Hasil pencarian
Cari di situs ini
10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Pengawal-pengawal Terakhir Sukarno*
IRAMA musik keroncong mengalun dari salah satu rumah nan asri di sekitar kawasan Limo, Depok, Jawa Barat. Tuan rumahnya, Mayor Purnawirawan Sribusuno, menyapa satu persatu tamu-tamu yang bertandang ke rumahnya pagi, 15 Oktober 2023, itu. Mereka yang datang itu sejawat Sribusuno ketika dulu mengawal Presiden Sukarno. Selain anak-anak Kombes Mangil Martowidjojo, atasan Sribusuno sekaligus komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP), tampak hadir dalam acara tersebut anak dan menantu Kapten Sogol Djauhari Abdul Muchid. Sogol dikenal sebagai juru cicip makanan dan minuman yang akan disuguhkan kepada Bung Karno agar si Bung tidak keracunan.
- G30S dalam Pers Belanda
LIMA puluh tahun G30S menjadi pemberitaan media Belanda, negeri bekas penjajah. Bukan cuma media cetak, tapi juga media elektronik dan media daring.
- Membidik Nyawa Presiden Sukarno
URUTAN pertama masih ditempati Adolf Hitler, sebagai pemimpin yang berkali-kali hendak dibunuh. Pelakunya berbagai macam, mulai dari Sekutu bahkan sampai anak buahnya sendiri. Total ada 42 kali upaya pembunuhan terhadap orang yang paling bertanggung jawab atas tewasnya jutaan warga Yahudi itu. Menunjukkan begitu hebatnya kebencian orang terhadap Hitler sehingga orang terdekatnya pun bernafsu hendak menghabisinya. Itu yang membedakannya dari Sukarno. Dia berkali-kali hendak dibunuh justru oleh orang-orang yang tak pernah dapat tempat di negeri ini; orang-orang yang berada di luar lingkaran kebangsaan yang turut dibangun oleh Sukarno: Indonesia. Mereka menginginkan Indonesia yang lain, bukan Indonesia yang pernah dikemukakan Sukarno sebagai tempat yang leluasa “milik semua untuk semua”. Sebagai seorang pemimpin dari negeri yang baru saja merdeka, dia berada dalam incaran. Setidaknya tujuh kali Sukarno dicoba dibunuh –ada yang menyebut lebih dari itu. Dia ditembak, digranat, sampai dengan dimortir. Mulai peristiwa Cikini sampai Iduladha, dari Makassar sampai peristiwa Maukar. Meski dia luput dari maut, namun orang-orang tak berdosa menjadi korbannya. Baca juga: Empat Upaya Pembunuhan Hitler yang Gagal Duabelas tahun pertama sejak kemerdekaan, Indonesia diwarnai beragam konflik. Dari daerah datang suara memisahkan diri, dari golongan Islam DI/TII menepuk dada bahwa Sukarno salah jalan dan harus lenyap supaya Indonesia kembali ke jalan yang benar menurut mereka. Sementara itu, negeri-negeri yang punya kepentingan di Indonesia, mulai Amerika sampai Belanda, diam-diam menyokong aksi percobaan pembunuhan tersebut. Redaksi Historia menurunkan liputan khusus tentang upaya melenyapkan Sukarno dari jalannya sejarah. Untuk berbagi kisah masa lalu bahwa usaha membuyarkan mimpi Indonesia yang “milik semua untuk semua” itu pernah ada dan akan selalu ada. Dan apa yang terjadi pada Sukarno adalah gambaran nyata usaha jahat tersebut. Selamat menerobos ke ruang masa lalu. Berikut ini liputan khususnya: Percobaan Pertama Pembunuhan Sukarno Empat Sekawan dalam Penggranatan “Mereka Guru Sekolah Semua” CIA dalam Peristiwa Cikini Maukar Mengincar Bung Besar Granat Makar di Makassar Bertahan dalam Ingatan Tujuh Nyawa Putra Sang Fajar Tembakan di Hari Raya Kurban Supaya Panglima Tertinggi Tak Celaka Lagi Perisai Presiden Bernama Tjakrabirawa Membebaskan Tjakrabirawa di Aljazair Paspampres Berawal dari Polisi Pengawal Pribadi
- Bekas Menteri Masuk TNI
Kapten KNIL Julius Tahija akhirnya berhenti menjadi staf dari Jenderal Simon Hendrik Spoor, Panglima Tertinggi Tentara Belanda di Indonesia. Pahlawan Pertempuran Saumlaki di Perang Dunia II ini lalu belajar administrasi ke Departemen Keuangan. Setelahnya, Tahija diangkat menjadi anggota Dewan Perwakilan Maluku Selatan. Dirinya hadir dan dapat jatah berpidato dalam Konferensi Malino pada 16-22 Juli 1946. “Saya mengatakan bahwa kita tidak bisa lagi kembali ke sistem pemerintah Hindia Belanda karena terlalu sentralistis. Saya menekankan bahwa Indonesia merdeka akan tetap membina hubungan khusus dengan Belanda,” kata Julius Tahija dalam Melintas Cakrawala . Baca juga: Upaya Berarti di Saumlaki Kala itu perang antara Indonesia dengan Belanda masih terjadi. Belanda tentu sangat ingin menguasai kembali bekas wilayahnya, Hindia Belanda yang telah menjadi Indonesia. Setelah Konferensi Malino dan Denpasar, Negara Indonesia Timur (NIT) terbentuk November 1946 dan kemudian Tahija menjadi wakil Maluku lagi. NIT beribukota di Makassar, memaksa Tahija harus menetap di sana. Apalagi dia mendapat jabatan penting di negara federal itu. “Secara berturut-turut saya menjabat Menteri Penerangan, Menteri Sosial dan Menteri Ekonomi,” aku Julius Tahija. Tahija termasuk menteri termuda di dalam kabinet NIT. Usianya di tahun 1946 saja masih 30 tahun. Tapi ada yang lebih muda darinya. Perdana Menteri Anak Agung Gde Agung masih sekitar 26 tahun. Baca juga: Jalan Hidup Perdana Menteri Negara Indonesia Timur Selain pernah jadi pejabat NIT, Tahija juga pernah menjadi perwakilan di Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO) alias badan negera-negara federal yang berkordinasi dengan Belanda dan Indonesia. Di masa inilah Tahija menyempatkan diri ke ibukota Republik Indonesia, Yogyakarta, dengan menumpang pesawat PBB. Tahija berangkat bersama Jean, istrinya. Setelah kota Yogyakarta diserang dan diduduki tentara Belanda pada 19 Desember 1948 dalam apa yang dikenal sebagai Agresi Militer II, para Menteri NIT di Makassar ramai-ramai mengundurkan diri sebegai bentuk protes terhadap Belanda. Para pejabat NIT bahkan menuntut pembebasan Sukarno-Hatta yang ditawan tentara Belanda. Setelah Pengakuan Kedaulatan RI oleh Belanda pada 27 Desember 1949, Tahija masuk Tentara Nasional Indonesia (TNI). Baca juga: Sebuah Usaha Mengenal Sultan Hamengku Buwono IX “Saya disumpah oleh Hamengkubuwono IX, Sultan Yogyakarta, sebagai pejabat staf di bawah koordinasi Kolonel Simatupang. Tugas pertama saya, selain tugas-tugas logistik, adalah bergabung dengan tim pengadaan persenjataan,” kata Tahija. Di TNI, Tahija mendapat pangkat lebih tinggi, yakni letnan kolonel. Dua tingkat lebih tinggi dari pangkat kapten yang disandangnya di Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL). Dengan demikian, pangkat Tahija cukup tinggi di TNI lantaran para kepala staf angkatan di TNI hanya berpangkat kolonel. Dengan pengalaman luas di KNIL, Tahija pada 1950 dipercaya ikut menangani perpindahan anggota KNIL ke TNI. Tugas tersebut terbilang sulit. Tak semua anggota KNIL asal Ambon mau bergabung dengan TNI. Terlebi antara Oktober 1945-pertengahan 1946 ada pembantaian orang-orang Ambon. Maka, menurut arsip Kabinet Perdana Menteri RI Yogyakarta nomor 82, ada anggota-anggota KNIL Ambon yang memandang Tahija terlalu opurtunis dengan menjadi perwira TNI. Baca juga: Corputty Menyerah Tapi Malah Ditembak Entah karena ada serangan itu atau bukan, yang pasti Tahija menjadi TNI hanya sampai tahun 1951. Setelah keluar dari TNI, dia bekerja di Caltex Pacific Indonesia. Caltex merupakan perusahaan minyak Amerika Serikat (AS) yang –merupakan kongsian dua perusahaan minyak AS, Standard Oil Company of California (Socal) dan Texaco– sejak awal beroperasi di Riau. “Socal dan Texaco, melalui kemitraan mereka di Caltex, menemukan minyak di Indonesia sebelum Perang Dunia II, namun pengembangan ekstensif atas penemuan tersebut tertunda hingga terjadinya perang. Eksplorasi dan pengembangan berlangsung di bawah pemerintahan Belanda hingga tahun 1948 ketika Indonesia mencapai kemerdekaan. Caltex terus melanjutkan revolusi dan menjadi andalan ekonomi utama negara yang baru merdeka ini. Namun, pada akhir tahun 1950an dan awal tahun 1960an, iklim politik memburuk. Nasionalisasi industri minyak, termasuk Catlex, diputuskan. Meski demikian, Caltex berhasil melanjutkan operasinya, bekerja dari hari ke hari. Caltex memberikan kehadiran Amerika yang dapat diterima di Indonesia, dan merupakan sumber pemasukan devisa dalam jumlah besar yang sangat diperlukan untuk mempertahankan dan mendukung pembangunan ekonomi Indonesia. Pengakuan Pemerintah Amerika Serikat terhadap peran penting Caltex di Indonesia diwujudkan ketika Presiden Kennedy menunjuk utusan khusus Presiden, Gubernur Wyatt, untuk menggunakan jasa baiknya menyelesaikan masalah sulit nasionalisasi dalam negosiasi menjelang penandatanganan kontrak kerja CPI tahun 1963,” kata Kongres dan Senat AS dalam Multinational Corporations and United States Foreign Policy: Hearings, Ninety-third Congress [Ninety-fourth Congress, Second Session. Baca juga: CIA, PRRI, dan PSI Uniknya, Tahija bekerja di Caltex tanpa kontrak tertulis. Kendati begitu, posisinya lumayan penting sebagai asisten dari Managing Director, yang merupakan pemimpin tertinggi perusahaan yang beroperasi di Indonesia tersebut. Belakangan, Tahija menjadi salah satu pemimpin juga di sana. Selain dengan Caltex Indonesia, Tahija juga terkait dengan Freeport Indonesia dan Bank Niaga.
- Dalih Penangkapan Massal
SEBUAH tayangan video lama berdurasi 1:36 menit yang dirilis oleh ina.fr, saluran televisi Prancis, yang menyiarkan kunjungan Presiden Soeharto ke Prancis pada awal November 1972, beredar di media sosial. Sebelumnya juga telah beredar sebuah video dokumenter saat Soeharto berbicara di depan para pemimpin ABRI. Dalam video berdurasi 37:10 menit itu Soeharto menjelaskan tentang sikapnya terhadap Sukarno yang bersikeras tak mau membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI).
- Kala Liem Swie King Bicara Mental Tak Mau Kalah
BULUTANGKIS Indonesia sedang tidak baik sepanjang tahun ini. Terlepas dari hanya All England sebagai satu-satunya gelar bergengsi yang diraih, prestasi para wakil Indonesia menukik drastis. Paling getir adalah kegagalan total di Asian Games ke-19 di Hangzhou, China, 23 September-8 Oktober 2023. Untuk pertamakalinya sejak 1962, Indonesia gagal meraih sekeping pun medali dari cabang bulutangkis. Sebagai salah satu negara adidaya bulutangkis, Indonesia lazimnya meraih setidaknya satu emas di pesta olahraga terbesar se-Asia itu. Prestasi bulutangkis Indonesia terendah sebelumnya terjadi di Asian Games 1986 dengan hanya memetik empat perunggu. Selain dari nomor ganda putra (Liem Swie King/Bobby Ertanto), perunggu itu datang dari nomor ganda putri (Rosiana Tendean/Imelda Wiguno), serta tim beregu putra dan putri. Tahun ini merupakan tahun kelam. Di Kejuaraan Dunia atau bahkan Indonesia Open di rumah sendiri, Indonesia gagal total. Diperparah di Asian Games. Atas kegagalan itu, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (kabid binpres) PBSI Rionny Mainaky mengaku bertanggungjawab. “Saya atas nama tim bulutangkis Indonesia meminta maaf kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga, Komite Olimpiade Indonesia, dan seluruh masyarakat Indonesia atas kegagalan ini. Hasil ini tanggung jawab saya sebagai Kabid Binpres,” ungkap Rionny di laman resmi PBSI, 9 Oktober 2023. Sesampainya di Jakarta, PBSI menggelar evaluasi. Dari 16 poin yang disampaikan di Pelatnas PBSI di Cipayung pada 11 Oktober 2023, salah satu yang paling digarisbawahi adalah persoalan mental. Para pemain terlampau terbebani tekanan harus juara dan tidak boleh kalah hingga berujung tak bisa mengeluarkan performa terbaik. Baca juga: Richard Mainaky "Tukang Pukul" dari Ternate Rionny Mainaky (kiri), Kabid Binpres PBSI ( pbsi.id ) Mental Juara King Smash Medio Februari 2019 di kediamannya yang asri di kawasan Melawai, Jakarta Selatan, Liem Swie King memposisikan punggungnya di sofa besar warna krem di ruang tamunya untuk mendapatkan kenyamanan. Meski kadang menyunggingkan senyum kecil, pembawaannya yang serius seperti tak pernah pudar. Terlebih saat sudah menyinggung bagaimana kerasnya ia menempa fisik dan mental semasa jadi pemain kurun 1971-1988. Siapa tak mengenal legenda hidup berjuluk “King Smash” itu. Segudang prestasi yang mengharumkan nama besar Indonesia pernah diraihnya. Kejuaraan Asia, SEA Games, Asian Games, Kejuaraan Dunia, Piala Dunia, All England hingga Thomas Cup, semua pernah diraihnya. Sebagai manusia, King jelas pernah mencicipi getirnya kekalahan. Di berbagai turnamen pernah mengalaminya, termasuk di sejumlah Asian Games. Pada Asian Games 1974, ia hanya sanggup membawa pulang perunggu. Di Asian Games 1982, dia harus puas dengan perak. Sementara di Asian Games 1986, lagi-lagi sekadar memetik perunggu. “Kan kita sudah latihan mati-matian tapi kan ya namanya olahraga, ada menang dan ada kalah. Kalau sedang kalah itu ya merasa tercambuk, wah harus latihan lagi. Tiap mengalami kekalahan ya pahit karena waktu itu runner-up apapun dianggap kalah. Jadi targetnya harus juara,” kata King mengenang, kepada Historia. Baca juga: Keluar dari Bayang-Bayang Liem Swie King Legenda berjuluk "King Smash" yang selalu punya prinsip tak mau kalah (Randy Wirayudha/Historia) Cambukan bernama “kekalahan” itu selalu jadi salah satu faktor buat King untuk acap menambah sendiri porsi latihan. Baik selama masih meniti karier di PB Djarum maupun di Pelatnas PBSI. “Dulu latihan selalu nambah. Swie King dulu habis lari ‘trap-trapan’ ke (Gunung) Muria, masih mau nambah. Kuat banget memang fisiknya Swie King,” jelas Anwari, salah satu pelatih pertama Swie King di PB Djarum, saat ditemui Historia di Kudus, medio Januari 2019. Bagi King, kebugaran fisik jadi unsur terpenting untuk jadi nomor wahid. Memang, masa itu turnamen tak sebanyak sekarang yang bertebaran turnamen-turnamen terbuka. Namun tantangannya, kala itu setiap pemain diharuskan bisa bermain rangkap. “Dulu awalnya saya tunggal, lalu sering double (ganda, red ). Dengan Pak Chris (Christian Hadinata), dengan Kartono. Waktu masih muda fokus enggak terpecah ya. Latihan saya keras. Fisik saya cukup bagus, jadi merangkap saya kuat. Sampai Thomas Cup 1984 juga masih merangkap. Di pelatnas tunggal dan double, latihannya bareng. Ketika teman sparring kurang, saya sering masuk. Yang paling dekat dan paling pas double saya dengan Christian. Ya karakternya, tipenya Christian juga cocok dengan tipe saya,” sambung King. Baca juga: Gelar Juara Dunia yang Tak Disangka Christian Hadinata Segudang prestasi ditorehkan Liem Swie King semasa bermain pada era 1970-an (PB Djarum) Jika saat ini yang paling jadi keuntungan adalah fasilitas latihan dan iming-iming guyuran bonus besar, di era King keuntungan terbesarnya adalah justru bisa sekaligus menempa mental dengan sparring dengan banyak pemain juara. Sparring melawan Rudy Hartono, misalnya. “Pertandingan itu kan suatu ujian buat kita. Latihannya sudah benar, belum? Apa yang kurang? Makanya sparring di pelatnas juga penting. Karena kita latihannya sama juara dunia semua. Waktu itu bisa ngalahin Rudy Hartono sudah kayak juara dunia. Jadi targetnya gampang, di depan mata. Saya anggap sparring itu guru, latihan paling penting. Dari situ kita bisa banyak belajar,” kenangnya lagi. Prinsip King begitu simpel. Jika kalah di satu pertandingan penting, kemauan untuk berlatih lebih keras harus terus menyala. Tak peduli jika ia kemudian menang dan juara zonder mendapat imbalan bonus besar. “Memang enggak ada imbalan apa-apa tapi mati-matian latihan sampai enggak lanjutin sekolah. Hanya kebanggaan kalau kita menang. Tapi kan (juara) itu cita-cita. Bisa mencapai, ya di situ kepuasannya. Beda mungkin dengan sekarang. Jiwa pemain harus punya jiwa integritas yang tinggi. Bahwa uang bukan yang utama tapi prestasi,” tutur King. Baca juga: Gelar Bulutangkis Demi Ibu Pertiwi Para atlet Indonesia yang gagal bersinar di Asian Games 2022 ( pbsi.id ) Oleh karenanya bagi King, menjadi aneh ketika semua fasilitas sudah lebih maju dan memadai dibanding eranya tapi justru prestasi bulutangkis Indonesia bak jalan di tempat. Di era modern yang kekuatan bulutangkis dunianya makin merata, bakat saja takkan cukup jika tak dibarengi dengan kemauan untuk berlatih ekstra keras dan menempa mental tidak mau kalah. “Meski dia berbakat tapi kalau yang lainnya engak melengkapi ya enggak bisa. Untuk mencapai sesuatu itu harus berjuang, berlatih keras, dan pantang menyerah. Itu sifat dasar yang harus dimiliki semua pemain. Itu syarat itu. Fasilitas sudah demikian maju, tinggal kemauan sama sifat enggak mau menyerah, enggak mau kalah harus dimiliki tiap atlet,” lanjutnya. “Kalau dia mentalnya enggak mau all out , ‘kalau kalah ya sudah’, ya enggak boleh prinsip begitu. Sekarang kalah, lain kali prinsipnya harus menang. Harus lebih keras latihannya. Kalau yang ‘ nerimo-an ’ (kalah) ya gimana? Sekarang banyak yang enggak punya kemauan dan integritas seperti pemain dulu, mau capek, mau berjuang. Kalau enggak punya itu ya susah walau bakatnya bagus apalagi malas, ya susah,” tandas King. Baca juga: Indonesia dan Kejayaan All England
- Two Europeans that Waged Wars on Lombok
TWO wars erupted because of George Peacock King and Vasily Panteleimonovich Malygin. Both were European. King was a Bengal-born British, while Malygin came from Moldova.
- G30S di Mata Saudara Tua
PAGI, 1 Oktober 1965, setelah menghabiskan malam bersama Presiden Sukarno di Wisma Yaso, seperti biasa Naoko Nemoto atau lebih dikenal sebagai Dewi Sukarno menemani Sukarno. Tak ada kejanggalan yang dia lihat. Pun sampai saat Sukarno pergi ke Istana untuk sarapan bersama tamu-tamunya.
- Perjalanan Terakhir Henk Sneevliet
USAHA Belanda untuk memposisikan netral dalam situasi Perang Dunia II sia-sia belaka. Pada 10 Mei 1940, Nazi menyerang dan menduduki Belanda. Keluarga kerajaan dan pemerintah Belanda mengungsi ke London, Inggris. Di sana pula mereka menjalankan roda pemerintahannya.
- Atas Nama Rakyat Indonesia
TAK beberapa lama setelah Henk Sneevliet diusir keluar Hindia Belanda, pemerintah kolonial melancarkan tindakan keras kepada pemimpin PKI. Pada 1922 Tan Malaka diusir dari Hindia Belanda, begitu juga dengan Semaoen, Darsono, dan Pieter Bergsma, menyusul Sneevliet yang telah lebih dulu diusir pada 1918.
- Cerita Rumah Tangga dalam Empat Babak
MAARTJE Visser gadis rupawan: rambutnya pirang kemerahan, bola mata hijau berbinar-binar, telah menawan hati pemuda berusia 23 tahun. Henk Sneevliet, pemuda itu, langsung bertekuk lutut dan tanpa pikir panjang meminang untuk jadi istrinya. Pertemuan mereka terjadi saat keduanya aktif di organisasi pemuda sosialis di Zwolle. Maartje anggota Perkumpulan Perempuan Sosial-Demokrat (Sociaal-Democratische Vrouwenclub).
- Goliat yang Gagah dari Filistin
Beribu-ribu orang Filistin berkumpul di seberang Lembah Elah, tepi Barat wilayah Yudea. Jumlahnya tak berbilang, seperti banyaknya pasir di lautan. Mereka siap memerangi bangsa Israel yang berkemah di Lembah Tarbantin. Sementara itu, tentara Israel yang dipimpin Raja Saul hanya berjumlah 600 orang. Secara kalkulasi, Israel jelas di ambang kekalahan menghadapi orang Filistin. “Lalu tampillah keluar seorang pendekar dari tentara orang Filistin. Namanya Goliat, dari Gat. Tingginya enam hasta sejengkal. Ketopong tembaga ada di kepalanya, dan ia memakai baju zirah yang bersisik; berat baju zirah ini lima ribu syikal tembaga. Dia memakai penutup kaki dari tembaga, dan di bahunya ia memanggul lembing tembaga. Gagang tombaknya seperti pesa tukang tenun, dan mata tombaknya itu enam ratus syikal besi beratnya. Dan seorang pembawa perisai berjalan di depannya,” demikian Alkitab mencatat dalam kitab 1 Samuel 17:4--7. Goliat menghampiri barisan Israel. Seraya berseru, dia menantang orang Israel untuk memilih salah satu prajurit terbaiknya. Sebagai sesama orang terkuat dari kaum masing-masing, Goliat akan menghadapinya dalam pertarungan satu lawan satu. Bangsa Israel gemetar ketakutan mendengar tantangan Goliat itu. Hingga majulah seorang pemuda penggembala domba bernama Daud. Dibandingkan Goliat, Daud bukanlah lawan yang sepadan. Selain berpostur lebih kecil, Daud juga belum berpengalaman dalam berperang. Apalagi Daud hanya bersenjatakan sejenis katapel yang disebut ali-ali dan tongkat gembala. Baca juga: Eleazar, Imam Besar Bangsa Israel Ketika Goliat maju untuk memburunya, Daud mengambil batu dari sakunya. Ali-ali Daud yang berisi batu kecil itu melesat hingga terbenam menerjang dahi Goliat. Goliat terhuyung-huyung hingga kemudian rubuh berkalang tanah. Daud kemudian berlari ke arah Goliat dan mengambil pedangnya. Lalu Daud memancung kepala Goliat. Pemandangan itu gantian membuat orang-orang Filistin ketar-ketir. Pertempuran akhirnya dimenangkan oleh bangsa Israel. Daud dielu-elukan sebagai pahlawan. Kisah pertarungan Daud dan Goliat tercatat dalam kitab suci agama Samawi, yaitu Kristen dan Islam. Ia menjadi cerita Alkitab populer bagi anak-anak di gereja. Sementara itu, Goliat dalam Al Quran disebut dengan nama Jalut. Filistin sebagai sebuah entitas wilayah telah bersalin nama menjadi Palestina. Bangsa Filistin semula adalah suku-suku pengarung samudra yang berasal dari Pulau Kreta di Laut Tengah, kini masuk wilayah Yunani. Orang-orang Mesir menyebut mereka Peleset sedangkan bangsa-bangsa tetangga yang lain menyebut Filistin. Kendati demikian, sejarah bangsa Filistin acap ditulis secara bias dalam kronik bangsa-bangsa tetangga seteru Filistin. Bangsa Israel adalah musuh bebuyutan bangsa Filistin. Permusuhan kedua bangsa ini setidaknya tercatat ketika bangsa Israel dipimpin oleh pemerintahan hakim-hakim, sekira abad ke-11 SM. Baca juga: Tokoh Yosua dalam Alkitab Bangsa Filistin bermukim di kota-kota yang membentuk aliansi yang terorganisasi secara longgar di tepi barat wilayah Yudea. Kota-kota paling kuat dalam aliansi itu adalah Gaza, Ashkelon, Ashdod, Gath, dan Ekron yang disebut “Pentapolis”. Dengan kata lain, sepanjang pantai Laut Tengah dikuasai oleh bangsa Filistin. Orang Filistin enggan menyerahkan sejengkal bidang tanah mereka kepada bani Israel yang dianggap sebagai bangsa pendatang. Mereka berkeinginan pula untuk merebut Pegunungan Betlehem, dengan demikian membelah dua wilayah Israel. Sebaliknya, bagi bangsa Israel, tanah yang dijanjikan sejak zaman bapa leluhur Ibrahim meliputi daerah Filistin. Inilah yang memicu perang berkepanjangan antara Filistin dan Israel. Ketika Israel dipimpin oleh Raja Saul, bangsa Filistin tampil mendominasi. Angkatan perang Filistin terbilang lebih kuat karena menguasai teknologi pengolahan besi dan logam. Mereka bahkan sanggup melakukan embargo senjata terhadap Israel. Pertempuran di Lembah Elah menjadi titik balik kejatuhan orang Filistin sekalipun prajurit terkuat Goliat ada di pihak mereka. Baca juga: Para Pembangun Yerusalem Pasukan Filistin mendirikan perkemahan di punggung selatan Lembah Elah. Pasukan Israel berkemah di sisi seberangnya. Kedua pihak sama-sama tak berani maju lebih dulu. Menyerang duluan berarti harus menuruni punggung bukit lalu menantang bahaya dengan mendaki bukit yang ditempati musuh. Orang-orang Filistin kehabisan kesabaran. Mereka mengutus prajurit terkuatnya ke dasar lembah untuk memecah kebuntuan dengan cara bertarung satu lawan satu. Sejarawan Susan Wise Bauer menggambarkan Goliat sebagai prajurit petarung berpostur raksasa. Tingginya mencapai tiga meter dan bobot tubuhnya tidak lumrah. Pemilihan Goliat sebagai petarung yang mewakili Filistin dengan senjata lengkap dan telah menjadi petempur sejak zaman mudanya adalah sebuah sikap superioritas yang merendahkan bangsa Israel. “Daud, yang percaya bahwa Allah menyertainya, keluar dengan membawa katapel, memukul rebah Goliat dengan satu lontaran batu yang tepat mengenai kepalanya, dan memotong kepala raksasa itu dengan pedangnya sendiri,” tulis Susan dalam Sejarah Dunia Kuno: Dari Cerita-Cerita Tertua Sampai Jatuhnya Roma . Baca juga: Bom Fosfor Putih Bukan Senjata Biasa Sementara itu, penulis sejarah Malcolm Gladwell dalam bukunya David and Goliath: Underdogs, Misfit, and the Art of Battling Giants coba membuktikan kekuatan ali-ali Daud secara saintifik. Menurutnya, ketika Daud memutar-mutar katapelnya, makin lama putarannya makin cepat hingga enam sampai tujuh putaran per detik. Daud mengincar titik lemah Goliat yang terletak di dahinya. Mengutip pendapat Eitan Hirsch, pakar balistik Tentara Pertahanan Israel, Gladwell menunjukkan bahwa batu berukuran biasa yang dilontarkan pelontar ahli pada jarak 35 meter bakal menghajar kepala Goliat dengan kecepatan 34 meter per detik. Daya sebesar itu cukup untuk menembus tengkorak dan membuat Goliat pingsan atau bahkan tewas. Selain faktor kekuatan ali-ali Daud, Gladwell juga menambahkan dari sudut pandang pakar kedokteran bahwa Goliat menghadapi kondisi medis serius. Dari ciri yang tertulis di Alkitab, Goliat seperti seseorang yang menderita apa yang disebut akromegali --penyakit akibat tumor jinak di kelenjar pituitari. Tumor itu menyebabkan produksi berlebihan hormon pertumbuhan, yang menjelaskan mengapa ukuran tubuh Goliat menjulang di atas orang normal pada zaman itu. Efek samping dari akromegali adalah masalah penglihatan. Bujang yang membawa perisai Goliat jadi petunjuk bahwa Goliat mengalami rabun sehingga perlu bantuan penuntun. Baca juga: Hamas Senjata Makan Tuan Israel “Daud berlari menuju Goliat, diperkuat oleh keberanian dan keyakinan. Goliat tak bisa melihat musuhnya mendekat --dia pun tumbang, karena terlalu besar, lamban, dan rabun untuk memahami bahwa keadaan telah berbalik,” tulis Gladwell. Melihat Goliat dipancung Daud, orang Israel bangkit menyerbu perkemahan tentara Filistin. Orang-orang Filistin mati berserakan di sepanjang jalan ke Gath dan Ekron. Setelah naik takhta menggantikan Saul sebagai raja kedua bangsa Israel pada 1010 SM, Daud menumpas habis kekuasaan bangsa Filistin. Menurut Susan Wise Bauer, itulah akhir kekuasaan Filistin sebagai suatu kerajaan yang kuat. Masa kejayaan mereka hanya berlangsung selama satu abad lebih sedikit. Kendati sudah berselang tiga ribu tahun sejak zaman Daud dan Goliat, pertikaian antara Israel dan Filistin tak kunjung usai. Seperti di masa silam, konflik terjadi antara negara Israel modern dengan bangsa Palestina yang berjuang untuk kedaulatan dan tanah air mereka. Perang di antara keduanya memakan banyak korban jiwa bahkan sampai hari ini.*





















