top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Masa Muda Kamerad Koba

    PADA 20 September 1906, kapal uap Tsarevich Giorgi berlayar dari Odessa menuju Batumi. Ia membawa penumpang dan harta benda yang cukup besar. Tanpa diketahui, sekelompok geng Bolshevik, dengan senapan dan granat tersembunyi di balik jubah berada di kapal dan melakukan pembajakan.

  • Cap Meong Masih Mengeong

    DI atas dua meja panjang, yang membentuk huruf “L”, kedua tangan Ekawati begitu cekatan. Bermodal gayung batok kelapa, tangan kanannya cepat mengambil adonan tauco dari gentong tanah liat, sedang tangan kirinya erat menggenggam botol “bermahkota” sebuah corong. Teliti menuang, sepersekian detik saja adonan kental beraroma khas itu berpindah ke dalam botol.

  • Mantra Riang Negeri Dongeng

    BELASAN anak-anak usia 3–6 tahun, umumnya perempuan, memasuki ruang Amadeus di lantai lima mal Ciputra, Jakarta. Dengan balutan seragam warna biru tua dan sepatu balet, mereka berlatih operet dengan iringan musik dari sebuah radio tape.

  • Akhir Pelarian Seorang Gundik

    TAK pernah terbayang oleh Apollonia, mimpinya berumah tangga dengan Thomas de Chiave, seorang mardijker (warga bebas), berujung malapetaka. Kebahagiaan yang dirasakannya hanya seumur jagung karena pernikahannya berakhir dengan perpisahan. Garis nasib kemudian mengubah hidupnya menjadi seorang wanita simpanan. Pengalaman pahit itu dialami Apollonia van Batavia di usia yang masih belia. Pertemuannya dengan Thomas mulanya dipandang sebagai jalan keluar dari kesulitan hidup sebagai seorang budak. Tak heran, Apollonia yang berusia 20 tahun menerima pinangan Thomas. Sejarawan Hendrik E. Niemeijer menulis dalam Calvinisme en koloniale stadscultuur, Batavia, 1619–1725 , pernikahan tersebut dilangsungkan di Gereja Melayu di Batavia pada 1656. Sayangnya, belum lama menjadi pasangan suami-istri, pernikahan itu harus dibubarkan karena sang suami terlilit utang.“Thomas terjerat utang karena meminjam terlalu banyak uang (35 ringgit) dari letnan Pampangers,” tulis Niemeijer. Baca juga:  Pedihnya Hidup dalam Belenggu Perbudakan dan Pergundikan Kesulitan ekonomi yang membelit Thomas diketahui oleh Evert Slocius, seorang kepala ahli bedah VOC. Sang dokter bersedia membantu Thomas dengan syaratApollonia yang cantik tinggal bersamanya selama dua tahun sebagai gundik. Syarat ini sesungguhnya bertentangan dengan keinginan Thomas maupun Apollonia.Namun, Thomas terpaksa menyetujui persyaratan yang diajukan Slocius agar dapat melunasi utangnya. “Thomas terpaksa setuju karena dengan demikian dia bisa bekerja untuk orang mardijker lain di kawasan Ommelanden di Batavia,” tulis Niemeijer dalam Batavia: Masyarakat Kolonial Abad XVII . Apollonia kemudian tinggal bersama sang dokter selama kurun waktu yang telah ditentukan. Meski Slocius tertarik dengan Apollonia, kehidupan wanita itu tak menjadi lebih baik usai menjadi gundik seorang Eropa. Apollonia diharuskan membayar “pemiliknya” itu sebesar dua ringgit setiap bulan. Menurut Michael Ketelaars dalam Compagniesdochters: Vrouwen en de VOC , agar dapat memenuhi permintaan Slocius, setiap hariApollonia membuat kue-kue yang kemudian dijual di gerbang kota pada pagi hari. Baca juga:  Derita Hidup Seorang Gundik Kawasan gerbang kota merupakan salah satu pusat keramaian di Batavia.Para pedagangmenjajakan dagangannya di sana. Kue-kue yang dijajakan Apollonia cukup menarik perhatian pembeli, salah satunya seorang budak bernama Aly van Tico. Aly terpikat oleh kecantikan Apollonia sehingga ia menjadi pelanggan tetapnya. Seiring berjalannya waktu komunikasi pun terjalin antara Apollonia dan Aly. Obrolan demi obrolan yang terjalin di sela-sela berjualan kue dan makanan membuat Apollonia terpikat pada pelanggan tetapnya itu. “Aly menjelaskan kepada Apollonia bahwa ia menginginkan lebih dari sekadar barang dagangannya. Jika Apollonia setuju untuk terlibat dalam ‘percakapan yang menarik dengannya’, Aly akan secara permanen memberinya pakaian serta uang tambahan,” tulis Ketelaars. Sementara itu, menurut Niemeijer, bagaimana hubungan tidak sebanding antara Apollonia dengan Slocius berlangsung tidak diketahui secara pasti, namun dapat ditebak dengan mudah tawaran yang diberikan Aly kepada Apollonia disetujui oleh wanita itu. Seakan tak cukup hanya bertemu di gerbang kota, Aly pun beberapa kali meminta Apollonia untuk melakukan “hubungan badan” dengan iming-iming uang hingga pakaian. Baca juga:  Perempuan dalam Cengkraman Pergundikan Setelah berkali-kali dibujuk, Apollonia pun menyetujuinya dan tak lama kemudian ia mengandung anak hasil hubungannya dengan Aly. Mendengar kabar kehamilan tersebut, Aly mengajak Apollonia ikut bersama teman-temannya melarikan diri ke Banten. Namun, meski telah direncanakan dengan matang, pelarian itu tetap diketahui hingga mereka pun terpergok. “Menurut rencana, pelarian akan dilakukan dari rumah kecil milik perempuan bebas bernama Anthonica van Mallebaer, namun rencana itu diketahui oleh wakil hakim beserta para tukang pukul negronya,” sebut Niemeijer. Akibatnya, Aly bersama teman-temannya dan Apollonia ditangkap serta diperiksa oleh hakim pengadilan. Apollonia yang tengah mengandung itu pun berakhir di penjara. Tak diketahui pasti apakah Thomas de Chiaveberupaya membebaskan Apollonia. Namun, Ketelaars mengungkapkan bahwa di hadapan hukum, Apollonia dianggap telah melakukan perzinaan dengan tinggal bersama Slocius tetapi juga menjalin hubungan dengan Aly.Atas hal itu Apollonia dinyatakan telah melakukan kecurangan di mata suaminya yang sah. Baca juga:  Skandal Putri Gubernur Jenderal VOC Pengalaman pahit yang dialami Apollonia dapat menjadi gambaran bagaimana perbudakan, pergundikan, pekerjaan kuli, perselingkuhan hingga pelarian dari perbudakan tumbuhdalam diri seseorang. Gejolak itu pula yang membuat budak perempuan muda itu memilih melarikan diri. “Risiko bahwa ia akan kembali dijual sebagai budak di pasar budak Banten diterima apa adanya. Baginya, Banten lebih menarik daripada Batavia dan kemantapan yang diperoleh dari seorang laki-laki seperti Slocius yang juga menyuruhnya bekerja, ternyata tidak memberi penyelesaian baginya,” sebut Niemeijer. Bagi para perempuan yang menjalani kehidupan seperti Apollonia, hidup sebagai gundik seorang Eropa tidak menjamin kehidupan lebih baik apalagi memberi status sosial lebih tinggi. Melihat bagaimana mudahnya bagi Slocius maupun rekan-rekannya mendapatkan seorang gundik menjadi bukti pergundikan merupakan hal lumrah dalam masyarakat kolonial. Ironisnya, gundik kerap dipandang sebagai objek yang hanya dibutuhkan bila dapat memenuhi permintaan maupun kebutuhan sang tuan.*

  • Taruna "Sakti" dari Timor

    Julius Henuhili merupakan satu dari sedikit putra asal Pulau Rote yang sukses berkarier di Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dengan pangkat terakhir letnan jenderal, Julius tentu pernah mendapatkan beragam penugasan dan menduduki bermacam jabatan dari yang rendah hingga yang tertinggi pangdam. Kariernya dirintis usai tentara Belanda angkat kaki dari Bumi Pertiwi pada 1950. Sebagai perwira artileri anti serangan udara (ARSU), Julius dipercaya menjadi komandan batalyon ARSU dari 1952 hingga 1954. Dari sana penugasannya bergeser ke SUAD dan kemudian Komando Operasi Tinggi (KOTI). Menurut Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat , pada 1962 hingga 1965 Julius dipercaya menjadi kepala Staf Komando Pertahanan Udara di Angkatan Darat. Jabatan tertinggi Julius di matra darat adalah panglima Kodam Merdeka di Sulawesi Utara. Jabatan tersebut didudukinya dari Desember 1971 sampai Januari 1974. Julius kemudian ditugaskan menjadi Komandan Jenderal Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) dari Desember 1980-Juni 1983. Jabatan tersebut menjadi jabatan terakhirnya dalam dinas ketentaraan. Setelah itu, dia lima tahun “ikut” Jenderal M. Jusuf yang diminta memimpin Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) usai purnatugas dari ABRI. Karier militer Julius yang panjang tentu tak dibangun dalam setahun-dua. Fondasinya telah dia rintis sedari belia di masa Perang Kemerdekaan. Di masa revolusi nasional itulah Julius masuk Akademi Militer Yogyakarta (AMY). Dia berhasil lulus pada 1948 sebagai angkatan pertama. Baca juga:  Bercanda Gaya Akademi Militer Dengan pangkat Letnan Dua yang disandangnya selepas lulus AMY, Julius ditugaskan ke Sumatra. Dia memilih Jambi sebagai tempat penugasannya. Sebagai putra dari Johana Sesah yang –menikah dengan Simon Henuhili, mantan serdadu KNIL– masih memegang teguh adat Timor, Julius dibekali sang ibu sarung Timor. Ke manapun dia pergi, sarung itu selalu dipakainya dengan cara dililitkan ke leher. “Pada tanggal 19 Desember 1948, sekitar 01.30 dini hari rombonganku yang berangkat dengan pesawat udara Amphibi RI dengan copilot Harnoko, tiba dengan selamat pada pagi hari berikutnya di lapangan terbang Branti Tanjungkarang,” kenang Julius Henuhili dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan I . Jambi menjadi tempat Julius mengaplikasikan semua ilmu yang didapatnya di akademi sekaligus mengasah kemampuannya dengan ikut perang gerilya melawan Belanda. Suatu hari, ketika berada di daerah sekitar Bangko dan Rantaupanjang, Julius  bersama dua rekannya bertemu beberapa serdadu KNIL yang tak jauh jaraknya. Dua teman Julius langsung bersembunyi di selokan hingga tak terlihat musuh. Sementara, Julius masih dalam posisi terlihat musuh karena dia berada di dataran terbuka. Menyadari posisi dirinya terlihat para serdadu KNIL, Julius segera mencabut pistolnya. Dua kali menarik pelatuk, tak satu pun peluru berhasil diletuskan dari pistolnya. Julius pun panik dan memilih lari daripada mati dan tak bisa berjuang lagi. Dia langsung bersembunyi. Para serdadu KNIL yang dilihat Julius rupanya sempat menembakkan senapan mesin ringan Sten Gun mereka ke sekitar tempat Julius dan dua kawannya tadi tapi tidak lama. Tak satupun peluru yang menyentuh tubuh Julius. Baca juga:  Cerita Lucu dari Pertempuran Surabaya Peristiwa itu membuat Julius jadi “orang sakti” di kalangan orang-orang awam di Jambi. Cerita “kesaktiannya” menyebar ke para kombatan-pejuang dan rakyat sipil. Pada pertengahan 1949 setelah gencatan senjata antara RI-Belanda, Julius bertemu lagi dengan serdadu KNIL yang diihatnya di sekitar Bangko-Rantaupanjang itu. Para serdadu itu rupanya KNIL dari Minahasa, Sulawesi Utara. Julius pun mengajak mereka bicara. “Kenapa saya tidak ditembak?” tanya Julius, dikutip Daud Sinjal dalam Laporan kepada bangsa: Militer Akademi Yogya . “Tidak tahu. Tidak kelihatan,” jawab serdadu KNIL tadi.

  • Marriage by the Glove: Marriage of Separated Lovers

    Relationships between European immigrant men and native Indonesian women, which led to concubinage, were common during the Dutch colonial era. These relationships were generally short-lived as European men still wished to marry European or Indo-European women of equal status.

  • Vinyet yang Tergencet

    DARI tarikan garis lengkung, terbentuklah sebuah wajah. Munadi HP, pelukis berusia 52 tahun, lalu menambahkan ornamen pada bidang gambarnya. Ada rambatan ranting-ranting pohon lengkap dengan daunnya, atau sekadar titik-titik dan garis-garis meliuk yang memperkuat unsur dekoratif pada gambar.

  • Tragedi Tiga Belas Mawar di Madrid

    “RAPIDO, rapido!” seorang perwira sipir berteriak memberi perintah yang memecah keheningan malam, 5 Agustus 1939. Barisan sipir lainnya turut bersiaga dengan senapan-senapan mereka ketika 13 perempuan satu per satu menuruti perintah naik ke bak truk militer di muka halaman Penjara Ventas di Distrik Ciudad Lineal, kota Madrid. Ke-13 tahanan politik (tapol) perempuan itu insyaf maut sudah akan menyongsong. Kendati begitu, rasa takut sudah tak lagi membayangi. Justru ketika truk itu mulai melaju, seorang dari mereka bersenandung lagu penyemangat yang lantas diikuti para sejawatnya. “ Que esté en guardia, que esté en guardia, el burgués insaciable y cruel.Joven guardia, joven guardia, no le des paz ni cuartel.¡Paz ni cuartel!” Senandung itu merupakan himne kelompok kiri, Juventud Socialista Unificada (JSU) atau Pemuda Sosialis Bersatu, bertajuk “La Joven Guardia”. Ke-13 tapol itu mendendangkannya sebagai ucapan selamat tinggal kepada para tapol lain yang masih mendekam di Penjara Ventas. Baca juga: Kisah Mata-Mata Perempuan di Tengah Perang Adegan ke-13 perempuan yang sudah dihadapkan regu tembak (IMDb) Mereka baru berhenti bernyanyi ketika truk itu berhenti dan pasukan sipir memerintahkan mereka untuk turun. Selebihnya mereka dijajarkan di tembok Cementerio del Este (kini Cementerio de la Almuneda). Mereka saling bergandengan tangan ketika sudah dihadapkan pada dua baris regu tembak. Demikianlah babak akhir film drama Las 13 Rosas (2007) garapan sineas Emilio Martínez Lázaro. Film yang diadaptasi dari buku Trece Rosas Rojas karya jurnalis Carlos Fonseca itu menggambarkan nasib getir 13 perempuan yang jadi korban rezim diktator sayap kanan Francisco Franco tak lama setelah berakhirnya Perang Saudara Spanyol (17 Juli 1936-1 April 1939). Setiap 5 Agustus, yayasan sosial Fundácion Treces Rosas rutin menggelar peringatan penghormatan ke-13 perempuan martir itu di tembok pemakaman tersebut, tempat ke-13 nama martir diabadikan lewat sebuah plakat. Hingga saat ini, publik mengenang ke-13 martir itu dengan julukan “Las Trece Rosas” alias Tiga Belas Mawar. Metafora “mawar” itu, kata Kajsa C. Larson dalam disertasinya berjudul Remembering the Thirteen Roses: Thinking between History and Memory , merujuk kepada contoh-contoh metonimik kebrutalan Franco kepada para aktivis yang berjuang menegakkan demokrasi. “Di abad ke-21, istilah ‘mawar’ ditujukan pada para tokoh martir perempuan dalam konteks Perang Saudara Spanyol. Seperti kisah ‘La Rosa de Salamanca’ atau ‘Las Tres Rosas Leonesas’ sebelumnya. Setelah kematian Franco pada (20 November) 1975, ‘Tiga Belas Mawar’ menjadi salah satu kata kunci untuk mengkomunikasikan contoh ekstrem kepada publik terkait kengerian pasca-perang,” tulis Larson. Baca juga: Satu-satunya Perempuan Amerika yang Dieksekusi Hitler Plakat peringatan para martir Las Treces Rosas  di Cementerio de la Almuneda (Álvaro Ibáñez/Wikipedia) Apa dan Siapa Tiga Belas Mawar? Kota Madrid tak serta-merta dinaungi ketenteraman kendati Franco dengan pasukan nasionalisnya digdaya dalam perang. Tiga bulan pasca-perang, justru ketegangan, teror, dan ketakutan menyebar luas di ibukota Spanyol itu. “Para pemimpin Republik dan kaum kiri sudah lebih dulu kabur dari Spanyol, meninggalkan sisa-sisa organisasi mereka dipegang para aktivis dan milisi yang tak signifikan. José Pena, sekjen komite provinsi JSU, juga turut ditangkap di pengujung Juli. Tak tahan disiksa, Pena menyerah dan memberikan banyak nama aktivis kiri yang ia tahu masih bersembunyi di kota Madrid,” ungkap Fonseca. Gelombang penggerebekan dan penangkapan pun dimulai kurun Mei-Agustus 1939 sebagai langkah-langkah Franco membersihkan ibukota dari sisa-sisa lawan politiknya. Langkah itu dia percayakan kepada Jenderal Eugenio Espinosa de los Monteros, gubernur militer kota Madrid cum Panglima Korps ke-1 Angkatan Darat. Banyak dari para tapol itu, termasuk 13 mawar, kemudian dieksekusi dalam kampanye “Saca de Agosto” Franco. Baca juga: Politik Dua Kaki Francisco Franco Ke-13 Mawar merupakan bagian dari 43 pemuda kiri yang dituduh subversif karena berpotensi memberontak pada pemerintahan nasionalis Franco. Banyak dari pemuda itu masih terhitung di bawah umur lantaran sebelum 1943, kategori dewasa di Spanyol dimulai dari usia 23 tahun. Lebih dari separuhnya anggota 13 Mawar sendiri masih di bawah umur. Mereka adalah Luisa Rodríguez de la Fuente (18 tahun), Virtudes González García (18), Victoria Muñoz García (19), Julia Conesa Conesa (19), Adelina García Casillas (19), Dionisia Manzanero Salas (20), Elena Gil Olaya (20), Ana López Gallego (21), Martina Barroso García (22), Joaquina López Laffite (23), Carmen Barrero Aguado (24), Pilar Bueno Ibáñez (27), dan Blanca Brissac Vázquez (29). Searah jarum jam: Ana, Carmen, Dionisia, Virtudes, Martina, Joaquina ( educomuniacion.es ) Tetapi tidak semua dari 13 perempuan itu aktivis JSU atau Partido Comunista de España (PCE). Blanca Brissac Vázquez yang paling senior, misalnya. Ia ditangkap bersama suaminya, Enrique García Mazas, pada 24 Mei 1939 dan ditempatkan di penjara terpisah. “Blanca adalah sosok yang faktanya bukan tokoh politik atau aktivis yang aktif. Blanca perempuan lugu, seorang ibu yang menyayangi putranya, seorang istri yang patuh, dan seorang Katolik yang taat,” sambung Larson. Baca juga: Suara Penyintas 1965 yang Layak Didengar Satu-satunya indikasi keterkaitan pasutri itu dengan kaum kiri hanyalah perkawanan baik Enrique García yang seorang musisi dengan Juan Canepa, seorang militan komunis yang anti-Franco. Blanca dan suaminya hanyalah pasutri Katolik taat. Keduanya bahkan sempat mendukung kelompok sayap kanan pada Pemilu Spanyol 1936 atau dua bulan sebelum perang pecah. “Tetapi persahabatan (Mazas-Canepa) itu berdampak besar pada mereka. Lalu seorang kenalan Blanca, Manuela de la Hera, kecele memberi informasi salah tentang Blanca kepada polisi karena disebutkan Blanca terlibat sebuah plot yang berencana membunuh Franco. Tuduhan tersebut sebetulnya hanya ada di dalam imajinasi si pengadu,” kata Fonseca. Kiri ke kanan: Julia, Pilar, Victoria ( educomuniacion.es ) Sementara, Carmen Barrero Aguado ketika ditangkap pada 16 Mei 1939 sejatinya sudah tak lagi menjadi kader aktif PCE. Ia ditangkap ketika bekerja sebagai penjahit, sebuah pekerjaan yang ia pilih usai meninggalkan PCE lantaran harus jadi tulang punggung keluarga pasca-kematian ayahnya. Serupa tak sama dengan Julia Conesa yang ditangkap (medio Mei 1939) ketika sedang bekerja sebagai penjahit. Ia sempat menjadi kader JSU pada 1937 tetapi kemudian keluar karena harus menafkahi keluarganya. Sebelum menjadi penjahit, Julia sempat bekerja sebagai kondektur bus. Baca juga: Commander Arian dan Kemerdekaan Perempuan Ia ditangkap gegara teman pacarnya tahu Julia pernah jadi anggota JSU. Selain tiga nama di atas, 10 sisanya merupakan aktivis militan JSU dan PCE ketika diciduk lalu digelandang ke Penjara Ventas yang khusus menampung tapol perempuan. Setelah berminggu-minggu disiksa di Penjara Ventas, mereka mulai diajukan ke persidangan Consejo Permanente de Guerra pada 3 Agustus bersamaan dengan 55 tapol laki-laki. Mereka dikenakan dakwaan membantu pemberontakan, berkonspirasi dan berencana membunuh Franco. Mereka dipaksa untuk mengakuinya, hingga sehari kemudian mereka divonis hukuman mati. Blanca dan surat yang ditinggalkannya untuk putranya jelang eksekusi mati ( educomunicacion.es ) Hingga hari eksekusi mereka pada 5 Agustus, tak satupun dari 13 Mawar yang diizinkan untuk bisa bertemu kerabat atau keluarganya. Satu-satunya cara untuk menyampaikan kata-kata terakhir hanya via surat yang ditinggalkan di sel mereka jelang diangkut ke lokasi eksekusi mati. “Namaku tidak akan terhapus dalam sejarah,” tulis Julia dalam surat yang ditujukan kepada ibundanya. Sedangkan dalam surat terakhirnya untuk putranya yang berusia 11 tahun, Enrique, Blanca menuliskan: “Putraku tersayang, aku memikirkanmu di saat-saat terakhir. Maafkan ibu jika pernah membuatmu marah. Ingatlah kami sebagai orangtua yang terhormat. Ibu akan mati dengan kepala tegak. Teladanilah Papamu, seorang pekerja keras dan bisa menahan sabar. Jangan lupakan memori orangtuamu. Pergilah ke komuni suci, bersiaplah, dengan dasar keyakinan kuat seperti yang pernah ibu ajarkan. Putraku tersayang, sampai nanti. Cintaku akan tetap abadi. Blanca.” Baca juga: Nestapa Sabaya

  • Jimat Kyai Parakan

    Di tengah ketegangan kerumunan para pemuda yang dipimpin seorang kyai tua, seorang bapak berperawakan kurus-jangkung (diperankan HIM Damsik) maju ke depan sambil menahan geram. Ia tak sabar lantaran para pemuda dan kyai bergerak lamban. Dengan keyakinan tinggi, bapak tadi pun memanjat pintu gerbang sebuah bangunan besar yang dijadikan markas tentara Jepang. Saat itulah peluru yang ditembakkan dua serdadu Jepang menerjang tubuhnya. Namun, tiada satu pun peluru yang melukai tubuhnya apalagi membawanya menemui ajal. Pun tiada setetes darah yang keluar dari tubuh si bapak. Si bapak kebal. Dua serdadu Jepang yang menembakinya pun terheran-heran. Tapi mereka tak dihiraukan si bapak yang seolah tak punya urusan. Si bapak pun menuruni pagar dengan keyakinan penuh. Dia tak sadar bahwa ada barang bawaannya yang tersangkut di pagar dan tertinggal. Dia terus berjalan menuju tiang bendera. Dia akhirnya terkaget dan kesakitan ketika peluru-peluru para serdadu Jepang bisa menembus tubuhnya. Si bapak akhirnya menemui ajal dengan tubuh berlumur darah. Dia tak pernah sadar bahwa jimat yang membuatnya kebal tersangkut di pagar sehingga peluru berhasil menghampirinya dan membawanya menemui ajal. Upaya merebut senjata dari tentara Jepang usai proklamasi kemerdekaan itu merupakan adegan dalam film LebakMembara (1982) garapan Imam Tantowi. Si bapak merupakan cerminan umum masyarakat grass-root di masa perjuangan kemerdekaan yang berjuang dengan perlengkapan seadanya, termasuk jimat. “Pada tahun 1945/1946 banyak sekali pemuda pejuang berusaha memperoleh jimat yang dapat memberikan kekebalan antipeluru dan antibayonet. Dapatkah mereka dipersalahkan? Saya rasa tidak,” kata Soegih Arto, jaksa agung periode 1966-1973,  dalam Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto . Baca juga:  Jimat Perang Tentara Sukarela Di era revolusi 1945-1949, kebanyakan masyarakat Indonesia masih sangat percaya pada hal mistik. Maka banyak yang mengandalkan jimat untuk masuk ke dalam “perang” memperjuangkan kemerdekaan. Revolusi kemerdekaan Indonesia dengan demikian diwarnai kisah klenik. Tak hanya klenik ala budaya pra-Islam, mantra-mantra atau doa-doa yang terkait dengan ajaran Islam pun banyak. “Mantra-mantra Islam bisa sama diterapkan untuk senjata revolusi istimewa: bambu runcing. Dalam kasus yang disebut terakhir ini ‘bambu runcing itu sendiri diruwat atau ditahbiskan, terkadang panji kecil dari kain putih dengan tulisan ayat-ayat Al-Quran diikat di ujungnya,’” catat Kevin W. Fogg dalam Spirit Islam Pada Masa Revolusi Indonesia . Salah satu daerah yang terkenal sejarah bambu runcing adalah Parakan, di Temanggung, Jawa Tengah. Bambu runcing dari Parakan yang terkenal adalah bambu runcing yang dianggap bertuah karena ada doa kyai. “Parakan memang kuat sekali Islamnya. Bahkan kota ini mempunyai tentara Hizbullah. Yakni tentara Islam, yang pada saat itu belum terlebur dalam TKR (Tentara Keamanan Rakyat),” catat Bonny Setiawan di buku Perjalanan Anak Bangsa . Baca juga:  Kompi Kristen di Batalyon Hizbullah “Tuah doa-doa” untuk persenjataan dan pertahanan diri yang terkenal dari Parakan itu berasal dari Kyai Haji Subkhi. Namanya kadang ditulis sebaga Subeki atau Subchi. Seperti kebanyakan orang Indonesia zaman dulu, Kyai Subkhi sulit ditelusuri secara pasti sejarah hidupnya secara utuh karena kurangnya catatan sezaman. Data tentang lahirnya penuh dengan perkiraan saja. Dalam Karomah Para Kiai , Samsul Munir Amin mencatat Kyai Subkhi lahir pada 1851. Subkhi meninggal dunia pada 1959 dan konon telah berusia 101 tahun ketika meninggal. Jadi ketika revolusi usia Subkhi sudah lebih dari 80 tahun. Mantan Menteri Agama Saifuddin Zuhri mengingat Kyai Subkhi pandai bergaul dan sifatnya ramah, tak terkecuali kepada orang Tionghoa. Seperti banyak kyai pada umumnya, Kyai Subkhi membuka pesantren untuk mentransfer ilmu agamanya yang dimilikinya bersamaan dengan menjalankan profesi lain untuk menopang ekonomi keluarganya. “Seperti kebanyakan penduduk Parakan, K.H. Subeki juga petani kecil yang menggarap sendiri tanahnya. Tidak seberapa luas memang, tapi macam-macamlah yang ia tanam. Ada tembakau, jagung, juga kentang,” catat mantan Menteri Agama Saifuddin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren . Kyai macam Subkhi, yang juga banyak terdapat di daerah-daerah lain, menjadi harapan para pemuda-pejuang dalam perjuangan. Itu sebabnya tak sedikit yang menyebut peran kyai atau ulama sangat besar dalam memompa semangat perjuangan para pemuda. Baca juga:  Peran Ulama dalam Kerajaan Islam di Nusantara “Pesantren tidak bisa diabaikan telah memainkan peranan yang sangat signifikan dalam membela dan memperjuangkan kemerdekaan,” tulis Zuhairi Misrawi dalam Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari: Moderasi, Keumatan, dan Kebangsaan . Dalam memberi “amunisi” kepada pada pemuda-pejuang, Kyai Subkhi melakukannya dengan memberi doa-doa untuk bambu runcing yang akan digunakan dalam pertempuran. “Haji Subkhi dikenal sebagai Kyai Bambu Runcing karena saban hari dia menyembur dengan doa-doanya itu ratusan bambu runcing yang dibawa oleh pemilik-pemiliknya dari seluruh pelosok kota dan desa,” sambung Bonny Setiawan.

  • Cerita Keluarga Pengusaha Es dari Magelang

    Marcelle Dolle kaget. Dia tak menyangka di suatu hari tahun 1974 itu bakal kedatangan tamu yang tak pernah terpikirkan. Sebab, bukan hanya jauh asalnya tamu itu tapi juga “bagian” dari masa lalu Marcelle. Frits August Kakiailatu, yang biasa dipanggil  Ventje, nama tamu itu. Ia merupakan anak dari Alfaris Willem Kakiailatu, salah satu karyawan di pabrik es milik Robert Chevalier, suami Marcelle. Hidup membawa Alfaris Willem Kakiailatu ke Magelang, kampung kelahiran istrinya yang juga berdarah Ambon. Laki-laki asal Nusa Laut, Saparua ini setelah lebih dari 20 tahun berdinas di tentara kolonial Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) memilih menjalani hidup di Magelang. Setelah pensiun pada 1923, Alfaris bekerja sebagai tenaga administrasi pabrik es terkenal di Magelang, N.V. Magelangsche Ijs en Mineralwaterfabriek Chevalier O'Herne . Koran DeLocomotief  edisi 25 Agustus 1934 menyebut pabrik itu didirikan pada 1883 oleh E. O'Herne. Dia merupakan kakek dari direktur perusahaan tersebut ketika Alfaris bekerja di sana, yakni Robert Chevalier. Robert sendiri merupakan anak dari Louise Marie O'Herne dan Victor Joseph Chevalier. Awalnya, pabrik itu menjual es seharga 15 sampai 20 sen per pon. Namun karena terjadi “perang es” akibat persaingan harga dengan para pesaing, pabrik O'Herne pun menurunkan harga jual esnya dari 20 sen menjadi 4 sen. Pabrik O'Herne memproduksi antara 25 kg hingga 50 kg es per jam dari 1883 hingga 1891. Jumlah itu meningkat ketika modernisasi dilakukan Joseph Chevalier antara 1891 hingga 1920. Modernisasi itu berupa penggantian mesin lama dengan dua mesin baru yang mampu membuat 100 kg es per jam dan 200 kg es per jam. Mesin-mesin itu digerakkan kincir angin berbahan besi. Sebelumnya, kincir yang menggerakkan mesin terbuat dari kayu. Robert mulai memimpin O’Herne sejak 1920. Di bawah Robert, pada 1930-an pabrik O'Herne memiliki 6 kompresor yang kesemuanya mampu menghasilkan 1.200 kg es per jam. Namun O'Herne tak hanya memproduksi es dan air mineral saja, tapi juga memproduksi  “aer blanda”, limun, penghancur, sirup, dan lain-lain. Selain di Magelang, N.V. Magelangsche Ijs en Mineralwater Fabriek seperti disebutkan DeLocomotief edisi 26 Maret 1936, memiliki dua pabrik es di tempat lain. Jadi perusahaan ini punya tiga pabrik. Robert Chevalier yang telah dianggap sebagai penduduk asli, Magelanger , lalu menikahi Marcelle Dollé. Koran De Locomotief (25 Agustus 1934) menyebut Marcelle Dollé berbisnis bunga di Magelang. Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië (13 Oktober 1919) memberitakan pasangan Robert-Marcelle dikaruniai bayi pada 9 Oktober 1919. Bayi itu mereka beri nama Jean Robert Chevalier. Ketika Perang Dunia II meletus, tentara Hindia Belanda merekrut banyak pemuda masuk tentara. Jean Robert Chevalier –yang disapa Nono– ikut bergabung dengan KNIL. Sebagai pemuda berpendidikan, Nono menjadi siswa pelatihan perwira cadangan –yang disebut Corps Opleiding Reserve Officiern (CORO)– di Bandung. Pada 1942 dia mendapat pangkat sersan. Namun, Nono kemudian ditawan setelah KNIL menyerah pada tentara Jepang . Kartu tawanan perang Jepang atas nama dirinya di Arsip Nasional Belanda menyebut Nono memiliki nomor stamboek 167419. Setelah setahun ditawan di Jawa, Nono dipindah ke Osaka Jepang pada Juli 1943. Cerita tentang Nono akhirnya usai setelah ajal menjemputnya pada 9 Januari 1944 di Kamp Tsumori karena menderita colitis. Bisnis es O’Herne pun terganggu. Setelah Perang Dunia II selesai, bisnis O’Herne tetap tak bisa berlanjut karena Magelang tidak aman bagi orang Belanda. Magelang adalah daerah perang antara Republik Indonesia dan Belanda. Keluarga Chevalier akhirnya hijrah ke negeri Belanda. Di sanalah Robert Chevalier meninggal dunia sekitar tahun 1961. Sekitar tahun 1974, salah satu anak laki-laki Alfaris yang bernama Frits August Kakiailatu, biasa dipanggil Ventje, tugas belajar ke Negeri Belanda. Anak itu pun meluangkan waktu menyinggahi keluarga Chevalier. Dia bertemu Marcelle Dolle. “Apakah kamu benar-benar seorang dokter, Ventje?” tanya Marcelle alias Nyonya Chevalier seperti dikutip Ventje dalam Pak Harto, Pak Nas, dan Saya. Marcelle tak percaya jika anak bekas KNIL yang pernah bekerja di perusahaan suaminya itu bisa jadi dokter. Maklum, di zaman kolonial hanya anak penggede saja yang bisa jadi dokter. “Silahkan ditanyakan saja ke AZL (Academisch Ziekenhuis Leiden (akademi rumah sakit Leiden, red .), apakah ada dr Kakiailatu bekerja di sana,” jawab Ventje –yang kemudian jadi dokter Angkatan Laut RI dengan pangkat akhir Laksamana Pertama–  agak kesal.

  • Abrakadabra Kota Canberra

    ANGIN kering musim panas langsung menerpa begitu saya keluar dari bandara Canberra pertengahan Februari lalu. Kota ini sepi, tapi bukan kota mati. Ia malah ibu kota negara Australia yang genap berusia seabad pada Maret tahun ini. Untuk sebuah ibu kota negara, dibandingkan dengan Jakarta yang sudah berusia lima abad lebih, Canberra masih terbilang muda.

  • Bertahan karena Kenangan

    DI bangku kayu, di meja yang letaknya tak begitu jauh dari kasir, seorang pria duduk tenang. Rambutnya tersisir rapi, klimis. Pakaiannya serba putih. Sepatunya mengkilap. Dia tak banyak bicara. “Paling kalau ada yang tidak disenanginya dia kirim surat kritik. Saya ingat dia pernah kirim surat yang isinya berpesan supaya saya terus melestarikan tempat makan ini,” kenang Lam Hong Kie alias Effendy Sumartono, 68 tahun, pemilik Restoran Trio.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page