Hasil pencarian
Cari di situs ini
10056 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Seni Grafis Antara Estetika dan Propaganda
EMPAT lelaki bertubuh kekar terikat rantai di leher dan tangan. Dengan font stencil blok berwarna merah bertuliskan “Anti Perbudakan”, Digie Sigit ini coba merespons masalah perburuhan di tanah air.
- Pengiring Kesayangan Raja Jawa
DENGAN bertelanjang kaki, sekelompok pengiring berjalan mengiringi raja yang telah dinobatkan menuju Sitihinggil. Mereka berjumlah tujuh belas orang, mengenakan kain sebatas perut namun tanpa busana atasan maupun penutup kepala. Kelompok pengiring itu lebih dikenal dengan sebutan abdi dalem palawija. Mereka bertubuh kerdil, albino, bongkok, atau pincang –sehingga disebut juga abdi dalem cebolan. Mereka bertugas sebagai pengiring dan bagian dari pelengkap upacara (ubarampe) pada penobatan Sri Sultan Hamengku Buwana X sebagai Raja Ngayogyakarta Hadiningrat pada 7 Maret 1989.
- Kala Menteri Merangkap Ketua Umum PSSI
Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir terpilih sebagai Ketua Umum PSSI periode 2023-2027. Ia tak asing dalam dunia olahraga. Di dalam negeri, Erick pernah menjabat Ketua Umum PP Perbasi (2006–2010) dan Ketua Komite Olimpiade Indonesia (2015–2019). Dalam dunia olahraga internasional, Erick sempat mencuri perhatian publik saat membeli saham klub sepakbola papan atas Italia, Inter Milan pada 2013. Selain itu, bersama pengusaha Anindya Bakrie, Erick juga memiliki sebagian besar saham klub divisi tiga Liga Inggris, Oxford United. Erick bukan menteri pertama yang menjadi Ketua Umum PSSI. Sebelumnya, pada 1991 Menteri Perhubungan Azwar Anas terpilih menjadi orang nomor satu federasi sepakbola tanah air itu. Abrar Yusra dalam biografi Azwar Anas, Teladan dari Ranah Minang , menyebutkan, karena Kardono sudah menjalani dua kali masa jabatan sebagai Ketua Umum PSSI (1983–1991), dilangsungkanlah Kongres PSSI dengan agenda pokok pemilihan Ketua Umum PSSI untuk periode 1991–1995. Azwar Anas dicalonkan untuk menggantikan Kardono. Baca juga: Gusti Randa, dari Aktor menjadi Plt Ketua Umum PSSI Ismet D. Tahir, tokoh olahraga, mengaku yang mengusulkan Azwar Anas menjadi Ketua Umum PSSI. “Saya sudah kenal Pak Azwar ketika masih memimpin Komda PSSI Sumatra Barat. Beliau sukses membina PSP sehingga menjadi 10 besar kesebelasan Perserikatan. Beberapa pemain PSP bahkan menjadi pemain dan pelatih nasional. Misalnya Suhatman, Codot, dan Irawadi Uska. Beliau mulai dikenal ketika membina kesebelasan Porsep (Semen Padang) sebelum masuk Galatama,” ungkap Ismet. Setelah Azwar Anas menduduki posisi Ketua Umum PSSI, Ismet diangkat sebagai Ketua Bidang Profesional merangkap Administrator Kesebelasan Galatama.Azwar Anas pun menjabat Ketua Umum PSSI dengan merangkap jabatan Menteri Perhubungan (1988–1993) kemudian Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (1993–1998). Mengutip Profil 200 Tokoh Aktivis & Pemuka Masyarakat Minang terbitan Permo Promotion, Azwar Anas diangkat sebagai Menteri Perhubungan dalam Kabinet Pembangunan V. Pengangkatannya hanya berselang enam bulan setelah ia melepas jabatan Gubernur Sumatra Barat. Ada sejumlah hal yang dilakukan Azwar Anas saat menjabat Menteri Perhubungan periode 1988–1993, seperti menghapus sistem regionalisme Ditjen, memprakarsai berbagai penyusunan UU Perhubungan, hingga membangun jaringan angkutan KA Jabotabek, salah satunya pembangunan jalan rel kereta api layang dari Manggarai ke Jakarta Kota. Selain mengurus masalah perhubungan, Azwar Anas juga meningkatkan kegiatan olahraga, baik di lingkungan ditjen maupun BUMN. Kegiatan olahraga yang paling menonjol adalah voli dan sepakbola. “Malahan di lingkungan Departemen Perhubungan diselenggarakan kompetisi sepak bola antarklub,” tulis Abrar Yusra. Baca juga: Ketua Umum PSSI Mundur Setelah Timnas Gagal Pada masa kepemimpinannya sebagai Ketua Umum PSSI, Azwar Anas pernah mengundang legenda sepakbola Jerman, Frans Beckenbauer. Setelah mengamati kondisi sepakbola di Indonesia, Beckenbauer menyebut bahwa penyebab sepakbola tanah air sulit maju adalah kualitas pelatih yang tidak beres, wasit-wasit perlu ditingkatkan kualitasnya, sistem pelatihan kelompok umur secara bertingkat tidak berkesinambungan, serta sistem kompetisi bermasalah. Azwar Anas sendiri memang menyadari bahwa kelemahan sepakbola Indonesia ada di segala lini mulai dari pemain, pelatih, hingga sistem pembinaan. “Maka, ia pun memasang ancang-ancang, misalnya dengan mengirimkan sejumlah pelatih ke pelbagai negeri biang bola, mengirim pemain nasional di bawah usia 19 tahun seperti dilakukan ke Italia,” tulis majalah Tempo , 14 Mei 1994. Guna meningkatkan kualitas pemain, PSSI menghidupkan tujuh pusat latihan sepakbola di Jakarta, Surabaya, Medan, hingga Jayapura. Para murid di pusat latihan tersebut akan diadu di turnamen terbatas, yang tak hanya bertujuan untuk mengasah kemampuan para pemain, tetapi juga sebagai ajang untuk melihat kemampuan para pemain dalam mengolah bola di lapangan. PSSI juga menyelenggarakan pelatihan untuk wasit-wasit di Indonesia. Selain itu, penyelenggaraan kompetisi Perserikatan juga dibagi atas kompetisi wilayah barat dan wilayah timur. “Sedangkan kompetisi kesebelasan profesional disebut Kompetisi Liga Sepak Bola,” tulis Abrar Yusra. Baca juga: Ketua Umum PSSI Mundur karena Malu Azwar Anas menjabat Ketua Umum PSSI dua periode (1991–1995 dan 1995–1999). Namun, pada periode kedua, ia tidak menuntaskan masa jabatannya karena terjadi sepakbola gajah antara timnas Indonesia dan timnas Thailand dalam pertandingan memperebutkan Piala Tiger di Stadion Thong Nhat, Vietnam, pada 31 Agustus 1998. Mursyid Effendi, bek timnas Indonesia, menendang bola ke gawang sendiri. Gol bunuh diri itu membuat Thailand memenangkan pertandingan dengan skor akhir 3-2. Pertandingan ini kemudian ramai menjadi perbincangan publik karena terindikasi pengaturan skor. Azwar Anas terpukul oleh sepakbola gajah itu . Sebagai bentuk pertanggungjawabannya, ia memutuskan mundur sebagai Ketua Umum PSSI. Posisinya digantikan oleh Agum Gumelar. *
- The Tale of the King of Tire
THAT morning, President Sukarno was chatting over coffee with his closest friends at the Merdeka Palace. The head of state was informed of bad news from Ibrahim "Bram" Tambunan who told him about Indonesia's export of agricultural products that was being boycotted to enter the European market. As a solution, Bram suggested opening a trade office in the Netherlands that would handle the import of agricultural products from Indonesia and the export of industrial goods to Indonesia. Sukarno fully supported his idea.
- 15 Januari 1932: Malaise Membuat Belanda Masuk Kampung
Malaise atau depresi ekonomi yang melanda dunia, tak terkecuali Hindia Belanda, berimplikasi terhadap banyaknya orang Belanda yang ramai-ramai masuk ke perkampungan. Lesunya ekonomi dunia telah mengubah pola kehidupan orang-orang Belanda. Namun demikian, orang-orang Belanda dari golongan atas tampak tenang seolah tak terdampak. Beragam persoalan akibat depresi ekonomi antara lain tingginya angka pengangguran, kemelaratan ekonomi, dan naiknya kriminalitas. Harga hasil ekspor mengalami penurunan dan gaji-gaji buruh dipotong menjadi gambaran lain kelesuan ekonomi Hindia Belanda masa itu. Baca juga: 19 November 1846: Mula Tambang Batu Bara Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia Jilid V: Zaman Kebangkitan Nasional dan Masa Hindia Belanda disebutkansepanjang tahun 1931–1936 tercatat angka pengangguran di kalangan Eropa terus mengalami kenaikan. Pada November 1931 misalnya, pengangguran orang-orang Eropa mencapai 2.042 orang, naik dari 1.822 orang pada Januari 1931. Keadaan ini telah menampilkan buruknya peraturan-peraturan perusahaan besar milik orang Eropa. Setiap tahun mereka memiliki keuntungan besar, uang-uang persediaan juga banyak. Namun, jika pendapatannya berkurang sedikit, mereka segera melepas buruh-buruh asal negerinya. Agar terus memperoleh keuntungan, para pengusaha Eropa sering kali mengganti buruh-buruhnya dengan orang-orang pribumi yang lebih murah. Baca juga: 16 Desember 1931: Kolonisasi Ekonomi di Tanah Gayo Orang-orang Belanda yang terdampak meninggalkan kota dan masuk ke perkampungan. Surat kabar Bintang Timoer ,15 Januari 1932 mengabarkan, baik laki-laki maupun perempuan, segala usia tua dan muda, berperilaku baik maupun tidak baik, mereka umumnya berasal dari kalangan “kurang baik” yang sengaja datang ke kampung. Hal ini membuat keamanan kampung terancam. Koresponden De Indische Courant berkebangsaan Belanda yang sempat bermukim di Lawang (kini wilayah di Kabupaten Malang) menceritakan, orang-orang Belanda yang masuk ke kampung-kampung tak sedikit yang hidupnya melarat. Anak-anak Belanda bersekolah di desa-desa yang bercampur dengan anak-anak pribumi. Ia khawatir tumbuh kembang anak-anak Belanda jatuh ke tangan orang-orang yang tidak baik dan tidak bertanggung jawab. Baca juga: 7 Januari 1921: Dewan Kotapraja Batavia Larang Anak-anak Begadang Oleh karena itu, ia mengusulkan agar dibuat aturan yang membolehkan mengambil anak-anak Belanda dari orang tuanya dan dibawa keluar kampung. Hal ini terkait dengan dampak jangka panjang yang dialami anak-anak Belanda tersebut. Meskipun ada segelintir orang Belanda yang dapat berbaur dengan masyarakat kampung , n amun banyak di antara mereka yang bersikap kasar dan menyusahkan seperti menggertak, tidak membayar kopi dan barang-barang di warung.*
- Untung Surapati Kunjungi New York
LUKISAN bergaya baroque yang digoreskan dengan gradasi warna terang dan gelap cukup halus itu menggambarkan tujuh figur. Figur sentralnya, seorang Eropa kaya ditemani istri keturunan Jepang dan dua putrinya berdarah campuran, serta dua ekor anjing peliharaan plus dua budak berkulit eksotis.
- Motif di Balik Penundaan Pemilu
MAJELIS Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat membuat keputusan yang mengejutkan, yaitu memerintahkan Komisi Pemilihan Umum menunda Pemilihan Umum (Pemilu) tahun 2024 ke tahun 2025. Keputusan ini mengabulkan permohonan dari Partai Prima, yang sebelumnya kalah di Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) dan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).
- Soedjatmoko dalam Pikiran dan Kenangan
Rumah bergaya kolonial Belanda yang didominasi warna putih itu tampak asri. Begitu memasuki area dalam rumah, tampak sejumlah orang tengah melihat-lihat beragam arsip, foto, dan buku yang mengenai sosok, pemikiran, dan kiprah Soedjatmoko dalam sejarah Indonesia. Di kediaman Koko, sapaan akrab Soedjatmoko, yang berada di Jalan Tanjung No. 18, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat itu tengah digelar pameran “Membaca Soedjatmoko dari Rumah dan Ingatan” sejak 10–14 Januari 2023. Pameran tersebut dapat dikunjungi mulai pukul 11.00 WIB hingga 17.00 WIB. Selain itu, pada pukul 19.00 WIB diselenggarakan diskusi publik mengenai Soedjatmoko. Bagi pengunjung yang ingin melihat pameran itu dapat melakukan registrasi secara daring. Baca juga: Jalan Intelektual Soedjatmoko, Seorang Sosialis Kanan Soedjatmoko lahir di Sawahlunto, Sumatra Barat pada 10 Januari 1922. Ia dikenang sebagaipemikir yang sepanjang hidupnya bergumul dengan persoalan-persoalan besar yang dihadapi bangsa dan dunia. Pemikiran-pemikirannyatertuang dalam sejumlah tulisan. Soedjatmoko pernah memimpin majalah Siasat tahun 1947. Tulisan-tulisannya diterbitkan pula dalam publikasi ilmiah baik di dalam negeri maupun luar negeri. Beberapa tulisan tersebut dapat dilihat di pameran. Lukisan Soedjatmoko yang dipajang dalam pameran. (Amanda Rachmadita/Historia.ID). Kamala Chandrakirana, putri sulung Soedjatmoko, mengatakan pameran tersebut merupakan bagian dari rangkaian memperingati 100 tahun kelahiran Soedjatmoko yang digelar sejak tahun 2022. Menurut Nana, sapaan akrab Kamala, tujuan pameran untuk memperkenalkan Soedjatmoko kepada generasi muda. Terlebih beberapa gagasan dan pemikirannya dianggap masih relevan dengan berbagai isu kekinian. Baca juga: Pameran Pramoedya Ananta Toer dan Arsipnya Pameran dibagi menjadi beberapa bagian. Di ruangan pertama yang berbatasan dengan pintu masuk, pengunjung dapat melihat beragam arsip, foto, dan poster mengenai periodisasi kehidupan Soedjatmoko, yang pernah menjadi anggota Partai Sosialis Indonesia (PSI) pimpinan Sutan Sjahrir. Di ruangan itu, pengunjung juga dapat melihat barang-barang milik Soedjatmoko, yang beberapa di antaranya kerap menemani aktivitasnya sehari-hari, seperti kacamata, mesin tik, dan jam tangan. Tulisan-tulisan Soedjatmoko yang dihadirkan dalam pameran. (Amanda Rachmadita/Historia.ID). Di bagian lain ditampilkan korespondensi Soedjatmoko dengan Sjahrir dan Soebadio Sastrosatomo dari tahun 1962 hingga 1965. Menurut Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 4 , Soedjatmoko bersama Soedarpo Sastrosatomo dan Soebadio Sastrosatomo memiliki hubungan baik dengan Sutan Sjahrir, tokoh pendiri bangsa yang pernah menjabat Perdana Menteri. Ketiganya disebut The Sjahrir Boys , yang berarti termasuk lingkaran dalam Sjahrir. Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, Soedjatmoko turut bersama Haji Agus Salim, Sumitro Djojohadikusumo, dan Charles Thambumenjadi anggota delegasi yang dipimpin oleh Sutan Sjahrir untuk membela Republik Indonesia di sidang Dewan Keamanan PBB pada 1947. Baca juga: Pameran Surat-surat Pribadi Pendiri Bangsa Di salah satu ruangan pameran, pengunjung dapat melihat beragam arsip yang berkaitan dengan gagasan Soedjatmoko terkait politik dan kebudayaan. Ada pula foto yang menampilkanSoedjatmoko bersama sejumlah tokoh dunia. Interaksi Soedjatmokodengan tokoh-tokoh asing tentu tak mengherankan,karena selain pernah menjadi anggota delegasi Republik Indonesia pada DK-PBB (1947–1950), ia juga pernah menjabat Wakil Kepala Perwakilan Tetap Republik Indonesia di PBB (1951–1952), Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat (1968–1971), dan Rektor Universitas PBB di Tokyo, Jepang(1980–1987). Penghargaan Magsaysay Award untuk Soedjatmoko dapat dilihat di pameran. (Amanda Rachmadita/Historia.ID). Dalam pameran tersebut, pengunjung juga dapat melihat medali Ramon Magsaysay Award yang dihadiahkan kepada Soedjatmoko tahun 1978. “Berita dari Manila mengatakan ahli kemasyarakatan Indonesia Soedjatmoko Mangoendiningrat memperoleh Hadiah Magsaysay untuk salingpengertian internasional karena jasa-jasanya bagi peningkatan taraf hidup rakyat miskin di Asia,” demikian dikutip dari Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1981–1982 . Selain tulisan-tulisan Soedjatmoko tentang politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan, di ruangan lain pengunjung dapat melihat tulisan-tulisan dari para tokoh mengenai Soedjatmoko. Tulisan-tulisan tersebut dipublikasikan di sejumlah media cetak untuk mengenang Soedjatmoko yang meninggal di usia 67 tahun pada 21 Desember 1989. Baca juga: Menyesapi Cerita-cerita Tersembunyi di Pameran Revolusi! Melalui pameran arsip keluarga Soedjatmoko, yang sebagian besar dirapikan dan dikategorisasikan oleh istrinya, Ratmini Gandasubrata, pengunjung dapat lebih mengenal sosok dan pemikiran Soedjatmoko yang berpangkal pada kemanusiaan dalam mengembangkan gagasan mengenai masyarakat, alam, ilmu dan teknologi, serta pergaulan antarbangsa. Nana berharap pameran ini dapat menjadi salah satu rujukan bagi generasi muda yang sedang mencari jalan untuk menjawab persoalan-persoalan masa kini. *
- Ketika Khalifah Tak Lagi Duduk di Singgasana
PASUKAN Utsmani tengah bersiap bergerak ke tepi barat Terusan Suez ketika badai pasir membutakan pandangan pada malam 1 Februari 1915. Sementara pasukan Sekutu yang menguasai Kanal Suez tak bisa membuka mata, komandan Jerman dan Utsmani justru memanfaatkan badai itu. Bergerak dengan senyap, mereka mendekati Ismailia.
- Jejak Peace Corps di Indonesia
NAMANYA Melanie Aleman. Usianya 26 tahun. Ia gadis asal New Orleans, Amerika Serikat (AS). Di Bondowoso, Jawa Timur, ia menghabiskan waktunya dengan mengajar bahasa Inggris di sebuah madrasah. Di waktu senggang, ia mengajar yoga atau melakukan kegiatan lain untuk meningkatkan keterampilan anak-anak didiknya.
- Melipat Sejarah Martabak Pecenongan 65A
Camilan menjadi pilihan banyak orang untuk menemani kegiatan sehari-hari. Camilan menjadi teman saat minum kopi atau teh. Bahkan, di setiap rumah dan kantor selalu menyuguhkan camilan di meja ruang tamunya. Salah satu camilan yang digemari adalah martabak yang ditengarai berasal dari bahasa Arab, atau murtabak atau mutabbaq yang artinya lipatan. Konon martabak berasal dari India yang tersebar melalui perdagangan hingga Asia Tenggara. Selain di Indonesia, martabak juga dapat ditemukan di negara-negara lain. Martabak gampang ditemukan di mana-mana. Di ibu kota Jakarta, salah satu martabak terkenal adalah Martabak Pecenongan 65A, yang terletak di kawasan wisata kuliner Pecenongan, Jalan Pecenongan Raya, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat. “Sekarang pemilik Martabak Pecenongan 65A sudah diambil alih oleh anak dan mantu dari pencetusnya,” ujar Lukman (27), kasir yang telah bekerja selama lima tahun di kedai Martabak Pecenongan 65A. Baca juga: Hilangnya Martabak India Asli Pencetus Martabak Pecenongan 65A adalah Agustinus yang merantau dari Bandung ke Jakarta. Awalnya ia bekerja sebagai penjual obat. Ia kemudian mengikuti jejak kakaknya, pemilik Martabak San Fransisco. Agustinus membuka kedai martabak di depan gerai kakaknya pada 1970. Namun, kakaknya pindah ke Bandung. Sehingga martabak milik Agustinus menjadi satu-satunya dan pelopor penggunaan nama Pecenongan. Hingga tahun 1980-an, Pecenongan masih sepi, baru ada beberapa pedagang kaki lima, dan sebagian tanah masih rawa-rawa. Namun, Pecenongan kemudian berkembang menjadi salah satu pusat jajanan kuliner di Jakarta dan menjadi pusat kumpul-kumpul anak muda. Mengutip martabak65a.com , seiring semakin ramainya daerah Pecenongan, semakin terkenal pula martabak yang didirikan Agustinus yang diberi nama Martabak Bandung Asli Pecenongan No. 65A. Karena kebiasan masyarakat menyebut nama jalan, martabak itu pun lebih sering disebut Martabak Pecenongan. Kepopuleran Martabak Pecenongan membuat beberapa orang turut menggunakan nama Pecenongan untuk berjualan martabak. Mereka meniru mulai dari nama, desain kotak martabak, seragam pegawai, hingga menu.Tetapi, karena Martabak Pecenongan 65A menjaga kualitas bahan dan rasa, masyarakat pun dapat membedakan mana yang asli dan mana yang peniru. Baca juga: Lezatnya Sejarah Bubur Cikini Memasuki tahun 2007, Danniel, anak Agustinus, yang lulusan desain grafis dan telah bekerja di percetakan terkemuka, melakukan rebranding dengan menggunakan nama Martabak65A. Sehingga nama merek menjadiMartabak 65A Bandung Asli Pecenongan. Selain nama, Danniel juga mendesain logo, desain menu, desain box, desain kostum, desain spanduk, dan lain-lain. Dengan populernya sosial media, Martabak65A juga menggunakannya sebagai strategi marketing. Martabak Pecenongan 65A dikenal juga sebagai pelopor varian baru yang disukai berbagai kalangan. Pada 2013 diluncurkan menu baru, yaitu martabak toblerone dan martabak nutella . “Bahkan sekarang martabak ini menjadi favorit aktor Rio Dewanto. Ia juga pernah mengusulkan untuk menambah topping cokelat toblerone di kedai ini,” ujar Lukman . Baca juga: Mencicipi Sejarah Soto Betawi Lukman mengatakan, menciptakan varian baru menjadi tradisi di kedai ini. Tahun ini pun ada varian tiramisu. Dari sekian banyak varian, yang paling favorit adalah varian klasik. Harga martabak bervariasi mulai dari Rp100.000. Martabak tipis mulai dari Rp50.000.Sedangkan martabak kombinasi enam dan delapan rasa dibanderol lebih dari Rp200.000. Kedai martabak yang buka pukul 11.00–00.00 WIB ini dibantu oleh beberapa pegawai. “Mengingat sekarang penerus Martabak Pecenongan 65A jarang ke sini, tetapi mereka menaruh kepercayaan kepada para karyawannya,” ujar Lukman. Untuk menjangkau pembeli lebih luas lagi sehingga tidak perlu ke Pecenongan, Martabak Pecenongan 65A membuka tiga cabang di Jakarta, yaitu Everplate Kemang, Everplate Anggrek, dan Pantai Indah Kapuk (PIK) Elang Laut. “Martabak ini terus konsisten melayani pelanggan, rasanya pun tidak bisa dibohongi, bagi yang sudah mencoba pasti balik lagi kesini, sehingga setiap tahun martabak ini melakukan branding kualitas, kualitas, dan kualitas,” kata Lukman. Penulis adalah mahasiswa magang dari Politeknik Negeri Jakarta .
- Kali Buatan Berbayar di Batavia
Jakarta dikenal sebagai kota yang memiliki banyak sungai dan kanal. Hal itu berkaitan dengan penataan wilayah Batavia oleh pemerintah kolonial Belanda, yang gemar menggali kali-kali buatan atau kanal-kanal yang disebut grachten . Pembangunan kanal-kanal itu sebagai manifestasi dari kota-kota di negeri asal mereka, yang terbelah-belah oleh beberapa grachten . Menurut Tanu Trh dalam Kisah Jakarta Tempo Doeloe , jumlah kali di Jakarta mencatat rekor di masa kekuasaan Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC). Tempo dulu anak sungai, terusan atau parit lebar yang menghubungkan aliran sungai yang satu dengan yang lain, kebanyakan berada di bagian utara kota. Orang Belanda menyebutnya benedenstad atau kota bawah, yakni daerah Mangga Besar ke arah utara. Penggalian kali-kali buatan bukan hal baru dalam penataan kota Batavia. Pembangunan tersebut tak hanya dilakukan VOC, pihak swasta juga membangun kali-kali buatan dengan seizin VOC. Pembangunan itu biasanya berdasarkan pertimbangan komersial-ekonomis, karena banyak sampan mengangkut barang-barang dagangan melintasi sungai maupun kanal di Batavia. Tanu menyebut banyak sampan mengangkut barang-barang yang “potong kompas” agar lebih cepat tiba di tempat tujuan. Tak heran sampan kerap terlihat lalu-lalang melintasi kanal atau kali buatan. Perahu atau sampan yang melintas di kali buatan diwajibkan membayar tol kepada pemilik atau pembuat kali-kali buatan tersebut. “Tidak berbeda dengan keadaan sekarang, kalau kendaraan bermotor melewati jalan tol,” tulis Tanu. Baca juga: Cara Penduduk Batavia Memperoleh Air Minum AAturan wajib bayar tol salah satunya diberlakukan di bagian kali Ciliwung, yang lurus dari Harmoni ke utara karena dulunya merupakan kali swasta. Sejarawan Alwi Shahab dalam Betawi Queen of The East menyebut kali Ciliwung yang membelah kawasan Jalan Gajah Mada dan Huyum Wuruk merupakan sungai buatan atau sebuah kanal dengan “menyobek” kali Ciliwung yang dialirkan ke sana. Di masa silam, kali ini juga dikenal dengan nama kali Molenvliet , yang dalam bahasa Belanda berarti Molen (kincir) dan vliet (aliran), karena dahulu di kawasan ini terdapat kincir angin meniru sistem pengairan Belanda. Proyek pembangunan kali Molenvliet berlangsung pada pertengahan abad ke-17. Seorang Kapitan Cina yang dikenal sebagai ahli pengairan, yakni Phoa Beng Gan, ditunjuk sebagai arsiteknya. “Phoa kemudian mengadakan rapat kongkoan (Dewan Tionghoa) yang setuju membiayai penggalian kanal mengingat VOC tidak punya uang,” tulis Alwi Shahab. Baca juga: Phoa Beng Gan, Jago Pengairan Tionghoa di Batavia Phoa Beng Gan yang memimpin penggalian kanal itu mengerahkan banyak tenaga kerja untuk menyelesaikan proyek tersebut. Manfaat mulai terlihat setelah penggalian kanal sampai ke Jalan Ketapang. Daerah rawa di sekitar kanal itu menjadi kering, sehingga nyamuk-nyamuk anopheles lambat laun mulai berkurang. Banyaknya rawa yang mengering lalu dimanfaatkan sejumlah penduduk untuk membangun rumah dan perkebunan di area sekitar kanal. Hasil panen dari perkebunan itu diangkut dengan perahu-perahu melalui kanal tersebut. Dalam Ensiklopedi Jakarta: Culture & HeritageVolume 1 yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Provinsi DKI Jakarta, disebutkan bahwa Phoa Beng Gan mendapat izin dari kompeni untuk membuat kali Molenvliet pada 1648. Ia kemudian memungut tol dari sampan-sampan yang melewati kanal tersebut. Baca juga: Miras dari Air Kali Ciliwung Menurut sejarawan Susan Blackburn dalam Jakarta Sejarah 400 Tahun , kanal ini merupakan sarana angkutan barang dagangan lokal untuk membuka daerah pedalaman. “Sepanjang jalur air ini dibangun banyak kincir air untuk pabrik bubuk mesiu, penggilingan jagung, dan penggergajian kayu. Karena itulah daerah ini dikenal dengan nama Molenvliet atau kanal penggerak kincir,” tulis Susan. Pada 1654, kali Molenvliet diambil alih kompeni dengan harga 1.000 real. Phoa Beng Gan melepasnya karena pengelolaannya tidak lagi menguntungkan, sehubungan dengan penggalian terusan-terusan baru yang dilakukan kompeni. F ungsi kali Ciliwung tak hanya sebagai jalur transportasi air. S ampai abad ke-19 , air kali Ciliwung masih digunakan penduduk Batavia untuk memenuhi kebutuhan air minum. S eiring berjalannya waktu kali Ciliwung semakin tercemar sehingga tak lagi digunakan untuk air minum. Sampan pengangkut barang yang hilir mudik melintasi kanal itu di zaman kolonial Belanda kini sudah tak terlihat lagi. *





















