top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kisah Rempah dan Kuliner Khas Yogyakarta

    SEBANYAK 135 ragam rempah digunakan di seluruh Indonesia. Sejauh ini kuliner Aceh paling banyak menggunakan jenis rempah, yakni 129 macam. Disusul kuliner Yogyakarta yang memakai 119 macam rempah, dan Sumatra Utara yang memakai 96 ragam rempah. “Yogyakarta daerah kuliner yang memiliki banyak ragam rempah. Karenanya Yogyakarta termasuk daerah kuliner yang hidangannya kaya rasa,” kata Murdijanti Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada dalam webinar “Budaya Rempah-rempah dalam Khazanah Kuliner di Daerah Istimewa Yogyakarta” yang diadakan BPCB DIY melalui kanal Youtube. Yogyakarta mengenal bumbu khas yang sangat jarang dipakai di daerah lain, yakni tempe semangit dan pete rese. Tempe semangit, atau sering disebut tempe bosok, dan pete rese biasanya dipakai dalam masakan sayur lodeh. Adapun tempe semangit muncul dalam masakan sayur bobor yang biasa disajikan bersama sambel jenggot.

  • Jejak Rempah di Bali

    MASAKAN Bali bertumpu pada bumbu dasar atau base genep. Komponen penyusun bumbu yang biasa digunakan di semua masakan tradisional Bali adalah lengkuas, jahe, kencur, bawang merah, bawang putih, kunyit, lombok/cabe besar, cabe rawit, kemiri, merica hitam, dan ketumbar. Beberapa prasasti Bali Kuno, seperti Turunan B dan Sangsit A (980 Saka), menunjukkan bahwa bumbu juga berhubungan dengan pemujaan. Masyarakat diwajibkan untuk mempersembahkan beberapa jenis bumbu. Luh Suwita Utami, arkeolog Balai Arkeologi Denpasar, dalam “Aspek Kemasyarakatan di Balik Makanan dalam Prasasti Bali Kuna”, yang terbit di Forum Arkeologi Vol. 25 No. 2 Agustus 2012, menjelaskan masyarakat Bali Kuno, khususnya yang tinggal di sekitar Danau Batur, biasa membuat persembahan berupa makanan. Persembahan ini tidak hanya untuk memenuhi kewajiban kepada bangunan suci, tetapi juga kepada para pejabat istana atau tamu.

  • Jaringan Intelektual dan Spiritual dalam Jalur Rempah

    JALUR rempah menghubungkan Maluku yang menjadi sumber rempah dengan laut Jawa, Champa (Kamboja dan Vietnam) di utara, sampai ke Tiongkok. Menghubungkan Selat Malaka, Aceh, dan Srilanka di barat. Dari Aceh terhubung ke Semenanjung Malaysia, Burma, Bangladesh, dan turun di pantai timur India. Dari selatan India, para pelaut yang mengarungi jalur ini pada musim yang tepat bisa berlayar langsung ke Yaman. Ada pula yang melewati pantai barat India hingga ke Persia sampai ke ujung Teluk Persia atau Teluk Arab. Bukan hanya perdagangan dan komoditas, jalur rempah juga menjadi jalur bagi pertukaran budaya. Sebagaimana dikatakan Dekan Fakultas Islam Nusantara, Universita Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Ahmad Suaedy, jalur ini juga bisa dilihat sebagai jaringan intelektual dan spiritual. Bahkan akar kosmopolitanisme Islam di Nusantara berawal dari jalur rempah.

  • Tongkat Kiai Cokro, Pusaka Pangeran Diponegoro untuk Perjalanan Spiritual

    DARI sekian peninggalan Pangeran Diponegoro yang hampir dua abad disimpan di Belanda, ada satu yang punya cerita berbeda. Jika keris, pelana, hingga tombak pusakanya dirampas usai penyergapan Belanda pada 28 Maret 1830, yang ini, tongkat, baru berpindah tangan ke Belanda empat tahun pasca-Perang Jawa (1825-1830). Tongkat yang dimaksud adalah pusaka Kiai Cokro. Dengan panjang 1,4 meter, Kiai Cokro bergagang besi serta ukiran besi berbentuk cakra setengah lingkaran di pucuknya. Sebuah dokumen di Arsip Nasional Belanda bertanggal 4 Desember 1834 berupa nota penyerahan pusaka dari Residen Yogyakarta Frans Gerardus Valck menyebutkan, tongkat itu mulanya milik penguasa Kesultanan Demak pada abad ke-16. “Saat terjadi gejolak di Demak, tongkat itu jatuh ke tangan seorang wong cilik dan turun-temurun diwariskan sampai akhirnya 10 tahun sebelum Perang Jawa, tongkat itu dipersembahkan oleh seorang rakyat Jawa biasa kepada Pangeran Diponegoro,” demikian bunyi keterangan dalam nota tersebut.

  • Sepak Terjang A.K. Jusuf, Murid Sjahrir Jadi Pengikut Tan Malaka

    YOGYAKARTA, 24 Maret 1948, tersangka Mayor Abduk Kadir (A.K.) Jusuf didudukkan di kursi saksi dalam persidangan kasus perencanaan penculikan Perdana Menteri (PM) Sutan Sjahrir di Solo pada malam 27 Juni 1946. Selain A.K. Jusuf, yang turut memberi kesaksian di Mahkamah Agung Tentara itu adalah Jenderal Mayor Raden Panji Soedarsono, Moh. Yamin, Achmad Subardjo, dan Iwa Kusuma Sumantri. A.K. Jusuf menjelaskan bahwa pada sore sekira pukul 4, ia mendatangi kediaman Jenderal Soedarsono di Jalan Jetis 22, Yogyakarta. Keduanya membahas keresahan terkait pidato Wakil Presiden Mohammad Hatta pada peringatan Isra’ Mi’raj di Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta pagi sebelumnya. Pidato sedikit membocorkan rahasia perundingan pemerintahan Sjahrir dengan Belanda. “Wakil Presiden Mohammad Hatta mencetuskan sedikit dari hasil perundungan dengan Belanda yang selama ini dirahasiakan. Bahwa pemerintah meminta pengakuan de facto Republik Indonesia atas Jawa, Sumatera, dan Madura, dan lain-lainnya diserahkan kepada Belanda dengan syarat akan diadakan plebisit dalam waktu tiga tahun. Semua yang hadir kaget, antara lain Panglima Besar Jenderal Sudirman, Komandan Divisi III Jenderal Mayor R.P. Sudarsono, anak buahnya Mayor A.K. Jusuf, dan lain-lainnya,” kenang Iwa dalam otobiografinya, Sang Pejuang dalam Gejolak Sejarah.

  • Sudiro Dipanggil Sukarno

    KETIKA Jepang datang, hidup Sudiro sebenarnya sudah enak dan tenang di Palembang. Dia menjabat direktur sekolah rakyat Kokumin Gakko di Plaju. Selain itu, dia juga mengajar bahasa Jepang untuk tenaga asing di perusahaan tambang minyak Plaju-Sungai Gerong, dengan perantara bahasa Belanda dan Inggris. Sudiro digaji tiga rupiah per hari, lebih dari cukup untuk biaya hidup sekeluarga. Lagi pula, pejabat Jepang senang kepada Sudiro lantaran fasih berbahasa Jepang. Di samping gaji lumayan, dia juga mendapat rumah besar milik pegawai Belanda. Makan dan pakaian cukup. Bahkan, untuk membantu aktivitasnya, Sudiro diberi dua pembantu orang Sikh, Mager Singh dan Harnaam Singh. Dengan berbagai fasilitas itu, kesejahteraan dan kebutuhan finansialnya terjamin. “Pada suatu hari saya menerima telegram dengan huruf Katakana. Ternyata dari ‘Jakaruta’. Bunyinya: ‘Sugu ni koi putera de hataraki shi’ (Lekas datang untuk bekerja pada Putera). Sebagai pengirim tertulis: Sukaruno,” kata Sudiro dalam Pengalaman Saya Sekitar 17 Agustus 1945.

  • Soetarni Ditahan bersama Tujuh Anaknya

    PASCA peristiwa G30S, keluarga Wakil Ketua CC PKI Njoto kelimpungan mencari rumah persembunyian. Setelah mengungsi dari rumah satu ke rumah yang lain, Njoto akhirnya harus berpisah dengan Soetarni dan enam anaknya di sebuah rumah di Kawasan Gunung Sahari. Rumah yang ditinggali oleh sejumlah aktivis Consentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI) itu menjadi saksi bisu pertemuan terakhir Njoto dan keluarganya. Njoto hilang dan makamnya tak pernah ditemukan. Soetarni kala itu tengah hamil muda. Anak-anaknya masih kecil, Svetlana Dayani (9), Ilham Dayawan (8), Timoer Dayanang (7), Risalina Dayanah (5), Irina Dayasih (4), dan Fidelia Dayatoen (2). Anak ketujuh kemudian lahir pada 23 Juli 1966. Namanya Esti Dayati. Namun, karena rumah itu mayoritas dihuni mahasiswa Batak, bayi perempuan terakhir Njoto itu mendapat julukan Butet.

  • Anak Tiran Masuk Istana

    MAKIN dekat “tahun politik”, situasi di tanah air makin panas. Ada satu perdebatan yang meresahkan publik, yakni mantan narapidana (napi) korupsi diperbolehkan maju sebagai calon anggota legislatif (caleg). Pangkalnya kemungkinan putusan Mahkamah Agung (MA) Nomor 30/PHUM/2018 yang dikeluarkan empat tahun silam. Putusan tersebut tidak membatasi hak politik seseorang untuk dipilih dan memilih. MA merilis putusan itu dengan bendasar pada payung hukum: Pasal 43 ayat (1) Undang-Undang (UU) Nomor 36 Tahun 1999 tentang HAM. Meski Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah mengeluarkan Peraturan KPU Nomor 20 Tahun 2018 yang melarang eks-koruptor ikut Pemilu 2019, larangan tersebut hanya bersifat normatif lantaran tidak diatur dalam undang-undang. Maka setelah KPU membuka pendaftaran bakal calon partai politik (parpol) peserta Pemilu 2024 pada 1-22 Agustus 2022, kekhawatiran terhadap para kembalinya eks napi koruptor mencalonkan diri mencuat. Kekhawatiran diperkuat dengan masing-masing parpol yang tidak mempermasalahkan pernah-tidaknya para pendaftar caleg mereka tersangkut skandal rasuah.

  • 7 Januari 1921: Dewan Kotapraja Batavia Larang Anak-anak Begadang

    Gemeenteraad atau Dewan Kotapraja Batavia mengkaji aturan baru melalui undang-undang yang mengatur jam malam bagi anak-anak berusia di bawah 15 tahun. Aturan tersebut melarang anak-anak menonton atau diajak menonton segala jenis pertunjukan di atas jam 9 malam di wilayah Kotapraja Batavia, tanpa terkecuali. Sebelumnya, aturan mengenai hal itu sudah tertera dalam Gemeenteblad No. 677 tanggal 16 Desember 1920. Anggota Dewan Kotapraja Batavia, Schotman dan Kerkkamp, telah mendesak Dewan Kotapraja untuk membuat larangan tersebut sejak Oktober 1918. Surat kabar Sin Po, 7 Januari 1921 memberitakan, persoalan pembatasan menonton pertunjukan bagi anak-anak sebenarnya sudah bergulir lama. Walikota Batavia Mr. G.J. Bisschop telah mengkaji aturan tersebut bersama komisi pemeriksa film-film bioskop.

  • Bekas Anak Buah Andi Azis

    SEBUAH kapal merapat di Pelabuhan Semarang pada awal Mei 1950. Tak lama berselang, sepasukan tentara turun dari kapal. Mereka tidak membawa senjata. Selain orang-orang Ambon, mereka ada yang orang Manado, Timor, dan juga Jawa. Mereka bekas KNIL. Sebelumnya, mereka terlibat dalam Pemberontakan Andi Azis di Makassar pada 5 April 1950. Koran De Locomotief, 31 Mei 1950, menyebut di dalam rombongan pasukan dari Makassar itu terdapat dua kawan lama Panglima Tentara dan Teritorium III Jawa Tengah (Diponegoro) Kolonel Gatot Subroto. Maklum, antara tahun 1928 hingga 1942 Gatot adalah sersan KNIL. Kolonel Gatot pun menemui mereka. Ia berusaha memastikan agar pasukan yang baru datang itu tidak dianggap penjahat perang. “Mereka hanya ditipu oleh pemimpin mereka,” kata Gatot Subroto seperti diberitakan De Vrije Pers dan Java Bode, 3 Juni 1950.

  • Anak Presiden Main Band

    INDONESIA pernah punya presiden yang menghasilkan enam album pop. Namun album itu tidak dihasilkannya ketika dia masih muda, melainkan ketika dia sudah dalam masa-masa menjabat sebagai presiden. Tak heran jika albumnya kurang berpengaruh dalam perkembangan sejarah musik pop. Keluarga presiden main band di Indonesia sudah terjadi di zaman presiden pertama, Ir. Sukarno –seorang pecinta seni. Adalah Mohammad Guntur Soekarnoputra, anak tertuanya, yang suka bermain band. Sejak SD, Mas Tok –sapaan Guntur– sudah berlatih gitar. Sewaktu SMP, dia punya band dan sering tampil pula. Lazim jika seorang remaja terpengaruh musisi top yang sezaman dengannya. Di zaman Guntur sekolah, Elvis Presley sedang berkibar. “Zaman Bapak melarang Elvis dan Beatles, saya malah Ngelvis. Saya memang anak bandel, lho. Tapi bandel yang terpimpin,” aku Guntur dalam Wartawan Bertanya, Guntur Sukarno Menjawab: Kumpulan Wawancara.

  • Mengirim Bayi dan Anak-anak Lewat Paket Pos

    SEORANG wanita tergesa-gesa memasuki kantor pos di Lebanon, Ohio, Amerika Serikat. “Saya ingin mengirimkan bayi ini melalui paket pos,” kata Ny. Ed Rudabaugh. Tukang pos kaget dan mencubit dirinya apakah bermimpi atau tidak. Ketika menyadari dalam keadaan sadar, tukang pos itu berkata, “baiklah, mari kita timbang bayi tersebut,” katanya. Peristiwa tak biasa itu diberitakan surat kabar The Fairmont West Virginia, 12 Januari 1914. Kala itu, layanan parcel post atau mengirim paket melalui pos tengah menjadi primadona masyarakat AS, khususnya penduduk di pedesaan. Salah satu penyebabnya karena layanan tersebut memungkinkan barang-barang yang dibeli dapat dikirim melalui pos ke rumah-rumah mereka. David J. Lewis M.C. menulis dalam “The Economy of the Parcel Post”, termuat di National Waterways: A Magazine of TransportationVolume 1, seminggu setelah peresmian layanan paket pos oleh Kepala Pos Frank Harris Hitchcock pada awal tahun 1913, terdapat empat juta paket yang dikirim dari lima puluh kota terbesar di AS.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page