Hasil pencarian
Cari di situs ini
10056 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- A Prince in a Pursuit of Happiness
IT was quiet around Kroyo Village. Once in a while, a few motorcycles passed by. Situated in the middle of a rubber plantation and two corn fields, this small hamlet part of Bringin District, Semarang Regency, Central Java is not quite remote as it is only ten kilometers away from Salatiga City.
- Tarian Perang Pangeran Sambernyawa
RADEN Mas (RM) Said dan pasukannya bergerak menghindari kejaran pasukan gabungan Kompeni. Semangat mereka meredup. Mereka lalu beristirahat di Nganjuk, selatan Taji. Gending dimainkan. Sinden beraksi. Pertunjukan tari bedaya, yang sudah hadir di lingkungan istana sejak masa Hindu, dimulai. Para prajurit bersorak-sorai bak merayakan kemenangan. Selain menghibur, RM Said ingin meningkatkan rasa percaya diri pasukannya.
- Orang Makian Pindah Pulau
USAI mengunjungi berbagai wilayah di Maluku pada 1679, Robertus Padtbrugge, gubernur Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) di Kepulauan Maluku, mencatat kebiasaan berpindah tempat tinggal kelompok masyarakat di Maluku. Masa itu Maluku meliputi daerah penghasil cengkeh (Eugenia aromatica): Ternate, Tidore, Makian, Moti, dan Bacan. Menurut Padtbrugge, ketidakpastian akan tempat tinggal yang permanen akibat bencana alam dan perang, membuat mereka sering berpindah tempat.
- Kamp di Atas Ciranca
SIANG belum mencapai puncaknya, saat mobil yang kami tumpangi menaiki sebuah dataran tinggi di Ciranca, sebuah kampung kecil yang terletak sekitar 80 km dari pusat kota Tasikmalaya. Suasana sunyi. Pohon-pohon besar berderet di sepanjang jalan kampung yang berbatu, seolah pelindung area tersebut dari sengatan cahaya matahari yang saat itu tengah mencorong garang. Sejenak Muhajir Salam, sejarawan muda asal Tasikmalaya, mengamati situasi.
- Kegilaan yang Tersembunyi
ALKISAH, di padukuhan Sariwahan, tinggallah seorang remaja bernama Jaka Sudikda. Ayahnya seorang petani baru saja menikah lagi setelah ditinggal mati istri pertamanya. Kendati demikian, sehari-hari Jaka tidur bersama mereka. Suatu malam, ayah dan ibu tirinya berhubungan badan. Jaka, yang pura-pura tidur, menyaksikan persanggamaan itu. Dalam diam, ia menahan hasratnya.
- Surga Neraka di Kaki Borobudur
SUATU hari, tahun 1814, Letnan Gubernur Jenderal di Jawa Thomas Stamford Raffles mendapat laporan dari masyarakat tentang adanya susunan batu bergambar di Desa Bumisegoro, Magelang. Rupanya itu adalah bangunan suci yang kini dikenal luas sebagai Candi Borobudur.
- Kisah Tank Leopard Sebelum Tank Leopard 2
HAMPIR satu tahun membendung operasi militer Rusia, Ukraina mulai mendapat beragam bala bantuan alutsista, utamanya kendaraan tempur (ranpur) lapis baja berat, dari negara-negara Pakta Pertahanan Atlantik Utara NATO. Salah satunya dari Jerman yang sudah mengonfirmasi bakal mengirim tank tempur utama Leopard 2. Mengutip ABC , 25 Januari 2023, Kanselir Jerman Olaf Scholz selepas rapat kabinet memastikan akan mengirimkan 14 unit tank Leopard 2A6 ke Ukraina. Ranpur yang akan dikirim ada yang sudah siap tempur berasal dari Bundeswehr (militer Jerman) maupun yang masih baru dari pabrikan Rheinmetall AG. Kementerian Pertahanan Jerman mengonfirmasi ke-14 tank Leopard 2A6 itu akan dikirimkan pada akhir Maret hingga awal April 2023, menunggu pelatihan awak kru Ukraina selama tiga bulan. “Tank tempur utama Jerman, memperluas dukungan pertahanan dan misi-misi latihan, lampu hijau bagi para mitra untuk mensuplai alutsista serupa. Saya baru mendengar kabar yang penting dan tepat waktu ini dalam sambungan telepon dengan @OlafScholz. Dengan tulus saya berterimakasih kepada kanselir dan semua sahabat kami,” kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di akun Twitter -nya, @ZelenskyyUa , 25 Januari 2023. Baca juga: Kapal Kebanggaan Rusia yang Tinggal Nama di Ukraina Kanselir Scholz memberi lampu hijau pengiriman bantuan setelah melakoni sejumlah konsultasi intensif, termasuk dengan kolega-koleganya di NATO. NATO akan menyalurkan bantuan setidaknya dua batalyon atau 88 tank berbagai jenis untuk Ukraina. Presiden Amerika Joe Biden kemudian juga akan mengirimkan 31 unit tank M1 Abrams. Sementara, Polandia siap meluncurkan 60 tank modernnya. Dari 60 tank, 30 unit di antaranya adalah tank PT-91 Twardy, dan 14 unit lainnya adalah tank Leopard 2. Olaf Scholz, kanselir Jerman yang mengaku siap mengirimkan belasan tank Leopard 2 ke Ukraina ( bundeswehr.de ) Leopard 2 oleh banyak pengamat militer diyakini berkualitas jempolan. Tank buatan Krauss-Maffei Wegmann dan Maschinenbau Kielitu didesain pada 1979dan merupakan penerus Kampfpanzer Leopard 1 buatan Porsche AG dan Krauss-Maffei yang sudah eksis sejak 1965. Dalam “Technical Data-Leopard 2 MBT” yang dimuat di buku Leopard 2 Main Battle Tank Development and German Army Service, Frank Lobitz mencatat Leopard 2 varian standar punya spesifikasi bobot 68 ton dan ditenagai oleh mesin diesel turbo ganda V12 buatan MTU. “Monster” baja yang diawaki empat personel ini bisa melaju sampai kecepatan maksimal 68 km/jam. Baca juga: AMX-13 Tank Prancis Rasa Amerika Sementara, varian 2A6 yang akan dikirim ke Ukraina sebagai alutsista bantuan baru dikembangkan dalam kurun 2001-2005 sebagai upgrade dari Leopard 2A5. Tank Leopard 2A6 ditenagai mesin MTU MB 873 Ka-501 berjenis diesel twin-turbo berpendingin hingga bisa “berlari” sampai kecepatan 70 km/jam. Untuk persiapan siaga tempurnya, Leopard 2A6 dipersenjatai sepucuk meriam utama Rh-120 kaliber 120 milimeter (mm) dan bisa ditanami dua pucuk senapan mesin MG3A1 atau FN MAG kaliber 7,62 mm. Untuk pelindungnya, Leopard 2A6 berbalut “baju zirah” baja setebal 35-80 milimeter dari bagian lambung hingga turret -nya. Tank tempur Leopard 1, pendahulu Leopard 2 ( kmweg.de ) Dua Leopard Sebelum Leopard 2 Ulung dalam menjebak mangsa, pandai beradaptasi di segala situasi, hingga unggul dalam kecepatan merupakan gambaran sangarnya leopard ( Panthera pardus ) sebagai salah satu predator darat. Jerman sebagai salah satu negara maju dalam teknologi persenjataan pun gemar menggunakan nama leopard untuk monster-monster bajanya. Sebelum Leopard 2, sudah ada tank leopard Jerman yang lain yang muncul di masa “Reich Ketiga” pimpinan diktator Adolf Hitler mencengkeram Eropa di Perang Dunia II. Bahkan bukan hanya leopard, nama predator-predator lain seperti tiger atau panther juga digunakan untuk nama tank-tank Jerman. Menurut pengamat militer era Perang Dunia II Alif Rafik Khan, nama-nama macam Tiger, Panther, atau Leopard itu tentu bukan nama resmi. Penamaan itu hanyalah penjulukan yang lazim diberikan desainer atau pihak pabrikan dengan tujuan bisa lebih mudah diingat dan mengesankan kekuatan laiknya predator yang dimaksud. “Misalnya Tiger I nama resminya Panzerkampfwagen VI (PzKpfw VI) dan seterusnya. Nama Tiger diberikan (desainer) Ferdinand Porsche, meski kemudian produksinya lebih banyak oleh Henschel. Selain nama-nama kucing, nama binatang lain yang tak kalah sangar juga digunakan, seperti Elefant (Sonderkraftfahrzeug 101/Sd.Kfz 101) dan Nashorn (Sd.Kfz 164),” ujarnya penulis buku 1000+Fakta Nazi Jerman itu kepada Historia . Baca juga: Tank Gaek Bertahan Hidup Searah jarum jam: Tank Tiger I/PzKpfw VI, Panther/PzKpfw V, Nashorn/Sdf.Kfz 164 & Elefant/Sdf.Kfz 184 (Bundesarchiv) Jauh sebelum kemunculan Leopard 1 dan Leopard 2, Ferdinand Porsche yang pada akhir 1939 menjabat sebagai ketua Panzerkommission merancang tank medium Versuchkampffahrzeug 30.01 (VK30.01) atau Porsche Type 100. Tank itu kemudian dinamainya “Leopard”. Porsche mengembangkannya pada 1940 untuk menjawab kebutuhan Waffen Prüfen 6 (Wa Prüf 6/lembaga alutsista Jerman-Nazi) akan tank-tank baru yang gesit untuk menopang blitzkrieg (serangan kilat) ke Eropa Barat. Mengutip Kenneth W. Estes dalam German Heavy Fighting Vehicles of the Second World War: Front Tiger to E-100 , Porsche merancang dua purwarupa tank medium VK30.01 itu dengan dibantu pabrikan Krupp untuk bagian turret dan meriam L-56 berdiameter 88 mm-nya. Tank itu juga dilengkapi senapan mesin MG-34 sebagai senjata sekunder. Dari dua rancangan purwarupa, satu dibuat untuk diujicobakan. Tank medium Leopard itu dibuat dengan panjang 6,58 meter; lebar 3,05 meter; tinggi 2,8 meter; dan bobot 30 ton. Dengan ditenagai dua mesin Porsche V10, tank berlapis baja setebal 80 mm itu bisa melaju hingga kecepatan 60 km/jam. Tank yang diawaki lima kru itu merupakan tank lapis baja pertama yang ditopang steering (kendali elektrik) dan sistem berpendingin udara pada mesin bensinnya. Baca juga: Blitzkrieg , Serbuan Kilat ala Nazi Ilustrasi tank medium Porsche Typ 100 atau VK 30.01 Leopard ( tanks-encyclopedia.com ) Namun, tank medium Leopard ini urung diproduksi massal. Proyeknya dihentikan lantaran pada 26 Mei 1941 Hitler berubah pikiran dan meminta dua pabrikan tanknya, Porsche AG dan Henschel & Sohn, membuat tank-tank berat untuk meladeni ancaman tank T-34 dan KV-I Uni Soviet di front timur. “Dia (Hitler, red .) dengan program empat tahunnya menginginkan tank berat yang harus punya lapisan baja depan setebal 100mm dan harus punya meriam besar, setidaknya 75-88mm. Dia pun menghapus semua proyek-proyek (Porsche dan Henschel) sebelumnya,” tulis Estes. Setahun setelah Porsche menghentikan proyek tank medium Leopard VK 30.01, pabrikan Maschinenfabrik Augsburg-Nürnberg (MAN) merancang sebuah tank intai tempur VK 16.02. Tank ini kemudian diberi julukan “Leopard”. MAN merancang VK 16.02 Leopard untuk menggantikan tank ringan Luchs (kucing liar, red. ) alias PzKpfw II Ausf L. Peter Hamberlain dan Hilary L. Doyle dalam Encyclopedia of German Tanks of World War Two mencatat, tank VK 16.02 Leopard dikembangkan MAN dengan desain dasarnya mengacu pada PzKpfw V atau tank medium Panther. Pada saat bersamaan, MAN juga mengerjakan tank Panther pesanan Wa Prüf 6 untuk kebutuhan front timur. Baca juga: Empat Senjata Jerman yang Mengubah Dunia Ilustrasi rancangan tank VK 16.02 Leopard ( aviarmor.net ) Postur Leopard VK 16.02 lebih kecil ketimbang Panther tapi berselimut lapis baja lebih tebal, yakni 80 mm, dibanding Panther yang hanya 60 mm. Tank intai ini ditenagai mesin Maybach HL 157 P yang bisa memacu kecepatan hingga 45 km/jam. Meriam KwK 39 berdiameter 5 cm diplot sebagai senjata utamanya dan senapan mesin MG 34 sebagai sekundernya. Setelah mengembangkan desainnya, Wa Prüf 6 menginstruksikan MAN lebih fokus pada tank Panther. Alhasil proyek VK 16.02 Leopard diserahkan kepada dua pabrikan lain, Mühlenbau und Industrie Aktiengesellschaft (MIAG) dan Daimler-Benz, untuk melanjutkannya. “Pengembangannya didiskusikan dengan Hitler pada Maret dan Juni 1942. MIAG lalu dipercaya mengambil alih untuk konstruksi sasisnya dan Daimler-Benz untuk turret-nya. Semua desainnya sudah harus siap pada akhir Oktober 1942,” ungkap Hamberlain dan Doyle. MIAG dan Daimler-Benz yang mendapat “lungsuran” proyek itu masing-masing menyiapkan dua purwarupa. Menurut Bob Carruthers dalam Panzers I & II: Germany’s Light Tanks , versi purwarupa pertamanya dibuat lebih ringan (18 ton), dan lajunya lebih cepat. “Dan versi yang lebih lambat lajunya dengan bobot 26 ton. Tetapi di fase awal versi pertama batal dikerjakan karena ternyata terdapat ketimpangan antara bobot dan lapisan bajanya,” tulis Bob Carruthers. Baca juga: Riwayat Dua Alutsista Penggempur Andalan Marinir Adolf Hitler ditemani Albert Speer menginspeksi alutsista Jerman (Bundesarchiv) Sementara, versi kedua dibuat alakadar untuk sekadar memenuhi inspeksi oleh Hitler pada Mei 1942. Purwarupa ini dibuat dengan bahan kayu. Hitler terkesan. Ia lalu memerintahkan produksi Leopard sebanyak 105 unit dan harus selesai pada akhir 1943 serta produksi lanjutan sebanyak 150 unit pada musim semi 1944. Nahas, Leopard rancangan MAN dan kemudian MIAG dan Daimler-Benz itu mesti layu sebelum berkembang. Rapat antara Hitler dengan Menteri Persenjataan dan Perang Albert Speer pada 13 Oktober 1942 memutuskan, kebutuhan akan tank lebih ringan lebih mendesak di front timur. Proyek VK 16.02 Leopard itu, menurut Michael Sowodny dalam German Armored Rarities: 1935-1945 , akhirnya dianulir pada 3 Januari 1943. Speer memberi masukan untuk memodifikasi tank Panther varian intai walau pada akhirnya proyek Panther versi intai itupun urung direalisasikan. Baca juga: Albert Speer Arsitek Kebanggaan Nazi
- Jenderal-jenderal dari Minahasa
Pada 1950-an, setidaknya ada dua orang Minahasa yang menjadi panglima dalam ketentaraan Indonesia. Kolonel Alex Evert Kawilarang menjadi panglima Tentara dan Teritorium III Jawa Barat (Siliwangi) berkedudukan di Bandung, dan Letnan Kolonel Jacob Frederik Warouw alias Joop Warouw yang menjadi panglima Tentara dan Teritorium VII Indonesia Timur (Wirabuana) berkedudukan di Makassar, yang wilayahnya sangat luas dibanding yang lain. Alex Kawilarang lahir pada 23 Februari 1920. Bekas perwira KNIL ini bergabung dengan tentara Indonesia sejak 1945. Sementara Joop Warouw, yang lahir pada 8 September 1917, juga bekas prajurit zeni KNIL bagian lampu sorot. Ia sempat jadi tawanan Jepang. Sejak 1945, ia berjuang membela Indonesia. Joop Worouw tercatat dalam kartu tawanan perang berpangkat prajurit dua di KNIL. Ketika ditawan, ia tinggal di daerah Tambaksari, Surabaya, berdinas di batalyon zeni Divisi III KNIL. Baca juga: Orang Batak Jadi Jenderal Joop Worouw anak serdadu KNIL, Zacharias Kawengian Warouw dengan Carolina Paulina Rumerung. Begitu pula Alex Kawilarang, anak serdadu KNIL Mayor Alexander Herman Hermanus Kawilarang yang tewas tenggelam dalam insiden kapal Junyo di Muko-muko pada 19 September 1944. Alex Kawilarang dan Joop Warouw menjadi panglima hanya sampai 1956. Barbara Sillars Harvey dalam Permesta: Pemberontakan Setengah Hati menyebut Alex Kawilarang dipindahkan ke Washington sebagai atase militer untuk Amerika Serikat. Sedangkan Joop Warouw digeser ke Beijing pada tahun yang sama sebagai atase militer untuk Republik Rakyat Tiongkok. Joop Warouw digantikan oleh Letnan Kolonel Herman Nicolaas Ventje Sumual sebagai panglima Wirabuana. Baca juga: Jenderal Ambon Generasi Pertama di TNI Ketika Ventje Sumual jadi panglima terjadi pergolakan di Sulawesi. Mula-mula ada piagam Permesta yang ditandatangani tokoh-tokoh di Sulawesi.Namun, Permesta kemudianmenjadi perlawanan kepada pemerintah pusat. Alex Kawilarang dan Joop Warouw yang berada jauh dari kampung halamannya pun dipandang bagian dari Permesta. Joop Warouw tentu saja diajak. “ I a bergabung atas bujukan Daan Eduard Mogot, bekas mayor TNI, komandan Komando Militer Kota (KMK) Manado yang jadi pengusaha,” kata sejarawan Minahasa , Bode Talumewo. Ketika keadaan menjadi parah karena tidak ada penyelesaian yang baik antara pusat dan daerah, aksi bersenjata pun terjadi antara kedua belah pihak. “Kemudian, ketika Manado dibom, otomatis ia dan Kawilarang tergerak hatinya untuk membela tanah leluhurnya.Mereka tiba di Manado pertengahan Maret 1958,” kata Bode. Baca juga: Alex Kawilarang, Kisah Patriot yang Dicopot Alex Kawilarang, Joop Warouw, dan Ventje Sumual menjadi pemimpin penting Permesta. Namun, Joop Warouw terbunuh pada 1960 dan setelahnya Permesta melemah. Pergolakan Permesta membuat karier tiga bekas panglima itu tamat. Karier tantara dari daerah yang bergolak itu pun cenderung tidak begitu baik. Tentu saja ada perwira menengah berdarah Minahasa yang tidak ikut Permesta. Salah satunya Letnan Kolonel Hein Victor Worang yang pernah menjadi komandan infanteri di Lampung.Setelah Permesta meletus, menurut Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat , pria kelahiran 12 Maret 1919 itu diparkir sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) RIdari 1960 hingga 1966. “Hein Worang adalah orang Minahasa pertama yang menjadi jenderal,” kata Bode. Ch. A. Rondonuwu dalam Potret Diri H.V. Worang, Profil Anak Tani menyebut H.V. Worang dengan pangkat brigadir jenderal menjabat Komandan Korps Markas Staf Angkatan Bersenjata Departemen Pertahahan dan Keamanan (Dankorma Hankam) yang berkedudukan di Jakartapada 1965–1967. Setelah itu, H.V. Worang menjabat gubernur Sulawesi Utara (1967–1978). Ia pensiun dari militer dengan pangkat mayor jenderal. Setelah H.V. Worang, perwira Minahasa lain yang jadi jenderal adalah Frans Eddy Thanos Kaunang (1921–2003) dan Brigadir Jenderal TNI Willy Lasut yang pernah sebentar menjadi gubernur Sulawesi Utara ketika harga cengkih bagus. Baca juga: Pamflet Gelap di Malam Natal Menyerang HV Worang Sementara di Angkatan Laut, ada Fritz Suak. Majalah Kawanua , 1 Januari 1968 menyebut sekitar 1968, Fritz Suak sudah mencapai pangkat komodor, yang kala itu setara dengan laksamana pertama Angkatan Laut atau brigadir jenderal Angkatan Darat saat ini. Di Angkatan Udara, pada 1965 ada Letnan Kolonel Sylvester Charles Lantang. Dalam Riwayat Hidup Anggota-anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Hasil Pemilihan Umum 1971 disebutkan Charles Lantang lahir di Surabaya pada 11 Desember 1926. Pada 1945, ia menjadi anggota Laskar Pemuda Sulawesi lalu menjadi anggota ALRI di Lawang pada 1946. Setelah tahun 1971, ia menjadi marsekal pertama di AURI, yang setara dengan brigadir jenderal. Setelah tahun 1970, jumlah jenderal berdarah Minahasa bertambah di ABRI. Di antaranya Letnan Jenderal TNI Arie Jeffry Kumaat yang pernah menjadi kepala Badan Intelijen Negara, Mayor Jenderal TNI Glenny Kairupan yang pernah di penerbangan Angkatan Darat, dan Letnan Jenderal TNI Johnny Lumintang yang pernah sehari jadi panglima Kostrad. Hingga saat ini belum ada satu pun jenderal dari Minahasa yang menjadi orang nomor satu di Angkatan Darat. Namun, di Angkatan Laut, ada Laksamana TNI Rudolf Kasenda dan Laksamana TNI Bernard Kent Sondakh yang pernah menja bat Kepala Staf Angkatan Laut.*
- Para Perwira Angkatan Darat Didikan Amerika Serikat
Letnan Kolonel Ahmad Yani (1922–1965) merupakan perwira menonjol di tahun 1950-an. Ia dari Jawa Tengah dan terakhir di sana menjadi Komandan Resimen Infanteri ke-12 pada 1953 sebelum akhirnya ditarik ke Jakarta. Pada 1955, ia dikirim belajar ke US Command and General Staff College di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat. Sekolah ini semacam Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (Seskoad). Yani bukan satu-satunya perwira Indonesia di era Sukarno yang belajar di Amerika. Letnan Kolonel Soehario Padmodiwirio (1920–2014) alias Hario Kecik juga pernah belajar di Army Officers Advance Course pada 1956 dan United States Army Airborne Ranger Course pada 1958, keduanya di Fort Benning. Sebelumnya, Mayor Andi Muhammad Jusuf (1928–2004) alias M. Jusuf juga belajar di Army Officers Advance Course. Kawan sekampung Yani, Sarwo Edhie Wibowo (1925–1989) juga dikirim belajar ke Infantry Officers Advance Course pada 1957. Baca juga: Alasan Sarwo Edhie Wibowo Memimpin Operasi Penumpasan PKI Sekitar 1953–1954, menurut Vincent Bevins dalam Metode Jakarta , hanya beberapa perwira menengah Angkatan Darat yang belajar di Amerika. Setelah tidak ada sama sekali tahun 1958, maka pasca Dekrit Presiden 5 Juli 1959, terdapat 41 orang perwira menengah Indonesia belajar di sana, dan tahun 1962 sudah lebih dari seribu perwira Indonesia dilatih di Amerika. John Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massal mencatat sepanjang 1950 hingga 1965 terdapat 2.800 perwira Angkatan Darat yang dilatih di Amerika. Sejak Agustus 1958, Amerika Serikat telah memulai program bantuan untuk melatih perwira Indonesia di Amerika. John Roosa mencatat, dari 1958 sampai 1965 setiap tahunnya Amerika Serikat mengeluarkan US$10 juta hingga US$20 juta untuk membantu perwira Angkatan Darat. “Dan Washington memanjakan mereka,” catat Vincent Bevins. Para perwira menengah yang sedang belajar itu ibarat tamu agung. Biasanya mereka bisa mengendarai mobil dan mendapat uang saku. “Mereka dilatih dengan baik, ter-Amerikanisasi, dan banyak di antara mereka menjadi antikomunis di Kansas sana,” tulis Vincent Bevins. Baca juga: Jenderal yang Ditolak Jadi KSAD Sepulangnya ke Indonesia pada 1958, Kolonel Ahmad Yani menjadi komandan operasi penumpasan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dalam Operasi 17 Agustus di Sumatra Barat. PRRI sendiri mendapat bantuan senjata dari badan intelijen Amerika Serikat, Central Intelligence Agency (CIA). Setelah PRRI ditumpas, strategi Amerika menghadapi komunis, dalam hal ini Partai Komunis Indonesia (PKI), pun berubah. Amerika berharap kepada Angkatan Darat, yang sebelum 1962 dipimpin Jenderal TNI Abdul Haris Nasution dan kemudian dipimpin Letnan Jenderal TNI Ahmad Yani. Sayangnya, Ahmad Yani terbunuh pada 1 Oktober 1965 oleh pasukan Gerakan 30 September yang dipimpin Letnan Kolonel Untung. Begitu juga lima jenderal staf pembantunya. Meski begitu, asa Amerika dalam melawan komunis masih ada dalam Angkatan Darat. Sebab, masih ada ribuan perwira didikan Amerika lainnya dalam Angkatan Darat. Baca juga: Jenderal Yani dan Para Asistennya Brigadir Jenderal TNI Soewarto (1921–1967), yang dikirim belajar ke Fort Leavenworth pada 1959, meski sakit-sakitan masih hidup dan tidak jadi sasaran pasukan penculik. Dari 1960 hingga 1 Juni 1966, Soewarto adalah Wakil Komandan Seskoad di Bandung. Setelah 1 Juni 1966, ia menjadi komandan Seskoad. Pada masanya, Seskoad mengadakan Seminar Angkatan Darat Kedua di Graha Wiyata Yudha, Bandung, pada 25–31 Agustus 1966. “Dengan saksama dipimpin oleh Brigadir Jenderal Soewarto, dalam kesimpulannya mengulangi tema yang sudah tidak asing lagi bahwa Angkatan Darat, yang lahir dalam revolusi dan dengan demikian mempunyai hak dan kewajiban untuk memikul tanggung jawab di luar militer, telah terpaksa memperluas kegiatan nonmiliternya,” tulis Ulf Sundhaussen dalam Politik Militer Indonesia 1945–1967 . Belakangan setelah Sukarno lengser dan Soeharto berkuasa peran militer menjadi semakin luas. Baca juga: Kisah Para Deputi Jenderal Yani Seskoad adalah lembaga yang berani berbeda dengan Sukarno di awal 1960-an. Dari Seskoad juga kemudian Orde Baru dilahirkan. Era Soeharto, yang dikenal sebagai masa Orde baru, banyak perwira yang dulu belajar di Amerika telah menjadi perwira tinggi di Angkatan Darat. Soeharto tidak pernah belajar di Amerika, namun penggantinya dalam memimpin Angkatan Darat pada 1967 adalah Maraden Panggabean, yang dikirim ke Infantry Officers Advance Course pada 1956. Maraden lalu menjadi Panglima ABRI dari 1973 hingga 1978. Penggantinya adalah M. Jusuf juga pernah belajar di Amerika. Dari ribuan perwira Angkatan Darat yang belajar di Amerika, Hario Kecik adalah “produk gagal”. Kecik pernah berseberangan dengan Ahmad Yani setelah dikirim belajar ke Uni Soviet. Sepulang dari sana, ia menjadi tahanan politik Orde Baru.*
- Cerita dari Gulungan Pita
PENYANYI keroncong Anastasia Astutie masih ingat ketika ia rekaman dengan menggunakan alat rekam analog (kaset pita). “Agak melelahkan ya,” ujarnya. Ia mengibaratkannya rekaman menggunakan kaset seperti mengetik menggunakan mesin tik manual, sementara rekaman digital (menggunakan CD) ibarat mengetik menggunakan komputer. “Kalau mesti ngulang kan mesin tik manual kita mesti me-re type dari atas. Kalau komputer kan dilihat yang salah-salah saja,” ujarnya.





















