Hasil pencarian
Cari di situs ini
10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kala Pramuka Bertransmigrasi
KEBERHASILAN Transmigrasi Pramuka (Transpram) I dari Jombang, sebuah kota kecil di Jawa Timur, menarik perhatian Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka. Atas dasar itu, disusunlah rencana untuk menyelenggarakan gelombang kedua. Menariknya, Jombang kembali dipercaya sebagai daerah asal peserta. Dalam wawancara dengan Mh. Thoyib Ft., wartawan Harian Abadi, Bupati Jombang Ismail Halil mengatakan bahwa di Jombang masih ada 376 Pramuka Wira Karya Bhumi yang menanti giliran untuk diberangkatkan. Sebanyak 56 di antaranya telah berproses di Training Center Pramuka di Desa Ngoro, Kecamatan Ngoro. “Dalam waktu singkat akan diberangkatkan lagi ke obyek transmigrasi Way Abung untuk menyusul teman-temannya yang terdahulu,” catat Harian Abadi edisi 30 Maret 1973.
- Detik-detik Menegangkan Saat Belanda Menjebak Diponegoro
MINGGU, 28 Maret 1830, sehari setelah Lebaran. Suasana Magelang, masih ramai. Ditambah lagi kedatangan panglima Perang Jawa, Diponegoro, ke Magelang untuk memenuhi undangan Hendrik Merkus Baron de Kock, panglima tentara Belanda dalam Perang Jawa. Diponegoro diringi pengikutnya dari Metesih ke tempat pertemuan di rumah residen Kedu. Tiga hari sebelumnya, de Kock memberikan perintah rahasia kepada dua orang perwira infanteri seniornya, Louis du Perron dan A.V. Michiels, agar mempersiapkan pasukannya ketika Diponegoro datang. Dengan demikian, menurut sejarawan Peter Carey, tentara harus tetap siaga di tangsi-tangsi mereka dan kuda kavaleri sudah dipasang pelana, sehingga begitu perintah pertama dikeluarkan, semua anggota tentara sudah dapat langsung berkumpul dengan senjata lengkap.
- Prabowo di Mata Soe Hok Gie
KENDATI terpaut usia yang agak jauh (9 tahun), tak banyak orang tahu kalau Prabowo Subianto dulu sempat berteman akrab dengan tokoh demonstran 1966, Soe Hok Gie. Perkawanan itu terjalin bisa jadi karena keterlibatan Gie dalam gerakan bawah tanah anti Sukarno yang digalang secara rahasia oleh orang-orang PSI (Partai Sosialis Indonesia). Menurut Daniel Dhakidae dalam "Soe Hok Gie Sang Demonstran", kata pengantar buku Catatan Seorang Demosntran, sejak kegagalan PRRI/Permesta, maka pada 1961 para aktivis PSI di luar negeri membentuk GPI (Gerakan Pembaharuan Indonesia). Gerakan tersebut dipimpin oleh Prof. Sumitro Djojohadikusumo (ayah Prabowo) dan memiliki markas besar yang kerap berpindah-pindah. Karena itu disebut sebagai MHQ (Mobile Headquarter). “Gerakan ini pernah bermarkas di Singapura, Kuala Lumpur, Hongkong dan Zurich (Swis),” ungkap Daniel.
- Rekor Langka Mempertahankan Trofi Piala Dunia
AIR tenang menghanyutkan, kata pepatah. Meski di awal turnamen sempat diragukan, Spanyol konsisten melewati lawan-lawannya hingga di final. Sebutir gol dari Ferran Torres berhasil menekan tombol “mute” fans dan pendengung Argentina. Spanyol keluar sebagai juara Piala Dunia 2026 sekaligus menggagalkan Lionel Messi dkk. untuk mempertahankan trofi Piala Dunia yang mereka raih pada 2022. Berbeda halnya dengan Argentina yang sedari awal turnamen sudah diunggulkan untuk juara dua kali berturut-turut. Di final yang dimainkan di New York New Jersey Stadium, Minggu (19/7/2026), selama dua kali waktu normal dan dua kali waktu tambahan, Argentina hanya jadi “ayam” yang dikurung pemain-pemain Spanyol hingga laga berkesudahan 1-0 buat La Furia Roja. “Spanyol tim yang lebih baik; itulah yang sebenarnya. Kami tahu cara untuk menang dan kami juga sudah tahu bagaimana untuk kalah. Hari ini kami menunjukkan itu. Kami kalah dan harus menerimanya,” kata entrenador Argentina Lionel Scaloni, dilansir laman FIFA, Minggu (19/7/2026).
- Darah Minahasa di Tubuh Prabowo
DENGAN logat Minahasa ala kadarnya, Prabowo berseru, “Torang semua basaodara”. Dalam bahasa Indonesia berarti, “Kita semua bersaudara.” Di lapangan Ternate Baru, Manado, Prabowo menyampaikan orasi politik. Kehadiran Prabowo di ibu kota Sulawesi Utara itu dalam rangka kampanye pemilihan presiden mendatang. Ribuan warga Manado datang menyaksikan calon presiden Republik Indonesia ini berpidato. Prabowo merasa kembali ke kampung halamannya. Katanya, “Dalam tubuh saya ini mengalir darah Minahasa.” Yang menarik, Prabowo juga mengatakan, “Saya ini lahir dari rahim ibu Nasrani, tidak mungkin dukung Islam radikal.”
- Kisah Plonco Sejak Zaman Londo
AWAL ajaran baru tahun 2015, berbagai pihak mencermati tradisi menyambut siswa atau mahasiswa baru, yaitu plonco. Alih-alih sebagai masa orientasi siswa (MOS), kegiatan ini kerap tidak mendidik dan hanya menjadi ajang balas dendam para senior. Mendikbud Anies Baswedan pun melarang tindakan kekerasan dalam MOS. MOS merupakan tanggungjawab sekolah, guru dan kepala sekolah. Mereka harus bisa mengendalikannya. “MOS tak boleh ada plonco, (jika terjadi) kepala sekolah bertanggungjawab. Dinas pendidikan jangan ragu memberi sanksi pada kepala sekolah. MOS itu adalah masa penunjukkan rencana belajar bukan pemuasan keinginan senior,” ujar Anies, dikutip detik.com. Perploncoan sudah terjadi sejak zaman kolonial Belanda. Mohammad Roem, menceritakan pengalamannya diplonco ketika masuk Stovia (Sekolah Dokter Bumiputera) pada 1924.
- Ndoro Oerip Dadi Soldadu
SEPUCUK surat datang tiba-tiba. Saat ditelisik, Guru Mohamad Isa Soemohardjo segera maklum bahwa surat itu datang dari Oerip, si anak hilang yang kabur ke Meester Cornelis di Batavia. “Isinya berkisar tentang permintaan maaf sekaligus permohonan agar sang ayah berkenan mengirimkan uang seribu gulden untuk jaminan masuk Sekolah Militer,” kisah Rohmah Soemohardjo dalam Oerip Soemohardjo, Letnan Jenderal TNI (22 Februari 1893-17 November 1948). Guru Isa memenuhi permintaan tersebut. Namun, dia masih berupaya membujuk si sulung untuk kembali sekolah di OSVIA, dengan iming-iming seribu gulden lagi. Suatu permintaan yang mustahil dipenuhi Oerip yang kadung betah di Batavia. “Pakde Oerip kukuh dengan pendiriannya menjadi tentara,” ujar Sri Pratiwi Soetarti (85), salah satu keponakan Oerip.
- A General Who Unified Italy Died in Aceh
His struggle to unify Italy alongside Giuseppe Garibaldi, which began in 1846, finally came to an end in 1871. Under Garibaldi, he rose from captain to general, leading troops against the old feudal lords and their followers. After the struggle ended, Gerolamo Bixio, also known as Nino Bixio (1821–1873)—a former subordinate of Garibaldi—was appointed a senator in his homeland. However, he returned to the sea once everything was settled. This was because Nino Bixio had been a member of the Royal Sardinian Navy before joining Garibaldi. Upon his return to the sea, Nino Bixio was assigned to command a transport ship named the Maddaloni. This steamship secured an important contract in the Dutch East Indies, whose government had been sending military expeditions to Aceh since March 1873.
- Saksi IPT 1965: Saya Diikat, Diseret Mobil, dan Disetrum
PADA sesi pertama persidangan di hari kedua, jaksa menghadirkan seorang saksi dari Solo yang tak pernah mengetahui alasan penangkapannya dan mengalami penyiksaan berat. Martono, saksi tersebut, ditangkap tentara RPKAD beserta sekelompok orang dengan penutup wajah seperti ninja pada 10 November 1965. “Saya ditangkap di rumah saya di Pasar Kliwon, Solo, jam 10 malam, 10 November 1965 tanpa surat perintah penangkapan. Saya langsung dibawa, disiksa sepanjang perjalanan dari rumah sampai pos Hanra (Pertahanan Rakyat-Red.). Tangan saya diikat dan diseret mobil ke jalan raya, jaraknya 150 meter,” kata Martono. Penyiksaan tak berhenti begitu saja. Martono yang tubuhnya berlumuran darah akibat diseret mobil, masih mengalami penyiksaan ketika berada di pos penahanan. Tubuhnya diikat dan ditarik ke atas plafon ruangan, lantas dijatuhkan ke lantai berkali-kali, dipaksa mengaku kalau dia ikut membunuh jenderal dalam peristiwa 1 Oktober 1965 di Jakarta.
- Bea Cukai Loloskan Mobil Selundupan Robby Tjahjadi
BELAKANGAN ini banyak berita menyoroti perilaku aparat bea cukai. Mulai dari gaya hidup oknum petingginya hingga menahan barang dari luar negeri untuk ditebus sejumlah uang. Bagi pejabat nakal, bea cukai adalah ladang yang subur untuk mendulang keuntungan pribadi. Catatan masa lalu membuktikan bahwa bea cukai di Indonesia memang kerap bermasalah. Pada awal 1970, oknum bea cukai terseret kasus penyelundupan besar-besaran yang melibatkan nama Robby Tjahjadi. Robby telah lama menjadi incaran kepolisian. Sejak 1968, Robby –dibantu kakak sulung dan adik iparnya– menjalankan praktik penyelundupan mobil mewah dari luar negeri ke Indonesia. Mobil-mobil mewah itu meliputi berbagai merek: Mercedes Benz, BMW, Continental, Alfa Romeo, Fiat, Ford, Honda, Holden, termasuk mobil super mewah seperti Rolls Royce dan Jaguar. Kebanyakan berasal dari Hongkong. “Keras dugaan bahwa Abu Kiswo-lah salah seorang dari yang dikatakan Hakim Siburian (ketika mengakhiri vonis terhadap Robby) sebagai oknum yang banyak memberi bantuan sehingga Robby dapat leluasa melakukan tindak pidana korupsinya,” lansir Tempo, 17 Maret 1973.
- Sejarah Pelat Nomor Kendaraan di Indonesia
WARNA dasar Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) berubah dari hitam menjadi putih mulai Juni 2022. Pergantian ini bertahap dengan prioritas kendaraan baru dan kendaraan yang habis masa berlaku lima tahunan. Kendaraan pelat dasar hitam yang belum habis masa berlakunya tidak perlu melakukan pergantian. Selain berfungsi sebagai bukti registrasi dan identifikasi kendaraan, TNKB atau pelat nomor juga digunakan untuk mengatur lalu lintas. Khususnya di ibu kota Jakarta, kepolisian memberlakukan aturan ganjil genap berdasarkan pelat nomor untuk mengurangi kemacetan pada jam sibuk, yakni pagi (06.00–10.00 WIB) dan sore (16.00–21.00 WIB). Kebijakan ini tidak berlaku pada akhir pekan dan hari libur nasional. Pelanggar aturan ini didenda maksimal Rp500.000. Plat nomor pada kendaraan telah digunakan sejak abad ke-18. Kala itu, para pemilik kereta kuda di Prancis diwajibkan memasang pelat logam pada kendaraan mereka dengan mencantumkan nama dan alamat pemilik kendaraan. Pada akhir abad ke-19, menurut Christopher Garrish dalam Tales from the Back Bumper: A Century of BC Licence Plates, yurisdiksi di seluruh Eropa mengeluarkan berbagai jenis lencana untuk digunakan pada kereta kuda.
- Sukarno Bikin Pelat Nomor Sendiri
PELAT nomor kendaraan RI 1 tentu tak asing bagi masyarakat Indonesia. Itu pelat nomor mobil presiden Republik Indonesia. Ternyata, pelat nomor mobil presiden pertama bukan RI 1. Menariknya, Presiden Sukarno membuat sendiri pelat nomor untuk mobilnya. Mangil Martowidjojo, komandan pengawal pribadi Sukarno, dalam Kesaksian Tentang Bung Karno 1945–1967 menceritakan bahwa ia diperintahkan Sukarno untuk meminta pelat nomor mobil kepada kepolisian lalu lintas Yogyakarta pada 1946 saat pemerintahan dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta. “Saya waktu itu menghadap Kepala Polisi Lalu Lintas Soenarjo untuk meneruskan permintaan presiden,” kata Mangil.





















