top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10052 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ayah Suzzanna Gugur di Subang

    HINDIA Belanda menjadi tempat yang diimpikan banyak pria Belanda untuk mengubah nasib. Di tanah subur nan kaya yang diperintah “kaki-tangan” ratu Belanda itu, kehidupan sejahtera jauh lebih mungkin diwujudkan ketimbang di negeri asal mereka, Belanda. Terlebih, warna kulit putih mereka memungkinkan mendapat keistimewaan yang tidak didapatkan orang kulit berwarna akibat sistem rasis yang diterapkan pemerintah Hindia Belanda. Faktor itulah yang mendorong Willem van Osch, yang lahir pada 19 Juni 1910, rela bertaruh nyawa mengarungi samudera ribuan kilometer demi mencapai Hindia Belanda. Pria asal Rosmalen, Belanda ini kemudian menjalani kehidupan berbeda di tempat yang baru. Dia diterima menjadi tentara kolonial, Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL). Pangkatnya sudah sersan mayor (serma) infanteri dengan nomor stamboek-nya 89068. Di Hindia Belanda pula Willem menemukan jodoh dan berkeluarga. Koran De Locomotief, 24 Januari 1936 memberitakan, Willem van Osch menikah dengan Johanna Bojoh di Magelang –kota tangsi bagi KNIL– pada 22 Januari 1936. Johanna merupakan gadis berdarah Sunda dan Manado.

  • Roh Gunung dan Wabah Penyakit

    PADA suatu pagi, setelah seminggu terus-menerus hidup seperti dirundung malang, raja Lombok memanggil semua pejabat, pendeta dan pangeran yang ada di Mataram. Raja mengatakan, selama beberapa hari hatinya sangat sakit tanpa tahu penyebabnya. “Aku telah bermimpi semalam Roh Gunong Agong, muncul di hadapanku dan berkata agar aku pergi ke puncak gunung,” kata raja. Para hadirin di hadapannya diperbolehkan untuk ikut mengiringi kepergiannya hingga mendekati puncak. Namun ia harus melanjutkan pendakian seorang diri agar Roh Gunung Agung yang bersemayam di puncak gunung mau muncul di hadapannya.

  • Protes Haji Misbach di Tengah Wabah Pes

    DARI Malang, wabah pes yang muncul sejak 1910 mulai menjalar ke berbagai daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat. Di Surakarta, penyakit pes mulai muncul pada 1913 dan mulai merebak secara masif setahun setelahnya. Kasus pertama berasal dari orang Belanda yang merupakan pendatang dari perkebunan tebu di Pasuruan. Ia meninggal karena pes di Stasiun Kereta Api Jebres, Surakarta dan sejak itu penyakit pes mulai menulari orang-orang Sala. Maret 1915, epidemi pes pecah di Kota Surakarta. “Wabah pes yang semula hanya berkembang di wilayah kota kemudian menyebar keluar kota itu,” tulis Wasino dalam Kapitalisme Bumiputera, Perubahan Masyarakat Mangkunegaran.

  • Penerjunan Tenaga Medis pada Wabah di Hindia Belanda

    UNTUK menangani pandemi Covid-19, Pemerintah Kota Jakarta Timur akan mengerahkan 2.500 tenaga medis muda. Pemilihan tenaga medis muda, menurut Ketua Tim Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jakarta Timur Tedy Harto, karena mereka memiliki imun tubuh lebih baik daripada dokter senior. Tenaga medis muda tersebut rencananya disalurkan secara bergelombang ke sejumlah tempat layanan kesehatan di Jakarta Timur. Pada tahap pertama, sebanyak 2.000 hingga 2.500 dokter muda akan dikirim ke lapangan. "Tim medis yang akan dikerahkan sebelumnya kami berikan pembekalan dengan matang dan kami seleksi yang muda-muda," ujar Tedy sebagaimana diberitakan tempo.co, 9 April 2020. Pengerahan tenaga medis dalam skala besar juga pernah dilakukan kala wabah cacar melanda Hindia Belanda pada abad ke-19. Pemerintah kolonial mengirimkan manstri-mantri cacar ke desa-desa agar vaksinasi atau pencacaran bisa dilakukan secara menyeluruh.

  • Orang Tondano Melawan Kompeni

    KONGSI Dagang Belanda (VOC) tak ingin mengulangi kesalahan Spanyol di Minahasa. Akibat sewenang-wenang, Spanyol diusir penguasa setempat. Belanda memilih jalur persahabatan. Simon Cos merintis persahabatan itu pada 1655, setelah armada kecilnya berlabuh di Sungai Monango Labo. “Dengan diplomasi ‘topi di tangan’ serta ‘tepukan bahu’, mulailah Kompeni merayu dan membujuk penduduk,” tulis Bert Supit dalam Minahasa: Dari Amanat Watu Pinawetengan Sampai Gelora Minawanua. Persahabatan itu membuahkan bantuan pendirian Benteng Nederlandsche Vastigheyt di Manado. Bagi Cos, Manado amat strategis sebagai pos terdepan Maluku dan penghasil beras, komoditas yang amat diperlukan Belanda. Pendirian benteng tersebut diprotes Makassar dan Spanyol, mitra niaga beras Tondano (sekarang ibukota Kabupaten Minahasa). Orang-orang Tondano pun menolak berhubungan dengan tamu barunya itu.

  • Nusantara Terdampak Wabah Penyakit yang Melanda Dunia

    DUNIA beberapa kali diserang wabah penyakit. Sejak masa prasejarah, wabah penyakit menyerang Tiongkok pada 3000 SM. Tifus menghantam Athena pada abad ke-5 SM. Memasuki masa sejarah, wabah penyakit yang tercatat lebih banyak. Wabah Yustinianus (pes) menyerang Kekaisaran Romawi Timur pada abad ke-6, kusta di Eropa pada abad ke-11, Maut Hitam di Eurasia pada abad ke-13, cacar di Amerika dan Pasifik pada abad ke-16, kolera pada abad ke-19, serta flu Spanyol dan polio pada awal abad ke-20. “Sementara di Indonesia, apakah ada korelasinya yang terjadi di global juga terjadi di Indonesia,” kata Sofwan Noerwidi, peneliti Balai Arkeologi Yogyakarta, dalam diskusi Puslit Arkenas lewat aplikasi zoom yang berjudul “Eksistensi Wabah: Fakta Masa Lampau Hadir pada Masa Kini”, pada Selasa, 21 April 2020.

  • Wabah Sejak Zaman Rasulullah

    IBNU Battuta, pelawat muslim asal Maroko, sedang berlayar ke arah barat dari Tiongkok. Sementara itu, Maut Hitam, malapetaka pandemik terbesar sejak abad ke-6, menempuh perjalanannya melintasi padang rumput Asia Tengah ke pantai-pantai Laut Hitam. Wabah itu menyerang kota-kota besar dan kecil Islam dengan mengejutkan bagai serangan Mongol. Wilayah-wilayah pedalaman di Eropa, Afrika Utara, Timur Tengah, Paris dan Bourdeaux, Barcelona dan Balencia, Tunis dan Kairo, Damaskus dan Aleppo, menderita kematian besar-besaran akibat wabah itu. Orang-orang pun menghentikan kebiasaan sehari-hari. Mereka lebih memilih salat dan berdoa. Kebanyakan muslim menerima wabah itu sebagai rencana Tuhan yang tak diketahui ciptaan-Nya. Masjid-masjid ditutup. Khususnya saat para petugas dan anggota pengurusnya menjadi korban.

  • Ulama Tetap Berkarya di Tengah Wabah

    DI BALIK nestapa karena wabah, para ulama berusaha menafsirkan penyebabnya berdasarkan pendekatan medis, teologi, atau magis. Bahkan, banyak ulama dan keluarganya juga terkena wabah. Namun, keadaan itu tak melemahkannya malah mereka mencatat pengalamannya dalam menghadapi wabah. “Sebelum menemukan catatan wabah dalam kronik Tiongkok misalnya, Islam sudah melahirkan karya-karya tentang wabah karena sudah terjadi sejak masa Nabi Muhammad Saw.,” kata Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus staf ahli menteri agama, dalam seminar daring lewat aplikasi zoom bertema “Wabah dalam Lintasan Sejarah Umat Manusia”, yang diselenggarakan Museum Nasional pada Selasa, 21 April 2020. Catatan tentang wabah itu di antaranya karangan penting dari sejarawan Arab, Ibnu al-Wardi (1291/1292–1348/1349). Sayangnya, karyanya sudah tak ditemukan lagi. “Saya beruntung menemukan karya filologi dari Palestina yang sudah menyuting naskah ini. Naskah ini bentuknya puisi,” kata Oman.

  • Saran Para Ulama dalam Menghadapi Wabah

    DUNIA tengah berjuang melawan pandemi virus corona. Pemeritah Indonesia telah mengeluarkan protokol kesehatan menghadapi Covid-19. Begitu pula Majelis Ulama Indonesia pun telah mengeluarkan fatwa agar umat Islam menjaga kesehatan diri dan berperan dalam memutus penyebaran virus corona, di antaranya dengan beribadah di rumah. Dalam sejarah Islam, para ulama telah menghasilkan karya-karya tentang wabah dan cara menghadapinya. Oman Fathurahman, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah, menjelaskan bahwa para sarjana muslim biasanya mengawali penjelasannya dengan hadis. “Kalau ada wabah di suatu daerah kamu jangan masuk ke situ, dan jangan lari dari situ karena akan menularkan. Ini kejadiannya dalam wabah amwas pada masa Sayyidina Umar,” kata Oman dalam seminar daring lewat aplikasi zoom tentang “Wabah dalam Lintasan Sejarah Umat Manusia” yang diselenggarakan Museum Nasional pada Selasa, 21 April 2020.

  • Lama Wabah di Masa Lalu

    SETELAH menjalani karantina selama beberapa bulan, orang-orang mulai bertanya kapan pandemi Covid-19 berakhir. Para peneliti di berbagai negara seperti di Inggris, China, Rusia, dan Amerika Serikat terus berusaha mencari jalan keluar dengan pengembangan vaksin. Di Indonesia sendiri, pengembangan vaksin sudah mencapai tahap III (pengujian pada manusia dengan jumlah besar) per Juli 2020 dan ditargetkan selesai pada 2022. Meski jalan untuk vaksinasi massal masih amat jauh, beberapa negara seperti Indonesia memilih melonggarkan karantina lebih awal karena pertimbangan ekonomi. Prediksi tentang berakhirnya wabah pun menjadi amat sulit dilakukan. "Saya pikir ada semacam masalah psikologis sosial seperti kelelahan dan frustrasi," kata sejarawan Universitas Yale Naomi Rogers pada The New York Times.

  • Sulitnya Menghadapi Wabah

    KASUS penularan virus korona di Indonesia terus naik. Per Juli 2020, jumlah kasus di Indonesia sudah melampaui China. Syahrizal Syarif, ahli epidemiologi Universitas Indonesia, menilai tingginya kasus baru dikarenakan pemerintah tidak serius dalam menangani wabah dengan melonggarkan pembatasan wilayah di saat kondisi belum terkendali. "Harus ada langkah ekstrem dan berani dalam situasi yang sangat longgar saat ini," kata Syahrizal seperti dikabarkan Tempo. Syahrizal juga menilai pemerintah menganggap enteng pandemi yang seolah akan berakhir seiring waktu. Saran dari para ahli kesehatan dan wabah seperti karantina wilayah, penerapan protokol kesehatan, pemeriksaan, dan pelacakan tidak dijalankan secara serius. Sikap pemerintah tersebut juga menyebabkan kelengahan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan pencegahan covid. Beberapa bahkan mengaggap pandemi ini bukanlah situasi genting atau tidak separah yang diberitakan.

  • Sang Aktor Laga Telah Tiada

    KABUT duka menyelimuti dunia hiburan. Aktor laga legendaris Advent Bangun mengembuskan napas terakhir di RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan, Sabtu (10/2/2018) dini hari. Sedari Jumat malam, aktor layar lebar era 1970 sampai 1990 itu, sudah dilarikan ke IGD RSUP Fatmawati akibat sesak napas. Kendati sudah diupayakan pertolongan medis, detak jantungnya tak lagi berdetak. Dia dinyatakan meninggal sekira pukul 02.30 dini hari dalam usia 65 tahun. Thomas Advent Perangin-angin Bangun lahir di Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara pada 12 Oktober 1952. Dia dikenal sebagai bintang film layar lebar dengan memulai debutnya di film Rajawali Sakti (1976). Dia mulai dikenal luas sebagai pemeran utama di film Satria Bambu Kuning (1985). Hampir segala genre film pernah dibintanginya. Tak hanya film laga, komedi dan asmara, dia juga sempat meramaikan film perjuangan, Komando Samber Nyawa (1985) bersama Barry Prima.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page