top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Abdul Razak Melawan Jepang di Papua

    DI balik minimnya peran militer Belanda dalam Perang Dunia II di front Pasifik, ada peran orang-orang Indonesia yang berdinas dalam militer Belanda. Terutama di daerah Indonesia Timur. Beberapa misi penyusupan digalang oleh Netherlands East Indies Forces Intelligence Service (NEFIS) di sekitar Papua. Misi di daerah Papua yang diduduki Jepang sangat berat. Penyusup yang tertangkap bisa dihukum mati Jepang. Salah satunya misi Langs sekitar Agustus 1944. “Misi ini dipimpin oleh Komandan Letnan Laut Kelas Tiga Mohammed Abdul Razak, dengan seorang kopral Eropa, dua operator radio Eropa, dan enam tentara orang Indonesia,” tulis Louis de Jong dalam Het Koninkrijk der Nederlanden in de Tweede Wereldoorlog Deel IIC Nederlandsch Indie III.

  • Impor Beras Burma Sebabkan Wabah Pes di Jawa

    PACEKLIK melanda Jawa. Persediaan beras berkurang drastis hingga kekurangan. Pemerintah kolonial Hindia Belanda lantas mengimpor beras dari Burma, India, dan Tiongkok. Per Agustus 1910, peningkatan jumlah impor terjadi hingga bulan berikutnya. Beras impor itu dikirim lewat kapal-kapal dan berlabuh di Surabaya. Dari Surabaya, beras diangkut kereta api ke daerah di selatan Surabaya yang mengalami paceklik. Bersamaan dengan kebijakan impor beras itu, Burma sedang dilanda wabah pes. Namun, para petugas tidak mencurigai banyaknya tikus mati dan kutu-kutu saat muatan sampai di Sidoarjo. “Bisa diperkirakan, perjalanan yang berbulan-bulan itu, tikus ikut di dalam kapal, dia (tikus, red.) mencemari sambil makan berasnya kemudian buang kotoran di situ,” ujar Agus Setiawan, pengampu sejarah kesehatan di UI, kepada Historia.ID.

  • Serdadu Jepang Dimangsa Buaya di Burma

    KEJAHATAN kemanusiaan terhadap etnis Rohingya di Myanmar mengundang simpati dari berbagai pihak. Di Indonesia, elite sampai akar rumput ramai-ramai mengutuk perbuatan keji itu. Di dunia maya, solidaritas begitu tinggi. Unggahan berita terkait Rohingya bertebaran di berbagai laman, disebarkan melalui sosial media hingga grup WhatsApp. Kontan berita itu menyulut emosi para pembaca. Namun, warga net masih banyak yang meyakini dan menyebarkan berita hoax terkait Rohingya. Salah satu yang terkenal yaitu foto seorang pemuda yang tubuhnya terbakar. Berita-berita hoax menyebut pemuda itu Muslim Rohingya yang dibakar hidup-hidup. Padahal, pemuda itu merupakan aktivis Tibet bernama Jamphel Yesh yang membakar diri saat demonstrasi menentang kedatangan Presiden RRC Hu Jintao. Berita dari Burma (kini Myanmar) yang juga disangsikan kebenarannya pernah terjadi di masa lalu dan hingga kini masih dipercaya banyak orang yaitu tentang ratusan serdadu Jepang yang dimangsa buaya muara. Berita itu bermula dari kisah naturalis Bruce Stanley Wright dalam bukunya, Wildlife Sketches: Near and Far.

  • Pangeran Diponegoro Hulunya Gerakan Kemerdekaan

    ANIES Baswedan resmi menjabat gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022. Anies punya perhatian khusus kepada beberapa tokoh sejarah di negeri ini. Alih-alih menyebut “idola” dia lebih senang menyebutnya dengan “orang-orang yang dia perhatikan dengan saksama.” Ada beberapa yang dia perhatikan betul segala tindak-tanduknya sejak kecil. Salah satu tokoh sejarah yang mencuri perhatiannya adalah Pangeran Diponegoro. Pangeran yang bernama asli Mustahar dan sejak kecil menyandang nama Raden Mas Antawirya itu terkenal karena mengobarkan Perang Jawa (1825-1830). Perang lima tahun itu telah menyebabkan Belanda kehabisan akal dan nyaris membuat Belanda jatuh bangkrut. Frustrasi menghadapi gempuran-gempuran Pangeran Diponegoro, Belanda menyusun siasat licik: mengundang Diponegoro untuk berunding. Tanpa curiga Diponegoro datang memenuhi undangan Belanda ke Magelang. Namun Belanda mengkhianati Diponegoro, menangkapnya saat perundingan sedang berjalan. Penangkapan Diponegoro sekaligus menandai berakhirnya Perang Jawa.

  • 4 Januari 1946: Tuntutan Merdeka 100%

    HARI ini, 4 Januari 1946, di kota sejuk Purwokerto, Jawa Tengah, berlangsung pertemuan besar yang dihadiri sekitar 300 orang dari pengurus partai, badan-badan perjuangan, dan perkumpulan pemuda. Wakil-wakil pengurus partai yang hadir dari Partai Boeroeh Indonesia, Masyumi, Partai Sosialis, Partai Komunis Indonesia. Lalu dari perkumpulan lain seperti pucuk pimpinan Serikat Rakyat Indonesia, Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Gerakan Rakyat Indonesia, Persatuan Wanita Republik Indonesia, Partai Revolusioner Indonesia, Pesindo, KRIS, Hizbullah. Dua tokoh utama yang hadir adalah Tan Malaka dan Panglima Besar Jenderal Soedirman. “Tidak ada siaran pers. Semua yang hadir mendapat undangan pribadi atau melalui organisasi yang diwakilinya,” tulis Harry A. Poeze dalam Tan Malaka, Gerakan kiri, dan revolusi Indonesia: Agustus 1945-Maret 1946.

  • Perang Sepakbola dan Kemerdekaan Kroasia

    BEGITU wasit asal Argentina Néstor Pitana membunyikan peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan final Piala Dunia 2018, Luka Modric langsung lunglai. Para pemain Kroasia lain nampak pasrah kala para pemain Prancis berhamburan merayakan kemenangan. Presiden Kroasia Kolinda Grabar-Kitarovic yang hadir dan turut memberikan medali, memeluk satu per satu patriotnya di lapangan hijau seraya menenangkan dan mengapresiasi mereka. Toh, mereka berhak berbangga diri. Bukan perkara receh mereka bisa memijak laga puncak. Pencapaian baru itu patut dipuja dan dicontoh lantaran mereka berhasil melewati pencapaian timnas Kroasia di Piala Dunia 1998 yang –juga terhenti oleh Prancis di semifinal– hanya menjadi juara tiga. Pencapaian di Rusia juga mengagumkan mengingat Kroasia belum lama merdeka. Kroasia merdeka pada 25 Juni 1991 dan berhasil bangkit dari kehancuran pasca-Perang Kemerdekaan melawan Serbia (1991-1995).

  • Kisah Penakluk Angkasa Borneo

    LELAKI itu berperawakan tinggi besar. Rambutnya sudah memutih. Usianya menginjak 82 tahun. Tapi suaranya masih jelas dan ingatannya sempurna. Pramono Adam, Kolonel Penerbang (Purn.), bercerita kepada Historia.ID tentang pengalamannya selama menjadi pilot Angkatan Udara Republik Indonesia di Kalimantan pada masa Dwikora (Dwi Komando Rakyat) 1963—1965. Masa itu Indonesia berkonfrontasi dengan Malaysia. Musababnya Inggris berniat membentuk Federasi Malaya (nama lama Malaysia) di utara Kalimantan tanpa membicarakannya dengan Indonesia. Presiden Sukarno tersinggung, merasa dilangkahi, dan menentang rencana itu. Dia pikir rencana itu juga sebentuk kolonialisme baru. Tidak sesuai dengan semangat zaman. Maka dia berseru, “Ganyang Malaysia!”

  • Saat Proklamasi Berkumandang di Aceh

    MESKI berusaha dibendung pihak militer Jepang, berita Proklamasi lambat laun tetap sampai ke seluruh Indonesia. Termasuk di salah satu provinsi Indonesia paling ujung, Aceh. Namun, karena jarak yang sangat jauh dari Jakarta, masyarakat Aceh baru mendengar berita itu sekira dua pekan sejak dibacakannya teks Proklamasi oleh Sukarno dan Mohammad Hatta pada 17 Agustus 1945. Sebagaimana disarikan dari buku Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh yang dituliskan Muhammad Ibrahim dkk, masyarakat Aceh secara umum baru mendengar berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 29 Agustus 1945. Pun begitu, sedianya para staf kantor berita Hodoka Kutaradja dan surat kabar Atjeh Simbun sudah lebih dulu mendengarnya pada 21 Agustus 1945. Upaya yang terkesan berani juga coba dilakukan tiga pemuda pegawai Kantor Kepolisian Kutaradja (kini Kota Banda Aceh). Mereka nekat mengibarkan bendera merah putih di kantor tersebut pada malam hari, dengan harapan bisa segera dilihat masyarakat keesokan harinya.

  • Kebingungan Rombongan Perwira Angkatan Udara Sepulang dari China

    SAAT menerbangkan pulang helikopter Mi-6 dari Pangkalan Angkatan Udara (PAU) Husein Sastranegara, Bandung ke PAU Atang Senjaya, Bogor pada 2 Oktober 1965, Letda Udara (kini kolonel udara purnawirawan) Pramono Adam mendapati hal janggal. “Di atas, ramai [informasi radio]. Nggak boleh ke sana, nggak boleh ke sini. Nggak boleh ke Halim, Halim udah diduduki oleh Angkatan darat,” ujar Pram menirukan suara radio di cockpit helinya, kepada Historia.ID. Ternyata, larangan di radio yang didengar Pram merupakan aturan yang dikeluarkan komandan-komandan PAU kepada pesawat-pesawat AURI yang sedang mengudara menyusul terjadinya G30S. Larangan itu muncul mengikuti keadaan yang cepat berubah lantaran keadaan darurat.

  • Jalan Terjal Negara Federal

    TAK rela negeri bekas jajahannya lepas, yang tentu bakal merugikan kepentingan Belanda, pemerintah Belanda mengirimkan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Hubertus Johannes van Mook ke Indonesia. Dia dianggap orang yang tepat. Lahir di Indonesia (Semarang), intelektual, dekat dengan sejumlah cendekiawan Indonesia yang relatif progresif. Namun, situasi sudah berubah. Van Mook pun menyiasatinya dengan menawarkan konsep negara federal. Sejak lama, dia mengidamkan Hindia Belanda lepas dan tak diperintah dari Belanda tetapi dari Batavia. Dia juga ingin gubernur jenderal memiliki kekuasaan yang kuat. Kali ini, Van Mook punya pertimbangan lain. Akibat perang, Jawa menjadi miskin sedangkan luar Jawa punya peluang memulihkan ekonomi. Politik kesatuan akan membebani luar Jawa yang harus menanggung pemulihan Jawa, tetapi di sisi lain luar Jawa akan tertulari (nasionalisme) Jawa. Kabinet Republik Indonesia Serikat. (Repro 30 Tahun Indonesia Merdeka 1945-1949). Van Mook memulainya dengan Konferensi Malino, yang membuka jalan bagi munculnya sejumlah negara bagian. Langkah politiknya melalui perundingan dengan Republik Indonesia juga berujung pada pembentukan Republik Indonesia Serikat. Namun, dia harus menelan pil pahit karena berseberangan jalan dengan pemerintahnya dan kelompok federalis yang dia bentuk. Gagasan Van Mook bukan hanya gagal tetapi juga mematikan alternatif dari bentuk negara kesatuan. Setiap kali wacana federalisme muncul, ia langsung tenggelam dengan alasan ia alat devide et impera (politik pecah belah atau adu domba) Belanda. Selain itu, sejarah federalisme di Indonesia selalu dikait-kaitkan dengan kekuasaan kaum feodal. Bagaimana pengalaman masa-masa negara federal dijalankan? Berikut ini laporan khusus jalan terjal negara federal. Langkah Van Mook di Tengah Amok Dalam Bayang-bayang Unitarisme Eksperimen Pertama Negara Federal Presiden Negara Indonesia Timur dari Bali Jalan Hidup Perdana Menteri Negara Indonesia Timur Pulihnya Kekuasaan Melayu Negara Madura Benteng Pengaman Negara Menak Sunda Dilema Menak Sunda Nyanyi Sumbang dari Palembang Pemerintahan Seumur Jagung BFO Kekuatan Ketiga Setelah RIS Habis

  • Bung Hatta dan Refleksi Sebelas Bulan Usia Indonesia

    SEMENTARA kini pemerintah dan rakyat Indonesia merayakan hari ulang tahun (HUT) kemerdekaan RI sekali dalam setahun setiap tanggal 17 Agustus, maka tidak demikian di tahun pertama eksistensi Indonesia. Peringatan HUT kemerdekaan RI dilakukan beberapa kali di masa antara 17 Agustus 1945–17 Agustus 1946 itu, baik di level nasional maupun lokal. Salah satu yang menarik adalah peringatan HUT ke-11 bulan RI pada 17 Juli 1946. Sebelas bulan bukan waktu yang singkat untuk sebuah negara baru yang kelahirannya ditentang bahkan hendak dihentikan oleh bekas penjajahnya dengan berbagai macam cara. Ini adalah momentum krusial sebelum memasuki periode yang penting secara psikologis sebulan berikutnya, yakni peringatan HUT ke-1 RI. Tanggal 17 Juli 1946 itu saat yang penting untuk merenungkan pencapaian yang telah diraih berikut kegagalannya dalam sebelas bulan terakhir, serta memperkuat sentimen kebangsaan dan memompa semangat juang rakyat agar Indonesia sampai pada satu tahun eksistensinya. Yang juga vital adalah menegaskan pada dunia bahwa RI masih ada, kendati Belanda dan Inggris mengklaim punya otoritas di Indonesia. Tepat sekali bila refleksi sebelas bulan eksistensi RI dilakukan oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta. Lahir dari keluarga muslim taat di Minangkabau, menempuh pendidikan di Batavia dan Negeri Belanda, hingga akhirnya ambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan selama dua dekade dengan segala untung perasaiannya, Hatta memiliki visi kebangsaan yang dilandasi kepedulian sosial, ilmu pengetahuan dan semangat kosmopolitanisme. Satu hal lagi yang kentara dari Hatta, ia sangat optimis dengan masa depan Indonesia kendati negara baru itu masih tertatih-tatih bahkan untuk mendapatkan pengakuan dari dunia.

  • Kabar Angin Tan Malaka di Palestina

    SORE 25 Agustus 1945 itu, seorang asisten rumah tangga di kediaman Ahmad Subardjo di Cikini, Jakarta menginformasikan kepada sang tuan bahwa ada seorang tamu. Dari perawakannya, Subardjo sepintas mengira itu bekas kawannya semasa di Perhimpunan Indonesia (PI) di Belanda, Iskaq Tjokroadisoerjo. Tapi ternyata bukan. Yang datang Tan Malaka. “Wah, kau Tan Malaka,” seru Subardjo menyambut sang tamu, sebagaimana dikisahkan Subardjo dalam Kesadaran Nasional: Sebuah Otobiografi. Subardjo tak asing dengan Tan. Ia pertamakali bertemu dan mengenal Tan saat kuliah dan aktif di PI semasa di Belanda. Dalam pertemuan di rumah Subardjo tadi, Tan mengakui dalam otobiografinya, Dari Penjara ke Penjara, Jilid 3: Terbuang di Rumah Sendiri, bahwa Subardjo yang pertamakali menyebut nama aslinya. Sebab, bertahun-tahun Tan memakai banyak nama samaran.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page