Hasil pencarian
Cari di situs ini
10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Hamka dan Maag Berjamaah
PADA September 1975, bertepatan dengan bulan suci Ramadan, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerima undangan Muktamar Masjid se-Dunia di Makkah, Arab Saudi. Sebagai ketua, Buya Hamka mendapat kesempatan untuk berangkat mewakili pemerintah Indonesia. Dalam perjalanan ke Tanah Suci umat Islam tersebut, dia didampingi Sekjen MUI Kafrawi, dan putra sulungnya Yusran Rusydi. Ketiganya dijadwalkan berangkat pertengahan bulan. Pada 17 September 1975, rombongan Hamka dijadwalkan akan terbang ke Jeddah. Pagi harinya, Hamka dipanggil ke Istana oleh Presiden Soeharto. Presiden ingin secara khusus menyambut MUI yang baru terbentuk pada permulaan tahun itu. Terjadi pembicaraan ringan yang cukup serius di antara Hamka dan Presiden. Terutama soal ketegasan MUI akan penyebaran Kristenisasi di tengah umat Islam Indonesia.
- Jalan Seorang Arief Budiman
ARIEF Budiman alias Soe Hok Djin baru saja pergi beberapa jam yang lalu. Parkinson yang sudah berlarut akhirnya menjadi jalan bagi dia untuk menggenapi takdirnya sebagai manusia: bertemu dengan kematian. Tak perlu disebutkan bagaimana dia begitu mencintai negeri ini. Lewat caranya, berpuluh tahun dia mengupayakan Indonesia supaya bergerak ke arah yang lebih baik, terutama yang terkait dengan kehidupan rakyat kecil. “Ketika orang-orang memuji-memuji Pak Harto di awal Orde Baru berdiri, dia tampil sebagai salah seorang pengeritik paling keras,” ujar almarhum Rudy Badil, wartawan senior sekaligus kawan Arief Budiman. Badil memang benar. Tahun 1970, ketika Orde Baru mulai dijadikan sarang untuk menangguk keuntungan pribadi oleh para akademisi dan tentara, Arief dan dan kawan-kawannya eks demonstran 1966 menjadi gerah. Mengatasnamakan gerakan “Mahasiswa Menggugat”, mereka melakukan aksi long march dari Kampus Universitas Indonesia di Salemba menuju Lapangan Banteng.
- Manis-Pahit Petualangan SS Conte Verde
DARI tepian dek, ribuan orang terus melambaikan tangan kepada sanak-saudara dan para handai taulan yang juga melambaikan tangan di pinggiran pelabuhan Genoa, Italia. Di hari yang cerah itu, 21 April 1923, para konglomerat Italia hingga penumpang golongan proletar menjadi saksi pelayaran perdana kapal transatlantik SS Conte Verde dengan rute Genoa-New York. Conte Verde dibuat galangan kapal William Beardmore & Co di Dalmuir, Skotlandia, atas pesanan perusahaan pelayaran Lloyd Sabaudo Line yang berbasis di Genoa. Meski sudah rampung pada 21 Oktober 1922, finishing interior-nya memakan waktu hingga lima bulan berikutnya. Lloyd Sabaudo Line sampai mengirim seniman-seniman asal Firenze untuk mendekorasi bar-bar dan sejumlah lounge kelas satu. Mengutip suratkabar The Times (kini The New York Times ) edisi 25 Juni 1923, dinding di bagian tangga utamanya dihiasi sebuah lukisan besar karya Cavalieri. Langit-langit di dek-dek kelas satu yang berhias lukisan dari para seniman Firenze membuatnya bak istana khas Italia era renaissance . Semua itu dilakukan karena Lloyd Sabaudo Line ingin Conte Verde menjadi “istana berjalan” dengan segala kemewahannya, sesuai namanya yang diambil dari julukan Amadeus VI, Count of Savoy, yang dijuluki Il Conte Verde atau Pangeran Hijau. Pelepasan pelayaran perdana SS Conte Verde pada 21 April 1923 (Foto: Library of Congress/loc.gov) Kapasitas maksimal kapal dengan 10 dek itu mencapai 2.830 orang yang terbagi dalam 450 penumpang kelas satu, 200 penumpang kelas dua, dan 1.780 penumpang kelas tiga yang biasanya merupakan imigran, serta 400 kru. Bobot kotornya 18.761 ton dengan postur 180,1 x 22,6 meter. Ditenagai dua turbin uap, Conte Verde bisa berlayar dengan kecepatan hingga 18,5 knot. “ Conte Verde tiba kemarin (24 Juni 1923) pada pelayaran perdananya dari Genoa dan Napoli membawa 95 penumpang kelas satu, 374 penumpang kelas dua, dan 703 penumpang kelas tiga,” lanjut laporan The Times. Mengantar Rombongan Piala Dunia Medio Juni 1930 jadi salah satu jadwal pelayaran terpenting Conte Verde. Sejumlah akomodasi kelas satunya disewa panitia pelaksana Uruguay sebagai tuan rumah Piala Dunia pertama dan Presiden FIFA Jules Rimet. Ia jadi bagian negosiasi Uruguay dan Rimet agar tim-tim Eropa mau datang menyeberangi Samudera Atlantik sejauh 11 ribu kilometer untuk berpartisipasi. Berkat lobi Rimet, Piala Dunia 1930 urung diboikot seluruh negara Eropa. Dari belasan negara yang diundang, hanya Prancis, Belgia, Rumania, dan Yugoslavia yang –datang dengan kapal pesiar lain, MS Florida– berkenan hadir. Kapal Conte Verde berlayar membawa tiga tim Eropa juga sekaligus presiden FIFA dengan trofinya, Coupe du Monde, dan tiga wasit: Jean Langenus (Belgia), Henri Christophe (Belgia), dan Thomas Balvay (Prancis). Timnas Prancis, Belgia, dan Rumania di atas geladak kapal SS Conte Verde (Foto: Repro "Le livre official de l'equipe de France") Dinukil dari 100+ Fakta Unik Piala Dunia karya Asep Ginanjar dan Agung Harsya, Conte Verde mulai lepas jangkar dari pelabuhan Genoa pada 20 Juni, di mana baru ditumpangi rombongan tim Rumania. Sehari kemudian ia merapat ke Villefranche-sur-Mer untuk menjemput tim Prancis, Presiden FIFA, serta tiga wasit, sebelum keesokannya berlabuh di Barcelona untuk menjemput tim Belgia. “Selama perjalanan di atas Conte Verde , para pemain Belgia, Prancis, dan Rumania tak henti menjaga kondisi tubuh. Conte Verde memang sengaja diubah menjadi arena olahraga terapung. Selain tersedia tempat kebugaran, ada juga kolam renang, dan meja ping-pong. Bahkan para pemain sempat-sempatnya main bola di sana! Hal itu baru terhenti ketika sejumlah bola jatuh ke laut,” tulis Asep dan Agung. Presiden FIFA Jules Rimet (kiri) tiba di Montevideo pada 4 Juli bersama para ofisial dan tiga tim peserta Piala Dunia 1930 (Foto: fifa.com ) Selain rombongan Piala Dunia, Conte Verde juga ditumpangi beberapa selebriti dunia yang turut serta dalam total 15 hari pelayaran itu. Di antaranya penyanyi opera Rusia Fyodor Chaliapin, penari beken Amerika Josephine Baker, fotografer dan petualang Italia Fosco Maraini, penulis Italia Dacia Maraini, serta pengusaha kafe ternama Caffe Trieste, Giovanni Giotta. “Setelah berlabuh lagi di Lisbon dan Kepulauan Canary, tim-tim seperti Belgia, Rumania, dan Prancis mulai menyeberangi Atlantik. Kapalnya baru merapat lagi di Rio de Janeiro pada 29 Juni untuk menjemput tim Brasil, sebelum akhirnya tiba di Montevideo pada 4 Juli. Hampir 15 ribu warga Uruguay datang menyambut mereka,” tulis Gregory Reck dan Bruce Allen Dick dalam American Soccer: History, Culture, Class. Mengangkut Pengungsi Yahudi hingga Dibom Sekutu Trayek Conte Verde yang lazimnya menyeberangi Atlantik ke barat (New York hingga Buenos Aires), berganti pada 1932 kala kapal itu diakuisisi Italian Line (kini Italia Marittima) dari Lloyd Sabaudo Line. Conte Verde dijadikan satu dari empat kapal dalam armada Lloyd Triestino di bawah Italian Line yang trayeknya mengarah ke timur jauh: Genoa-Trieste-Bombay-Colombo-Shanghai-Hong Kong-Singapura via Terusan Suez. Interior dan dekorasinya pun banyak diubah. Ia tak lagi jadi “istana terapung”, namun semata kapal transport. Untuk memperluas ruang kelas ekonomi, Italian Line memperkecil kapasitas kelas satu menjadi hanya 250, kelas dua 170, dan kelas tiga 220 penumpang. Per November 1938, Conte Verde bersama tiga kapal Lloyd Triestino lainnya dijadikan kapal penyelamat bagi belasan ribu Yahudi Eropa yang mencari selamat ke Shanghai. “Sejak mulanya periode Nazi sudah mulai ada imigran Yahudi dari Jerman ke Shanghai. Kelompok pertama berjumlah 12 orang yang terdiri dari para dokter, guru, atau pebisnis. Mereka menganggap Shanghai jadi surga suaka yang menarik. Hingga enam tahun kemudian gelombang besar pengungsi Yahudi datang mengikuti,” tulis Alvin Mars dalam A Note on the Jewish Refugees in Shanghai. “Lalu setelah invasi Nazi ke Austria ( Anschluß, 12 Maret 1938), dua kapal transport pertama yang tiba di Shanghai dengan para pengungsi Yahudi adalah kapal Conte Biancamano dan Conte Rosso dari Lloyd Triestino. Seiring bertambahnya pengungsi, dua kapal lain ( Conte Verde dan Conte Grande ) dikerahkan. Rutenya Genoa-Port Said-Suez-Colombo-Singapura-Manila-Shanghai,” lanjutnya. SS Conte Verde pada 1932 setelah diakuisisi oleh Lloyd Triestino (Foto: ibi.org ) Conte Verde sendiri pertamakali membawa pengungsi Yahudi pada 29 Oktober 1938 yang berbondong-bondong datang ke pelabuhan Trieste. Mengutip Roman Malek dalam From Kaifeng to Shanghai: Jews in China , kapal itu ditumpangi 187 pengungsi Yahudi Jerman dan Austria yang menyelamatkan diri 12 hari sebelum geger Kristallnacht atau “Malam Kaca Pecah”, 9-10 November 1938, yakni malam ketika para simpatisan Nazi menghancurkan rumah, pertokoan, hingga membantai Yahudi yang mereka temui. “Setelah hampir sebulan pelayaran, pada 24 November 1938 Conte Verde merapat di Shanghai pada pukul 2 siang. Dari 350 penumpang, terdapat 187 pengungsi Yahudi Jerman dan Austria. Ini adalah rombongan pengungsi terbesar pertama, di mana dalam delapan bulan berikutnya gelombang pengungsian kian meningkat,” tulis Malek. Hingga Juni 1940, total sudah 17 ribu pengungsi Yahudi yang menggunakan kapal-kapal milik Lloyd Triestino. Namun setelah itu, jalur pengungsian Conte Verde dkk terhenti lantaran Italia nyemplung ke dalam Perang Dunia II. Sebagai imbasnya, Conte Verde yang tengah berlabuh di Shanghai ditahan untuk sementara waktu oleh otoritas konsensi Inggris-Amerika di Shanghai International Settlement. Setelah lama nongkrong di Shanghai, nasib nahas menghampiri Conte Verde pada 3 September 1943 bersamaan dengan Armistice of Cassibile atau perjanjian gencatan senjata antara Italia dan Sekutu. Agar Conte Verde tak direbut Jepang yang sudah menguasai Shanghai, termasuk konsensi asingnya sejak 8 Desember 1941, dengan berat hati para krunya berusaha menenggelamkannya. SS Conte Verde yang sejak November 1938-Juni 1940 bolak-balik Trieste-Shanghai membawa pengungsi Yahudi (Foto: ushmm.org ) Tapi ketika kapal belum sepenuhnya tenggelam, upaya itu gagal karena para krunya keburu ditangkap serdadu Jepang. Conte Verde lantas diselamatkan dan diperbaiki Jepang, disulap jadi kapal kargo bernama Teikyo Maru meski tulisan Conte Verde di lambungnya tak diubah. Ia sempat dihantam pembom B-24 Liberator Amerika pada 8 Agustus saat tengah berlayar di Sungai Huangpu. Total enam bom menimpa Teikyo Maru yang membuatnya oleng ke kanan sebelum akhirnya karam di perairan dangkal itu. Sebulan kemudian Teikyo Maru coba diperbaiki dan ketika sudah bisa mengapung lagi, ia ditarik kapal lain untuk dibawa ke galangan kapal Mitsubishi Konan di pelabuhan Sungai Huangpu. Selesai diperbaiki, ia diubah menjadi kapal angkut personil pasukan pada awal 1945 dan berganti lagi namanya menjadi Kotobuki Maru . Namun nasib apes kembali menimpanya pada 25 Juli 1945. Saat sedang berlabung di Pelabuhan Maizuru, Kyoto, ia diserang oleh pesawat pembom Sekutu. Usahanya untuk kabur gagal dan setelah terkena beberapa bom, Kotobuki Maru terdampar di pesisir Teluk Nakata. Ia lantas terbengkalai begitu saja hingga pada 13 Juni 1949 datang keputusan dari otoritas Jepang agar ia dikanibal dan dibesituakan.
- Kartini dan Sekolah Bidan
DALAM tur keliling Jawanya untuk memulai pendirian sekolah bagi kaum putri, Direktur Departemen Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia Belanda Jacques Hendrij Abendanon sempat mampir ke rumah Bupati Jepara Sosroningrat. Kunjungan Abendanon itu atas usulan penasihat pemerintah kolonial Christian Snouck Hurgronje. Menurut Hurgronje, putri Bupati Sosroningrat cukup terkenal karna berani melanggar feodalisme Jawa dan punya ide untuk menyediakan pendidikan bagi anak perempuan. Saran Hurgronje terbukti. Dalam pengantarnya di buku surat-surat Kartini, Door Duisternis tot Licht, Abendanon mengaku perkenalan dan keramahan keluarga Sosroningrat membuatnya cukup tercengang. Pada kesempatan berikutnya, Abendanon mengundang Kartini dan keluarganya ke Batavia. Dalam sebuah pertemuan Kartini berbincang dengan direktur HBS untuk perempuan Van Loon. Hasilnya, Van Loon bersedia membantu Kartini bila ia hendak meneruskan pendidikan di sekolahnya.
- Om Kacamata di Banda Neira
SUATU sore di Teluk Neira, Maluku, tahun 1936, sekumpulan bocah laki-laki tengah sibuk bermain menikmati mentari senja. Des Alwi Abubakar, kala itu usianya belum genap 10 tahun, ada di antara mereka yang memanjakan diri berenang menembus ombak laut khas Banda. Kelak nama Des Alwi akan dikenal sebagai seorang sejarawan, advokat dan diplomat. Kesenangan bocah-bocah itu terganggu saat seorang penjaga pelabuhan memperingatkan akan datangnya kapal yang berlabuh ke arah mereka. Kapal putih berbendera Belanda tiba. Dua orang tidak dikenal, mengenakan stelan jas (krem) lengkap dengan sepatu putih, turun. “Tuan-tuan itu berwajah pucat,” kenang Des Alwi seperti diungkapkan dalam Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman . Dua orang itu kemudian mendekati Des dan kawan-kawan. Tuan yang tubuhnya lebih pendek menanyakan rumah Tjipto Mangoenkoesoemo, sementara tuan berkacamata hanya diam tersenyum. Berhubung rumah Tjipto jauh, Des menunjukkan rumah Iwa Koeseomasoemantri. Posisinya tepat di depan dermaga. Rupanya tuan-tuan pucat itu adalah Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir. Mereka baru saja dipindah dari Boven Digul, sebuah tempat pembuangan orang-orang republik yang anti pemerintah kolonial Belanda. Bung Hata dan Bung Sjahrir akan bergabung dengan Tjipto dan Iwa yang sudah sejak 1928 dibuang ke Pulau Banda. Hari-hari mereka di pembuangan tidak sesepi yang dibayangkan. Des dan kawan-kawannya sering bermain di sekitar rumah Hatta-Sjahrir sehingga meramaikan kediaman besar itu. Bocah-bocah Banda ini cepat dekat dengan keduanya. Bung Sjahrir mendapat sapaan “Om Rir”, sedangkan Bung Hatta akrab disapa “Om Kacamata”. Sapaan Om Kacamata ada karena Bung Hatta tidak pernah melepas benda itu, kecuali ketika tidur. Anak-anak menilai Bung Hatta orang yang kaku, pendiam, dan sangat bertolak belakang dengan sifat kawannya Om Rir. Banyaknya koleksi buku juga membuat hari-hari Om Kacamata hanya diisi dengan membaca dan berdiskusi. Dari pertemuannya dengan Om Kacamata dan Om Rir, Des Alwi menerima pengetahuan yang begitu luas. Ia belajar bahasa Belanda, Inggris, dan Prancis, di samping berbagai pelajaran ilmu politik yang memang menjadi keahlian dua tokoh pendiri bangsa tersebut. Tak lupa, Des dan anak lain diajarkan tentang berhitung, sejarah, serta etika. Kedekatan itu belakangan membuat dua Bung akhrinya meminta izin kepada Raja Baadilla, tokoh Banda keturunan Arab, untuk menjadikan Des dan yang lainnya sebagai anak angkat. Raja Baadilla dan keluarga anak-anak pun setuju. Des, Does, Lily, Mimi, dan Ali resmi menjadi anak angkat Bung Hatta dan Bung Sjahrir. “Om Kacamata dan Om Rir membunuh rasa bosan yang mengigit dengan bermain gundu, sepakbola, mendaki gunung, memetik kembang anggrek, atau menikmati bulan putih di langit malam Banda.” Pada 31 Januari 1942, turun perintah untuk memulangkan dua Bung ke Jakarta. Pesawat kecil jenis Catalina disiapkan dekat Dermaga Neira. Sebelum berangkat, Bung Hatta mengajukan satu syarat kepada pemerintah Hindia Belanda: membawa serta anak angkatnya ke Jakarta. Permintaan itu dikabulkan. Namun menjelang keberangkatan, pesawat tidak mampu menahan berat semua penumpangnya. Akhirnya disepakati, Des tinggal dulu untuk menjaga peti-peti buku Bung Hatta yang belum sempat terangkut. Satu anak lagi yakni Does batal ikut karena orangtuanya keberatan. Tiga bulan kemudian, Des menyusul ke Jakarta. Ia lalu tinggal di kediaman Om Kacamata.*
- Aksi Nommensen di Tanah Batak
MALAPETAKA yang terjadi akibat epidemi kolera di Tanah Batak sungguh mengerikan. Saat itu, angka kematian pada anak-anak sangat tinggi. Kampung-kampung yang tercemar wabah terasa mencekam bahkan ada yang ditinggalkan penghuninya. Sebagian besar keluarga memiliki lebih banyak anak di kuburan daripada di rumah. Diperkirakan, tiga perempat dari populasi anak yang dilahirkan telah meninggal sebelum usia delapan tahun. Demikianlah catatan Ludwig Ingwer Nommensen dalam suratnya tertanggal 5 Juli 1875 yang menggambarkan situasi di kawasan Batak Toba, Tapanuli Utara. Nommensen adalah misionaris zending utusan dari Seminari Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) di Wupertal-Barmen, Jerman. Dia bertugas menjadikan Tanah Batak sebagai ladang penginjilan. Ketika Nommensen memulai pekabaran Injil, penyakit menular yang disebut rakyat setempat “Begu Atuk” tengah mewabah. Selain Nommensen, koleganya Peter Henrich Johannsen juga menyaksikan keadaaan yang sama pilu. Johannsen melaporkan sekira 20–30 orang meninggal setiap hari di Lembah Silindung. Orang tua yang depresi bahkan melakukan bunuh diri karena kehilangan anak-anak mereka. Apa yang sebenarnya terjadi di Tanah Batak?
- Di Balik Lambatnya Kasus Covid-19 di Bali
ALKISAH di dalam pewayangan, tersebutlah sebuah Kerajaan Amarta yang sedang mengadakan upacara selamatan. Kresna hendak menghadirinya. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan pasukan raksasa, balatentara Durga. “Hey, kamu para tentara Durga hendak ke mana?” tanya Kresna. Rupanya para raksasa itu dalam perjalanan menuju Kerajaan Chedi. Orang-orang di kerajaan itu sudah lupa bersembahyang dan melakukan upacara. “Kami diperintahkan oleh Durga untuk menghancurkan kerajan itu dan membuat mereka sakit,” jawab raksasa. “Berapa kamu minta penduduk di sana untuk kamu buat sakit dan mati?” tanya Kresna lagi. “Hanya seribu,” jawab raksasa. Kresna lalu melanjutkan perjalanan ke timur, ke arah Amarta. Sementara pasukan raksasa juga berangkat untuk melaksanakan tugasnya. Selesai acara di Amarta, Kresna kembali ke kerajaannya. Para raksasa juga pulang setelah selesai menunaikan perintah Bhatari Durga. Mereka bertemu lagi di jalan. “Hey raksasa, mengapa kalian membunuh 5.000 orang? Katanya hanya 1.000?” tanya Kresna. “Sebenarnya kami tetap membunuh 1.000. Tetapi 4.000 lainnya mati karena lari ketakutan. Mereka mati karena tak mengikuti perintah dari raja,” jawab raksasa. Kisah itu dituturkan oleh dalang I Gede Wiratmaja Karang yang juga dosen Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar dan guru SMKN I Bangli, dalam diskusi “Eksistensi Wabah: Fakta Masa Lampau Hadir pada Masa Kini”, yang diadakan Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) melalui aplikasi Zoom di Jakarta, Selasa (21/4/2020). Di balik cerita itu, mungkin tersimpan jawaban mengapa kasus Covid-19 di Bali relatif lebih lambat dibandingkan wilayah lain. I Gede Wiratmaja Karang menjelaskan bagi orang Bali, ada empat guru utama ( catur guru ) yang harus dipatuhi, yaitu pendeta sebagai guru pengajian , pemerintah sebagai guru wisesa , apa yang termuat dalam kitab sebagai guru swadhyaya , dan orangtua sebagai guru rupaka . “Itu ( catur guru , red.) patuhi saja. Kita tetap waspada, tidak usah dibesar-besarkan, hadapi dengan tenang, ikuti aturan yang sudah ditetapkan pemerintah, pasti berhasil,” katanya. Selama hampir tiga bulan pandemik Covid-19, pada 21 April 2020 di Bali tercatat 150 orang postif, 42 orang sembuh, dan tiga orang meninggal dunia. Minimnya kasus Covid-19 di Bali bahkan sempat menjadi perhatian media asing. John Mcbeth memberitakannya lewat tulisan berjudul “Bali’s mysterious immunity to Covid-19” di asiatimes.com. “Dua kematian Covid-19 di pulau itu sejauh ini adalah orang asing, termasuk seorang perempuan Inggris dengan masalah kesehatan yang mendasarinya,” tulisnya. Sementara itu, per 21 April 2020 di seluruh Indonesia tercatat 7.135 orang positif, 842 orang sembuh, dan 616 orang meninggal dunia. Mcbeth menulis keheranannya melihat di Bali tak ada cerita luapan pasien di rumah sakit. Peningkatan jumlah yang tajam di krematorium atau bukti lainnya yang bisa menunjukkan merajalelanya virus ini di pulau itu juga tak tampak. Padahal dari 4,2 juta populasi di Pulau Dewata, ribuannya adalah warga negara asing. Lambatnya kasus Covid-19 di Bali pun disebut sebagai fenomena “kekebalan yang misterius” oleh media asing itu. Bagaimana cara orang Bali mempertahankan diri dari wabah penyakit menjadi menarik. Mengingat pulau itu adalah tujuan wisata dari seluruh dunia. Ditambah lagi, berdasarkan keterangan Mcbeth, jumlah kedatangan wisatawan Tiongkok ke Bali meningkat sebesar 3 persen pada Januari 2020. Itu adalah bulan yang sama ketika Wuhan menetapkan kebijakan lockdown. Kepercayaan tentang Wabah I Gede Wiratmaja Karang menjelaskan bagaimana orang Bali pada masa lalu dan kini menyikapi dan melawan wabah. Wabah oleh orang Bali disebut dengan sasab atau grubug. Istilah sasab diambil dari bahasa Sanskerta yang artinya terkunci dan tersembunyi. Jadi, penyakit yang ditimbulkan pun adalah penyakit yang tertutup. Pengobatannya juga sangat rahasia dan tertutup, susah untuk diselesaikan secara akal sehat. Ada banyak mitologi yang dipercayai orang Bali untuk menjelaskan awal mula terjadinya wabah penyakit. Di antaranya tertulis di dalam beberapa lontar yang diwarisi hingga kini. Salah satunya yang menjelaskan kalau wabah berjangkit akibat Durga turun ke bumi. Setelah 12 tahun berada di dunia, Siwa pun turun menyusulnya dalam wujud ugra -nya. Keduanya pun bertemu di dunia. Mereka lalu berkasih-kasihan. Saat keduanya bersenang-senang menghadap ke arah timur, ketika itulah terjadi grubug . “Saat keduanya menghadap timur, konon banyak orang yang sakit, biasanya muntah-muntah,” ujarnya. Lalu ketika menghadap selatan, penduduk sakit terkena virus. “Sakitnya kena sasab dan merana,” katanya. Saat sepasang dewa itu menghadap ke barat, penduduk akan terkena muntaber. Ketika menghadap ke utara, penduduk akan sakit seluruh badannya atau disebut gering lumintu . “Kalau berada di tengah, biasanya penduduk sakit organ dalam, sakit telinga, hidung, dan tenggorokan yang diserang. Ini berdasarkan mitologi sakit di Bali,” jelasnya. Dalam lontar lain juga ada cerita kisah Dewi Sri yang turun ke bumi karena dikejar dua raksasa kembar. Konon, inilah yang kemudian menyebabkan wabah penyakit atau sasab. “Jadi banyak mitologi zaman dulu yang terwarisi di Bali, terkait dengan sasab ,” ujarnya. Tradisi Pengobatan Sasab sudah dibicarakan oleh orang Bali Kuno sejak abad ke-11 berdasarkan Prasasti Pura Kehen yang tersimpan di Pura Kehen. Isinya menguraikan, kala itu di Desa Bangli merebak wabah penyakit yang disebut kegeringan atau grubuh. Banyak penduduk meninggal dunia. “Karena banyak yang meninggal, desa di Bangli ini akhirnya di lockdown oleh raja,” jelas I Gede Wiratmaja Karang. Sementara budaya pengobatannya, secara tradisional orang Bali mengenal dua kelompok lontar: kelompok usadha dan tutur. Tutur berisi tentang aksara gaib, anatomi tubuh manusia, falsafah sehat dan sakit, cara mendiagnosis penyakit. Sementara usadha berisi pengobatan, baik secara umum maupun dengan rajah atau benda bertuah. Orang yang menjalankan usadha disebut balian. Istilah ini dalam sebutan baliyan atau prabaliyan disebut dalam beberapa prasasti yang dikeluarkan oleh Sri Haji Jayapangus (1177–1181). “Dikeluarkan oleh Wangsa Warmadewa juga ada. Ini menandakan pada masa Bali Kuno sudah ada penanganan penyakit,” katanya. Dalam naskah keagamaan, seperti Rig-veda , ditemukan pula cara menangani penyakit. Di antaranya mengkonsumsi makanan sehat dan bernapas dengan baik. “Napas itu sumber kehidupan. Mengapa? Dalam hitungan orang Bali jantung adalah unsur utama kehidupan, selanjutnya napas, hati, usus, pankreas, empedu, dan diafragma, semua itu yang mengatur kehidupan manusia,” jelasnya. Semua unsur dalam tubuh adalah simbol dari Tuhan, kehidupan, dan alam. Jadi, bagi orang Bali kalau sudah bisa menyeimbangkan alam kecil yang ada di tubuh dengan alam besar yang ada di dunia ini, kehidupan akan selalu berjalan aman dan bahagia. Tak akan sakit. Bagi orang Bali, pengobatan cara tradisional ini masih relevan dengan masa kini. Bahkan, banyak orang Bali menjadikannya pilihan pertama alih-alih mereka menjalani pengobatan medis modern. “Kita jangan berpandangan secara modern saja, karena banyak contoh tradisi yang sangat ampuh menghadapi permasalahan modern,” ujarnya. “Di Bali tradisi masih dijaga, masih dimanfaatkan, masih kami gunakan.” Pun dalam menangani penyakit, selain berobat ke seorang baliyan , pendeta atau dokter, biasanya orang Bali selalu mengiringi prosesnya dengan doa. “Manusia itu beragama karena takut mati dan sakit. Jadi pendekatan agama dan budaya sangat diperlukan dalam menangani pandemi sekarang,” katanya.*
- Akhir Riwayat Freemason di Indonesia
KEHADIRAN Freemason di Indonesia sudah melewati jalan yang panjang sejak loji mason pertama didirikan di Batavia pada 1762. Perkembangannya makin pesat sejak 1870 ketika loji-loji bermunculan di pusat-pusat komunitas Eropa di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Namun, seabad kemudian senjakala Freemason di Indonesia tiba bersamaan dengan pendudukan Jepang.
- Kemarahan Sjahrir Kepada Sultan Hamid
JAKARTA, 16 Januari 1962. Sejumlah tokoh nasional (Sutan Sjahrir, Sultan Hamid Alkadrie, Anak Agung Gde Agung, Mohamad Roem, Soebadio Sastosatomo dan Prawoto Mangkusasmito) ditangkap. Tuduhan yang membelit mereka: terlibat dalam komplotan yang merencanakan pembunuhan Presiden Sukarno. Awalnya mereka ditahan di Mess CPM, Jalan Hayam Wuruk, Jakarta. Tiga hari kemudian Sjahrir bersama tahanan-tahanan lainnya dipindahkan ke wilayah selatan Jakarta (Jalan Daha, Kebayoran Baru). Tepat tiga bulan setelah penangkapannya, dia dipindahkan lagi. Kali ini lebih jauh: ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Madiun. Di rumah tahanan yang terletak di Jalan Wilis itu mereka diperlakukan secara baik. Sjahrir dan Sultan Hamid masing-masing memiliki kamar yang lumayan besar. Anak Agung dan Soebadio menempati kamar besar lain. Sementara Roem ditempatkan satu kamar bersama Prawoto.
- Pesan Ratu Victoria Terkait Perang Aceh
PERANG besar Aceh-Belanda memasuki babak baru. Setelah menuai malu pada perang pertama (awal 1873), Belanda datang dengan kekuatan lebih besar di tahun berikutnya. Sebanyak 60 buah kapal –terdiri dari kapal perang, kapal pengawal, dan kapal logistik– bersenjata lengkap diberangkatkan dari Batavia. Jenderal Van Swieten ditunjuk memimpin agresi kedua ini. Besarnya kekuatan Belanda nyatanya tidak menyurutkan perlawanan rakyat Aceh. Semangat juang mereka justru semakin merepotkan. Pertahanan rapat yang disiapkan di berbagai tempat juga menambah beban mereka untuk masuk ke Serambi Mekkah. Saling bertahan dan menyerang menghiasi rangkaian perang yang baru mereda pada 1910 itu. Di tengah persiapan perang yang semakin masif, sepucuk surat datang dari penguasa Britania Raya, Ratu Victoria (1819-1901). Dikisahkan Mohammad Said dalam Aceh Sepanjang Abad, surat itu dibuat secara pribadi oleh ratu untuk Sultan Aceh. Seorang perwira dari Angkatan Laut Kerajaan Inggris yakni Kolonel Woolcombe diutus untuk menyampaikan pesan sang ratu tersebut.
- Radermacher, Pendiri Freemason di Hindia Belanda
PADA usia 16 tahun, Jacob Cornelis Matthieu Radermacher, berlayar ke Hindia Belanda sebagai pedagang VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur). Ayahnya, Joan Cornelis Radermacher, seorang pejabat tinggi di Kerajaan Belanda, dan pamannya anggota dewan direksi VOC. Radermacher menikah dengan putri Hugo Verijssel, anggota Dewan Hindia. Suami kedua mertuanya adalah Reinier de Klerk, anggota Dewan Hindia yang kemudian menjadi gubernur jenderal. Posisi ini membuat kariernya naik dengan cepat hingga menjabat Pedagang Kepala (Oppperkoopman), salah satu jabatan tinggi dalam kepegawaian VOC.
- Raja Nusantara Korban Wabah Penyakit
WABAH penyakit tidak mengenal kasta. Siapa pun bisa terkena tanpa pandang bulu: laki-laki atau perempuan, tua atau muda. Termasuk mereka dari kelompok rakyat jelata hingga keluarga Istana. Keadaan demikian juga berlaku belakangan ini. Seluruh dunia tengah sibuk berjuang menghadapi wabah Covid-19 yang lebih dikenal sebagai Virus Corona. Wabah pandemik inipun menyasar kaum dari segala golongan. Di Inggris, putra mahkota kerajaan, Pangeran Charles sempat terinfeksi Virus Corona. Di Indonesia, sejumlah pejabat negara dinyatakan positif terjangkit virus yang sama. Mereka antara lain Menteri Perhubungan Budi Karya dan Wali Kota Bogor Bima Arya. Di masa silam, sejarah mencatat beberapa raja di Nusantara yang menjadi korban wabah penyakit. Kolera menjadi wabah yang paling banyak merenggut nyawa beberapa raja. Selain itu, wabah lain seperti cacar dan malaria turut pula menjadi penyebab raja lainnya mangkat. Siapa saja mereka?





















