhubungan
Adnan Kapau Gani yang tampan itu sekali waktu bertandang ke Istana Negara. Gani saat itu menjabat Menteri Perhubungan era Kabinet Ali yang pertama. Ada agenda yang yang hendak dibicarakan Gani dengan Presiden Sukarno. Kedatangan Gani diterima oleh Bung Karno. Alih-alih membincangkan soal pemerintahan, Gani malah meminta advis presiden sehubungan dengan pembuatan film perjuangan Pangeran Diponegoro yang akan diperankan oleh dirinya. Selain sebagai pejabat negara, Gani memang telah malang melintang di dunia seni peran sebagai aktor. Sebelum memberikan masukan dan arahannya, Bung Karno ingin mengajak Gani terlebih dahulu makan siang. Gani mengiyakan. Guntur, putra sulung Bung Karno menyaksikan kedatangan Gani dan mengenang dialog antara Gani dan ayahnya pada hari itu dalam memoar Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku . “Kapau, jij (kamu) makan siang disini ya,” ajak Bung Karno, “Ayolah Kapau, ik (aku) kebetulan masak rendang kesukaan jij .” Gani bersedia namun dengan mengajukan satu syarat: Ibu Fatmawati menyediakan sambal yang pedas bersama petai dan jengkol muda. Sukarno menyanggupi. “Yah, en Bung mesti juga makan petai plus jengkol,” kata Gani menggoda. Bung Karno berkilah, katanya, “Aku anti petai dan jengkol. Jij kan tahu aku ndak mau kamar mandiku bau.” “Aaaahhhh. Bung, buat apa toh anti sama petai dan jengkol. Mereka toh bukan kapitalisme of kolonialisme. Bahkan itu adalah makanan asli rakyat Indonesia! Sesekali Bung cobalah, rasakan nikmatnya dan itu baik sekali buat Bung punya nier (ginjal),” kata Gani meyakinkan. Bung Karno memang punya keluhan dengan ginjalnya. Gani menjamin dengan memakan petai dan jengkol, organ ginjal Bung Karno bakal sehat. Bung Karno tidak terpengaruh. Dia benci bau pesing lantaran aroma yang ditimbulkan biji-bijian itu. Sembari masakan dipersiapkan Ibu Fatmawati, Bung Karno dan Gani melanjutkan pembicaraan soal film. Bung Karno pada prinsipnya sangat setuju ide pembuatan film Diponegoro yang lakon utamanya akan diperankan Gani. Namun dia menyarankan agar Gani juga meminta persetujuan Ali Sastroamidjojo selaku perdana menteri. Guntur ikutan nimbrung dengan mengatakan wajah Gani mirip dengan Pangeran Diponegoro dalam lukisan Basuki Abdullah. Tidak berapa lama, Ibu Fatmawati memanggil dari ruang makan, tanda hidangan telah disajikan. Gani dan Bung Karno pun siap bersantap ditemani Ibu Fatmawati beserta Guntur. Gani memakan petai dan jengkol dengan lahapnya. “Aha! Bukan main rasanya ini jengkol,” kata Gani sambil mengunyah jengkol dengan sambal terasi. “Ayo Bung, coba petainya! Ayolah coba jengkol ini! Sekerat kecil sajalah!“ kata Gani pada Bung Karno. Ibu Fatmawati tidak ketinggalan. Dia ikutan membujuk suaminya mencicip petai seraya menekankan pentingnya bagi kesehatan ginjal. Akhirnya Bung Karno tidak kuasa menolak. Dia minta diberi sedikit petai. Dimakanlah petai itu oleh Bung Karno untuk kali pertama. “Yah… boleh juga,” ujar Bung Karno. Sejurus kemudian, Bung Karno meminta jengkol kepada Fatmawati. Lama-lama, Bung Karno memakan petai dan jengkol dengan lahapnya. “Sudahlah Bung! Jangan banyak pikir. Hantam saja!” Gani mengompori, “Biarlah tu kamar mandi bau…. Ha..ha..ha..” Keesokan harinya, Bung Karno mau ambil air wudhu di kamar mandi buat salat maghrib. Dia mendapati kamar mandi bau pesing nan menyengat. Dipanggilnya Sa’in, pelayan Istana yang bertugas mengurusi kamar mandi. “Saiiiiinn! Saiiiiin!” teriak Bung Karno, “Saha nu kiih di kamar mandi Bapak? (Siapa yang kencing di kamar mandi Bapak?) Kamar mandi bau jengkol” Sain menjawab tidak tahu. Kemudian Sukarno memanggil Fatmawati. Agak dihardiknya Ibu Negara itu. “Faaatt!! Faaatt! Aku kan sudah bilang berkali-kali kalau kau makan petai atau jengkol jangan pipis di kamar mandiku! Sekarang kamar mandiku jadi bau.” “Sabaaar.... Jangan marah-marah, nanti lekas gaek (tua)," kata Fatmawati dengan logat Bengkulunya. “ Siapo yang kemarin makan jengkol dengan Kapau?? Siapo yang kemarin makan petai dengan Menteri Perhubungan Republik Indonesia?? Hayoo!” Mendengar itu, Bung Karno baru sadar bahwa dirinya kemarin ikutan makan petai dan jengkol. Bung Karno yang tadinya mau meledak amarahnya buru-buru balik kanan lalu melengos pergi. Rupanya, menurut guyonan Fatmawati, Bung Karno jadi pikun gara-gara ketularan petai dan jengkol dari menteri perhubungannya sendiri.





















