Hasil pencarian
9806 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Di Balik Prasasti Kutukan Sriwijaya
SEBAGIAN besar prasasti kutukan yang dikeluarkan penguasa Sriwijaya ditempatkan di daerah strategis dari sisi ekonomi. Tujuannya untuk mengikat masyarakat agar tak memberontak dan patuh terhadap perintah raja. Beberapa prasasti kutukan yang ditemukan di Palembang yaitu Prasasti Bom Baru, dan Prasasti Telaga Batu. Prasasti Kota Kapur ditemukan di Pulau Bangka dan Prasasti Karang Berahi ditemukan di Jambi. Sedangkan Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Jabung ditemukan di Lampung. Menurut Sondang M. Siregar, peneliti Balai Arkeologi Sumatra Selatan, dalam “Prasasti-Prasasti Kutukan dari Masa Sriwijaya”, termuat di Menggores Aksara, Mengurai Kata, Menafsir Makna, kata “kutuk” dan “semoga” (berkat) sering tertulis di prasasti-prasasti itu. Kutukan ini merupakan pesan penting dari pembuat prasasti kepada masyarakat di lokasi prasasti ditempatkan.
- Prasasti Kutukan Sriwijaya di Wilayah Taklukkan
PRASASTI kutukan terlengkap ditemukan Kota Sriwijaya, Palembang. Penguasa Sriwijaya juga menempatkan prasasti kutukan di luar pusat kota, yaitu daerah-daerah yang mereka taklukkan. Dua prasasti kutukan yang ditempatkan di Palembang, yaitu Prasasti Bom Baru dan Prasasti Telaga Batu. Selain itu, ada Prasasti Baturaja yang ditemukan di Baturaja. Prasasti Kota Kapur ditemukan di Pulau Bangka. Prasasti Karang Berahi ditemukan di Jambi. Sementara Prasasti Palas Pasemah dan Prasasti Jabung ditemukan di Lampung. Bambang Budi Utomo, arkeolog senior Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, menjelaskan Palembang telah dihuni manusia paling tidak sejak abad ke-7, tepatnya pada 682. Ini sesuai dengan pertanggalan Prasasti Kedukan Bukit yang memberitakan keberhasilan perjalanan Dapunta Hiyang, seorang penguasa dari Kedatuan Sriwijaya.
- Gonjang-ganjing Nasionalisasi Perusahaan Asing
NASIONALISASI aset-aset selalu jadi persoalan besar pada negeri-negeri pascajajahan. Ia adalah wujud pertarungan yang terus berlangsung kendati negeri tersebut sudah lepas dari belenggu penjajahan. Karena aset-aset bangsa-bangsa penjajah di negeri jajahannya, wujud dominasi kolonial atas ekonomi koloninya, seringkali tak serta merta dikembalikan kepada bangsa yang telah merdeka dari penjajahan. Contoh mutakhir dari nasionalisasi aset asing pada negeri “dunia ketiga” adalah yang dilakukan Hugo Chavez di Venezuela. Pada 2010 lalu, belasan perusahaan minyak asing, di antaranya milik Amerika Serikat, diambil alih oleh pemerintah Venezuela. Bahkan Chavez mengumumkan akan mengambil paksa perusahaan minyak asing yang menolak menyerahkan kilangnya. Pada era 1950-an, dalam rangka dekolonisasi, Indonesia pun pernah melakukan hal yang sama dengan Venezuela. Sebagian besar perusahaan milik negeri asing, terutama Belanda, diambilalih. Mulai sektor pertambangan sampai perkebunan dikuasai oleh pemerintah Republik Indonesia. Namun, nasionalisasi ternyata juga memunculkan banyak persoalan: ketersediaan sumber daya manusia, kemampuan mengelola manajemen sampai dengan isu-isu korupsi dan perebutan posisi serta kekuasaan atas perusahaan dari kalangan kita sendiri. Alih-alih mendatangkan keuntungan bagi negara, nasionalisasi yang salah urus malah jadi sarang korupsi. Dalam laporan khusus ini kami mengangkat seluk-beluk nasionalisasi perusahaan asing tersebut. Ini menjadi penting karena isu nasionalisasi selalu muncul di tengah serbuan modal asing yang masuk ke Indonesia. Ada semacam sentimen terhadap asing yang masih terawat di dalam ingatan sebagian besar orang di negeri ini. Sementara itu, beberapa orang yang menjalankan pekerjaan sebagai komprador, justru menangguk banyak untuk diri sendiri.* Berikut ini laporan khusus sejarah nasionalisasi perusahaan asing: Meniti Jalan Nasionalisasi Dalih Pengambilalihan Massal Terbentuknya Perusahaan Negara Unilever Berkelit dari Situasi Sulit Batu Sandungan di Jerman Nasionalisasi dan Konfrontasi
- Ibnu Sutowo dan Para Panglima Jawa di Sriwijaya
RADEN Ibnu Sutowo bin Sastrodiredjo, kakek-mertua aktris Dian Sastrowardoyo yang belakangan kembali menjadi perbincangan di jagat maya, sadar betul mesti siap ditempatkan di mana saja kelak setelah menjadi dokter. Sebagai mahasiswa kedokteran Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS), yang terletak di Surabaya, ia tahu betul risiko dari profesi yang bakal digelutinya sebagai abdi pemerintah kolonial. Maka setelah lulus pada 1940 dan kemudian ditempatkan di Sumatra Selatan (Sumsel), Ibnu santai saja menjalankannya. Sebagai dokter muda pemerintah Hindia Belanda, Ibnu tak menetap di satu tempat saja saat bertugas di Sumsel. Mulanya dia ditempatkan di kantor pemberantasan malaria di Palembang, lalu dipindahkan ke Martapura. “Tugas utama yang diberikan kepada dr Ibnu Sutowo adalah mengawasi kesejahteraan dan kesehatan rakyat,” tulis Mara Karma dalam Ibnu Sutowo: Pelopor Sistem Bagi Hasil di Bidang Perminyakan.
- Pekik Merdeka Shamsiah Fakeh (Bagian II)
DALAM tradisi Melayu dan Minangkabau, silaturahim memiliki posisi penting. Ia adalah upaya mempererat persaudaraan dan kekeluargaan. Maka, silaturahim itulah yang diinginkan Shamsiah Fakeh pasca-diizinkan pulang ke negerinya, Malaysia. Shamsiah lebih dari empat dekade jadi eksil dengan cap sebagai komunis. Kiprahnya dalam gerakan kemerdekaan mengusik kolonialis dan para pendukungnya. Ketika pemerintah Malaysia telah berbaik hati, Shamsiah dan suaminya dari pernikahan kelima, Ibrahim Mohamad, diperbolehkan pulang pada 22 Juli 1994. Shamsiah mensyukuri izin itu dengan bersilaturahim ke dua tokoh yang rekannya semasa perjuangannya: Abdul Samad Idris dan Aishah Ghani. Samad merupakan tokoh United Malays National Organisation (UMNO), rival politik Partai Komunis Malaya (PKM) tempat Shamsiah dan Ibrahim jadi kadernya sejak perjuangan kemerdekaan Malaysia dari Inggris. Dalam memoarnya, Dari AWAS ke Rejimen Ke-10, Shamsiah berkisah ia dan suaminya bertamu ke kediaman Samad pada 31 Juli 1994.
- Riwayat Jackson Record
SETELAH peristiwa G30S, sekolahnya terbengkalai. Dia hanya duduk sampai tahun pertama SMA. Sebelumnya, dia belajar di SD Chung San dan SMP Sin Wen. Dia lalu bekerja di sebuah toko kaset. Dari sana dia lalu mengenal bermacam-macam musik. “Lama-lama saya jadi tertarik,” aku Thung Hay Tung, yang belakangan dikenal sebagai Jackson Arief, dalam Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia. Bermula dari pembantu di toko kaset, Jackson kemudian menjadi pedagang alat elektronik dan lampu disko. Sekitar tahun 1976, Jackson sudah jadi produser film. Dia pernah bekerjasama dengan Sjamsuddin Sjafi’i dalam memproduksi film-film Rhoma Irama. Pada tahun-tahun itu, Rhoma Irama sudah mulai dikenal sebagai “Raja Dangdut” bersama band Soneta yang dipimpinnya. Rhoma dan Soneta sohor setelah rekaman di Yukawi Record yang dikelola Nomo Koeswoyo.
- Memahami Preman yang Diberantas Gajah Mada
KAPOLDA Metro Jaya, Inspektur Jenderal Polisi Fadil Imran berbicara kepada wartawan di Polda Metro Jaya. Ia mengibaratkan aksinya seperti Gajah Mada memberantas premanisme. Menurut Fadil, sosok Gajah Mada dinantikan masyarakat untuk menghentikan aksi preman kampung yang kerap mengganggu. Selama ini preman di Jakarta bertindak seolah tak tersentuh hukum. Masyarakat yang ingin melawan preman itu takut dianiaya, dikeroyok, dan diancam. Sebaliknya, lanjut Fadil, masyarakat pasti senang jika kampungnya terbebas dari premanisme. “Tiba-tiba ada sosok satu orang namanya Gajah Mada datang kemudian berantem sama ini preman, preman ini terbunuh, kira-kira masyarakat ini senang enggak?” kata Fadil sebagaimana dikutip CNN Indonesia.
- Wajah Lain Gajah Mada
SUATU hari Muhammad Yamin mengunjungi Trowulan untuk melihat jejak-jejak Kerajaan Majapahit. Saat itulah ia menemukan pecahan terakota berupa kepala pria berwajah gempal dan berambut ikal. “Arca ini digali dekat puri Gajah Mada di Terawulan, Majapahit,” katanya. Yamin kemudian mengidentifikasi wajah itu sebagai arca Gajah Mada. Menurutnya dalam Gajah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara, air muka arca itu penuh dengan kegiatan yang mahatangkas. Wajahnya menyinarkan keberanian seorang ahli politikus yang berpandangan jauh. Arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar berpendapat lain soal wajah Gajah Mada. Dalam Gajah Mada Biografi Politik, ia menjelaskan arca Brajanata dan Bima sebagai dua perkembangan dari penggambaran Gajah Mada.
- Gajah Mada Memadamkan Pemberontakan Kuti
NYAWA Raja Jayanagara terancam. Raja kedua Majapahit itu diuber komplotan Kuti yang ingin menumbangkan pemerintahannya. Sampai-sampai sang raja menjauh dari istananya. Jayanagara mungkin bukanlah raja favorit rakyat Majapahit. Pararaton menyebut pemberontakan terhadapnya akibat hasutan Mahapati yang berambisi menjadi patih amangkubhumi. Dia menebar fitnah dan mengadu domba para pembesar Majapahit hingga saling bermusuhan. Namun, Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakrtagama mengatakan alasan pemberontakan karena tidak puas dengan penobatan Jayanagara.
- Puasa Zaman Gajah Mada
GAJAH MADA menyerukan sumpahnya dengan lantang di balairung kedaton, pada sebuah pertemuan yang dihadiri para pejabat tinggi Majapahit. Dia berkata jika Gurun, Seran, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik telah mengakui kejayaan Majapahit, pada waktu itulah dia amukti palapa. Tak ada yang tahu pasti apa maksud amukti palapa. Namun, ada yang menafsirkan Gajah Mada tengah bernazar. Dia akan melakukan puasa mutih demi tercapai angan-angannya. “Ada yang menafsirkan hamukti palapa sebagai tindakan makan nasi saja, tanpa lauk, tanpa perasa, santan. Ada yang menafsirkan begitu,” ujar Dwi Cahyono, arkeolog dan pengajar sejarah Universitas Negeri Malang, kepada Historia.ID.
- Berkaca dari Gajah Mada
Rene Suhardono, dikenal sebagai career coach, pelaku bisnis dan penulis. Buku Your Job is NOT You Career dan Ultimate U merupakan karya-karya dari pria gesit kelahiran Jakarta 8 Juli 1972 ini. Ia adalah putra tunggal dari pasangan Rini Warsono dan Vicente Canoneo asal Filipina. Rene, sekira 1998, pernah membuka usaha warung gerobak dengan menu western di bilangan Jalan Mahakam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dari sekadar gerobak, Rene pun mengembangkannya hingga menjadi jaringan kafe. Ayah empat anak ini, mengaku sebagai penikmat makanan dan sejarah. Dan tokoh yang dia kagumi adalah Gajah Mada. Gajah Mada, senapati tertinggi Majapahit dibawah Hayam Wuruk, memang penuh misteri. Gajah Mada memulai karir di Majapahit sebagai bekel (kepala pengawal) dengan limabelas orang pasukannya yang disebut bhayangkara. Sekali waktu, dia menyelamatkan raja Jayanagara ke Desa Badander. Untuk menjaga keamanan raja, dia tak segan membunuh seorang pengawal yang memaksa ingin kembali ke Majapahit.
- Misteri Kematian Gajah Mada
“Tersebut pada tahun saka angin delapan utama (1285). Baginda menuju Simping demi pemindahan candi makam... Sekembalinya dari Simping segera masuk ke pura. Terpaku mendengar Adimenteri Gajah Mada gering. Pernah mencurahkan tenaga untuk keluhuran Jawa. Di Pulau Bali serta Kota Sadeng memusnahkan musuh.” Begitulah bunyi pemberitaan dalam Nagarakretagama pupuh 70/1-3 dikutip Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakretagama. Raja Majapahit Rajasanegara atau Hayam Wuruk yang sedang melakukan perjalanan ke wilayah Blitar pada 1364 dikejutkan dengan berita Gajah Mada sakit. Dia segera kembali ke ibukota Majapahit. Kitab yang ditulis oleh Mpu Prapanca itu mengisahkan akhir hidup sang patih digdaya dengan kematian yang wajar. Meski perannya di Kerajaan Majapahit begitu melegenda, akhir riwayat Gajah Mada hingga kini masih belum jelas. Arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam Gajah Mada Biografi Politik menulis, ada berbagai sumber yang mencoba menjelaskan akhir hidup Gajah Mada. Dari cerita-cerita rakyat Jawa Timur, Gajah Mada dikisahkan menarik diri setelah Peristiwa Bubat. Dia kemudian memilih hidup sebagai pertapa di Madakaripura di pedalaman Probolinggo selatan, wilayah kaki pegunungan Bromo-Semeru.





















