Hasil pencarian
Cari di situs ini
10058 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Menyambut Koleksi Kurasawa
MASA pendudukan Jepang telah lewat 74 tahun silam. Namun masih banyak misteri yang belum tuntas. Buku Bibliografi Beranotasi Sumber SejarahMasa Pendudukan Jepang di Indonesia ini bertujuan menjadi pintu gerbang bagi peneliti muda Indonesia. Buku ini memuat daftar lengkap sumber-sumber sejarah primer dari berbagai tempat. Selain koleksi Kishi Koichi dan koleksi Nishijima Shigetada yang sebelumnya sudah dikenal para peneliti, buku ini mendata sumber-sumber dari lembaga resmi seperti Lembaga Kajian Pertahanan Jepang (NIDS), Arsip Departemen Luar Negeri Jepang, dan Perpustakaan Parlemen Jepang. Selain itu, buku ini memuat sumber-sumber arsip dari Asahi Shinbun , salah satu penerbit suratkabar resmi pada masa pendudukan Jepang, terutama di Jawa dan Borneo (Kalimantan). Pada masa itu ada Jawa Shinbun dan Borneo Shinbun yang terbit di bawah Asahi Shinbun . Yang paling menarik dari daftar sumber dalam buku ini adalah koleksi pribadi milik Aiko Kurasawa, sejarawan Jepang. Kurasawa-sensei telah meneliti Indonesia selama lebih dari 50 tahun dan mengumpulkan banyak sumber primer. Dokumen-dokumen yang dikumpulkannya meliputi catatan harian, dokumen pribadi dari pelaku/saksi sejarah, dan beberapa dokumen yang tidak diketahui lagi lokasi penyimpanannya. Dengan menyajikan daftar inventaris yang lengkap, buku ini berfungsi sebagai penuntun awal bagi para peneliti untuk melihat langsung sumber arsip dan dokumen pada masa pendudukan Jepang. Lebih jauh, buku ini dapat menjadi batu pondasi untuk menyelami sumber-sumber primer guna meningkatkan pengetahuan kita sendiri. Judul: Bibliografi Beranotasi Sumber Sejarah Masa Pendudukan Jepang di Indonesia. Penyusun: Aiko Kurasawa dan Mitsuko Nanke.Penerbit: Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Terbit: Jakarta, 2018. Tebal: 266 halaman. Tantangan bagi Peneliti Muda Memang, sebagian besar sumber arsip dan dokumen ini ditulis dalam bahasa Jepang. Bagi peneliti Indonesia, mempelajari bahasa Jepang tentu menjadi tantangan tersendiri. Bukan hanya sekadar untuk berbicara, tapi membaca naskah. Terlebih naskah tulisan tangan. Pula, dalam bahasa Jepang dari masa Perang Dunia II. Bahasa Jepang, seperti bahasa-bahasa lainnya, mengalami perubahan dan perkembangan drastis. Bahasa Jepang masa Perang Dunia II jelas berbeda dari bahasa Jepang abad ke-21. Bekerjasama dengan peneliti Jepang adalah salah satu cara mengatasi tantangan ini. Saat ini, penelitian sejarah tidak bisa mengabaikan aspek kerjasama antarpeneliti dari berbagai bangsa. Dari kerjasama ini diharapkan akan tumbuh generasi baru Indonesia yang benar-benar ahli membaca arsip dan dokumen sejarah Jepang. Dengan kemahiran berbahasa yang mumpuni, peneliti muda Indonesia tentu akan punya andil yang penting dalam mengembangkan teknis membaca dan menafsir sejarah. Selain itu, dari daftar sumber-sumber primer ini terlihat bahwa masih ada banyak kisah sejarah yang belum sepenuhnya digarap. Kisah-kisah ini masih terpendam, belum sepenuhnya dipahami, atau masih perlu ditafsir-ulang. Ini adalah lahan yang terbuka lebar bagi peneliti muda Indonesia. Jalan Masih Panjang Di samping arsip dan dokumen dari zaman penjajahan Jepang, sesungguhnya masih ada banyak foto dan film yang belum seluruhnya diinventaris lengkap dan dikategorisasikan. Foto dan film adalah juga sumber sejarah penting. Karena itu, perlu kiranya ada usaha untuk melengkapi ini. Buku ini diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan tujuan untuk menyebarluaskan upaya pengembangan penulisan sejarah. Dengan menggunakan dana publik, buku ini tidak untuk dijual. Kiranya, buku ini dapat diperoleh dengan mudah, tak terkecuali bagi para peminat sejarah di tanah air. Acara peluncuran buku ini akan berlangsung pada 26 Juni 2019 di perpustakaan Universitas Rikkyo, Tokyo, dengan dihadiri Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid sebagai pembicara utama. Juga akan berlangsung seminar yang akan dihadiri sejumlah peneliti Jepang antara lain Nakamura Mitsuo, Hayase Shinzo, dan Himemoto Yumiko.
- Kala Bandung Dilanda Bingung
TERSIARNYA berita pembacaan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 tidak hanya membuat suka cita, tetapi juga kebingungan. Bandung menjadi salah satu daerah yang mengalami situasi tersebut. “Seperti halnya di berbagai tempat, di sini pun telah ada bermacam-macam kelompok lokal yang sulit dikoordinasikan berhubung rapinya pengawasan Jepang,” tulis A.H. Nasution, dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia Jilid 1 . Namun walau begitu, para pemuda Bandung tidak kehilangan cara untuk mengabarkan proklamasi,. Alih-alih kehilangan nyali, mereka malah lebih bersemangat untuk menyiarkan berita kemerdekaan Indonesia di kotanya. “Dengan menaiki sepeda masing-masing, kami bergegas ke balai kota, menemui shicho (walikota). Pada waktu itu walikota adalah Pak Atmadinata. Beliau sudah berumur,” kenang Achmad Tirtosudiro dalam biografinya, Jenderal dari Pesantren Legok: 80 Tahun Achmad Tirtosudiro karya Rayani Sriwidodo. Misi utama para pemuda itu adalah meminta walikota untuk menginstruksi penurunan bendera Jepang yang tersebar di sudut-sudut kota Bandung, dan segera menggantinya dengan mengibarkan bendera merah putih.Di antara mereka yang pergi menemui walikota ada Mashudi (pangkat terakhir Letanan Jenderal dan mantan gubernur Jawa Barat), serta Achmad Tirtosudiro (pangkat terakhir Letnan Jenderal). Setelah berhasil bertemu, Achmad dan Mashudi langsung meminta jawaban walikota atas situasi kemerdekaan tersebut. Tetapi bukannya mendapat arahan yang tegas, Atmadinata malah kebingungan. Para pemuda yang tidak sabar mendesak walikota untuk segera mengambil tindakan sebelum situasi bertambah kacau. Namun bukannya mengambil sikap, sang walikota malah nyaris menangis karena bingung, tidak berani menentukan tindakan apa yang harus diambil sebelum ada instruksi resmi. Dalam situasi yang semakin tidak menentu karena ketidaktegasan sang walikota, para pemuda itu segera pergi menemui syucho (residen). Saat itu karesidenan Priangan dipimpin oleh Puranegara. Namun setelah berhasil menemui residen, lagi-lagi para pemuda tidak mendapat perintah yang jelas dan tegas. Mereka malah kembali harus melihat ketidakmampuan para pemimpin untuk menentukan sikap dalam situasi yang harus serba cepat itu. “Kami, para pemuda yang sedang haus-hausnya akan kepastian tindakan yang seharus dilakukan ketika itu, malah tidak mendapat pengarah sama sekali,” kata Achmad. Nasution menyebut bahwa pertimbangan-pertimbangan militer dari para pemuda Bandung mengalami jalan buntu. Mereka memutuskan untuk menunggu instruksi dari Jakarta. Keyakinan para pemuda dan barisan rakyat Bandung sangat besar terhadap para pemimpin di pusat. "Suatu keyakinan yang ternyata sangat naif. Dan seharusnya kita jangan berat sebelah dalam memperhitungkan pemberontakan secara militer," tulis Nasution. Tanpa di sangka-sangka, beberapa kelompok rakyat Bandung melakukan pergerakan. Walau masih ragu-ragu, karena tekanan polisi Jepang, tetapi mereka sudah berani turun ke jalan. Mahasiswa dan masyarakat bersatu melakukan aksi demonstrasi. Senjata dan kendaraan milik pasukan Jepang dengan cepat diliucuti.
- Ketika Rumah Susi Susanti Nyaris Dibakar
KENANGAN pahit itu masih mengendap di kepala Alan Budikusuma kendati sudah 21 tahun berlalu. Kala sebagian etnis Tionghoa yang tergabung dalam tim Thomas dan Uber Cup Indonesia sedang berjuang di Hong Kong untuk mempersembahkan Thomas dan Uber Cup kepada ibu pertiwi, etnis Tionghoa di tanah air justru jadi mangsa saat negeri tengah dilumpuhkan huru-hara. “Konsentrasi tim tuh pecah. Bingung dengan keadaan di tanah air pada 1998 itu. Pusing kita, sempat berpikir, gimana ya? Apa mereka masih bisa bertanding dengan situasi seperti ini?,” tutur Alan mengingat 21 tahun lalu saat ditemui Historia di Kelapa Gading. Kerusuhan rasialis di tanah air pecah pada 13-14 Mei 1998. Jelas saja mental para pemain terpengaruh. Mereka yang beretnis Tionghoa mengkhawatirkan kondisi keluarga masing-masing. Alan yang turut dalam tim sebagai asisten pelatih, merasakan betul kecemasan mendalam istrinya (Susi Susanti) akan keluarganya di Tasikmalaya. “Keadaan semua panik dan cemas. Apalagi rumah orangtua Susi di Tasikmalaya itu sudah hancur, kaca jendela sudah habis. Mau dibakar (massa) rumahnya,” imbuhnya. Alan Budikusuma menceritakan 21 tahun lalu ketika tim bulutangkis berjuang di tengah situasi prahara. (Randy Wirayudha/Historia) Dewi Anggraeni dalam Mereka Bilang Aku China: Jalan Mendaki Menjadi Bagian Bangsa menyingkap, ayah Susi, Risad Haditono (Ong Siong Lie) nyaris jadi bulan-bulanan massa. Gerombolan massa sudah pasang target untuk membumihanguskan rumah peraih medali emas pertama Olimpiade bagi Indonesia itu. “Ayah Susi waktu itu sedang sendirian di rumah. Lalu dia mendengar bunyi-bunyi gerombolan massa. Mereka berteriak, ‘Bakar Rumah Susi Susanti!’ dan melemparkan batu. Untunglah ayah Susi sempat mencari perlindungan dan terhindar dari cedera fisik. Ternyata massa bukan dari warga lokal, melainkan orang luar,” tulis Dewi. Risad sudah lebih dulu diamankan para tetangga dekatnya. Rumahnya pun akhirnya urung dibakar massa tak dikenal berkat campur tangan warga sekitar. “Kebetulan tetangga-tetangga ini kan dekat hubungannya walau mereka bukan Tionghoa. Sudah seperti saudara. Mereka yang bantu. Yang mau bakar rumah Susi dihalau oleh mereka,” sambung Alan. Keluarga Alan sendiri di Surabaya dalam kondisi aman. Situasi Kota Pahlawan relatif kondusif. Pengalaman keluarga Susi itu jadi hal yang luput dari jaminan yang sebelumnya diberikan ketum PBSI. Saat kejadian, manajer tim mengeluarkan kebijakan membolehkan para pemain mengontak keluarga masing-masing di tanah air. “Kami semua dikumpulkan, dimintai alamat rumahnya, keluarganya, kemudian beliau (manajer tim, red. ) berpesan: ‘Sekarang kita di sini baru berjuang, keluarga yang ada di Indonesia dijamin aman.’ Beliau sampaikan itu, kemudian kita sendiri jadi termotivasi ya, apapun yang terjadi di Indonesia, ya kita lagi berjuang, kita membawa nama merah putih. Apapun itu, sebisa mungkin kita semaksimal yang kami mampu pada saat itu,” ujar Sigit Budiarto, anggota tim Thomas, kepada Historia . Sigit Budiarto, salah satu anggota tim Thomas 1998 Indonesia. (Randy Wirayudha/Historia) Alan ditunjuk jadi koordinator urusan mengontak keluarga masing-masing. “Jadi saya yang bantu anak-anak, meng- arrange kalau ada butuh apa-apa. Jadi kamar saya yang di- open (sambungan) telefonnya untuk mengontak masing-masing orangtua,” ujarnya. Toh , kebijakan itu tak menghilangkan rasa cemas masing-masing pemain. Terutama buat tim Uber, yang gagal di partai puncak setelah dibekuk China 1-4 pada 23 Mei 1998. “Kami terganggu? Iya. Tapi tugas tetap berjalan. Susi sendiri menang tapi timnya kalah. Tapi syukur putranya (tim Thomas) masih bisa menang,” imbuh Alan lagi. Tim Thomas menang 3-2 atas Malaysia sehari setelahnya. Sigit yang berpasangan dengan Candra Wijaya di partai pamungkas, ganda putra, menjadi penentu kemenangan itu. “Itu momen pertamakali saya ikut Thomas Cup. Alhamdulillah kita bisa pertahankan, itu jadi suatu kebanggaan tersendiri. Pada saat Indonesia terjadi huru-hara sampai sedemikian rupa ya pada saat itu, kami di sana sedang berjuang dan kemudian kita menang. Merah Putih berkibar, nyanyi ‘Indonesia Raya’, kemudian kita pulang juga dengan suasana yang berbeda ya. Kita diterima dengan presiden yang lain. Kepada kita, presiden (BJ Habibie, red. ) berterimakasih sudah memberikan yang terbaik buat bangsa Indonesia,” kata Sigit menutup obrolan.
- Belanda Mabuk
USIANYA jelas tak lagi muda. Namun meski sudah lebih dari seabad, kondisi Pendopo Ageng Pura Mangkunegaran masih amat baiksiang itu. Tak satu pun dari pilar-pilarnya yang keropos diasup rayap atau rapuh dimakan usia. Pendopo Ageng Pura Mangkunegaran dibangun pada masa Mangkunegara IV. Joglo seluas lebih dari 3000 m2 itu mengalami renovasi besar pada 1938 semasa kekuasaan Mangkunegara VII. “Beliau kan orangnya multitalenta,” ujar Supriyanto dari Dinas Urusan Istana Mangkunegara kepada Historia. “Gagasannya datang dari Stutterheim ketika konsultasi dengan Karsten dan Sang Pangeran. Stutterheim membuat dua foto lukisan pada langit-langit kayu yang ia lihat di Ceylon (Sri Langka), menyimbolkan planet-planet, meski di dalam foto terdapat sembilan planet (bukan delapan seperti yang direncanakan untuk hiasan langit-langit pendopo astana),” tulis Madelon Djajadiningrat dalam “Tidak Adakah yang Bisa Kita Perbuat dengan Cermin yang Buruk Itu?”, dimuat dalam buku suntingan Peter JM Nas Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia . Mengkunegara VII dikenal amat disipilin. Kendati sudah naik takhta, dia turun langsung mencari bibit untuk dilatih menari. Mangkunegara VII juga mengawasi langsung latihan tari para anak didiknya. Mangkunegara VII biasanya membawa kayu sambil mengawasi proses latihan. Apabila ada yang melakukan kesalahan, Mangkunegara VII langsung menegur dengan memukulkan kayu itu ke peserta latihan yang melakukan kesalahan. Sifat disipilin Mangkunegara VII itu diperolehnya dari didikan sang paman sekaligus ayah angkatnya, Mangkunegara VI, raja yang dikenal sebagai pendobrak tradisi. Mangkunegara VI mempelopori ditegakkannya kedisiplinan di praja Mangkunegaran. “Pembaruan dalam aspek ini sangat menarik karena sangat bersentuhan dengan tradisi orang Jawa secara keseluruhan yang sering dianggap tidak disiplin oleh orang Barat,” tulis Wasino dalam Modernisasi di Jantung Budaya Jawa: Mangkunegaran 1896-1944 . Dengan menegakkan kedisiplinan, Mangkunegaran tak hanya hendak memajukan praja sekaligus kawula -nya. Lebih dari itu, ia ingin menunjukkan eksistensi diri yang otonom, berbeda dari bekas induknya, Kasunanan, yang jauh dari disiplin. Aturan kedisiplinan itu pula yang membuat Susuhunan Pakubuwono X dipermalukan dalam sebuah acara yang diadakan Mangkunegaran. Pasalnya, Susuhunan berjanji akan datang pukul 21.00, namun ketika ditunggu hingga pukul 21.30 dirinya tak kunjung terlihat. Mangkunegara VI pun langsung memerintahkan gerbang istana ditutup. Maka ketika Susuhanan tiba, dia tak bisa masuk. Di lain waktu, Susuhunan kembali kena “tembak”. Tanpa pemberitahuan, Susuhunan menginap di sebuah pesanggrahan di Karanganyar, wilayah kekuasaan Mangkunegaran, untuk berburu. Begitu pulang, dia langsung mendapat surat tagihan ( bill ) dari Mangkunegaran. Jumlahnya, 100 gulden untuk biaya penginapan per malam dan 50 gulden untuk denda karena Susuhunan melepaskan tembakan tanpa izin khusus di wilayah Mangkunegaran. Aturan kedisiplinan itu pula yang di lain kesempatan “memakan” korban seorang asisten residen. Tanpa mengikuti prosedur yang ditetapkan, di mana setiap orang yang hendak bertamu ke Mangkunegaran mesti mendapat izin patih terlebih dulu, sang asisten residen nyelonong masuk ke kantor Mangkunegara VI. Dia langsung mengetuk pintu. Mangkunegara VI yang saat itu sedang membaca koran, hanya menoleh dan kembali membaca koran. Tamunya yang orang Belanda itu tak dihiraukannya. Lantaran sakit hati dihina, asisten residen langsung melaporkannya kepada Residen Surakarta G.F van der Wijk. Mangkunegara VI pun langsung ditegur lewat telepon. Alih-alih manggut-manggut, Mangkunegara VI dengan santai memberi jawaban sambil bergurau. “Saya kira Belanda mabuk,” katanya. Jawaban itu membuat Van der Wijk balik memarahi asistennya yang dianggapnya mengangkangi aturan tata krama Mangkunegaran.
- Dua Presiden Menangkal Ancaman
UJARAN yang membahayakan nyawa Presiden Joko Widodo lagi-lagi dilontarkan. Dalam aksi unjuk rasa ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), seorang pria yang diketahui berinisial HS mengatakan akan memenggal kepala Presiden Jokowi. Kata penggal lebih dari sekali diucapkan pemuda yang mengaku berasal dari Poso, Sulawesi Tengah ini. “Dari Poso nih, siap penggal kepalanya Jokowi. Jokowi siap lehernya kita potong, Demi Allah,” kata HS dalam video yang viral di media sosial. Kepolisian segera bertindak. HS pun kena ciduk. Akibat ucapannya, HS terjerat pasal makar . Kini, anak muda itu telah ditahan dan terancam hukuman mati. Sejak negeri ini berdiri, ancaman senantiasa menyasar presiden dari masa ke masa. Ancaman itu bisa berbentuk ujaran, aksi teror, hingga upaya pembunuhan. Presiden RI pertama, Sukarno, setidaknya tercatat mengalami tujuh kali percobaan pembunuhan. Dari tujuh percobaan pembunuhan terhadap dirinya, yang paling diingat Sukarno adalah Peristiwa Cikini pada 30 November 1957. Saat itu, iring-iringan mobil rombongan Presiden Sukarno dilempari granat usai menghadiri acara malam amal di Perguruan Cikini. Sebanyak 10 orang tewas, termasuk anak-anak dan ibu hamil, dan 48 lainnya mengalami luka-luka. Beruntung, Presiden Sukarno selamat dari tragedi berdarah itu. “Kartosuwiryo adalah orang yang meludahkan api di tahun ’50 dengan ucapannya, ‘Bunuh Sukarno’,” ujar Sukarno menyebut dalang Peristiwa Cikini dalam otobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Pelaku pelemparan granat merupakan anggota Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII). Mereka terkait erat dengan gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan S.M. Kartosuwiryo. Di masa muda, Sukarno dan Kartosuwiryo adalah kawan sepondokan yang tinggal di rumah Haji Tjokroamoniro, tokoh Sarekat Islam. Di kemudian hari, keduanya bersilang jalan. Sukarno yang berpaham nasionalis menjadi presiden Indonesia. Sementara Kartosuwiryo memilih jalan radikal untuk mewujudkan negara Islam yang didambanya. Darul Islam yang dibentuk Kartosuwiryo selama bertahun-tahun merongrong pemerintahan Sukarno dengan menebar teror dan perlawanan bersenjata. Pemberontakan Kartosuwiryo berakhir setelah pengadilan memutuskan vonis mati. “Di tahun 1963 Kartosuwiryo mengakhiri hidupnya di hadapan regu tembak. Ini bukan tindakan untuk memberikan kepuasan hati. Ia adalah tindakan untuk menegakkan keadilan,” kata Sukarno Berlanjut ke era Soeharto. Selama 32 tahun berkuasa, rasanya tiada yang berani mengancam Soeharto secara terang-terangan. Meski tangguh menghabisi lawan-lawannya, pernah pula Soeharto menghadapi ancaman serius. Seperti halnya Sukarno, Soeharto pun menindaknya dengan dengan tegas walau pendekatannya agak berbeda. Bermula dari rencana kunjungan Presiden Soeharto ke Belanda pada awal September 1970. Rencana kedatangan Soeharto ditentang oleh kelompok separatis Maluku (RMS) yang berdiam di Belanda. Penolakan itu berkaitan dengan ditembak matinya pemimpin RMS Dr. Soumokil di Indonesia pada 1966. Soeharto terkena buntutnya. Padahal, esksekusi Soumokil terjadi pasa masa pemerintahan Sukarno. Satu hari sebelum jadwal kedatangan Soeharto, 1 September 1970, RMS memulai ancamannya dengan aksi berdarah. Seorang polisi Belanda yang ditugaskan menjaga keamanan KBRI, ditembak mati oleh 32 pemuda anggota RMS yang menyerbu. Duta Besar Indonesia untuk Belanda, Taswin Natadingrat sempat melarikan diri melalui lubang pada tembok belakang. Namun 30 orang lainnya disandera, termasuk istri sang duta besar. Pemerintah Belanda berniat membatalkan kunjungan Soeharto. Kabar ini diterima oleh Soeharto dari salah satu menterinya, Mashuri Saleh, pada saat rombongan kepresiden di Bandara Halim Perdanakusuma bersiap untuk berangkat. Apa lacur, Soeharto bersikukuh untuk tetap datang ke Belanda. Sebagaimana dikisahkan Jusuf Wanandi dalam Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965—1998 , Soeharto berkata kepada Mashuri, “Saya tidak paham, Belanda tidak tegas. Kenapa tidak ditembak saja dan sesudah mereka kehabisan amunisi, baru lakukan penyerbuan.” "Benar, tapi Pak Presiden, istri duta besar ada diantara para sandera,” jawab Mashuri . “Bukannya untuk itulah makam pahlawan dibuat?,” timpal Soeharto. Menurut Jusuf Wanandi, bagi Soeharto, semua orang dapat dikorbankan. Setelah melalui perundingan alot antara beberapa pejabat terkait dengan Presiden RMS J.A. Manusama, penyanderaan di KBRI akhirnya dapat diatasi. Semua sandera dibebaskan dan para pengacau RMS menyerahkan diri. Pada 3 September 1970, Soeharto akhirnya mendarat di Bandara Schiphol, Belanda. Sebanyak 5000 pasukan dikerahkan untuk menjaga keamanan. Dengan senjata dan tongkat pemukul, mereka siap menyergap siapa saja yang mencurigakan. Sudah ada beberapa yang langsung diringkus dan dimasukkan ke mobil patroli berterali. “Tibalah saat kunjungan Soeharto. Seluruh Belanda dikepung! Begitu berita di koran-koran. Bagaimana tidak, belum pernah Belanda terkesan begitu mencekam demi menyambut kedatangan seorang presiden,” tulis Walentina Waluyanti dalam “Presiden Soeharto Berkunjung, Kerajaan Belanda Siagakan 5000 Pasukan Pengamanan” termuat di laman soeharto.co. Dari bandara Schiphol, rombongan kepresidenan diterbangkan ke bandara militer Ypenburg, di dekat kota Den Haag. Setelah sempat dipusingkan dengan ancaman penyanderaan di kedutaan, Soeharto dapat melenggang bersua dengan Ratu Juliana. Ini adalah kunjungan perdana Soeharto ke negeri Belanda, sekaligus menjadi presiden Indonesia pertama yang datang ke negeri bekas penjajahnya .
- Kisah Para Perempuan Sumba
DI depan rumah, orang-orang berkumpul untuk menghadiri pemakaman dalam kepercayaan Marapu. Mereka melakukan itu setelah ada kesepakatan para tokoh adat tentang tata cara pemakaman empat raja sekaligus. Kesepakatan itu dicapai setelah negosiasi bertahun-tahun. Pasalnya, umumnya pemakaman dilakukan satu per satu. Namun karena penyelenggaraan adat yang besar, beberapa orang berpikir untuk melakukannya sekaligus. Mereka lalu menyembelih kerbau dan kuda. Sejurus kemudian, ramai-ramai mereka menarik batu penutup makam. Empat raja dimakamkan sekaligus dalam upacara adat yang super megah ini. Scene itu jadi salah satu sajian Lasya F Susatyo dalam film dokumenter garapannya kali ini, Perempuan Tana Humba . Lasya mengisahkan tentang dampak tradisi Sumba pada perempuan. Ia membagi cerita dalam tiga babak: Marapu, Belis, dan Perkawinan. Babak Marapu menyajikan gambar ciamik tentang rangkaian upacara adat Sumba dari perkawinan hingga kematian. Sementara babak Belis (mas kawin) bercerita tentang posisi perempuan dalam keluarga yang dipengaruhi oleh belis yang diberikan. Wujud belis biasanya ternak yang dianggap maskulin, semisal kuda atau kerbau. Seiring waktu, belis tak melulu ternak tapi kombinasi dengan barang berharga atau uang. Jumlah belis tergantung posisi keluarga perempuan di masyarakat. Ada maramba (bangsawan), rakyat biasa, dan hamba atau budak. Perempuan kasta maramba umumnya meminta belis yang tinggi sebagai tanda penghormatan bagi keluarganya. Rakyat biasa pun bisa saja meminta belis yang tinggi bila calon pengantin perempuan berpendidikan tinggi. Sementara, belis untuk hamba akan dibayarkan oleh tuannya. Makin tinggi status sosialnya, baik kasta maupun tingkat pendidikan, makin besar jumlah belis . “ Belis masih kerap memberatkan, tak jarang jadi ada persinggungan. Saya ingin mengangkat ini. Perubahan tidak bisa dihindari dan berpengaruh ke tatanan kehidupan lainnya. Film ini membagi pengalaman para ibu di Sumba,” kata Lasya pada Historia. Tawar-menawar belis juga dilakukan antar-dua wakil pihak keluarga. Tak jarang tawar-menawar berjalan alot dan berujung ketidaksepakatan sehingga hubungan cinta batal dijalin. Ketika proses ini berlangsung, calon pengantin perempuan tidak boleh menampilkan diri. Dalam filmnya, Lasya menggambarkan ketika para bapak berkumpul di balai, para perempuan sibuk di dapur menyiapkan makanan. Namun, tradisi itu perlahan berubah. Seperti yang dialami Rambu Ana, salah satu narasumber yang diwawancara Lasya. Ana menikah dengan cara adat. Pilihan suaminya pun sesuai tradisi, dari desa Lewa, tempat ibu Ana berasal. Ketika hendak menikah, Ana ikut bicara tentang jumlah belis dan tanggal pernikahannya. Seorang pamannya sempat kaget lantaran Ana sudah menyiapkan undangan dan urusan perkawinan sendiri sejak jauh hari. “Biasanya tidak bisa ikut omong, tapi makin lama berubah. Kadang ada bapak-bapak bilang, ‘tega sekali kau punya suami kau suruh masak’. Tapi mereka tidak bisa hanya jadi tuan besar terus,” kata Ana pada Historia . Ana datang dari keluarga bangsawan. Ia anak raja Prailiu dan kini jadi Polisi Kehutanan di Taman Nasional Matalawa. Kakak lelaki Ana menjadi penerus tahta Kerajaan Prailiu, yang jadi setting film ini , menggantikan ayahnya yang sudah almarhum. Sepanjang film, keluarga Ana menjadi gambaran utama tentang serba-serbi kebudayaan Sumba dan bagaimana posisi perempuan dimaknai di sana. Olin Monteiro, periset dalam film ini, menyebutkan di Sumba masih ada dua kerajaan yang menganut kepercayaan Marapu, yakni Rende dan Prailiu. Kerajaan Rende masih menjalankan tradisi secara penuh, sementara Prailiu lebih longgar. Olin menyebut beberapa tradisi dan artefak sejarah hilang setelah perang tahun 1950-an. Nusa Tenggara Timur yang dulu terbagi dua antara jajahan Portugis dan Belanda, mengalami beberapa kerusakan. “Banyak artefak budaya yang rusak, termasuk rumah adat karena perampokan dan pembakaran, sehingga beberapa tradisi hilang. Sudah tidak banyak yang menjalankan tradisi di Sumba Timur, kecuali di Rende, karena tokoh adatnya masih banyak,” kata Olin. Dibanding wilayah Nusa Tenggara Timur lain seperti Flores dan Timor, tambah Olin, peran perempuan di Sumba amat kurang. Tidak ada keikutsertaan perempuan di tikar adat meski sebenarnya posisi mereka dalam masyarakat cukup penting. Gambaran inilah yang disajikan dalam film, di mana Lasya mengikuti para bapak dalam beberapa pertemuan adat. Para ibu tak pernah ikut pertemuan itu. Menenun, memasak, dan menyiapkan perhiasan untuk belis jadi kegiatan utama mereka. Beberapa ibu bahkan mengepalai bisnis tenun yang jadi sumber perekonomian dan daya tarik wisata Sumba. Meski demikian, mereka tak bisa ambil bagian dalam urusan keputusan adat. Film dokumenter sepanjang 30 menit ini mendapat dukungan dari Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Mandy Marahimin yang bersama Nicholas Saputra mendirikan T anakhir Films pada 2013, duduk sebagai produser . Begitu mendengar Lasya hendak membuat film dokumenter tentang budaya, Mandy langsung menyetujuinya. Lewat film ini dia ingin membuka diskusi tentang posisi perempuan di Sumba. Selain dibantu Olin sebagai periset, Lasya dan Mandy juga menarik beberapa sineas lain, seperti Nur Hidayatsebagai sinematografer,Wawan I. Wibowo sebagai editor, Thoersi Argeswara sebagai penata musik, dan Satrio Budiono sebagai penata suara. Penataan musik dalam film ini amat apik. Menggunakan alat musik tradisional dan lagu daerah, alunan music scoring sukses mengiringi tiap pergeseran cerita. Pengambilan gambarnya pun cukup memanjakan mata dengan keindahan alam dan lingkungan tradisional. Perempuan Tana Humba rencananya diputar keliling di Yogyakarta, Surabaya, dan terkhusus Sumba. Lantaran tak masuk bioskop, film ini akan diputar di institusi pendidikan tingkat SMA dan perguruan tinggi mulai Juli 2019.
- Stadion Metropolitano dan Warisan Masa Lalu
TURNAMEN Eropa rasa Inggris. Laiknya final Europa League ketika mempertemukan Arsenal vs Chelsea di partai puncak, laga puncak Liga Champions musim ini pun bertajuk “All-England Final”. Liverpool akan berhadapan dengan Tottenham Hotspur. Kedua tim sama-sama “bangkit dari kubur”. Liverpool membalikkan keadaan usai mengalahkan Barcelona 4-0 di semifinal leg kedua. Di leg pertama, Liverpool keok 0-3. Spurs setali tiga uang. Setelah dibungkam Ajax Amsterdam 0-1 di kandang sendiri, tim besutan Mauricio Pochettino itu menang 3-2 di laga tandang. Meski agregatnya 3-3, keuntungan gol tandang cukup membuat Spurs menyingkirkan wakil Belanda itu. Namun, euforia hebat yang melanda Liverpudlian dan fans Spurs mesti dibendung dulu. Kedigdayaan sebagai jawara Eropa dan siapa yang paling berhak mewakili prestis sepakbola Inggris musim ini masih harus ditentukan di Estadio Metropolitano, Madrid, 1 Juni 2019 (2 Juni WIB) nanti. Semua mata akan tertuju ke venue tersebut untuk menyaksikan ke tangan siapa trofi “Si Kuping Besar” bakal jatuh. Momen ini juga akan jadi sejarah baru buat stadion “muda” di antara venue-venue berbintang empat kategori standar UEFA itu. Sejak 2017, stadion di ibukota Spanyol itu jadi kandang Atlético Madrid, sebagai ganti Estadio Vicente Calderón yang bakal disulap jadi taman kota. Menukil situs espanaestadios.com , 15 Desember 2018, stadion rancangan duet arsitek Antonio Cruz dan Antonio Ortiz dari firma arsitektur Cruz y Ortiz Arquitectos itu mulanya dibangun pemerintah kota pada 1990 dan rampung tiga tahun kemudian dengan memakan biaya 45 juta euro. Saat diresmikan pada 6 September 1994, stadion dinamai Estadio de la Comunidad de Madrid. Kapasitasnya kala itu hanya 20 ribu penonton. Tujuan dibangunnya stadion itu mulanya sebagai “senjata” Dewan Olahraga Kota Madrid dalam bidding tuan rumah Kejuaraan Dunia Atletik 1997. Upaya itu akhirnya gagal lantaran Federasi Asosiasi Atletik Internasional (IAAF) lebih memilih Olympic Stadium Athens, Yunani. Usaha Madrid untuk bidding Olimpiade 2016 dengan mengganti nama stadion jadi Estadio Olímpico de Madrid juga mentah karena Komite Olimpiade Internasional (IOC) menjatuhkan pilihan ke Rio de Janeiro (Brasil) ketimbang Madrid. Tiada gelaran megah di stadion ini sejak gagal jadi tuan rumah dua ajang itu. Pada 2016, kepemilikan stadion beralih ke tangan manajemen Atlético Madrid dari pemkot Madrid. Stadion lantas direnovasi dengan dana 240 juta euro. Kapasitasnya bertambah jadi 68 ribu penonton dan laga pertamanya, Atlético Madrid vs Málaga, digelar pada 16 September 2017 dengan disaksikan langsung Raja Felipe VI. Nama stadion lalu diubah lagi jadi Wanda Metropolitano. Penyematan “Wanda” merupakan kompensasi sponsorship kepada Wanda Group, perusahaan real estat asal China. Metropolitano diambil untuk menghidupkan warisan sejarah stadion tua Atlético sepanjang 1923-1946 dan 1943-1966 sebelum pindah ke Vicente Calderón yang kala itu masih bernama Estadio Manzanares. Namun, oleh masyarakat setempat stadion berkapasitas 68 ribu itu dijuluki “ La Peineta” alias sisir lantaran bentuk atapnya menyerupai sisir khas Spanyol. Saksi Bisu Perang Saudara Nama “Metropolitano” dalam stadion baru di atas berasal dari bekas stadion kedua milik Atlético yang dibangun pada 1923. Mengutip Wakil Presiden Atlético Antonio Alonso di tulisannya, “The Internationalization of Club Atlético de Madrid S.A.D”, yang dihimpun Simon Chadwick dan David Arthur dalam International Cases in the Business of Sport , stadion baru ini jadi pengganti markas pertama Atlético, Campo de O’Donnell. O’Donnell sempat jadi sengketa lantaran namanya serupa dengan kandang Real Madrid. “Stadion itu tetap terhitung jadi yang pertama setelah resmi berpisah dengan Athletic Bilbao pada 1921 dan stadion itu di masanya menjadi stadion berkapasitas terbesar di Spanyol,” sebut Alonso. Berkapasitas 25 ribu penonton dan jadi yang terbesar membuat stadion rancangan arsitek José María Castell itu jadi kebanggaan kota Madrid. Stadion yang berada di lingkungan Universitas Madrid itu pembangunannya rampung pada 13 Mei 1923. Laga perdananya, Atlético kontra Real Sociedad, berakhir 2-1 untuk tuan rumah. Dinamakan Estadio Metropolitano de Madrid lantaran stadion ini didirikan seiring pembangunan kompleks Colonia del Metropolitano. Maka selain Atlético sebagai penyewa, stadion ini juga jadi rumah bagi Racing Club de Madrid (bubar pada 1932) dan Real Sociedad Gímnastica. Kala itu Metropolitano belum sepenuhnya milik Atlético, statusnya kepemilikannya masih di bawah Konsorsium Colonia Metropolitano yang dipegang Otamendi Bersaudara: Joaquín, Miguel, José María dan Julián. Selain dipakai untuk laga-laga kandang Atlético, Metropolitano juga sempat dipakai timnas Spanyol. Dua kali laga persahabatan dihelat di stadion ini, yakni kala Spanyol menjamu Inggris pada 10 Oktober 1929 dan Austria pada 19 Januari 1936. Lima bulan setelah laga kontra Austria, Perang Saudara Spanyol pecah. Metropolitano jadi saksi bisu pertumpahan darah lantaran kompleks universitas jadi medan laga pertempuran antara Pasukan Republik dan Pasukan Nasionalis, 15-23 November 1936, yang populer dengan Pertempuran Ciudad Universitaria. “Perang Saudara pecah pada musim panas (Juli 1936) dan konflik itu menyeret Stadion Metropolitano hingga menjadikannya rusak menjadi puing-puing. Stadionnya baru kembali dibangun pada 1942,” tulis Charles Parrish dan John Nauright dalam Soccer Around the World: A Cultural Guide to the World’s Favorite Sport. Usai perang, Otamendi bersaudara tak mampu membangun kembali Metropolitano. Ia akhirnya dibeli Patronato de Huérfanos del Aire dan diperbaiki pada 1941. Atlético baru membeli stadion ini pada 15 April 1950. Empat tahun berselang Metropolitano direnovasi hingga bisa menampung 50 ribu penonton. Namun, berbarengan dengan pindahnya Atlético ke Stadion Manzanares (kemudian disebut Estadio Vicente Calderón) pada 1966, Metropolitano lantas ditinggalkan. Ia diratakan dengan tanah untuk kemudian disulap jadi gedung apartemen dan perkantoran.
- Tatkala Uighur Mendirikan Republik Islam Turkestan Timur
SYAHDAN, sehabis Yang Zengxin pada 7 Juli 1928 tewas ditembak dalam kudeta yang, seperti Gerakan 30 September (G30S) di Indonesia, hingga kini masih menjadi perdebatan siapa dalang sebenarnya. Jin Shuren yang –laiknya Soeharto– dicurigai berada di balik coup d’État tersebut, segera mengambil alih posisi Yang Zengxin sebagai gubernur Xinjiang.
- Soeharto Datang, Genjer-Genjer Berkumandang
SENIN pagi, 1 April 1968. Pesawat Garuda mendarat di Phnom Penh, ibu kota Kamboja. Tamu penting dari Indonesia datang berkunjung: Presiden Soeharto dan istrinya Ibu Tien Soeharto. Bunga melati putih disebarkan di hamparan karpet merah. Ini adalah lawatan pertama Soeharto ke luar negeri setelah resmi menjabat presiden. Pangeran Norodom Sihanouk, pemimpin Kamboja berdebar-debar menanti rombongan presiden Indonesia yang baru saja dilantik itu.
- Senandung Pelipur Lara dan Pemantik Asa
PULUHAN ribu Liverpudlian (fans Liverpool) berdiri bangga sambil mengangkat syal khas The Reds . Mereka menyanyikan “You’ll Never Walk Alone” dengan syahdu, terhanyut dalam selebrasi kemenangan tim bersama segenap pemain dan ofisial. Isak tangis ratusan fans Barcelona yang hadir di Stadion Anfield, Selasa (7/5/2019) malam waktu setempat (Rabu dini hari, WIB) tenggelam olehnya. Liverpool comeback dengan dahsyat lewat kemenangan 4-0 setelah di leg pertama dibekap 0-3. Mereka maju ke final Liga Champions berbekal keunggulan agregat 4-3. Lagu kebanggaan yang populer disingkat YNWA itu sudah jadi tradisi tak tertulis yang mesti disenandungkan pada sebelum dan setelah laga, baik saat berduka maupun bersukacita. Begitu melegendanya sampai judulnya diabadikan dalam ukiran di Shankly Gates, gerbang ikonik Stadion Anfield, sejak 1982 untuk mengenang pelatih legendaris Bill Shankly. Sebagaimana diuraikan dalam artikel sebelumnya, YNWA mulanya lagu teater musikal Broadway yang diciptakan Richard Rodgers dan Oscar Hammerstein II pada April 1945. “(Band) Gerry and the Pacemakers mengaransemen versi (lagu YNWA) dengan lebih kuat dan tulus dan ketika mulai dihayati para fans di stadion, lagu itu dijadikan anthem mereka,” ungkap Du Noyer dalam Liverpool Wondrous Place: From the Cavern to the Capital of Culture . Kritikus musik Paul du Noyer menilai, kualitas yang paling terasa adalah lagu YNWA menawarkan pesan ketegaran, daya tahan mental dan kegigihan terhadap para pendengarnya. Sebuah lagu yang sempurna untuk sebuah kota dan klub seperti Liverpool, yang memiliki solidaritas besar di antara para penghuninya. Lantunan Pembangkit Harapan Begitu meresapnya YNWA ke dalam jiwa masing-masing insan Liverpool, lagu itu seakan menjadi pemberi kekuatan magis tersendiri baik sebagai pelipur lara maupun pemantik asa. Dua momen bersejarah yang menghinggapi klub itu menjadi bukti bagaimana “kekuatan magis” YNWA membangkitkan semangat para fans Liverpool. Gerry Marsden memimpin fans menyanyikan YNWA pada peringatan 25 tahun Tragedi Hillsborough Momen pertama, di Tragedi Hillsborough. Akibat membludaknya penonton di Stadion Hillsborough saat semifinal FA Cup, 15 April 1989, membuat ratusan penonton baik dari kubu Liverpool maupun Nottingham Forest terinjak-injak dan tergencet pagar pembatas tribun –saat itu stadion-stadion di Inggris masih dipasangi pagar pembatas laiknya stadion di negara-negara lain. Catatan Taylor Report dari Panel Independen Hillsborough, korban tewas mencapai 96 orang dan 766 luka-luka. Lagu YNWA lantas jadi pengobat luka di masa berkabung yang tak hanya dinyanyikan para fans Liverpool namun juga oleh para fans Nottingham, bahkan oleh fans rival sekota, Everton, sebagai bentuk solidaritas. Nada dan liriknya begitu kuat sehingga menginspirasi untuk bangkit dari keterpurukan akibat petaka itu. “Selain dikenal sebagai lagu sepakbola, (YNWA) juga mengisi kekosongan besar bagi mereka yang kehilangan seseorang di Hillsborough. Lagu itu emosional bukan hanya karena sepakbola. Lagunya menutupi nestapa dan kesedihan dengan sukses karena maknanya adalah tentang solidaritas,” tutur legenda Liverpool (1977-1990) Kenny Dalglish, dinukil Independent , 14 April 2014. Bukti “magis” berikutnya dari lagu ini adalah ketika Liverpool di final Liga Champions, 25 Mei 2005, kontra AC Milan tertinggal 0-3 di babak pertama. Alih-alih jatuh mental, sekira 30 ribu fans Liverpool yang hadir justru menggaungkan lagu itu di waktu jeda babak pertama. “Anda tertinggal 0-3. Anda berpikir mimpi Anda luluh lantak. Anda berpikir telah mengecewakan para suporter saat istirahat babak pertama. Dan kemudian Anda mendengar refrain ‘You’ll Never Walk Alone’, mungkin yang paling lantang dan paling emosional yang pernah saya dengar,” kata kapten Liverpool saat itu, Steven Gerrard, mengenang momen bersejarah itu. Liverpool merengkuh trofi Si Kuping Besar pada Liga Champions 2005 (Foto: uefa.com) Skuad Liverpool bak bangkit dari kubur. Mereka akhirnya bisa menyamakan kedudukan 3-3 hingga pertandingan harus dientaskan lewat adu penalti. Keajaiban kembali terjadi, Liverpool menang di babak penentuan itu. Itu jadi momen terakhir Liverpool juara Liga Champions. Sebelumnya, Liverpool juara di musim 1976/1977, 1977/1978, 1980/1981, dan 1983/1984. Musim ini (2018/2019), Liverpool tinggal selangkah lagi menggamit mahkota keenam. Hanya tim sesama Inggris, Tottenham Hotspur, yang jadi penghalang antara Liverpool dan trofi “Si Kuping Besar” pada laga puncak, 1 Juni 2019 nanti. YNWA tentu akan kembali bergema mengiringi perjuangan Liverpool. Akankah ia kembali memberi tuah?
- Persahabatan Suryadarma dan Perwira Belanda
USAI berpamitan dengan istri dan kedua anaknya, KSAU Komodor Suryadarma selaku tawanan Belanda kembali mengikuti pasukan yang membawanya. Dia dibawa ke Lapangan Udara (Lanud) Maguwo. Di sana Suryadarma kembali bergabung dengan para petinggi pemerintahan Republik Indonesia lain yang juga ditawan, termasuk Presiden Sukarno dan Wapres Moh. Hatta. Tak lama setelah menginjakkan kaki di Maguwo pada 22 Desember 1948 itu, Suryadarma dikejutkan oleh kedatangan seorang perwira penerbang Belanda berbaret merah. Setelah memberi hormat, perwira itu langsung menjabat tangan Suryadarma. Campur-aduk perasaan Suryadarma ketika membalas jabatan tangan perwira Belanda itu. Suryadarma jelas tak lupa pada perwira Belanda itu. AL Cox, nama perwira Belanda tadi, merupakan komandan Skadron Air Reconnaissance ke-4 Militaire Luchvaart-Koninklijke Netherlandsch Indische Leger (ML-KNIL) yang berbasis di Semarang. Namun, bukan jabatan Cox yang membuat Suryadarma mengingatnya. Bisa jadi Suryadarma sama sekali tak tahu apa jabatan Cox ketika itu lantaran keduanya lama tak bertemu. Suryadarma ingat Cox karena keduanya bersahabat. Perkenalan keduanya dimulai saat Suryadarma dan Cox sama-sama menjadi taruna di Akademi Militer Breda. Suryadarma dan Cox berbagi kamar yang sama. Cox pula yang aktif mengajak Suryadarma berkeliling ke berbagai tempat, bahkan hingga ke Belgia atau Denmark. Suryadarma juga diperkenalkan kepada keluarga Cox dan teman-temannya. Hari-hari indah itu “terhenti” ketika Suryadarma kembali ke tanah air setelah lulus. Keduanya tak pernah lagi bersua. Cox bertugas di negerinya, sementara Letda Suryadarma menghabiskan hari-harinya di tempat tugasnya, Batalion I Infanteri Magelang. Tak dinyana, cita-cita menjadi penerbang yang diimpikan Suryadarma membawanya kembali bertemu dengan Cox. Saat dia berupaya mewujudkan mimpi itu dengan menjadi pelajar di Sekolah Penerbangan Militer Kalijati, Cox mendapat tugas menjadi instruktur penerbang di sekolah yang sama. Cox mengetahui Suryadarma amat terpukul oleh peraturan diskriminatif yang diterapkan komandan sekolah Kolonel Van Hasellen. Peraturan itu, mengizinkan hanya perwira kulit putih yang diperbolehkan menjadi penerbang, membuat Suryadarma gagal menggapai mimpinya dan hanya diterima sebagai navigator. Maka ketika sang kolonel cuti untuk pulang ke Belanda, Cox memanfaatkannya untuk memberi kesempatan pada Suryadarma belajar terbang. Sekitar 30 jam terbang diberikannya sebagai ekstra kepada Suryadarma, meliputi dual training maupun solo crosscountry . Bukan hanya itu bantuan yang diberikan Cox. Sekembalinya Kolonel Hasellen dari cuti, Cox menemuinya. Dia meminta Hasellen memberikan kesempatan pada Suryadarma melakukan flight check karena telah menjalankan ekstra flight training dan dinyatakan lulus. Alih-alih menerima saran bawahannya, sang kolonel malah naik pitam. Apa yang dilakukan Cox dianggapnya tanpa seizin dia. Setelah menemui Suryadarma, Cox langsung memeluk dan meminta maaf lalu menceritakan segalanya. “Di (Suryadi), saya sudah melakukan yang terbaik untuk kamu,” ujar Cox, dikutip Adityawarman Suryadarma dalam Bapak Angkatan Udara Suryadi Suryadarma . Suryadarma hanya bisa pasrah. Keduanya kembali berpisah setelah Suryadarma lulus dan ditugaskan ke tempat lain. Pendudukan Jepang yang datang tak lama kemudian memberi konsekuensi berbeda pada kedua perwira ML-KNIL itu. Suryadarma memilih desersi dari ML-KNIL dan beralih menjadi polisi Jepang, sementara Cox tetap di militer Belanda sehingga –bersama pasukan Sekutu– berada dalam posisi berlawanan dengan Jepang. Suryadarma dan Cox tak pernah kontak dan bertemu lagi sejak itu. Suryadarma sibuk mempertahankan kemerdekaan sambil membangun AURI begitu Indonesia merdeka. Sementara, Cox beberapa kali pindah tugas dan menjadi andalan Belanda untuk kembali menguasai Indonesia. Bersama Letnan MWC de Jonge dan Letnan Sisselaar, Cox berangkat ke Eropa pada 12 Maret 1946 untuk meneliti tentang pembentukan pasukan para dan meminta bantuan pasukan para Inggris untuk mendukung terlaksananya pelatihan para di bekas Hindia Belanda. Cox menyelesaikan tugasnya dengan baik. Bersama pasukan para itu, Cox ikut terjun ke Lanud Maguwo. “Secara sangat mendadak, pada tanggal 19 Desember mereka melakukan serangan udara dengan sasaran Lapangan Terbang Maguwo, kemudian menduduki Yogya, ibukota Republik. Pukul 07.59 pesawat Dakota C-47 terbang dalam formasi berbanjar di atas Lapangan Udara Maguwo. Sementara itu, angkasa di atas lapangan menjadi gelap karena sebagian tertutup payung udara yang berkembang, ratusan jumlahnya,” tulis Irna HN Soewito dkk. dalam Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950 . Kedatangan Cox di Maguwo sesaat sebelum Suryadarma dibuang bersama petinggi republik lain, mengagetkan Suryadarma. Pertemuan itu juga memberi kesan mendalam pada diri Cox. “Kegembiraan kemenangan kita pada waktu itu menjadi kesedihan karena aku harus berhadapan dengan sahabatku Suryadi, yang karena perkembangan politik, kita sekarang harus berhadapan sebagai musuh,” kata Cox dalam memoarnya, dikutip Adityawarman. Pertemuan singkat itu sekaligus menjadi perpisahan kembali Suryadarma dan Cox. Suryadarma kemudian dibuang ke Bangka mengikuti Wapres Moh. Hatta dan beberapa menteri lain, Cox sibuk dengan tugasnya mengikuti militer Belanda yang berupaya kembali menguasai Indonesia. Usai perang, Suryadarma sibuk membangun Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI), sedangkan Cox pulang ke negerinya. Tanpa diduga keduanya, Suryadarma dan Cox kembali bertemu pada 1968. Usai menghadiri pameran International Post and Plihatelic di Paris, Suryadarma –saat itu menjabat sebagai presiden Philatelic South East Asia– napak tilas ke Breda dan berkunjung ke rumah J. Lukkien, pilot pesawat yang ditumpangi Suryadarma ketika menjalankan misi pemboman terhadap kapal-kapal perang Jepang. Cox ternyata ada di rumah Lukkien. Ketiganya pun bereuni. Suryadarma amat gembira. Segala hal di masa lalu yang mereka alami bersama jadi topik obrolan. Suryadarma juga menyampaikan bahwa penolakannya menerima Wing terbangnya dari pemerintah Belanda dimaksudkan untuk menunjukkan kepada AU Belanda bahwa dirinya sebagai navigator ( waarnemer ) pribumi lulusan Kalijati bukan hanya mampu jadi penerbang tapi juga membangun angkatan udara dari nol sampai menjadi yang terkuat di bumi belahan selatan. “Malam itu berakhir dengan mereka bertiga saling berpelukan dan saling berdoa Namun, ternyata malam itu merupakan malam perjumpaan terakhir mereka bertiga,” tulis Adityawarman.
- Pindah Ibu Kota Sudah Biasa
Wacana pemindahan ibu kota dari Jakarta kembali ramai dibicarakan usai Presiden Joko Widodo menggelar rapat tertutup di Kantor Presiden, Jakarta, akhir bulan lalu. Salah satu alasannya, wilayah Jakarta sudah penuh disesaki 30 juta penduduk atau lebih dari 10 persen populasi Indonesia. “DKI Jakarta kini memikul dua beban sekaligus: sebagai pusat pemerintahan dan layanan publik, juga pusat bisnis. Banyak negara memindahkan ibu kotanya, sementara kita hanya menjadikannya gagasan di setiap era Presiden. Menurut Anda, di mana sebaiknya ibu kota negara Indonesia?” tulis Jokowi di akun Twitter -nya, Senin (29/4). Ini bukan pertama kalinya presiden Indonesia mempertimbangkan untuk memindahkan ibu kota. Proposal untuk pemindahan ibu kota ke Palangkaraya muncul awal 1950-an, di era Soekarno. Pun pemerintahan Jokowi sudah mempelajari kelayakan pemindahan ibu kota ke Palangkaraya sejak 2017. Jauh sebelum masa itu, memindahkan ibu kota negara sebenarnya merupakan hal yang biasa terjadi, khususnya dalam sejarah Jawa. Namun pada masa lalu, keputusan itu sering kali disebabkan karena adanya invasi musuh. Epigraf Boechari dalam tulisannya, “Shift of Mataram’s Centre of Government”, menyebut hal itu masuk akal. Sebab, orang Jawa mempercayai keraton yang telah diserang musuh sudah tak suci lagi dan harus dipindah. Ada pula kepercayaan terhadap siklus yuga. Dalam ajaran Hindu ada empat jenjang masa dalam siklus yuga, yaitu Dwaparayuga, Tretayuga, Satyayuga, dan Kaliyuga. Zaman Kaliyuga disebut pula zaman kegelapan. Berdasarkan itu, penguasa yang berada di generasi keempat diharuskan untuk memindahkan kerajaannya ke tempat lain agar terhindar dari kekacauan. Hal itu terlihat ketika Sultan Agung memindahkan ibu kota ke Karta. Dia mewakili penguasa ke-4 dari Ki Ageng Pamanahan, sang pendiri dinasti. Amangkurat I juga memindahkan ibu kota dari Karta ke Plered. Dia merepresentasikan generasi ke-4 dari Panembahan Senopati, penguasa pertama Mataram Islam. Sebelum Mataram Islam, beberapa kerajaan kuno pernah memindahkan ibu kota kerajaannya, di antaranya sebagai berikut: Mataram Kuno Ibu kota Mataram Kuno atau Medang misalnya, paling tidak pernah pindah dua kali pada periode Jawa Tengah. Buktinya dalam Prasasti Siwagraha (778 Saka/856 M) dan Prasasti Mantyasih I (829 Saka/907 M) disebutkan Mamratipura dan Poh Pitu sebagai ibu kota. Dalam Prasasti Siwagraha disebutkan Dyah Lokapala ditahbiskan pada 778 Saka di Keraton Medang di Mamaratipura. Sementara Prasasti Mantyasih I mengisahkan seorang raja pada masa lalu yang tinggal di Keraton Medang di Poh Pitu. Boechari menjelaskan ada beberapa desa bernama Medang tersebar antara Purwodadi-Grobogan dan Blora di bagian utara Jawa Tengah sekarang. Namun apakah dulunya desa-desa itu bagian dari pusat Kerajaan Mataram Kuno pada masa lalu, itu belum bisa dibuktikan. Pada era Mpu Sindok atau Sri Isyana Vikramadhammatunggadeva sekira 929 M, kerajaan ini dipindahkan ke Jawa bagian timur. Banyak pendapat soal alasan kepindahannya. Kahuripan Airlangga pendiri Kerajaan Kahuripan, pernah memindahkan kerajaannya dua kali. Ibu kota pertama dibangun ketika dia ditahbiskan menjadi raja setelah hancurnya pemerintahan Dharmawangsa Tguh. Lokasinya di Wwatan Mas, sebagaimana disebutkan dalam Prasasti Cane (943 Saka/1021 M). Dalam Prasasti Kamalagyan (959 Saka/1037 M), Kahuripan disebutkan sebagai lokasi keraton Airlangga. Boechari berpendapat, perpindahan ini disebabkan adanya invasi musuh. Pendapatnya didasarkan pada Prasasti Terep dari 954 Saka (1032 M). Ada kemungkinan juga kerajaan ini kembali dipindahkan ke Dahana(pura). Itu ditunjukkan dengan kemunculan kata “dahana” yang diukir dalam aksara kuadrat besar pada Prasasti Pamwatan (964 Saka/1042 M). Namun tak ada bukti soal alasan kepindahan ibu kota yang kedua ini. Majapahit Kerajaan Majapahit kemungkinan juga telah berpindah-pindah ibu kota beberapa kali. Penguasa pertamanya, Wijaya, membangun kerajaan di Tarik atau Trik yang ada di delta Sungai Brantas, sebelah timur Kota Mojokerto saat ini. Pendirian itu dikisahkan dalam naskah Pararaton, Nagakartagama, Kidung Ranggalawe, Kidung Harsawijaya , serta diabadikan dalam Prasasti Kudadu (1294 M) dan Prasasti Sukamrta (1296 M). Sedikit sekali dari ibu kota pertama Majapahit ini yang tersisa sampai sekarang. Namun, belum lama ini, warga mendapati bekas bangunan bata, fosil kayu, dan hewan di areal persawahan dan makam di Dusun Kedungklinter, Desa Kedungbocok, Kecamatan Tarik, Sidoarjo. Diduga situs ini merupakan cikal-bakal Kerajaan Majapahit. Berbeda dengan ibu kota pertamanya itu, lebih banyak bukti arkeologis ditemukan di Trowulan, Mojokerto. Hal ini yang menambah kemungkinan untuk menunjuk wilayah itu sebagai ibu kota Majapahit berikutnya. Mataram Islam Babad Tanah Jawi memberi bukti adanya perpindahan ibu kota pada masa Kerajaan Mataram Islam. Ki Ageng Pamanahan membangun sebuah permukiman di Kuta Gede, di mana Kota Gede, Yogyakarta kini berada. Kemudian anaknya, Panembahan Senapati, penguasa pertama Mataram, membangun tembok di sekelilingnya. Cucu Panembahan Senapati, Sultan Agung, membangun keraton baru di Karta. Sementara anak dan pewaris takhta berikutnya memindahkan lokasi keraton ke Plered. Pada 1677, ibu kota baru itu diserang pasukan Trunajaya yang memaksa Amangkurat melarikan diri ke barat dan tewas di Tegalarum. Setelah serangan itu, ibu kota baru dibangun di Wanakarta yang kemudian diberi nama baru Kartasura. Pada 1724, Kartasura digempur oleh Cakraningrat IV dari Madura. Kemudian setelah takhta dikuasai Susuhunan Pakubuwono II, sebuah tempat baru dibangun di Surakarta pada 1744.





















