Hasil pencarian
Search this site
9966 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Pengusaha Tionghoa Penyelundup Senjata
PADA 17 Maret 2014, Pemerintah Provinsi Lampung memberikan penghargaan kepada delapan tokoh Lampung, salah satunya Ang Tiauw Bie sebagai tokoh pelayaran. Sebenarnya, Ang lahir di Pandeglang, Banten pada 1892 –sumber lain menyebut dia berasal dari Tangerang, Banten. Kemiskinan membuat Ang tak bisa sekolah. Sulung dari lima bersaudara pasangan Ang Sioe Hok dan Tan Djin Nio ini kemudian bekerja sebagai penjaga kebun kelapa. Pak Ubi, demikian sapaannya semasa muda, kemudian belajar berdagang kopra dari pamannya, Ang Sioe Tjwan. Dia mondar-mandir Merak-Lampung. Pada 1930-an, dia menetap di Teluk Betung, Lampung, untuk berdagang hasil bumi dan mendirikan usahanya sendiri, pabrik minyak kelapa dan pabrik sabun. Menurut Twang Peck Yang dalam Elite Bisnis Cina di Indonesia dan Masa Transisi Kemerdekaan 1940-1950 , di antara pengusaha-pengusaha baru di berbagai bidang usaha di Sumatra dan Jawa, Ang adalah satu-satunya peranakan yang menguasai bahasa Indonesia dan berhasil sukses. Di rumah, dia menggunakan bahasa Indonesia dan sedikit menguasai bahasa Hokkien. Sebelum perang, Ang telah menjadi pengusaha berpenghasilan besar. Selain memiliki pabrik kelapa sawit kecil bernama Swan Liong, dia juga bermitra dengan seorang warga negara Jerman dalam kepemilikan sebuah kapal kayu berbobot mati 25 ton yang digunakan untuk mengekspor hasil-hasil bumi. “Dia seorang big brother di sebuah organisasi Cina peranakan tradisional: Ho Hap yang fungsi utamanya di abad ke-20 berkaitan dengan kesejahteraan sosial kalangan peranakan, termasuk dalam hal pemakaman orang meninggal dan perlindungan terhadap anggota-anggotanya,” tulis Twang. Namun, menurut Twang, terdapat indikasi bahwa Ho Hap berprinsip anti-Belanda. Ia organisasi masyarakat Tionghoa yang tidak dianggap bermusuhan oleh pihak Jepang. Menurut Sam Setyautama dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia , ketika Jepang datang pada 1942, pabriknya dibumihanguskan, namun setahun kemudian dia berhasil membangunnya kembali. Setelah pabriknya beroperasi kembali, dia membuka kebun kopi di Waylima, Simpang Kiri, dan Bernung, Lampung Selatan. Dia juga membuka kebun kelapa Sibalong di Kalianda, Lampung. Namun, menurut Twang, Ang berhubungan dekat dengan Gunseikanbu (pemerintah militer Jepang). Pabrik minyak kelapanya di Tanjung Karang bahkan berganti nama menjadi Yamato. Dia sukses menjalankan usahanya. Pada masa revolusi kemerdekaan, perdagangan Ang semakin maju sehingga dia dapat membeli dua kapal layar yang dinamai Sri Menanti dan Sri Nona untuk mengangkut hasil bumi ke Jawa dan Singapura. “Kapal-kapal itu sekembalinya dari Singapura diisinya senjata untuk keperluan TNI (Tentara Nasional Indonesia),” tulis Sam. Twang menambahkan bahwa selama masa revolusi, Ang digambarkan sebagai “tokoh pemimpin Cina di Teluk Betung, seorang penyelundup senjata.” “Seperti sejumlah totok penyelundup lainnya, keluarga Ang ikut ambil bagian dalam operasi penyelundupan yang berpusat di Palembang, Jakarta, dan Lampung,” tulis Twang. Tentu saja, penyelundup senjata legendaris adalah Laksamana John Lie (Jahja Daniel Dharma) yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pertama dari Tionghoa. Namanya juga dijadikan nama KRI John Lie. Pada 1948, Ang mendirikan firma NV Handel Mij Swan Liong di Jakarta yang mengurusi perdagangan hasil bumi, bertindak selaku agen komisi, dan mengelola gudang-gudang penyimpanan. Awal era 1950-an, dia melanjutkan operasi pabrik minyak kelapanya yang telah dimekanisasi dan dipindahkan dari Tanjung Karang ke Teluk Betung. Pada saat yang sama, Ang menjalankan usaha pelayaran (Swan Liong NVHM Bagian Pelayaran). Sebelum tahun 1950, firma ini hanya memiliki dua perahu kecil bernama Teluk No. 1 dan Teluk No. 2 –mungkinkah nama itu perubahan dari Sri Menanti dan Sri Nona ? Memasuki tahun 1951, dia menambah lima kapalnya sehingga kapalnya sampai Teluk No. 7 –sumber lain menyebut dia memiliki kapal Teluk 1-9 dan 11. Masing-masing kapal berbobot mati sekitar 100 ton, melayani pelayaran antarpulau, terutama antara Jakarta, Lampung, Palembang, dan Pontianak. Dengan perusahaan pelayarannya itu, menurut Siauw Giok Tjhan dalam Lima Jaman Perwujudan Integrasi Wajar , Ang menjadi salah seorang pelopor dalam usaha perhubungan antarpulau. Dia usahawan besar dan perusahaannya berkembang dengan baik. Perusahaan pelayarannya kemudian berganti nama menjadi PT Naga Berlian. Sedangkan perusahaan dagangnya menjadi PT Naga Intan. “Anak cucunya yang memperoleh didikan sekolah yang cukup tinggi ternyata tidak dapat mempertahankan dan mengembangkan usaha yang telah dimulainya itu,” kata Siauw Giok Tjhan. Menurut Sam, Ang bergaul dengan para petinggi negara antara lain Sukarno, Mohammad Hatta, Sultan Hamengkubuwono IX, dan Residen Lampung Basyid. Atas jasanya menyelundupkan senjata untuk perjuangan kemerdekaan, pada 1958 Menteri Pertahanan Djuanda menganugerahkan penghargaan Satyalencana Persiapan Kemerdekaan Kesatu dan Kedua. Pada 1959, dia mendapat penghargaan Satyalencana Gerakan Operasi Militer III dan IV. Yang menarik, pada 15 Januari 1960, Sukarno memberinya nama: Anggakusuma. Dan pada 20 Februari 1963 dia diakui sebagai veteran Republik Indonesia dengan Keputusan No. 35/H/Kpts/MUV/63. Ang pernah menjadi direktur Thong Bie Kongsi sewaktu perusahaan itu berubah menjadi PT Dayasakti di Teluk Betung. Usahanya melebar ke bidang farmasi, apotek, dan pabrik obat. Dia banyak membantu perkumpulan sosial seperti Ho Hap (Tolong Menolong) dan Hok Kian Hwee Koan (Perkumpulan Sosial Dharma Bakti). Dia juga banyak menyumbang pada klenteng Thai Hien Bio di Teluk Betung dan klenteng di Banten. Dia meninggal pada 10 September 1971 dan dimakamkan di Kebon Nanas, Jatinegara, Jakarta Timur.*
- Dari Matulessia Menjadi Matulessy
Pada 15 Mei 1817, Kapitan Pattimura memimpin penyerangan ke benteng Belanda, Duurstede. Tanggal itu diperingati sebagai Hari Pattimura. Pattimura merupakan gelar yang disandang oleh Thomas Matulessia yang lahir pada 1783 di negeri Haria. Thomas adalah anak kedua dari pasangan Frans Matulessia dan Fransina Silahoi. Kakak Thomas adalah Johannis. Leluhur keluarga Matulessia berasal dari Seram. Turun-temurun mereka berpindah ke Haturessi (sekarang negeri Hulaliu). Moyang Thomas berpindah ke Titawaka (sekarang negeri Itawaka). Di antara turunannya ada yang menetap di Itawaka, ada yang berpindah ke Ulat, ada yang kembali menetap di Hulaliu, dan ada yang berpindah ke Haria. Yang di Haria menurunkan ayah dari Johannis dan Thomas. Ibu mereka berasal dari Siri Sori Serani. Thomas tidak menikah. Sedangkan Johannis menurunkan keluarga Matulessy yang berdiam di Haria. Zeth Matullesy, seorang pegawai pekerjaan umum Provinsi Maluku, menjadi ahli waris Thomas dan Johannis, yang memegang surat pengangkatan Kapitan Pattimura sebagai Pahlawan Nasional. Dia juga menyimpan pakaian, parang dan salawaku milik Pattimura. “Keluarga Matulessia beragama Kristen Protestan. Nama Johannis dan Thomas diambil dari Alkitab,” tulis I.O. Nanulaitta dalam Kapitan Pattimura . Nanulaitta terlibat dalam penyusunan naskah Perjuangan Pattimura dalam Pengembangan Ampera dari Masa ke Masa pada 1966 yang disusun oleh Panitia Penggalian Sejarah Pahlawan Nasional Pattimura. Belakangan, ada pendapat bahwa Pattimura adalah muslim. Menurut Nanulaitta, pengangkatan Thomas sebagai panglima perang dan bergelar Pattimura ditetapkan dalam Proklamasi Haria pada 29 Mei 1817. Proklamasi ini berisi 14 keberatan atas kekejaman Belanda sehingga rakyat mengangkat senjata. Proklamasi yang ditandatangani oleh 21 raja ini, juga menjadi dasar hukum bagi perang melawan Belanda yang pecah pada 15 Mei 1817. Perlawanan Pattimura berakhir pada 16 Desember 1817. Dia bersama Kapitan Anthone Rhebok, Letnan Philip Latumahina, dan Said Perintah (Raja Siri Sori Islam), digantung di luar benteng Victoria, Ambon. Menurut Nanulaitta, berdasarkan keterangan beberapa orang yang bermaga Matulessy, setelah perang Pattimura, Belanda tidak menerima raja, patih, murid, pegawai, serdadu atau agen polisi, yang bermarga Matulessia. Matulessia merupakan perubahan dari Matatulalessi (mata: mati, tula: dengan, lessi: lebih). “Fam itu harus diganti, lalu ada keluarga yang berganti fam menjadi Matulessy atau Matualessy,” tulis Nanulaitta. Namun, ada yang tetap memakai Matulessia. Di Hulaliu, keluarga itu mengganti namanya menjadi Lesiputih artinya putih lebih yang mengandung makna orang putih yang menang. Pada 1920, atas rekes (surat permohonan) dari keluarga tersebut, Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum, memutuskan mengizinkan keluarga Lesiputih memakai nama Matulessy lagi.
- Siapa Sebenarnya Kakek Gajah Mada?
“Pada saka 1213/1291 M, Bulan Jyesta, pada waktu itu saat wafatnya Paduka Bhatara yang dimakamkan di Siwabudha…Rakryan Mapatih Mpu Mada, yang seolah-olah sebagai yoni bagi Bhatara Sapta Prabhu, dengan yang terutama di antaranya ialah Sri Tribhuwanottunggadewi Maharajasa Jayawisnuwarddhani, cucu-cucu putra dan putri paduka Bhatara Sri Krtanagarajnaneuwarabraja Namabhiseka pada waktu itu saat Rakryan Mapatih Jirnnodhara membuat caitya bagi para brahmana tertinggi Siwa dan Buddha yang mengikuti wafatnya paduka Bhatara dan sang Mahawrddhamantri (Mpu Raganatha) yang gugur di kaki Bhatara.” Demikian bunyi Prasasti Gajah Mada yang bertarikh 1273 saka atau tahun 1351. Sebagai mahamantri terkemuka, Gajah Mada dapat mengeluarkan prasastinya sendiri dan berhak memberi titah membangun bangunan suci (caitya) untuk tokoh yang sudah meninggal. Prasasti itu memberitakan pembangunan caitya bagi Kertanagara. Raja terakhir Singhasari itu gugur di istananya bersama patihnya, Mpu Raganatha dan para brahmana Siva dan Buddha, akibat serangan tentara Jayakatwang dari Kadiri.
- Riuhnya Gagasan Milisi Negara
PENGAJUAN Rancangan Undang-Undang (RUU) Komponen Cadangan Pertahanan Negara untuk dibahas di DPR RI membuat publik bertanya-tanya: benarkah akan digelar wajib militer? Masyarakat terbelah dalam memberikan tanggapan. Ada yang setuju, banyak yang tidak. Mereka yang setuju melihat wajib militer berguna jika sewaktu-waktu negara terancam. Sementara yang menolak berpendapat tidak ada keadaan apapun yang mendesak penerapan wajib militer. Bisa-bisa malah menguras anggaran.
- Menjaga Hak Atas Laut
TAK semua pihak senang dengan kebijakan Indonesia menenggelamkan kapal nelayan asing di wilayah perairan Indonesia. Harian Bangkok Post, 5 Januari 2015, menyebut penenggelaman kapal sebagai “tindakan agresif yang merusak, tidak disukai, tidak diplomatis, dan tidak bersahabat terhadap negara-negara tetangga ASEAN.” Mengenai kerugian tahunan Indonesia akibat pencurian ikan, Bangkok Post menilai itu kesalahan Indonesia sendiri sebab tidak mampu menjaga aset lautnya.
- Penjualan Tanah Terbesar
PRANCIS menguasai Louisiana ( Vente de la Louisiane ) sejak 1682, kemudian menyerahkan kepada sekutunya, Spanyol pada 1762. Pada 1800, Prancis di bawah Napoleon Bonaparte mengambil kembali Louisiana ditukar dengan Tuscany sebagai upaya membangun kembali kerajaan kolonial Prancis di Amerika Utara. Namun, karena terlilit utang akibat perang dan kegagalan menekan pemberontakan di Saint-Domingue (kini Haiti), ditambah kemungkinan terjadinya peperangan baru dengan Inggris, mendorong Napoleon untuk menjual Louisiana kepada Amerika Serikat. Akuisisi Louisiana merupakan tujuan jangka panjang Presiden Amerika Serikat Thomas Jefferson, yang sangat ingin menguasai pelabuhan penting di Sungai Mississippi di New Orleans. Jefferson menugaskan James Monroe dan Robert R. Livingston untuk membeli New Orleans. Ternyata Prancis menawarkan seluruh wilayah Louisiana. Tentu saja Amerika Serikat langsung setuju. Kesepakatan penjualan ditandatangani oleh James Monroe dan Robert R. Livingston dengan Menteri Keuangan Prancis François Barbé-Marbois. Pada 30 April 1803, Prancis menjual wilayah Louisiana seluas 2.140.000 km2 kepada Amerika Serikat sebesar US$15 juta setara dengan sekitar US$371 juta pada 2023. Dengan mengakuisisi Louisiana, luas wilayah Amerika Serikat menjadi hampir dua kali lipat. Conrad H. Lanza dalam Napoleon dan Strategi Perang Modern menyebut penjualan tanah Louisiana itu mungkin merupakan jual beli tanah secara damai yang terbesar dalam sejarah sekaligus mengubah Amerika Serikat menjadi suatu negara berukuran benua. Saat ini, Louisiana meliputi 15 negara bagian: Arkansas, Missouri, Iowa, Oklahoma, Kansas, Nebraska, Mississipi, Minnesota, Dakota Utara, Dakota Selatan, New Mexico, Texas, Montana, Wyoming, dan Colorado.*
- Nasib Serdadu Hitam Paman Sam
Amerika Serikat merayakan 100 tahun keterlibatannya dalam Perang Dunia I. Perayaan berlangsung meriah. Militer beberapa negara sekutu Amerika Serikat ikut meramaikan. Jet-jet tempur Prancis melakukan airshow di atas Pelabuhan New York. Perang Dunia I merupakan ajang pertama keterlibatan Amerika Serikat dalam kancah politik internasional. Perang Dunia I juga mengubah tatanan sosial, politik, dan ekonomi global yang menguntungkan Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya sebagai pemenang. Dalam perang itu, Amerika Serikat mengerahkan hampir lima juta warganya. Dari jumlah itu, sekira 350 ribu merupakan orang-orang Afro-Amerika yang kala itu masih mendapatkan perlakuan diskriminatif. Meski awalnya banyak kalangan menolak keterlibatan Afro-Amerika, termasuk sebagian kecil Afro-Amerika sendiri, militer Amerika Serikat berhasil menggunakan warga Afro-Amerika berdasarkan Espionage Act tahun 1917 dan Sedition Act tahun 1918. Bagi banyak Afro-Amerika, masuk dinas militer dan terjun ke medan tempur merupakan sebentuk tanggung jawab kepada negara seperti yang ditunjukkan oleh Charles Brodnax, petani asal Virginia. Menurutnya, dirinya merupakan milik pemerintah negerinya dan harus menjawab semua panggilan (untuk ikut perang, red .) dan mematuhi perintah guna mempertahankan demokrasi. Selain itu, terjun ke medan perang merupakan kesempatan untuk menunjukkan patriotisme dan kesetaraan hak mereka sebagai warga negara yang kala itu masih sebatas impian. Para pemimpin kulit hitam, seperti Richmond Planet, terus menghembuskan pandangan seperti itu. Dengan pengorbanan diri melalui perang, negara pada akhirnya tak punya pilihan selain menghormati mereka dengan memberi hak-hak sipil lebih besar. Dari sekitar satu juta Afro-Amerika yang mendaftarkan diri ke dinas militer, 350 ribu di antaranya berhasil diterima. Mereka lalu dilatih di kamp-kamp militer yang kebanyakan berada di kota-kota selatan, yang masih kental perbudakannya. Selama pelatihan pun para Afro-Amerika mendapatkan diskriminasi berupa segregasi seperti pemisahan latihan antara serdadu kulit putih dan kulit hitam. Orang kulit putih masih khawatir terhadap akan munculnya perlawanan rasial dari kulit hitam bila latihan disatukan. Kerusuhan rasial di St. Louis pada 2 Juli 1917 yang memakan korban lebih dari 100 Afro-Amerika menjadi ujian bagi tekad para Afro-Amerika, yang dalam Perang Dunia I ditempatkan dalam Divisi Tempur ke-92 dan Divisi Tempur ke-93. Diskriminasi itu tetap berlangsung hingga ketika mereka sudah di Prancis. Alih-alih mendapat kesempatan memanggul senapan, kebanyakan mereka mendapat tugas non tempur seperti menggali parit, mengangkut logistik, atau menguburkan mayat. Bahkan karena ketidakpercayaan, militer Amerika Serikat meminjamkan Divisi ke-93 ke militer Prancis –menjadi satu-satunya divisi Amerika Serikat yang langsung berada di bawah komando militer asing. Bagi Afro-Amerika di Divisi ke-93, peminjaman itu justru menjadi berkah. “Serdadu-serdadu kulit hitam menerima sambutan hangat dari warga Prancis, yang, tak seperti pasukan kulit putih Amerika Serikat, hanya sedikit menunjukkan perilaku rasis,” tulis Chad Williams dalam "African American and World War I", dimuat di exhibitions.nypl.org . Di militer Prancis, mereka juga lebih sering berinteraksi dengan serdadu kulit hitam, yang meningkatkan kesetiakawanan. Yang terpenting, kesetaraan dalam militer Prancis yang lebih besar dari militer Amerika Serikat memberi kesempatan mereka untuk terlibat dalam pertempuran –hal yang tak didapatkan para Afro-Amerika di Divisi ke-92; mereka kemudian menjadi sasaran fitnah para komandan kulit putih. Para prajurit Divisi ke-93 menunjukkan semangat juang mereka di berbagai pertempuran. Kopral Freddie Stowers dari Resimen Infantri ke-371 berhasil memimpin penyerangan terhadap pasukan Jerman di hutan Ardennes, September 1918. Thomas Davie dari Resimen Kaveleri ke-10 juga menunjukkan prestasi mengesankan dalam pertempuran di Meuse-Argonne. Perjuangan paling populer dilakukan Kopral Henry Johnson, serdadu Resimen Infantri ke-369, sekitar pertengahan 1918. Demi menyelamatkan rekannya yang terluka, Needham Roberts, dia nekat menyerang sekelompok kecil pasukan Jerman di Hutan Argonne dengan hanya bermodalkan pistol dan pisau komando. Kerjasama keduanya menewaskan empat serdadu Jerman dan melukai selusin lainnya. Meski Johnson kemudian juga terluka, keduanya selamat. Resimen 369, dikenal sebagai “Harlem Hellfighters”, jadi populer karena dedikasi patriotik mereka dalam pertempuran sengit yang mereka ikuti. Meski kehilangan 1500 prajuritnya, resimen itu tak pernah punya catatan anggotanya tertawan dan tidak satu pun wilayah yang mereka kuasai jatuh ke tangan lawan. Lebih dari 100 prajurit resimen itu mendapatkan penghargaan atas keberanian mereka. Henry Johnson dan Needham Roberts menjadi serdadu Amerika Serikat pertama yang memperoleh penghargaan French Croix de Guerre. Meski kalah cepat dari publik Prancis, publik Amerika kemudian memuji prestasi para prajurit Afro-Amerika itu. Lebih dari 70 tahun setelah itu, militer Amerika Serikat menganugerahi Medal of Honor kepada mendiang Henry Johnson dan Freddie Stowers, dan US Victory Medal kepada mendiang Thomas Davie. “Pahlawan Needham Roberts dan Henry Johnson dari Infanteri ke-369 berjasa sebagai pahlawan rasial historis dan simbol individu dari potensi kemampuan orang kulit hitam dalam memerangi dan mengalahkan serangan rasial kulit putih,” tulis Chad L. Williams dalam Torchbearers of Democracy: African American Soldiers in the World War I Era .
- Diplomasi Capung Besi ala Kennedy
John F. Kennedy adalah satu-satunya presiden Amerika Serikat yang berkenan di hati Sukarno, presiden pertama RI. Secara personal, keduanya memiliki kemiripan: tampan dan flamboyan. Meski keduanya terpaut jauh dalam soal usia, namun Sukarno menaruh takzim terhadap Kennedy yang dilantik sebagai presiden termuda AS pada 1961. Kesan terhadap presiden AS ke-35 itu diakui Sukarno dalam otobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams. Sukarno bukannya tidak beralasan memiliki sikap hormat kepada Presiden Kennedy. Ia menyebut selain memiliki kesamaan dengan dirinya, Kennedy pun dinilai tokoh proklamator itu sebagai negarawan yang selalu menjalankan pendekatan diplomasi secara manusiawi.
- Pelukis Belia di Medan Laga
MATAHARI baru muncul dari ufuk timur. Sebagian rakyat Yogyakarta belum beraktivitas. Maklum, hari Minggu. Tiba-tiba, suara pesawat merobek pagi yang tenang. 14 Desember 1948, Belanda menerjunkan tentaranya di lapangan udara Maguwo untuk menguasai Yogyakarta, ibukota republik Indonesia kala itu.
- Mencatat Gagasan Perlawanan
Grace Natalie, mantan pembaca berita yang kini memimpin Partai Solidaritas Indonesia, bertutur tentang kekagumannya pada pribadi Kartini, perempuan pembaharu dari Jepara, Jawa Tengah. Menurutnya, Kartini adalah sosok yang tekun mencatat serta berani menuliskan hal yang mengekang hak perempuan. Kartini (1879-1904) putri dari pasangan Sosroningrat, bupati Jepara, dengan Ngasirah, putri pemuka Islam di Teluk Awur. Sedari remaja, Kartini getol membaca. Dia terhitung mati muda, 25 tahun. Setelah dia wafat, surat-surat yang dikirimkannya ke kawan-kawan perempuannya di Eropa dibukukan dengan judul Door Duisternis tot Licht , Habis Gelap Terbitlah Terang. Grace berkisah tentang tokoh idolanya tersebut. Siapakah tokoh sejarah yang Anda kagumi? Kartini. Saya senang karena dia otentik sebagai simbol perlawanan, di tengah zaman yang memandang rendah perempuan. Kartini bukan hanya melawan dengan pena, tapi juga dengan pikiran dan tubuhnya. Meski dipaksa menikah dengan Adipati Ario tapi tubuh, hati, dan cita-citanya tak pernah benar-benar tunduk. Bukankah banyak tokoh perempuan selain Kartini? Memang banyak. Namun di sini saya harus setuju dengan Sukarno, karena Kartini menulis! Sekali lagi, menulis. Zaman itu jangan kita samakan dengan ngetwit di zaman ini. Menulis saat itu adalah perbuatan berbahaya. Jangankan menulis, berpikiran maju untuk perempuan saat itu adalah tindakan melawan kodrat. Tentang sosok Kartini, bagaimana Anda memandang? Sedari kecil, Kartini haus ilmu. Kartini percaya bahwa ilmu adalah kunci menuju kemajuan. Dan kemajuan tidak berguna jika perempuan ditinggalkan. Perempuan adalah pembawa peradaban demikian tulis Kartini kepada Stella Zechandelaar di Belanda. Jika hari ini tentu Kartini pakai sosial-media. Nah, dia itu kan posturnya kecil ya, tak heran jika kemudian dia sering dipanggil “Trinil” oleh ayahnya. Trinil ini kalo tidak salah nama burung yang lincah dan gesit. Apa pendapat Anda tentang tulisan-tulisan Kartini? Ya menulis di zaman itu bukan pekerjaan mudah loh. Bisa dituduh subversif. Apalagi jika kontennya tentang politik. Kartini cerdik karena mengemasnya dengan cara perempuan: berkirim surat kepada sahabat perempuannya. Di tengah kesulitan hidup, perempuan memang selalu bisa mendapatkan cara untuk survive . Itu menginspirasi saya. Seperti apa inspirasi itu? Berpikir maju, Kartini pasti tak suka dikenang sebagai masa lalu, zaman yang dilawannya! Kartini pasti lebih senang dikenang sebagai cahaya yang akan terbit setelah gelap. Perempuan yang berpikiran maju tentang masa depan, berani! Kedua, Kartini menentang diskriminasi gender yang tumbuh dari cara pandang feodal. Maka hari Kartini adalah hari antidiskriminasi gender! Ketiga, Kartini adalah perempuan yang menulis tentang bangsanya, tentang kaumnya. Sekali lagi, baginya, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Jangan sembunyi-sembunyi, apalagi takut. Selemah-lemahnya twit galau, itu juga tulisan, terekam abadi di linimasa.
- Memaknai Ulang Tari Jawa
BAGI masyarakat Jawa, terutama di kalangan bangsawan dan kerabat keraton, tari bukan hanya salah satu bentuk ekspresi kebudayaan, melainkan juga sebuah cara pewarisan pengetahuan dan nilai-nilai. Tari dengan segala aspeknya adalah pengejawantahan pengetahuan dan nilai-nilai yang berkembang sepanjang peradaban. Saat belajar tari, komunikasi antara penari yang sudah mahir dan yang pemula, antara yang status sosialnya tinggi maupun lebih rendah terjadi. Dalam interaksi itu, terjadi pewarisan nilai saling menghormati dan tenggang rasa. Bagaimana yang senior dan junior bisa saling belajar skill dan cara bersikap, itu ada dalam praktik menari di Jawa. “Tarian pun pada dasarnya juga mengandung makna tertentu yang mesti dipahami oleh seorang penari,” ujar Anastasia Melati, seniman tari Yogyakarta, dalam diskusi bertema “Membingkai Ulang Tari Jawa” di Griya Badan Pelestarian Pusaka Indonesia, Jakarta Pusat,18 April 2017. Dalam diskusi itu, Anastasia memaparkan bagaimana nilai-nilai kejawaan mengejawantah dalam seni tari. Dia juga menyoroti pergeseran nilai-nilai itu dalam perjalanan sejarah masyarakat Jawa. Pemaparan itu ia sarikan dari penelitiannya tentang beberapa tarian Jawa. Anastasia menerangkan, pengejawantahan nilai bisa dilihat misalnya dalam tari bed h aya yang berkembang di Yogyakarta. Meskipun berkembang semasa Islam telah mapan di Jawa, khususnya Mataram, tari bed h aya memiliki nilai sakral yang berakar dari tradisi Hindu. Itu terlihat misalnya dari jumlah penari yang harus sembilan orang. “Itu merupakan simbolisasi sembilan mata angin dan dewa-dewa Hindu yang menjaganya. Kesakralan juga terlihat dari penari yang harus dalam keadaan suci saat menari. Mereka tidak boleh berlatih atau menari dalam keadaan haid,” terang Anastasia. Nilai sakral itu tetap berlaku hingga kini. Namun, Anastasia juga mencatat adanya pergeseran dalam perkembangan tari bedhaya . Kini tari bedhaya tidak seeksklusif dulu, karena bisa dipelajari oleh orang-orang di luar kalangan kraton. “Sejak masa Hamengku Buwana VII, tari bedhaya mulai keluar dari kraton. Siapa pun yang mau, bisa mempelajarinya,” ujarnya. Keluarnya bedhaya dari keraton berangkat dari keinginan para tokoh seni tari dan karawitan yang menjadi abdi dalem keraton untuk memajukan seni tari dan karawitan. Setelah mendapat restu Hamengku Buwono VII, mereka mendirikan perkumpulan Krida Beksa Wirama (KBW) pada 17 Agustus 1918. Hamengku Buwono VIII lalu memberi bantuan moril maupun materiil. “Pada tahun 1922 itu pula KBW menerima sebagai murid putri dan putra Sri Paku Alam VII,” tulis Moeljono dalam RWY Larassumbogo, Karya dan Pengabdiannya . Bagi orang Jawa, tari juga merupakan wadah ekspresi kesetaraan gender. Itu terlihat dalam tarian yang berkembang di luar Mataram, seperti di Banyumas dengan tari ronggeng-nya dan Jawa Timur lewat tari remo-nya. Anastasia menyebut bahwa di Banyumas wanita penari ronggeng selalu menempati posisi istimewa dalam masyarakat. “Penari ronggeng adalah sakti atau pusaka bagi suatu desa. Penari ronggeng adalah orang terpilih. Bahkan, di Banyumas menari bersama ronggeng bisa menunjukkan prestis dan status sosial seseorang. Karena orang yang pertama kali diajak menari oleh penari ronggeng adalah orang terpandang,” ujar Anastasia. Nilai kesetaraan gender juga bisa dilihat dalam tari remo yang berkembang di Jawa Timur. Seperti halnya bedhaya dan ronggeng, remo juga ditarikan oleh perempuan. Bedanya, gerak tari remo sangat maskulin, sehingga meruntuhkan segala stereotipe atas perempuan. “Remo ini menggambarkan praktik perempuan mempertahankan kuasanya melalui tarian,” kata Anastasia. Kini, sebagian orang luput dalam memahami nilai-nilai dalam tarian Jawa. Hal itu, kata Anastasia, sudah terjadi sejak agama-agama Abrahamik masuk ke Indonesia. Ronggeng, misalnya, selalu diasosiasikan sebagai tarian yang mempertontonkan sensualitas. “Padahal ronggeng awalnya adalah sebuah ekspresi syukur kepada Tuhan atas panen yang melimpah. Ronggeng memang mengajak orang yang menontonnya gembira dan merasakan kenikmatan sebagai wujud syukur. Ketika agama-agama Abrahamik masuk, hal semacam itu bergeser menjadi negatif,” ujarnya. Meski kondisi seperti ini perlu disikapi, tari pada dasarnya selalu berkembang mengikuti zaman. Karena itu, nilai-nilai dan praktiknya bisa disesuaikan dengan perkembangan zaman.*
- Pungli Tak Pernah Pergi
PUNGUTAN liar atau pungli menjadi sorotan publik setelah tim gabungan Mabes Polri dan Polda Metro Jaya, yang dipimpin Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, melakukan operasi tangkap tangan di kantor Kementerian Perhubungan (Kemenhub), 11 Oktober 2016. Beberapa pegawai yang kedapatan melakukan pungli untuk pengurusan buku pelaut dan surat kapal ditangkap.





















