top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10060 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Gerwani dan Hak Anak

    SETIAP tanggal 23 Juli, Indonesia memperingati Hari Anak Nasional. Soeharto menetapkan peringatan ini dalam Keputusan Presiden (Keppres) No 44/1984. Menurut Keppres tersebut, tujuan dari peringatan Hari Anak Nasional adalah pembinaan untuk mewujudkan kesejahteraan anak. Untuk menyusun konsep pembinaan anak-anak Indonesia, Karlinah Umar Wirahadikusumah, pengurus Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia, membentuk Forum Komunikasi Pembinaan dan Pengembangan Anak Indonesia (FKPPAI). Salah satu hasil dari forum ini adalah program Dasawarsa Anak yang dicanangkan pemerintah pada 23 Juli 1986. Perhatian utama Dasawarsa Anak (1986-1996) adalah peningkatan kesejahteraan anak melalui keluarga sebagai lingkungan utama, didukung lingkungan pendidikan formal dan lingkungan masyarakat.

  • Hukuman Penculik Anak Gadis

    SEBAGAI sesama serdadu Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL), Sersan Wattimena berkawan baik dengan Sersan Pattinama. Keduanya bahkan sudah seperti saudara. Pattinama sering bertandang ke rumah Wattimena yang kelahiran Haruku, Maluku Tengah. Dia akhirnya tak hanya dekat dengan sang sersan tapi juga keluarganya. Wattimena punya anak gadis. Namanya Maria Wattimena. Dia sering bermain catur dengan Pattinama kala kawan ayahnya itu sedang bertandang. Sepertinya benih asmara terpendam muncul di antara keduanya. Maria yang masih muda tampak menerima Sersan Pattinama yang tentu sudah berumur.

  • Thomas Nussy versus Anak Cik Di Tiro

    DARI Ambon laki-laki berusia 68 tahun itu harus naik kapal. Setelah berhari-hari perjalanan, kapalnya akhirnya tiba di Surabaya pada pagi 25 April 1940. De Indische Courant, 25 April 1940, memberitakan, kedatangannya itu. Laki-laki tua itu bukan orang sembarangan meski dia bukan bekas pejabat ataupun orang Belanda. Dia satu dari Drie Musketier (Three Musketeer) dari tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) lantaran dia satu dari tiga serdadu KNIL non-Belanda yang pernah mendapatkan bintang ksatria Ridder Militaire Willemsorde (MWO) kelas tiga. Laki-laki itu adalah Thomas Nussy, anggota KNIL dengan nomor stamboek 40434. Thomas Nussy yang pensiun dari KNIL sebagai sersan, berkarir sejak era 1890-an ketika Perang Aceh masih berkecamuk. “Nussy dilahirkan dalam tahoen 1872 di Amahusu, dan masuk militer dalam tahun 1892. Anak muda itu bukanlah orang yang baik kelakuannya. Rupanya ia tidak bersenang hati hidup dalam tangsi. Atjap kali benar ia melanggar berbagai-bagai aturan yang telah ditetapkan. Dia amat suka hidup bebas dan banyak bekerja,” catat pensiunan Letnan Kolonel KNIL L.F. van Gent dalam Nederland-Ambon.

  • Sebelas Ayah dan Anak di Piala Eropa (Bagian I)

    LANGKAH Portugal masih berlanjut di Piala Eropa 2024 dengan lolos ke babak 16 besar. Tak hanya tampil impresif, Portugal juga meninggalkan rekor tersendiri sepanjang penyisihan hingga jadi juara Grup F yang ditorehkan megabintang Cristiano Ronaldo, bek veteran Pepe Ferreira, dan winger muda Francisco Conceição sang anak dari pemain legendaris Sérgio Conceição. Bagi Cristiano, ia sukses menyegel rekor pribadinya sebagai pemain pertama yang tampil di enam Piala Eropa sejak 2004 dengan total 28 laga dan 14 gol. Adapun Pepe didaulat menjadi pemain paling tua (41 tahun, 117 hari) seiring tampil di laga pembuka Grup F kontra Ceko, melewati rekor sebelumnya yang dipegang kiper Hungaria Gábor Király di Piala Eropa 2006 (40 tahun, 86 hari). Partai Portugal kontra Ceko di Red Bull Arena, Leipzig, 18 Juni 2024 juga jadi momen bersejarah bagi Francisco Conceição. Tampil sebagai pemain pengganti di pengujung laga, pemain berusia 21 tahun itu berjasa sebagai super-sub dengan mencetak gol penentu kemenangan Portugal, 2-1, di menit ke-90+2.

  • Sebelas Ayah dan Anak di Piala Eropa (Bagian II)

    PERJALANAN Federico Chiesa dkk. di Piala Eropa 2024 harus terhenti di babak 16 besar. Italia tumbang 0-2 oleh tim kuda hitam Swiss di Olympiastadion, Berlin, pada Sabtu (29/6/2024). Padahal, publik sepakbola punya ekspektasi besar pada Italia yang berstatus juara bertahan. “Ia (Federico) bisa langsung menyengat di awal laga dengan skill yang ia miliki: dribbling, kecepatan, dan keberanian. Penampilannya saat melawan Kroasia bisa mengubah pertandingan. Mestinya ia bisa membuat perbedaan karena sisi kiri Swiss rentan serangan dan Chiesa sedianya punya segalanya untuk membuat bingung tim (asuhan pelatih Hakan) Yakin dengan one-v-one,” ungkap pelatih legendaris Fabio Capello, dilansir Football-Italia, Sabtu (29/6/2024). Sayangnya performa hampir semua punggawa “Gli Azzurri” seolah sedang menukik, termasuk Federico Chiesa. Padahal, attaccante kelahiran Genoa, 25 Oktober 1997 itu turut jadi tulang punggung Italia saat menjuarai Euro 2020 dengan menyumbang dua gol, sebutir gol saat Italia menang 2-1 atas Austria di babak 16 besar dan satu gol lainnya ketika Italia menyingkirkan Spanyol via adu penalti.

  • Kekerasan pada Anak Tempo Dulu

    ANAK-ANAK semestinya mendapat perlindungan dan perlakuan yang aman dan nyaman baik dari orang tuanya sendiri maupun orang dewasa di sekitarnya. Namun, yang terjadi belakangan ini justru sebaliknya. Berita berseliweran tentang kekerasan pada anak, bahkan ada yang berujung pada kematian. Tentu masih segar dalam ingatan, kasus Dante, bocah berusia enam tahun yang ditenggelamkan di kolam renang hingga tewas oleh Yudha Arfandi, yang tidak lain merupakan kekasih dari selebgram Tamara Tyasmara, ibunda Dante. Belum lama ini, pemilik tempat penitipan anak (daycare) Wensen School di Cimanggis, Depok bernama Meita Irianty harus berurusan dengan hukum karena menganiaya anak di penitipannya. Dalam rekaman CCTV, Meita terlihat memukul, menginjak bayi berusia sembilan bulan hingga mengalami dislokasi kaki. Dia juga kedapatan menganiaya anak berusia tiga tahun. Yang terbaru, tempat penitipan anak Early Step Daycare di Pekanbaru juga melakukan kekerasan pada anak titipannya. Inipun sama parahnya. Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat seorang pengasuh yang juga pemilik penitipan melakban kaki anak balita. Selain dilakban, anak dalam penitipan juga tidak diberi makan dan minum dengan alasan supaya tidak buang air besar maupun kecil. Entah apa isi otak manusia-manusia begini sehingga memperlakukan anak-anak sedemikian sadis.

  • Berlan Kampung Serdadu dan Anak Kolong

    TAK sampai satu kilometer dari Stasiun Manggarai, Jakarta, di sebelah timur laut ada kompleks perumahan padat. Isinya mayoritas rumah tentara. Kendati banyak rumah dan bangunannya sudah baru, sejak dulu militer sudah menetap di sana. Adalah tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) yang memulainya. Lebih dari 200 tahun lalu, daerah itu cukup penting bagi militer Belanda era Herman Willem Deandels. Pada 1811 itu, tentara Belanda bertahan di Benteng Meester Cornelis yang kini menjadi Pasar Jatinegara. Nama kompleks tentara itu Beerenlaan. Asal nama itu, menurut koran Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 2 Mei 1928, “kemungkinan besar berasal dari benteng yang terletak di sana ‘berend’ (bisa diartiken sebagai beruang).” Pada 1811, benteng itu diserbu tentara Inggris.

  • Mencari Jejak Hari Anak

    SEJAK 1986, Hari Anak Nasional rutin diperingati setiap tanggal 23 Juli. Sebelumnya, peringatan digelar pada tanggal yang berbeda-beda. Betapa rumit menentukan Hari Anak Nasional. Menentukan Hari Anak Nasional –dulu masih menggunakan kata “Kanak-kanak”– sudah diupayakan Kongres Wanita Indonesia (Kowani), federasi dari organisasi-organisasi perempuan. Pada 1951, dalam salah satu sidangnya, Kowani sepakat untuk menyelenggarakan peringatan Hari Kanak-kanak Indonesia. Namun kesepakatan ini hanya secara prinsip, tanpa keputusan penentuan hari dan tanggalnya. Menurut majalah Rona terbitan 1988, usulan yang masuk waktu itu: tanggal 3 Juli bertepatan dengan Hari Taman Siswa dan 25 November (Rona menyebut 24 November) sebagai hari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

  • Bung Karno dan Hari Anak

    ANDA mungkin tersenyum haru melihat keakraban Presiden Sukarno dengan anak-anak dalam tayangan video yang sempat menjadi viral tahun lalu. Bung Karno memang dikenal dekat dengan anak-anak. Pada masanya, Bung Karno mengubah sebuah gazebo di tengah lapangan hijau yang menghubungkan Istana Negara dan Istana Merdeka menjadi kelas Taman Kanak-kanak (TK). Putra-putrinya bersekolah di sana. Juga anak-anak dari staf Istana dan penduduk sekitar. Chappy Hakim, mantan Kepala Staf Angkatan Udara (2002-2005), salah satu muridnya. Kala itu keluarga Chappy tinggal di Jalan Segara (sekarang Jalan Veteran), dekat dari Istana. “Sekolah TK di Istana sangat menyenangkan, karena jadwalnya hanya nyanyi-nyanyi, bermain, minum susu, dan terkadang mendapat sup masakan Istana yang istimewa,” kenang Chappy dalam catatan blognya yang dibukukan dengan judul Cat Rambut Orang Yahudi.

  • Guntur 49: Rumah Orang Kita

    DUA pohon mangga tumbuh menjulang tinggi di halaman rumah yang dipagari pagar besi berwarna hitam. Beberapa bangku tua menghiasi teras depan dan ruangan tamu. Letak rumah itu hanya sekira 50 meter di belakang markas Polisi Militer Pomdam Jaya di Jalan Guntur. Tak sulit menemukannya, karena pada tembok depan rumah terpampang plang nama “Pusat Dokumentasi Politik Guntur 49”. Guntur 49 adalah nama jalan sekaligus nomor rumah yang selalu diramaikan oleh kegiatan para aktivis. Sang empunya rumah itu adalah Maria Ullfah. Dia bersama suaminya, Mr. Santoso Wirodihardjo membeli rumah itu pada 1938. Sebelumnya, pasangan muda itu bertempat tinggal di Jalan Salemba Tengah kemudian mengontrak rumah kecil di Jalan Jambrut Kramat VIII, Jakarta Pusat. Ketika revolusi kemerdekaan meletus, pasangan yang tak dikaruniai anak itu harus hidup berpisah. Santoso harus mengemban tugas sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang berkantor di Solo. Sementara Maria tetap tinggal di Jakarta dan kemudian hijrah ke Yogyakarta, turut menjalankan pemerintahan sebagai Menteri Sosial di bawah Kabinet Sutan Sjahrir dan sebagai sekretaris kabinet di bawah Perdana Menteri Amir Sjarifuddin.

  • Cerita Orang Biasa dalam Perang Kemerdekaan

    PERANG Kemerdekaan Indonesia bukan hanya cerita tentang komandan di medan tempur. Ia juga seyogianya tak melulu membicarakan tokoh-tokoh besar yang tercatat dalam buku sejarah. Justru yang sering terluput adalah orang-orang biasa, anak buah komandan di palagan atau pendukung para pemimpin perjuangan, yang mau mengorbankan apa yang mereka punya, bahkan nyawa sekalipun. “Mereka berjuang tanpa memikirkan masalah apa mereka dikenang atau tidak. Tentu saja mereka jumlahnya sangat banyak, jutaan orang mungkin, yang ikut berjuang tahun 1945—1949. Dan sebagian dari mereka saya temui ketika pertama kali menjadi jurnalis tahun 1999,” tutur jurnalis sejarah Hendi Johari dalam diskusi bukunya Orang-orang di Garis Depan oleh komunitas Temu Sejarah secara daring (23/05). Kisah Dasuki, misalnya, mantan pimpinan gerilyawan Indonesia di Sukabumi. Semasa perang, Dasuki bertempur menghadapi sepasukan tentara Sekutu yang pernah mengalahkan Jepang di Birma. Setengah abad berselang, Dasuki tua menjalani nasib sebagai penjual mainan anak-anak di sekolah SD dekat jalan Pelabuhan Ratu. Anak-anak bocah kerap mengerumuni Dasuki yang terampil membuat mainan bebek-bebekan dari kayu.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page