top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10057 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Perempuan dalam Cengkraman Pergundikan

    KETIKA berkunjung ke sebuah perkebunan di Deli, Van den Brand anggota Raad van Justice, tak sengaja melihat hal mengerikan. Di rumah pemilik perkebunan, dia mendengar erangan perempuan dari halaman depan. Rasa penasaran membuatnya mendatangi sumber suara. Ternyata, suara itu berasal dari gadis belia yang tengah disalib dalam kondisi telanjang bulat. Di bawah terik matahari siang bolong, alat kelamin gadis itu diolesi cabai Spanyol yang super pedas. “Bagi saya hal ini sangat keterlaluan dan saya pun meneruskan perjalanan. Menurut yang saya dengar, sang gadis harus bertahan dalam keadaan demikian dari jam enam pagi sampai jam enam sore,” tulis Brand dalam laporannya, De Milioenen van Deli. Gadis berusia 16 tahun yang disiksa itu merupakan buruh di perkebunan milik si penyiksa yang orang Belanda. Dia dihukum secara sadis lantaran memilih menjalin asmara dengan sesama buruh ketimbang menerima pinangan si tuan yang ingin menjadikannya nyai. Di tangan orang-orang Eropa, para perempuan buruh menjadi korban kesewenang-wenangan dan penyalahgunaan kekuasaan. Para buruh yang berparas cantik bahkan lebih banyak bernasib buruk lantaran mesti jadi pemuas nafsu tuan mereka. Brand menceritakan, seorang administratur perkebunan selalu memeriksa perempuan yang baru datang di dalam ruangannya. Dengan memeriksa buruh perempuan satu per satu, administratur itu lalu memilih yang paling cantik untuk dijadikan gundik. “Membicarakan hal itu lebih jauh membuat saya muak,” ujar Brand. Praktik nista seperti itu jamak di lingkungan perkebunan semasa kolonial. Bila ada seorang buruh perempuan dipanggil seorang diri oleh penguasa atau pegawai Eropa di jam kerja, bisa dipastikan buruh itu harus melayani nafsu si tuan. Buruh perempuan tak punya kuasa apapun. Si tuan tak ubahnya melakukan pemerkosaan karena tanpa persetujuan si perempuan. Si tuan tak peduli meski si perempuan sudah bersuami. Bagi para tuan kulit putih, kuli atau buruh pribumi tak pantas menyandang status pernikahan. Mereka selalu merendahkan perempuan dengan tidak pernah mengindahkan status perempuan yang mereka tiduri. Perilaku melanggar batas dengan memanggil perempuan buruh yang bersuamikan seorang buruh kerap menimbulkan konflik. Para lelaki buruh dibantu rekan-rekan sesama buruh sering memberontak dengan menyerang pegawai Belanda karena merasa istrinya dilecehkan. Dalam Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda, Reegie Baay mencatat antara 1923-1925 ada sekira 70-an pemberontakan dari para buruh di Deli. Salah satu pemicunya, istri buruh direbut paksa oleh pegawai Belanda. Akibat pemberontakan itu, seringkali suami yang membela istrinya harus meregang nyawa atau bila nyawanya selamat, dia harus meninggalkan perkebunan dan berpisah dengan pujaan hatinya lantaran diusir oleh pegawai Belanda. Sang istri tak bisa berbuat apapun lantaran tak punya hak bersuara apalagi hak untuk menentukan pilihan. Setelah “dipilih” lelaki Belanda, si perempuan hidup sebagai nyai dan mendapat kenaikan status meski sebenarnya status nyai tak jelas dalam kehidupan sosial kolonial. Nyai lebih mirip kepala pelayan, bedanya dia juga harus menemani tidur tuannya. Tapi meski sampai kumpul ranjang, hubungan nyai-tuan tak romantis lantaran tak didasari saling cinta. Status rendah para perempuan buruh, rasisme, dan superioritas lelaki Belanda membuat para nyai sering mengalami kekerasan seksual dan penyiksaan. Selain menimpa gadis-buruh di awal tulisan, pengalaman pahit itu juga menimpa buruh-gadis migran asal Jawa sebagaimana dicatat oleh pegawai Departemen Hukum JTL Rhemrev.  Seorang pegawai perkebunan Belanda, tulis Rhemrev, baru saja mengurung seorang perempuan Jawa bernama Karimah di dalam kamarnya dan menyiksanya. “Kurang lebih enam bulan lalu, seorang perempuan dikurung di kamar dan dipukuli sampai berdarah,” tulis Rhemrev. Kasus lain yang banyak ditemui, misalnya, lelaki Belanda yang mempunyai anak dari nyainya jatuh cinta pada perempuan Eropa. Sebelum menikah, calon istri Eropa ini mensyaratkan agar si nyai diusir dari rumah. Kadang sang anak juga ikut diusir, tapi ada juga kasus hanya ibunya saja yang dibuang dan si anak dibuat untuk melupakan ibunya dengan disekolahkan ke Belanda. Perpisahan dengan anak kandung kerap menggerus hati para nyai. Beberapa dari mereka berakhir depresi bahkan bunuh diri. Hidup sebagai nyai sangat riskan untuk disiksa, dibuang begitu saja, atau diberikan pada lelaki Belanda lain sebagai “kado”. Banyak perempuan pribumi menganggap hukuman yang mereka terima sebagai penghinaan besar. Ketimbang mesti menanggung malu, mereka memilih bunuh diri. Hukuman-hukuman kejam yang mereka terima sebetulnya oleh lelaki Belanda dimaksudkan untuk melegitimasi kekuasaan sekaligus keunggulan kulit putih dan tentu saja kejantanan mereka. Mereka mempermalukan perempuan lewat penelanjangan dan menyerang alat kelamin. Hal itu erat kaitannya dengan budaya patriarkis perkebunan Deli di mana ada citra yang seolah harus dipenuhi para lelaki Belanda seperti jantan, heteroseksual, dan tidak memperlakukan perempuan pribumi dengan lembut. Namun, tak semua perempuan pribumi pasrah menerima hal itu. Banyak dari mereka melawan dengan cara amat halus dan tersembunyi, seperti yang dilakukan seorang nyai yang ditulis Bernard Dorleans dalam Orang Indonesia dan Orang Prancis. Ketika mengetahui tuan Belandanya hendak kembali ke negaranya dengan membawa-serta anaknya, si nyai menysun siasat. Di depan si Tuan, nyai itu bersikap seperti biasa, penurut, untuk memenuhi citra perempuan Jawa dalam alam pikir orang Belanda. Namun diam-diam, si nyai menambahkan lugut bambu ke dalam makanan si tuan. Lugut itulah yang mengganggu pencernaan si tuan sampai menimbulkan penyakit yang mengakibatkan kematian perlahan sebelum sempat kembali ke Belanda. “Si istri tidak akan tampak kesal atau marah. Bentuk kesedihan dan penyesalannya adalah diam seribu bahasa,” tulis Dorleans. Para lelaki Belanda pikir, mereka cukup kuat untuk terus menguasai hidup nyainya dan membuangnya begitu saja tanpa ada perlawanan. Nyatanya, tidak Tuan.

  • Belantara-Rawa yang Sukses Jadi Kota Olahraga

    SELAIN Jakarta, kini nama Palembang ikut menggema di Asia, bahkan di dunia lantaran jadi kota pendamping tuan rumah Asian Games 2018. Jakabaring Sport City (JSC) atau Kompleks Olahraga Jakabaring, Palembang sukses menghelat event olahraga terbesar Asia itu dengan baik. Jelas bukan tanpa kurangan. Dari pengamatan Historia semasa penyelenggaraan, persoalan transportasi merupakan salah satu yang dikeluhkan masyarakat. Mereka yang ingin menyaksikan pertandingan di JSC, kesulitan mendapat akses shuttle bus. Awak media tak menjadi pengecualian. “Kalau sudah sore, habis meliput di venue selalu susah cari bus untuk kita bisa kembali ke MPC (Main Press Center). Bisa satu sampai dua jam. Atau malah kita harus jalan kaki untuk mengerjakan berita di MPC,” ujar Iqbal, wartawan salah satu media di Palembang, kepada Historia . Kalau sedikit beruntung, para penonton dan wartawan di venue-venue JSC bisa menumpang truk logistik. Lokasi MPC berada di Sriwijaya Promotion Center, sekira dua kilometer dari Kompleks JSC. Selain masalah transportasi, gangguan lain datang dari gangguan asap kebakaran lahan. Kala Historia tengah berada di venue voli pantai, Selasa (21/8/2018), Helikopter Airbus AS355 bernomor registrasi PK-RTM dan Helikopter Mi-172 (VN-8427) bolak-balik mengangkut air dari danau buatan JSC untuk memadamkan kebakaran lahan di dekat Kampung Atlet Jakabaring. Kebakaran di Dekat JSC Dipadamkan dengan Helikopter (Foto: BPBD Sumsel) Beruntung kebakaran cepat ditangani dan proses pemadaman dipantau langsung Gubernur Sumatra Selatan Alex Noerdin. “Kebakarannya masih di kawasan Jakabaring, namun bukan di dalam JSC. Hot spot -nya karena musim kemarau. Daerah situ kan banyak lahan gambut,” ujar pegawai Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan yang enggan disebutkan namanya kepada Historia. Bermula dari Rawa Kawasan tempat Kompleks JSC berada, dulu merupakan kawasan tanpa penghuni. “Dulu ya sejak zaman kerajaan (Sriwijaya), kesultanan (Palembang), zaman Belanda sampai Orde Baru, Jakabaring hanya berupa hutan dan rawa (gambut – red .). Malah belum ada sebutannya karena Jakabaring sebagai kecamatan juga baru lantaran ada pemekaran wilayah (2017),” ujar Yuswan Rahadian, pengamat sejarah Palembang, kepada Historia. Beragam cerita seram pun muncul di kalangan masyarakat yang berdiam di bagian ulu Sungai Musi tersebut. “Ya tidak ada yang anehlah cerita-cerita mistisnya, hampir sama di daerah-daerah lain. Itu kawasan juga jadi tempat pelarian banyak pelaku kriminal, sebelum dibangun komplek olahraga itu tahun 2001,” lanjut Yuswan. Yuswan Rahadian (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Nama Jakabaring sendiri, kata Yuswan, bukan nama orang atau tokoh sebagaimana kisah-kisah legenda macam Jaka Tingkir, Jaka Sembung, apalagi Jaka Tarub. “Jakabaring itu asalnya dari singkatan kumpulan masyarakat yang berbaur dekat kawasan itu. (Suku) Jawa, Kaba, Batak, dan Komering.” Kota Olahraga Sebagai kota pelabuhan kaya minyak dan industri, pembangunan di Palembang berjalan timpang. “Pemerintah (kota dan provinsi) cenderung hanya membangun daerah ilir,” ujar Chandra Zaki Maulana, pengamat sejarah Palembang, kepada Historia . Upaya pemerataan pembangunan pun dilakukan dengan membuka kawasan Ulu. “Ya akhirnya memang dibangun JSC di Seberang Ulu karena sebelumnya kan pembangunan kurang merata,” sambung dosen UIN Raden Fatah itu. Stadion Gelora Sriwijaya di Jakabaring Sport City (Foto: Randy Wirayudha/Historia) “Dulu yang menggagas komplek olahraga (JSC) ini adalah Gubernur Ramli (Hasan Basri, gubernur Sumsel 1988-1998 – red .). Tapi harus diakui, kalau mau disebut orang yang berjasa ya Pak Rosihan (Arsyad, gubernur Sumsel 1998-2003). Set plan dan cetak birunya dibuat di masa jabatan dia dengan bagus,” kata Chandra. Daerah Ulu lalu dijadikan “kota olahraga”. Buku South Sumatera: Menyongsong Asian Games 2018 memaparkan, JSC dibangun di atas lahan seluas 325 hektar pada 1 Januari 2001 jelang Pekan Olahraga Nasional (PON) XVI 2004. Stadion Gelora Sriwijaya (40 ribu penonton) menjadi arena pertama yang dibangun sesuai masterplan kota olahraga bertaraf internasional itu. Gubernur Syahrial Oesman meresmikan JSC pada 2004 untuk penyelenggaraan PON. Ketika Palembang terpilih menjadi tuan rumah SEA Games 2011, Gubernur Alex Noerdin menambahkan beragam fasilitas di JSC. Selain Wisma Atlet dan Sport Science Center, JSC ditambahi stadion akuatik, stadion atletik, lapangan tenis, arena panahan, dan arena menembak. Salah Satu Sudut Jakabaring Sport City (Foto: Randy Wirayudha/Historia) “(Alex) Noerdin menjadi promotor utama (dalam proyek Jakabaring jelang SEA Games 2011) dan bahkan membiayai sendiri pembangunan arena menembaknya. Usahanya membawa SEA Games ke Palembang pada 2011 menjadi kesuksesan besar pertamanya,” tulis Friederike Trotier di artikel “Changing an Image through Sports Events”, termuat di Sport and Body Cultures in East and Southeast Asia. JSC mendapat kehormatan lebih besar ketika Alex berhasil menjadikan Palembang sebagai tuan rumah kedua Asian Games 2018. Beragam pembangunan lanjutan kembali bergulir di JSC baik untuk mempercantik, mempercanggih, maupun melengkapi. Beragam fasilitas baru itu antara lain, danau buatan untuk penyelenggaraan olahraga air, arena panjat tebing, dan Bowling Center yang semua perlengkapannya diimpor. Jakabaring Sport City Tampak Atas (Foto: Repro "South Sumatera: Menyongsong Asian Games 2018" Yang tak kalah penting, pembangunan Light Rail Transit (LRT) dari JSC ke Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II. Kelengkapan fasilitas dan keseriusan penyelenggaraan itu menjadikan Palembang sukses menghelat event olahraga terbesar Asia. “Itulah jasanya pak Alex Noerdin, membawa Asian Games ke Palembang. Terlepas dari bagaimana kepemimpinannya yang dianggap begini-begitu oleh beberapa pihak, (pemerintahan) dia ada hasilnya yang kelihatan. Lihat proyek LRT! Yang di Jakarta saja kan belum beroperasi, tapi di sini sudah,” tandas Chandra.

  • Sejarah Manis Sepaktakraw

    SEHARI sebelum Asian Games XVIII Jakarta-Palembang 2018 berakhir, Indonesia mendapat hadiah manis. Tim sepaktakraw putra Indonesia mempersembahkan sekeping medali emas. Medali emas terakhir Indonesia di ajang itu sekaligus menjadi sejarah baru: medali emas pertama Indonesia dari sepaktakraw. Indonesia selalu gagal menjuarai cabang olahraga khas Melayu itu sejak dipertandingkan di Asian Games 1990. Adalah tim yang dimotori Saiful Rijal, Rizky Abdul, dan veteran Nofrizal yang kemarin memetik emas takraw di nomor quadrant putra. Mereka mengalahkan tim Jepang 15-21, 21-14, dan 21-16 di Ranau Hall, Jakabaring Sports City, Palembang, Sabtu (1/9/2018). Tim Sepaktakraw Putra Nomor Quadrant Menyumbangkan Medali Emas ke-31 Bagi Kontingen Indonesia di Hari Terakhir Asian Games 2018 (Foto: INASGOC) Aksi tendangan salto Nofrizal dengan kaki kirinya yang terekam mata kamera bahkan menjadi viral dan menuai pujian. “Aksi Nofrizal menendang bola di udara dalam pertandingan final sepaktakraw quadrant putra Asian Games 2018 di Palembang, kemarin. Indonesia merebut emas mengalahkan Jepang. Ini medali emas pertama Indonesia dari sepaktakraw Asian Games. Selamat!,” kicau Jokowi di akun Twitter resminya, @jokowi, Minggu (2/9/2018). Sepaktakraw Merentang Sejarah Selain di Indonesia, olahraga dengan bola rotan yang dimainkan tiga atau empat pemain ini juga sohor di Malaysia, Brunei, Vietnam, Laos, Filipina, Myanmar, Kamboja, dan Thailand. Menurut Susi Dunsmore dalam Sepak Raga , olahraga ini pertamakali jadi permainan tradisional pada abad ke-15 di Kesultanan Malaka, yang wilayah kekuasaannya mencakup Semenanjung Malaya, Selat Malaka, Kepulauan Riau hingga Riau daratan. Susi Dunsmore yang mengupas manuskrip Sulalatus Salatin atau Sejarah Melayu juga menyebutkan, sepaktakraw lalu disebarkan para saudagar ke seluruh wilayah Sumatra dan pulau lain Nusantara hingga Sulawesi pada awal abad ke-16. Di Sulawesi, sepaktakraw dikembangkan lagi sehingga dikenal menjadi olahraga tradisional masyarakat Bugis dengan nama Ma’Raga. Permainan Ma'Raga yang Jadi Olahraga Tradisional Masyarakat Bugis (Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id) “(Sementara) di Sumatera Barat, olahraga ini disebut Sipak Rago. Dimainkan dengan formasi melingkar. Sangat bermanfaat melatih ketangkasan kaki dan cukup populer,” kata Rhian D’Kincai dalam biografi eks Ketua Pengurus Besar Persatuan Sepaktakraw Seluruh Indonesia (PB PSTI) Rainal Rais: Abdi Organisasi. Sepaktakraw sempat populer di hampir seantero negeri ini pada 1950-an. “Tapi sayangnya pada 1960-an hilang dari peredaran. Sepaktakraw ini olahraga asli nusantara yang harus ditumbuhkembangkan. Kalau tidak kita yang mengembangkannya, siapa lagi?” cetus Rainal Rais dikutip Rhian D’Kincai. Kealpaan perhatian itu mengakibatkan induk olahraga sepaktakraw baru hadir pada 16 Maret 1971 dengan lahirnya PSTI. Sepaktakraw juga baru dijadikan olahraga resmi Pekan Olahraga Nasional (PON) pada 1981. Justru di pentas internasional sepaktakraw lebih dulu mendapat payung organisasi besar, yakni Asian Sepaktakraw Federation (1965) dan International Sepaktakraw Federation (1987). Untuk kompetisinya, sepaktakraw sudah dipertandingkan sejak SEA Games 1977. Sedangkan di Asian Games, sepaktakraw nomor beregu putra dan putri mulai dipertandingkan pada 1990. Di Asian Games 2018, nomor ganda beregu putra dan quadrant putra ditambahkan.

  • Kala Soeharto Jadi Panglima (2-Habis)

    Meski menduduki jabatan prestisius sebagai Panglima Komando Operasi Mandala, Soeharto sejatinya berada dalam tekanan. Rapat KOTI memutuskan bahwa paling lambat tanggal 17 Agustus 1962 bendera Merah Putih sudah harus berkibar di Irian Barat. Ini berarti Soeharto hanya punya waktu tujuh bulan, sejak ditunjuk bulan Januari untuk menyusun kekuatan dan rencana operasi.

  • Kala K-pop Menggoyang Penutupan Asian Games

    DUA pekan penuh gempita Asian Games (AG) XVIII resmi berakhir, Minggu (2/9/2018). Ratusan prestasi ditorehkan. Beragam rekor baru terukir. Tuan rumah tak ketinggalan, sukses sebagai penyelenggara sekaligus prestasi. Setelah upacara pembukaan yang membahana, upacara penutupan tak kalah greget. Panitia bahkan menghadirkan Super Junior (SJ), grup K-pop papan atas. Akar Sejarah K-pop Kehadiran SJ membuat banyak muda-mudi dan remaja ibukota tertarik untuk mendatangi upacara penutupan AG XVIII. Dea Faradita, salah satunya. Gadis berusia 30 tahun amat ngebet  ingin menyaksikan langsung aksi boyband favoritnya itu. Namun, akhirnya Dea urung datang ke Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) lantaran kesulitan mendapatkan tiket sebagaimana para anggota ELF, fans fanatik SJ, lain. “Sistemnya crash terus. Lebih susah jadinya nonton (SJ) di Indonesia. Padahal kalau di luar Indonesia enggak pernah sesulit ini. Sebelum-sebelumnya pernah nonton di Bangkok (Thailand), Singapura, Malaysia, Makau, Seoul (Korea), kalau beli tiket online enggak pernah crash begitu,” ujar Dea, leader ELF Indonesia, kepada Historia . Sebagai pentolan ELF, Dea tak luput jadi sasaran calo. “Yang menawarkan banyak. Tapi saya pribadi enggak rela saja. Ya harganya dari yang resminya Rp450 ribu jadi Rp1,5 juta. Yang Rp1 juta bisa jadi Rp3,5 juta. Yang Rp2 juta bisa jadi Rp5 juta! Teman-teman yang lain tetap banyak yang rela beli. Sebenarnya lewat online akhirnya juga bisa dapet satu tiket. Tapi kemudian saya kasih teman yang sama sekali belum pernah nonton SJ,” tandasnya. Para Elf atau fans Super Junior yang tak kebagian tiket penutupan Asian Games 2018 berkumpul di Area Festival (Dok. ELF Indonesia). Dea hanya satu contoh dari sejumlah fans K-pop yang gagal menyaksikan langsung idolanya di upacara penutupan. Masalah tiket online dan masih maraknya calo membuat ribuan fans SJ yang datang ke Kompleks GBK tapi tak kebagian tiket terpaksa hanya menonton dari layar besar yang di ada di beberapa titik. Namun, meski diguyur hujan, mereka bertahan demi melihat idola K-pop mereka. Bukan hanya SJ yang dihadirkan panitia, namun juga boyband iKON. Kehadiran kedua boyband K-Pop asal Korea itu mesti diakui merupakan magnet terbesar dari closing ceremony AG XVIII. Bukan hanya di Indonesia, fans fanatik K-pop menyebar sampai ke Eropa hingga  Amerika. Jumlah artis K-Pop, baik di Korea sendiri maupun yang populer di dunia, sudah tak terhitung hingga kini. Girl's Generation atau SNSD, salah satu grup K-Pop sohor di dunia. (LG Electronics). “Memang banyak sekali saingannya di Korea sendiri. Nah, seperti dalam kompetisi olahraga saja, band-band atau artis K-pop yang terbaiklah yang akhirnya diambil pemerintah untuk diikutkan dalam promosi budaya. Oleh karenanya, K-pop kini sudah sangat dikenal secara global,” ujar peneliti sejarah modern Korean Culture Center Bae Dong-sun. Meski begitu membanggakan K-pop, orang Korea mengakui bahwa akar K-pop bukan dari budaya asli mereka tapi percampuran budaya sejak akhir abad ke-19. Musik K-pop atau musik populer Korea berhulu dari musik atau lagu changga atau lagu-lagu yang aslinya berbahasa Inggris yang diperkenalkan misionaris Amerika Serikat Henry Gerhard Appenzeller. Menurut Michael Fuhr dalam Globalization and Popular Music in South Korea: Sounding Out K-Pop , Appenzeller datang ke Korea bersama istrinya, Ella Appenzeller, serta empat rekannya: Horace N. Allen, Horace G. Underwood, William B. Scranton, dan Marion F. Scranton pada 5 April 1885. Mereka datang ke Semenanjung Korea untuk menyebarkan Protestan ke masyarakat Korea yang saat itu masih banyak memeluk paganisme. Setahun kemudian di Seoul, Appenzeller bersama istrinya mendirikan Sekolah Paeje khusus untuk pria. Selain mengajarkan agama, Appenzeller juga mengadakan silang budaya lewat musik. Lagu-lagu yang banyak dikenal di Amerika, Inggris, dan Irlandia dimodifikasinya dengan lirik berbahasa Korea yang lalu dikenal sebagai Changga .   Henry Gerhard Appenzeller (kanan atas) bersama para muridnya (Repro A modern pioneer in Korea; the life story of Henry G. Appenzeller ) Dalam K-POP: A New Force in Pop Music terbitan Korean Culture and Information Service (2011), diungkapkan beberapa lagu seperti “Shimcheongga” sebenarnya adalah lagu Amerika “My Darling Clementine” yang liriknya diubah pakai bahasa Korea. Pun lagu “Londonberry Air” yang di-Korea-kan dengan judul “Danny Boy”. Lagu-lagu changga (K-pop) kemudian jadi bentuk ekspresi rakyat Korea saat pendudukan Jepang (1910-1945) walau pengaruh Jepang kemudian juga menular ke musik Korea. Album K-pop pertama dalam sejarah, Yi Pungjin Sewol, yang dirilis duat artis Park Chae-seon dan Lee Ryu-saek pada 1925 berisi lagu-lagu berbahasa Korea yang diadaptasi dari lagu-lagu Jepang. “Kembalinya” arwah musik Barat ke jiwa K-pop baru terjadi usai Perang Dunia II. Lantaran pada 1950-an semua hal berbau Barat dilarang di Korea Utara, K-pop kemudian hanya berkembang di Korea Selatan. Usai Perang Korea, K-pop berkembang pesat hingga menghadirkan sejumlah legenda seperti The Kim Sisters (1959), Add4 (1962), Han Dae-soo, Cho Yong-pil (1975), Lee Gwang-jo (1985), dan Seo Taiji & Boys (1992). Seo Taiji & Boys menjadi penanda era baru K-pop, berbasis pada idolgroup . K-pop modern yang bergulir sejak 1990-an musiknya sangat kental dengan percampuran hip hop, rock, jazz, dan electro. K-Pop jenis inilah yang kita kenal di era milenial sekarang. K-pop “hibrid” ini bahkan digunakan dalam diplomasi antara Korea Selatan dan Korea Utara.

  • Sejarah Garong: Gabungan Romusha Ngamuk

    ANTARA tahun 1945-1947 tak ada seorang pun yang berani melewati jalur Tagogapu-Padalarang di atas jam 16.00. Pasalnya, dalam waktu tersebut gerombolan bersenjata mulai beroperasi. Menurut Arnasan (91), kelompok-kelompok liar itu adalah eks para romusha (pekerja paksa di era bala tentara Jepang berkuasa) yang kembali pulang dari seberang. “Entah bagaimana mereka kemudian menjadi orang-orang jahat yang kerjannya merampok orang-orang yang lewat di wilayah Padalarang dan sekitarnya,” ungkap lelaki yang masa mudanya dihabiskan untuk berdagang keliling itu. Khalayak kemudian menamakan mereka sebagai garong, yang merupakan singkatan dari gabungan romusha ngamuk. Istilah inilah yang selama revolusi berkecamuk cukup mengganggu masyarakat. Mereka bukan saja dicari oleh pihak keamanan Republik namun juga diincar oleh tentara Belanda. “Para garong ini tidak peduli korbannya orang Republik atau pihak Belanda, selama berharta dan berduit maka mereka akan menyikatnya tanpa ampun,” ujar Arnasan. Pengalaman Pramoedya Soal gejala munculnya garong ini dikonfirmasi oleh penulis kawakan Pramoedya Ananta Toer. Dalam sebuah karyanya yang berjudul Jalan Raya Pos Jalan Daendels , dia menuturkan pengalaman pribadinya semasa menjadi seorang prajurit TKR (Tentara Keamanan Rakjat) berpangkat letnan dua bagian persuratkabaran di Resimen Cikampek. Pram berkisah suatu hari di akhir tahun 1945, dirinya diutus oleh komandannya Letnan Kolonel Moeffreni Moe’min untuk menyampaikan sepucuk surat kepada seorang komandan di wilayah Padalarang bernama Doejeh. Bisa jadi yang dimaksud oleh Pram sebagai Doejeh adalah Mayor Doejeh Soeharsa, salah satu komandan batalyon yang masuk dalam Resimen Cililin. “Tapi sebagai rendahan, aku tak dapat bertemu dengannya. Anak buahnya yang menyampaikan surat yang kubawa. Aku harus menunggu di luar, ditemani prajurit-prajurit yang lain,” ungkap Pram. Saat bercengkarama dengan prajurit-prajurit dari Resimen Cililin inilah, Pram mendengar cerita salah seorang dari mereka mengenai  banyaknya garong merajalela di wilayah Padalarang dan sekitarnya (termasuk Cililin). Menurut sang prajurit, para garong itu terdiri dari kelompok-kelompok bersenjata yang tidak bergabung dengan tentara dan laskar atau pihak Belanda.   “Mereka melakukan perampokan di mana saja bila dianggap tak ada penjagaan yang kuat,” tulis Pram. Para garong ini biasanya merampok dengan menggunakan senjata api pendek. Senapan atau karabin pun digergaji larasnya menjadi pendek  dan mudah disembunyikan di balik sarung. “Ketika aku tanya apa artinya garong, mereka menjawabnya: singkatan dari gabungan romusha ngamuk,” ungkap tentara yang kemudian banting setir menjadi sastrawan itu. Kasus Banyumas Gejala munculnya garong sebagai eks romusha yang memilih jalan gelap, ternyata terjadi juga di wilayah Banyumas. Hal ini diungkap oleh M. Alie Humaedi, seorang peneliti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dalam sebuah tulisan hasil risetnya berjudul “Gaboengan Romusha Ngamoek: Pertarungan Kekerasan di Kaki Pegunungan Dieng Banjarnegara (1942-1957)”. Menurut Humaedi, antara tahun 1942-1957, di wilayah-wilayah seperti Kalibening, Karangkobar, Batur, Paweden, Wanayasa, Pekalongan atas dan Wonosobo, muncul kelompok-kelompok penjahat yang dijuluki khalayak sebagai garong. Kendati kepanjangan sama dengan garong yang berada di Jawa Barat, namun para eks romusha yang terlibat bukanlah berasal dari seberang, melainkan romusha lokal. “Mereka terdiri dari anak-anak muda yang pernah dipekerjakan oleh bala tentara Jepang di wilayah keresidenan masing-masing,” ujar Humaedi kepada Historia . Di wilayah keresidenan Banyumas tersebut, garong adalah nama kelompok yang seutuhnya penjahat. Mereka melakukan perampokan kepada siapapun, tanpa pandang bulu, dan bertujuan untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Sebagai paradoks dari mereka ada yang disebut maling suci. “Berbeda dengan garong, maling suci menjalankan perampokan hanya kepada orang-orang kaya yang dinilai pro Belanda. Mereka pun kerap membagikan hasil rampokan mereka kepada orang-orang tak berpunya,” ujar Humaedi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian garong sendiri adalah perampok atau kawanan pencuri, penyamun. Belum jelas benar apakah istilah tersebut terbilang baru dalam khazanah bahasa Indonesia. Yang jelas, sebelum revolusi kemerdekaan, kata “perampok” sendiri kerap disejajarkan  dengan kata “penyamun”.

  • Rebutan Gagasan dan Hak di Jalan M.H. Thamrin

    MOBIL berpelat "Indonesia 1" melintas dari arah selatan Jalan M.H. Thamrin menuju Istana Merdeka di utara. Penumpangnya Presiden Sukarno dan Soemarno, gubernur Jakarta 1960-1964. Mobil baru saja melewati Hotel Indonesia. Tak ada lagi bangunan tinggi selepasnya, kecuali Bank Indonesia di ujung jalan. Kanan dan kiri jalan hanya bangunan bertingkat dua dan tanah merah. Sukarno bertanya ke Soemarno saat mobil melaju tepat di samping hamparan tanah kosong. “Mau dibangun apa tanah itu?” Soemarno menjawab, “Sebenarnya, Pak, saya ingin mempunyai department store, tapi tanah di situ terlalu lembek, dan terlalu mahal biayanya untuk mendirikan gedung bertingkat tinggi.”

  • Dari Defile hingga Kembang Api

    PENUTUPAN Asian Games 2018 dilakukan pada hari Minggu, 2 September 2018, di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Acaranya dipersiapkan dengan sangat semarak. Pengisi acaranya beragam, mulai dari grup musik Gigi hingga boyband Korea, Super Junior dan iKon. Media massa, baik cetak, elektronik maupun internet sudah jauh-jauh hari memberitakan persiapan acara penutupan ini. Masyarakat juga memperbincangkannya; mereka bahkan rela antre untuk mendapat tiket acara penutupan. Pendeknya, upacara penutupan ini adalah salah satu acara puncak Asian Games 2018 yang paling ditunggu-tunggu publik. Namun, kemeriahan semacam ini bukanlah yang pertama kali dalam sejarah pelaksanaan Asian Games di Indonesia. Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa acara penutupan Asian Games 1962, yang dilangsungkan pada hari Selasa, 4 September 1962, di tempat yang sama (dulu bernama Main Stadium Senayan), juga tak kalah meriahnya. Bagaimana pemerintah mempersiapkan acara penutupan Asian Games 1962? Apa saja acara yang diadakan pada malam penutupan tersebut? Dan, yang tak kalah penting, bagaimana respons masyarakat terhadap acara penutupan ini?

  • Dulu Sekadar Rawa, Kini Menjamu Pesta Olahraga Asia

    BERDIRI kokoh di ujung utara jalur protokol Jalan Jenderal Ahmad Yani Kota Bekasi, Stadion Patriot Candrabhaga menjadi satu dari sedikit landmark kota bersemboyan “Kota Patriot”. Stadion Patriot jadi ikon mendongkrak citra Kota Bekasi yang pernah di- bully warganet di media sosial. Stadion apik berkapasitas 30 ribu penonton ini baru dibangun jelang Bekasi menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Daerah (Porda) Jawa Barat 1984. “Baru dibangun tahun 1980-an bersamaan dengan pembangunan kompleks pemerintahan daerah Bekasi (di seberang stadion),” ujar Abdul Khoir, budayawan Badan Kekeluargaan Masyarakat Bekasi (BKMB) Bhagasasi cum dosen Universitas Islam ’45 (Unisma) Bekasi, kepada Historia. Stadion Patriot Candrabhaga, Kota Bekasi Dijadikan Satu dari Empat Venue Sepakbola Putra Asian Games 2018 (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Mengalami beberapakali renovasi, stadion bernama awal GOR Bekasi itu mendapat kehormatan menggelar beberapa laga sepakbola putra. Stadion itu menjadi venue antara lain, laga pembuka antara Laos vs Hong Kong (1-3) dan Palestina vs China Taipei (0-0) pada 10 Agustus 2018. Masa Lalunya Berupa Rawa-Rawa Di masa lalu, kawasan yang sekarang menjadi Stadion Patriot dan kompleks Pemerintahan Kota Bekasi merupakan rawa-rawa. “Dulu perkampungan di Bekasi hanya ada di Kampung Duaratus (kini Jalan Kemakmuran Kota Bekasi). Kalau area stadion (Patriot) sekarang, dulu itu disebutnya Rawa Tembaga,” sambung Abdul Khoir. Nama Rawa Tembaga, kata Abdul Khoir, berasal dari dua versi cerita. Pertama, cerita rakyat yang muncul sejak abad ke-16. Cerita itu mengenai Fatahillah, panglima perang Kesultanan Demak, yang memerangi koalisi Portugis-Pajajaran di Sunda Kelapa (kini Jakarta) pada 1527. Abdul Khoir, Budayawan BKMB Bhagasasi cum Dosen Unisma Bekasi (Foto: Randy Wirayudha/Historia) “Dalam versi legenda, diceritakan Fatahillah yang punya anak perempuan, mau dilamar Prabu Siliwangi. Kemudian dipersyaratkan (mahar) Prabu Siliwangi untuk membawa miniatur perahu atau kapal dari emas. Tapi kemudian yang dipersembahkan justru (miniatur) dari tembaga, bukan emas. Maka kemudian ditolaklah miniatur perahu atau kapal itu. Nah, disebutkan dibuangnya di rawa itu. Semenjak itu makanya disebut Rawa Tembaga,” terang Abdul Khoir, yang mengakui bahwa versi legenda macam itu lemah karena tak ada catatan tertulis ilmiah. Versi kedua, lebih rasional. “Versi kedua Rawa Tembaga itu populer sebutannya baru setelah pembangunan pusat pemerintahan daerah Bekasi (di bilangan Jalan Juanda). Karena itu dikenal orang sebagai rawa yang paling dalam. Yang lain rawa bisa ‘ dijajakin ’, kalau yang ini enggak. Nah , itu waktu mau ada pengurukan kan banyak truk yang bobotnya berat. Pas lewat ke rawa itu selalu ‘ kejeblos ’. Enggak bisa diangkat lagi. Disebutnya Rawa Tembaga karena banyak truk tanah yang tenggelam di rawa itu,” tandasnya. Kawasan Stadion Patriot dan Sekitarnya Mulanya Disebut Rawa Tembaga (Foto: Youtube Bappeda Kota Bekasi) Kini sebutan Rawa Tembaga menciut. Setelah kawasannya mulai disesaki banyak bangunan pemerintahan, ruko-ruko, dan stadion, nama Rawa Tembaga hanya diabadikan menjadi nama jalan di belakang Kompleks Pemerintahan Kota Bekasi yang membentang hingga Asrama Haji Kota Bekasi. Bekasi sendiri di masa silam merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Tarumanagara (abad keempat). Saat itu masih disebut Dayeuh Sundasembawa atau Jayagiri. Seiring waktu, Bekasi juga pernah jadi wilayah yang dipegang Kerajaan Pakuan Pajajaran pimpinan Prabu Siliwangi alias Sri Baduga Maharaja sejak 1482.

  • Onghokham, Sejarawan yang Doyan Makan

    Tuyul di kebanyakan film horor diwujudkan bagai sesosok bocah dengan kepala plontos. Mirip permen lolipop. Kerjanya nyolong uang atas perintah sang tuan. Ia adalah makhluk gaib yang lahir dari mitos Nusantara.  “Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, tuyul adalah sosok demit (roh halus) yang berbentuk anak kecil, gundul, dan telanjang,” tutur sejarawan Onghokham dalam artikel Kompas , 13 November 1985 berjudul “Legitimasi Melalui Gaib”. “Tuyul menurut kepercayaan, melakukan pencurian bagi yang si empunya sehingga sang pemilik menjadi kaya.” Kepercayaan pada tuyul, kata Ong, menjatuhkan status orang kaya di Jawa. Orang kaya itu bukan lagi orang Jawa sebab ia memiliki hubungan dengan setan. Lebih-lebih dalam masyarakat Jawa tradisional, orang kaya adalah pencuri. “Dan yang mencuri tentu tuyulnya,” ujar Ong. Tak hanya tuyul. Ong juga menyinggung kawanan demit lainnya, semisal babi kepet dan Nyi Blorong. Sebagai sejarawan, wawasan Ong memang kaya. Ong mengulik sejarah dari aspek keseharian bahkan yang intim dengan kehidupan.  Menurut Adrian Lapian, rekan sesama sejarawan di UI, Ong mengingatkannya pada sosok sejarawan Amerika, Charles Beard yang banyak mempopulerisasi sejarah untuk kepentingan masyarakat umum. Sementara menurut sejarawan LIPI, Asvi Warman Adam, warisan Ong yang paling berharga adalah menjadikan sejarah sebagai sesuatu yang berasal dari masyarakat dan mengembalikannya ke masyarakat. “Ia adalah sedikit dari sejarawan Indonesia yang menulis tentang sejarah makanan termasuk menikmatinya secara total,” kata Asvi dalam “Ongokham Sejawaran Publik” termuat di kumpulan tulisan Onze Ong: Ongokham dalam Kenangan .     Dari Gila Londo ke Java Junky OnghokHam lahir pada Mei 1933 di Surabaya. Ong berasal dari keluarga elite keturunan Tionghoa-Jawa di Semarang. Keluarganya sangat pro-Belanda. Di rumahnya, Ong punya panggilan akrab: Hans. Para pembantu kerap menyapa, “Sinyo Hansje”. Sehari-hari, mereka berbahasa Belanda. Yang sangat penting bagi mereka adalah pendidikan dan budaya Belanda. Keluarganya sangat jauh dari masyarakat Indonesia kebanyakan. Tapi siapa nyana Ong justru menjadi sejarawan handal dari Indonesia? “Sejak usia muda saya sudah tertarik pada sejarah,” kata Ong dalam kata pengantar kumpulan tulisannya yang dibukukan Dari Soal Priyai sampai Nyi Blorong: Refleksi Historis Nusantara . Ong mengakui, dirinya melahap semua buku sejarah maupun roman sejarah tentang sejarah Eropa dalam bahasa Belanda di perpustakaan sekolah.  Semua berpangkal pada 1953. Ong belajar di Hoogere Burger School  (HBS—semacam sekolah lanjutan tingkat menengah) Surabaya. Di sekolah itu, Ong terkesan dengan Broeder Rosarius, guru sejarah. Ong mendapat dua hal dari Broeder Rosarius: api sejarah dan kesadaran tentang kewarganegaraan. “Ketika kebanyakan anak-anak lulusan HBS Surabaya melanjutkan pendidikan mereka di luar negeri, Ong malah memilih untuk menjadi warga Indonesia dan ingin melanjutkan pendidikan tingginya di jurusan sejarah Indonesia,” kata David Reeve, sejarawan University of New south Wales yang sahabat karib Ong, dalam seminar Memaknai 70 Tahun Kemerdekaan Indonesia di Tengah Dunia yang Berubah dalam Perspektif Sejarah , di FIB UI, Depok tiga warsa yang lalu. Sejarah Indonesia adalah konsep yang masih baru saat itu. Tak heran, pilihan Ong untuk menekuni sejarah Indonesia ditentang oleh keluarganya. Ong sempat menjalani studi hukum di Universitas Indonesia (UI), namun hanya sebentar karena dia bosan. Pada 1960, Ong kembali ke UI dan memilih studi jurusan sejarah di Fakultas Sastra. Pada masa ini, Ong selalu berbicara tentang topik-topik Indonesia, dengan suara sebagai seorang Indonesia, bukan sebagai Indonesia-Chinese. Ong meneliti petani-petani di Jawa dan Gerakan Samin.  “Yang spesial dari Ong adalah tekanan pada kultus Bima. Dari gila-Belanda, dia menjadi Java Junky pada 1960-an. Dan minat Ong terhadap Jawa tak pernah lepas sampai akhir hidupnya. Kebanyakan penelitian Ong sesudah itu adalah tentang Jawa,” kata Reeve. Memulihkan Diri ke Luar Negeri Reeve menuturkan, Ong sempat tertekan mental sekira tahun 1964—65 karena stres politik yang ada di Indonesia saat itu. Ong tertarik pada kubu PSI Soedjatmoko-Rosihan Anwar. Ong juga tertarik kepada GMNI, tempatnya anak-anak muda nasionalis yang berkiblat pada ideologi Bung Karno. Ong ikut Kiri dan ikut Kanan. Tetapi waktu Kiri dan Kanan semakin jauh, Ong semakin tertekan dan menderita batin. “Pasca 1965, dia begitu tersentak dengan pembunuhan massal di Jawa Timur. Ong mengalami semacam mental breakdown dan mulai teriak, “hidup PKI!”, “hidup Aidit” di jalanan. Sesuatu yang tak begitu bijaksana sesudah PKI kalah dari panggung politik. Jadi, Ong ditahan dan dipenjara selama enam bulan, diselamatkan oleh Nugroho Notosutanto,” ujar Reeve. Ong kemudian dikirim ke Amerika untuk memulihkan diri sekaligus melanjutkan studi sejarahnya. Ong menemukan dirinya kembali di Amerika, di Yale University. Di sana, selain membawa pulang ijazah doktoral, Ong punya keahlian baru: memasak.   Ong menulis disertasi tentang Karesidenan Madiun pada abad ke-19. Ia meneliti interaksi dan simbiosis antara kerajaan-kerajaan setempat dengan mesin kolonial Belanda. Ong menyimpulkan bahwa raja-raja Jawa ingin menegakan konsep dewa-raja lewat mesin penjajahan Belanda. Menurut Ong, pemberontakan mesianis ratu adil yang terjadi di Madiun bukan terjadi karena faktor budaya tetapi karena faktor pajak dan soal kepemilikan tanah yang dikontrol oleh sistem kolonial. Penelitian Ong itu membantu Peter Carey, yang telah bertahun-tahun meneliti struktur masyarakat Jawa. Carey sungguh menyayangkan mengapa karya semonumental ini tak diterbitkan dalam bentuk buku. Tuyul, Tempe dan Seksualitas Menurut Reeve, Ong adalah tipikal manusia dengan dua sisi. Dia adalah orang yang punya bakat, tapi bakatnya di sia-siakan dengan terlalu banyak pesta, whiski, dan menulis populer di kolom pers. Ong juga flamboyan, suka makan, suka minum, suka pesta. Ia berasal dari sub multikultur minoritas. Sangat tak biasa untuk menyebutnya sebagai sejarawan. Ketika kembali ke Indonesia pada medio 1970, Ong kembali ke alamamaternya. Dia mengajar sebagai dosen. Wilson, salah seorang mantan mahasiswa Ong yang kini dikenal sebagai aktivis, mengenang Ong sebagai dosen yang doyan guyon tapi rada bengis. Ong pernah berkelakar, katanya, sebab utama dari kolonialisme adalah ibu-ibu. “Rempah-rempah itukan kebutuhan dapur ibu-ibu, karena kebutuhan rempah-rempah untuk ibu-ibu, Barat menjajah bangsa lain, tutur Ong ditirukan Wilson dalam “Sejarawan yang Jago Masak: Mengenang Ong Hok Ham”. Ong juga tak segan melempar penghapus ke kepala mahasiswanya yang tak mampu menjawab pertanyaan.   Tak seperti halnya sejarawan kampus, yang berkutat dengan penelitian atau silabus kuliah yang menjemukan. Ong malah lebih suka berkecimpung di media meluapkan gagasan dan kritik. Dia banyak menulis sejarah pop yang berangkat dari aktualita kekinian di kolom Tempo , Kompas , Prisma , dan Jakarta Post . Ia menghabiskan waktu sebagai seorang intelektual publik. Karena eksis sebagai esais, Ong tak meninggalkan karya besar sebagaimana sejarawan kelas begawan macam Sartono Kartodirjo ataupun Taufik Abdullah. Meski demikian, esai-esai Ong membuktikan bahwa dirinya kaya ide dan penuh warna . Ong menulis begitu banyak tema-tema sejarah kuliner, seksualitas, dan seni. Merentang dari budaya riijstafeel , tempe, sampai ke lukisan Mooi Indie yang dihubungkan dengan pemikiran Belanda hingga nasionalisme Indonesia. Ong menulis tentang tuyul. Dia sangat terkenal sebagai ahli tuyul, bagaimana rasionalitas ekonomis bisa dipadukan bersama kepercayaan takhayul. Dia menulis tentang Sukarno, tentang Soeharto. Ong pun menulis tentang orang marjinal, tentang jago, tentang preman, tentang gelandangan. Kemampuan yang sedemikian rupa itu memoles nama Ong sebagai public intellectual-activist historian di kalangan cendekiawan pada masanya.   “Ada anggapan umum bahwa sejarah itu ilmu yang membosankan dan sejarawan juga orang yang membosankan. Tetapi Ong membuktikan bahwa sejarah bisa menjadi ilmu yang menarik dan bisa dinikmati. Dan sejarawan bisa menjadi orang yang menarik pula,” ujar Reeve sambil terkekeh manja. Selera makan yang glamor agaknya mempengaruhi kesehatan sejarawan yang memang doyan makan (dan minum) ini. Ong menghabiskan enam tahun masa senjanya di atas kursi roda karena stroke. Dia wafat di Jakarta pada 30 Agustus 2007 dalam usia 74 tahun.

  • Pemberontakan untuk Memulihkan Kesultanan Banten

    PEMBERONTAKAN terhadap pemerintah kolonial Belanda terjadi beberapa kali di Banten. Pada 1810, Nuriman memimpin perlawanan terhadap pemerintah kolonial di Pasir Peuteuy, Pandeglang. Pemicunya karena pembubaran Kesultanan Banten. Pemerintah kolonial pun menobatkan kembali Sultan Banten untuk meredam pemberontakan. Namun, upaya tersebut gagal, pemberontakan terus berkobar. Selanjutnya, tidak diketahui bagaimana pemberontakan yang dipimpin Nuriman. Namun, pada 1811, Mas Jakaria memimpin pemberontakan dan dapat menguasai hampir seluruh kota Pandeglang. Menurut sejarawan Sartono Kartodirdjo gerakan-gerakan sosial kepribumian kerap kali menyatakan keinginan untuk menghidupkan kembali keadaan prajajahan dengan memproklamasikan kembalinya sebuah kerajaan kuno atau ditegakkannya suatu dinasti.

  • Cita-cita Sukarno Tertinggal di Jalan M.H. Thamrin

    JALAN M.H. Thamrin di Jakarta Pusat kini tampil lebih elok. Trotoar berdesain modern dan lebar terhampar di sisi kiri dan kanan untuk memanjakan para pedestrian. Lengkap dengan lampu cantik dan fasilitas pendukung untuk kaum difabel. Zebra-cross dan yellow box junction kelihatan mencolok dengan warna putih dan kuning di tiap simpangan. Marka di tengah jalan tampak cerah bagi para pengendara bermotor. “Kayak di luar negeri, ya,” kata Chairul Muttaqien, seorang pedestrian, kepada Historia.ID. Dia membawa istri dan anaknya untuk berjalan kaki malam hari di Jalan M.H. Thamrin. Dia memfoto keduanya dengan latar trotoar, lampu, dan gedung pencakar langit. Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah Jakarta memperindah Jalan M.H. Thamrin untuk menyambut Asian Games 2018. Jalan ini merupakan arena tanding untuk cabang olahraga lari Marathon. Dan kini ia jadi tempat instagramable (menarik diunggah ke Instagram) bagi warga. Puluhan tahun setelah pembuatannya kali pertama pada 1949.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page