top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Tak Kie Tak Menepi

    DI jalan depan sebuah kedai kopi, orang tak henti berseliweran. Riuh. Maklum, letaknya nyempil di dalam pusat pertokoan di daerah Glodok, Jakarta Pusat. Kedai itu berada di Jalan Pintu Besar Selatan III. Namun orang-orang lebih mengenalnya dengan sebutan Gang Gloria, merujuk pada nama gedung bioskop pada 1920-an: Gloria Bioscoop.

  • Dari DI/TII ke Seoul

    Namanya kerap disebut dalam buku pelajaran sejarah di Indonesia. Namun, citranya “miring” lantaran sebagai pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di Jawa Tengah pada 1950-an. Dialah Sjarif Hidajatullah atau yang lebih populer Amir Fatah. Amir Fatah Widjajakusuma merupakan pemuda Kroya, Jawa Tengah terpandang di era 1945. Ketika Perang Kemerdekaan berkecamuk, dia menjadi pemimpin pasukan dalam Hizbullah. Amir Fatah, menurut Cornelis van Dijk dalam Darul Islam: Sebuah Pemberontakan , “memimpin pasukan Hizbullah yang menyertai Kartosoewirjo ke Malang untuk menghadiri sidang paripurna kelima Komite Nasional Indonesia Pusat sebagai semacam pengawal, Februari 1947.” Amir Fatah tidak hanya dekat dengan Sukarmardji Maridjan Kartosuwirjo, tetapi juga dengan Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia Jenderal Sudirman. Sebagaimana disebutkan buku Republik Indonesia Propinsi Djawa Tengah , Amir Fatah mengaku sebagai bawahan Panglima Besar Jenderal Sudirman, yang pada Agustus 1946 dikirim ke Jawa Barat bersama 3 kompi pasukan dari Batalion V, Brigade 6, Divisi Diponegoro. Pasukan itu dikirim untuk memastikan ada pendukung RI di sana. Baca juga:  Kisah Jenderal Soedirman dan "80 Perompak" Dalam perjuangan melawan tentara Belanda, Amir Fatah pernah menjadi kepala Staf Divisi 17 Agustus. Ini merupakan pasukan yang menentang hasil diplomasi RI dalam Perjanjian Linggarjati yang hanya menguntungkan Belanda. Dari Jawa Barat, Amir Fatah bergeser ke Brebes pada pertengahan 1948. Di Brebes, Amir Fatah bergabung bersama batalion Hizbullah pimpinan Abas Abdullah. Setelah Proklamasi DI/TII oleh Kartosuwirjo pada 17 Agustus 1945, ia menggabungkan diri ke DI/TII. Nugroho Notosusanto dkk dalam Sejarah Nasional Indonesia VI menulis, pada 23 Agustus 1949, di Desa Pengarasan, Tegal, Amir Fatah memaklumkan diri sebagai bagian dari Darul Islam pimpinan Kartosoewirjo. Dia dijadikan panglima perang merangkap komandan Batalion Syarif Hidayatullah Wijaya Kusuma di Jawa Tengah. Baca juga:  Surat Wasiat Kartosoewirjo Setelah itu, kelompok Amir Fatah memperlihatkan taringnya di DI/TII. Koran Het Nieuwsblad voor Sumatra edisi 27 Agustus 1949 memberitakan kelompok Amir Fatah menyerang Desa Rokeh Djati dan membunuh sejumlah warga. Selain itu, Desa Pagerbarang juga diserang dan sempat dijadikan tempat persembunyian. Koran itu menyebut Amir Fatah adalah mantan letnan kolonel TNI. Pada awal November 1949, tulis De Locomotief edisi 16 November 1949, kelompok Amir Fatah menyerang sebuah pos polisi di Desa Gumalar, lalu Siasem dan Wonosaridi selatan di Tegal. Sebanyak 45 rumah juga dibakar. Amir Fatah dan para bawahannya mengganggap RI sudah tidak ada setelah ibukota Yogyakarta diduduki Belanda pada 19 Desember 1948 dan para pemimpinnya ditangkap. Alhasil mereka tak percaya dengan RI yang ada setelah 1950. Amir Fatah pun meneruskan gerilyanya melawan TNI. De Preangerbode edisi 23 Desember 1950 memberitakan, pertempuran sengit antara pasukan Amir Fatah dengan TNI terjadi di Desa Ciawi, Tasikmalaya, pada pertengahan 1950. Amir Fatah bersama 150 kombatannya bersenjatakan 100 pucuk senapan. Pertempuran berlangsung selama tujuh hari. Mayor Noersain dari DI/TII terbunuh. Amir Fatah akhirnya tertangkap di Cisayong, Tasikmalaya, pada 22 Desember 1950. Baca juga:  Van Kleef, Polisi Nakal yang Ikut DI/TII Setidaknya dua tahun Amir Fatah ditahan. Setelah dibebaskan, ia merantau ke luar negeri. Majalah Tempo edisi 04 Desember 1976 memberitakan, dia pernah tinggal di Amerika dan Eropa. Sekitar tahun 1968, ia pindah ke Korea Selatan. Joezahar Sirie glr. Sutan Perpatih dalam Moralitas Informasi dalam Diplomasi menyebut Amir Fatah dibawa ke Korea oleh Duta Besar RI untuk Pakistan Mayor Jenderal Rukminto Hendraningrat. “Ia bekerja di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul dan di samping pekerjaannya itu ia juga menjadi Kiyai dengan mengajar agama di kota itu. Sudah banyak orang Korea yang menjadi Muslim karena dakwah saudara Amir Fatah,” catat Mukti Ali dalam Beberapa Persoalan Agama Dewasa Ini . Amir bekerja sebagai staf lokal KBRI. Ia pernah menikahi perempuan Korea pula di sana. Dari perempuan Korea itu, Amir Fatah punya dua anak.

  • Berebut Asa di Desa

    PADA 11 Maret 1981, publik Bandung dihebohkan dengan penyerangan Polsek Cicendo yang menewaskan empat polisi. Pelakunya adalah kelompok Jamaah Imran –yang beberapa hari kemudian membajak pesawat Garuda di Palembang. Penyerangan itu mendapat perhatian pers. Tak ingin bocor, Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) yang dipimpin Laksamana Soedomo memberikan pengarahan kepada wartawan yang bersifat off the record, tak boleh dikutip. Namun, dua surat kabar, Sinar Indonesia Baru di Medan dan Mandala di Bandung tetap saja memberitakannya, sebuah pelanggaran kode etik jurnalistik.

  • Eksplorasi Berujung Penemuan Tasmania

    SELAMA sembilan tahun (1636–1645) menjabat gubernur jenderal VOC di Batavia, Anthony van Diemen tak hanya sibuk memperkuat cengkeraman kompeni atas perdagangan rempah-rempah. Ia juga memiliki ambisi besar dalam eksplorasi wilayah yang belum terpetakan demi memperkuat kerajaan Belanda dan diharapkan dapat menguntungkan kompeni.

  • Dari Seria untuk Sri Paduka Baginda

    ARDANTA Taufik, dosen di sebuah universitas swasta di Jakarta, masih ingat kala bersama sastrawan Pramoedya Ananta Toer berkunjung ke rumah A.M. Azahari di Bogor pada 1997. Azahari kaget lantaran selama ini jarang ada orang berkunjung ke rumahnya. “Kaget juga dia. Apalagi yang datang tokoh penting. Pramoedya Ananta Toer itu kan disegani,” ujarnya kepada Historia.

  • Kopi Lima Generasi

    LOKASINYA agak tersembunyi, menjorok masuk dari gang Sekolah Tangki di bilangan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat. Papan penunjuk arah ke toko pun terlalu kecil untuk dilihat orang. Namun, begitu tiba di tujuan, Anda mungkin akan terkesiap; toko kopi Warung Tinggi ini adalah salah satu produsen kopi tertua di Indonesia.

  • Kerdil-kerdil Cabe Rawit

    SEBUAH rumah di bilangan Puri Indah, Jakarta Barat, nyaris seperti rumah mati. Halaman depannya yang sempit tak memberi ruang bagi hijau dedaunan. Namun, begitu memasuki ruang tengah, terhampar kebun bonsai pemandangan beragam tanaman di halaman belakang. “Agar tak serasa tinggal di Jakarta tapi di pegunungan yang asri,” ujar Budi Sulistyo, berusia 60 tahun, pemilik rumah itu.

  • When The Americans Volunteered in Indonesia

    HER NAME is Melanie Aleman. She is a 26-year-old from New Orleans, the United States. In Bondowoso, East Java, Indonesia, she spends her time teaching English in an Islamic school or madrasa. In her leisure time, she teaches yoga or does other activities that can enrich her students’ skills and creativity.

  • Puputan Bayu Nan Tak Layu

    JAGAPATI alias Mas Rempeg, keturunan Tawangalun, raja terbesar Blambangan, masih berusia 17 tahun. Terhina karena Bupati Blambangan Jaksanagara menuduhnya berselingkuh dengan selirnya, serta dorongan membebaskan rakyat Blambangan, membuat Rempeg berani berontak.

  • Karena Kegemaran Terhadap Kumbang

    BAYANGKAN Alfred Russel Wallace tengah mempelajari peta di Royal Geographic Society di London. Saat itu akhir Januari 1853. Di usia 30 tahun, dia baru saja kembali dari petualangan selama empat tahun di lembah Amazon. Di Brasil, dia merasakan sensasi mengoleksi kumbang dan untuk alasan pragmatis, hidup sederhana dengan mengirimkan spesimen kumbang kepada agennya di London. Dia menulis beberapa karya ilmiah dan mulai menapaki jenjang keilmuwan Inggris.

  • Berkaca pada Pemikiran Geopolitik Bung Besar

    ZONA nyaman kerap kali melenakan. Presiden RI kelima Megawati Soekarnoputri mengingatkan lagi bahwa bangsa Indonesia mesti aktif membaca setiap perubahan konstelasi politik dunia karena akan memengaruhi haluan geopolitik Indonesia. Mulai dari konflik Timur Tengah yang tak kunjung usai, hingga perseteruan Rusia-Ukraina. “ So (mau) ke mana kita? Kemarin saya lihat Suriah kembali lagi dan diterima masuk Liga Arab. Ini mesti dilihat karena berarti akan ada perubahan konstelasi politik global. Terus kita harus ngapain?” seru Mega pada HUT ke-58 Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) di Gedung Lemhannas, Jakarta Pusat, Sabtu (20/5/2023). Lalu, terkait manuver Tiongkok yang jadi mediator mendamaikan Arab Saudi dan Iran medio April 2023 setelah hubungan diplomatik kedua negara terputus enam tahun lewat. Megawati pun mempersoalkan keterlibatan Indonesia yang notabene negara dengan penduduk muslim terbesar dunia. “Yang namanya Tiongkok bisa mempersatukan Iran sama Arab Saudi. Itu buat saya suatu prestasi tapi juga bikin iri, harusnya Indonesia, kenapa Tiongkok? Ini yang selalu saya bertanya, ini orang Indonesia takut kah? Tidak kreatif kah? Takut zona nyamannya hilang? Itu pertanyaan saya,” sambungnya. Presiden RI ke-5  Diah Permata Megawati Setiawati Soekarnoputri (Twitter @LemhannasRI) Selain mesti mewaspadai kemajuan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, segala ancaman geopolitik tradisional juga mesti bisa disikapi dengan lebih aktif untuk memperkuat posisi Indonesia –sebagai negara kepulauan terbesar– di tengah pergaulan internasional. Sehubungan dengan itu, pemikiran geopolitik Presiden RI pertama Ir. Sukarno masih sangat relevan dan patut dijadikan tuntunan di masa sekarang. Oleh karenanya pemikiran-pemikiran geopolitik “Bung Besar” itu dibedah lagi dan direkonstruksi oleh Hasto Kristiyanto lewat bukunya, Geopolitik Bung Karno: Progressive Geopolitical Coexistence . Buku yang diracik dari disertasi studi doktoralnya, “Diskursus Pemikiran Geopolitik Soekarno dan Relevansinya terhadap Pertahanan Negara” di Universitas Pertahanan itu merupakan satu dari 58 buku yang diluncurkan dalam rangka HUT ke-58 Lemhannas sebagai kawah candradimuka para pemikir dan calon pemimpin di masa mendatang. “Ajaran Bung Karno dalam perspektif tata pergaulan internasional menginginkan coexistence , kesejajaran antara negara maju dan negara berkembang. Nah progresifnya apa? Progresifnya kalau kita melihat geopolitik Sukarno dalam memperkuat pertahanan kita, deterrence kita lewat Trikora dan Dwikora. Oleh karena itu Geopolitik Sukarno sekarang juga sudah diajarkan di Lemhannas dan harapannya buku ini bisa jadi referensi apakah dalam sasaran strategis, taktis, atau operasional,” timpal Purnomo Yusgiantoro, wakil gubernur Lemhannas periode 1998-2000 cum menteri pertahanan periode 2009-2014. Baca juga: Jejak Sains Bung Karno untuk Hadapi Tantangan Zaman Dalam bukunya, Hasto mengungkapkan bahwa geopolitik Bung Karno sudah jadi dasar untuk memperkuat pengaruh Indonesia sejak 1950-an kala hegemoni Barat dan Timur yang berseteru dalam Perang Dingin masih sangat kental. Bukan hanya itu, lewat pidato bertajuk “To Build the World A New” di sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1960, Bung Karno juga mempromosikan nilai-nilai Pancasila sebagai inspirasi baru bagi negara-negara dunia ketiga di luar kedua blok adidaya. “ Playing field Indonesia adalah dunia, sehingga harus bertindak aktif berdasarkan legimitasi historis yang menunjukkan kuatnya kepemimpinan Indonesia melalui Konferensi Asia-Afrika tahun 1955, Gerakan Non-Blok (GNB) tahun 1961, Conference of the New Emerging Forces (CONEFO) dan Konferensi Anti-Pangkalan Militer Asing tahun 1965,” tulis Hasto. Geopolitik Bung Karno itu, lanjut Hasto, masih sangat relevan untuk jadi landasan kebijakan luar negeri Indonesia secara lebih aktif untuk menanggapi haluan dan geopolitik negara-negara maju, terutama di belahan bumi barat yang masih berakar dari teori Lebensraum. Maka, masih sangat penting untuk membedah kembali pemikiran-pemikiran geopolitik Bung Karno lewat buku ini, mulai dari cara pandangnya tentang dunia, peta geopolitik klasik dan kontemporer, hingga implementasi dan pengaruh yang dihasilkan bagi dunia internasional maupun kepentingan dan ketahanan nasional. Peluncuran 58 buku dalam rangka HUT ke-58 Lemhannas RI (Twitter @LemhannasRI) Antara Bisikan Tari Perut dan KGB Membedah kembali pemikiran-pemikiran geopolitik Bung Karno dinilai penting bagi Mega agar bisa jadi pedoman para calon pemimpin di masa mendatang. Terlebih, ia melihat pemikiran-pemikiran itu termarjinalkan sejak Bung Karno dilengserkan. Salah satu gagasan penting itu yakni Pola Pembangunan Semesta dan Berencana (PPSB) tahun 1960. “Saya keluarin lagi (pemikiran Bung Karno, red. ), Pola Pembangunan Semesta dan Berencana. Itu dulu diolah oleh 600 doktor, lho. Terus itu dibuang, enggak dipakai lagi karena bikinannya Bung Karno. Bedah itu! Saya ingat (pemimpin China) Xi Jinping bersurat sama saya. Katanya dia sudah disuruh membuat (rencana pembangunan) 100 tahun Tiongkok ke depan. Yang sebelumnya belum selesai, dia sudah disuruh bikin lagi oleh masyarakat Tiongkok,” sambung Mega. Baca juga: Tekad Sukarno di Konferensi Asia-Afrika Ketika menjabat sebahai presiden, Mega sedikit demi sedikit mengimplementasikan pemikiran geopolitik Bung Karno. Selain mengajak negara-negara berkembang maju bersama, pendekatan diplomasi yang cair dan kreatif sangat diperlukan demi kepentingan dan ketahanan nasional. “Waktu di KTT Non Blok, kan itu juga lagi heboh tentang (krisis) Terusan Suez. Orang-orang bertanya-tanya ketika bapak menemui dan berbisik dengan (Presiden Mesir, Gamal Abdel) Nasser. Apa ternyata? Bapakku sampai tertawa. Katanya (kepada Nasser), ‘eh rombongan tari perutmu kamu bawa, enggak?’ Maksud saya apa? Very intelligent mind . Heran saya deh (sekarang). Harus kreatif,” imbuhnya. Bung Karno (kedua dari kanan) bersama para pemimpin anggota GNB (Archives of Yugoslavia) Bagaimana Bung Karno membangun diplomasi yang baik, sedikit-banyak coba diimplementasikan Mega dengan Presiden Vladimir Putin. Dimulai dari saat masih jadi anggota DPR dan melawat ke Rusia sampai Mega akhirnya bisa berdiplomasi agar bisa menambah pesawat tempur Sukhoi Su-27 dan Su-30. “Makanya saya bilang ke Pak Jokowi, beli dong alutsista yang keren. Saya aja waktu presdien beli Sukhoi. Itu diplomasi (dengan Rusia). Waktu saya masih anggota DPR, pernah diundang ke St. Petersburg. Putin mengenalkan diri dan bertanya apakah saya putri Presiden Sukarno? Ya, saya jawab. Terus pas sudah ngobrol, dia bisik-bisik ke saya, ‘saya KGB (dinas intelijen Rusia, red. ).’ Saya bilang, ‘ya saya juga sudah tahu.’ Itu (gaya) diplomasi lho,” lanjut Mega tertawa renyah mengingatnya. Baca juga: Kiprah Putin di KGB Tentu diplomasi Mega bikin Amerika Serikat sebagai rival Rusia ketar-ketir. Apalagi mulanya yang dihadapi Mega nyaris mirip seperti yang dialami Sukarno ketika ingin membangun pertahanan dan ketahanan nasional lewat modernisasi alutsista. “Saya juga sempat diplomasi dengan Presiden (Amerika, George) Bush Jr. Saya datangi karena saya mau beli pesawat. Tapi kenapa kita diembargo? Kalau hutang saya sudah lunas kenapa masih diembargo? Copot dong itu, katanya kita mau bersahabat? Dia ‘ meneng wae ’ (diam saja). Karena diam, saya pulang saja,” kenangnya lagi. Sisa pesawat pembom Tupolev Tu-16 Badger di Museum Pusat TNI AU "Dirgantara Mandala" Yogyakarta (Randy Wirayudha/Historia) Dahulu, Bung Karno dibuat jengkel oleh Presiden Dwight Eisenhower. Saat berkunjung ke Gedung Putih, medio Juni 1960, Bung Karno pernah dibuat menanti lama hingga kesabarannya habis. Permintaan untuk pembelian senjata yang sudah dirintis berbagai perwakilan Indonesia sejak pertengahan dekade 1950-an pun ditolak Amerika lantaran takut digunakan untuk menyerang Belanda di Papua. Bung Karno pun berpaling mesra ke Uni Soviet. “Beberapa tahun yang lalu aku minta pinjaman kepada Amerika Serikat. Bukan pemberian. Aku merasa sebagai seorang keluarga yang lapar menangis tersedu-sedu di muka pintu seorang paman yang kaya, dan perundingan berlarut-larut sampai tiga tahun. Tiongkok menawarkan. Negara-negara lain menawarkan. Tapi masih saja aku menunggu. Yah, uluran tangan yang ditunggu tak pernah datang. Akhirnya kuminta pada Kurschchov pinjaman seratus juta. Hari sangat dingin akan tetapi dia keluar juga dari Kremlin untuk merangkulku di tengah jalan, menyambutku dengan kata-kata yang ramah dan dia sendiri membimbingku masuk,” kata Bung Karno dalam otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia . Baca juga: Akhir Tragis Alutsista Legendaris Bung Karno berhasil berdiplomasi dengan Nikita Khruschchev. Kredit ratusan juta dolar yang didapat Bung Karno lalu digunakan membangun pertahanan dengan alutsista-alutsista dari Soviet. Namu sayangnya, semua digembosi saat Orde Baru berkuasa. “Ini saya bukan sentimen, lho. Tapi Presiden Soeharto itu kenapa men- downgrade semua alutsista kita dari Rusia? Padahal itu keren-keren lho. Terus kalau ada yang menyerang kita, alutsistanya mana? Bingung, enggak? Berarti kan dari sisi geopolitiknya tidak dihitung dengan cermat. Untung aja enggak ada yang gempur kita waktu itu. Padahal dulu kita punya dua skadron bomber Tu-16. Belum lagi kapal penjelajah KRI Irian ,” Mega kata menyesali. Diorama Bung Karno dan para pemimpin KAA di Museum Konperensi Asia-Afrika Bandung ( museumkaa.iheritage.id ) Saking visionernya pemikiran geopolitik Bung Karno, ia pun jadi sasaran pihak Nekolim. Peristiwa Gerakan 30 September 1965 berandil besar dalam pelengseran Bung Besar. Bagi Mega, Bung Karno jadi korban permainan geopolitik asing. Ditengarai sejumlah intelijen Amerika, Inggris, hingga Jerman Barat turut campur. “Bung Karno yang diangkat jadi presiden seumur hidup dalam TAP MPR (Ketetapan MPRS Nomor III tahun 1963, red .) dibilang bekerjasama dengan PKI. Pertanyaannya, dia presiden seumur hidup terus dibilang mau mengambil tindakan, kekuasaan, logis apa enggak?” Mega bertanya. Ketika mengingat masa-masa Bung Karno dilengserkan, Mega mulai emosional tapi memilih diam. Toh Bung Karno dikorbankan sudah didengarnya langsung dari sang ayah. “Bayangkan, bapak saya bilang, ‘saya yang bikin Indonesia merdeka dan dijatuhkan karena kekuasaan. Kamu mau apa?’ Kaget saya. Hati rasanya hancur. “Dia bilang, ‘bapak diam bukan karena enggak punya kuasa tapi bapak tahu ini permainan. Kalau kamu sudah dewasa, cari tahu sendiri.’ Sekarang Lemhannas yang harus cari tahu karena itu perang geopolitik. Amanat saya: jangan lho! Jangan bangsa Indonesia sampai terjadi lagi Peristiwa 1965!” tandasnya. Baca juga: Detik-detik Terakhir Sukarno

  • Pedagang Bangkrut Jadi Gubernur Jenderal VOC

    ANTHONY van Diemen dianggap memiliki reputasi yang baik selama bekerja sebagai pegawai VOC hingga kemudian menjadi gubernur jenderal di Batavia. Bahkan, ia disebut sebagai satu dari tiga gubernur jenderal paling berhasil selama pertengahan abad ke-17 bersama Joan Maetsuycker (1653–1678) dan Rijkloff van Goens (1678–1681).

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page