Hasil pencarian
9768 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kedaulatan Ekonomi, Pesan Inti yang Terlupa dari KAA
KENDATI sudah 71 tahun berlalu, makna, pesan, hingga gaung Konferensi Asia-Afrika (KAA) belum usang untuk dibicarakan. Konflik yang terjadi di dunia selama tujuh dekade hingga kini adalah problem lama yang juga jadi perhatian di forum KAA di Bandung: neo-kolonialisme dan neo-imperialisme yang terus mencengkeram negara-negara dunia ketiga. Hal itu disampaikan sejarawan asal India Vijay Prashad dalam public lecture “The Bandung Spirit: Reviving Global South Solidarity in a Time of Crisis” di peringatan ke-71 KAA, Minggu (19/4/2026) siang di Gedung Merdeka, Bandung. Event tersebut disiarkan secara daring di akun Youtube Historia.ID. Hingga kini pun, menurut Vijay, kolonialisme dan imperialisme Barat terus berusaha membungkam mayoritas dunia. Kolonialisme tidak hanya mencuri kekayaan. Hal dramatis tentang kolonialisme dan imperialisme yang terjadi di abad ke-19 dan abad ke-20 adalah pembungkaman gagasan-gagasan dari masyarakat dunia ketiga dan negeri-negeri Selatan yang dianggap tidak penting. Negara-negara dunia ketiga dianggap tidak penting sebagai kontributor dari sejarah dunia. Dengan kata lain, mereka membuat sejarah dan negara-negara dunia ketiga hanya berpartisipasi di dalamnya. “Namun apa yang dipahami para pemimpin perjuangan anti-kolonial kita, dari Gamal Abdel Nasser (Mesir), Jawaharlal Nehru (India), juga Sukarno (Indonesia), ketika mereka datang ke sini, mereka datang untuk mengukir sejarah sendiri. Ketika Nehru bilang bahwa Bandung adalah ibukota Afrika dan Asia karena dari sinilah dasar persatuan diciptakan untuk membangun sebuah dunia yang berbeda, ekonomi global yang berbeda,” ungkap Prashad. Menurut penulis buku The Darker Nations: A People’s History of the Third World (2007), Poorer Nations: A Possible History of the Global South (2013), dan Letters to Palestine (2015) tersebut, ada satu isu inti penting namun jarang dibicarakan, bahkan dilupakan setiap peringatan KAA, yakni soal ekonomi. “Itulah pesan (KAA) Bandung. Bicara sekarang, mungkin orang mengira Bandung adalah tentang perdamaian. Justru adalah tentang ekonomi. Jika Anda tidak menyelesaikan masalah-masalah ekonomi, Anda tak bisa bicara tentang perdamaian. Anda tak bisa memulainya dengan perdamaian. Anda harus memulainya dengan roti, dengan tanah, (kebutuhan sandang), pendidikan, kesehatan, dan lain-lain. Dimulai dari fakta bahwa kekayaan alam tidak boleh dihabiskan dengan cara-cara kolonial dengan dikirim ke Eropa dan Amerika Serikat (AS). Itu pembicaraan pertamanya di komisi ekonomi. Benar-benar terlupakan. Dan itu masih terkait isu-isu hari ini,” tambahnya. Lantaran “peminggiran” terhadap soal ekonomi itu, masalah-masalah lama tetap masih belum selesai dicarikan solusinya hingga sekarang. “Hari ini di Indonesia Anda masih memperdebatkan apa yang harus dilakukan dengan nikel. Hari ini 71 tahun kemudian masih perdebatan yang sama. Ada (kereta cepat) ‘Whoosh’ Bandung-Jakarta, apakah itu buatan Indonesia? Di India juga sama. Bengaluru ‘Silicon Valley-nya’ India tapi mana ponsel-ponsel buatan India? Jadi inti persoalannya adalah ekonomi, benar-benar tersingkirkan setelah Konferensi Bandung. Karena mereka (AS dan sekutu-sekutunya tak membolehkan kita membangun sebuah tatanan ekonomi baru.” Moral, Power , dan Kedaulatan Ekonomi Dunia bungkam ketika Palestina, baik di Jalur Gaza maupun Tepi Barat, didera pembersihan etnis (genosida) dan penindasan oleh zionis Israel sejak 1948 hingga sekarang. Dunia pun memilih bungkam dan tutup mata ketika AS- Israel pada hari pertamanya menyerang Iran (28 Februari 2026) menghantam sebuah sekolah dan menewaskan lebih dari 160 siswa. Namun dunia justru resah ketika Iran sedang mempertahankan kedaulatannya, termasuk ekonominya, dengan menutup Selat Hormuz, jalur penting perniagaan minyak dunia. “Bagaimana kita memahami dunia saat ini? Kenapa kita tidak bisa menghentikan genosida terhadap penduduk Palestina? Kita juga harus mengerti sistem yang berjalan. Ini bukan multipolar, unipolar, istilah-istilah itu datang dari ilmu politik AS, tidak mencerminkan realitas. AS dan Israel secara biadab membom Iran di sebuah sekolah yang menewaskan 168 anak-anak, tidak ada yang bersuara. Apakah multipolar ada di situ? Iran menolak menyerah, itu artinya tidak ada unipolar juga,” sambung Prashad. Kegelisahan dunia, utamanya negara-negara Barat, terhadap aksi Iran menutup Selat Hormuz mencerminkan kompas moralnya hanya tertuju pada ekonomi. Artinya, warisan kolonialisme dan imperialisme dengan menggunakan power demi ekonomi masih sangat terasa. Problemnya, kekuatan, termasuk di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), hanya dimiliki lima negara permanen yang memiliki hak veto di Dewan Keamanan PBB: AS, Rusia, China, Prancis, dan Inggris. Ratusan negara anggota di Majelis Umum PBB boleh saja mengutuk blokade AS di Kuba dan genosida Israel di Palestina, namun yang didengar hanya lima negara anggota permanen DK PBB. “Apakah kita bisa mempraktikkan kekuatan terhadap AS dan Israel agar mereka menghentikan genosida yang terus terjadi? Atau pemboman ilegal di Lebanon, perang ilegal terhadap Iran? Kita merasa tak berdaya. Kita bisa bicara namun kita tidak didengar. Pesan dari (KAA) Bandung, kita tidak hanya punya hak bicara namun juga hak untuk didengar. Artinya power harus dianggap serius. Sukarno berkata di sini, kita punya suara moral. Saya bisa katakan pada mendiang Sukarno, moral tidaklah cukup. Haruslah moral dengan power . Suara kita harus berakar secara institusional,” lanjutnya. Semestinya, persatuan negara-negara Asia dan Afrika plus negara-negara Amerika Latin bisa jadi kekuatan tersendiri. Kuncinya dengan mempertahankan kedaulatan ekonomi. Isu ini jadi pembicaraan penting, bahkan terpenting di KAA. “Konferensi Bandung tidak hanya menentukan sistem politk yang bisa dijalankan di Afrika dan Asia namun juga ekonomi. Sebuah agenda kerjasama ekonomi dengan 12 poin mengidentifikasikan pembangunan sebagai prioritas bagi negara-negara Asia-Afrika karena para pemimpin Asia dan Afrika merasa sistem dunia modern yang secara hierarki rasis dan melulu Eropa-Utara dan Amerika-sentris tidaklah cocok,” tulis Sabelo J. Ndlovy-Gatsheni dalam Decolonization, Development and Knowledge in Afrca: Turning Over a New Leaf. Dalam KAA, Komite Ekonomi yang dipimpin Menteri Perekonomian RI Prof. Ir. Roosseno menghasilkan 12 poin dasar kerjasama antarnegara-negara Asia dan Afrika. Di antaranya bantuan ekonomi, diversifikasi ekonomi, kerjasama teknis, pembentukan bank/lembaga khusus, dan konektivitas transportasi dan komunikasi. “Kita berhak atas bahan-bahan mentah, atas mengendalikan kekayaan alam kita, menggunakan lahan, tambang-tambang, hutan-hutan, dengan cara kita sendiri dan memutuskan untuk menggunakannya demi kesejahteraan rakyat, bukan untuk perusahaan-perusahaan multinasional yang kebanyakan perusahaan-perusahaan imperialis,” imbuh Prashad. Tentu, sambung Prashad, akan terus ada “tangan-tangan” jahat yang akan berusaha mencegah negara-negara dunia ketiga untuk mencapai kedaulatan ekonomi. Mereka merasa paling dirugikan. “Pada 1951 di Iran, pemerintahan (perdana menteri) Mohammad Mosaddegh mengatakan ingin menasionalisasi minyak mereka. Perusahaan-perusahaan Belanda dan Inggris pun marah. Inggris pertama kali dalam sejarah dunia modern mengancam menutup Selat Hormuz. Ancaman pertama Selat Hormuz tidak datang dari Iran atau Oman, melainkan dari perusahaan-perusahaan Inggris dan pemerintahan di London. Mereka menumbangkan pemerintahan Mosaddegh, kenapa? Karena ia mempraktikkan apa yang kemudian juga dibicarakan di sini (KAA 1955). Di Kongo, pemerintahan Patrice Lumumba dijatuhkan pada 1961. Juga pemerintahan João Goulart di Brasil pada 1964. Dan Anda tahu sendiri apa yang terjadi pada Sukarno di Indonesia pada 1965, terdapat tangan-tangan yang menepuk pundak kita bahwa kita tidak boleh mengubah struktur ekonomi dunia.” Memang puluhan tahun berselang ada “perlawanan” terhadap hegemoni ekonomi Barat ketika pada 2009 BRICS lahir. Namun, menurut Prashad, BRICS dibentuk secara pragmatis hanya untuk menyelesaikan masalah-masalah ekonomi praktis yang intinya para anggotanya saling berdagang. “Memang ada sedikit percikan Semangat Bandung di dalamnya, bahwa kita sudah semestinya menggunakan kekayaan alam kita dengan cara kita sendiri. Ada gairah terhadap kedaulatan di sana. Walaupun untuk benar-benar menghidupkan api semangat KAA, harus ada gerakan bersama-sama, baik menentang perusahaan-perusahaan multinasional, G7, gerakan-gerakan anti-globalisasi terhadap hak air, hak perempuan, hingga hak masyarakat pribumi,” tandas Prashad.
- Agung Jambe Dibunuh dan Kerisnya Dirampas
KOLEKSI museum dengan nomor inventaris RV-3600-193 itu berasal dari Bali. Gagang dan sarungnya sudah cukup untuk menunjukkan benda itu khas Bali. Ya, benda dengan gagang berhias permata itu merupakan keris yang sudah lama menjadi bagian dari koleksi Nationaal Museum van Wereldculturen (Museum Nasional Kebudayaan Dunia) di Negeri Belanda. Benda ini termasuk pusaka yang akan dikembalikan ke Indonesia. Bagaimana keris asal Bali itu bisa sampai ke Negeri Belanda, kemungkinan terbesarnya adalah ia dibawa setelah dirampas oleh Tentara Kerajaan Hindia Belanda alias Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) pada April 1908. Ada dugaan keris itu milik Dewa Agung Jambe II, penguasa Klungkung. Pada Maret 1909, keris itu dibawa ke Museum Etnografi Akademi Militer Kerajaan (KMA) di Breda, lalu di tahun 1956 menjadi koleksi Museum Volkenkunde. April 1908 adalah bulan yang panas antara tentara Belanda dengan orang-orang Bali di Klungkung. Pemerintah Hindia Belanda menginginkan Kerajaan Klungkung menjadi daerah pembayar pajak. Pada 18 April 1908, rumah candu dibakar di Gelgel dan mantri candu yang bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda juga dibunuh.
- Nyi Sombro dan Keris di Tangan Perempuan
PADA zaman dahulu di Kerajaan Pajajaran pernah hidup Nyi Sombro. Ia adalah pembuat keris yang sakti. Konon saking saktinya Nyi Sombro mampu menciptakan keris sambil mengambang di atas Samudra. Ia hanya butuh alas kain jarik untuk membuatnya. Katanya juga, saking saktinya, Mpu Sombro tak butuh perapian ketika membuat keris. Tak perlu pemukul juga. Ia cukup memijit bilah keris itu. Itulah kenapa keris hasil karyanya selalu berciri lekukan yang seolah bekas dipijat jari. Begitulah cerita yang berkembang di masyarakat. Tak diketahui sumber asalnya. “Sebagian besar sumber ceritanya dari cerita tradisi, walaupun ada yang kemudian ditulis,” kata Boedi Adhitya kepada Historia . ID. Boedi adalah pemerhati keris dari Paheman Memetri Wesi Aji (Pametri Wiji), organisasi pecinta budaya keris yang didirikan di Yogyakarta .
- Sebelum Keris Berfungsi Magis
PUTRI Indumati mendekati Raja Awanti yang sudah menunggu penuh harap. Ia sudah berkhayal sang putri akan memilihnya di antara raja dan pangeran lainnya dalam sayembara itu. Namun, Putri Indumati berpaling. Dirinya tidak tertarik, tak ada tanda gairah sedikit pun. Meranalah raja negeri Awanti karena sudah diabaikan. Air matanya mengalir deras. Karena berduka, ia menulis puisi yang mengharukan pada sarung kerisnya. Kisah itu ditulis Mpu Monaguna pada abad ke-13 dalam karyanya, Kakawin Sumanasantaka. Dalam penggalan kisah itu, Mpu Monaguna menggambarkan bahwa keris tak selalu berfungsi sebagai alat tikam. Raja negeri Awanti, raja yang berani di medan perang, menjadikan keris miliknya sebagai media meluapkan perasaan. Guru Besar Arkeologi UGM, Timbul Haryono menjelaskan masyarakat Jawa, khususnya pada masa lalu, percaya bahwa keris berperan dalam seluruh perjalanan hidupnya, sejak lahir hingga mati.
- Keris Pangeran Diponegoro yang Dijual
KERIS Pangeran Diponegoro dikembalikan kepada Indonesia dan menjadi koleksi tetap Museum Nasional. Keris ini ditemukan melalui penelitian panjang (2017-2018 dan 2019). Para peneliti dari Nationaal Museum van Wereldculturen, Leiden, menyimpulkan bahwa keris bernomor register RV-360-8084 adalah keris Pangeran Diponegoro bernama Kiai Nogo Siluman. Nama itu berdasarkan sumber pertama tentang keris itu, yaitu surat Sentot Alibasah Prawirodirdjo tanggal 27 Mei 1830. Panglima perang Diponegoro itu menyebut Kiai Nogo Siluman adalah keris Pangeran Diponegoro yang diberikan kepada Kolonel Jan-Baptist Cleerens, komandan pasukan Belanda. Pada bagian pinggir surat itu, pelukis Raden Saleh memberikan penjelasan mengenai arti Kiai Nogo Siluman, setelah diminta mengidentifikasi keris itu oleh S.R.P. van de Kasteele, Direktur Koninklijk Kabinet van Zaldzaamheden (Kabinet Kerajaan untuk Barang Antik). Cleerens berperan dalam mengakhiri Perang Jawa dengan cara membujuk Pangeran Diponegoro agar mau berunding yang ternyata jebakan. Diponegoro ditangkap Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock dalam perundingan di Karesidenan Kedu, Magelang, pada 28 Maret 1830.
- Dhapur dan Penamaan Keris yang Berbeda Itu Biasa
KEMBALINYA keris Kiai Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro ke Indonesia dari Belanda memunculkan perdebatan. Banyak yang mempertanyakan kesahihan keris itu lantaran keris itu ber- dhapur Nagasasra bukan Nogo Siluman. Namun, perdebatan soal itu tampaknya tak perlu diperpanjang lagi. Pasalnya, menurut Boedhi Adhitya, pemerhati keris dari Paheman Memetri Wesi Aji (Pametri Wiji), organisasi pecinta budaya keris yang didirikan di Yogyakarta, persoalan nama keris dan nama dhapur keris seharusnya dipisahkan. Nama dhapur adalah nama bentuk keris. Nama ini diberikan sesuai dengan ciri-ciri bentuk yang ada pada sebilah keris. Utamanya ditentukan dari lurus atau jumlah lekukan pada bilah keris ( luk ). Pun dari ragam ricikan yang dimiliki.
- Keraguan terhadap Keris Diponegoro
BUTUH waktu 36 tahun hingga akhirnya keris yang disimpan di Belanda diidentifikasi sebagai Kiai Nogo Siluman. Benda itu dipulangkan ke Indonesia dan diserahkan ke Museum Nasional, Jakarta, pada Kamis 5 Maret 2020. Namun, menyusul kepulangannya, keraguan apakah keris itu benar Kiai Nogo Siluman pun merebak. “Secara ilmu padhuwungan (ilmu pengetahuan perkerisan Jawa, red. ) nggak kena,” kata Toni Junus, konsultan keris yang menulis buku Tafsir Keris , kepada Historia.ID. Secara umum, Nogo Siluman dikenal sebagai salah satu dhapur atau tipologi bentuk keris. Adanya kepala naga dengan mahkota di kepalanya lalu unsur nama “Siluman” yang berkaitan dengan kemampuan untuk menghilang, kata Toni, setidaknya cocok dengan karakteristik keris Nogo Siluman.
- Keris Sakti dan Pagebluk Corona
WABAH penyakit Coronavirus Disease (COVID-19) sedang merongrong Indonesia. Sejak 30 Desember sampai 9 Maret 2020, pemerintah resmi menyatakan sudah ada 19 orang positif tertular virus corona. Penyakit yang pertama kali mewabah di Wuhan, Cina itu kini telah menyebar ke berbagai negara, menjadikannya bencana yang menakutkan tanpa diketahui cara pengobatannya. Sementara itu pada momen yang sama tersiar kabar bahwa Kementrian Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda , Rabu, 4 Maret yang lalu mengumumkan pengembalian sebilah keris Jawa kepada Indonesia. Keris tersebut diserahkan Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda Ingrid van Engelshoven kepada Duta Besar Indonesia I Gusti Agung Wesaka Puja di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, Belanda. Sehari kemudian keris tersebut dibawa ke Indonesia dan kini tersimpan di Museum Nasional, Jakarta. Toni Junus peneliti keris sekaligus penulis buku Kris: An Interpretation , menanggapi berita Corona yang beriringan dengan kembalinya keris Diponegoro sebagai sebuah pertanda. Menurutnya kedua peristiwa tersebut memiliki hubungan yang bisa dimaknai secara magis.
- Cerita di Balik Perjalanan Pulang Keris Diponegoro
DUTA Besar Republik Indonesia untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja merasa sedikit lega setelah keris Kiai Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro diserahkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayan dan Ilmu Pengetahuan Belanda Inggrid van Engelshoven, Selasa, 3 Maret yang lalu di kantor KBRI, Den Haag, Belanda. Masih ada satu tugas lain menanti: membawa keris pusaka itu pulang kembali ke Tanah Air sehari setelah serah terima tersebut. Pada Rabu, 4 Maret, pukul 11 pagi waktu Belanda, Dubes Puja didampingi Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Din Wahid dan Francine Brinkgreve, kurator Museum Volkenkunde, Leiden, membawa pulang keris pusaka yang tersimpan selama ratusan tahun di negeri Belanda. Setahun setelah Perang Jawa berakhir, keris Kiai Nogo Siluman itu dihadiahkan Kolonel Jan-Baptist Cleerens kepada Raja Willem I. Pada tahun 1831 itu pula keris jadi koleksi di Koninklijk Kabinet van Zaldzaamheden (KKZ) atau Kabinet Kerajaan untuk Barang Antik di Den Haag. Barangkali semacam simbol penaklukan Pangeran Diponegoro, pemimpin Perang Jawa (1825–1830) yang nyaris membuat Belanda bangkrut. Dubes Puja mengisahkan beberapa pengalaman uniknya saat mempersiapkan perjalanan pulang membawa keris tersebut ke Indonesia. Cuaca Belanda di awal Maret masih tak menentu. Angin kencang dan awan mendung kerap terjadi sepanjang hari.
- Keris Kiai Nogo Siluman Tak Pernah Hilang
DALAM kotak kayu itu tersimpan keris bergagang kayu dengan ukiran kepala naga emas di bagian bawahnya. Tubuh naga itu menjalar sampai ke ujung keris di antara sulur-sulur tanaman yang juga berwarna emas. Mungkin dulunya tubuh sang naga juga ditutupi dengan emas, yang sekarang hanya menyisakan bagian kecil dekat ujung ekornya. Sisi kanan dan kiri keris itu tak lagi halus, gempil di beberapa bagian. Warangka- nya yang dari kuningan pun demikian. Penyok di banyak sisi. “Saya membayangkan keris ini dipakai untuk perang, diadu dengan senjata-senjata lain. Ini bukan senjata seremoni atau pusaka biasa. Ini senjata untuk perang,” ujar Sri Margana, ketua Departemen Sejarah Universitas Gadjah Mada, kepada Historia.ID. Margana adalah salah satu peneliti yang diminta untuk mengkonfirmasi identitas koleksi keris di National Museum of World Cultures (NMVW) di Leiden, Belanda. Keris berhias kepala naga tadi salah satunya. Bukan keris biasa, keris yang konon bernama Kiai Nogo Siluman ini milik Pangeran Diponegoro.
- Memetakan Perjalanan Keris Pangeran Diponegoro
KERIS Kiai Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro yang sempat dianggap hilang akhirnya ditemukan. Keris itu diserahkan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda Ingrid van Engelshoven kepada Duta Besar Republik Indonesia untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja, di KBRI Den Haag, Belanda, 3 Maret 2020, pukul 10 pagi waktu setempat. Penyerahan itu disaksikan oleh Direktur Nationaal Museum van Wereldculturen Stijn Schoonderwoerd. Keris itu kemudian diserahkan ke Museum Nasional pada 5 Maret 2020. Keris Kiai Nogo Siluman dibawa ke Belanda oleh Kolonel Jan-Baptist Cleerens, komandan pasukan Belanda dalam Perang Jawa di medan pertempuran Banyumas dan Bagelen. Dia menghadiahkan keris itu kepada Raja Belanda William I sebagai piala kemenangan Belanda atas Pangeran Diponegoro. Cleerens berperan dalam mengakhiri Perang Jawa dengan cara membujuk Pangeran Diponegoro agar mau berunding yang ternyata jebakan. Diponegoro ditangkap dalam perundingan di Karesidenan Kedu, Magelang, pada 28 Maret 1830. Dia diasingkan hingga wafat di Makassar pada 8 Januari 1855.
- Melacak Keris Mistis Pangeran Diponegoro
RATUSAN tahun sudah sejak keris Nogo Siluman milik Pangeran Diponegoro dianggap hilang dari tempat penyimpanannya di museum Belanda. Lewat pencarian yang panjang, keris itu ditemukan dan dikembalikan kepada Indonesia. Sejumlah penelitian dilakukan untuk menemukan Kiai Nogo Siluman. Pada 1984, Pieter Pott, mantan kurator Museum Volkenkunde (sekarang National Museum of World Cultures, NMVW) di Leiden yang kemudian menjadi direkturnya itu mencoba melacak Kiai Nogo Siluman dalam koleksi Museum Volkenkunde. Penelitian ini juga termasuk kelanjutan dari perjanjian pada 1975 antara pemerintah RI dan Belanda mengenai pengembalian warisan budaya yang berkaitan dengan tokoh bersejarah. “Dilanjutkan karena masih ada keterangan bahwa keris Diponegoro masih di Belanda. Kemungkinan besar ingin melengkapi benda milik Diponegoro di Belanda yang sudah lebih dulu dikembalikan ke Indonesia,” ujar Sri Margana, ketua Departemen Sejarah Universitas Gadjah Mada, kepada Historia.ID.





















