Hasil pencarian
Cari di situs ini
10062 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Pengawal Raja Charles Masuk KNIL
RAJA Charles X (1757-1836) dari wangsa Bourbon yang meguasai Perancis harus lengser setelah Revolusi Perancis 1830 alias Revolusi Perancis Kedua. Sepupunya Louise Phillippe sang Adipati Orleans kemudian naik takhta. Charles X sudah berkuasa 18 tahun di Perancis. Lengsernya Charles X cukup memukul kehidupan Just Jean Étienne Roy (1794-1871). Pasalnya, resimen pengawal Raja Charles X yang diikutinya harus bubar pula. Tak hanya JJE Roy yang apes, ayahnya yang mendukung wangsa Bourbon dan pernah mendapat suaka politik di Belanda juga merasa terpukul. Di tahun 1830, ketika revolusi berlangsung, JJ Roy adalah letnan muda di kesatuan infanteri pengawal kerajaan. Lantaran merasa nasibnya tidak baik, Roy dan ayahnya kemudian melarikan diri ke Negeri Belanda. Mereka menetap di Den Haag. Suatu hari Roy bilang ke ayahnya.
- Daripada Soeharto, Ramadhan KH Pilih Anak
PERTENGAHAN 1980-an, Ramadan Karta Hadimadja mendapatkan pekerjaan bergengsi, menuliskan kisah hidup Presiden Soeharto. Brigadir Jenderal Gufron Dwipayana alias Dipo menjadi penengah antara Ramadhan dan Soeharto. Dipo selalu memberi tahu Ramadhan kapan bisa bertemu Soeharto.
- Kisah Sabidin Bangsawan Palsu
JAUH sebelum Albert Dietz mendaku diri sebagai titisan dari Pangeran Timur Muhamad alias Gusti Muhammad Herucokro alias Haji Mohammad Ngusman (anak tunggal Sultan Hamengkubuwono V yang terbuang) di Jawa Tengah, lelaki bernama Sabidin telah mendaku diri sebagai sultan Banten. Sejak 1915, Dietz menuntut takhta atas dirinya di Kesultanan Yogyakarta. Takhta tersebut katanya seharusnya untuk Pangeran Timur Muhamad setelah sultan Hamengkubuwono V mangkat. Dietz disebut De Nieuwe Vorstenlanden tanggal 2 Mei 1929 sebagai seorang tabib, dukun sakti ajaib, juga peramal. Dia mencari uang dari penduduk dengan pamornya itu. Dietz dan Sabidin pernah berada dalam naungan orang Belanda pula. Kisah Sabidin yang menggemparkan itu diberitakan koran Java Bode tanggal 18 Agustus 1888 dan Algemeen Handelsblad tanggal 27 September 1888. Sabidin disebutkan lahir di Yogyakarta. Sejak usia 12 tahun ia meninggalkan ibu kandungnya. Dia lalu ikut seorang Belanda bernama Willemsen ke Surabaya. Selama di Surabaya, selain belajar menjadi pandai besi dia pernah bekerja di instalasi mesin uap, juru gambar, dan juru mudi untuk jawatan pelayaran Hindia Belanda Gouverment Marine (GM). Dikabarkan, dia pernah berada di Telukbetung, kota pelabuhan di selatan Lampung. Soal menggambar, dia pernah bertemu pelukis Raden Saleh yang sohor dan Sabidin diajari menggambar. Konon, Sabidin pernah dibawa Raden Saleh ke Paris. Sabidin pernah bertemu pula bertemu AJW van Delden dan Raden Mas Soenario, yang katanya cucu Mangkunegoro, sekitar 1879. Sabidin akhirnya bosan dengan kehidupan sebagai pelaut. Dia memilih kabur dari GM. Sabidin lalu mencari penghidupan ke Karang Antu. Di sana dia bertemu Djaro Massid. Dari perjalanannya kemudian, dia bertemu pensiunan patih Lebak, Djaja Koesoemah. Sabidin memperlihatkan dirinya pandai mengaji dan tampak berbudaya. Dalam sebuah obrolan, dia ditanya Koesoemah di mana tempat kelahirannya. Sabidin menjawab Anyer. Oleh pensiunan patih itu Sabidin lalu disebut sebagai Pangeran Timoer, putra sultan terakhir Banten Safioeddin, yang diasingkan ke Surabaya tahun 1850. Sabidin mengiyakannya saja. Ketika bertemu dengan bupati Serang kemudian, secara terang-terangan Sabidin mendaku diri sebagai putra mahkota sultan Banten. Namun kata bupati Serang, dia tidak ingin menuntut takhta atau kekuasaan politik yang mengganggu ketertiban. Banyak rakyat jelata begitu menghormatinya. Namun setelah mendapatkan kepercayaan, Sabidin disebut-sebut menyalahgunakannya untuk memeras sejumlah uang. Tak hanya berkelana di daerah Banten, Sabidin juga berkelana ke Cirebon. Di sana, Sabidin mendatangi Haji Abdul Adjit, penjaga makam suci Sunan Gunung Jati di Astana. Sabidin main peran tipuannya lagi hingga dijuluki Haji Maulana, gelar yang bukan sembarang gelar di sana. Sabidin disebutkan juga merayu putri Haji Talka. Dari Cirebon, dia ke Majalengka, lalu Bandung, Cianjur, dan terakhir Bogor. Akhirnya Sabidin kembali ke Serang sebagai orang terpandang. Di Serang, dia dinikahkan dengan Sapirah, putri Djaja Koesoemah, di masjid kampung Kasoeniatan. Sebagai Haji Maulana Pangeran Timor, Sabidin menikahi Sapirah dengan mas kawin 40 reichsdaalder. Setelah kawin, dia tinggal bersama nenek mertuanya, Ratu Aminah. Sabidin sering berkunjung ke rumah orang-orang terpandang. Mulai dari bupati Serang, bupati Pandeglang, patih Lebak, wakil jaksa Bogor hingga Haji Thalib di Sukabumi, Haji Idjang di Cianjur, dan Haji Saripah di Bandung. Istrinya kadang dia tinggalkan ketika bepergian. Setelah Sabidin sukses menjadi Pangeran Timoer sebagai putra mahkota sultan Banten, rupanya sebagian orang curiga dan saling berkirim surat untuk memastikan status Pangeran Timur. Keluarga sultan Banten yang dibuang ke Surabaya pun rupanya tak satu pun kenal Sabidin alias Pangeran Timur itu. “Kisah Sabidin dan seorang pelaut pedalaman, yang pada tahun delapan puluhan menggemparkan seluruh Banten dan mengelabui penguasa Eropa dan pedalaman di wilayah itu selama berbulan-bulan dengan berpura-pura menjadi Pangeran Timoer, putra sulung orang terakhir yang diasingkan ke Surabaya dari Banten, Sultan Rafioedin. Sabidin ini juga jatuh ke dalam perangkap dengan mempercayai tipuannya sendiri, melakukan hal-hal yang membuat residen (yang kemudian menjadi direktur Binnenlands Bestuur) van Vleuten dari Bandung curiga. Sebuah telegram tunggal ke Surabaya dari Sabidin terbongkar,” demikian Limburger Koerier , 4 Maret 1932, memberitakan. Sabidin alias Pangeran Timoer palsu itu akhirnya ditangkap pada 29 April 1884. Landraad (pengadilan rendah pribumi) menjatuhi hukuman dua tahun kerja paksa padanya karena desersi dari GM. Pada 28 Agustus 1886, Sabidin dihukum lagi karena kejahatan serupa, dengan hukuman empat tahun kerja paksa di Surabaya.*
- Gunung Semeru, Gisius, dan Harem di Ranupane
ANTARA akhir September dan awal Oktober 1927, Simon Willem Gerrit Gisius disebut namanya di beberapa koran di Belanda dan Hindia Belanda. Pasalnya, seorang putri penjaga hotel di Madura melarikan diri tanpa alas kaki dari tempat Gisius di Smeroe Hoeve alias Peternakan Semeru di dekat danau terkenal bernama Ranupane.
- Riwayat Homofobia
PADA kurun Desember 1938 sampai Mei 1939, polisi kolonial di seluruh Hindia Belanda menggelar operasi besar-besaran terhadap ratusan lelaki homoseksual. Mereka dituduh melanggar Pasal 292 Wetboek van Strafrecht (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, KUHP) tentang larangan berhubungan badan dengan anak di bawah umur (pedofilia). Dari 223 pria yang ditahan, 171 di antaranya dinyatakan terbukti bersalah dan dijatuhi hukuman. Kisah razia homoseksual itu termuat dalam buku Polisi Zaman Hindia Belanda: Dari Kepedulian dan Ketakutan karya sejarawan Marieke Bloembergen. Marieke menemukan bukti adanya kaitan upaya pemurnian akhlak dari praktik homoseksualitas oleh kepolisian kolonial dengan persaingan dan perebutan kekuasaan. Pada kenyataannya, demikian menurut Marieke, penggunaan pasal dalam KUHP kolonial tersebut tak hanya menyasar kepada mereka yang berbuat pedofilia, namun juga homoseksual secara umum. Pada era yang sama, polisi kolonial memiliki kebutuhan untuk mencitrakan dirinya sebagai lembaga beradab sekaligus menjadikan negara kolonial semakin berakhlak di tengah ilusi keamanan dan ketertiban ( rust en orde ) yang sedang berlaku saat itu. Maka untuk memenuhi kepentingan tersebut, dinas kepolisian kolonial membentuk unit-unit polisi susila ( zedenpolitie ) di berbagai kota. Kampanye negatif terhadap homoseksualitas pada era 1930-an tak hanya terjadi di Hindia Belanda, namun menjadi gejala umum yang merentang mulai Eropa sampai Asia. Di Jerman pada zaman yang sama, Nazi menganggap praktik homoseksualitas sebagai kejahatan yang melawan negara. Krisis yang menerpa dunia pada saat itu berkelindan dengan imaji kepemimpinan yang kuat, maskulin dan berakhlak untuk membawa kehidupan menjadi lebih baik. Sehingga homoseksualitas yang diidentikan dengan gambaran lelaki yang lembek, lemah dan menyimpang dari norma yang berlaku tidak pantas menduduki jabatan penting di pemerintahan. Isu yang sama digunakan oleh Nationaal-Sosialistiche Beweging (NSB, organisasi yang berafiliasi dengan Nazi) di Hindia Belanda untuk saling serang terhadap kelompok komunis yang membolehkan homoseks menjadi anggotnya, betapapun pada kenyataannya ada anggota NSB saat itu yang juga homoseksual. Yang mengherankan adalah isu tersebut baru menjadi perbincangan umum dan mendorong lahirnya aksi razia pada 1938. Padahal sebelum itu menurut penelusuran Marieke, praktik homoseksual tak pernah mengundang aksi-aksi dadakan baik oleh polisi maupun kalangan masyarakat sipil di Hindia Belanda. Kalaupun ada hanya sebatas upaya menanggulangi prostitusi dan perdagangan anak-anak di bawah umur serta pemberantasan praktik pedofilia. Isu homoseksual malah berkembang menjadi komoditas politik untuk saling menjatuhkan. Represi pemerintah kolonial kepada warganya yang homoseksual juga setara dengan perlakuan terhadap kaum pergerakan nasionalis yang kala itu dianggap sebagai musuh negara. Contoh lain adalah kasus yang menimpa Anwar Ibrahim, mantan wakil perdana menteri Malaysia yang disingkirkan secara politis atas tuduhan melakukan praktik homoseksual. Namun pada waktu lain, di Indonesia, pernah ada seorang tokoh yang cukup terkenal: meniti karier sebagai kepala rumah tangga istana sejak zaman Presiden Sukarno dan mengakhiri kariernya sebagai menteri pariwisata, pos dan telekomunikasi. Sudah rahasia umum tentang apa orientasi seksualnya, namun preferensi seksualnya itu tak pernah menjadi aral yang merintangi peran publiknya. Seperti pendulum, isu ini berayun sesuai dengan jiwa zaman yang sedang berlaku. Pola yang terjadi pada era 1930-an, kita temukan lagi pada hari-hari belakangan ini.* Majalah Historia Nomor 28, Tahun III, 2016
- Kisah Pemburu Beruang
HUGH Glass (Leonardo Di Caprio) menarik kekang kudanya sembari menuntun kuda yang mengangkut rekannya, Kapten Andrew Henry (Downhall Gleeson), yang tewas. Sebuah tembakan melesat dari arah bukit. Glass terjatuh. Dari arah bukit John Fitzgerald (Tom Hardy) bergegas turun.
- Gus Dur Sosok "Nyeleneh" Lagi Pemurah
KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur bukan hanya dikenal sebagai sosok ulama, intelektual, dan negarawan yang reformis meski terkadang oleh beberapa kalangan dianggap kontroversial. Sejak lama ia juga dikenal sebagai filantropis yang gemar berbagi kepada masyarakat dari segala lapisan yang membutuhkan. Sejak 1970-an sampai 1990-an Gus Dur tidak hanya sering menerima amplop dari ceramah atau seminar. Ia juga acap menerima honor sebagai kolumnis di beberapa media massa. Kelak beberapa kumpulan tulisannya dijadikan buku. “Gus Dur menulis sebagai usaha untuk menawarkan pemikiran dan ide. Ia juga menulis untuk mendapatkan uang. Ia mengaku bahwa salah satu penopang hidupnya bersumber dari honor tulisan. Tulisan-tulisannya dimuat di media terkemuka, seperti majalah Tempo, koran Kompas, serta jurnal paling keren pada zamna itu, jurnal Prisma,” tulis Hairus Salim dalam Gus Dur: Sang Kosmopolit . Setelah memimpin Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kurun 1984-1999, Gus Dur tetap sebagai tokoh yang reformis juga filantropis. Honornya dari ceramah, pembicara seminar, hingga menulis sering dibagi-bagikannya ke anak buah, sesama kiai, hingga masyarakat miskin yang membutuhkan. Salah satu laku filantropi itu diceritakan Surahman, salah satu pembantu Gus Dur semasa menjabat ketua PBNU, kepada KH Husein Muhammad alias Buya Husein. Hampir saban hari Gus Dur menerima surat-surat baik dari warga NU maupun warga miskin dari berbagai daerah yang membutuhkan bantuan. “Ada surat dari pengurus NU, kiai kampung, ustadz, santri, petani, nelayan, tukang kebun, pedagang kelontong. Kebanyakan isinya permohonan bantuan dana untuk keperluan yang beragam. Gus Dur membacanya satu per satu dengan teliti. Ia lalu mengambil kartu pos wesel yang sengaja disiapkan di lacinya. Kemudian, ia menulis dengan tangannya sendiri angka rupiah tertentu. Ia mengambil honor-honor yang diperolehnya dari tulisan yang dimuat atau dari seminar yang dihadirinya, lalu dibagi menurut pertimbangannya sendiri. Ia lalu meminta Surahman membawa pos-pos wesel itu ke kantor pos dan mengirimkannya ke alamat masing-masing,” ungkap Buya Husein dalam Samudra Kezuhudan Gus Dur: Sang Guru Bangsa, Sang Sufi dalam Kesehariannya. Baca juga: Gus Dur dan Buku Hal serupa juga dikisahkan jurnalis senior dan politikus Imam Anshori Saleh dalam Mata Batin Gus Dur . Dompet dan isi tas Gus Dur, katanya, hampir selalu kosong karena dia acap membagi-bagikan amplop kepada sesama kiai maupun para masyarakat adat. “Gus Dur yang sepanjang hidupnya berkeliling ke masyarakat, sesungguhnya sedang menjadi petugas pos amplop. Jika Gus Dur dapat amplop berisi uang hasil ceramah atau seminar, biasanya Gus Dur akan mampir di rumah kiai atau ulama lokal, tidak pandang terkenal atau tidak, terkadang juga mampir ke rumah pemimpin tradisi, kepala adat, atau pemimpin masyarakat. Kebiasaan yang selalu terjadi adalah amplop akan berpindah dari tas atau saku pendamping atau ajudannya kepada mereka yang dikunjungi,” tulis Imam. Janda Flores dan Titipan Koper Berisi Duit Miliaran Semasa jadi presiden (1999-2001), Gus Dur tetap acap membagi-bagikan duitnya. Kali ini ke menteri-menterinya yang dianggap “kurang mampu”. Di antaranya Menteri Luar Negeri RI (1999-2001) Alwi Shihab dan Menteri Negara Riset dan Teknologi RI (1999-2001) Muhammad Atho’illah Shohibul (AS) Hikam. “Gaji Gus Dur sebagai presiden sering diberikan kepada yang memerlukan, meskipun tak diminta, termasuk kepada menterinya. Gus Dur, kata Mahfud MD, memberikan sebagian gaji pertamanya kepada Alwi Shihab, sambil mengatakan, ‘Nih, Alwi, untuk beli jas. Masak menteri jasnya jelek begitu.’ Hal yang sama dilakukan kepada AS Hikam. Sambil menyerahkan sebagian uang gajinya kepadanya, Gus Dur bilang, ‘Nih untuk beli sepatu. Masak menteri sepatunya butut.’ Gus Dur tahu bahwa sepatu AS Hikam sudah lawas, meski ia sendiri tuna netra,” sambung Buya Husein. Selepas dilengserkan pun Gus Dur tetap dicintai umat. Seringkali rombongan masyarakat yang bersilaturahim secara sukarela memberinya amplop. Isinya pun beraneka nilai rupiah, dari yang uang logaman Rp.500 hingga Rp.20 ribu. Lagi-lagi amplop-amplop itu kemudian dibagikannya ke anak buahnya, sebagaimana yang diceritakan salah satu asistennya, Sulaiman, dikutip Damien Dematra dalam Sejuta Doa untuk Gus Dur. “Mungkin ada anak kecil yang ikut ngasih (logam recehan). Hebat, to ! Kecil-kecil wes nyumbang. Ambilano (ambil saja), untuk jajan,” kata Gus Dur. “Kenapa sih, Gus, kok semuanya dikasih ke kita? Padahal kalau setiap hari ditabung kan cukup untuk sebulan. Belum lagi sumbangan dari simpatisan,” tanya Sulaiman. “Kamu itu ndak usah materialistis, Man. Memang kurang yang dikasih sama Yang Di Atas? Aku ini sudah terima kasih,” jawab Gus Dur. “Apa, Pak, maksudnya?” “Ya, saya terima kasih. Saya menerima kasih, saya memberikannya kembali pada orang lain. Terima kasih,” tukas Gus Dur terkekeh. Baca juga: Dahsyatnya Humor Gus Dur Suatu ketika, Gus Dur pernah menerima rombongan ibu-ibu yang bertamu ke kediamannya di Ciganjur, Jakarta Selatan. Gus Dur lagi-lagi tak menolak ketika menerima tumpukan amplop. setelah dihitung para asistennya, rata-rata bernominal 50-200 ribuan rupiah dan relatif kecil totalnya. “Saya harus menerima semua itu. Kalau saya tolak, pasti mereka kecewa. Yang penting bukan jumlahnya, tapi semangat dan gairahnya untuk bisa memberi kepada saya. Mereka datang jauh dari Pasuruan, ziarah ke makam-makam Wali Songo. Terakhir ke saya. Mereka menganggap saya ini wali ke sepuluh, hehehe...” canda Gus Dur. Yang pasti, Gus Dur tak pernah pelit rezeki. Puluhan juta rupiah pun ikhlas ia gelontorkan jika memang ada orang yang sangat membutuhkan. Imam Anshori Saleh mengisahkan, pada suatu waktu seorang janda asal Flores, Nusa Tenggara Timur mendatanginya Gus Dur di kantor PBNU sembari terisak-isak. Gus Dur lantas meminta Imam mengambilkan uang senilai Rp40 juta dari sebuah kotak di atas meja. Segepok uang itu lantas berpindah tangan dan janda asal Flores itu mensyukuri bantuan uang yang diterimanya dengan mencium tangan Gus Dur sembari terisak sebelum pamit. “Siapa itu, Gus?” tanya Imam. “Nggak tahu. Dia janda. Anaknya lima masih kecil-kecil. Yang bungsu sudah dua bulan dirawat di rumah sakit. Perlu biaya untuk dapat membawa anaknya pulang,” ujar Gus Dur. “Jangan-jangan dia hanya pura-pura, Gus?” “Bener kok. Dia tadinya minta bantuan saudaranya, tapi tidak dikasih. Sudah Mas, kalau memberi itu ikhlas saja. Nggak usah dipikir lagi. Kalau bisa bantu ya kita bantu. Begitu saja. Wong uang itu juga dari orang, kita kembalikan kepada orang yang membutuhkan,” tandas Gus Dur. Baca juga: Dahsyatnya Humor Gus Dur (Bagian 2) Ketika kondisi kesehatannya mulai menurun, Gus Dur mengamanahkan sebuah wasiat. Sebagaimana yang diceritakan KH Marzuki Mustamar, dilansir NU Online , 2 Agustus 2018, Gus Dur pernah menitipkan tiga koper kepada seseorang bernama Agus asal Jatikerto, Malang. Dalam wasiatnya, Gus Dur berpesan bahwa isi koper-koper itu boleh dibuka jika Gus Dur sudah wafat. Sebagaimana wasiatnya, sekira 100 hari pasca-wafatya Gus Dur (wafat 30 Desember 2009), Agus baru membuka ketiga koper itu. Ternyata isinya bertumpuk-tumpuk amplop berisi uang yang jika dihitung mencapai sekitar Rp3 miliar. Pada setiap amplop itu juga sudah dituliskan nama-nama anak yatim, yatim-piatu, hingga para janda sebagai penerima beserta alamat-alamat mereka yang semua berada di Kabupaten Malang. Agus pula yang lantas membagi-bagikannya kepada para penerimanya sebagaimana wasiat Gus Dur.*
- Kala Sultan Hamid Dihina Orang Belanda
DE Simpangsche Societeit atau Simpang Club (kemudian Balai Pemuda Surabaya) merupakan tempat orang-orang kulit putih (Belanda atau Eropa) biasa bersantai lewat mengobrol, mendengar musik, atawa berdansa. Pada suatu malam sekitar tahun 1940-1941, salah satu pengunjung agak terkejut karena melihat seorang pesohor dari Malang masuk ke dalam kelab itu. “O, itu Alkadri,” kata Nyonya Visscher, istri seorang administrator perkebunan di Jawa Timur. Adik nyonya Belanda itu, yang adalah sekretaris Simpang Club, pun bereaksi. Sebab, ada aturan yang melarang orang selain kulit putih dilarang masuk ke kelab tersebut. Sudah jamak di tempat ekslusif orang kulit putih di Hindia Belanda seperti kelab atau kolam renang ada tulisan Verboden voor Honden en Inlander , yang artinya kurang lebih Dilarang masuk untuk anjing dan pribumi. Maka begitu mengetahui ada pria bernama “Max” Hamid Alkadri di dalam kelabnya, sekretaris Simpang Club langsung ambil tindakan. Setelah mendekatinya, sekretaris itu langsung mengusir Alkadri dari Simpang Club secara sopan. “Ibu dan aku terperanjat. Kami tak pernah memperhatikan bahwa Simpang Club hanya untuk orang kulit putih. Kami jadi ikut terguncang olehnya,” aku Elien Visscher, putri dari Nyonya Visscher, di kemudian hari seperti ditulisnya dalam memoarnya Melintasi Dua Zaman . “Esoknya Ibu terlibat debat dengan paman mengenai kejadian malam sebelumnya. Ibu sangat memikirkan hal itu, sebab ia tidak sengaja melaporkan Alkadri.” Alkadri cukup tersohor di Malang. Dia satu dari sedikit letnan tentara kolonial Koninklijk Nederladsch Indische Leger (KNIL) di Malang. Koran De Locomotief tanggal 27 November 1936 menyebut, Sjarif Hamid Alkadri adalah lulusan Koninklijk Militaire Academie (KMA/Akademi Militer Kerajaan) di Breda. Setelah lulus dan kembali ke Nusantara dengan kapal SS Sibajak , dia ditugaskan di Batalyon Infanteri ke-8 di Malang. Sebagai perwira KNIL sekaligus bangsawan tinggi, Alkadri seharusnya sudah punya status yang sama secara hukum dengan orang Belanda seperti kebanyakan perwira KNIL dari golongan pribumi atau penduduk non-Belanda lain. Bahkan, Alkadri semestinya sudah bisa hidup seperti orang Belanda, sebab istrinya pun orang Belanda. De Indische Courant edisi 1 Juni 1938 menyebut, Letnan Hamid yang disapa Max ini kawin dengan Didi alias Marie van Delden, putri Nico van Delden. Pada 1941, pangkat Max Hamid seharusnya sudah letnan dua. Pengusirannya yang halus di Simpang Club itu bisa dipandang khalayak sebagai penghinaan. Namun Letnan “Max” Hamid Alkadri tampak tidak merasakan penghinaan dari orang Belanda. Selama bertahun-tahun, pangeran dari Kesultanan Kadriah Pontianak itu terus berdinas di KNIL. Ketika Perang Pasifik pecah, Max tidak mundur. Dia sempat bertugas di Balikpapan hingga terluka. Setelah KNIL keok dalam Perang Pasifik, Max termasuk salah satu anggota KNIL yang menjadi tawanan perang Jepang. Benjamin Bouman dalam Benjamin Bouman, Van Driekleur tot Rood-Wit. De Indonesische officieren uit het KNIL 1900-1950 menyebut Max ditawan di Bandung. Setelah Perang Pasifik selesai, Max melanjutkan dinasnya lagi di KNIL hingga dia dipanggil pulang untuk menggantikan ayahnya menjadi Sultan Pontianak dengan gelar Sultan Hamid II. Sultan Hamid II pernah menjadi ketua musyawarah federal, organisasi yang terdiri dari dewan-dewan daerah dipimpin raja-raja maupun negara-negara federal yang dikawal Belanda, yang disebut Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO). BFO punya kepentingan berbeda dari Republik Indonesia (RI) yang berpusat di Jawa. Belum lagi, dalam praktiknya Sultan Hamid II cenderung lebih dekat dengan Belanda meskipun pernah dihina dan diusir halus orang Belanda karena dia bukan kulit putih seperti orang Belanda. Itu dibuktikan dengan kesediaannya menjadi ajudan istimewa ratu Belanda di saat banyak rekan sebangsanya mempertaruhkan nyawa demi mengusir penjajahan Belanda kembali. Maka itu Sultan Hamid II dianggap berseberangan dengan RI. Setelah Belanda angkat kaki, Sultan Hamid II dijadikan Menteri Negara dalam kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS). Dia dikenal sebagai perancang lambang negara RI Garuda Pancasila.
- Sebelum Felix Mendoza Dipancung
DI Maluku, rupanya masih ada yang tersisa dari orang Portugis yang berkuasa. Di Banda Naira, daerah penghasil rempah yang indah, tepatnya. Di sana, tinggallah keluarga Mendoza. Nama Mendoza jelas bukan nama asli Ambon. Ada pengaruh Portugis dan Spanyol dalam nama itu. Orang Ambon dengan nama belakang Mendoza diperkirakan keturunan orang dengan nama belakang Mendoza yang kawin dengan perempuan lokal lalu menamai keturunannya dengan Mendoza. Dulu, armada Portugis mencapai Maluku untuk mencari rempah-rempah. Menurut Paramitha Abdurachman dalam Bunga Angin Portugis di Nusantara , armada Portugis dipimpin Laksamana Andre Furtado de Mendoza. Dia memimpin pasukan dari Malaka yang dalam kurun perniagaan rempah-rempah itu menjadi markas Portugis di Asia. Pada 1600-an, Portugis adalah musuh Belanda. Namun Maluku kemudian jatuh ke tangan Belanda hingga kedatangan tentara Jepang pada awal 1940-an. Salah satu keluarga Mendoza yang di Banda Neira adalah keluarga Rupino Mendoza. Dia punya istri Theodorusz Betsi. Pasangan ini punya anak bernama Felix, yang lahir pada 16 Maret 1909. Ketika dewasa, Felix dengan tinggi 1,67 meter mendaftar menjadi tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL). Stamboek 87397 atas nama dirinya menyebut pada 31 Mei 1928 dirinya masuk dinas sukarela di Depot Artileri Mobil di Cimahi, Jawa Barat. Lalu pada 16 Februari 1929, dia ditempatkan di satuan artileri di Jatinegara untuk belajar menjadi ahli senjata dengan pangkat kanonier (prajurit meriam) kelas satu. Setelah belasan tahun berdinas, pangkatnya terus naik. Pada 1940 pangkatnya sudah mencapai sersan. Ketika kota Ambon diserbu militer Jepang pada Januari-Februari 1942, KNIL di bawah Letnan Kolenel Joseph Kapitz tidak berdaya meski ada bantuan dari tentara Australia. Ambon dengan mudah direbut tentara Jepang. Banyak anggota KNIL pergi atau menyerah dan menjadi tawanan perang. Kapten Jan Kaseger, Letnan Didi Kartasasmita, juga Sersan Gatot Subroto contohnya. Ambon kemudian menjadi bagian daerah kekuasaan Armada Selatan Kedua Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang bermarkas besar di Makassar. Armada Selatan Kedua meliputi Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan sekitarnya. Hubungan antara Jawa dan Indonesia bagian Timur ketika itu terputus. Sersan Mayor Felix Mendoza menyaksikan kekalahan itu. Namun Felix tak tinggal diam. Dia melibatkan diri dalam gerakan bawah tanah melawan tentara Jepang. Para bekas bintara dan tamtama KNIL diorganisir olehnya. Mereka tentu berhati-hati karena kadung dicap sebagai pro-Belanda militer Jepang yang sebetulnya jumlah personilnya terbatas namun sangat awas. Felix dengan kelompok perlawanannya, yang kadang disebut Sapoe Tangan Merah, melakukannya selama berbulan-bulan. Namun, Felix akhirnya tertangkap juga. Menurut stamboek -nya Sersan Mayor Felix Mendoza lalu dieksekusi di Batu Merah, Ambon pada 15 Januari 1943. Umumnya eksekusi ala militer Jepang adalah penggal kepala dengan pedang ala Samurai di hadapan orang banyak. Daerah Batu Merah adalah daerah niaga yang dihuni banyak pendatang dari Sulawesi bagian selatan yang menjadi pedagang di sana. Orang Bugis, Makassar, dan Buton yang telah lama datang ke Ambon tentu disuguhi tontonan eksekusi mati Felix Mendoza ini. Setelah kematiannya, perlawanan Felix diingat pemerintah Belanda. Perlawanan Felix adalah bagian dari perlawanan ( verzet ) Belanda terhadap Jepang di Asia. Maka berdasarkan Koninklijk Besluit nomor 10 tanggal 21 Desember 1949, Felix Mendoza dihormati sebagai tokoh perlawanan Asia Timur oleh Kerajaan Belanda. Dia dianggap mati demi Hindia Belanda yang sebentar lagi bubar itu.
- Teror Granat Mengguncang Ibukota Jakarta
GRANAT dan bom rakitan meledak di kawasan perkantoran di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, pukul 10:40, Kamis, 14 Januari 2016. Lima pelaku teror turut tewas dalam aksinya, setelah sebelumnya menembak secara membabi buta dan akhirnya meledakkan diri.
- Tendangan dari Bauru
DICO atau Edson Arantes do Nascimento, lebih dikenal dengan Pele (diperankan Kevin de Paula Rosa), senewen sampai sakit perut. Ribuan pasang mata ada di tempatnya kini berada. Lensa kamera juruwarta tersebar di berbagai sudut dekatnya. Dia belum percaya beberapa saat ke depan bakal menjadi salah satu perhatian utama ribuan pasang mata tadi. Jutaan rakyat Brazil di negerinya juga bakal memperhatikannya.
- Jejak Ratu Pengembara Gurun
GERTRUDE Bell (Nicole Kidman) senang bukan kepalang. Permintaannya untuk menjelajahi dunia Timur mendapat lampu hijau dari sang ayah, Hugh Bell (David Calder). Bell tak hanya akan terbebas dari “penjara” tatakrama aristokrat yang diterapkan ibunya, tapi juga bisa menyalurkan naluri berpetualang sekaligus hasratnya akan sains.





















