top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Peran Australia dalam Perundingan Renville

    BULAN Oktober 1947 menjadi awal pengalaman baru bagi Richard C. Kirby dari Australia, Paul van Zeeland dari Belgia, dan Frank Graham dari Amerika Serikat. Mereka anggota Komisi Tiga Negara (KTN) yang terbentuk atas prakarsa Dewan Keamanan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menyelesaikan konflik bersenjata Indonesia dan Belanda. Ketiganya mengadakan serangkaian pertemuan maraton di berbagai tempat: dari Lake Success (AS), Sydney (Australia), sampai Jakarta (Indonesia). Ketiganya berupaya merumuskan wewenang KTN dan cara-cara paling efektif untuk meredam pertumpahan darah pejuang Republik dengan tentara Belanda.

  • Awal Keterlibatan Australia dalam Sengketa Indonesia-Belanda

    PERDANA Menteri Sutan Sjahrir menggelar pesta kecil di Jakarta untuk perpisahan tentara Sekutu pimpinan Inggris pada akhir November 1946. Tugas mereka selesai dan akan meninggalkan Indonesia per 30 November 1946.

  • Sikap Australia Terhadap Kemerdekaan Indonesia

    TAHUN 2020 hubungan diplomatik resmi Indonesia-Australia menapaki usia ke-70. Sepanjang itu, hubungan keduanya mengalami pasang surut. Keduanya pernah bersitegang ketika menyikapi masalah Hak Asasi Manusia, Timor Leste, perbatasan, dan terorisme. Tapi tak jarang juga keduanya menikmati masa “bulan madu”.

  • Nasib Mujur Jenderal Moersjid

    PADA 1 Oktober 1965 keributan terjadi di tubuh TNI Angkatan Darat. Pucuk pimpinan Menteri/Panglima AD (Menpangad) Letjen TNI Ahmad Yani dikabarkan hilang, tak diketahui rimbanya. Pada saat bersamaan, melalui siaran RRI pagi, masyarakat mendengar adanya kudeta Dewan Jenderal dari kelompok yang menamakan diri sebagai Dewan Revolusi. Bak petir di siang bolong, berita itu membuat orang-orang kelimpungan. Kabar tentang pengamanan perwira tinggi oleh Dewan Revolusi membuat Mayor Jenderal Moersjid kaget bukan main. Sebagai Deputi I Menpangad di dalam urusan operasi, yang secara struktural merupakan orang kedua setelah Yani di jajaran TNI AD, Moersjid seyogyanya ikut diamankan bersama perwira tinggi lainnya. Tetapi sebuah peristiwa berhasil menyelamatkan nyawanya. Dia pun lolos dari daftar korban tewas malam itu. Dituturkan putra ketiga Moersjid, Siddharta Moersjid, dalam diskusi daring “Ada Apa dengan 1 Oktober 1965: Kisah Mengenai Dedikasi, Integrasi, dan Pengorbanan Demi Membangun Harapan untuk Indonesia”, diselenggarakan FTHR, Sabtu (30/10/2020), pada malam 1 Oktober sekira pukul 02.00 dini hari, sekelompok tentara berhenti di kompleks perumahan tempat kediaman Moersjid dan keluarganya.

  • Peringatan Hari Buruh di Indonesia

    Peringatan Hari Buruh sudah diperingati di Hindia Belanda pada 1918. Setelah kemerdekaan, kaum buruh Indonesia merayakan hari buruh pertama kali pada 1 Mei 1946.

  • Temuan Baru di Situs Muarajambi

    Hasil Light detection and ranging  (LIDAR) menunjukkan adanya dugaan baru bahwa Kompleks Percandian Muarajambi, di Muaro Jambi, Jambi, lebih luas daripada yang diketahui sebelumnya. Pemindaian menggunakan teknologi sinar laser ini menampilkan banyak gejala temuan arkeologi baru di situs Buddhis itu. Dalam dialog sejarah “Menemukan Kembali Peradaban yang Hilang” yang disiarkan live  di kanal Youtube dan Facebook   Historia.id , Selasa (27/10/ 2020), arkeolog Junus Satrio Atmodjo mengungkapkan bahwa awalnya situs Muarajambi diperkirakan memanjang di tepi Sungai Batanghari sejauh 7,5 km. Namun, berkat pemindaian LIDAR diduga situs itu panjangnya mencapai sekira 9 km. “Ini terobosan luar biasa,” kata Junus yang pernah memimpin Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi pada 1990-1997. Junus mengatakan, sudah menjadi pertanyaan sejak lama soal berapa banyak bangunan kuno yang mungkin ada di Kompleks Percandian Muarajambi. Masih sukar pula menjawab apakah kompleks ini bisa disebut sebagai pusat pemerintahan di Sumatra. “Pertanyaan sejak dulu ini. Permasalahnnya selalu sama, kami selalu ketemu pohon-pohon besar,” ujar Junus yang juga menjabat sebagai Tenaga Ahli Cagar Budaya Nasional (TACB). Proyek LIDAR yang dilakukan tahun lalu berkat inisiasi Djarum Foundation bekerja sama dengan Historia.id , berhasil mengungkap kemungkinan letak sebaran bangunan kuno di wilayah Percandian Muarajambi dengan lebih akurat. Vegetasi pepohonan yang selama ini menjadi halangan penelitian bisa dihilangkan secara digital oleh teknologi ini. “Kalau dilihat ada pola-pola teratur yang dulu kita tidak bisa lihat. Ini suatu teknologi revolusioner,” kata Junus. “Untuk arkeolog ini jackpot , yang kita bayangkan selama ini akhirnya bisa terwujud.” Menurut Junus, tahap selanjutnya adalah menguji coba kemungkinan temuan baru di beberapa kompleks candi di kawasan Muarajambi berdasarkan hasil LIDAR. Empat di antaranya adalah di Kompleks Candi Gumpung, Tinggi, Kedaton, dan Kotomahligai. “Jadi di empat candi ini yang menurut saya kalaupun ingin menguji coba gagasan kita tentang pola permukiman Muarjambi,” kata Junus. Junus pun bilang, ternyata dari hasil LIDAR, struktur kuno yang ada di Muarajambi bukan hanya berupa kanal, candi, atau menapo yakni gundukan tanah berisi bata kuno. Dari hasil LIDAR diketahui kalau ada gundukan tanah yang ditata dengan baik dan garis-garis yang harus dijelaskan dan diidentifikasi lebih jauh lagi. “Ini pekerjaan besar sekali!” kata Junus. G.H. Anto, praktisi LIDAR dan foto udara yang tergabung dalam proyek ini, menjelaskan bahwa teknologi LIDAR dipilih karena mampu menghasilkan data paling cepat. Pemindaian ini bahkan mampu mengukur ketinggian suatu objek dengan sangat akurat. Anto menceritakan bahwa pemetaan LIDAR akhir tahun lalu dilakukan pada wilayah seluas 7.200 ha yang mencakup situs Muarajambi dan sekitarnya. “Terbang sekitar lima jam tergantung cuaca. Ini sangat cepat. Sejam bisa memetakan sekitar 2.000 ha,” kata Anto. Dalam sepekan, data digital sudah bisa dikumpulkan. Sebulan kemudian data ini selesai diproses menjadi data yang lebih mudah diinterpretasi para arkeolog. “Saya kira ini pertama kali untuk arkeologi di Indonesia. Karena pendanaan LIDAR di arkeologi dulu belum ada,” ujar Anto. Namun, data digital ini masih harus diterusan dengan penelitian ke lapangan. Ini untuk membuktikan apakah ketampakan dalam hasil LIDAR memang bangunan kuno yang perlu diteliti lebih lanjut. “Semoga dari sini ada interpretasi yang lebih detail lagi. Jika diperlukan kami akan melakukan transfer teknologi untuk proses interpretasi. Kita memang harus kolaborasi,” kata Anto. Jemmy Chayadi, Direktur Strategi dan Pembangunan Berkelanjutan Djarum Foundation, berharap proyek LIDAR ini akan menjadi dasar dalam penemuan arkeologi masa depan. Pihaknya menilai teknologi ini bisa sangat membantu dalam penelitian arkeologi. Misalnya, mengungkap skala besarnya situs maupun kepadatan penduduk. “Jadi sudah tidak lagi bertumpu pada cara lama, membabat hutan dan lainnya,” kata Jemmy. Menurut Jemmy, terobosan ini bisa menjadi contoh bagaimana perusahaan swasta bisa secara aktif mendukung pelestarian budaya dan sejarah di Indonesia. “Perusahaan besar, juga yang ada di daerah perkebunan misalnya, bisa melihat ada simbiosis, sinergi, dan benefit misalnya daerah wisata baru, jadi bisa tertarik dan membantu mendukung usaha pelestarian ini,” kata Jemmy. Penemuan ini, kata Jemmy, diharapkan bisa membangun rasa bangga terhadap indentitas kebangsaan di kalangan generasi muda. “Penemuan bisa jadi berita besar, melekat dan diingat, dan bagian dari identitas,” kata Jemmy. Jemmy sadar pihaknya tak bisa bekerja sendiri. Dalam proyek ini Djarum pun membangun kolaborasi dengan pemerintah pusat dan daerah. Temuan ini pun diharapkan bukan menjadi akhir dari penelitian Muarajambi. Melainkan rintisan penelitian arkeologi di masa mendatang.

  • Cerita Lama Pawang Hujan

    Balapan MotoGP di Sirkuit Mandalika di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada 20 Maret 2022, ditunda karena hujan deras. Pawang hujan perempuan, Rara Istiati Wulandari, masuk paddock  menunjukkan kemampuannya menghalau hujan. Hujan akhirnya reda, balapan pun bisa dimulai. Hasilnya, Miguel Oliveira keluar sebagai juara. Balapan telah selesai, namun pawang hujan jadi perdebatan warganet. Ada yang menganggap pawang hujan sebagai syirik dan memalukan, sedangkan yang membela menyebutnya sebagai budaya dan kearifan lokal. Menurut KBBI  ( Kamus Besar Bahasa Indonesia ), “pawang” adalah “orang yang memiliki keahlian istimewa yang berkaitan dengan ilmu gaib, seperti dukun, mualim perahu, pemburu buaya, penjinak ular”. Sedangkan “pawang hujan” adalah “orang yang pandai menolak hujan”. Pawang hujan merupakan keahlian lama yang bertahan hingga sekarang karena masih banyak orang yang meminta bantuannya untuk menyukseskan berbagai acara, mulai dari acara hajatan hingga ajang berskala internasional. Bukan hanya sekarang di ajang MotoGP, dulu penyelenggara acara pertandingan Muhammad Ali lawan Rudi Lubbers di Gelora Bung Karno pada 20 Oktober 1973 juga menggunakan pawang hujan. Baca juga:  Tinju Kiri Ali di Jakarta Lalu Katar Karena MotoGP diselenggarakan di NTB, ternyata di sana pernah ada pawang hujan terkenal, yaitu Lalu Katar. Pensiunan pegawai kehutanan ini memulai profesi sebagai pawang hujan pada 1969. Kanti W. Walujo dalam Dunia Wayang: Nilai Estetis, Sakralitas, dan Ajaran Hidup menyebutkan bahwa kisah Lalu Katar menjadi pawang hujan terkenal dimulai di Karang Sukun, Mataram, pada 1976. Pada waktu itu, dalang Lalu Nasib sedang mempergelarkan wayang Sasak. Tiba-tiba hujan turun dengan lebat sampai air masuk ke panggung. Banyak pawang hujan yang dikerahkan, namun tidak berhasil. Lalu Satria Utaman, SH. kemudian menyuruhnya menjadi pawang. Setelah membuat api bakar, dia menghadap ke awan sambil mengisap rokok dan mengucapkan doa-doa yang diambil dari ayat-ayat suci al-Qur’an. Dia berhasil menghentikan hujan. Lalu Katar pun menjadi pawang hujan terkenal. “Kalau ada acara-acara penting di NTB yang dihadiri Bapak Presiden [Soeharto], dia selalu dipanggil,” tulis Kanti. Dia mendapat imbalan Rp200.000 untuk acara-acara resmi yang diselenggarakan instansi pemerintahan. Sedangkan kalau dimintai tolong oleh tetangga yang punya hajat, dia hanya menerima Rp10.000 sampai Rp15.000. Lalu Katar mengatakan, tugas menjadi pawang hujan cukup berat karena harus mampu memindahkan awan hitam yang mengandung air hujan untuk dijatuhkan ke laut. Apalagi kalau ada lawan yang sengaja ingin menggagalkannya. Baca juga:  Roh Gunung dan Wabah Penyakit di Lombok “Selama jadi pawang hujan, dia pernah mengalami kegagalan ketika dirusak oleh pawang hujan lainnya sekitar sembilan tahun yang lalu (tahun 1990-an, red .) di Lembar, Lombok. Sejak saat itu kalau sedang bertugas sebagai pawang hujan, dia selalu sembunyi,” tulis Kanti. Lalu Katar punya pantangan pada saat sedang mengendalikan hujan yaitu tidak boleh mencuci pakaiannya sendiri. Selain itu, dia harus menghindari perbuatan “ma-lima” (main, madon, maling, madat, dan mabuk). “Kira-kira 10 tahun yang lalu dia main-main dengan gadis-gadis yang sedang berjualan, padahal dia sedang bertugas. Apa yang terjadi? tiba-tiba datanglah hujan. Sejak itu, dia harus ingat dengan pantangan tersebut, dan harus jauh dari keramaian orang-orang,” tulis Kanti. Kanti menyebut bahwa Lalu Katar ketika mengendalikan hujan memanjatkan doa-doa yang diambil dari ayat-ayat suci al-Qur’an. Doa yang dibaca ada yang berbahasa Jawa, bahasa Kawi, dan bahasa Arab. Ini sepertinya menunjukkan bahwa pawang hujan melakukan sinkretisme. Contoh dari pawang hujan ini adalah Mbah Soeroto. Mbah Soeroto Soeroto bin Cermo lahir sekitar tahun 1925. Dia adalah pelopor Islam di kampungnya di Desa Manggis, Tulis, Batang, Jawa Tengah. Dia bukan kiai atau ustaz lulusan pesantren atau madrasah yang mahir berbahasa Arab dan fasih membaca kitab kuning. Dia hanya seorang petani penggarap biasa yang miskin yang mengaji kepada seseorang di desa tetangga. Setelah itu, dia menyebarluaskan ilmunya di kampungnya. Pelafalan Bahasa Arab Mbah Soeroto jauh dari fasih. Bacaan Al-Qur’annya juga tidak menggunakan ilmu Tajwid. Tetapi karena tidak ada orang yang bisa mengaji di kampungnya, akhirnya dialah yang diangkat oleh kepala desa sebagai modin yang mengurusi masalah keagamaan di kampung.      “Walaupun ayah belajar ngaji  dan ilmu-ilmu keislaman tetapi dia tidak melupakan ajaran-ajaran Jawa yang diwariskan para leluhurnya. Jelasnya, ayah saya, yang biasa dipanggil Mbah Roto atau Mbah Dongkol adalah seorang muslim kejawen tulen,” tulis Sumanto Al-Qurtuby dalam Indahnya Keragaman: Catatan dari Saudi sampai Amerika. Baca juga:  Asal Usul Kaum Abangan Mbah Soeroto tidak hanya rajin salat, puasa Senin-Kamis, puasa Ramadan, puasa Suro (puasa pada bulan Muharam), zakat fitrah dan ajaran-ajaran Islam lain selain haji karena belum mampu, dia juga mengamalkan nilai-nilai dan falsafah kejawaan dan spiritualitas Jawa. Merawat makam para leluhur, memasang sesaji di sawah, memimpin doa slameten adalah bagian dari kegiatan hidupnya. Sebagai orang yang dituakan di kampung, Mbah Soeroto juga sering diminta tolong oleh warga untuk mendoakan orang sakit, memberi nama bayi, bahkan menjadi pawang hujan saat orang kampung mengadakan hajatan. Tujuannya agar tidak turun hujan. Kalau cuaca terang, banyak tamu akan datang. Semakin banyak tamu yang datang berarti semakin banyak rezeki karena mereka pasti akan menyumbang. Saat bertugas sebagai pawang hujan, Mbah Soeroto hanya makan nasi putih tanpa minum air. Karena kalau minum air, hujan bisa turun. “Menurutnya, tugas pawang hujan sebetulnya bukan untuk menghentikan hujan melainkan hanya memindahkannya agar turun di tempat lain,” kata Sumanto yang kini mengajar di King Fahd University of Petroleum & Minerals. Baca juga:  Sebut Kafir, Kiai Diadili Bila Lalu Katar dan Mbah Soeroto tidak bisa diterima bahkan mungkin dianggap syirik karena mengandung unsur sinkretis, maka mintalah bantuan kiai. Menurut Samsul Munir Amin dalam Karomah Para Kiai , kejadian bisa mendatangkan hujan dan menghentikan hujan bukanlah hanya pekerjaan pawang hujan. Para kiai yang telah memiliki karomah bisa melakukan itu, sekalipun tidak ditunjukkan secara obral. Jika kita pernah mendengar bahwa Kiai Mahrus Ali Lirboyo bisa menghentikan hujan, maka Kiai As’ad, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Asembagus Situbondo, malah sebaliknya bisa mendatangkan hujan. Kejadiannya ketika Presiden Soeharto akan datang ke pesantren untuk menghadiri Muktamar Nahdlatul Ulama ke-27 pada Desember 1984. “Tentu saja, kejadian ganjil tersebut bukan semata-mata dilakukan oleh yang bersangkutan, akan tetapi atas kehendak dan izin Allah karena doa sang kiai yang maqbul (terkabul),” tulis Samsul.

  • Garis Start Valentino Rossi

    New Normal dengan beragam protokol kesehatan tak benar-benar efektif menangkal penyebaran virus Covid-19 (virus corona). Setelah megabintang Juventus asal Portugal Cristiano Ronaldo positif Covid-19, kini giliran pembalap MotoGP legendaris Valentino Rossi yang terjangkit. “Sayangnya, pagi ini saya bangun dengan keadaan yang tidak baik. Tulang-tulang saya terasa nyeri dan saya mengalami demam, jadi segera memanggil dokter yang kemudian melakukan dua kali tes pada saya,” ungkap Rossi di akun Twitter -nya, @ValeYellow46 , Kamis (15/10/2020). “Hasil tes cepat PCR-nya negatif, seperti halnya hasil tes pada Selasa. Tetapi pada tes kedua sore ini, sayangnya (hasilnya) positif. Saya kecewa harus melewatkan balapan di Aragon. Saya sedih dan marah karena saya berusaha keras mematuhi protokol (kesehatan). Saya tak bisa melakukan apapun untuk mengubah situasinya. Saya akan mulai mengikuti anjuran medis dan saya berharap bisa segera pulih,” sambung pembalap gaek tim Monster Energy Yamaha itu. Baca juga: Cristiano Ronaldo, Lebah Kecil dari Madeira Sebelum dikabarkan positif, Rossi musim ini sempat menjalani GP Prancis di Sirkuit Le Mans, 11 Oktober lalu. Hasilnya getir, dia gagal finis untuk kali ketiga berturut-turut. Posisinya di klasemen pun memprihatinkan: urutan ke-13. Kondisi buruk kesehatan dan prestasi itu bisa jadi bakal mengubur ambisi Rossi untuk mengukir catatan manis sebelum mengakhiri karier MotoGP-nya yang telah diikutinya sejak 24 tahun lalu. Akankah keadaan getir dan prestasi buruk di arena balap tersebut menjadi antiklimaks buat pembalap yang punya sembilan gelar juara dunia itu? Di Le Mans untuk ketiga kalinya VR46 jatuh dan gagal finis. ( motogp.com ). Ayah Sang Inspirator Kecintaan Rossi pada balap motor menurun dari ayahnya, Graziano Rossi, yang merupakan pembalap motor. Menilik silsilah Graziano, ia lahir di Pesaro pada 14 Maret 1954 di keluarga sederhana. Diuraikan Stuart Barker dalam Valentino Rossi: The Definitive Biography , ayah Graziano, Dario Rossi, merupakan pengrajin mebel. Sementara ibunya, Denise Pierantoni, ibu rumah tangga. Dari garis ibu, ibunda Rossi Stefania Palma merupakan anak seorang sopir truk. Sedangak a n ibunya perawat. “Keluarga Palma tinggal dekat dengan keluarga Rossi dan Graziano serta Stefania tumbuh bersama, menjadi kekasih di masa muda dan akhirnya menikah pada Oktober 1978,” tulis Barker. Baca juga: Konflik Valentino Rossi, Dulu dan Kini Valentino Rossi (tengah) saat masih balita di tengah-tengah kedua orangtuanya: Stefania dan Graziano. (Repro Life of a Legend ). Pada 16 Februari 1979, Stefania melahirkan Valentino Rossi di Urbino. Sebagaimana  diterangkan sang pembalap dalam otobiografinya, What If I Had Never Tried It, nama “Valentino” dipilih Graziano bukan semata karena Rossi lahir di bulan Februari atau bulan valentin, tapi dipilih untuk menghormati nama sahabatnya yang merakit motor pertama Graziano kala meniti karier di motocross pada 1971.  “Ayah saya menamai begitu karena dia ingin menghormati salah satu sahabatnya yang pada usia 18 tahun meninggal karena tenggelam di laut dekat daerah Pesaro (Laut Adriatik, red. ),” tutur Valentino. Baca juga: Kisah Pembalap yang Muda Melegenda, Tua di Panti Wreda Saat Rossi lahir, Graziano sedang berada di akhir paruh pertama kariernya di MotoGP. Graziano sudah mengikuti ajang itu sejak 1977, di kelas 500cc bersama tim Suzuki. Namun, karier Graziano tak pernah mulus. Ia sering kecelakaan dan mulai direpotkan cedera, hingga akhirnya gantung helm di akhir musim 1982. Alhasil sampai kariernya berakhir, Graziano selalu pupus mewujudkan ambisinya mengoleksi gelar juara dunia. Graziano Rossi, ayah Valentino yang mengaspal di MotoGP era 1970-an. ( motogp.com ). Graziano sempat turun kelas pada 1979. Hasil terbaiknya di akhir klasemen hanya menjadi juara tiga bersama tim Morbidelli. Sementara di kelas 500cc, ia lebih sering “diasapi” pembalap-pembalap lain, termasuk oleh bintang MotoGP asal Italia Giacomo Agostini. Hasil terbaiknya saat naik lagi ke kelas 500cc hanya juara lima di akhir musim 1980. Graziano akhirnya terpaksa pensiun karena mengalami kecelakaan lebih parah di Sirkuit Imola pada akhir 1982. Kecelakaan terjadi saat dia memacu motornya dengan kecepatan 150 mil per jam di tikungan “Villeneuve”, membuatnya nyaris kehilangan nyawa di usia 28 tahun. “Saya sempat koma selama setengah hari tetapi Dokter Costa menciptakan salah satu mukjizatnya dan menyelamatkan nyawa saya. Sejak saat itu saya tahu bahwa saya harus berhenti (balapan),” kenang Graziano, dikutip Barker. Meneruskan Ambisi Sang Ayah Lahir dari ayah pembalap membuat Rossi sudah bersentuhan dengan dunia balap sejak dini. Saat anak-anak lain di usia lima tahun bermain bola atau beragam mainan anak lain, Rossi cilik justru gemar menyusun batang-batang korek api menjadi trek balapan dan kotak korek apinya ia mainkan sebagai mobil balapnya. Wahana roda dua pertamanya tentu saja sepeda. Tapi baru tiga hari dibelikan sepeda dengan sepasang roda tambahan, Rossi sudah berani melepasnya. Adrenalin balapnya mulai dipupuk setelah dibelikan gokar dan motocross mini seiring bertumbuhnya usia. Baca juga: Balapan Mengusung Ulah Adigung “Itulah pengalaman masa kecil saya. Saat saya masih jadi anak yang manis dan penurut. Lalu saya berubah menjadi liar saat mulai kenal mesin beroda dua,” sambung Rossi dalam otobiografinya. Sang ibu, Stefania, padahal berharap Rossi tak mengikuti jejak ayahnya. “Di masa kecil Valentino dibesarkan dengan dua karakter orangtuanya, ibarat elemen ‘yin’ dari Stefania dan elemen ‘yang’ dari Graziano. Sementara sang anak seorang yang eksentrik, sang ibu lebih rasional dan ‘normal’. Ia seorang surveyor di Dewan (kota) Tavullia yang berharap putranya tumbuh menjadi insinyur atau arsitek, dua profesi yang paling terhormat di Italia saat itu,” tulis Barker. Sejak kecil Valentino Rossi sering main di paddock ayahnya. (Repro Life of a Legend ). Semasa ayahnya masih balapan, Rossi bahkan sudah dikenal di antara rekan-rekan pembalap se-era ayahnya. Graziano sering mengajak Rossi ke paddock , sesering itu pula Rossi bermain dengan sepeda atau skuternya ke paddock-paddock tim lain. “Saya ingat dia ketika masih sangat kecil, menunggangi skuter atau sepeda di jalur orang-orang di paddock . Tapi itu kelakuan bocah yang sama seperti anak-anaknya Kenny Roberts Sr. dan anak-anak pembalap lainnya di paddock ,” kenang Steve Parrish, pembalap MotoGP era 1970-an, dikutip Barker. Sebelum menginjak usia remaja, Rossi sempat diarahkan ibunya untuk balapan di arena gokar. Bagi ibunya, gokar sedikit lebih aman ketimbang motor. Namun Rossi tetap memilih roda dua meski punya prestasi lumayan di balap gokar. Baca juga: Pembalap Pengibar Merah Putih di Makau “Karier balapan Valentino Rossi dimulai di (balapan) gokar pada 1989 dan dia langsung jadi pembalap yang kompetitif. Pada April setahun kemudian sudah memenangi balapan pertamanya dan di akhir 1990, dia sudah memenangi kejuaraan regional dengan total kemenangan di sembilan race . Dia punya bakat alami di roda empat, namun di masa itu ketertarikannya teralihkan dengan kehebohan terbaru di Italia: balapan minomoto,” tambah Barker. Namun sebelum Rossi beralih ke roda dua, keluarganya diterpa prahara. Ia tetiba jadi anak broken home kala usianya baru menginjak 11 tahun karena ayah dan ibunya bercerai. “Saya pikir, dia (Graziano) menikahi saya hanya karena sedang bingung. Kami bertemu di usia yang sangat muda. Saya rasa, itulah alasannya mengapa hubungan kami tak berhasil,” kata Stefania kepada Mat Oxley yang menuangkannya dalam biografi berjudul Valentino Rossi: Portrait of a Motogenius . Valentino Rossi di arena gokar. (Repro Life of a Legend ). Selepas perceraian itu, Rossi tinggal bersama Stefania di Desa Montecchio. Meski begitu, Stefania tak pernah membatasi mantan suaminya untuk bertemu Rossi. Setelah bercerai, Graziano tinggal tak jauh dari rumah Stefania, sekira empat setengah mil dari kota Tavullia. Walau Rossi tinggal dengan ibunya, di rumah Grazianolah Rossi punya semua mainannya seperti gokar dan motocross mini. “Menurut Graziano, Rossi muda anak yang manis dan cerdas. Juga anak yang selalu penasaran dan ingin tahu. Ia juga kemudian mulai berteman baik dengan Alessio ‘Uccio’ Salucci yang kemudian akan selalu jadi tangan kanan Rossi di setiap Grand Prix sejak 1996,” tambah Barker. Baca juga: Stirling Moss, Raja Balap tanpa Mahkota Pada 1991, Rossi naik ke kejuaraan nasional junior gokar dan di akhir musim finis di urutan kelima. Di tahun itu pula dia memenangkan balapan minimoto dan insyaf bahwa roda dua lebih menyenangkan ketimbang roda empat. Balapan motor pertama Rossi terjadi di dekat Miramere di Rimini tahun itu. Tidak ada satupun yang bisa mendekati Rossi saat balapan di malam itu. Rossi mulai menjajal motor besar di ajang roadbike Italian Sport Production Championship pada 1993. Ia menunggangi motor Cagiva Mito 125cc di tim Cagiva Sport Production Team berkat bantuan ayahnya dan Virginio Ferrari yang berhasil melobi pemilik Cagiva, Claudio Castiglioni, sehingga Rossi dimasukkan ke tim pimpinan Claudio Lusuardi yang berbasis di Magione itu. Sang ayah, Graziano selalu mengiringi ke mana Valentino melangkah di lintasan. ( motogp.com /Repro Life of a Legend ). Nahas, dalam penjajakan dengan motor yang besar itu sebelum dimulainya musim 1993, Rossi malah terjatuh. Pun dengan percobaan kedua, saat baru enam lap, dia jatuh lagi. Seiring dengan kekhawatiran sang ayah keselamatan putranya, seisi tim mulai meragukan pembalap bau kencur itu. “Tim mulai meragukan kemampuan saya. Sungguh awal yang payah. Saya sadari, saya terlalu memaksakan motor di luar kewajaran dan terburu-buru,” kenang Rossi. Namun saat musim 1993 bergulir, pencapaian Rossi terbilang lumayan. Setahun berselang, ia dikontrak Cagiva sebagai pembalap resmi. Ayahnya pun mulai membantu menyusun program demi modal menyongsong karier secara profesional. Baca juga: Jagoan Dua Lintasan Balap Sementara, menanjaknya karier balap Rossi berbanding terbalik dengan pendidikannya. Rossi bukan anak yang betah berlama-lama duduk di bangku sekolah. Ia membenci pelajaran sejarah seni. Para gurunya pun sering protes lantaran Rossi acap absen kala jadwal balapan berlangsung. Rossi akhirnya tiba pada keputusan untuk berhenti dari SMA Liceo Mamiani di Pesaro pada usia 16 tahun. Ia mantap memilih jalan ke masa depannya lewat arena balap. Pada 1995, dia mulai mentas di ajang Eropa. “Saya bukan murid terbaik di sekolah. Dan jelas saya bukan yang terbaik pula dalam hal memperhatikan pelajaran di kelas. Saya benar-benar tak tertarik,” tutur Rossi dikutip Barker. Valentino Rossi di kelas 125cc musim 1997 bersama tim Aprilia. ( motogp.com ). Selepas juara dengan tim Cagiva, Rossi ganti motor ke motor purwarupa Sandroni 125 bermesin Rotax-Aprilia untuk kejuaraan Eropa. Motor itu dibangun Guido Mancini, mantan rekan setim ayahnya. Pada musim gugur di tahun yang sama, Rossi direkrut tim Aprilia. Lagi-lagi, ada tangan ayahnya di balik kontrak itu. “Pada 1995 Graziano sering menghubungi saya. Waktu itu saya memimpin program balapan tim pabrikan Aprilia, termasuk yang bertanggungjawab atas perekrutan pembalap. Sedikitnya Graziano 25 kali menelepon saya, selalu mendesak untuk datang dan melihat putranya balapan. Sejujurnya saya sangat terkesan dengan dia (Valentino),” ungkap Pernat dikutip Barker. Baca juga: Enam Nomor yang Dipensiunkan di Lintasan Pernat kagum pada gaya membalap Rossi yang kaya manuver. “Saya segera berpikir, entah dia gila atau memang seorang juara. Karena dia sering melakukan manuver aneh di sepanjang trek dan cara dia menikung dan bergerak, mengingatkan saya pada Kevin Schwantz. Vale sangat mirip dengan Schwantz –keduanya menunggangi motor seolah-olah seperti naik sepeda, meluncur dan bersenang-senang,” sambungnya. Rossi pun bermotor Aprilia saat mengikuti GP 125cc musim 1996. Dalam kontrak tahun pertamanya, Rossi diupah 60 juta lira. Kolase kebintangan VR46 semasa menggeber di kelas MotoGP di tim Honda, Ducati, dan Yamaha (Foto: motogp.com ) Bayaran itu membuat keputusan Pernat dipertanyakan oleh petinggi lain di timnya: mengapa memberi kontrak setinggi itu untuk seorang debutan. Ivano Beggio dan Jan Vitteven dua dari beberapa petinggi tim meragukan rekrutan baru itu bakal jadi pembalap juara. “Beggio mempertanyakan nilai kontrak itu. Saya yakin karena pernah menemukan seorang Max Biaggi dan Alessandro Gramigni yang sering menang balapan. Dia pun menyerahkan tanggungjawab (Valentino) ini kepada saya. Saya pikir Valentino berutang banyak pada ayahnya yang selalu membantunya di awal karier,” tandasnya. Baca juga: Gas Pol Balapan di Tengah Pandemi Virus Kepercayaan Pernat pada Rossi pada akhirnya dibayar lunas Rossi di musim keduanya, 1997. Rossi menyabet gelar juara dunia MotoGP kelas 125cc. Itu jadi titik pijak Rossi buat terus menanjak dan dikenal luas di pentas MotoGP hingga kini sekaligus menebus ambisi ayahnya. Sejak debutnya pada 1996 itu pula Rossi tak pernah mengganti nomornya: 46. Nomor itu yang dipakai pembalap Jepang yang dikaguminya serta nomor yang dipakai ayahnya saat juara tiga di kelas 250cc musim 1979, tahun di mana Rossi lahir ke dunia.

  • Siklus Valentino Rossi

    TIADA yang menyangkal bahwa nama Valentino Rossi sudah bertengger di jajaran legenda MotoGP. Mantan rekannya di tim Yamaha, Jorge Lorenzo, pun mengakuinya. Meski pernah terlibat friksi dengan Rossi, Lorenzo tetap menaruh hormat pada pemilik tujuh gelar juara dunia MotoGP itu. Lorenzo, peraih tiga kali gelar dunia MotoGP, pernah bermitra dengan Rossi di tim pabrikan Yamaha selama delapan musim (2008-2010 dan 2013-2016). Pada 2011 dan 2012, Rossi hengkang ke Ducati dan balik lagi ke tim berlogo garpu tala itu pada 2013. Namun seiring senjakala kariernya hingga tahun ini,  The Doctor  (julukan Rossi) mulai kesulitan bersaing dengan para pembalap muda. Alhasil menjelang MotoGP musim 2021 yang akan dibuka di Grand Prix Qatar, 28 Maret mendatang, Rossi terdepak dari tim pabrikan utama Monster Energy Yamaha ke tim satelit Petronas Yamaha SRT. Keputusan manajemen Yamaha sempat membuat Lorenzo terkejut. Terlebih sejak awal musim 2020 Rossi sudah menolak tawaran kontrak baru karena ingin lebih dulu mengevaluasi diri hingga musim 2020 berakhir. “Saya terkejut dengan keputusan Yamaha untuk menyisihkan Rossi ke tim satelit seperti Petronas SRT, saya tak pernah menduganya. Namun di saat yang sama saya rasa, takkan ada perubahan baginya. Dia (Rossi) akan tetap tampil hebat,” tutur Lorenzo, dikutip Autosport , Kamis (28/1/2021). Jorge Lorenzo Guerrero (kanan) saat masih jadi rekan setim Valentino Rossi ( motogp.com ) Yamaha yang tak sabaran dan butuh kepastian, akhirnya memutuskan untuk merekrut pembalap anyar asal Prancis, Fabio Quartararo, untuk mendampingi Maverick Viñales. Keputusan itu diambil lantaran Quartararo sudah dilirik tim Ducati. Yamaha harus mencuri start untuk mendapatkan pembalap muda itu. “Saat saya mulai balapan dengan mereka (Yamaha) pada 2008, mereka harus sudah punya rencana B seandainya Valentino pergi dan mereka harus memilih pembalap muda seperti saya. Masa depan memang milik para pembalap muda dan memilih Quartararo adalah keputusan yang logis,” lanjutnya. Rossi yang berusia 41 tahun akan menjadi pembalap tertua di musim 2021 nanti. Usia rata-rata pembalap lain 24-28 tahun. Bisa jadi musim 2021 akan jadi yang terakhir bagi Rossi. Terlebih kontraknya bersama tim satelit Yamaha yang diteken pada September 2020 hanya berdurasi satu musim. “Sudah cukup lama sejak Valentino berada di tim satelit dan kami akan mengusahakan yang terbaik untuk membantunya merasa seperti pembalap baru lagi. Kami ingin memastikan dia nyaman di tim kami. Target kami tentu meningkat dengan bantuan Rossi demi mendapatkan hasil terbaik dan membuat musim 2021 jadi musim yang berkesan,” ungkap Direktur Tim Petronas Yamaha SRT Johan Stigefelt di laman resmi MotoGP , Rabu (27/1/2021). Berawal dan Berakhir di Tim Satelit? Ini kali pertama Rossi menunggangi motor tim “kasta kedua” sejak debutnya 21 tahun lampau di tim satelit Nastro Azzurro Honda. Kala itu, Rossi baru naik kelas MotoGP dari kelas 250cc ke kelas 500cc. Dengan kepercayaan diri tinggi, Rossi menyongsong era emas kariernya di pentas teratas MotoGP setelah juara di kelas 125cc (musim 1997) dan kelas 250cc (1999). Keduanya ia raih dengan menunggangi motor Aprilia. “Sejak lama Honda sudah membayangkan Rossi akan datang. Honda sungguh-sungguh menginginkannya. Upaya Honda merekrutnya dimulai sejak paruh musim 1999 lewat dua usaha. Satu dari legenda juara Mick Doohan yang kariernya berakhir di awal musim itu dan kedua melalui Honda Europe. Dari situ mengerucut kala Honda Racing Corporation (HRC) sendiri mulai melakukan pendekatan,” tulis Michael Scott dalam Valentino Rossi: Life of a Legend. Pendekatan terakhir direalisasikan Honda Europe dan HRC melalui Doohan yang menemui Rossi saat Grand Prix Australia, 3 Oktober 1999. Doohan mengajak Rossi melihat-lihat motor Honda NSR V-4 yang digunakan untuk kelas 500cc sekaligus mengenalkan Rossi dengan kepala tim yang sudah jadi kepercayaan Doohan, Jeremy “Jerry” Burgess. “Kesepakatannya dirampungkan dua race berselang di (grand prix) Brasil, di mana Rossi juga mengamankan gelarnya di kelas 250cc. Memang nilai kontraknya tak lebih besar dari yang ditawarkan (perpanjangan kontrak senilai 2,3 juta poundsterling) dari Aprilia. Tetapi Rossi menyatakan, ‘Saya tahu itulah hal yang mesti saya lakukan’,” imbuh Scott. Jeremy 'Jerry' Burgess (kiri) & Michael Sydney 'Mick' Doohan yang berperan dalam debut Valentino Rossi ( motogp.com ) Maka ketika yang ditawarkan dalam kesepakatan adalah Rossi akan memulai debutnya di kelas 500cc dengan tim satelit Nastro Azzurro, Rossi tak mempermasalahkannya. Dia sadar tim utama Repsol Honda masih dihuni tiga pembalap: Àlex Crivillé, Tadayuki Okada, dan Sete Gibernau. Toh, Rossi juga diberikan motor dan semua perlengkapan yang sama dengan tim pabrikan utama Repsol Honda. Belum lagi, sebagaimana tertera di kontraknya, Rossi berhak memilih timnya sendiri. Pasal terakhir ini lalu dipakai Rossi dengan memilih tim yang dikepalai Burgess dan dibantu Doohan. Rossi lantas mencoba motor 500cc pertamanya pada sesi uji coba dengan Honda. Padahal, saat itu ia masih terikat kontrak dengan Aprilia yang jatuh temponya hingga 31 Desember 1999. “Rossi beruntung karena pemilik Aprilia, Ivano Beggio, mengizinkannya menunggangi motor lain meski belum jatuh tempo kontrak. Beggio yang respek pada Rossi tak ingin menghalangi Rossi untuk mengembangkan diri jauh-jauh hari, tak seperti pemilik tim lain yang bersikeras pada hitam di atas putih. Rossi pun akhirnya menjajal motor NSR500 pertamanya di (sirkuit) Jerez pada Desember,” ungkap Stuart Barker dalam Valentino Rossi: The Definitive Biography. Mobil Van dan Helm Pinjaman Ada cerita lucu yang masih dikenang Rossi hingga saat ini. Ia mengira hari pertamanya menjajal motor NSR500 ada kehebohan pers dan dipantau para petinggi Honda. Selain itu, ia kaget motornya sampai diangkut mobil van pinjaman yang sama sekali tak mewah. “Jeremy dan Bernard datang dengan mobil van pinjaman warna hijau. Saya kira kala itu saya juga akan didatangi orang-orang yang penting. Akan tetapi yang datang hanya dua mekanik dengan sweater jelek dan celana jins sepinggang,” kenang Rossi dikutip Barker. Rossi bahkan kemudian harus mencari helm pinjaman karena helm baru Rossi dicuri orang tak dikenal. Terpaksalah ia meminjam helm lamanya yang masih tertera tulisan tim Aprilia. Helm itu sebelumnya ia hadiahkan pada koleganya, Tetsuya Harada. Untuk pakaian balapnya, ia pinjam dari pembalap Aprilia lain, Marcellino Lucchi. Nama Lucchi yang tertera di pakaiannya lalu ia tutupi dengan lakban. Tetapi yang jauh lebih penting dari urusan “tetek-bengek” itu bagi Rossi ialah dia harus belajar ulang. Motor 500cc jelas berbeda dari motor 250cc, apalagi 125cc. Sebelum memulai musim 2000 bahkan Rossi insyaf bahwa motor itu bak kuda liar yang butuh kerja keras untuk menjinakkannya. “Mulanya saat Anda mencoba untuk pertamakali motor 500cc…ah sial! Kelas 500cc adalah dunia yang berbeda –motornya juga datang dari dunia yang lain,” lanjut Rossi. Valentino Rossi acap kesulitan menjinakkan motor 500cc di awal karierya ( Valentino Rossi: Life of a Legend ) Saat ujicoba kedua pada awal tahun 2000 di Sirkuit Phillip Island, Australia, Rossi bahkan jatuh untuk pertamakalinya di motor 500cc. Dari seniornya di tim Repsol Honda, Sete Gibernau, Rossi mengetahui bahwa dia tak bisa menunggangi NSR500 dengan cara yang sama ketika Rossi masih jadi joki kelas 250cc. “Di 250cc Rossi terbiasa melewati tikungan dengan kecepatan tinggi, memiringkan motor dengan sudut lebar untuk kemudian melahap garis trek. Motor 500cc harus dikendarai secara berbeda karena besarnya power motor. Gibernau menyarankan saat menikung mestilah mengerem dengan keras, lalu gunakan power -nya untuk membuat ban belakang berputar sepanjang ujung garis trek sebelum menekan tuas gas lagi. Itu hal vital untuk mendapat kecepatan lagi di trek lurus. Rossi mengabaikannya dan jatuh lagi dengan lebih parah,” tambah Barker. Butuh waktu agak lama bagi Rossi beradaptasi dengan motor 500cc-nya. Di sinilah Doohan sebagai mentornya dan Burgess sebagai orang kepercayaan untuk memodifikasi motor sesuai skill Rossi berperan. Doohan menyarankan Rossi untuk melupakan semua skill- nya menunggangi motor 250cc. “Setelah berkali-kali jatuh Rossi baru sadar bahwa dia mesti melupakan semua teknik membalapnya sebagaimana di kelas 250cc dan mencari teknik baru. Karena selain power -nya lebih besar dari 250, saat itu motornya masih minim perlengkapan elektronik seperti sekarang dan mesinnya masih dua-tak. Itu membuat (sasis) motornya lebih ringan tapi dengan traksi yang sangat besar,” sambung Scott. Valentino Rossi di tim satelit Nastro Azzurro Honda pada musim 2000 (kiri) dan 2001 ( motogp.com ) Di bawah bimbingan Doohan, perlahan Rossi mulai paham dan menemukan teknik membalapnya yang baru. Hasilnya, debutnya di musim 2000 dilakoni Rossi dengan cemerlang. Dia bahkan mampu bertengger sebagai runner-up di klasemen akhir musim 2000 setelah 10 kali naik podium, di mana dua di antaranya podium pertama. Kegemilangan tersebut membuat lebih banyak tim besar dan sponsor kepincut mengontraknya untuk musim 2001 lantaran kontraknya dengan Honda Nastro Azzurro hanya semusim. Tawaran antara lain datang dari tim Marlboro Yamaha, tempat seteru abadinya sejak kelas 125cc, Max Biaggi, berada. Meski nilai tawarannya menggiurkan, Rossi bergeming karena satu persoalan. “Rossi seseorang yang antirokok, di mana sejak bersama Aprilia pun syarat dalam kontraknya tertera ia tak ingin balapan dengan disponsori produk tembakau. Ini yang membuatnya digemari para fans muda Italia yang juga antirokok. Akhirnya pada musim 2001 ia bertahan bersama Honda, lagi-lagi di tim satelit yang disponsori produk bir Italia, Nastro Azzurro,” singkap Barker. Musim 2001 adalah musim di mana Rossi membuktikan dirinya. Ketimbang sering meladeni wawancara media atau menerima tawaran iklan, ia pilih lebih fokus pada perkembangan motor dan balapan sehingga lamat-lamat paham dengan kuda besinya. “Saya masih muda dan masih ingin menikmati karier saya. Namun saya menghentikan semua aktivitas di luar balapan. Situasinya buat saya semakin berat, terutama (berita media) di Italia. Jika Anda teralihkan setelah satu balapan, maka balapan berikutnya Anda takkan menang, lalu media akan mengatakan Anda idiot,” papar Rossi. Valentino Rossi meraih gelar juara dunia kelas MotoGP pertamanya di musim 2001 bersama tim satelit ( motogp.com ) Di musim 2001 itu juga ia mulai dilekati julukan “The Doctor”. Julukan itu merujuk pada kehati-hatiannya saat mengutak-atik motor dibantu Burgess hingga menungganginya di atas lintasan, bak dokter yang berhati-hati mengoperasi pasiennya. “Dengan motor 500 cc, Anda butuh ketenangan, kesunyian, dan konsentrasi. Memang pada akhirnya lebih seperti seorang dokter,” tandas Rossi. Ayahnya pun, Graziano Rossi, mengamini julukan yang menandakan mulai diseganinya Rossi oleh para fans dan pembalap Italia. “Di Italia, ‘the Doctor’ adalah sebutan yang Anda berikan kepada seseorang sebagai bentuk respek; sebutan itu sangat penting sebagai rasa segan dan hormat,” kata Graziano Rossi. Hasil tak mengkhianati kerja kerasnya. Di musim 2001 itulah Rossi bersama tim satelit Honda meraih gelar juara dunia MotoGP pertamanya. Gelar itu direngkuhnya lagi empat kali berturut-turut (2002-2005) ketika sudah direkrut tim Repsol Honda. Dua gelar dunia kelas MotoGP berikutnya, musim 2008 dan 2009, ia rengkuh bersam a Yamaha. Kini di senjakala kariernya, Rossi balik ke tim satelit. Apakah ia akan kembali juara meski di tim satelit sebagaimana yang terjadi dua dasawarsa silam?

  • Dari Koboi Revolusi ke Koboi Insaf

    LELAKI itu selesai menunaikan salat di masjid. Dia berjalan menuju parkiran masjid. Di sanalah kudanya menunggu. Di badan kuda, ada sebuah tombol. Lelaki itu memencetnya. Sebuah tangga menjulur. Dia naiki tangga itu untuk sampai di punggung kuda. Sesaat wajahnya tampak di spion kuda. Topi koboi hitam lebar dengan kumis tipis.

  • Menggadai Barang Sepanjang Zaman

    FREDDY Dharmawan, dosen muda di universitas swasta, sumringah. Hari itu laptopnya yang digadai selama enam bulan, sudah bisa ditebus. Selama masa pandemi, upahnya berkurang drastis. Dia harus menggadai sejumlah barang untuk mendapatkan dana segar. “Sudah sering bolak-balik ke sini,” katanya.

  • Gang Kelinci di Dalam dan Luar Lagu

    DULU, pernah populer sebuah lagu berjudul “Gang Kelinci”. Penciptanya belum lama berpulang ke Sang Pencipta. Namanya Sudarwati alias Sumarti alias Titiek Puspa (1937-2025), yang berpulang pada 10 April 2025 silam. Lagu “Gang Kelinci” cukup unik lantaran mengisahkan tema tak umum. Temanya tentang sebuah gang di kota Jakarta yang dihuni banyak penduduk. “Entah apa sampai namanya Kelinci. Mungkin dulu kerajaan kelinci. Karena manusia bertambah banyak. Kasihan kelinci terdesak,” demikian bunyi salah satu bait lagu yang sohor dibawakan oleh Lilis Suryani di era 1960-an itu. Siapapun yang pernah mendengar lagu ini tapi tak pernah ke Jakarta, bisa saja mengira Gang Kelinci hanya sebuah gang khayalan untuk menggambarkan betapa padatnya kota Jakarta sejak zaman Presiden Sukarno.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page