top of page

Hasil pencarian

9738 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Akhir Tragis Mantan Analis OSS

    SETELAH lulus Yale College tahun 1928, Raymond Kennedy memulai kariernya sebagai pengajar di Brent School di Filipina. Namun hanya setahun. Dia kemudian bekerja sebagai perwakilan lapangan General Motors Corporation di Hindia Belanda. Selama tiga tahun, dia menjual mobil Amerika di Jawa dan Sumatra. Dia pun terpesona pada Indonesia.

  • Salon Kitty, Tempat Prostitusi dan Sumber Informasi Nazi

    Penemuan mayat perempuan di Kelurahan Dulomo Selatan, Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo pada Rabu, 2 Oktober 2019 menghebohkan warga setempat. Perempuan yang bersimbah darah tak bernyawa itu ditemukan tergeletak di pinggir Jalan Brigjen Piola Isa.   Polres Gorontalo kemudian menyebutkan identitas korban bernama Rosita Hulalata. Selang beberapa jam kemudian, polisi berhasil menangkap pembunuhnya, Oyong Tongkono, yang tak lain merupakan suami korban. Menurut Kapolres Gorontalo Kota AKBP Robin Lumban Raja, Oyong membunuh Rosita lantaran marah karena istrinya kembali bekerja di sebuah salon plus-plus. “Pelaku ini pernah memperingatkan korban agar jangan kembali kerja di salon itu karena menilai pekerjaannya tidak layak. Pelaku mengindikasikan pekerjaan di salon itu memberi pelayanan lebih ke para pelanggannya,” ujar Robin sebagaimana diberitakan okezone.com , 3 Oktober 2019. Salon plus-plus –salon yang memberikan layanan salon plus seksual kepada para pelanggannya– menjamur di berbagai kota tanah air sejak beberapa tahun silam. Ia merupakan bentuk prostitusi dengan selubung salon. Keberadaannya sering meresahkan warga sekitar lantaran berada di lingkungan masyarakat, dan merepotkan aparat kepolisian yang berupaya menindaknya. Kendati popularitasnya di Indonesia belum lama, eksistensi salon plus-plus di berbagai belahan dunia telah lama ada. Jerman-Nazi semasa Perang Dunia II bahkan sempat menggunakan sebuah salon plus-plus untuk mengorek informasi. Salon plus-plus itu bernama Salon Kitty. Salon Kitty yang terletak di Giebachstreasse 11 Charlottenburg, Berlin itu awalnya merupakan rumah bordil kelas atas. Didirikan dan dijalankan oleh Katharina Zammit, populer sebagai Kitty Schmidt, pada awal 1932 –versi lain menyebut 1936, para pelanggan salon berasal dari kelas atas beragam latar belakang profesi, mulai pebisnis terkemuka, diplomat asing, petinggi militer, pejabat pemerintahan, hingga anggota senior Partai Nazi. Ketika Nazi berkuasa di Jerman pada 1933, banyak orang Yahudi memilih keluar Jerman. Madame Kitty rutin mentransfer uang ke bank-bank Inggris untuk teman-teman Yahudinya yang mengungsi itu. Aktivitas amalnya itu akhirnya diketahui penguasa ketika pada 1939 dia ditangkap agen Sicherheits Dienst (SD), dinas intelijen Nazi, saat hendak menyeberang ke Belanda. Setelah tertangkap, Kitty dibawa ke markas Gestapo. Di tempat itulah ia terlihat oleh Walter Schellenberg, orang kepercayaan Jenderal SS Reinhard Heydrich, kepala SD. Heydrich merupakan veteran Angkatan Laut Jerman di Perang Dunia I yang lalu mengabdi di sayap militer Nazi Schutzstaffel (SS) pimpinan Heinrich Himmler. Kinerjanya yang mengesankan membuat Heydrich ditunjuk Himmler mengepalai SD dan ditugaskan untuk menyempurnakan dinas intelijen SS. Penyempurnaan itu terkait erat dengan ketatnya persaingan antara dinas intelijen SS dengan Abwehr, dinas intelijen militer Jerman. Abwehr didirikan pada 1921 dan sejak 1935 dipimpin Laksamana Wilhelm Canaris. “Sejak awal harus selalu diingat bahwa Canaris dan mayoritas organisasinya –terutama Abwehr II, Hans Oster– dipastikan anti-Nazi,” tulis Terry Crowdy dalam The Enemy Within: Spies, Spymasters, and Espionage . Canaris pernah merepotkan Heydrich dengan pernyataannya bahwa ras Arya Heydrich tak murni karena leluhurnya Yahudi. Pernyataan itu membuat Heydrich harus menjalani tiga kali sidang antara 1935-1937 untuk menyangkal tuduhan itu dan terpaksa mengganti nisan makam ibunya untuk menghilangkan jejak. “Hubungan Canaris dan Heydrich tampak dingin. Tidak ada yang bisa saling percaya. Keduanya saling menjaga dokumen,” tulis John Craig dalam Peculiar Liaisons in War, Espionage, and Terrorism in the Twentieth Century . Persaingan itu membuat Heydrich terus berupaya menyempurnakan organisasi intelijen SS. Salah satu terobosan terpentingnya adalah pendirian Salon Kitty menggunakan rumah bordil Kitty Schmidt. “Misinya: Gunakan alkohol dan perempuan untuk merayu orang asing agar menumpahkan rahasia yang bisa membantu Nazi dan merayu orang Jerman agar mengungkapkan pendapat mereka yang sebenarnya tentang rezim Nazi,” tulis Kara Goldfarb dalam “Inside Salon Kitty – The Brothel Taken Over by Nazis and Used for Espionage” yang dimuat www.allthatsinteresting.com . Heydrich menugaskan Schellenberg, yang berhasil menemui Kitty di markas Gestapo setelah penangkapan Kitty di perbatasan Belanda, untuk mendirikan Salon Kitty. Dengan ultimatum “kerjasama dengan Nazi atau dikirim ke kamp konsentrasi”, Schellenberg berhasil menggaet Kitty. Kitty diperintahkan membuka salonnya seperti biasa, dengan dagangan berupa layanan, minuman, dan makanan kelas atas. Sebelum salon itu dibuka kembali, Schellenberg terlebih dahulu mempersiapkan semua hal untuk mendukung misi sang bos. “Di setiap ruangan (yang berjumlah 9, red. ), para teknisi membuat dinding palsu di belakang tempat mikrofon dipasang. Melalui alat perekam otomatis, setiap kata yang diucapkan di rumah itu direkam dan dinilai untuk kemungkinan penggunaan pemerasan,” sambung Crowdy. Schellenberg tak mau menyediakan perempuan penghibur di Salon Kitty lantaran menganggap agen-agen perempuannya terlalu berharga untuk dilacurkan. Urusan itu ditangani langsung Heydrich dengan menugaskan Kepala Kripo –Kriminal Polizei/Polisi Kriminal– Artur Nobe. Sebanyak 20 perempuan –yang kebanyakan tertipu karena mengira tugas yang akan dijalankan berupa pengabdian pada negeri– lalu terpilih untuk menjadi penghibur di Salon Kitty. Sebelum dipekerjakan, mereka terlebih dulu dilatih teknik dasar intelijen dan etiket pergaulan kelas atas. “Salon Kitty digunakan untuk memata-matai diplomat asing pro-Jerman dan juga para perwira Jerman sendiri,” tulis Richard Symanski dalam The Immoral Landscape: Female Prostitution in Western Societies . Orang penting yang acap mengunjungi Salon Kitty antara lain Menteri Propaganda Joseph Goebbels. “Goebbels, misalnya, menikmati pertunjukan lesbian di Salon Kitty yang terkenal di Berlin,” tulis Jill Stephenson dalam Women in Nazi German . Dari kalangan militer, selain Jenderal Sepp Dietrich, yang sering mendatangi Salon Kitty adalah Heydrich sendiri. “Schellenberg menemukan Heydrich hanya memiliki satu kelemahan: ‘Nafsu seksualnya tak terkendali. Untuk urusan ini dia akan menyerahkan diri tanpa hambatan atau kehati-hatian’,” tulis Craig. Heydrich biasanya memerintahkan petugas mematikan semua alat perekam di Salon Kitty saat berkunjung. Kasus paling terkenal orang asing yang menjadi korban di Salon Kitty adalah Galeazzo Ciano, menantu Mussolini sekaligus menteri luar negeri Italia. Dari kunjungannya ke salon itulah Nazi mengetahui dia anti-Nazi dan menentang aliansi Italia dengan Jerman. “Dia ditangkap Nazi, diadili karena pengkhianatan, dan dieksekusi pada Januari 1944,” tulis Craig. Salon Kitty berhenti operasi pada Juli 1942 karena bombardir udara Sekutu. SD mengembalikannya pada Kitty Schmidt dengan pesan agar tutup mulut bila tak ingin merasakan pembalasan. Keberadaan Salon Kitty baru diketahui publik setelah Schellenberg menuliskannya dalam memoar berjudul The Labyrinthe , yang dibuatnya pasca-interogasi oleh personil intelijen Inggris usai perang. Pada 1976, Tinto Brass mengangkat kisah salon itu ke layar lebar lewat Salon Kitty .

  • Darah dan Air Mata Long March Siliwangi

    MINGGU pagi, 19 Desember 1948. Langit Yogyakarta dipenuhi pesawat-pesawat tempur Angkatan Perang Kerajaan Belanda. Mereka menembaki Lapangan Udara Maguwo dan menerjunkan pasukan elitenya,  Korps Speciale Troepen  (KST). Setelah berhasil mendaratkan pasukannya di Lapangan Terbang Maguwo, secara kilat mereka langsung melakukan serangan ke jantung Yogyakarta. “Tujuh jam kemudian, lewat aksi militer yang mereka namakan sebagai Operatie Kraai  (Operasi Gagak), tentara Belanda berhasil menguasai Yogyakarta, ibu kota Republik Indonesia saat itu…” tulis Himawan Soetanto dalam Yogyakarta 19 Desember 1948. Operatie Kraai  dengan sendirinya menghancurkan Perjanjian Renville yang ditetapkan oleh Belanda-Indonesia, setahun sebelumnya. Situasi itu juga memaksa para pejuang Siliwangi harus menghadapi jalan ujung yang pernah disiapkan oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam Perintah Siasat No.1 pada Mei 1948: harus kembali bergerak ke Jawa Barat dan membangun kembali perlawanan total di sana.  Perjalanan panjang ( long march ) para maung kembali ke kampung halamannya harus ditempuh dengan banyak pengorbanan. Bukan hanya kehilangan harta dan benda, darah dan air mata pun harus mereka keluarkan. Sepanjang jarak 600 km, para peserta long march  harus berkawan akrab dengan kelaparan, penyakit hingga serangan militer Belanda dan teror pasukan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Letnan Dua (Purn) JC. Princen, serdadu Belanda yang membelot ke Siliwangi, melukiskan proses long march  itu sebagai perjalanan panjang yang menyiksa hati nuraninya sebagai manusia. Di tengah perjalanan tak jarang, ia harus menyaksikan anak-anak dan perempuan tewas terbunuh  oleh bom pesawat-pesawat yang dikendalikan teman sabangsanya. “Ratusan Multatuli tak akan dapat menggambarkan penderitaan ribuan Saija dan Adinda dalam perjalanan ini…” kenang anggota Batalyon Kala Hitam Divisi Siliwangi itu. Pengalaman yang hampir sama juga dialami oleh Prajurit Alleh (92). Masih segar dalam ingatannya, menjelang keberangkatan mereka kembali ke Jawa Barat, pimpinan Markas Besar Tentara (MBT) membagikan sarung baru kepada seluruh pasukan. Sarung itu ternyata sangat berguna bagi mereka, bukan saja sebagai selimut penghangat tidur namun juga bisa digunakan untuk hal-hal yang bersifat darurat. Misalnya saat mereka harus menyeberang Sungai Serayu. Dengan sambungan sarung yang beruntai mereka bisa menyeberangi sungai yang berarus deras tersebut. Namun, proses penyeberangan itu tetap meminta korban, terutama anak-anak dan perempuan yang hanyut oleh hantaman arus sungai yang deras. Dengan hati hancur, mereka harus menyaksikan beberapa bocah dan perempuan yang ikut dalam rombongan hanyut ditelan derasnya air sungai. “Ayah dan suami-suami mereka hanya bisa berteriak dan menangis putus asa…” kenang Alleh. Tidak cukup itu, Alleh pun menjadi saksi bagaimana para ibu yang baru melahirkan “anak-anak maung” di tengah perjalanan harus rela memberikan bayi-bayi itu kepada penduduk desa yang dilewati. “Ya, daripada bayi-bayi itu menderita dan menjadi ‘beban’ selama perjalanan, lebih baik diselamatkan oleh para penduduk…” kata mantan prajurit Siliwangi dari Batalyon ke-29 pimpinan Kapten Hoesinsjah tersebut. Lain lagi dengan pengalaman Kopral Soehanda dari Batalyon ke-27. Bersama lima kawannya, ia terpisah dari rombongan batalyon sejak awal rombongan bergerak dari Salatiga. Tak ada sebutir pun nasi yang masuk dalam perut mereka selama perjalanan ke kawasan Jawa Barat. Paling bagus, kata Soehanda, mereka menemukan daun singkong atau jamur kayu untuk dimakan. “Baru setelah 40 hari lebih berjalan, akhirnya kami dapat menemukan nasi di daerah Ciamis,” kenangnya. Peristiwa unik dan misterius sempat dialami oleh Asikin Rachman (95), eks anggota Batalyon ke-29. Suatu hari, seksi yang dipimpinnya sampai di wilayah sekitar Banyumas dan harus menyeberangi sebuah sungai bernama Kali Putih. Persoalan muncul kala mereka menyaksikan  sungai itu dipenuhi ratusan buaya. Saat mereka tengah dilanda kebingunan, tiba-tiba seorang tua berpakaian sederhana datang kepadanya. Dengan lembut, ia minta izin kepada Asikin untuk coba menolong mereka menyeberang Kali Putih. Asikin pun mengiyakan. Begitu mendapat izin, orang tua itu menaiki pohon kelapa yang ada di sekitar tempat tersebut. Setelah mendapat dua butir kelapa muda berwarna hijau, ia merapal mantera-mantera lalu menyiramkan air kelapa muda itu ke permukaan Kali Putih. Usai ritual itu, ia menyilahkan anak buah Asikin untuk menyeberangi sungai tersebut tanpa ragu-ragu. Dan ajaib, kendati buaya-buaya itu terkumpul di sekitar sungai, mereka seolah tertidur dan hanya diam saja saat para petarung Siliwangi itu satu-persatu menyeberangi Kali Putih dengan cara berenang. “Kami berhasil sampai di seberang sungai dengan selamat. Inilah keajaiban dalam perang. Jika tak menyaksikan sendiri kejadian itu, tentunya kami juga tak akan percaya,” kenangnya. Kurang lebih 40 hari lamanya, para maung itu menyusuri ratusan kilometer untuk kembali lagi ke sarangnya. Mereka dengan tabah menghadapi apapun yang coba merintangi jalan-jalan mereka, dengan satu tujuan: kembali ke kampung halaman. Persis, seperti isi bait-bait yang pernah mereka buat dan gubah dari lagunya Lily Marlene: “Oh beginilah nasibnya soldadu/Diosol-osol dan diadu-adu/Tapi biar tidak apa/Asal untuk negeri kita/Naik dan turun gunung/Hijrah pun tak bingung/

  • Dayo, Pusat Kerajaan Sunda Terakhir

    Keberadaan Sunda Empire mulai meresahkan. Sejak kemunculannya di awal 2020, banyak pernyataan mereka yang dianggap oleh sejumlah pihak tidak selaras dengan realita. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil pun angkat bicara soal kelompok yang menggegerkan publik dari daerahnya tersebut. Dilansir  KompasTV ,  pria yang akrab disapa Kang Emil ini menyebut kalau masih ada saja orang-orang yang menjual romantisme sejarah demi eksistensinya. Ia juga merasa prihatin karena banyak yang mempercayainya. "Banyak orang  stres  ya di Republik ini, menciptakan ilusi-ilusi. Jangan percaya terhadap hal-hal yang tidak masuk ke dalam logika akal sehat," ucap Kang Emil. Para akademisi pun secara tegas membantah berbagai klaim petinggi Sunda Empire, Rangga Sasana. Dalam program televisi Indonesia Lawyers Club, 20 Januari 2020, Sunda Empire semakin berani angkat bicara. Dengan percaya diri, mereka menyebut bahwa pusat pemerintahan dunia ada di Bandung. Bahkan organisasi dunia, seperti PBB dan NATO, lahir di Kota Kembang  itu. Secara historis, belum ada data yang menyebutkan Bandung pernah menjadi pusat dunia. Bahkan bagi  urang Sunda sendiri,  Bandung bukanlah tempat  satu-satunya yang menjadi pusat terakhir segala aktifitas kehidupan mereka. Berdasarkan data-data sejarah, justru sebuah kota bernama Dayo-lah yang menjadi pusat pemerintahan terakhir penguasa wilayah barat Jawa ini, sebelum benar-benar hancur akibat serangan pasukan Muslim dari Demak dan Banten. Keberadaannya tercatat baik di dalam naskah tradisional maupun catatan perjalanan orang-orang Eropa. Tempat itu eksis hingga akhir kekuasaan kerajaan Sunda di tanah Jawa. Kini kota itu menjadi Kabupaten Bogor dan Kota Bogor dan masuk dalam wilayah provinsi Jawa Barat. Kesaksian Penjelajah Eropa Keberadaan pusat pemerintahan kerajaan Sunda berdasar kesaksian bangsa Eropa mula-mula diceritakan oleh penjelajah Portugis Tome Pires pada permulaan abad ke-16. Sejak pendaratan pertamanya di Jawa, nama Sunda sudah santer terdengar. Namun negeri itu masih terlalu asing baginya. Ia lalu mencari sebanyak-banyaknya informasi tentang negeri yang mungkin akan disinggahinya itu. “Kerajaan Sunda menguasai setengah Pulau Jawa.” Keyakinan itu tertanam di benak sebagian besar orang di pelabuhan tempat Tome Pires singgah. Sementara mereka yang memiliki kedudukan di pemerintahan meyakini bahwa kerajaan Sunda menduduki sepertiga atau seperdelapan bagian pulau. Dari kabar yang diterima Pires, luas kekuasaan kerajaan Sunda mencapai 300 league  atau sekitar 1776 kilometer. Mencakup Pelabuhan Banten, Pelabuhan Sunda Kalapa, Pelabuhan Cimanuk, hingga ke Sungai Cimanuk yang merupakan batas antara kerajaan Sunda dan para penguasa dari Jawa (merujuk pada kerajaan-kerajaan di Jawa bagian tengah dan timur). “Diceritakan bahwa pada zaman dahulu, Tuhan telah menciptakan sungai untuk memisahkan Pulau Jawa dari kerajaan Sunda dan begitu pula sebaliknya. Sungai ini ditumbuhi pohon di sepanjang aliran dan kabarnya, pohon-pohon di masing-masing sisi memiliki cabang yang menyentuh tanah dan condong ke arah masing-masing negeri. Pohon-pohon ini berukuran besar dan menjulang tinggi dengan cantik,” kata Pires. Ketika sampai di wilayah kerajaan Sunda, Pires sempat mengunjungi kota Dayo. Dalam catatan perjalanannya, Suma Oriental , Pires menjelaskan kalau Dayo menjadi tempat yang paling sering ditinggali raja Sunda dibanding daerah lainnya. Di kota besar ini rumah-rumah dibangun dengan sangat baik menggunakan daun kelapa dan kayu. Manajemen kota juga ditata secara teratur agar raja merasa nyaman tinggal berlama-lama di sana. Untuk mencapai kota Dayo, jika perjalanan dilakukan melalui pelabuhan utama (Sunda Kalapa), dibutuhkan waktu sekitar dua hari, melewati daerah perbukitan. “Orang-orang berkata bahwa sang raja memiliki rumah yang sangat bagus, dibangun menggunakan 330 pilar kayu setelah tong anggur, setinggi 5 depa dan dihiasi ukiran yang sangat indah di bagian atasnya,” tulis Pires. Namun keberadaan kota itu sendiri sempat diperdebatkan. Banyak penjelajah di abad ke-19, setelah era Pires, yang mengaku tidak menemukan kota yang disebut Dayo ini. “Daio, jika tempat ini memang nyata, adalah tempat yang keberadaannya sulit diduga, mengingat tidak ada satupun tempat yang menyerupai ciri-cirinya dalam topografi Jawa,” kata administrator Inggris John Crawfurd. Barulah pada 1856, Crawfurd berhasil memecahkan misteri kota ini. Dalam catatan penelitiannya selama memangku jabatan di Jawa, A Descriptve Dictionary of the Indian Islands and Adjacent Countries , Crawfurd menjelaskan jika di wilayah yang jaraknya sekitar 40 mil ke arah timur dari Batavia (Jakarta), terdapat bekas fondasi istana. Di daerah yang merujuk pada Buitenzorg (Bogor) ini juga ditemukan banyak sekali bebatuan dan sejumlah prasasti. “Kota yang dimaksud, tidak lain tidak bukan, adalah Pajajaran. Pajajaran ialah nama sebuah kerajaan kuno di Jawa, ibu kotanya terletak di Bogor, yang berada di wilayah Sunda,” ucapnya. Rupanya keberadaan kerajaan Sunda pernah juga diceritakan Scipio pada 1 September 1687. Artinya komandan pasukan Belanda itu menemukan bukti keberadaan Sunda jauh sebelum Crawfurd. Dalam Priangan , De Haan menyebut jika Scipio berhasil menemukan dua batu yang menurut keterangan penduduk adalah bekas singgasana raja Pajajaran. Kedua batu itu terletak di sebuah tempat berbentuk bujur sangkar sebesar bangsal sebuah kerajaan. Diperkirakan bukti penting tentang Sunda itu berpindah tempat sehingga pada masa Crawfurd banyak peneliti yang kesulitan membuktikan beradaan Kerajaan Pajajaran. “Itulah sebabnya, kiranya bangunan kraton ini atau bekasnya tidak dapat disaksikan lagi oleh kita sekarang, bahkan oleh orang-orang Belanda yang mengunjunginya pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18 Masehi,” tulis De Haan. Berdasarkan temuan-temuan yang diperoleh para peneliti Barat, sejarawan Edi S. Ekadjati, dalam Asal-Usul, Lokasi, Perkembangan Pakuan Pajajaran , merasa jika rekonstruksi kerajaan Sunda sudah terlaksana dengan cukup baik. Ditambah informasi yang ada pada sumber-sumber lokal, keberadaan penguasa Jawa bagian barat ini sudah dapat disaksikan oleh masyarakat luas. “Menurut hemat saya, keseluruhan hasil studi mereka (para peneliti Belanda) sudah cukup memadai, dalam arti lokasi ibukota Pakuan Pajajaran telah berhasil ditemukan dan direkonstruksi dengan benar. Walaupun demikian, guna mendapat gambaran yang lebih jelas dan mendetail perlu dilakukan penelitian lebih jauh, terutama dengan melakukan penggalian di sekitar lokasi yang diperkirakan bekas kompleks keraton,” ucap Ekadjati. Catatan Tradisional Tidak jauh berbeda dengan keterangan orang-orang Eropa, informasi yang ada pada naskah dan prasasti juga turut memperkuat keberadaan kerajaan Sunda di wilayah Bogor sekarang. Seperti informasi pada prasasti Batutulis yang dikutip Nugroho Notosusanto,dkk dalam Sejarah Nasional Indonesia III , diketahui bahwa kerajaan ini awalnya berpusat di Kawali namun karena keadaan tertentu akhirnya dipindahkan ke Pakuan. “Pusat kerajaan Sunda yang berpindah-pindah itu pernah berlokasi secara kronologis sebagai berikut: Galuh, Pakuan, Saunggalah, Pakuan, Kawali, dan Pakuan. Jadi kerajaan Sunda itu berakhir pada waktu pusat kerajaannya berkedudukan di Pakuan Pajajaran,” terang Saleh Danansasmita dalam “Latar Belakang Sosial Sejarah Kuno Jawa Barat dan Hubungan antara Galuh dengan Pajajaran” dimuat Sejarah Jawa Barat . Sementara naskah Carita Parahyangan (dibuat akhir abad ke-16), cukup banyak membahas keadaan di Pakuan, meski tidak lengkap. Di sana dijelaskan bangunan kerajaan di wilayah pakuan tidak hanya satu, melainkan ada lima buah. Jumlah tersebut merujuk pada kosep Panca Persada (lima keraton). Bangunan utama digunakan sebagai tempat tinggal raja, sementara di sampingnya berdiri bangunan-bangunan lain yang tidak kalah megah sebagai tempat bersemayam para kerabat kerajaan. Wilayah ibukota Pakuan Pajajaran, kata Ekadjati, dibagi ke dalam dua wilayah, yakni Kota Dalam dan Kota Luar. Kedua bagian kota itu dibatasi oleh benteng alam, berupa bukit kecil memanjang di sebelah timur. Di sana juga terdapat parit kecil yang membentang melewati bagian barat keraton. Sementara sebuah benteng buatan berdiri kokoh di sebelah selatan. “Dari gambaran di atas tampak bahwa ibukota Pakuan Pajajaran diperkuat oleh benteng berlapis-lapis (sungai alam, tanggul buatan, parit buatan). Hal itu kiranya disebabkan oleh karena kerajaan Sunda menghadapi kemungkinan serangan dari luar (Demak, Cirebon, dan Banteng),” tulis Ekadjati. Rupanya kekhawatiran raja atas serangan yang akan menghancurkan kerajaannya menjadi kenyataan. Pada 1579, setelah melalui berbagai konflik dan perang dengan pasukan Muslim, kerajaan Sunda berakhir. Pusat pemerintahan terakhirnya berada di Pakuan, wilayah Bogor sekarang.

  • Menteri Tionghoa di Kabinet Republik Indonesia.

    Selama masa kekuasaan Presiden Sukarno (1945-1967), terbentuk cukup banyak kabinet yang tugasnya menjalankan lembaga eksekutif negara. Di antara para menteri yang pernah menduduki jabatan di kabinet-kabinet tersebut tercatat ada 4 orang menteri yang berasal dari etnis Tionghoa. Mereka datang dari berbagai latar belakang yang berbeda serta mewakili partai dan organisasinya masing-masing. Berikut 4 tokoh Tionghoa yang pernah menduduki jabatan menteri di Indonesia pada periode 1945-1965. Tan Po Gwan Namanya mungkin terasa asing di telinga masyarkat Indonesia saat ini. Namun semasa tahun 1940-an sampai 1950-an, ia cukup aktif dalam berbagai organisasi sampai akhirnya dipercaya menduduki jabatan Menteri Negara pada Kabinet Sjahrir III periode 1946-1947. Tan Po Gwan tercatat sebagai etnis Tionghoa pertama yang masuk jajaran eksekutif di dalam pemerintahan Indonesia. Dilahirkan di Cianjur, Jawa Barat, pada 24 Oktober 1911, Tan Po Gwan menamatkan sekolah tingkat pertamnya di AMS (Algemeene Middelbare School) di Bandung. Setelah lulus ia melanjutkan pendidikannya di RHS (Rechtshoogeschool) di Batavia (Jakarta), untuk memperdalam bidang hukum. Tahun 1937 ia menamatkan sekolah RHS dan mendapatkan gelar Meester in de Rechten. Karir pertama Tan Po Gwan setelah lulus adalah bekerja di Makasar sebagai pengacara. Selama kurun waktu dua tahun (1937-1938) ia bermukim salah satu kota di Sulawesi Selatan itu. Kemudian tahun berikutnya Tan Po Gwan memutuskan mengejar karirnya di Surabaya. Di sana ia juga membuka jasa konsultasi hukum, sama seperti di kota sebelumnya. Diceritakan Sam Setyautama dalam Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia, ketika berada di Surabaya inilah Tan Po Gwan berkenalan dengan dunia di luar keahliannya, yaitu jurnalistik. Ia bergabung dengan surat kabar Tionghoa Sin Po  sejak tahun 1939. Rupanya Tan Po Gwan memiliki ketertarikan yang cukup besar terhadap bidang kepenulisan. Ia diketahui cukup aktif menulis di surat kabar milik Lauw Giok Lan dan Yoe Sin Gie ini. Pada 1942, saat proses perpindahan kekuasaan dari Belanda ke Jepang, Tan Po Gwan masih aktif menulis di Sin Po . Namun di tahun ini juga ia menjadi salah satu orang yang diinternir oleh pemerintah Jepang akibat berbagai aktivitasnya dianggap membahayakan kekuasaan mereka. Hampir sepanjang pemerintahan Jepang berjuasa di Indonesia (1942-1945), aktifitas Tan Po Gwan dibatasi dan diawasi dengan sangat ketat. Barulah ketika kemerdekaan Indonesia berhasil dikumdangkan, ia mendapatkan kembali kebebasannya. Tercatat dalam Kabinet-Kabinet Republik Indonesia: Dari Awal Kemerdekaan sampai Reformasi karya PNH Simanjuntak,   Tan Po Gwan mulai aktif berkecimpung di dunia politik, terutama ketika ia diangkat menjadi Menteri Negara Urusan Tionghoa dalam Kabinet Sjahrir III, yang dibentuk Perdana Menteri Sutan Sjahrir pada 2 Oktober 1946 sampai 27 Juli 1947. Setelah meletakan jabatan menterinya, Tan Po Gwan bergabung dalam KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) sebagai anggota pada 1947. Bila Hamid Algadri datang mewakili komunitas orang-orang Arab, Tan Po Kwan dipercaya mewakili komunitas Tionghoa. Ketika itu Tan Po Kwan dan anggota KNIP lainnya ditugasi membantu di segala urusan presiden hingga dibubarkan pada 1950. Tan Po Gwan aktif juga di kepartaian. Ia diketahui menjadi anggota dari PDTI (Partai Demokrat Tionghoa Indonesia). Kemudian pada 1953 ia bergabung dengan PSI (Partai Sosialis Indonesia) yang diketuai oleh Sutan Sjahrir. Selain itu Tan Po Gwan pernah ikut berkecimpung di Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia). Organisasi Tionghoa yang didirikan pada 1954 itu bahkan mencalonkan Tan Po Gwan dalam pemilihan umum 1955. Namun akhirnya batal karena ia memutuskan mengundurkan diri. Pada tahun-tahun berikutnya kehidupan Tan Po Gwan mulai terasa berat. Ia termasuk dalam kelompok orang yang merasa terasingkan selama masa pemerintaha Sukarno. Sehingga pada 1959 ia memutuskan untuk meninggalkan Indonesia. Baru setelah pergantian kekuasaan, Tan Po Gwan kembali ke tanah air. Namun tidak lama, ia memilih menetap di Sydney, Australia. Pada 1985 Tan Po Gwan meninggal dunia di Australia. Ong Eng Die Ong Eng Die (Foto: Wikimedia Commons) Dikenal sebagai ekonom ulung pada era 1950-an sampai 1960-an, Ong Eng Die berhasil menempatkan namanya dalam jajaran menteri pada beberapa kabinet. Ia dipercaya mengatur situasi ekonomi dan keuangan di Indonesia pada masa-masa awal pasca kemerdekaan. Ong Eng Die mampu membuktikan dirinya pantas disejajarkan dengan pakar eknomi lainnya, seperti Mohammad Hatta, atau Sjafruddin Prawiranegara. Ong Eng Die dilahirkan di Gorontalo, pada 20 Juni 1910, dari pasangan Teng Hoen dan Soei Djok Thie. Tidak banyak informasi mengenai masa kecil Wang Yongli (sapaan akrab Ong Eng Die). Namun diperkirakan ia menempuh pendidikan di sekolah milik pemerintah Belanda hingga tingkat menengah. Pada 1930-an, saat memasuki usia sekitar 20 tahun, Wang Yongli memutuskan untuk pergi ke Belanda, melanjutkan studinya. Thee Kian Wie dalam Pelaku Berkisah: Ekonomi Indonesia 1950-an sampai 1990-an, menyebut bahwa pada 1940, Wang Yongli tercatat sebagai salah satu sarjana yang lulus dari Fakultas Ekonomi di Universiteit van Amsterdam. Pada 1943, Wang Yongli berhasil menyelesaikan studi doktoralnya dan mendapat gelar Ph.D untuk disertasinya: Chineezen in Nederlands-Indie een Socigrafie van een Indonesische Bevolkings Group . Selama dua tahun, setelah memperoleh gelar doktoralnya, Wang Yongli memilih untuk berkarir di Belanda. Kemudian pada 1945, ia memutuskan pulang ke Indonesia. Di dalam negeri, Bank Pusat Indonesia di Yogyakarta menjadi pilihan Wang Yongli untuk menambah pengalamannya di bidang ekonomi. Ia berkarir di sana hingga tahun 1947. Nama Ong Eng Die sebagai lulusan Universitet van Amsterdam mulai terdengar pada 1947. Di tahun yang sama ia juga mulai mendekatkan dirinya pada dunia perpolitikan. Perjalanan pertama di dunia barunya ini terjadi ketika ia ditunjuk sebagai Menteri Muda Keuangan, mendampingi Menteri Keuangan AA Maramis pada era kabinet Amir Sjarifuddin I. Saat Amir Sjarifuddin membentuk kembali kabinetnya, Kabinet Amir Sjarfuddin II (11 November 1947 – 29 Januari 1948) Wang Yongli masih tetap dipercaya di jabatan yang sama, yakni Menteri Muda Keuangan. Pada masa-masa ini, kata Setyautama, Wang Yongli dipercaya menjadi penasehat ekonomi untuk beberapa pertemuan dengan delegasi luar negeri. “Beliau adalah salah satu penasehat ekonomi delegasi Indonesia pada saat perundingan Renville,” tulisnya. Pada 1950-an, Wang Yongli bergabung dengan PNI (Partai Nasional Indonesia). Saat Ali Sastroamidjojo membentuk kabinetnya (30 Juli 1953 – 12 Agustus 1955), Wang Yongli ditunjuk sebagai Menteri Keuangan. Namun meski jabatan telah dipegangnya, kebijakan ekonomi saat itu lebih didominasi oleh keputusan Sjafruddin Prawiranegara, Djuanda Kartawidjaja, dan para pakar lainnya. Hal itu dilakukan untuk mempersiapkan PNI dalam menghadapi Pemilihan Umum 1955. Namun selama masa jabatannya sebagai Menteri Keuangan, terjadi sejumlah permasalahan yang cukup merugikan negara. Bersama dengan Iskaq Tjokrohadisurjo sebagai Menteri Perekonomian, Wang Yongli disebut hanya membuat kebijakan yang menguntungkan PNI saja. Antara lain dengan mengeluarkan surat izin devisa atau lisensi impor. Pada 1954, jumlah perusahaan impor lokal meningkat lebih dari 2.000 buah. PNI meraup banyak keuntungan dari pemberian lisensi tersebut. “Lisensi istimiwa diberikan kepada pengusaha-pengusaha yang sanggup memberikan 10% dari harga lisensi kepada kas partai PNI,” tulis Soebagijo IN dalam biografi Jusuf Wibisono Karang di Tengah Gelombang . Setelah meletakkan jabatannya, Wang Yongli masih banyak mengurusi masalah perekonomian sebagai seorang penasehat. Ia memiliki beberapa kantor akuntan, sambil menjalankan berbagai kegiatan kepartaiannya di PNI. Tahun-tahun berikutnya masih dihabiskan Wang Yongli sebagai salah satu pakar eknomi Indonesia. Meski mulai banyak masyarakat yang mencibir karena kasus-kasus selama ia menduduki jabatan menteri. Pada 1964, ia memilih kembali ke Amsterdam. Di sana, bersama keluarganya, Wang Yongli menjalankan sebuah bisnis. Setelah tinggal cukup lama di luar negeri, kabar kematiannya tidak dapat dipastikan dengan jelas. Tidak ada cukup data yang menjelaskan hal tersebut. Siauw Giok Tjhan Siauw Giok Tjhan (Foto: Wikimedia Commons) Siaw Giok Tjhan dikenal luas sebagai seorang politikus yang aktif pada era pemerintahan Sukarno. Ia terlibat dalam berbagai peristiwa dan berkontribusi cukup besar bagi orang-orang Tionghoa dalam dunia perpolitikan di Indonesia. Siaw Giok Tjhan dilahirkan di Kapasan, Surabaya, Jawa Timur, pada 23 Maret 1914, dari pasangan Siaw Gwan Swie dan Kwan Tjian Nio. Ia menerima pendidikan dasar di THHK (Tionghoa Hoa Hwee Koan) dan ELS (Europeesch Lagere School). Kemudian melanjutkan sekolah menengah pada 1927 di HBS (Hogere Burger School), Surabaya. Tercatat dalam biografinya, Siauw Giok Tjhan: Riwayat Perjuangan Seorang Patriot , ia telah terlibat aktif di banyak organisasi sejak usianya masih terbilang muda, yakni 18 tahun. Pada usia tersebut Siaw Giok Tjhan masuk Partai Tionghoa Indonesia, di bawah pimpinan Liem Koen Hian. Pada 1933, ia memulai perkenalan pertamanya dengan jurnalistik sebagai pekerja di harian Sin Tit Po  di Surabaya. Pada 1934 Siauw Giok Tjhan mulai aktif menulis di harian Matahari . Di bawah naungan Kwee Hing Tjat di Semarang, ia makin mahir dalam dunia tulis-menulis ini. Kemudian ketika Kwee Hing Tjat meninggal, Siauw Giok Tjah dipercaya meneruskan kepemimpinan harian Matahari . Namun ketika Jepang mulai berkuasa pada 1942, harian yang memulai debutnya dari Sin Jit Po  ini terpaksa harus tutup. Selama masa pendudukan Jepang, Siauw Giok Tjhan banyak menghabiskan waktunya di Malang. Ia aktif di AMT (Angkatan Muda Tionghoa) dan Palang Biru yang difasilitasi oleh Jepang. Pada 1945, ia mulai bergabung dalam partai yang lebih besar, yaitu PSI. Siauw Giok Tjhan menjadi salah satu anggota partai yang sangat aktif berkontribusi sehingga pada 1946 ia ditunjuk menjadi anggpta KNIP. Pada 1947, Sjahrir mengajak Siauw Giok Tjhan ke Inter Asian Conference di New Delhi, India. Di tahun yang sama juga, ia diangkat menjadi Menteri Urusan Minoritas (Tionghoa) dalam Kabinet Amir Sjarifuddin. Melalui jabatannya ini Siauw Giok Tjhan semakin memantapkan dirinya dalam perpolitikan di Indonesia. Pada 1949 ia tercatat sebagai anggota DPR RIS. Keaktifannya di dunia politik diimbangi oleh kegemarannya dalam menulis. Siauw lalu mendirikan surat kabar Harian Ra’jat  pada 1953. Pada 1954, bersama 44 tokoh Tionghoa, Siauw Giok Tjhan mendirikan Baperki (Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia). Ia terpilih sebagai ketua umum organisasi masyarakat keturunan Tionghoa tersebut. Di sana ia mulai aktif menyuarakan persamaan hak bagi warga negara dan anti diskriminasi. “Keputusan untuk menasakomisasi kepemimpinan Baperki mulai dari Komite Pusat hingga cabang-cabang adalah sebuah konsekuensi dari posisi Baperki yang diformulasikan dalam Kongres VI di Surabaya. Posisi tersebut adalah bahwa perjuangan untuk memecahkan masalah kewarganegaraan tidak dapat dipisahkan dari perjuangan untuk membantu perkembangan sebuah masyarakat Pancasila yang menjalankan dasar-dasar Pancasila dalam urusan kehidupan sehari-hari,” ucap Siauw Giok Thjan seperti dikutip Leo Suryadinata dalam Pemikiran Politik Etnis Tionghoa Indonesia 1900-2002 . Namun segala bentuk kegiatan Baperki dianggap berbahaya bagi sebagian pihak. Terutama ketika mereka mulai aktif membuat tulisan di koran Republik . Oleh karenanya pada November 1965, Siauw Giok Tjhan ditahan. Pada 1978, atas bantuan Adam Malik, ia dibebaskan karena alasan kesehatan. Ia lalu menghabiskan waktunya di Belanda. Siauw Giok Tjhan wafat pada 20 November 1981 akibat serangan Jantung. Lie Kiat Teng Lie Kiat Teng (Foto: Wikimedia Commons) Tidak banyak narasi sejarah bangsa ini yang menyebutkan sosok Lie Kiat Teng. Seolah tidak ada tempat yang pas untuk mengabadikan nama tokoh Muslim dari etnis Tionghoa ini. Namun sebenarnya keberadaan Lie Kiat Teng cukup berpengaruh di dalam sejumlah peristiwa, terutama dalam kurun masa 1950-an hingga 1960-an. Lie Kiat Teng dilahirkan di Sukabumi, Jawa Barat, pada 17 Agustus 1912. Sejak kecil, ia telah mendapat pendidikan yang cukup baik dari keluarganya. Ia menyelesaikan sekolah tingkat dasar dan menengahnya di sekolah milik pemerintah Belanda. Lie Kiat Teng lalu mengikuti studi lanjutan di Surabaya, di NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School), sekolah pendidikan dokter yang dikhususkan bagi orang-orang pribumi. Lie Kiat Teng sendiri mampu menyelesaikan studinya, dan memperoleh gelar “Dokter Djawa” pada 1930-an. Setelah lulus, Lie Kiat Teng bekerja sebagai dokter pemerintah di Curup, Bengkulu. Lalu pernah diangkat menjadi dokter di Rumah Sakit Pusat Perkebunan di Waringin Tiga. Ia juga sempat menjadi dokter di tambang emas Rejang Lebong, Bengkulu. Sejak lulus karirnya memang lebih banyak dihabiskan di lembaga kesehatan milik pemerintah Belanda. Selama masa awal periode kemerdekaan, Lie Kiat Teng menduduki jabatan dokter keresidenan di Palembang, Sumatera Selatan. Ketika berpraktek di Sumatera inilah, Lie Kiat Teng berkenalan dengan agama Islam. Sebenarnya interaksi Lie Kiat Teng dengan Islam sudah terjadi cukup lama karena memang orang-orang di sekitarnya banyak yang beragama Islam. Namun keyakinannya untuk memeluk Islam baru benar-benar muncul pada 1946. Ia lalu mengubah namanya menjadi Mohammad Ali. Memasuki tahun 1950-an, Mohammad Ali memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai dokter karesidenan. Pada masa ini juga ia mulai aktif berpolitik. Mohammad Ali ikut menjadi bagian dari PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia), sebagai kepala bagian ekonomi. Meski telah terjun ke dunia politik, Mohammad Ali tetap berpraktek sebagai dokter. Ia memilih untuk tidak terikat dengan instansi pemerintah dan membuka praktek dokter secara swasta. Ketika Ali Sastroamidjojo membentuk kabinet (1953-1955), Mohammad Ali ditunjuk sebagai Menteri Kesehatan, menggantikan FL Tobing dari SKI. Namun jabatan di lembaga eksekutif dalam pemerintahan ini tidak hanya sekali saja diemban Mohammad Ali. Pada kabinet selanjutnya, Kabinet Burhanudin Harahap (1955-1956), ia masih tetap dipercaya dalam jabatan Menteri Kesahatan. “Ia (Mohammad Ali) berjasa mendirikan rumah sakit Mohammad Husni di Palembang,” tulis Setyautama.

  • Lima Tionghoa di Taman Makam Pahlawan

    Perjuangan mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban rakyat suatu negara. Tanpa membeda-bedakan ras, suku, dan agama, semua berjuang demi terwujudnya kedamaian. Hal itulah yang diyakini orang-orang Tionghoa saat ikut membantu menghilangkan penjajahan demi melahirkan kemerdekaan yang hakiki di bumi Indonesia. Berkat sumbangsihnya, negara memberikan tempat peristirahatan terbaik bagi mereka.Tercatat ada 5 orang warga keturunan Tionghoa, dari berbagai medan perjuangan, yang dipusarakan di Taman Makam Pahlawan. Lie Eng Hok Lie Eng Hok dilahirkan pada 7 Februari 1893 di Balaraja, Tanggerang, Banten. Tidak banyak informasi mengenai masa kecilnya. Namun ia diketahui pernah menjadi wartawan surat kabar Tionghoa Sin Po sekitar 1910-an. Ia cukup aktif menulis di harian milik Lauw Giok Lan dan Yoe Sin Gie tersebut. Pengalamannya menjadi jurnalis itu kemudian dimanfaatkan Lie Eng Hok ketika ia aktif di masa pergerakan nasional. Pada 1926, semasa gerakan anti-Belanda tengah kuat-kuatnya di sejumlah daerah, Lie Eng Hok pindah ke Semarang, Jawa Tengah. Di sana ia membuka sebuah toko buku di Pasar Johar. Rupanya pekerjaannya itu hanyalah kedok bagi pekerjaannya yang lain, yakni kurir dan informan. Ia bertugas membagikan informasi tentang gerak-gerik pasukan Belanda kepada para pejuang anti-Belanda. Diceritakan Sam Setyautama dalam Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia , akibat aktifitasnya itu, Lie Eng Hok ditangkap dan dimasukkan ke jajaran pemberontak yang akan dibuang ke Boven Digul oleh pemerintah Belanda. Dari sekitar 1300 tahanan yang berangkat pada 1927, 10 di antaranya adalah warga keturunan Tionghoa. Selama berada di Digul, Lie Eng Hok hidup menderita. Ia masuk dalam kelompok orang yang tidak sudi bekerja di bawah pemerintah Belanda. Bersama-sama dengan Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir, Lie Eng Hok tidak mendapat fasilitas yang layak selama di Digul. Hatta pun pernah bercerita di dalam Mengenang Sjahrir , jika para interniran yang menolak tunduk pada pemerintah Belanda memang mendapat tekanan yang lebih berat dibandingkan mereka yang memilih bekerjasama. Pada 1932, berdasarkan Besluit Gouverneur Generaal van Nederlandsch Indie  No.8 tanggal 19 Januari 1932, ia dibebaskan dari Digul. Setelah itu ia memilih kembali ke Semarang, membuka kembali toko buku yang sebelumnya di tinggalkan. Pada 22 Januari 1959, Lie Eng Hok ditetapkan sebagai pejuang “Perintis Kemerdekaan” berdasarkan Surat Keputusan Menteri Sosial. Pada 27 Desember 1961, Lie Eng Hok meninggal dunia. Ia dimakamkan di pemakaman umum di Semarang. Namun pada 1986 berdasarkan Surat Keputusan Pangdam IV/Diponegoro No.B/678/X/1986, kerangkanya dipindah ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal di Semarang. John Lie Dilahirkan di Manado, Sulawesi Utara, pada 11 Maret 1911, John Lie Tjeng Tjoan merupakan anak kedua dari delapan bersaudara pasangan Lie Kae Tae dan Oei Tseng Nie. Sejak kecil pria yang akrab disapa John Lie ini sudah mendapat pendidikan yang baik di sekolah berbahasa Belanda, Hollands Chinese School (HCS) dan Christelijke Lagere School. Namun menginjak usia 17 tahun, ia memutuskan pergi dari Manado menuju Batavia, demi memenuhi hasratnya menjadi pelaut. Di Batavia John Lie bekerja sebagai buruh pelabuhan, di samping kesibukannya ikut kursus navigasi. Ia berhasil menyelesaikan pelatihannya dan ditempatkan di perusahaan pelayaran Belanda Klerk Muallim II di KPM (Koninklijk Paketvaart Matschappij). Setelah beberapa kali pindah kapal, ia ditugaskan di MV Tosari pada Februari 1942. Ketika Perang Dunia II pecah, MV Tosari dijadikan kapal logistik pendukung armada sekutu. John Lie dan awak kapal lainnya mendapat pelatihan khusus setelahnya. Menurut M. Nursam dalam Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi: Biografi Laksamana Muda John Lie, Setelah Indonesia merdeka, John Lie kembali bekerja di Pelabuhan Tanjungpriok. Namun ketika suasana semakin genting ia memilih bergabung dengan angkatan laut. Atas permintaannya, ia ditempatkan di Pelabuhan Cilacap. Di sanalah awal mula misi-misi John Lie menembus blokade Belanda dan penyelundupan yang membuat namanya melegenda. Wartawan majalah Life , Roy Rowan, mengabadikan kisah heroik John Lie dalam “Guns-And Bibbles-Are Smuggled to Indonesia” yang dimuat Life  pada 26 Oktober 1949. Pers asing pun menjuluki pria Manado ini dengan sebutan “The Great Smuggler with the Bibble”. John Lie memutuskan pensiun pada 1967 setelah menyelesaikan sejumlah tugas, seperti memimpin KRI Rajawali dan KRI Gadjah Mada, serta ikut aktif dalam penumpasan gerakan DI/TII, RMS, dan Permesta. Pada 27 Agustus 1988, John Lie wafat. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro (1993-1998) “mengakui” John Lie sebagai Pahlawan Nasional. Namun penganugerahan gelar Pahlawan Nasional baru terealisasi pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2009. John Lie dipusarakan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Sho Bun Seng Mungkin tidak banyak orang yang tahu jika Sho Bun Seng adalah salah seorang pegiat seni yang ikut dalam perjuangan kemerdekaan. Dilahirkan pada 12 November 1911, di Kota Raja, Aceh, Sho Bun Seng aktif dalam grup sandiwara Dardanela sekitar tahun 1920-an. Kelompok sandiwara ini lahir di tengah kepopuleran Opera Miss Riboet, dengan bintangnya Miss Riboet. Sho Bun Seng sendiri diketahui aktif di angkatan Tan Tjeng Bok dan Fifi Young. Sho Bun Seng lalu memutuskan pergi ke Padang, Sumatera Barat, dan menikahi Hu Chung Ying. Dari sana ia pindah ke Kalimantan Barat untuk bekerja menjadi guru. Namun tidak lama ia kembali ke Padang. Sekitar tahun 1944, ia bersama sejumlah kalangan etnis Tionghoa lainnya ikut melakukan pergerakan melawan kekuasaan Jepang. Setelah kemerdekaan, Sho Bun Seng bergabung dengan Batalion Pagar Ruyung. Ia ditugaskan selama beberapa tahun di Kalimantan, khususnya Pontianak, Singkawang, dan sekitarnya. Pada 1950-an, ia mendapat tugas ke Tasikmalaya dan Ciamis, Jawa Barat. Di sana ia membantu operasi militer menumpas pemberontakan DI/TII. Pada 1958, Sho Bun Seng memutuskan pensiun dari urusan kemiliteran. Pada tahun-tahun berikutnya Sho Bun Seng lebih aktif di industri hiburan yang pernah digelutinya dahulu. Atas jasa-jasanya, baik selama masa pendudukan Jepang maupun ketika aktif di kemiliteran, Sho Bun Seng mendapat Bintang Satya Lencana Peristiwa Aksi Militer Pertama dan Satya Lencana Perang Kemerdekaan Kedua. Ia juga mendapat surat tanda jasa pahlawan dari Presiden Sukarno. Serta Satya Lencana Gerakan Militer Kelima. Pada September 2000, Sho Bun Seng meninggal dunia. Jasadnya lalu dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Ferry Sie King Lien Ferry Sie King Lien lahir pada 1933 dari keluarga pemilik pabrik gelas tersohor di Kartodipuran, Surakarta, Jawa Tengah. Ia merupakan satu dari sedikit Tentara Pelajar dari kalangan Tionghoa yang ikut mengangkat senjata pada pertempuran di Solo tahun 1949. Bersama empat orang rekannya, Soehandi, Tjiptardjie, Salamoen, dan Semedi, Ferry Sie King Lien mendapat tugas khusus dari kesatuannya, yakni memberikan dorongan moril kepada rakyat untuk sama-sama berjuang mempertahankan kemerdekaan. Diceritakan Iwan Sentosa dalam Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran: Sejak Nusantara sampai Indonesia , cara Ferry Sie King Lien dalam menjalankan misinya adalah dengan mencoret-coret tembok dan menyebarkan selebaran berisi ajakan melawan tantara Belanda kepada seluruh rakyat Solo, serta menembaki markas-markas pasukan Belanda. Setiap malam ia dan kawan-kawan dari gerilyawan malam Sektor A Rayon V, Subwehrkreis 106 Arjuna keluar melancarkan aksi berbahayanya itu. Para gerilyawan malam ini akan mengincar tempat-tempat yang strategis di seluruh penjuru kota. Mereka secara khusus menggunakan bahasa Inggris dan Belanda dalam setiap coretannya untuk menunjukkan bahwa perjuangan tersebut dilakukan oleh orang-orang terpelajar. Dalam buku Peranakan Idealis: dari Lie Eng Hok sampai Teguh Karya , ada sebuah coretan di tembok yang cukup berpengaruh dalam proses menaikkan moril rakyat pada masa-masa perjuangan ini. “Eens komt de dag dat Republik Indonesia zal herrijzen ” yang artinya "pada suatu hari Republik Indonesia akan timbul kembali". Pada malam 14 Juli 1949, saat hendak melakukan misinya, Ferry Sie King Lien datang menemui Camat Pemerintah Gerilya Kaonderan Serengan RM Sumardi. Ia bermaksud mengajak si camat untuk memimpin pasukan gerilya malam itu. Namun Sumardi menolak karena menurutnya malam itu adalah “hari musibah” dalam perhitungan primbon Jawa. Meski mendengar hal itu, Ferry Sie King Lien dan sejumlah TP tetap melanjutkan misinya. Namun tanpa diduga sebelumnya, pasukan Belanda bersenjata lengkap memergoki mereka di sebelah selatan Singosaren. Ferry Sie dan kawan-kawan lainnya diberondong oleh senjata berat. Mereka berusaha mencari perlindungan. Naas, Ferry dan Soehadi tertembak. Keduanya tewas seketika. Sementara tiga orang lainnya dari pasukan gerilya Subwehrkreis berhasil meloloskan diri dan selamat. Atas jasa-jasanya, Ferry Sie King Lien dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Jurug, Solo. Ia tercatat sebagai satu-satunya warga keturunan Tionghoa yang dipusarakan di sana. Tjia Giok Thwam Ia dilahirkan di Surabaya, Jawa Timur, pada 1927. Ketika usianya baru menginjak 18 tahun, Tjia Giok Thwam tergabung dalam regu pasukan penggempur Pasukan 19 CMDT (Corps Mahasiswa Djawa Timur). Ia ikut angkat senjata dalam sejumlah pertempuran di Jawa Timur mengusir penguasaan kembali Belanda atas wilayah tersebut. Pada 10 April 1950, Tjia Giok Thwan menyelesaikan pengabdiannya sebagai pasukan gerilya CMDT. Atas persetujuan komandannya, Kastam Prayitno, Tjia Giok Thwan resmi mundur dengan pangkat terakhirnya Letda (Letnan Dua). Ia lalu melanjutkan studi kedokteran di Universitas Airlangga, Surabaya. Pada 5 Oktober 1958, berdasarkan SK Menteri Pertahanan RI, Tjia Giok Thwan menerima Satya Lencana Perang Kemerdekaan Kedua. Kemudian pada 10 November 1958, ia menerima Tanda Jasa Pahlawan sebagai anggota Veteran RI. Tjia Giok Thwan juga menerima Satya Lencana Gerakan Operasi Militer Kesatu pada 29 Januari 1959. Tjia Giok Thwan meninggal dunia pada 1 Maret 1982 (55 tahun) di Malang akibat sakit jantung yang dideritanya. Hingga akhir hayatnya, Tjia Giok Thwan menjabat Kepala Rumah Sakit Jiwa Pusat Sumber Porong sejak 1967. Ia dimakamkan di TMP Suropati, Malang. Jenazahnya ditempatkan di dalam peti berhiaskan bendera merah putih. Pelepasannya pun dilakukan menggunakan upacara kemiliteran.

  • Tamparan Jenderal Mitro

    Pasca G30S 1965, terjadi serangkaian pergantian pejabat teras dalam Staf Umum Angkatan Darat (SUAD). Brigadir Jenderal Soemitro menggantikan Mayor Jenderal Djamin Gintings untuk posisi Asisten II/Operasi Menpangad. Soemitro yang semula menjabat Panglima Kodam Mulawarman di Kalimantan Timur lantas ditarik ke Jakarta. Promosi ini pun membuat perwira berbadan tambun itu naik pangkat menjadi mayor jenderal. “Keadaan di Indonesia sedang goncang, khususnya AD sedang mendapat ujian berat,” kenang Soemitro dalam memoar Soemitro: Dari Pangdam Mulawarman sampai Pangkopkamtib yang disusun Ramadhan K.H. Menurut Herman Sarens Sudiro, keadaan keamanan saat itu memang mencekam. Herman adalah anak buah Soemitro yang menjadi perwira pembantu bidang operasi dan kepala biro hubungan antar angkatan SUAD. Dalam operasi penumpasan G30S, Letnan Kolonel Herman Sarens ditunjuk sebagai komandan satuan tempur. Bersama pasukannya, Herman kerap kali melakukan patroli keliling Jakarta maupun konsinyasi markas dengan berkonvoi panser.   Sekali waktu Herman memimpin konsinyasi. Setelah berkeliling Jakarta, jip yang ditumpangi Herman bersama lima panser pengiringnya pulang lewat Jalan M.H. Thamrin dan Jalan Jenderal Sudirman. Di sekitar Jalan Sudirman kendaraan Herman menyalip sedan Station  milik Soemitro. Herman sempat memberi hormat kepada Soemitro lalu konvoinya pun berlalu. Namun setiba di kediamannya di Jalan Daksa, Herman dikejutkan dengan ribut-ribut yang terjadi di antara awak pansernya. Herman segera keluar menanyakan kepada seorang anggota jaga. “Panser yang terakhir menabrak mobil, Pak,” jawab salah seorang prajuritnya. “Mobil yang mana,” tanya Herman penasaran. “Mobil Station hijau, Pak,” jawab sopir panser sambil merinci terjadinya tabrakan, “mobil tersebut terbalik, Pak.” “Hei lu gila! Itu mobil Jenderal Soemitro! Semua kumpul!” Herman memerintahkan mereka menghadap Mitro sebagaimana dituturkannya dalam memoarnya Ancemon Gula Pasir: Budak Angon Jadi Opsir  yang disusun Restu Gunawan. Kepada sopir yang menabrak, Herman menginstruksikan agar tidak menjawab Mitro dengan berhadapan mulut. Herman tahu mereka barusan minum bir dan itu tidak dibenarkan. Tapi di kalangan awak pansernya minum bir biasa dilakukan untuk menghangatkan badan usai patroli malam.   Setiba di lokasi kejadian penabrakan, ternyata mobil Soemitro telah dibawa. Rombongan Herman pun bergegas ke rumah Soemitro di Jalan Iskandarsyah. Di sana, Nyonya Mitro memberitahu bahwa suaminya pergi ke Jalan Daksa menuju kediaman Herman. Beruntung tidak ada terjadi sesuatu yang parah menimpa Soemitro. Herman tiba di Jalan Daksa pukul 04.00 pagi. Pos penjagaan kosong karena menghindari kemarahan Soemitro. Tampak Soemitro mengenakan pakaian preman duduk sendirian di atas meja tulis pos penjagaan. Herman segera menghadap dan melapor. Dia pun mempertemukan Mitro dengan awak panser yang menabrak mobilnya.    "Siap! Saya Sersan Komandan Kendaraan!” jawab Komandan Kendaraan setelah dipanggil. “Kamu merasa menabrak mobil?” tanya Mitro. “Siap! Saya perintahkan berhenti, tetapi mobil jalan terus!” “Bagus….bagus…! Mana sopirnya?” ujar Mitro. Sopir pun dipanggil. “Siap! Saya Prajurit Satu pengemudi panser!” jawab sopir. “Hei.. Kamu minum bir, hah?!” teriak Mitro sambil memerintahkan sopir membuka mulut. “Kenapa kamu tidak berhenti?” “Siap! Saya mengejar komandan! Komandan jalan duluan! Saya takut ketinggalan,” demikian jawaban polos sang sopir. Raut wajah Mitro memperlihatkan aura emosi. Tamparan pun melayang ke wajah si prajurit satu yang menjadi sopir panser. Herman segera memegang sang prajurit serta pistol yang ada di pinggangnya. Berjaga-jaga kalau sang prajurit gelap mata. “Kita masuk dulu, Pak. Sudah disediakan minum,” bujuk Herman menenangkan suasana. Mitro tidak menjawab tetapi mengikuti ajakan tersebut. Beberapa hari kemudian, Herman membawa sopir panser yang kena gampar itu untuk sowan ke kediaman Soemitro sekedar minta maaf. Menurut Herman, Mitro terlihat gembira dan seperti melupakan kejadian penabrakan tempo hari. Pada akhir pertemuan, Soemitro berpesan kepada awak panser kalau minum bir untuk menghangatkan badan jangan terlalu banyak.

  • Wing Chun Lahir dari Masa Pergolakan

    TIADA pasang kuda-kuda berlebihan. Teriakan pemacu semangat dan adrenalin khas kungfu pun tak dilantangkan. Dengan tenang serangan lawan dipatahkan. Diam-diam menghanyutkan setiap lawan. Tiap gerakannya efektif, cepat, dan mematikan saat pertarungan jarak dekat. Begitulah ciri khas Ip Man, guru besar wing chun. “Karena setiap gerakannya harus rileks. Perhatikan, di film-filmnya pun Ip Man (diperankan Donnie Yen, red. ) enggak ada teriakan sama sekali. Memang wing chun terkenalnya close combat  (pertarungan jarak dekat). Enggak pakai awalan (kuda-kuda, red. ), enggak pakai tarikan baru pukul seperti beladiri lain. Dari depan langsung pukul. Keistimewaan wing chun memang begini,” ujar Sifu Martin Kusuma, salah satu pendiri Tradisional Ip Man Wing Chun (TIMWC) Indonesia, kepada Historia. Sejak 2008, kungfu aliran wing chun booming  di Asia hingga Amerika seiring dirilisnya sejumlah film drama- action  yang menonjolkan karakter Ip Man. Utamanya yang diperankan Donnie Yen, yang seri terakhirnya, Ip Man: The Finale,  tayang di bioskop-bioskop Indonesia sejak 1 Januari 2020. Sejatinya, wing chun dikenal luas di berbagai penjuru dunia berkat Bruce Lee yang mempopulerkannya pada 1960-an. Namun sepeninggal Bruce Lee, beladiri tenggelam seiring maraknya film-film laga Mandarin yang mempertunjukkan kungfu aliran lain. Padahal sebagaimana aliran lain, wing chun punya sejarah panjang dan akarnya sama-sama dari kungfu Shaolin. Muasal Wing chun atau kadang dituliskan Ving Tsun hingga kini masih samar muasalnya. Siapa penciptanya dan kapan beladiri itu muncul, belum diketahui pasti. Yang beredar masih berupa legenda. Mengutip An Exposé on Wing Chun Kung Fu oleh Sifu Linda Baniecki, legenda paling dipercaya adalah wing chun merupakan beladiri yang diciptakan biksuni Shaolin bernama Ng Mui di masa Kaisar Jiaqing (periode 1796-1820) dari Dinasti Qing. Legenda itu bermula dari kisah gadis di Liancheng bernama Yim Wing Chun, yang merupakan putri dari Yim Yee, pelarian biksu Shaolin asal Quanzhou. Saat itu, kuil-kuil Shaolin di utara acap jadi sasaran untuk dimusnahkan oleh Dinasti Qing. Para biksu pelarian banyak yang berpencar ke selatan, sebagaimana Yim Yee. Ilustrasi Yim Wing Chun kala belajar beladiri dari Ng Mui sebagai kisah legenda asal-usul wing chun (Foto: ipmanwingchun.sg ) Dalam perjalanan waktu, Yim Wing Chun menjalin kasih dengan Leung Bok Chau.  Namun, asmara mereka diusik oleh lamaran penguasa lokal yang juga jatuh hati pada Yim. Sang penguasa yang jago kungfu itu mempersilakan Yim menolak pinangannya dengan syarat bisa mengalahkannya bertarung. Yim pun frustrasi. Masa depan Yim diselamatkan takdir kala ia bertemu biksuni bernama Ng Mui. Mui mengajarinya beladiri dengan berbeda, yakni beladiri jarak dekat yang konon merupakan cikal bakal wing chun. Bermodal beladiri baru dari Ng Mui itu, Yim berhasil mengalahkan sang penguasa lokal. Leung Bok Chau yang lantas jadi suaminya juga diajari beladiri yang sama. Leung lalu menamakan beladiri itu kungfu wing chun, untuk menghormati istrinya. Versi tersebut berbeda dari versi Bruce Thomas. Dalam bukunya Bruce Lee: Fighting Spirit , Thomas menyebut wing chun sudah lebih dulu ada sebelum disebarkan Ng Mui. Beladiri itu diciptakan para biksu Shaolin dari falsafah Yin (kekuatan eksternal) dan Yang (kekuatan internal) untuk melawan rezim Dinasti Qing di masa pergolakan dan perang saudara, sebelum Dinasti Qing mengalahkan penguasa sebelumnya, Dinasti Ming (1368-1644). Para tetua Shaolin, sambung Thomas, meracik beladiri itu dengan memadukan Yin (kelembutan dan fleksibilitas) dan Yang (kekuatan) sehingga wajahnya perpaduan antara teknik cepat, power, anggun, dan fleksibel. Para tetua Shaolin bersepakat beladiri baru itu paling cocok untuk pertarungan jarak dekat. “Para tetua Shaolin menamai aula-aula di kuil mereka dengan metode pertarungan itu dengan dengan nama Aula Wing Chun yang punya dua arti, yakni ‘harapan masa depan’ atau ‘musim semi abadi’. Namun pada 1768 sebelum metode baru ini bisa dipraktikkan untuk para murid mereka, orang-orang Mancuria menyerang kuil Shaolin dan menghancurkannya,” ungkap Thomas. Beberapa tetua yang berhasil menyelamatkan diri adalah Ng Mui. Selebihnya, versi Thomas kisahnya serupa dengan versi legenda. Kebenaran dua versi itupun masih punya kelemahan. “Jadi sebenarnya Ng Mui sebagai biksuni Shaolin dan diajarkan ke Yim Wing Chun bukan tokoh yang sebenarnya, cuma legenda saja. Itu hanya filosofi saja, bahwa kita yang mempraktikkan wing chun harus rileks dan gerakannya lembut seperti perempuan. Bukan berarti yang menciptakan itu Ng Mui dari Shaolin karena Shaolin enggak ada perempuan. Ibaratnya, Shaolin itu pesantren putra,” sambung Sifu Martin. Wing chun, sebut Martin, diciptakan para biksu Shaolin sebagai metode beladiri baru untuk memberi perlawanan di masa Dinasti Qing memang benar. Namun siapa individu penciptanya, sebagaimana yang diketahui Martin kala mempelajari historisnya kala dilatih Ip Ching, putra bungsu Ip Man, di Hong Kong beberapa tahun silam, hingga kini masih misterius. “Diceritakan bahwa historisnya, orang-orang Shaolin yang kabur itu bersembunyi dan menyamar di Red Boat Opera. Mereka pelajari beladiri baru itu di sana sembari menyamar karena pakai beladiri Shaolin yang sama mereka enggak bisa menang,” lanjutnya. Sementara, tulis Baniecki, bukti tertulis tertua adalah mengenai eksistensi praktisi wing chun pertama. Dialah Li Wenmao, aktor opera perahu merah cum pemimpin Pemberontakan Turban Merah (1854-1856) di Foshan. “Tetapi kemudian adalah Leung Yee Tai, Wong Wah Bo, dan Dai Fa Min Kam, tiga anggota Red Boat Opera yang mendirikan fondasi wing chun, baik gerakan-gerakan latihan maupun senjata. Murid mereka yang paling dikenal kemudian adalah ahli medis Dr. Leung Jan yang bekerja di Foshan,” sebut Baniecki. Garis warisan wing chun yang dikembangkan Ip Man dari masa ke masa (Foto: Repro "Tradisional Ip Man Wing Chun") Wing chun berkembang pesat lewat Ip Man. Menurut Martin, Ip Man mulanya mempelajari wing chun dari Chan Wah-shun, yang merupakan salah satu murid Leung Jan, pada medio 1905. Namun gegara Leung berhenti mengajarkan wing chun akibat kesehatannya memburuk, pada 1909 Ip Man berguru pada Ng Chung Sok, kemudian Leung Bik-wo yang merupakan salah satu putra Leung Jan. “Ip Man baru belajar sama Leung Bik ketika pindah ke Hong Kong pada 1950. Dari situ Ip Man punya ilmu wing chun yang style -nya gabungan dari Chan Wah-shun dan Leung Bik. Chan Wah-shun badannya besar jadi style -nya lebih ke power . Kalau Leung Bik orangnya kecil dan lebih ke teknik. Nah Ip Man wing chun-nya gabungan dari dua style itu,” kata Martin. Anak-anak dan para murid Ip Manlah yang lalu menyebarkan wing chun ke seluruh dunia, termasuk Bruce Lee yang lantas mengembangkannya jadi Jeet Kune Do. Ip Man sendiri, lanjut Martin, cenderung tertutup soal mengajarkan kungfu ke orang asing. “Memang dianya sendiri enggak mau. Kalau anak-anaknya atau murid-muridnya buka kelas untuk orang non-China, dia enggak masalah, asal dianya enggak,” sambungnya. Wing chun di Indonesia Meski sudah disebarkan para muridnya sejak 1960-an, wing chun baru ngetren lagi usai film Ip Man (2008). “Sebelum keluarnya Ip Man (2008), orang kenalnya Jeet Kune Do-nya Bruce Lee. Karena sulit sekali orang belajar wing chun. Salah satunya faktor bahasa. Wing chun karena asalnya dari Foshan di China Selatan, bahasanya Cantonese . Di Hong Kong orang juga jarang pakai bahasa Mandarin. Mereka tahunya Cantonese . Nah Mandarin saja orang asing jarang yang bisa, apalagi Cantonese ,” ungkap Martin. Namun, badan resmi yang menaungi wing chun sudah eksis sejak 24 Agustus 1967. Badan bernama Ving Tsun Athletic Association (VTAA) itu didirikan Ip Man dan murid-muridnya di Hong Kong. Dengan belajar dari Ip Ching, Martin Kusuma otomatis terdaftar di Ving Tsun Athletic Association (Foto: Fernando Randy/HISTORIA) Di Indonesia, kata Martin, wing chun sudah dipelajari beberapa orang Indonesia sejak medio 2008. Mereka adalah mahasiswa yang sedang studi di Eropa. Namun mereka kemudian tak menseriusinya. Hal ini membuat orang seperti Martin kesulitan mencari tempat ketika akan mempelajarinya. Martin sebetulnya sudah lama tahu tentang wing chun, sejak munculnya film-film Bruce Lee. “Tapi bingung mau belajar di mana. Lalu tahun 2009 ada teman-teman saya yang mengajak ikut latihan ke seorang guru yang katanya bisa mengajar wing chun. Kita belajar sama dia cuma empat bulan,” lanjutnya. Ternyata Martin tertipu. Sang guru yang enggan disebut namanya oleh Martin itu ternyata hanya tahu wing chun dari internet dan memanfaatkan booming- nya film Ip Man (2008) untuk menipu Martin. Baru pada 2010 Martin dan rekan-rekannya bisa belajar pada guru wing chun asli, Samuel Kwok. Bersama Arifin Asen, Abraham Nugroho, dan Dino Limawan, Martin sekaligus mendirikan persaudaraan bernama Brotherhood of Wing Chun (BoWC). “Kita bisa ketemu Samuel Kwok ketika mengadakan seminar dan pelatihan di Malaysia. Tapi hanya sampai 2012 karena sempat ada masalah dan merasa dizalimi, kita mengadu ke gurunya dia, Ip Ching, sampai akhirnya Ip Ching terima saya sebagai murid,” tutur Martin. Sifu Martin Kusuma (tengah) bersama para murid-muridnya (Foto: Repro "Tradisional Ip Man Wing Chun") Dengan menjadi murid Ip Ching, Martin otomatis resmi jadi orang Indonesia yang terdaftar sebagai anggota VTAA. Sementara, BoWC bertransformasi menjadi Tradisional Ip Man Wing Chun sebagai perguruan Wing Chun resmi pertama di Indonesia dan berbadan hukum, berdasarkan akta notaris nomor 5, tertanggal 6 Oktober 2014. “Kita pakai nama berbahasa Indonesia mengganti BoWC karena untuk proses legalitas itu. Kita pakai nama ‘tradisional’ pun karena kita diakui Grandmaster Siu Yuk Men (murid Ip Man) karena apa yang kami tampilkan sangat tradisional, sama dengan yang diajarkan Ip Man ke murid-muridnya.” Usai menjadi juara umum di Kejuaraan Dunia Wing Chun yang digelar VTAA, TIMWC yang punya cabang di 22 provinsi turut menggagas Federasi Wing Chun Indonesia pada 2016. “Tujuan berdirinya federasi untuk menaungi perguruan-perguruan (Wing Chun) lain. Saat ini sudah tujuh perguruan yang gabung ke federasi, walau sampai sekarang kita masih berusaha untuk bisa diakui KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) dan masuk PON (Pekan Olahraga Nasional),” tandas Martin.

  • Agen OSS yang Memihak Indonesia

    SETELAH Jepang menyerah, Amerika Serikat mengirimkan petugas OSS (Office of Strategic Services) ke Indonesia di bawah Mayor Frederick E. Crockett. Dia mendarat di Jakarta bersama pasukan Sekutu pada 15 September 1945. Dia memimpin Operasi ICEBERG yang bertujuan untuk memulangkan tawanan perang Amerika Serikat dan membangun stasiun intelijen di Indonesia.

  • Jejak Keberagaman Bangsa di Sam Poo Kong

    Hubungan Nusantara dengan Tiongkok telah terjalin berabad-abad lamanya. Catatan perjalanan musafir Tiongkok mengungkap adanya hubungan dagang antara kerajaan Nusantara dan Tiongkok pada abad ke-7. Letak Nusantara begitu strategis, bagian dari Jalur Sutra, tempat singgah pedagang-pedagang dari utara. Termasuk pedagang Arab dan India. Para pengunjung beristirahat di Klenteng Sam Poo Kong, Semarang. (Fernando Randy/Historia). Selama berabad-abad itu, rombongan pedagang dan utusan resmi kerajaan di Tiongkok silih berganti mendatangi Nusantara. Salah satu cerita kedatangan rombongan yang cukup terkenal adalah rombongan Laksamana Sam Poo Tay Djien, atau lebih dikenal dengan sebutan Cheng Ho.  Patung Laksamana Cheng Ho berdiri gagah di halaman Sam Poo Kong. (Fernando Randy/Historia). Saat akan mendatangi beberapa wilayah di Jawa, Cheng Ho sempat berlabuh di Bukit Simongan, wilayah pesisir utara Jawa bagian Tengah, sekarang dikenal Semarang. Salah satu juru mudi sekaligus orang kepercayaannya, Wang Jing hong, menderita sakit keras sehingga harus diturunkan. Bersama itu pula, sejumlah awak kapal turun untuk merawat Wang Jing Hong di suatu tempat. Cheng Ho lalu melanjutkan perjalanannya.  Wisatawan mancanegara mengamati kisah berdirinya Sam Poo Kong. (Fernando Randy/Historia). Gua Batu tempat berdoa sekaligus mengenang kebaikan Cheng Ho. (Fernando Randy/Historia). Sekarang tempat perawatan Wang Jing Hong bernama kawasan Klenteng Sam Poo Kong. Setelah sembuh, Wang Jing Hong yang beragama muslim mulai menyebarkan agama Islam di Semarang. Kepada penduduk, dia juga menceritakan berbagai kisah kehebatan Laksamana Cheng Ho.  Relief yang menceritakan kebaikan Cheng Ho. (Fernando Randy/Historia). Suasana di dalam Sam Poo Kong. (Fernando Randy/Historia). Sebagai penghormatan kepada Cheng Ho, Wang Jing Hong membangun sebuah arca. "Diletakkan di Gua Batu. Arca tersebut untuk mengenang kebaikan dan kehebatan Laksamana Cheng Ho," ujar Chandra Atmaja (65), ketua Yayasan Klenteng Agung Sam Poo Kong. Gua Batu adalah sebutan lain untuk Klenteng Sam Poo Kong. Disebut begitu sebab dulunya tempat itu menyerupai gua besar. Umat yang sedang berdoa di Sam Poo Kong. (Fernando Randy/Historia). Sam Poo Kong bukan saja kental oleh nuansa budaya Tiongkok, tapi juga terisi penuh oleh ide penghargaan terhadap keberagaman agama pada masa lampau. Sam Poo Kong menjadi tempat ibadah bagi para penganut Taoisme, Buddhisme, dan Konfusianisme. Umat saat beribadah di Sam Poo Kong. (Fernando Randy/Historia). Salah satu patung di sudut Sam Poo Kong. (Fernando Randy/Historia). Sekarang Sam Poo Kong berkembang lebih dari tempat ibadah. "Sam Poo Kong kini terbuka bagi semua pemeluk agama. Dulu memang hanya tempat beribadah untuk warga keturunan Tionghoa. Kini kami membukanya baik untuk wisata maupun untuk berbagai kegiatan yang positif. Itulah salah satu cara kami untuk mempopulerkan wisata budaya Sam Poo Kong," lanjut Chandra.  Seorang pekerja sedang membersihkan klenteng Sam Poo Kong. (Fernando Randy/Historia). Salah satu patung berdiri gagah di halaman Sam Poo Kong. (Fernando Randy/Historia). Sam Poo Kong masih berdiri kokoh di jantung kota Semarang. Ia menyisakan pelajaran tentang pentingnya penghargaan terhadap sesama kelompok masyarakat.

  • Villa Isola, dari Vila Mewah hingga Sunda Empire

    Belum lama ini beredar video yang merekam kegiatan kelompok Sunda Empire di taman dekat Villa Isola, Bandung. Dalam tayangan Indonesia Lawyer Club, Rangga Sasana, salah seorang petinggi Sunda Empire mengklaim kalau Isola adalah tempat lahirnya Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Ia sendiri mengaku menjabat sebagai The Heeren Zeventien atau Panitia 17 di kekaisaran itu. “Isola itu apa tadi? Itu salah, memang benar isola itu International Soldier Leader. Itu lahirnya NATO di sana. Itu artinya belum mengenal sejarah,” katanya membantah pernyataan Roy Suryo dalam acara yang sama. Sebelumnya, KRMT Roy Suryo sebagai kerabat Pakualaman dalam diskusi itu menjelaskan kalau Villa Isola dibangun pada 1933 oleh Willem Barretty. Bangunan ini dibangun untuk mengisolasi penggunanya. “Dia orang yang agak introvert . Makanya ditulis dalam ruangannya dulu m’isolo e vivo , artinya dia mengisolasi dirinya sendiri. Bukan kemudian diterjemahkan menjadi International Soldier and Leader of the World. Ini pikiran yang menurut saya terlalu berlebihan,” ujarnya. Dominic Willem Berretty adalah pemilik pertamanya. Seorang Indo-Eropa yang terkenal di masyarakat Hindia Belanda. Ayahnya keturunan Italia-Prancis. Ibunya keturunan Jawa di Yogyakarta. Menurut C.J. van Dullemen dalam Arsitektur Tropis Modern: Karya dan Biografi C.P. Wolff Schoemaker, sebagai raja surat kabar yang kaya raya, Berretty suka berkelahi dan “juara dalam seni halus membuat musuh. Karenanya dalam masyarakat Hindia Belanda yang penuh gosip, Berretty sering merasa harus mundur dan mempertahankan diri.” Maka, tepat ketika di dinding di atas aula Villa Isola diukir moto Italia berbunyi M’isolo e Vivo. Artinya saya mengisolasi diri saya sendiri dan kehidupan. “Ciri ini tercermin dalam penampilan vila. Hal ini semakin ditekankan oleh moto Italia itu dan nama vila yang berasal dari bahasa Italia, ‘Isola’, artinya ‘pulau’,” jelas Dullemen. Dari sisi gaya, Villa Isola menarik sebagai sebuah kreasi Art Deco bergaya ramping. Ia lebih mirip Gedung Amerika dibanding Indonesia maupun Belanda. Sayangnya, demikian terkenalnya Berretty, nama arsitek pembangun Villa Isola justru tak diketahui. “Terdapat kekosongan dalam sejarah arsitektur karya para arsitek Belanda di Hindia Belanda, dengan kata lain arsitektur kolonial,” tulis Dullemen.   Baru pada 1984, Dullemen menemukan sebuah artikel tentang Berretty dalam sebuah edisi mingguan Belanda, Panorama. Di dalamnya, C.P. Wolff Schoemaker disebut sebagai arsitek Villa Isola. Pencarian Dullemen ternyata tak mudah. Rumah dan Studio Wolffman jadi korban pengrusakan para pejuang selama periode revolusi yang kacau seusai Jepang menyerah. Gambar-gambar Villa Isola pun hangus menjadi abu akibat kebakaran yang menghancurkan rumahnya. Perancang Misterius Bagi Charles P. Wolff Schoemaker (1882-1949), Villa Isola bisa dibilang merupakan salah satu penugasan paling sulit dan banyak dipublikasikan. Menurut Dullemen, Wolff Schoemaker merupakan salah satu arsitek Belanda yang paling penting dalam memodernisasi lanskap perkotaan di Indonesia masa kolonial. Selain Villa Isola, karya terkenalnya adalah Gedung Jaarbeurs dan Grand Hotel Preanger di Bandung. Wolff Schoemaker lahir di Indonesia dan dilatih sebagai arsitek di Belanda. Kariernya dimulai dengan menjadi insinyur militer di Hindia Belanda. Kemudian ia menjadi kepala Departemen Pekerjaan Umum Batavia. Wolff Schoemaker bersama saudaranya, Richard Schoemaker, membuka biro arsitektur pada 1918. Namun, enam tahun kemudian perusahaannya ditutup. Ia sepenuhnya menjadi profesor arsitektur Technische Hogeschool di Bandung (sekarang menjadi ITB), di mana salah satu mahasiswanya adalah Sukarno. Sembari mengajar, Wolff Schoemaker terus bekerja sebagai arsitek independen. Karya-karyanya yang paling terkenal berasal dari periode ini.  “Apa yang akhirnya membuatnya menjadi orang buangan dari komunitas Eropa adalah persahabatan abadinya dengan Sukarno, yang bahkan berlanjut setelah Proklamasi kemerdekaan,” catat Dullemen. Wolff Schoemaker dan Berretty cukup lama saling mengenal. Pada awal 1920-an, keduanya bertugas dalam komite yang terlibat dalam pendirian Jaarbeurs Bandung. “Hindia Belanda dapat diibaratkan sebagai sebuah desa besar yang di dalamnya semua orang saling mengenal,” jelas Dullemen. “Mudah membayangkan pada suatu pagi Berretty mampir ke kediaman Wolff dan menyampaikan rancangannya.” Villa Isola terlihat dari atas, sekira tahun 1937. (Wikipedia). Ambisi Berretty Berretty awalnya sedang mencari tanah untuk membangun sebuah bungalow sederhana di antara Bandung dan Lembang. Ambisinya melahirkan Villa Isola hingga hampir membuatnya menjadi pengemis. “Gosip jahat mengaitkan gedung dengan fakta bahwa Berretty telah menjual dirinya sendiri kepada orang Jepang,” jelas dia. Pada Maret 1933, Vila mulai dibangun oleh biro Algemeen Ingenieurs en Architecten (AIA) yang juga membangun Koloniale Bank di Surabaya. Gedung itu telah siap pada Desember 1933. Villa Isola tak sekadar tempat rekreasi bagi keluarga Berretty. Karena jaraknya tak terlalu jauh dari Batavia, vila itu juga menyediakan ruang kerja baginya yang gila kerja dan hunian bagi sekretarisnya. Karena megahnya, vila itu kemudian sering disebut istana. Dana untuk membuatnya juga tak sedikit, mencapai 500.000 gulden. “Jumlah ini tegolong luar biasa besar kala itu, khususnya di daerah koloni,” kata Dullemen. “Sebagai perbandingan, total kontrak untuk Grand Hotel Preanger adalah 325.000 gulden.” Kendati begitu, Berretty tak bisa lama menikmati vila ini. Dia hampir bangkrut ketika vila selesai dibangun. Alasan itu juga yang mendorongnya pergi ke Eropa untuk mencari kesempatan baru. Namun, nasibnya nahas. Ia sebenarnya ingin tiba di Bandung ketika Natal pada 1934. Namun, pesawat Uiver yang membawanya pulang tak pernah tiba di Batavia. Pesawat itu terjebak di badai pasir hebat dekat Baghdad, lalu jatuh di padang pasir. Semua penumpangnya tewas. Berubah-ubah Fungsi Sepeninggal Berretty, Villa Isola dibeli pemilik Hotel Savoy Homann. Vila ini diubah menjadi pavilion mewah dengan nama Hotel Isola. Tak lama sebelum pecahnya Perang Dunia II, villa itu diambil alih pemerintah. Ia digunakan sebagai markas besar Mayor Jenderal Pesman, Komandan Divisi Angkatan Darat Bandung. “Villa Isola kabarnya terkena ledakan bom, ketika terjadi pertempuran hebat di sisi utara Bandung dalam hari-hari terakhir sebelum kapitulasi,” jelas Dullemen. Jepang pernah beberapa kali meminta gambar Villa Isola kepada Wolff Schoemaker. Rencananya mau direnovasi untuk akomodasi seorang perwira tinggi Angkatan Darat. Tapi tak jadi. Villa Isola terbengkalai selama tahun pertama pendudukan Jepang. Akhirnya, pada 8 November 1943 gedung ini dibuka oleh pasukan Jepang dengan upacara besar sebagai museum perang dan kemenangan Jepang. Villa Isola kemudian sempat dipakai untuk Kongres Pemuda pada 16-18 Mei 1945. Menurut sejarawan Universitas Gadjah Mada, Suhartono W. Pranoto, dalam Kaigun, Angkatan Laut Jepang, Penentu Krisis Proklamasi , sekira 300 pemuda datang dari kota-kota di Jawa ke tempat itu untuk mendiskusikan politik sehubungan dengan menurunnya kekuatan militer Jepang di medan Pasifik. “Tak diragukan lagi kongres ini adalah atas prakarsa Angkatan Muda Bandung di bawah pimpinan Jamal Ali, Hamid, dan M. Tahir,” tulis Suhartono. Setelah Proklamasi kemerdekaan, gedung itu direstorasi sepenuhnya. Ia kemudian digunakan sebagai markas besar Divisi Siliwangi. “Nama Bumi Siliwangi masih dapat dilihat pada fasad,” kata Dullemen. Alwin Suryono, pengajar arsitektur di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, dalam “Conservation of Dutch Colonial Architecture Heritage on Rectorate Building of Education University of Indonesia in Bandung” termuat di Journal of Basic and Applied Scientific Research 2013 , menjelaskan pada 1954, Villa Isola kemudian difungsikan sebagai kampus Universitas Pendidikan Guru. Saat itu dilakukan perbaikan bangunan. Ruang interior dan lantai atap diubah, disesuaikan dengan ruang kuliah. Lalu pada 1996, gedung itu difungsikan sebagai kantor rektor. “Bangunan ini lebih bermakna sebagai tempat tinggal yang bisa melihat pemandangan alam sekitar, cocok bernama Villa,” tulis Alwin. Di atas segalanya, menurut Dullemen, Villa Isola adalah sebuah kendaraan yang ingin digunakan Berretty untuk membuat orang-orang di sekelilingnya terkesan: “Berretty ingin menunjukkan bahwa walaupun dia adalah seorang Indo-Eropa, dia dapat melampaui posisi yang dikhususkan untuk kelompok ini.”

  • Gan Thwan Sing, Pencipta Wacinwa

    Berbeda dengan teman-temannya yang kebanyakan memilih profesi sebagai pedagang, Gan Thwan Sing, seorang Tionghoa peranakan yang tinggal di Yogyakarta justru menggeluti wayang kulit. Hingga di kemudian hari, ia menciptakan wayang kulit Cina-Jawa, Wacinwa. Gan Thwan Sing lahir di Jatinom, Klaten, pada 1885. Sejak muda, ia tinggal bersama kakeknya, Gan Ing Kwat yang masih Sinke  (Tionghoa totok). Kakeknya mengajarkan bahasa dan aksara serta cerita-cerita rakyat Tiongkok. “Gan Thwan Sing muda hafal berbagai bentuk dan wajah tokoh legenda Tiongkok yang dilihatnya secara berulang-ulang dalam buku-buku kakeknya,” sebut Dwi Woro Retno Mastuti dalam “ Wayang Kulit Cina-Jawa Yogyakarta”  yang termuat dalam buku Tionghoa dalam Keindonesiaan . Pada awal abad ke-20, Gan Thwan Sing pindah ke Yogyakarta. Kala itu, kebanyakan temannya berprofesi sebagai pedagang. Namun, ia memilih menekuni seni pedalangan dan karawitan. Tak lama setelah tinggal di Yogyakarta, Gan Thwan Sing menjadi artis sandiwara dalam organisasi teater amatir yang dibentuk orang-orang Tionghoa peranakan. Dalam kesibukannya main sandiwara, ia tetap berlatih seni pedalangan gaya Yogyakarta. Ia juga tekun mempelajari bahasa dan aksara Jawa. Pada 1920-an, Gan Thwan Sing memunculkan gagasan untuk membuat wayang kulit model baru. Sebuah pertunjukan wayang kulit yang mengangkat cerita rakyat Tiongkok, namun tetap dengan tata cara pagelaran wayang kulit Jawa. “Gagasan yang dilahirkannya itu merupakan perpaduan serasi dari dua aspek yang mempunyai latar belakang berbeda. Aspek pertama adalah alam pakeliran Jawa. Aspek kedua adalah alam legenda Cina,” tulis Bambang Soelarto dan S. Ilmi Albiladiyah dalam Wayang Kulit Jawa-Cina di Yogyakarta. Konsep wayang kulit yang dikenal sebagai wayang kulit Cina-Jawa atau Wacinwa itu dimatangkan dengan penulisan beberapa buku lakon. Buku lakon dibuat mengikuti buku lakon wayang kulit Jawa gaya Mataraman serta dituliskan dalam bahasa dan aksara Jawa. Namun, ceritanya digubah dari cerita rakyat Tiongkok kuno yang populer dalam masyarakat Tionghoa di Jawa. Awalnya, Gan Thwan Sing membuat dulu desain tokoh-tokoh setiap lakon. Ia lalu menghubungi Oey See Toan. Pedagang kaya yang menggemari seni pertunjukan tradisional itu bersedia membiayainya. Gan Thwang Sing pun berhasil membuat sekitar 200 buah wayang. Ada yang dibuat dari kulit kerbau, ada pula yang dibuat dari kertas. Ia juga membuat alat-alat untuk melengkapi pertunjukan wayang seperti kotak wayang, cempala (alat untuk memukul-mukul kotak wayang) , kepyak, ketir , dan blencong . Berbarengan dengan pembuatan set wayang dan peralatannya, Gan Thwan Sing juga menyelesaikan buku lakon yang ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa. Setidaknya, ia menulis sembilan judul buku lakon, yakni Siek Jin Kui Ceng Tan, Siek Jin Kui Ceng See, Thig Jing Ngo Ha Ping She ( Rahabenipun Raja Thig Jing ), Cap Pek Law Wan Ong, Hong Kio Lie Tan, Law Kim Ting, Seek Yu (Sang Prajaka), Pat Sian (Delapan Dewa), dan Sam Kok (Tiga Negeri). Setelah semua wayang, buku lakon dan peralatan siap, Gan Thwan Sing kemudian mulai latihan bersama para niyaga (penabuh karawitan) dan sinden. Ia sendiri yang menjadi dalang. Theodore G. TH. Pigeaud, peneliti sastra Jawa dari Belanda, menyebut Gan Thwan Sing memiliki sejumlah besar perbendaharaan kata-kata serta telah benar-benar mengenal idiom pedalangan. “Ia bersusah payah untuk membuat reproduksi bunyi-bunyi huruf-huruf Cina setepat mungkin dengan huruf Jawa yang tersedia padanya,” jelas Pigeaud, sebagaimana dikutip Bambang dan Ilmi. Memasuki tahun 1925, pertunjukan Wacinwa ciptaan Gan Thwan Sing kian populer. Hingga tahun 1960, Wacinwa telah tersebar ke Surakarta, Semarang hingga berbagai daerah di Jawa Timur. Perkembangan pesat Wacinwa di berbagai daerah membuat Gan Thwan Sing harus menurunkan ilmu dalangnya. Ia kemudian memiliki empat murid, yakni Raden Mas Pardon, Megarsemu, Pawiro Buwang, dan Kho Thian Sing. Namun, semua muridnya meninggal dunia mendahului Gan Thwan Sing. Ia sendiri meninggal dunia pada 1966 dalam usia 81 tahun. Sebelum meninggal, Gan Thwan Sing sempat menjual sekotak Wacinwa kepada Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Sementara buku lakon yang tersisa, menurut Gani Lukito, anak Gan Thwan Sing, turut dimasukan ke dalam peti mati dan dibakar bersama jenazahnya. Sementara itu, berdasar penelusuran Dwi yang juga cucu Gan Thwan Sing, masih tersisa dua set wayang. Satu set berada di Museum Sonobudoyo Yogyakarta dan satu set lagi milik kolektor wayang Walter Angst di Jerman. Setelah 46 tahun kematiannya, tepatnya pada 23 November 2012, Gan Thwan Sing mendapat penghargaan Satyalencana Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

bottom of page