Hasil pencarian
Cari di situs ini
10054 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- R. Soeprapto, Jaksa Agung Perintis Reformasi Hukum
SUATU hari di ruang kerja Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo terjadi perdebatan sengit. Kala itu, Ali memanggil Raden Soeprapto, Jaksa Agung pada Mahkamah Agung, untuk membicarakan kasus dugaan korupsi Menteri Luar Negeri Roeslan Abdulgani, pada 1956. Ali meminta Soeprapto mendeponir atau membatalkan kasus Roeslan. Ali berpendapat dakwaan terhadap Roeslan tak bisa dilanjutkan. Meski Roeslan diberatkan oleh tiga orang saksi, ada tiga saksi lain yang meringankan Roeslan. Jadi kasusnya seimbang. Tapi Soeprapto menolak mentah-mentah argumen itu. Kasus hukum bukanlah pertandingan sepakbola yang bisa berakhir imbang. Ali terus mendesak Soeprapto. Dia mengatakan penuntutan terhadap seorang menteri dari partai besar bisa menyebabkan gejolak pemerintahan. Apalagi pemerintah lagi pusing-pusingnya dengan pergolakan daerah. Soeprapto membalas, urusan gejolak dan pergolakan daerah adalah tanggung jawab pemerintah. Tak ada sangkutannya dengan kasus Roeslan.
- Perang Tanding di Iwo Jima (2)
LETNAN Jenderal Tadamichi Kuribayashi memiliki sikap dan strategi yang sangat berbeda dengan Letnan Jenderal Yoshitsugu Saito, koleganya dari Divisi ke-43 Tentara Kekaisaran Jepang yang memimpin perang di Saipan. Jika Saito membolehkan sake (minuman keras khas Jepang) beredar di bunker-nya, maka Kuribayashi melarang sama sekali anak buahnya meminum setetes pun sake selama berhadapan dengan tentara AS di Iwo Jima. Sebelum membangun pertahanan di Iwo Jima, Kuribayashi memerintahkan agar penduduk sipil menyingkir ke daratan Jepang. Dia meyakini bahwa sebuah pangkalan militer harus terbebas dari penduduk sipil karena mereka dianggap hanya akan menghambat suatu operasi militer yang besar. Sang jenderal juga menabukan kehadiran perempuan penghibur di basis pertahanannya. “Dia berpendapat perempuan penghibur hanya akan menghancurkan moral para prajuritnya,” ungkap R.S. Boender dalam Terhempas Prahara ke Pasifik . Kuribayashi sangat mafhum jika para prajuritnya tidak hanya harus membangun benteng pertahanan yang tangguh, namun mereka pun harus memiliki mental sekuat baja. Terlebih mereka akan melakukan perlawanan dari bawah tanah dalam jangka waktu yang tak terhingga. Perasaan bosan dan putus asa tentu saja harus dienyahkan. Mengapa sang jenderal lebih memilih pasukannya untuk membangun benteng-benteng beton di bawah tanah? Lewat suatu riset yang panjang, Kuribayashi meyakini pulau yang ditutupi pasir hitam Gunung Suribachi dan dipenuhi karang itu akan kuat menahan bom-bom AS. Dan keyakinannya itu memang menemukan kebenaran di lapangan. Sebelum mendaratkan pasukannya ke pantai Iwo Jima, pesawat-pesawat B-29 AS telah membombardir pulau tersebut selama 72 hari berturut-turut. Tidak cukup itu, kapal-kapal perang Angkatan Laut AS tiga hari sebelum D-day juga ikut menghajar Iwo Jima dengan ribuan ton peluru. Namun ajaibnya benteng pertahanan yang dibangun oleh para prajurit Divisi ke-109 tetaplah utuh. Upaya identifikasi pertahanan Jepang yang dilakukan oleh Angkatan Udara AS dari atas juga seolah tak menemui hasil. Karena kemahirannya dalam ilmu penyamaran, sarang-sarang senapan mesin dan meriam tersamarkan oleh sekumpulan tanaman bunga yang beraneka ragam. “Foto yang diambil oleh pesawat pengintai tak ada gunanya,” ungkap P.K. Ojong dalam Perang Pasifik . Jumat, 16 Februari 1945 mulailah Armada ke-5 AS bergerak ke Iwo Jima. Tiga hari kemudian mereka mendaratkan pasukannya di pantai berpasir hitam tersebut. Menurut informasi resmi Museum Nasional Perang Dunia II, lebih dari 70.000 prajurit USMC (Korps Marinir Amerika Serikat) pimpinan Letnan Jenderal Holland M. Smith diturunkan guna menghadapi 23.000 anak buah Letnan Jenderal Kuribayashi. Pendaratan mereka pada awalnya berjalan mulus. Namun begitu jarum jam menunjukan angka 9, senapan mesin dan meriam-meriam Jepang mulai menyalak seolah dengan suara-suara itu mereka ingin menghantarkan neraka kepada para marinir tersebut. Para penyerbu yang bertiarap lalu bergerak dengan tubuhnya memang selamat dari hajaran senapan mesin. Namun begitu mortir raksasa Jepang yang memiliki diameter 320 mm menyalak, maka para perangkak pun tak bisa berbuat apa-apa selain harus menerima hantaman peluru mortir dan pecahannya. Dalam hantaman pertama ratusan prajurit marinir langsung berjatuhan. Sebagian besar dari mereka langsung tewas di tempat. Panik yang menggila meliputi pasukan marinir kala itu. Dalam situasi tersebut, keunggulan teknik militer AS sama sekali tak berguna. Mereka hanya bisa menembakan senjatanya secara membabibuta karena musuh yang mereka harus hadapi tidak terlihat seorang pun. Berbeda dengan kolega-koleganya di palagan Pasifik lainnya, Kuribayashi sama sekali “mengharamkan” pasukannya untuk melakukan serangan banzai . Mereka diperintahkan untuk tinggal di dalam benteng pertahanan sembari menghabisi musuh sebanyak-banyaknya. Praktis pasukan marinir harus merebut tanah Iwo Jima secara permeter, benteng perbenteng sambil merangkak dengan perut. Itu pun terjadi dengan korban yang sangat banyak. Akibat tembakan meriam kaliber 320 mm, sebagian besar korbannya tewas dengan kondisi luka yang mengerikan. “Belum pernah saya melihat tubuh-tubuh yang begitu rusak di Pasifik seperti di Iwo Jima,” ungkap jurnalis perang Robert Sherrod dalam laporannya di majalah Time, 5 Maret 1945. Awal Maret 1945, perlawanan pasukan Jepang mulai mereda. Pertempuran kemudian hanya dilanjutkan dengan operasi-operasi pembersihan semata. Selama hampir sebulan, Pertempuran Iwo Jima telah mengorbankan hampir 27 ribu prajuritnya dengan rincian: 6.821 orang tewas dan 20.000 lainnya terluka parah, cacat dan menjadi gila. Sementara itu di pihak Jepang, dari 23.000 prajurit hanya sekira 200 orang yang bisa ditangkap hidup-hidup dan menjadi tawanan. Menurut Boender, sebagian besar dari tawanan itu bukanlah orang Jepang melainkan orang Korea dan Taiwan. Kuribayashi sendiri “dicurigai” telah tewas di ujung utara dari Iwo Jima. Secara fisik, jasadnya tak pernah teridentifikasi oleh pasukan AS. Hal itu terjadi karena seluruh mayat tentara Jepang yang ditemukan di bunker-bunker tersebut sama sekali tak beridentitas dan tanda pangkatnya secara sengaja dimusnahkan. Dalam memoirnya, Coral and Brass , Jenderal Holland Smith mengenang Kuribayashi sebagai musuh yang sangat cerdik, kuat dan pantang menyerah. Dalam nada kagum, dia menyatakan bahwa jika pihak Jepang memiliki berbagai bintang jasa maka sudah sepatutnya Kuribayashi mendapatkan semua bintang-bintang itu. Bahkan kepada jurnalis perang Robert Sherrod, seorang perwira AS pernah mengatakan tak berharap Jepang akan melahirkan kembali manusia seperti Kuribayashi.*
- Putra Mahkota yang Terbuang
CURHAT Pangeran Harry dan istrinya, Meghan Markle, kepada Oprah Winfrey di sebuah program stasiun televisi CBS belum lama ini mengguncang internal Kerajaan Inggris. Dalam acara yang dibuat pada 7 Maret 2021 itu, keduanya curhat banyak, mulai dari isu rasisme, media-media Inggris yang melacak latar belakang keluarga Meghan, hingga kekangan yang bikin depresi Meghan selama berada di lingkungan kerajaan. “Dalam bulan-bulan saya sedang hamil, semuanya dalam waktu bersamaan, kami mengadakan pembicaraan bersama saya dan Harry (dengan anggota kerajaan senior), bahwa dia (bayi di kandungan Meghan) takkan diberi gelar dan juga pembicaraan mengenai seberapa gelap warna kulitnya saat lahir,” kata Meghan kepada Oprah. Hal itu diverifikasi Oprah saat Harry bergabung dalam wawancara itu. Harry membenarkannya meskipun tak mau menyebutkan siapa saja yang ditengarai melontarkan pertanyaan berbau rasisme itu. Harry hanya ingin berbagi perasaan, betapa ia dan Meghan begitu terkekang di dalam istana. “Saya terjebak di dalam sistem, sebagaimana keluarga saya. Ayah dan kakak saya (Pangeran Charles dan Pangeran William) keduanya juga terjebak. Mereka tidak bisa pergi dan saya merasa sangat kasihan soal itu. Semua senyum di depan kamera tak lain adalah bagian dari tugas (sebagai anggota kerajaan),” aku Harry. Bagi pihak istana, apa yang dicurahkan Harry dan Meghan kepada Oprah tak lebih dari sekadar tudingan. Pihak Istana memberi pernyataan: “Segenap keluarga merasa sedih mendengar apa yang dialami Harry dan Meghan beberapa tahun terakhir ini. Isu-isu yang dikemukakan, terutama tentang ras, sangat mengkhawatirkan. Sementara beberapa ingatan akan klaim itu mungkin berbeda dan oleh karenanya menjadi perhatian serius kami dan akan ditangani oleh keluarga secara privat. Harry, Meghan, dan Archie (putra Harry-Meghan) akan selalu dicintai oleh anggota keluarga,” demikian bunyi pernyataan tertulis istana, dilansir CNBC , 9 Maret 2021. Pernyataan pihak istana itu langsung dibantah Pangeran William kala dicecar wartawan saat mengunjungi sebuah sekolah di London Timur. “Yang pasti kami bukanlah keluarga yang rasis. Saya belum bicara pada dia (Harry), namun akan segera saya lakukan,” ujarnya sebagaimana dikutip Variety , 11 Maret 2021. Tak ayal, klaim Harry dan Meghan menuai pro dan kontra, khususnya di Inggris. Kegegeran itu seolah jadi klimaks pasca-mundurnya putra mahkota setelah Charles dan William itu dari kehidupan istana pada Januari 2020. Kontroversi Harry ibarat mengulang kisah yang dilakukan kakek buyutnya, Raja Edward VIII. Edward Melawan Arus Bernama lengkap Edward Albert Christian George Andrew Patrick David, putra sulung Raja George V ini jadi putra mahkota garis pertama dan langsung menggantikan sang ayah yang meninggal pada 20 Januari 1936. Sebagai penerus, ia tetap mempertahankan namanya dan memilih gelar Raja Edward VIII. Sejarawan Philip Ziegler dalam King Edward VIII: The Official Biography mengungkapkan, sudah banyak tradisi lama yang ia langkahi sejak hari-hari pertamanya sebagai raja. Seperti menjadi anggota kerajaan pertama yang datang ke Dewan Penobatan di Istana St. James, London dengan pesawat yang terbang dari Sandringham. Ia juga menyaksikan proklamasi penobatannya dari balik jendela istana tersebut. “Pendekatan yang tidak lazim dengan perannya juga menyangkut gambar uang koin yang terpahat gambar dirinya. Dia melanggar tradisi dengan gambar di koin yang menghadap berlawanan dengan para pendahulunya. Edward bersikeras ingin wajahnya menghadap ke kiri hanya untuk memperlihatkan belahan rambutnya,” imbuh Ziegler. Puncak laku kontroversialnya adalah ketika Edward menyampaikan rencananya menikahi kekasihnya, Wallis Simpson, pada Perdana Menteri (PM) Inggris Stanley Baldwin. Hal itu menjadi problem karena Wallis masih berstatus sebagai istri orang meski sedang dalam proses cerai. Terlebih, tradisi dari Gereja Inggris melarang seorang raja Inggris menikahi janda dari proses cerai. “Sebagai raja, Edward juga memegang gelar kepala Gereja Inggris dan para agamawan berharap Edward menaati tradisi itu. Jika tidak, Uskup Agung Cosmo Gordon Lang meminta Edward turun takhta,” ungkap Robert Pearce dan Graham Goodlad dalam British Prime Minister From Balfour to Brown. Empat putra mahkota Inggris, ki-ka: Pangeran George, Pangeran Edward, Pangeran Albert yang lantas jadi Raja George VI & Pangeran Henry. ( npg.org.uk ). Agar tetap bisa bertakhta, Edward menawarkan kompromi berupa dia dan Wallis akan menjalani pernikahan morganatik. Dengan begitu, Edward tetap bisa jadi raja namun Wallis takkan digelari permaisuri. Pun anak-anak mereka kelak, juga takkan punya gelar setara anggota kerajaan senior. Kerabat kerajaan pun geger. Negeri-negeri persemakmuran seperti Australia, Kanada, Irlandia, Afrika Selatan, dan Selandia Baru pun sama. Alhasil, PM Baldwin memberi Edward tiga opsi: batal menikahi Wallis, menikah tanpa persetujuan para perdana menteri, atau turun takhta. Edward memilih opsi ketiga. Pada 10 Desember 1936, Edward menyerahkan takhtanya kepada adiknya, Pangeran Albert (George VI), kendati belum setahun berkuasa. Edward lantas menerima gelar lamanya lagi, Duke of Windsor, gelar yang dibuat sang adik untuk sang kakak. “Mustahil bagi saya untuk memanggul tanggung jawab yang besar dan melepaskan tugas saya sebagai raja sebagaimana keinginan saya tanpa bantuan dan dukungan perempuan yang saya cintai. Keputusan ini adalah keputusan saya pribadi,” ujar Edward dalam pidato radionya pada 11 Desember 1936 malam, dikutip arsip yang diunggah di laman resmi kerajaan . Kontroversi Politik Edward harus menerima pengasingannya selama dua tahun di Prancis. Pada 3 Juni 1937 di Château de Candé, Tours, Prancis, Edward meminang Wallis setelah kekasihnya itu resmi bercerai dari suaminya, Ernest Aldrich Simpson. Pernikahan itu tidak dihadiri anggota Kerajaan Inggris. Pelanggaran terhadap larangan kerajaan menimbulkan konsekuensi besar bagi finansial Edward. Properti Edward di Wisma Sandringham dan Puri Balmoral diambil alih Raja George VI. Untuk hidup sehari-hari, Edward hanya diberikan sokongan sebesar 300 ribu poundsterling per tahun. Lalu, masa pengasingannya akan diperpanjang sampai waktu yang tak ditentukan dan jika memaksapulang ke Inggris tanpa undangan raja, aliran dana tahunan itu akan disetop sepenuhnya. Kegetiran itu sedikit-banyak “memupuk” pikiran politik Edward mengenai situasi Eropa saat itu. Jika pihak kerajaan sedang mewaspadai kebangkitan Jerman di tangan Kanselir Adolf Hitler, Edward justru bersimpati dan berpikir bahwa fasisme yang diusung Hitler bisa jadi senjata pamungkas untuk membendung arus komunisme dari Uni Soviet. Pangeran Edward, Duke of Windsor bersama istrinya, Wallis Simpson. ( npg.org.uk ). Seperti menampar wajah sang adik, Edward dan Wallis bahkan berkenan menerima undangan Dr. Robert Ley, pemimpin Front Buruh Jerman yang jadi undebouw Partai Nazi, untuk melawat ke Jerman sepanjang 11-23 Oktober 1937. Kunjungan itu akan jadi momen yang ditunggu-tunggu Hitler. “Pemerintahan Jerman percaya bahwa (Duke of) Windsor dipaksa turun takhta sebagai imbas dari pandangan pro-Nazi dan itu makin mendorong keinginan mereka untuk menggelar karpet merah bagi sang pangeran,” tulis sejarawan Andrew Roberts dalam The House of Windsor. Hitler, Ley, dan Joachim von Ribbentrop (duta besar Jerman untuk Inggris) segera menyiapkan rencana penyambutan laiknya perjamuan kenegaraan. Sementara, Buckingham dan Downing Street (kantor PM Inggris) memberikan kecaman kendati tahu kunjungan itu bersifat pribadi. Edward tetap tutup kuping menanggapinya. “Edward dan Wallis datang dengan keretaapi ‘Nord Express’ dari Prancis dan tiba di Stasiun Friedrichstraße, Berlin pada Senin pagi, 11 Oktober. Sang Duchess (Wallis) berpenampilan dengan sejumlah perhiasan dan berdandan sebaik mungkin laiknya anggota kerajaan. Mereka disapa Ley sebagai delegasi penyambutan yang termasuk di dalamnya Von Ribbentrop dan Gauleiter (kepala cabang Partai Nazi) Berlin, Arthur Gorlitzer. Ley yang menyapa, mencium tangan sang Duchess, dan menyebutnya: ‘Yang Mulia’,” ungkap Susana de Vries dalam Royal Mistresses of the House of Hanover-Windsor: Secrets, Scandals and Betrayals. Salah satu agenda kunjungan Pangeran Edward di Jerman. (Bundesarchiv). Di luar stasiun, sekira dua ribu warga berkerumun ingin menyambut Edward dan Wallis. Tak ketinggalan barisan wartawan. Ley lantas mendampingi Edward dan Wallis beristirahat di hotel yang mereka sediakan di Kaiserhof sebelum menjalani agenda pertama, jamuan makan malam di Restoran Horcher’s. Di gala dinner pada malam 11 Oktober itu, Edward dan Wallis disambut Inspektur Tata Kota Albert Speer serta Menteri Propaganda Joseph Goebbels bersama istrinya, Magda. “Sang pangeran sosok yang rupawan –kawan yang baik dan simpatik serta punya pemikiran terbuka. Sangat disayangkan ia bukan lagi seorang raja. Bersamanya, kami (Jerman-Inggris) bisa membantu persekutuan,” kata Goebbels dalam buku hariannya yang dikutip J. Petropoulos dalam Royals and the Reich: The Princes von Hessen in Nazi Germany. Agenda Edward dan istrinya yang didampingi Ley kemudian berisi peninjauan perkembangan industri otomotif, transportasi, dan militer Jerman. Agenda puncaknya, 22 Oktober, bersua Hitler di Berghof –kediaman Hitler di Berchtesgaden, Bavaria. Saat bertemu, Edward dengan senang hati memberi salam khas Nazi. Itu dilakukannya sebagai balasan dari kebaikan yang diterima Edward dan istrinya. “Dia (Wallis) diperlakukan seperti putri kerajaan, tidak seperti keluarga Kerajaan Inggris memperlakukan dia sebagai orang luar dan buangan. Para aristokrat Jerman juga akan selalu menunduk sebagai tanda hormat kepadanya dan dia diperlakukan dengan segala martabat dan status yang pantas ia dapatkan, sebagaimana yang diinginkan sang pangeran (Edward),” singkap Andrew Morton dalam Wallis in Love: The Untold Life of the Duchess of Windsor, the Woman Who Changed the Monarchy. Adolf Hitler kala menjamu Pangeran Edward dan Wallis, Duchess of Windsor di Berghof. (Bibliothèque Nationale de France). Sementara Wallis menikmati jamuan teh ditemani menteri zonder portofolio Rudolf Hess, Edward berbicara privat dengan Hitler selama sejam di ruangan lain. Edward dan Hitler larut dalam pertukaran pandangan tentang situasi geopolitik terkini. Edward disebutkan mendukung niat Hitler untuk berekspansi ke Eropa Tengah dan Eropa Timur. Hitler, sebagaimana diungkapkan Ziegler, sangat terkesan dengan sosok Edward. Hanya satu hal pada Edward yang tak disenangi Hitler, yakni keinginan Edward untuk bicara didampingi penerjemah ketimbang bicara langsung dengan bahasa Jerman. Hitler tahu bahwa Edward bisa berbahasa Jerman dengan fasih. Di awal masa perang, Edward yang ditunjuk pihak kerajaan sebagai penghubung British Military Mission di Prancis, masih punya simpati pada Jerman. Namun, kemudian ia harus mengungsi dari Paris ke selatan, hingga ke Spanyol dan Portugal ketika Prancis sudah diduduki Jerman. Edward lalu ke Kepulauan Bahama dan diangkat jadi gubernur jenderal kepulauan itu pada Juli 1940. Baginya, itu adalah jabatan buangan. Pada akhir perang, Edward dan Wallis bisa kembali ke Prancis. Mereka hidup sederhana dan tak pernah lagi muncul di media selama beberapa waktu. Baru pada 1955 Edward dan Wallis jadi sorotan media Amerika kala mengunjungi Presiden Dwight Eisenhower di Gedung Putih. Pada 1970 Edward kembali jadi berita dalam kunjungan ke tempat yang sama atas undangan Presiden Richard Nixon. Sampai akhir hayatnya, Edward tetap jadi eksil.Hanya jasadnya saja yang lantas dipulangkan ke Inggris pascawafat pada 28 Mei 1972 di kediamannya di Paris pada usia 77 tahun. Jasadnya disemayamkan di Kapel St. George’s di Kastil Windsor sebelum dikebumikan di Royal Burial Ground pada 5 Juni 1972.
- Perang Tanding di Iwo Jima (1)
KETIKA kali pertama diluncurkan pada 2 Februari 2007, film Letters from Iwo Jima mendapat sambutan luar biasa dari publik Amerika Serikat (AS). Antusiasme itu semakin terlihat manakala setelah penayangan perdana tersebut banyak orang AS dan Jepang yang mengajukan izin untuk mengunjungi Pulau Iwo Jima. Demikian keterangan yang dilansir IMDb.com , situs mengenai konten film, televisi dan selebritas paling otoritatif dan populer di dunia. Letters from Iwo Jima berkisah tentang pertempuran antara para prajurit Jepang dengan tentara AS di Pulau Iwo Jima pada Februari-Maret 1945. Namun berbeda dengan film padanannya, Flags of Our Fathers , film kolosal yang dikeluarkan Hollywood itu lebih melihat peristiwa tersebut dari sisi Jepang. Dalam sejarah Perang Dunia II, pertempuran Iwo Jima memang merupakan bentrok paling alot di Pasifik. Menurut Mark Khan dalam The Battle of Iwo Jima: Raising the Flag, February—March 1945 , itu sejenis perang tanding yang jatuhnya korban di kedua belah pihak nyaris sama besarnya. R.S. Boender, orang Indonesia yang terlibat dalam Perang Pasifik (di pihak AS) mengakui bahwa dibandingkan palagan lainnya, pertempuran di Iwo Jima adalah yang tersulit. Mau tidak mau, militer AS harus mengakui kebrilyanan taktik perang Letnan Jenderal Tadamichi Kuribayashi. “Dia menciptakan medan bertangga dari beton yang tak bisa ditembus oleh kendaraan lapis baja, kecuali oleh jumlah pasukan yang berganda dengan semangat perang habis-habisan,” ungkap Boender dalam otobiografinya, Terhempas Prahara ke Pasifik (disusun oleh Hanna Rambe). Iwo Jima merupakan pulau kecil. Luasnya hanya 8 mil persegi. Kendati demikian, dalam pertarungan AS vs Jepang di Pasifik, pulau tersebut memiliki arti yang sangat penting karena merupakan pintu gerbang menuju Tokyo. Saipan memang telah dikuasai oleh pasukan AS Desember 1944. Namun untuk melakukan operasi pemboman ke Tokyo, jarak Saipan-Tokyo masihlah terlalu jauh yakni sekira 1.200 mil. Dalam jarak sejauh itu, pesawat pemburu tidak akan berdaya melindungi pesawat pembom B-29, kecuali “para pemburu” itu dilepas dari sebuah kapal induk yang berlayar lebih dekat ke daratan Jepang. “Kekurangan ini akan hilang sama sekali, kalau Iwo Jima yang letaknya di tengah-tengah antara Tokyo dan Saipan juga berada dalam pengawasan Sekutu,” ungkap P.K. Ojong dalam Perang Pasifik. Karena perhitungan itu pula, militer AS pada akhirnya memutuskan untuk menguasai Iwo Jima. Mereka kemudian mengirimkan tim intelijen dari laut dan udara untuk mengamati medan pulau yang pantainya berpasir hitam tersebut. Hasil pengamatan itu menyimpulkan bahwa Iwo Jima bisa dikuasai dalam lima hari. Sementara itu pihak Jepang sendiri sangat paham jika Iwo Jima memang layak dipertahankan. Menurut salah satu eks staf Kuribayashi bernama Mayor Horie, ketika prajurit-prajurit AS mendarat di Saipan pada 15 Juni 1944, Jepang mulai memperkuat kedudukannya di Iwo Jima. Lima belas hari kemudian, Daihonei (markas besar Kekaisaran) mengangkat Letnan Jenderal Tadamichi Kuribayashi sebagai komandan Divisi ke-109, langsung di bawah kendali Tokyo. Hingga 1 Februari 1945, ada sekira 23.000 pasukan Jepang di Iwo Jima. Namun demikian, persedian logistik untuk mereka sangatlah minim. “Ada persediaan beras untuk 70 hari dan makanan lain untuk 60 hari,” ungkap Horrie seperti dikutip oleh Walter Karig dan kawan-kawan dalam Battle Report (V). Kondisi itu semakin mengkhawatirkan karena di Iwo Jima, ketersediaan air layak minum sangatlah kurang. Bahkan untuk menghemat persediaan air bersih yang ada, untuk keseharian sebelum pertempuran terjadi, mereka terpaksa mengkonsumsi air hujan. Dengan kondisi seperti itu, wajar apabila kondisi fisik para prajurit Divisi ke-109 hampir 20% tidak memenuhi syarat untuk pergi bertempur. “Banyak yang sakit typhus ,” ungkap Horrie. Situasi itu menyebabkan sebagian perwira diam-diam menjadi pesimis akan memenangi peperangan. Mereka berpikir, jika Jepang tidak memiliki lagi armada laut dan udara, maka kemungkinan besar AS akan menguasai Iwo Jima hanya dalam waktu sebulan. Maka muncullah ide gila itu: Iwo Jima lebih baik ditenggelamkan saja. Ide itu ditentang habis oleh Kuribayashi. Dia berpendapat bahwa untuk menenggelamkan Iwo Jima diperlukan banyak bahan peledak yang sejatinya justru diperlukan guna melawan serbuan tentara AS. Maka keluarlah ketentuan dari sang jenderal yang menetapkan tiap serdadu Jepang harus menganggap posisi pertahanannya sebagai kuburannya sendiri. Mereka harus bertempur semaksimal mungkin dan merusak musuh sebanyak mungkin. “Kami bermaksud membuat lubang di bawah tanah sepanjang 18.000 meter,” ujar Horrie. Rencana itu pun dimulai sejak Desember 1944. Sayang, ketika para marinir AS mulai berdatangan ke Iwo Jima, terowongan bawah tanah itu baru selesai 5.000 meter saja!*
- Mengintip Praktik Santet
Santet atau ilmu teluh bertujuan untuk mencelakai orang yang tidak disukai dengan mengirimkan energi negatif dari jarak jauh.
- Menengok Sejarah Hakekok
APARAT Kepolisian mengamankan 16 orang penganut ajaran Balakasuta di Desa Karangbolong, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Terdiri dari delapan pria, lima wanita, dan tiga anak-anak. Mereka melakukan ritual mandi bersama dengan tujuan menyucikan diri. MUI menyerahkan mereka untuk dibina di pondok pesantren Abuya Muhtadi. Kompas.com melaporkan, Balakasuta dipimpin oleh Arya yang berasal dari Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Ritualnya mengadopsi ajaran Hakekok yang dibawa almarhum E alias S. Arya mengaku bahwa ajarannya telah melakukan komitmen dengan Imam Mahdi dan dijanjikan kaya raya. Namun, setelah menunggu bertahun-tahun, janji itu tidak kunjung terkabul. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menyucikan diri, bebersih, dan bubar. Hakekok yang diadopsi oleh Balakasuta merupakan aliran kepercayaan yang telah muncul lama. Budayawan Ridwan Saidi dalam bukunya, Diburu Mossad dan Lakon Politik “Che Guevara Melayu” , menyebutkan bahwa Hakekok, plesetan dari hakikat, adalah aliran sesat yang berkedok Islam. Pemeluknya menjalankan upacara tertutup pada malam hari, di mana laki-laki dan perempuan mencopot busana, lalu lampu dimatikan. “Mereka tidak mengerjakan syariat Islam dan memuja Semar. Mereka meyakini Semar masih hidup dan suka berkunjung ke kampung-kampung, lalu menghilang setelah memberikan pituah (petuah). Dalam pengembaraannya itu, Semar selalu seorang diri,” tulis Ridwan. Justus M. van der Kroef, profesor di Departmen Sosiologi Universitas Bridgeport, Connecticut, Amerika Serikat, menyinggung soal Hakekok dalam tulisannya, “New Religious Sects in Java” termuat dalam Far Eastern Survey , Vol. 30 No. 2 (1961). Justus mengungkapkan bahwa pada awal 1952, Kantor Departemen Agama Jawa Barat mengumumkan kemunculan 29 sekte agama baru di wilayahnya sejak Indonesia secara resmi merdeka (maksudnya pengakuan kedaulatan) tahun 1949. Pada pertengahan tahun 1960, ketika pemerintah Indonesia menyatakan secara resmi mewaspadai perkembangan sekte-sekte agama, Jaksa Agung R. Kadarusman (1962–1964) menyatakan ada ratusan aliran kepercayaan di seluruh Indonesia. Menurut Justus, jumlah keanggotaan sekte-sekte ini sulit ditentukan karena struktur organisasinya tidak stabil dan banyak penganutnya yang mengidentifikasi diri dengan salah satu agama utama, seperti Islam. Sementara juru bicara dari berbagai sekte cenderung membesar-besarkan jumlah pengikutnya. “Berapa pun jumlah pengikut mereka, pesatnya penyebaran aliran-aliran itu sendiri merupakan salah satu fenomena terpenting dalam masyarakat Jawa saat ini [1960-an],” tulis Justus. Namun, menurut Justus, beberapa sekte berumur sangat pendek sehingga muatan ideologisnya tidak pernah cukup diketahui, seperti kasus kultus Hakekok di Sukabumi, Jawa Barat. “Kultus Hakekok tampaknya melibatkan upacara aneh, pria dan wanita telanjang di sebuah masjid, namun pemimpinnya, Nawawi, terbunuh dalam bentrokan dengan militer dan sekte tersebut dibubarkan sebelum banyak yang mengetahuinya,” tulis Justus. Sementara itu, Almanak Indonesia Volume 1 (1969) memuat daftar aliran kebatinan, pemimpinnya, serta asas dan tujuannya tahun 1962. Salah satunya Hakekok yang dipimpin oleh Armi dan Irsad. Sembahyangnya cukup dengan niat dan tidak usah pergi haji ke Makkah. Aliran ini dibubarkan pada 1961.*
- Sembilan Atlet di Antara Dua Gender (Bagian II – Habis)
KASUS kelainan alat reproduksi yang dialami mantan pevoli timnas putri, Serda Aprilia Manganang, bukan kasus baru dalam sejarah olahraga di dunia. Pada era 1950-an, olahragawati atletik Karnah Sukarta juga sempat bikin kegegeran serupa. Karnah pernah berjaya di Asian Games 1951 di New Delhi dan Asian Games 1958 di Tokyo. Ia juga pernah dua kali menikah dengan laki-laki. Tetapi ia mengalami kejadian aneh pada 1979. Mengutip Poskota , 8 Juni 2007, Karnah mengklaim ia bermimpi bahwa dia akan menikah dengan perempuan setelah berziarah ke makam Bung Karno. Setelah itu, keanehan terjadi pada tubuhnya. Alat reproduksinya berubah, hingga ia mengganti namanya jadi Iwan Setiawan dan menikah dengan perempuan. Namun, tak ada penjelasan medis terkait fenomena Karnah itu. Karnah tak seberuntung Manganang yang mendapat penjelasan medis bahwa dia mengalami kelainan hipospadia. Kasus hipospadia tersebut bukan kasus pertama atau kedua yang dimiliki sejumlah atlet dunia. Setidaknya ada enam atlet di abad ke-21 yang mengalami berbagai kelainan alat reproduksi. Sebagian dari mereka gagal dalam tes verifikasi gender yang diterapkan IOC (Komite Olimpiade Internasional) sejak 1966. Lima di antaranya atlet India: Pratima Gaonkar (renang) Santhi Soundarajan (atletik), Pinki Pramanik (atletik), dan Dutee Chand (atletik); serta pelari Afrika Selatan Caster Semenya. Sebelum persyaratan tes gender IOC (Komite Olimpiade Internasional) ada, sejarah olahraga modern mencatat ada sembilan atlet sepanjang abad ke-20 yang diragukan gendernya. Di bagian pertama sudah diulas empat di antaranya, yakni: Mary Louise Weston (Inggris), Stanisława Walasiewicz (Polandia), Zdena Koubková (Cekoslovakia), dan Foekje Dillema (Belanda). Berikut lima lainnya: Tamara dan Irina Press Kolase "Press Bersaudari", Tamara Natanovna (kiri) & Irina Natanovna. ( Asahi Shinbun , 19 Oktober 1962). Kisah tentang kerancuan gender Press bersaudari masih jadi misteri hingga kini. Pasalnya keduanya tak pernah melakukan tes kromosom hingga kini. Semua rahasia Tamara, yang lahir pada 10 Mei 1937, dan Irina, lahir pada 10 Maret 1939, ditutup rapat oleh pemerintah Uni Soviet. Sejak 1950-an Tamara acap jadi langganan pendulang emas bagi Uni Soviet di beraneka ajang di cabang atletik pada nomor lempar cakram dan tolak peluru putri. Termasuk di Kejuaraan Eropa 1958 dan 1962, serta Olimpiade 1960 dan 1964. Sedangkan Irina merupakan andalan Uni Soviet di nomor lari gawang 80 meter dan pentatlon putri. Keduanya sudah dinyatakan pensiun tepat sebelum IOC mewajibkan tes verifikasi gender pada 1966. Sejak saat itu, nama keduanya hilang dari pentas olahraga internasional. Maka isu bahwa Tamara dan Irina adalah “alat” pemerintah komunis Uni Soviet untuk mengagungkan citra olahraganya dengan memalsukan identitas gender keduanya pun muncul. Pola itu dianggap sama dengan yang dilakukan Nazi Jerman di Olimpiade 1936 , ketika atlet putra Hermann dipropagandakan sebagai atlet putri bernama Dora Ratje. Padahal, disebutkan Thomas H. Murray dalam Good Sport: Why Our Games Matter – and How Doping Undermines Them , penampilan fisik Tamara dan Irina sangat meyakinkan bahwa mereka perempuan karena payudara keduanya tumbuh. Hanya saja, perilaku keduanya sangat maskulin. “Dirumorkan mereka adalah laki-laki yang menyamar jadi perempuan, atau perempuan yang disuntikkan hormon (laki-laki) demi berkompetisi. Kemungkinan besarnya adalah, mereka mengalami DSD, walau kemudian pensiun untuk menghindari pemeriksaan terkait anatomi tubuh yang tidak normal,” sebut Murray. Ewa Janina Kłobukowska Ewa Kłobukowska korban tes gender. ( olimpedia.org ). Saat lahir di Warsawa pada 1 Oktober 1946, Kłobukowska dinyatakan sebagai perempuan. Pun ketika terjun ke atletik dan meraih emas nomor estafet 4 x 100 meter di Olimpiade Tokyo 1964 serta Kejuaraan Eropa 1966 di Budapest, ia pun tampil sebagai pelari putri. Tetapi ia mengalami titik balik saat tidak lolos tes gender menjelang kejuaraan atletik di Kiev pada 1967. Hasil pemeriksaan genetiknya menyebutkan ia memiliki kromosom laki-laki dominan. Hasilnya, ia pun dilarang berkompetisi oleh IAAF. Semua catatan prestasi medalinya pun dicabut IAAF. “Seorang perempuan tak bisa menjadi perempuan dan tak mengetahuinya selama ini,” ungkap seorang anggota komisi IAAF, dikutip Robyn Ryle dalam Throw Like a Girl, Cheer Like a Boy: The Evolution of Gender, Identity, and Race in Sports . Namun uniknya, Kłobukowska tetap bisa hamil. Dia melahirkan pada 1968. Diketahui kemudian, Kłobukowska tak mengalami kelainan alat kelamin. Ia hanya kelainan genetik pada kromosomnya yang dominan laki-laki, sementara alat reproduksi perempuannya tetap bisa bekerja. Kasus Kłobukowska hingga kini dikenang sebagai korban pertama dari kesalahan tes gender dalam olahraga. Erika Schinegger Jawara ski putri, Erika Schinegger yang memilih jadi laki-laki. (Alchetron). Saat dilahirkan pada 19 Juni 1948 di Agsdorf, Austria, Schinegger dinyatakan sebagai perempuan dan tumbuh besar hingga jadi atlet ski perempuan yang memenangi Kejuaraan Dunia Ski 1966 di Portillo, Cile. Namun dua dekade kemudian, Schinegger memilih melanjutkan hidupnya sebagai laki-laki dan bersedia memulangkan medali emasnya. Pada 1967, jelang Olimpiade Musim Dingin 1968 di Grenoble, Schinegger tak lolos tes gender yang diwajibkan IOC. Sebagaimana dikutip suratkabar Los Angeles Times, 19 November 1988, tim medis IOC saat itu menemukan hormon laki-laki yang sangat dominan dari sampel air liur Schinegger. “Setelah memeriksa area perut bawah, tim dokter menemukan adanya organ testis yang justru tumbuh di dalamnya, bukan di luarnya sebagaimana normalnya laki-laki,” tulis suratkabar itu. Schinegger lantas dinyatakan mengalami kelainan interseks. Schinegger memutuskan untuk menjalani operasi alat kelaminnya dan mengumumkan dirinya sebagai laki-laki sekaligus mengubah namanya menjadi Erik Schinegger. Operasi itu berjalan sukses. Schinegger kemudian menikahi seorang perempuan dan kemudian bisa menjadi ayah dari keturunannya sendiri. Maria José Martínez-Patiño MJ Martínez-Patiño punya kelainan AIS. ( vidaatleticodegalicia.org ). Sejak lahir pada 10 Juli 1961, Martínez-Patiño sudah dinyatakan punya kelainan Androgen insensitivity syndrome (AIS), sebuah kondisi interseks yang hormon testosteronnya tidak bekerja. Surat pernyataan itu turut disertakan oleh atlet lari gawang Spanyol itu kala mengikuti tes-tes gender berkala di setiap kejuaraan di bawah naungan IAAF. Ketika mengikuti Kejuaraan Dunia IAAF 1983, Martínez-Patiño dinyatakan lolos tes gender dengan bukti “Certificate of Feminity”. Namun ketika hendak tampil di World University Games 1985 di Kobe, Jepang, Martínez-Patiño khilaf tak membawa sertifikat itu. Alhasil ia gagal lolos saat menjalani sex chromatin test dan tak bisa mengonfirmasi dirinya perempuan gegara lupa membawa sertifikasi yang ia peroleh dua tahun sebelumnya itu. Kay Schaeffer dalam “One Chromosome Too Many?” yang dimuat dalam buku The Olympics at the Millennium mengungkapkan, IOC menyarankan Martínez-Patiño untuk tidak mengumumkan hal itu ke publik. Alih-alih dengan alasan gagal melewati tes, IOC menyarankan Martínez-Patiño untuk mengumumkan bahwa ia batal ikut dengan alasan yang dibuat-buat: cedera. Martínez-Patiño pun menuruti saran itu. Dua bulan berselang, ia menjalani tes kromosom lagi. Meski kromosom laki-lakinya sedikit lebih dominan, dalam surat pernyataannya ia dinyatakan mengalami AIS tetapi tetap diputuskan bahwa Martínez-Patiño adalah perempuan. IOC lantas memberi pernyataan, “Dia didiskualifikasi karena sebuah keuntungan (dianggap laki-laki, red ). yang tak ia miliki.”
- Bung Karno dan Para Pelayannya
SUATU senja sepulang dari Bogor, Presiden Sukarno mengajak anak sulungnya Guntur Sukarnoputra (saat itu masih remaja) jalan-jalan keliling Istana Negara. Saat mereka berdua menuruni tangga di belakang Istana, tetiba wajah Si Bung Besar berubah. “Tok (paggilan akrab Guntur), coba panggilkan Pak Pelayan,” kata Bung Karno. Singkat cerita, datanglah pelayan itu. Enem namanya. Dengan wajah pucat, dia lantas menghampiri Bung Karno. Terlihat sekali dia tengah ketakutan. “Nem, pot antik Bapak yang di sini kemana?” tanya Bung Karno dalam bahasa Sunda. “Ehm… Pepeus (pecah), Pak…” jawan Enem dalam nada gemetar. “Hah peupeus ! Siapa yang memecahkan!? Siapa yang melakukan!?” teriak sang presiden. Wajahnya nampak merah padam dengan mata berkilat-kilat, pertanda dia sedang marah besar. “ Aa..Ab…Abdi teu terang, Pak …(Saya tidak tahu, Pak).” “ Maenya jurig nu meupeuskeun, hah! Hayo kabeh pelayan kadarieu! Saha nu nyaho! Mun teu aya nu ngaku, kabeh kudu dipariksa pulisi (Masa hantu yang memecahkannya, hah! Ayo semua pelayan kumpul! Siapa yang tahu! Kalau tidak ada yang mengaku, semua akan berurusan dengan polisi).” Tak perlu waktu cepat, semua pelayan pun berkumpul di belakang Istana Negara. Mulailah Bung Karno menginterogasi satu persatu para pelayannya. “ Sueb! Maneh nyaho henteu ?!” “ Abdi teu terang, Pak …” “Saleh!?” “ Teu…Ter…Terang, Pak …” “Sain!?” Saiin yang sudah memasuki umur 70 tahun dan mengidap penyakit asma terlihat sangat ketakutan. “ Aaaa..Abdi…Ngik…Ngik…Teu…Te...Terang, Pak…Ngik…Ngik ” Bukan main marahnya Bung Karno mendengar jawaban semua pelayannya tersebut. Dia kemudian memerintahkan pengawalnya untuk memanggil komandan jaga hari itu. Datanglah dia dengan tergopoh-gopoh. “Siap, Pak!” Bung Karno lantas memerintahkan sang komandan jaga untuk memeriksa semua pelayan ini dan para tukang kebun. Begitu marahnya sang presiden, hingga dia memerintahkan jika pelakunya ketemu untuk langsung “digantung”. Tentunya perintah itu hanya untuk menggertak saja. “Pada saat itu kulihat Pak Saiin yang tengah berdiri gemetaran tetiba celananya sudah basah kuyup karena mengompol,” kisah Guntur Sukarnoputra dalam Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku. Beberapa saat kemudian, sang komandan sudah kembali. Menurut penyidikan yang sudah dilakukannya, ternyata pot itu pecah karena terkena cakram. Bung Karno nampak terkejut mendengar laporan tersebut. Dia pastinya tahu bahwa satu-satunya orang yang memiliki hobi main lempar cakram adalah putera sulungnya. Setelah memerintahkan semua orang untuk kembali ke pekerjaannya masing-masing, Sukarno lalu mengajak Guntur jalan-jalan. Setelah agak jauh, sambil terus berjalan, Bung Karno berbisik serak kepada Guntur: “Lain kali kalau bikin salah, kasih tahu Bapak ya! Jangan seperti ini, tenggorokan Bapak hampir-hampir putus, Saiin terkencing-kencing, pengawal repot…Jebulnya kau punya ulah!” “Ya, Pak,” jawab Guntur sambil tertunduk. Bung Karno pada dasarnya sangat menyayangi para pelayannya. Menurut salah satu pengawal dekatnya H. Mangil Martowidjojo, kalaupun dia marah pasti tak pernah berlangsung lama. Itu pun dilakukannya supaya para pelayan tersebut berlaku disiplin dan tak lalai kepada tugasnya masing-masing. Mangil sangat paham jika Si Bung Besar sangat tidak menyukai orang yang lalai kepada tugasnya. Karena itu segala sesuatu yang diminta Bung Karno harus cepat dilakukan. Salah satu pelayan yang kerap diminta tolong adalah Pak Enem. Orangnya memang sudah sepuh namun selalu sigap jika Bung Karno memerlukannya. “Neraka” datang kepada para pelayan, jika Bung Karno tengah uring-uringan . Pernah dalam situasi seperti itu, Pak Enem dipanggil Presiden. Dengan sigap namun penuh rasa takut Enem langsung datang menghadap. Begitu takutnya, hingga tak terasa sang pelayan terkentut-kentut. Murka-kah Bung Karno? Sama sekali tidak. “Bung Karno justru malahan ketawa,” ungkap Mangil dalam bukunya, Kesaksian Tentang Bung Karno 1945—1967.*
- Orde Baru Mengobok-obok Parmusi
KONGRES Luar Biasa Partai Demokrat menunjuk Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko sebagai ketua umum. Keputusan ini menimbulkan kecaman keras dari kubu pendukung Agus Harimurti Yudhoyono. Teuku Riefky Harsya, sekjen Partai Demokrat, menyebut ada keterlibatan pemerintah dalam mengobok-obok Partai Demokrat. Sebab, Moeldoko menjabat Kepala Staf Kepresidenan. Keterlibatan pemerintah mengobok-obok partai kali pertama terjadi pada masa awal Orde Baru. Kala itu korbannya Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). Cerita berawal dari permintaan tokoh-tokoh eks Masyumi untuk merehabilitasi partai dan tokoh-tokoh Masyumi yang terlibat dalam PRRI/Permesta kepada Mayor Jenderal TNI Soeharto pada 22 Desember 1966. Soeharto, pemegang Supersemar sekaligus pejabat presiden, menolak permintaan tersebut. Melalui suratnya pada 6 Januari 1968, Soeharto menyatakan, “Alasan-alasan yuridis, ketatanegaraan, dan psikologis telah membawa ABRI pada satu pendirian, bahwa ABRI tidak menerima rehabilitasi bekas partai politik Masyumi”.
- Clara Zetkin, Peletak Dasar Hari Perempuan Internasional
Clara Zetkin, peletak dasar gagasan peringatan Hari Perempuan Internasional. Ia menggalang solidaritas internasional dan mengadakan Kongres Wanita Internasional I.
- Membasmi Barisan Harimau Liar
ALKISAH saat revolusi berkecamuk di tanah utara Sumatra. Kelompok bersenjata bermunculan bak jamur di musim hujan. Mereka yang dasarnya tak memiliki disiplin, kemudian lambat laun berubah menjadi gerombolan-gerombolan liar yang dipimpin para raja perang (warlord). Uniknya selain melawan tentara Belanda, mereka pun melakukan praktek perampokan dan pemerasan terhadap rakyat. “Biasanya semua dilakukan oleh kelompok-kelompok itu dengan menggunakan alasan demi kepentingan revolusi,” ungkap jurnalis sejarah Mohamad TWH. Salah satu nama kelompok itu adalah Barisan Harimau Liar (BHL). Menurut sejarawan Aiko Kurasawa dalam Sisi Gelap Perang Asia, sejatinya BHL didirikan oleh Kapten Tetsuro Ino’ue, seorang perwira intelijen tantara Jepang. Dalam arsip Ministerie van Defensie Belanda No. Inventaris 2037 disebutkan bahwa Inoe’ue merupakan anggota perkumpulan rahasia Naga Hitam.
- Ketika Ibukota Amerika Diduduki Kelompok Hanafi
Hari ini, 11 Maret, 44 tahun silam. Marion Barry, anggota Council of the District of Columbia yang kelak menjabat sebagai walikota terlama District of Columbia, masih trauma. Dua hari sebelumnya, 9 Maret 1977, dia nyaris kehilangan nyawanya. Usai memberi pidato di Klub Kiwanis, dia kembali ke kantornya di lantai lima gedung pemerintah Distrik. Dia sempat diperingatkan seorang security agar berhati-hati karena ada masalah di atas ketika akan menaiki lift. Karena tak paham maksud pesan si security , Marion tetap menaiki lift menuju kantornya. “Begitu saya turun dari lift untuk berjalan melintasi aula, saya mendengar suara tembakan dari ujung lorong. Saya ke kanan untuk turun dan segera merasakan sensasi terbakar di dada saya, dan saya tahu bahwa saya telah ditembak. Saya berhasil masuk ke ruang kantor di seberang lorong dan berkata, ‘Saya butuh dokter’," kata Marion dalam otobiografinya yang ditulis bersama Omar Tyree, Mayor for Life: The Incredible Story of Marion Barry, Jr. Marion beruntung. Aparat keamanan dan pemadam berhasil memasuki ruang tempatnya berada. Mereka langsung membawanya menuju lantai 4, tempat yang aman, lalu menggunakan lift ke lantai dasar dan selanjutnya ke rumahsakit. Nyawa Marion berhasil diselamatkan. Dokter yang mengoperasinya mengatakan Marion amat beruntung karena peluru tinggal setengah inci dari jantungnya. “Saya tidak tahu siapa yang menembak saya atau apa yang terjadi. Saya bahkan tidak melihat siapa pun dengan pistol,” sambung Marion. Marion ternyata terkena peluru dari anggota gerombolan bersenjata pengikut kelompok Hanafi Mad-hab Center pimpinan Hamaas Abdul Khaalis. Sejak 9 Maret 1977 siang, mereka menduduki gedung Distrik dan menyandera orang-orang di dalamnya (populer sebagai Hanafi Siege). Hamaas merupakan pelanjut kepemimpinan kelompok Mazhab Hanafi, organisasi Islam yang didirikan imigran Bangladesh Dr. Tasibur Uddein Rahman pada 1947. "Ketika Dr. Rahman menamai organisasinya sebagai Mazhab Hanafi, dia merujuk pada gagasan bahwa keadaan alami semua manusia adalah dia dibimbing oleh Tuhan ( Hanif seperti Ibrahim) ketimbang merujuk khusus ke Mazhab Hanafi yang dimulai oleh murid dari ulama Kufan Fiqh Abu Hanifah an-Nu'man ibn Thabit," tulis Muhammed A. al-Ahari dalam artikelnya “Hamaas Abdul Khaalis and the Hanafi Madh-Hab”, dimuat di academia.edu . Setelah selesai berguru, atas dorongan Rahman, Hamaas –yang tadinya bernama Ernest McGhee– masuk ke dalam Nation of Islam (NOI), organisasi Islam Afro-Amerika yang didirikan tahun 1930 oleh Fard Muhammad. Hamaas ditugaskan untuk mengajak para anggota NOI ber-Islam ke jalan yang benar. Dalam pandangan Rahman, Islam yang diajarkan NOI telah melenceng. Selain mengkhususkan pemeluknya dari kalangan kulit hitam, NOI menganggap Fard Muhammad sebagai inkarnasi Allah. Kendati kariernya di NOI menanjak cepat setelah masuk pada 1951, Hamaas keluar dari NOI pada 1958 dan gagal mengajak para anggota NOI ke jalannya. Konfliknya dengan NOI dimulai saat hari kematian Marie Muhammad, ibunda Elijah Muhammad sang penerus Fard Muhammad, pada 1958. “McGhee melihat ini sebagai kesempatan untuk menyarankan kepada Elijah Muhammad dan para menteri di Nation of Islam bahwa Nation of Islam harus bergerak lebih dekat ke ‘Islam Ortodoks’ yang lebih universal dalam cakupan dan yang mengajarkan bahwa Allah tidak berinkarnasi menjadi manusia, juga orang Afro-Amerika bukan satu-satunya yang bisa jadi Muslim secara alami,” tulis Muhammed A. al-Ahari. Akibat sarannya itu, Hamaas dicopot dari jabatan Sekretaris Nasional dan dimutasi ke NOI cabang Harlem. Dia dicap sebagai pengkhianat setelah keluar dari NOI tak lama kemudian, termasuk oleh sahabatnya bernama Malcolm X. “Khaalis meninggalkan NOI tahun 1958 dan mendirikan kelompok Muslimnya sendiri, Hanafi, yang didasarkan pada ajaran salah satu dari empat mazhab utama pemikiran Islam Sunni. Khaalis membawa pengikutnya menjadi lebih sesuai dengan Islam Sunni dengan menekankan keesaan Tuhan dan dengan berbeda pendapat dari doktrin rasial Elija Muhammad,” tulis Encyclopedia of Muslim-American History . Setelah kematian Rahman pada 1967, Hamaas yang sibuk melakukan syiar ke jalan-jalan dan bergabung dengan National Urban League, mulai mengorganisir Hanafi Madh-hab Center dan American Social Federation for Mutual Improvement di Harlem untuk menyebarkan ajaran Rahman. Dia memberikan bimbingan dan pengajaran untuk para siswa putus sekolah. “Antara 1967 dan 1970, Khaalis menjabat sebagai direktur akademi jalanan Urban League di New York City, program yang mendidik kaum muda Afrika-Amerika yang putus sekolah, sebuah posisi yang memungkinkannya untuk menyebarkan Islam Hanafi kepada kaum miskin kota,” sambung Encyclopedia of Muslim-American History. Kegiatan Hamaas makin berkembang setelah dia berkenalan dengan pebasket Milwaukee Bucks –yang kemudian menjadi bintang LA Lakers– Lew Alcindor pada 1970. Pebasket yang menjadi murid spiritualnya itu setelah masuk Islam diberinya nama Kareem Abdul Jabbar. Dari Kareemlah rumah di Washington untuk markas Hanafi Madh-Hab Center berasal dan dana organisasi banyak disokong. Dukungan Kareem membuat Hanafi Madh-hab Center berkembang pesat. “Hanafi Madh-Hab memiliki 100 pengikut ketika Jabbar bergabung, dan tumbuh menjadi lebih dari 1000 pada tahun 1977,” tulis Muhammed A. al-Ahari. Sepeninggal Kareem, yang tidak menyetujui beberapa ajaran Hamaas, terutama pada hal kebencian intens pada Yahudi, Hanafi Mad-hab berangsur tenggelam. Hamaas sendiri sejak awal 1973 disibukkan dengan kegiatan mengirim surat berisi kritikan terhadap ajaran Fard Muhammad dan Elija Muhammad di NOI. Kritik Hamaas membuat NOI berang. Elijah Muhammad bahkan sampai membuat pidato pembelaan terhadap Fard Muhammad, yang kemudian dibukukan dengan judul The True History of Fard Mohammad, untuk meresponnya. Lewat koran NOI, Muhammad Speaks , Elijah dan para menteri NOI aktif menangkis sekaligus menyerang balik Hamaas atau Malcolm X dan para pengkritik yang datang dari berbagai organisasi Islam Sunni lain. Hal itu membuat Hamaas makin keras mengkritik. Terlebih dia didukung Federation of Islamic Associatons dan Muslim Student Association. Anggota NOI makin marah dibuatnya. Pada 17 Januari 1973, beberapa anggota NOI Philadelphia mendatangi rumah Hamaas dengan berpura-pura ingin membeli karya Hamaas berjudul “Look and See”. Saat itu Hamaas sedang keluar belanja. Setelah diizinkan masuk, mereka langsung melancarkan aksinya. “Akhir yang mengganggu dari Perang Saudara Islam antara Hamaas Abdul Khaslis dan NOI Elijah Muhammad terjadi dengan pembantaian tujuh anggota keluarga Hamaas oleh anggota Nation of Islam yang terkenal pada 17 Januari 1973. Para pembunuh (dari Kuil Philadelphia NOI dan yang merupakan bagian dari kelompok yang disebut Mafia Hitam), tampaknya menganggap rumah itu penuh dengan uang yang diberikan oleh Kareem Abdul Jabbar dan pengikut kaya lain,” tulis Muhammed A. al-Ahari. Tujuh anggota keluarga Hamaas, termasuk tiga putranya dan seorang cucu berusia sembilan hari, meninggal dalam pembantaian itu. Para pelaku kemudian disidang: lima dijatuhi hukuman seumur hidup, sementara dua lainnya dibebaskan. Hamaas tak puas terhadap putusan pengadilan yang dipimpin hakim Yahudi Leonard Braman itu. Dianggapnya tidak adil. Ditambah adanya kabar rencana pemutaran perdana film tentang Nabi Muhammad The Message, Hamaas terus menuntut agar para pelaku diserahkan kepadanya sambil meminta pembatalan pemutaran film tersebut plus pengembalian uang dendanya yang sebesar 750 dolar. Lantaran tak kunjung membuahkan hasil, Hamaas dan 11 anak buahnya akhirnya bergerak. Kantor pemerintahan Distrik Washington DC, Masjid Islamic Center, dan markas organisasi sosial Yahudi B’nai B’rith Center dipilih menjadi sasaran. Masing-masing dianggap sebagai sumber ketidakadilan yang menimpa keluarganya. Kantor Distrik dianggap sebagai simbol pemerintahan, sementara Masjid Islamic Center dipilih karena masjid itu dioperasikan oleh NOI, dan B’nai B’rith dianggap sebagai kepanjangan tangan Yahudi. “Pembunuhan dan kegagalan untuk menghukum para pelaku menjadi salah satu alasan penyanderaan tahun 1977 yang disutradarai Hamaas. Alasan lain untuk gerakan tersebut termasuk dugaan penganiayaan terhadap Hamaas karena penilaian hakim terhadapnya karena perilakunya selama persidangan terhadap pembunuh keluarganya dan rilis film biografi Nabi Muhammad ‘The Message’ yang dianggap Hamaas menghujat,” tulis Muhammed A. al-Ahari. Dimulai dengan menduduki kantor pemerintahan Distrik dan menyandera orang-orang di dalamnya sekira pukul 11 siang 9 Maret, mereka kemudian bergerak ke dua sasaran lain. Semua sasaran telah mereka kuasai sebelum pukul 3 sore. Shirley M. Feigenbaum dan suaminya merupakan salah sedikit dari orang-orang yang disandera di markas B’nai B’rith. Keduanya sama-sama pegawai di sana namun beda lantai. Saat penyanderaan terjadi, Shirley tak lagi bisa menghubungi suaminya. Setelah disandera di kantornya, di lantai tujuh gedung, dia kemudian dikumpulkan oleh gerombolan di lantai delapan, tempat yang disebut Hamaas sebagai ruang eksekusi, bersama ratusan sandera lain. Di Masjid Islamic Center, para teroris menyandera siapapun tanpa pandang bulu. Pelajar yang kebetulan sedang berkunjung atau bahkan warga negara Mesir dan Iran yang sedang di lokasi semua ikut diikat menggunakan tali bersama Dr. Muhammad A. Rauf (direktur Islamic Center). Ancaman lebih jauh dilontarkan Hamaas. Sementara, para teroris di kantor Distrik bergerak lebih jauh. “Sebelum jam 3 sore, dua pria dengan senapan kaluar dari taksi di Pennsylvania Avenue dengan rencana untuk membawa Walikota Walter E. Washington di bawah todongan senjata. Di lantai lima gedung pemerintahan Distrik, mereka salah belok dan berhenti di staf dewan dan pelobi. Petugas keamanan Mack Cantrell lalu berupaya menyelidiki, dan ketika dia membuka pintu menuju raung dewan, dia ditembak di kepala. Maurice Williams, seorang reporter berusia 24 tahun, juga diserang dan terbunuh, dan peluru senapan memantul di aula dan mengenai Barry satu inci dari jantungnya,” tulis Aaron C. Davis dalam “The Day Terrorists Took D.C Hostage” yang dimuat di washingtonpost . com , 10 Maret 2017. Untuk meminimalisir korban, aparat keamanan sampai menutup beberapa blok. Upacara penyambutan perdana menteri Inggris di Gedung Putih, yang hanya beberapa blok dari tempat kejadian, dibatalkan untuk mencegah teroris menyangka iring-iringan penyambut merupakan pasukan penyerbu. Kepala Kepolisian District of Columbia, Maurice Cullinane, bertindak hati-hati, wait and see . “Anda hanya harus terus komunikasi. Anda tetap hanya menunggu mereka keluar,” ujar Maurice, dikutip Aaron C. Davis. Mengetahui ada warganya yang ikut disandera, Dubes Iran Ardeshir Zahedi dan Dubes Mesir Ahsraf Gorbai dibantu Dubes Pakistan Yaqub Khan ikut bergabung dengan aparat keamanan ketika menemui Hamaas untuk negosiasi. Mereka mengutip beberapa ayat Quran untuk melunakkan hati Hamaas. Hamaas akhirnya setuju untuk melepaskan sandera setelah tuntutannya akan penghentian penayangan film TheMessage dan permintaan menjadi tahanan rumah dikabulkan aparat. Pada Jumat 11 Maret 1977, para sandera pun dilepas. Hanafi Siege berakhir. Marion, Shirley, dan ratusan orang di tiga tempat penyanderaan pun senang. “Ketika saya melihat dia (suami, red .) Jumat pagi saya amat lega,” kata Shirley sebagaimana dikutip J.Y Smith dalam “B’nai B’rith Hostages Pinpoint Times of Hanafi Siege Events”, dimuat di washingtonpost . com , 16 Juni 1977. “Saya tidak mencoba menjadi pahlawan; saya kebetulan masuk pada waktu yang salah pada hari yang salah. Tetapi jika saya tahu apa yang akan terjadi, saya tidak akan pernah masuk ke dalam gedung,” sambung Marion.





















