Hasil pencarian
Cari di situs ini
10055 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Meringkus Soepardjo, Sang Jenderal Buronan
Menjelang hari Lebaran, Panglima Kodam V Jaya Brigjen Amirmachmud mendapat tugas khusus. Perintah datang langsung dari atasannya: Panglima Kostrad merangkap pimpinan sementara TNI AD Letjen Soeharto. Sudah barang tentu Amir menyanggupi. “Ketika itu beliau meminta agar saya menangkap Soepardjo pada hari Idul Fitri untuk dijadikan hadiah Lebaran bagi umat Islam Indonesia,” kenang Amir dalam otobiografinya H. Amirmachmud: Prajurit Pejuang. Sang buronan adalah perwira berpangkat brigadir jenderal, pangkat tertinggi seorang tentara yang terlibat langsung dalam Gerakan 30 September (G30S) 1965. Bersama Letnan Kolonel Oentoeng Sjamsoeri dari Resimen Tjakrabirawa, dia dituding ikut merancang penculikan sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat. Tercatat sejak Oktober 1965, Soepardjo telah masuk daftar buruan Kodim 0501 Jakarta Pusat. Untuk meringkus Soepardjo secepatnya, Amir menggelar operasi intelijen. Tim khusus dibentuk dalam operasi bersandi “kalong”. Dinamakan demikian karena tim operasi bergerak malam hari, seperti kalong. Operasi Kalong dipimpin oleh Kapten CPM Suroso. Personelnya berasal dari Kompi Raiders Kodam V Jaya yang dipersiapkan sebagai pasukan tempur. Selain itu, kelompok pengintai di bawah pimpinan Pembantu Letnan M. Afandi bertugas mencari informasi persembunyian Soepardjo. Pada 10 Januari 1967, sebagaimana dilansir majalah Angkasa vol.17, 1968, lokasi persembunyian Soepardjo diketahui berada di Komplek KKO Cilincing, Jakarta Utara. Salah seorang anggota KKO AL, Mayor Adnan Suwardi menampung Soepardjo dikediamannya. Tim Operasi Kalong bergegas menyerbu ke Cilincing. Namun Soepardjo berhasil melarikan diri menuju Halim Perdana Kusumah. Soepardjo Terciduk Pagi hari menjelang subuh 12 Januari 1967, Tim Operasi Kalong bergerak ke arah Halim. Pasukan memasuki komplek perumahan AURI pukul 05.30. Dalam penggeledahan, Soepardjo berhasil ditangkap di loteng rumah Kopral Udara Sutardjo. Soepardjo terpaksa turun dari loteng setelah seorang pasukan penangkap mengancam akan menembaknya. Selain Soepardjo turut terciduk Anwar Sanusi, seorang penulis buku pelajaran sejarah dan anggota PKI. Kabar teringkusnya Soepardjo sampai kepada Amir Machmud pada siang hari. Berita itu dilaporkan Letnan Kolonel Soedjiman ketika Amir selesai sholat Ied di lapangan Banteng. Betapa gembiranya Amir sampai-sampai dia memeluk dan mencium Soedjiman berkali-kali. Keduanya kemudian sowan ke rumah Soeharto di Jalan Agus Salim melaporkan “hadiah Lebaran” tersebut. Akhir pelarian Soepardjo yang berujung penangkapan diberitakan sebagai berkah. “Hadiah Lebaran Untuk Rakyat: Soepardjo, Anwar Sanusi berhasil dibekuk. ‘Kabut Halim’ akan semakin tersingkap,” tulis Kompas 16 Januari 1967. Dalam tajuk rencana pada hari yang sama, Kompas menanggapi penangkapan Soepardjo yang tepat jatuh pada hari Lebaran mengandung makna simbolik. Pada hari Lebaran itu umat yang berpuasa merayakan kemenangannya atas hawa nafsu yang dipatahkan selama sebulan berpuasa. “Tertangkapnya eks Brigjend Soepardjo diharapkan mematahkan jaringan operasi fisik G30S/PKI yang selama ini masih menyelinap dimana-mana. Kita percaya tindakan pembersihan akan segera dilakukan di semua jaringan,” tulis Kompas . Perwira Jujur Apakah Soepardjo penjahat sebagaimana yang disangkakan? Dua bulan setelah tertangkap, Soepardjo dihadapkan ke Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Pengadilan mendakwanya bersalah atas tindakan makar dan menjatuhi vonis hukuman mati. Ketika sama-sama dipenjara dalam Rumah Tahanan Militer (RTM) Budi Oetomo, Oei Tjoe Tat, menteri Kabinet Dwikora mengungkap sisi lain sosok Soepardjo. Oei mengenal Soepardjo sebagai Panglima Komando Tempur dalam rangka konfrontasi Malaysia di Kalimantan Barat. Dari pengakuan anak buahnya, Soepardjo adalah pribadi yang disukai, seorang militer yang setia kepada Bung Karno. “Jenderal Pardjo sebagai tahanan di RTM mendapat simpati, baik dari para petugas maupun para tahanan karena sikapnya,” ujar Oei dalam Memoar Oei Tjoe Tat : Pembantu Presiden Soekarno . Menurut Oei Tjoe Tat, Soepardjo figur perwira yang jujur dan loyal. Kepada Oei, Soepardjo pernah menyampaikan tentang adanya golongan yang serius tentang konfrontasi dan ada golongan yang cuma pura-pura saja demi duit. Oei agaknya meragukan peran Soepardjo sebagai otak dibalik G30S atau setidaknya dia dijerumuskan. “Sekiranya benar, ia tidak berniat berontak terhadap pemerintahan Sukarno,” kata Oei. Senada dengan Oei, John Roosa sejarawan University of British Columbia mengamati keganjilan keterlibatan Soepardjo dalam G30S. Roosa menyandarkan pendapatnya pada dokumen Soepardjo yang dicatat saat pelarian berjudul “Beberapa Pendapat jang Mempengaruhi Gagalnja ‘G-30-S’ Dipandang dari Sudut Militer”. Dokumen Soepardjo mengungkapkan bahwa dia bukan pimpinan gerakan dan juga tidak memimpin pasukan apapun dalam G30S. Sebagai seorang perwira militer, Soepardjo menulis kebingungannya oleh semua penyimpangan gerakan dari praktik baku kemiliteran. “Seandainya ia yang bertanggung jawab, orang dapat berharap bahwa aksi G-30-S akan menjadi operasi yang lebih profesional,” tulis Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Soeharto . Menurut Roosa, Soepardjo bukanlah salah seorang pimpinan inti G30S. Perannya sebatas sebagai perwira yang mempunyai koneksi untuk berhubungan langsung dengan Presiden Sukarno. Soepardjo sama sekali tidak menghadiri rapat-rapat perencanaan pada pekan-pekan sebelumnya. Dia tiba di Jakarta hanya tiga hari sebelum aksi dimulai. “Namun terlepas dari hal-hal yang tentu sangat mengecewakannya, ia telah menuliskan tentang G-30-S tanpa rasa dengki atau dendam,” tulis Roosa. Harian Sinar Harapan 3 Oktober 1968 mewartakan keputusan Presiden Soeharto yang menolak permohonan grasi yang diajukan Soepardjo bersama empat orang gembong G30S lainnya. Perwira bintang satu bernama lengkap Mustafa Sjarief Soepardjo itu meregang nyawa dihadapan regu tembak pada 16 Mei 1970.
- Dulu Menjegal, Kini Gagal
Setelah kalah akibat gol bunuh diri melawan Iran (19/6/2018), Maroko kembali kalah di pertandingan kedua Grup B Piala Dunia 2018, Rabu (20/6/2018), melawan Portugal. Gol tunggal Christiano Ronaldo membuat Maroko kalah sekaligus jadi tim pertama yang angkat koper dari turnamen. Sebagaimana pertandingan pertama, Maroko apes. Bermain apik, tim Singa dari Pegunungan Atlas itu mendominasi permainan. Penguasaan bola Maroko 54 persen, peluang 16 buah, dan tendangan mengarah ke sasaran empat buah. Tapi, Maroko gagal menciptakan gol. Pertandingan ini kebalikan dari pertandingan Maroko kontra Portugal 32 tahun silam di Piala Dunia Mexico, Maroko menang 3-1. Keberhasilan itu buah dari pembenahan yang dilakukan pelatih asal Brasil Jose Faria, yang dikontrak Federation Royale Morocanne de Football (FRMF), induk organisasi sepakbola Maroko, pada 1983. Faria mengutamakan pembangunan mental para pemain. Pembangunannya itu membuat Maroko tampil percaya diri dan bermain lepas di Mexico meski diremehkan banyak pihak. Kepercayaan diri, disiplin, dan sifat pantang menyerah membuat Maroko survive di Grup F yang berisi Inggris, Polandia, dan Portugal. Di pertandingan perdana (2 Juni), Maroko berhasil menahan imbang Polandia yang diperkuat Zbignew Boniek, yang bersama Michel Platini mengantar Juventus merebut Piala Champions pertamanya, 0-0. Di pertandingan kedua, Maroko kembali berhasil menahan imbang 0-0 tim favorit juara Inggris. “Para pemain Maroko seharusnya mengambilalih permainan dan memenangkannya. Tapi mereka terlalu bersemangat masuk ke dalam cangkang, puas dengan hasil imbang; dan Inggris selamat,” tulis Brian Gianville dalam The Story of the World Cup: 2018 . Maroko mesti menang di pertandingan ketiga untuk bisa lolos ke babak berikutnya. Hal serupa juga berlaku pada Portugal, semifinalis Piala Eropa 1984. Keduanya sama-sama baru mengoleksi poin dua. Maka, ketika Maroko dan Portugal bertemu di Stadion Tres de Marzo, 11 Juni 1986, keduanya sama-sama ngotot. Saling serang terjadi sejak babak pertama. Namun, tekanan membuat permainan Portugal tak berkembang maksimal. Sebaliknya, sebagai underdog Maroko tampil tanpa beban sehingga berhasil mendominasi pertandingan. Di menit ke-19, striker Abderrazak Khairi langsung memanfaatkan salah umpan bek Portugal Jaime Pacheco dengan melesakkan tendangan dari luar kotak penalti. Kiper Portugal Vitor Damas gagal menahannya sehingga Maroko unggul 1-0. Tujuh menit kemudian, Khairi kembali merobek gawang Damas setelah berhasil menyelesaikan umpan silang bek kanan Labid Khalifa dengan tendangan voli first time . Tertinggal 0-2, Portugal meningkatkan serangan di babak kedua. Kerjasama apik António Sousa dan Fernando Gomes tak lama setelah babak kedua dimulai hampir membuahkan hasil. Sayang tendangan keras Sousa dari luar kotak penalti ditepis kiper Maroko Badou Zaki. Unggul 2-0 tak membuat Maroko mengendurkan serangan di babak kedua. Sebuah kerjasama apik empat pemain yang dimotori Mohammed Timoumi pada menit ke-62 behasil memporak-porandakan pertahanan Portugal. Diakhiri oleh umpan silang Timoumi, striker Abdelkarim Merry menyelesaikannya dengan baik. Maroko unggul 3-0. Portugal baru bisa memperkecil kedudukan lewat Diamantino di menit ke-80. Kemenangan itu tak hanya mematahkan pandangan miring publik terhadap Maroko. “Maroko menciptakan sejarah bukan semata menjadi negara Afrika pertama yang mencapai babak gugur Piala Dunia tapi juga sebagai juara grup,” tulis Somnath Sengupta dalam “How Morocco’s 1986 World Cup Campaign Changed African Football Forover”, dimuat thesefootballtimes.co . Meski kalah dari Jerman Barat di babak berikutnya, para pemain Maroko mendapat sambutan meriah begitu tiba di tanah air. Tak hanya rakyat yang merayakannya di jalan-jalan, Raja Hasan II dan keluarganya bersuka cita di istananya. Pencapaian itu masih jadi prestasi terbaik Maroko di Piala Dunia hingga kini. “Belum pernah terjadi dalam sejarah sepakbola dunia sebuah negara Dunia Ketiga atau tim Afrika menjadi juara grup, padahal ini merupakan grup kuat. Banyak orang berharap kami kalah tapi banyak orang justru kalah di taruhan. Kami bisa pulang sekarang. Seolah-olah kami sudah menang Piala Dunia,” ujar Faria sang pelatih yang amat gembira usai pertandingan.
- Mendamba Kecantikan, Menggadaikan Kesehatan
KULIT putih terang, halus, dan bersih menjadi dambaan banyak orang sejak lama. Resep-resep memutihkan kulit pun sudah ada sejak zaman baheula . Di Indonesia, resep mujarab memutihkan kulit didapat dengan rutin menggunakan bedak dingin yang terbuat dari tepung beras. Di masa berikutnya, muncul produk-produk pemutih kulit mengandung bahan kimia. “Kalau dibilang tidak sehat, ya pasti tidak sehat. Orang tadinya hitam lalu ingin putih, itu hal yang mengubah struktur kulit. Tapi selama tidak sehatnya hanya sedikit ya tidak apa-apa,” kata Sjarief Wasitaatmadja, salah satu dokter kosmetik medik pertama di Indonesia, kepada Historia . Pada 1970-an, produk kosmetik yang merusak kulit dan meracuni tubuh banyak beredar baik produk impor maupun produk lokal yang dibuat dengan formula warisan kolonial. Kosmetik itu umumnya mengandung zat-zat kimia yang berpotensi merusak kulit. Pasalnya, kala itu kesehatan kulit belum diperhatikan betul, hanya asal cantik saja. Sebagai contoh, krim pemutih kulit ada yang mengandung merkuri. Alih-alih memutihkan dan menghaluskan, krim justru merusak kulit dan tubuh. “Bahkan, ada yang sampai bengkak dan bernanah,” kata Retno Iswari Tranggono dalam biografinya yang ditulis Jean Coutetau, The Entrepreneur Behind The Science of Beauty . Produk bermerkuri memiliki efek yang sangat berat. Selain merusak kulit, logam berat merkuri bisa mengendap di otak, ginjal, dan lever. “Merkukri dilarang, soalnya beracun. Zaman dulu jangankan berbahaya, bahan yang bikin mati saja dipakai. Zaman dulu kan pengetahuannnya belum banyak. Tapi setelah dilakukan penelitian, orang tahu kalau itu berbahaya,” kata Sjarief. Krim pemutih bermerkuri sudah digunakan semasa Dinasti Tudor Inggris pada 1500-an. Kala itu kulit putih pucat didamba para bangsawan. Kulit putih pucat seolah menjadi penanda bahwa para bangsawan tak pernah kena sinar matahari dan bekerja fisik. Alhasil, mereka mempunyai kulit yang putih pucat laiknya mayat. Konon, Ratu Elizabeth I menggunakan kosmetik untuk memutihkan kulitnya. Kosmetik itu dibuat dari ramuan putih telur, tawas, boraks, dan biji poppy (bahan dasar opium) yang ditumbuk dan diberi air. Ramuan itu akan bertahan selama satu tahun dan konon ratu menggunakannya seminggu tiga kali. Sementara kelas di bawahnya, yakni para bangsawan, menggunakan bedak ( ceruse ) untuk membuat kulit terlihat putih. Tidak hanya perempuan, lelaki pun ingin memutihkan kulit mereka sebagai penanda status sosial. Mereka ramai-ramai membedaki wajah dan berjalan penuh kecongkakan tanpa tahu kalau kosmetik mereka beracun. Lama-kelamaan, kosmetik ini membuat kulit berjerawat dan pemakainya mengalami kerontokan rambut. Kulit pemakainya pun tidak lagi berwarna putih pucat, tapi jadi keabu-abuan. Beberapa kasus kronis menyebabkan pemakainya meninggal. Annette Drew-Bear dalam Painted Faces on the Renaissance Stage menulis, bedak yang digunakan para bangsawan mengandung logam berat. Salah satu bahan yang banyak digunakan di era itu adalah boraks dan merkuri yang berbahaya untuk tubuh. Di Amerika, ahli saraf Universitas Harvard Allen Counter, menemukan bahwa di Arizona, California, dan Texas, ratusan perempuan keturunan Meksiko menderita keracunan merkuri. Pemicunya tak lain penggunaan krim pemutih kulit. “Merkuri sebenarnya pemutih yang bagus tapi itu berbahaya. Soalnya merkuri mematikan semuanya, ya pigmen mati, ya orangnya mati. Ha-ha-ha,” kata Sjarief berkelakar. “Kalau digunakan dalam waktu lama, semua syaraf dan organ bisa mati karena keracunan. Merkuri dalam jumlah sedikit saja berbahaya,” sambung Sjarief dengan nada serius. Di Indonesia, salah satu pemutih kulit yang populer tahun 1970-an adalah krim mutiara ( pearlcream ), dari Tiongkok. Krim mutiara dipakai sebagai alas bedak dan krim menjelang tidur. Daya pemutihnya pada kulit sangat kuat. Namun, ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan kulit putih dengan krim ini. Pasalnya, krim mutiara mengandung merkuri. Merkuri yang masuk ke dalam tubuh bisa meracuni ginjal, saraf, dan darah. Efeknya bisa merusak organ tubuh secara permanen. Kulit pengguna juga bisa kemerahan bahkan bengkak hingga bernanah. Pemerintah Indonesia melarang penggunaan pemutih berbahan merkuri pada 1970-an. Ada risiko besar yang harus ditanggung kala usaha memutihkan kulit berujung nestapa. Sebab, pada dasarnya memutihkan kulit menyimpan risiko kesehatan alih-alih mencapai kecantikan ideal yang didamba entah siapa. “Orang Indonesia banyak yang ingin kulit putih. Itu sebenarnya tidak sehat,” kata Sjarief.
- Yang Diceraikan Jelang Hajatan
KALAU seorang pelatih gagal mengantarkan timnya lolos Piala Dunia dan dipecat atau mengundurkan diri, itu biasa. Tapi, kalau pelatih sudah meloloskan timnya namun batal mendampingi di hajatan akbar Piala Dunia gara-gara PHK atau resign , ini perkara langka. Julen Lopetegui mengalaminya baru-baru ini hingga menggegerkan jagat sepakbola dunia. Pelatih timnas Spanyol itu dipecat dua hari jelang Piala Dunia 2018. RFEF (Federasi Sepakbola Spanyol) terpaksa memecatnya akibat Julen meneken kontrak dengan Real Madrid tanpa sepengetahuan manajemen RFEF. “Tapi kami sudah mengetahuinya lima menit sebelum Real Madrid mengumumkannya,” ungkap Ketua RFEF Luis Rubiales, dikutip El Pais , Rabu (13/8/2018). Untuk sementara, tim Matador akan didampingi Direktur Olahraga RFEF Fernando Hierro sebagai caretaker sepanjang turnamen. Ini kejadian yang sangat tidak lazim dalam sejarah Piala Dunia. Selain Lopetegui, ada empat pelatih lain yang juga batal memimpin timnya dari pinggir lapangan: Vahid Halilhodzic, Carlos Queiroz, Amodu Shaibu, dan Philippe Troussier. Vahid Halilhodzic Vahid Halilhodzic diceraikan Pantai Gading dan kini Jepang jelang Piala Dunia/Foto: Wikimedia Halilhodzic lebih dulu mengalami kepahitan ketimbang Lopetagui. Pelatih Bosnia berusia 66 tahun ini pada 2008 dipercaya membangun sepakbola Pantai Gading. Halilhodzic sukses membimbing Didier Drogba cs. melalui kualifikasi Piala Dunia 2010 tanpa kekalahan. Begitupun di kualifikasi Africa Cup of Nations (Piala Afrika) 2010. Sial, di Piala Afrika Angola 2010, Pantai Gading tersingkir 2-3 dari Aljazair di perempatfinal. Publik Pantai Gading kecewa. Seketika, Halilhodzic dipecat pada 27 Februari 2010 atau empat bulan jelang Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Jelas,dia tak terima.“Saya kalah sekali dari 24 laga terakhir dalam dua tahun dan sekarang saya dikorbankan. Keputusan itu murni politis,” kata Halilhodzic, dikutip harian L’Equipe , 28 Februari 2010. “Ketika kalah, para politisi mulai menghujani kami dengan tekanan. Mereka takkan mengorbankan pemain atau ofisial dari tim. Yang dikorbankan adalah pelatih,” imbuhnya. Kesialan kembali menimpanya ketika Halilhodzic menukangi Jepang pada 2015 dan berhasil membawa tim itu lolos ke Piala Dunia 2018. Dua bulan jelang turnamen, Halilhodzic dipecat. Kekalahan 1-4 dari Korea Selatan pada laga terakhir gelaran EAFF E-1 Championships medio Desember 2017 jadi penyebabnya. Pujiannya terhadap Korea pasca-pertandingan bikin murka petinggi JFA. Carlos Queiroz Carlos Manuel Brito Leal Queiroz/Foto: fifa.com Untuk keempat kalinya, pria Portugal ini kembali ke Piala Dunia. Tahun ini, Queiroz mendampingi timnas Iran sebagaimana empat tahun sebelumnya bersama negara kelahirannya Portugal di Piala Dunia 2010. Namun dari segudang pengalamannya di Piala Dunia, ada satu kegetiran. Mestinya Queiroz bisa menggulirkan debutnya sebagai pelatih di Piala Dunia pada 2002 bersama timnas Afrika Selatan (Afsel). Beberapa bulan jelang hajatan akbar di Jepang dan Korea Selatan, Queiroz mengundurkan diri setelah sebelumnya mengantarkan tim Bafana Bafana lolos kualifikasi. Pada 12 Maret 2002, sebagaimana dilansir panapress.com, Queiroz mundur lantaran SAFA (Federasi Sepakbola Afsel) kekeuh menempatkan sosok Direktur Teknik Jomo Sono. SAFA dan Queiroz kerap tak sependapat dalam seleksi pemain. Afsel berangkat ke Korea-Jepang dengan Jomo Sono sebagai penggantinya. Amodu Shaibu Amodu Shaibu/Foto: Signal NG Shaibu Amodu tak pernah menyangka perhelatan pendahuluan macam Piala Afrika bisa menentukan nasib di Piala Dunia. Setelah susah payah mengantarkan Nigeria lolos kualifikasi Piala Dunia 2002, dia mesti gigit jari akibat dipecat pada 18 Februari 2002. “Setelah performa yang mengecewakan di Piala Afrika, Amodu dipecat. Menurut Menteri Olahraga Ishaku Mark Aku, sang pelatih disebutkan kurang berkomitmen dan disiplin dalam turnamen itu,” ungkap Michael Lewis dalam World Cup Soccer: Korea/Japan 2002. Di turnamen itu, Nigeria tersingkir di semifinal setelah dibekap Senegal, 1-2. “Saya tak pernah mengira dihakimi seperti ini setelah Piala Afrika. Andai saya memenangkannya, takkan ada yang berkata negatif tentang saya,” kata Shaibu kala diwawancara BBC , 26 Februari 2002. Nigeria akhirnya ditemani pelatih pengganti Festus Onigbinde di Piala Dunia 2002. Amodu kembali mengasuh Nigeria pada 2008-2010 dan 2014-2015. Philippe Troussier Philippe Omar Troussier/Foto: fifa.com Pelatih asal Prancis Philippe Troussier turut merasakan habis manis sepah dibuang tak lama setelah meloloskan Nigeria ke Piala Dunia 1998. NFA, kini NFF (Federasi Sepakbola Nigeria) lebih menginginkan pelatih dengan pengalaman lebih. Velibor ‘Bora’ Milutinovic akhirnya dipilih menggantikan Troussier. “Kami telah membatalkan kontrak Troussier karena kami merasa secara teknis dia kurang cocok untuk mendampingi Eagles (julukan Nigeria) ke Piala Dunia di Prancis tahun depan,” terang Ketua NFA Abdulmumuni Aminu, disitat Panafrican News Agency , 25 September 1997. Namun Dewi Fortuna tetap berpihak kepada Troussier. Dia tetap berangkat ke Piala Dunia 1998 mendampingi timnas Afsel. Tak lama kemudian, Nigeria mencoba kembali mendatangkan Troussier sepeningal Milutinovic. Sialnya, usaha mereka pada 2004 gagal. Pun begitu sedekade berselang (2014).
- Akar Seteru Suporter Oranye dan Biru
HAMPIR tiap kali Persija dan Persib hendak bertanding, kekhawatiran akan tawuran antara kedua kelompok suporter militan mereka, Jakmania (Persija) dan Viking (Persib), mencuat. Entah sudah berapa kali seruan damai ditujukan pada keduanya, toh perdamaian mutlak belum belum juga muncul di antara keduanya. Perseteruan dua kelompok suporter besar ini nyaris seusia The Jakmania yang lahir pada 1997. Padahal, Jakmania dan Viking awalnya merupakan kawan. “Sebelum-sebelumnya enggak pernah bentrok, karena Viking sendiri lahir 1993, sementara The Jak baru 1997, kan,” ungkap Bobotoh cum pengamat hukum olahraga Eko Noer Kristiyanto kepada Historia. Persahabatan itu berjalan hingga awal 2000. Ketua Umum Jakmania Tauhid Ferry Indrasjarief ingat betul masa-masa indah itu. “Kita pernah sambut Bobotoh di Jakarta. Mereka pulang, kita iring-iringan nyanyi ‘Halo-Halo Bandung’ sampai tukeran kaos segala,” ujar Ferry kepada Historia . Beberapa waktu kemudian, ketika Jakmania diserang di Stadion Siliwangi, lanjut Ferry, “Viking malah dulu yang dekat sama kita, berusaha jaga.” Namun, perdamaian itu mulai retak oleh ulah “penumpang gelap”. Akar masalahnya, kata Ferry, mulai muncul pasca-Persib bertandang ke Jakarta tahun 2000. “Dulu itu sejarahnya waktu kita sambut Bobotoh di Jakarta. Sempat ada benturan kecil, tapi akhirnya damai,” kata Ferry. Setahun kemudian, insiden kembali terjadi ketika ratusan Jakmania mengawal Persija bertandang ke Stadion Siliwangi, Bandung. “Di situ kan banyak yang bukan Viking. Terjadi keributan, dua anggota kita kepalanya bocor dan gegar otak,” sambung Ferry. Sejumlah oknum Viking memperparah keadaan dengan menyerang anggota Jakmania di Cimahi beberapa saat kemudian. Jakmania kala itu tengah mengawal Persija berlaga kontra Persikab Bandung. Dari situlah timbul saling dendam. “Meluas karena pemberitaan media, TV. Anak-anak yang nggak datang ke Bandung ikut sakit hati, timbullah kebencian yang lebih luas. Sampai ada kejadian lagi di Kuis Siapa Berani,” ujar Ferry menjelaskan. Insiden yang terjadi 28 Juli 2003 itu mengakibatkan sembilan anggota Viking luka-luka. Upaya Damai Upaya untuk berdamai dari masing-masing kubu bukan tidak ada. Ferry sendiri sudah tiga kali melancong ke Bandung, dua kali bertemu pentolan Viking dan sekali bersua pimpinan Bomber (Bobotoh Maung Bandung Bersatu). Namun diakui Ferry, sulitnya perdamaian juga disebabkan oleh kondisi “panas” di garis perbatasan macam Bogor, Depok atau Bekasi. Para penggila bola di daerah-daerah itu juga terpecah antara oranye (Jakmania) dan biru (Viking). Tauhid Ferry Indrasjarief, Ketua Umum Jakmania/Foto: Randy Wirayudha “Sudah pernah juga saya diskusikan dengan pimpinan Viking. Terutama yang di Bekasi dan Bogor, juga kondisinya sulit. Saya pernah ingin temui pentolan Viking di Bogor, tapi mereka belum bisa nentuin waktunya kapan bisa ketemu,” sambungnya. Pihak ketiga, mulai kepolisian hingga kementerian, juga sudah berkali-kali mencoba jadi mediator. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bersama PSSI, misalnya, memediasi pada Agustus 2017. “Mari kita sudahi hal-hal yang menyakitkan,” seru Menpora Imam Nahrawi dalam pembukaan gelar jumpa suporter, 3 Agustus 2017, dikutip situs kemenpora.go.id. Sayang, kala itu Ferry justru enggan hadir. “Karena gue mau (upaya silaturahim) ini datang dari bawah, bukan dari atas. Bukan dari orang pemerintahan, politik, atau kepolisian. Kalau mau damai, kita bicara kelompok A dan B. Dengan dipertemukan pihak ketiga belum tentu lebih baik. Karena kalau ketemu, polisi, pejabat, itu bisanya cuma bilang damai-damai, dinasihatin, ayo tanda tangan, ikrar. Nggak bisa begitu menurut gue,” jelas Ferry. Pernyataan Ferry ada benarnya. Itu bisa dibuktikan dari fakta singkatnya usia perdamaian yang disepakati ketua Jakmania Larico Ranggamone dan Ketua Umum Viking Heru Joko di Bogor, 11 April 2014. Perdamaian yang diinisiasi Wakapolda Jabar Brigjen Rycko Amelza Dahniel dan Wakapolda Metro Jaya Brigjen Sujarno itu kembali rusak pada 27 Mei 2014 kala keduanya kembali bentrok hingga menewaskan tiga orang. Bentrokan berlanjut 9 November 2014, rombongan 20 bus Viking diserang di Tol JORR (Jakarta Outer Ring Road). “Ada yang melestarikan permusuhan ini, tapi saya tidak tahu siapa,” cetus Larico, dikutip Detik , 17 Oktober 2015. Perdamaian hanya bisa terjadi bila akar rumput bisa “dididik” sehingga kebencian dari segala hal bisa dihilangkan. Baru setelah itu bicara rekonsiliasi. “Kita bicara lagu rasis dulu deh. Itu harus dihilangkan. Itu yang membuat luka makin melebar. Hate speech di kaos, spanduk, media sosial juga harus dihilangkan dulu. Harus ada pendekatan psikologis. Digali nuraninya, apa mau sampai kiamat? Daripada dikasih doktrin-doktrin damai. Artis saja banyak yang disuruh damai tapi cerai-cerai juga tuh ,” canda Ferry. n
- Bukber di Gedung Putih
SETELAH sekian lama absen, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyambung tradisi buka puasa bersama (bukber) di Gedung Putih, Washington, DC Rabu (6/6/2018) waktu setempat (Kamis, 7 Juni WIB). Ini kali pertama Trump menjamu puluhan duta besar negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, termasuk Duta Besar RI Budi Bowoleksono. “Kami merasa sangat terhormat dan terimakasih banyak atas kehadiran Anda semua. Kepada Anda dan muslim di seluruh dunia: Ramadan Mubarak . Makan malam Iftar (buka puasa) adalah saat di mana keluarga dan para sahabat merayakan pesan perdamaian dan kasih,” cetus Trump dalam potongan pidatonya yang dimuat whitehouse.gov , 6 Juni 2018. Ramadan tahun lalu, Trump mengabaikan tradisi bukber di Gedung Putih. Kala itu Trump masih “alergi” dengan dunia Islam, yang diperlihatkan sejak masa kampanyenya. Pernyataan Trump acap bikin sakit hati umat Islam. Yang paling bikin resah adalah rencananya melarang muslim masuk AS dan umat Islam yang ada di AS akan disensus. Kalau perlu, diberi tanda laiknya orang Yahudi di era Nazi. Sayang, dalam bukber tahun ini Trump tak mengundang perwakilan komunitas muslim di negerinya sendiri. Di masa-masa sebelum Trump, mereka selalu ikut diundang. Termasuk di masa kepresidenan George Walker Bush, saat hubungan AS dengan dunia Islam berada di titik nadir gara-gara Tragedi 11 September 2001. Bush memang sempat membatalkan tradisi bukber, namun Bush kembali menghelat bukber di tahun berikutnya (2002). “Sejumlah organisasi muslim menduga Bush membatalkan Iftar karena khawatir dirinya dikritik oposisi pro-Israel karena telah bersosialisasi dengan muslim,” ungkap Theodore Gabriel dan Jane Idleman Smith dalam Islam and the West Post 9/11. Dirintis Thomas Jefferson Bukber pertamakali masuk Gedung Putih pada 9 Desember 1805, ketika Presiden Thomas Jefferson menjamu Sidi Soliman Melli Melli, utusan Beylik Tunisia, negara bagian otonom Kekaisaran Turki Ottoman. Bukber itu bersifat informal lantaran hanya pelengkap dari jamuan Jefferson. Jefferson mengundang Melli Melli untuk membicarakan pembajakan di kawasan Laut Mediterania pasca-Perang Barbaria I (1801-1805), perang laut antara AS, Swedia, dan Kerajaan Sisilia (kini bagian dari Italia) di satu pihak melawan Kesultanan Tripolitania (Libya) dan Maroko di pihak lain. Pembicaraan itu akan dibarengi makan bersama. Frederick William Dame dalam The Muslim Discovery of America membeberkan bahwa sebelumnya Melli Melli dengan sopan menolak memenuhi undangan ke Gedung Putih itu lantaran masih berpuasa. Jefferson lalu menunda undangan makan bersama hingga pukul 3.30 petang di waktu matahari terbenam. Dia berharap Melli Melli bersedia datang sembari berbuka puasa bersama. Jefferson memahami Islam karena telah mempelajarinya sejak masih studi tentang hukum alam. Sejak 1765, dia mempelajari dua jilid Al-Quran terjemahan bahasa Inggris. Koleksi dua Al-Quran-nya itu kini tersimpan di Perpustakaan Kongres. Pemahaman terhadap Islam ini membantu pembicaraannya dengan Melli Melli. Alhasil, negosiasi berjalan lancar. Sejumlah kapal dagang AS yang dibajak pun dikembalikan dan perdamaian dari Traktat Tripoli pasca-Perang Barbaria I tetap lestari. Bukber yang dirintis Jefferson sayangnya tak dilanjutkan presiden-presiden setelahnya lantaran memang resepsi Iftar itu bukan acara resmi. Amerika juga belum memiliki banyak hubungan diplomatis dengan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim kala itu. Tradisi ini baru jadi agenda resmi lebih dari 200 tahun berselang. Tepatnya di masa kepresidenan Bill Clinton, bukber di Gedung Putih menjadi acara resmi untuk pertama kalinya. Pada 20 Februari 1996, Ibu Negara Hillary Clinton juga menjadi tuan rumah perayaan Idul Fitri pertama di Gedung Putih. “Perayaan itu adalah hal baik dari apa yang saya dan suami saya pelajari tentang Islam. Semua itu juga (gagasannya) datang dari putri saya (Chelsea Clinton). Dia pernah belajar tentang sejarah Islam setahun lalu,” tutur Hillary, dikutip Nicholas J. Cull dalam The Decline and Fall of the United States Information Agency .
- Kegetiran di Balik Penemuan Obat Jerawat
KETIKA bintik merah menghiasi wajah, beberapa orang akan langsung lari ke dokter kulit. Biasanya dokter akan meresepkan tretinoin dosis rendah dalam bentuk obat oles sebagai pengobatan jerawat. Bila pengobatan belum berhasil, dosis tretinoin ditingkatkan dalam bentuk obat minum. Tretinoin merupakan nama umum dari Retin-A, turunan vitamin A yang bersifat asam. Asam vitamin A membantu mengelupas kulit dan meningkatkan kolagen sehingga memperbaiki kulit rusak dan mempercepat penyembuhan jerawat. “Sejauh ini tretinoin yang paling jadi andalan. Obat oralnya buat akne (jerawat) bagus banget. Tetapi boleh diresepkan bila dosis di bawahnya tidak mempan karena efek sampingnya juga berat,” kata Sjarief Wasitaatmadja yang sudah menjadi dokter kulit sejak 1970-an. Sjarief menyayangkan beberapa dokter langsung memberikan tretinoin oral untuk pasien. Sebab, efek tretinoin cukup berat, seperti cacat janin bila dikonsumsi perempuan hamil. Untuk mengurangi kesalahan dan risiko pengobatan jerawat, Sjarief beserta beberapa rekannya di Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Seluruh Indonesia (Perdoksi) membuat Kelompok Studi Dermatologi Kosmetik yang memberikan bimbingan pengobatan jerawat pada para dokter muda. Penggunaan tretinoin dalam pengobatan jerawat di Indonesia dimulai ketika ilmu kosmetik medik muncul pada dekade 1970-an, tak lama setelah dokter kulit asal Amerika Albert Kligman menemukan obat jerawat berbahan tretinoin. Jerawat sebagai masalah kulit yang pasti diderita semua orang sekali seumur hidup, dulunya dianggap bukan penyakit. Jerawat ditangani dengan dipencet dan diberi sulfur. Penemuan yang Penuh Kegetiran Penemuan tretinoin sebagai obat jerawat bermula dari ketertarikan Kligman, profesor di Universitas Pennsylvania, Amerika untuk mempelajari zat turunan dari Vitamin A pada 1960-an. Para peneliti Eropa jauh sebelumnya memang telah melakukan riset tentang tretinoin, tapi menurut mereka zat ini terlalu keras untuk kulit. Kligman bersama rekan-rekannya menemukan dosis yang tepat dalam penggunaan tretinoin sehingga aman digunakan sebagai obat pada 1967. Penemuan ini dilisensikan untuk perusahaan farmasi Johnson & Johnson yang memasarkan Retin-A pada 1971. Tapi penelitian Kligman menyimpan kegetiran. Sejak 1951-1974 penelitian medis di Amerika Serikat menggunakan narapidana sebagai kelinci percobaan. Para napi di penjara Holmesburg, Pennsylvania, dibayar untuk menguji beberapa kandungan zat dari yang paling remeh seperti bahan pembuat deodoran dan sampo sampai bahan radioaktif, halusinogenik, dan beracun. Para tahanan bahkan harus siap bersinggungan dengan patogen penyebab infeksi kulit, herpes, dan jamur. Allen M. Hornblum dalam artikelnya “A Conspiracy of Silence” yang dimuat dalam Journal of Clinical Research Best Practice April 2006, menyebut lebih dari 30 perusahaan farmasi dan beberapa lembaga pemerintah ada di balik praktik kejam ini. "Uang adalah alasan utama para narapidana mau berpartisipasi dalam program itu. Mereka membutuhkan uang untuk keluarga mereka dan kebutuhan hidup,” kata Gerd Plewig ketika diwawancara Hornblum tahun 1996. Plewig adalah murid Kligman dari tahun 1967 hingga 1970. Dia salah satu dokter kulit yang ikut dalam riset medis di Penjara Holmesburg. Plewig kemudian menjadi ketua Departemen Dermatologi di Universitas Munich, Jerman, sebuah posisi penting di kalangan dokter kulit Eropa. Menurut Plewig, Holmesburg adalah tempat kelahiran tretinoin sebagai obat jerawat. Ketika masih menjadi murid Kligman, dia mengkhususkan diri pada perawatan jerawat. Riset utama Plewig adalah retinoid (tretinoin) untuk terapi obat. “Prapengujian untuk keamanan dan toleransi dosis retinoid dilakukan di penjara. Uji klinis pertama di laboratorium baru dilakukan setelahnya,” kata Plewig. Untuk membayar penemuan bahan obat jerawat paling andalan ini para napi yang menjadi sukarelawan harus rela mengalami pengelupasan kulit hebat, bahkan luka. Studi medis yang melibatkan napi kemudian berakhir pada dekade 1970-an. Pemicunya bukan eksperimen retinoid, melainkan dioxin, zat beracun yang digunakan militer Amerika selama Perang Vietnam. Kligman, pemimpin riset di Holmesburg, selain melakukan riset tentang penyembuhan jerawat juga bereksperimen dengan dioxin. Kligman memaparkan zat dioxin dosis tinggi pada sekira tujuh puluh napi Holmesburg. Riset ini dibiayai Dow Chemical, yang membayar Kligman 10 ribu dollar Amerika pada 1965-1966. Pada 1980-an, seperti ditulis Keramet Reitert dalam artikelnya “Experimentation on Prisoners: Persistent Dilemmas in Rights and Regulations”, dimuat di jurnal hukum universitas California, dua tahanan menuntut Dow Chemical. Mereka mengaku masih mengalami bekas luka, lecet, kista, dan ruam sampai 15 tahun pasca-percobaan. "Kligman samasekali tidak peduli tentang para tahanan di Holmesburg dan masalah etika eksperimennya pada mereka,” kata Bernard Ackerman, ahli fisika yang tak sepakat dengan studi medis Kligman di penjara. Tingginya protes dan laporan dampak buruk dalam ujicoba medis membuat pemerintah menutup Penjara Holmesburg pada 1975. Tiga tahun setelahnya, keluar peraturan federal yang melarang ujicoba studi medis berisiko tinggi pada manusia, termasuk napi. Sementara Kligman dan Johnson & Johnson mendapat untung besar dari penemuan retinoid dan mendunianya penemuan mereka, para napi menanggung luka. Ada kegetiran yang harus ditanggung untuk sebuah resep mujarab menghaluskan kulit.*
- Jakmania Milik Semua Masyarakat Ibukota
PADA 22 Juni nanti, Jakarta akan menginjak usia 491 tahun. Ibukota makin disesaki manusia dari berbagai daerah. Sejak masih bernama Sunda Kelapa pun, kota ini sudah jadi tempat mukim orang dari bermacam etnis, mulai Sunda, Jawa, Melayu, Ambon, Tionghoa hingga Eropa. Dari percampuran banyak etnis itu, muncullah etnis baru bernama Betawi. James Minahan dalam EthnicGroupsofSouthAsiaandthePacific : AnEncyclopedia menyebutkan, percampuran itu terjadi sejak 1619 ketika VOC, kongsi Dagang Belanda, berkuasa dan menamakan daerah itu Batavia. Etnis Betawi mendominasi Batavia pasca-Geger Pecinan 17 Oktober 1740. Semasa kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin (1966-1977), etnis Betawi dan budayanya dijadikan identitas Jakarta. Seiring putaran waktu dan kencangnya arus urbanisasi, Jakarta tak lagi “milik” masyarakat Betawi saja. Jakarta menjadi etalase slogan Bhinneka Tunggal Ika. Jakarta bukan milik satu etnis. Pun Persija Jakarta sebagai klub kebanggaan ibukota. Prinsip itu yang ingin digulirkan Tauhid Ferry Indrasjarief ke dalam Jakmania, suporter setia Persija. Bung Ferry, begitu dia biasa disapa, ingin masyarakat Ibukota yang berbeda-beda suku tetap satu dukungan, untuk Persija. Ferry pertama kali jadi panglima saat menggantikan Gugun Gondrong. Pria bernomor anggota JM 002 itu lalu bertahan sebagai tampuk pimpinan berturut-turut mulai 1999-2001, 2001-2003, dan 2003-2005. Lewat Musyawarah Luar Biasa Jakmania Januari 2017 lalu, Ferry kembali terpilih sebagai ketua umum (ketum) periode 2017-2020. Kecintaan putra Betawi namun kelahiran Bandung, 18 Februari 1965, itu terhadap tim Macan Kemayoran bersemi seiring seringnya diajak menonton tim nasional main oleh sang kakek, Mujeran. “Kakek orang Betawi asli Petojo. Dulu dia yang sering ajak nonton timnas (Indonesia). Di timnas saat itu ada sembilan pemain Persija. Dari situ gue mulai suka dengan Persija,” ungkap Bung Ferry kala ditemui Historia di kediamannya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Diakui Bung Ferry, sejak masa sekolah hingga kuliah, belum ada pendukung Persija yang terorganisir. Baru di era 1990-an muncul Persija Fans Club, berasal dari kalangan artis dan keluarga pemain Persija. “Tapi kemudian hilang begitu saja,” lanjutnya. Kawan suporter asal ibukota Bung Ferry pun hanya dari Commandos, kelompok pendukung Pelita Jaya. Bersama sebagian dari mereka, Bung Ferry mendirikan The Jakmania pada 19 Desember 1997. Dengan markas pertama di Stadion Menteng, mereka beberapa kali kena gusur sehingga pindah ke Stadion Lebak Bulus, GOR Ciracas, dan kini Stadion Soemantri Brodjonegoro di Kuningan, Jakarta Selatan. Menembus Sekat Kultural Diakui Ferry, Jakmania sebagaimana gambaran masyarakat di ibukota “demografinya” sangat heterogen. Itu yang membedakan dari Persija Fans Club yang kental unsur ke-Betawi-annya. Semasa PFC, Persija sempat berganti julukan jadi “Si Jampang”. Oleh karena itu, Ferry menegaskan, Jakmania tak terbentur sekat-sekat kesukuan atau budaya laiknya Bobotoh yang kental dengan nyunda -nya atau Bonek yang identik dengan Arek-Arek Suroboyo. “Jakmania itu mendobrak kultur dan mengusung kultur baru. Tidak harus sepakbola itu dijadikan perang antarsuku (di lapangan). Tidak harus orang Sunda (di ibukota) dukung Persib. Ketika elo tinggal di Jakarta, cari makan di Jakarta, ayo kita sama-sama dukung Persija, tim yang ada di kota elo. Kita didik generasi kedua para pendatang dengan pendekatan itu dan itu berhasil. Kulturnya jadi nyatu semua, karena mereka semua kan tinggal di Jakarta,” tuturnya lagi. Tauhid Ferry Indrasjarief, Ketua Umum The Jakmania/Foto: Randy Wirayudha Oleh Ferry dan jajarannya, prinsip itu terus “dipropagandakan” dengan slogan yang tertera di kaos-kaos Jakmania. Dalam kaos angkatan pertama, “Gue Anak Jakarta”, bukan “Gue Anak Betawi”, pimpinan menyemai prinsip Persija bukan milik orang Betawi saja tapi milik orang Jakarta. Lewat kaos di tahun kedua, “Satu Jakarta Satu”, pimpinan Jakmania bertujuan menghilangkan tawuran. “Sesama The Jak dilarang tawuran, tabu buat kita. Alhamdulillah dampak tawuran antarsekolah ikut berkurang, tinggal tawuran antarkampung yang belum,” imbuh Ferry. Seiring bertambahnya massa Jakmania, Ferry mengakui tugasnya kian berat di periode keempat. Tantangan terberatnya, menjaga kesolidan Jakmania di tengah bermunculan kelompok-kelompok anyar. “Heterogennya makin kuat di Jakmania. Tapi yang penting bagaimana caranya agar tetap nyatu , walau dia alirannya Ultras, Hooligans atau apa. Makanya gue bikin lagu, “Persija Menyatukan Kita Semua”. Karena menurut gue di Jakarta harus tetap ada satu payung yang mengayomi mereka semua,” tambah Bung Ferry. Jakmania, sebagaimana diinginkan Ferry, mesti jadi jembatan antara suporter, klub, dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Selain tetap kritis terhadap prestasi klub, Jakmania juga sudah lama menantikan janji-janji birokrat terkait stadion pasca-digusurnya Stadion Menteng (2006) dan Lebak Bulus (2015). “Sudah kenyang janji. Dari zaman Bang Yos (Gubernur DKI Sutiyoso) sampai Anies (Baswedan), dibilangnya akan ada stadion baru, tapi tetap nggak ada realisasinya. Mungkin kalau ada gubernur yang namanya Bandung Bondowoso, mungkin. Dia kan bikin seribu candi aja bisa dalam satu malam. Dia bikin stadion, nggak pake izin pasti langsung bangun, hahaha …,” canda Bung Ferry menutup obrolan.
- Lakon Soeharto, Si Jenderal Kepala Batu
SUKARNO lahir pada 6 Juni 1901. Soeharto lahir pada 8 Juni 1921. Keduanya terlahir di bawah rasi bintang yang sama. Takdir hidup pula yang menentukan mereka sebagai persona paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Kendati demikian, dalam kehidupan nyata hubungan keduanya tak bisa dikatakan rapat. Si Bung Besar dan The Smiling General acap kali bertentangan.
- Tempat Menyepi dan Belajar Agama
I-TSING, pendeta asal Tiongkok, tinggal selama enam bulan di Sriwijaya untuk memperdalam bahasa Sanskerta sebelum bertolak ke India. Dia menyaksikan banyak pusat keagamaan berbentuk wihara di Sriwijaya, khususnya sebagai tempat menuntut ilmu. Selain kabar dari I-Tsing, keberadaan institusi pendidikan pada era Hindu-Buddha tercatat dalam prasasti, relief dan karya sastra. Pada masa itu, pendidikan erat kaitannya dengan agama. Misalnya, di lingkungan penganut Hindu, pendidikan didominasi oleh kaum brahmana. Paling tidak ada dua sistem pengajaran, yaitu di dalam lingkungan keraton dan di dalam sistem pertapaan. Sistem pendidikan keraton dilakukan dengan cara guru mendatangi murid. Sementara dalam sistem pertapaan, murid biasanya yang mendatangi gurunya. Gambaran mengenai pendidikan di dalam istana bisa ditemukan lewat kisah pewayangan. Dalam kitab Mahabharata , dikenal tokoh Drona yang merupakan guru Kurawa dan Pandawa. Dia mengajarkan seni peperangan, di mana Arjuna menjadi murid favoritnya. Di Nusantara, keberadaan guru di lingkungan keraton, paling banyak diketahui setelah masuk periode Jawa Timur. Misalnya, pada masa Kadiri, Raja Jayabhaya diketahui memiliki seorang pendamping yang menjadi gurunya. Keterangan ini terdapat dalam Prasasti Hantang (1135 M). Sang guru, menurut Supratikno Rahardjo dalam PeradabanJawa , disebut pangajyansrimaharajampungkunaiyayikadarsana - samreddhi - karanabhairawa - margga - nugamandha - yogiswara . Artinya “guru dari raja, empu yang mahir menjalankan yoga dengan jalan bhairawa, yang menyebabkan tercapainya kesempurnaan sesuai dengan aliran Nyaya.” Begitu juga Raja Kertanagara. Raja terakhir Singhasari itu mati diserang penguasa Glang Glang, Jayakatwang, saat tengah bermabuk-mabukan. Menurut Suwardono, sejarawan Malang, Kertanegara ketika itu sedang melangsungkan upacara Tantrayana. Sulitnya upacara tantra ini membuat para penganutnya harus diawasi oleh guru sebagai pendamping. “Baca Prasasti Gajah Mada, banyak pendeta dan patih yang mati bersama Kertanagara. Pendeta siapa? Ya itu mereka yang ikut upacara,” jelasnya. Agaknya, guru-guru di lingkungan istana punya fungsi berbeda-beda, sebagaimana Drona sebagai guru seni perang. Menurut Supratikno di dalam karya sastra terdapat istilah untuk menyebut orang yang menjalankan tugas di bidang agama. Misalnya, wikuhaji dalam Nagarakrtagama , diperkirakan menunjuk kepada para wiku yang bertugas di dalam keraton. Kedudukan ini tidak didapat karena kelahiran, melainkan pilihan hidup. “Bagi setiap orang yang ingin menjadi wiku , dia dituntut menjalani semacam inisiasi di bawah pimpinan seorang yang telah maju dalam kehidupan rohani,” jelas Supratikno. Ada pula istilah kawi , yaitu golongan penyair. Secara lebih luas lagi, sebutan kawi merujuk pada mereka yang mempelajari kitab-kitab dan mahir dalam hal itu. Di luar keraton, dalam teks kuno, ada yang disebut karsyan , patapan , dan mandala . Dalam Nagarakrtagama , ketiga istilah itu merujuk pada kelompok bangunan yang berfungsi sebagai pusat pendidikan agama. Ketiganya tempat menyepi serta tempat memuja leluhur dan dewa. Agus Aris Munandar, arkeolog Universitas Indonesia, dalam ArkeologiPawitra mengartikan karsyan sebagai tempat bertapa para rsi , yang letaknya biasanya di lereng gunung atau tempat sunyi lainnya. Sementara mandala merupakan perkampungan para rsi . Dwi Cahyono, pengajar sejarah di Universitas Negeri Malang mengatakan, areal mandalakadewagurwan biasanya dilengkapai bangunan semi permanen ( srama atau asrama) untuk para siswa ( sisya ) dan guru ( acarya ). “Apabila lokasinya di dalam hutan, maka muncul sebutan wanasrama ,” jelas Dwi. Di antara para rsi , banyak yang berusia lanjut. Dalam konsep ajaran Weda, seseorang yang sudah mempunyai cucu pertama dianjurkan untuk meninggalkan dunia ramai menjadi pertapa. Ketika itu mereka masuk dalam fase kehidupan wanaprastha (tinggal di hutan). Tak hanya orang lanjut usia yang menyepi demi memperdalam ilmu. Anak muda juga melakukan hal serupa. Seperti Airlangga, penguasa Kahuripan. Prasasti Pucangan (1042 M) menguraikan, sang raja memulai karier politiknya setelah menjalani kehidupan di lingkungan pertapa. Selama dua tahun dia mendalami latihan rohani di Gunung Pucangan, yang ada di perbatasan Lamongan dan Jombang. Pucangan merupakan salah satu di antara tujuh tempat rsi bersemadi pada era Majapahit sebagimana disebut dalam Nagarakrtagama . Enam lainnya adalah Gunung Penanggungan (Pawitra), Sampud, Rupit, Pilan, Jagadhita, dan Butun. Wanasrama juga dilukiskan dalam relief candi. “Pada relief cerita Parthayajna di teras 2 candi Jajaghu misalnya, digambarkan wanasrama pada lereng gunung khusus untuk para pertapa wanita atau tapini , tapasi ,” ujar Dwi. Baik dalam karsyan maupun mandalakadewaguruan , tapa merupakan materi pokok pelajaran. Karenanya tempat itu kemudian pada masa yang lebih muda dikenal dengan “tempat persamadian” atau yang menjadi cikal-bakal dari padepokan. Bukan cuma urusan agama, mandalakadewaguruan juga mengajarkan ilmu kehidupan. Misalnya, keterampilan dan kebijakan hidup sebagai bekal menjalani kehidupan sosial. Pun juga adaptasi terhadap lingkungan, olah pikir, seni, kanuragan, olah batin, dan sebagainya. Dalam Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit , Lydia Kieven menulis bahwa tradisi pertapa yang tinggal di daerah terpencil mengalami peningkatan pada akhir periode Majapahit. Status sosial mereka pun melambung. “Kemungkinan besar, peziarah dari semua bagian masyarakat, khususnya anggota aristokrasi dan bahkan raja-raja, menyepi ke pertapa guna mencari pengetahuan dan kekuatan spiritual,” tulis Lydia. Keterpencilan gunung menarik peziarah yang mencari kesunyian untuk inspirasi dan memahami pengetahuan religius. Misalnya, di Gunung Penanggungan, selain bertapa setelah mundur dari keduniawian, para rsi juga menerima peziarah yang mencari wejangan religius. Sementara dari lingkungan peziarah, banyak di antaranya merupakan anggota keluarga kerajaan atau keluarga kaya yang mungkin juga pendonor tempat suci. “Pertapaan menjadi pusat untuk menyepi dari dunia dan pusat pengajaran agama,” tegasnya.
- Operasi Gabungan untuk Panglima Pembangkang
Sebuah operasi militer gabungan pertama di Indonesia digelar guna menundukkan para panglima daerah yang tengah bergolak.
- Demi Ibu Pertiwi
JAUH sebelum uang “mengintervensi”, bulutangkis putri Indonesia justru berprestasi. Para srikandi bulutangkis berkonsentrasi memenangkan pertandingan bukan untuk bonus, tapi demi menjaga nama baik bangsa. Target juara sudah harga mati. “Saya hanya ingin membawa nama Indonesia,” ujar Regina Masli, srikandi bulutangkis Indonesia era 1970-an, kepada Historia . Regina ingat betul dia selalu menguras energi dan putar otak setiap kali melakoni sebuah pertandingan internasional. Terlebih, kala memperkuat tim Indonesia di Uber Cup 1975, 5-6 Juni di Jakarta. Bagi para srikandi bulutangkis Indonesia, turnamen itu sekaligus untuk ajang pembuktian mereka bisa menyamai prestasi para pebulutangkis pria yang sejak 1958 berhasil memboyong Thomas Cup. Tim Uber Cup Indonesia akhirnya berhasil mencapai final setelah sebelumnya mengalahkan Inggris. Di final, Indonesia berhadapan dengan Jepang, jawara bulutangkis putri kala itu. Pertandingan berjalan seru sejak hari pertama. Jepang sempat unggul 2-1. Indonesia akhirnya menyamakan kedudukan 2-2 setelah pasangan Regina/Minarni Soedarjanto menekuk pasangan Etsuko Takenaka/Machiko Aizawa 16-16, 6-15, dan 15-9 di partai keempat. “Itu pertandingan terkuat (yang dihadapi) waktu Uber Cup lawan double Jepang, Etsuko Takenaka dan Michico Aizawa,” imbuhnya. Hari kedua, pertandingan makin seru. Kedua tim bermain sama kuat. Di partai keenam, penentuan, Regina dan Minarni memikul beban berat mesti mengalahkan pasangan Hiroe Yuki/Mika Ikeda. Bila kalah, Indonesia gagal mewujudkan mimpi. Bersama seniornya, Regina akhirnya konsentrasi pada mempertaruhkan nama besar Indonesia. Keduanya tak hanya menguras energi, tapi terus memutar otak selama pertandingan. Regina/Minarni akhirnya berhasil membayar kepercayaan rakyat Indonesia lewat kemenangan 15-8 dan 15-11. Regina Masli (kanan) saat berpasangan dengan Minarni Soedarjanto/Foto: Dok Pribadi Regina Masli “Pada waktu penentuan Uber Cup 1975 bersama Almarhumah Minarni, di hati saya hanya ingin bermain mati-matian untuk membawa nama Indonesia,” kenang Regina kepada Historia . Kemenangan Regina/Minarni mengantar Indonesia memboyong Uber Cup untuk pertamakali. Bersamaan dengannya, Indonesia menjadi negara pertama yang bisa mengawinkan Uber Cup dengan Thomas Cup. Keberhasilan itu mendapat sambutan semarak para pendukung yang utamanya warga Jakarta. Meski tak mendapat bonus uang, para pemain amat senang bisa memboyong trofi Uber Cup dan masing-masing mendapat medali. “Alangkah senangnya kita berdua dapat membawa nama Indonesia,” ujar Regina menutup pembicaraan.





















