Hasil pencarian
9872 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Tahi Gajah Pangeran Kamboja
BILA ada Duta Besar (Dubes) Indonesia yang paling bahagia menjalankan tugasnya pada masa 1960-an, barangkali orang itu ialah Boediardjo. Perwira AURI ini ditunjuk menjadi Dubes RI pertama berkuasa penuh untuk Kamboja pada 1965. Saat itu, Kamboja dipimpin oleh Pangeran Norodom Sihanouk. Sebelum berangkat, Presiden Sukarno berpesan kepada Boediardjo. “Kamu saya tugaskan untuk jadi duta besar di negara yang kepala negaranya adalah saudara saya,” demikian kata Sukarno kepada Boediardjo yang terkisah dalam otobiografi Boediardjo, Siapa Sudi Saya Dongengi. Menurut Boediardjo Pangeran Sihanouk adalah pengagum berat Sukarno yang ingin menerapkan ajaran Nasakom di Kamboja. Ketika bertugas di Kamboja, Boediardjo mendapati bahwa Pangeran Sihanouk merupakan sosok yang royal dan flamboyan. Sang pangeran suka mengajak para dubes pergi ke pegunungan, mandi ramai-ramai di alam bebas. Malam hari, Sihanouk main saksofon sementara para dubes disuruh berdansa sampai pagi. Menjelang pukul 4 pagi, para dubes disuguhi makan bakmi. Begitulah cara Sihanouk “memomong” para dubes di negerinya.
- Museum Gajah Bakal Merestorasi 817 Koleksi yang Rusak
PASCA kebakaran yang melanda Museum Nasional Indonesia (MNI) atau Museum Gajah pada Sabtu (16/9/2023), pihak Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya (BLU MCB) sebagai pengelola melakukan evakuasi, investigasi, dan assessment kerusakan yang ditimbulkan. Diketahui, Museum Gajah menyimpan sekitar 194 ribu koleksi benda bersejarah asli maupun replika. Mengutip rilis pers di laman resmi Museum Gajah pada Minggu (17/9/2023), Plt. Kepala BLU MCB Ahmad Mahendra mengatakan kebakarannya melanda enam dari 15 ruangan yang ada di Gedung A Museum Gajah. Koleksi-koleksi yang terdampak adalah koleksi replika. “Ruang pamer Gedung B dan C sama sekali tidak terdampak. Api tidak menyebar. Sebagian koleksi yang terdampak adalah replika, seperti di bagian prasejarah. Sisanya dipastikan dalam keadaan aman,” kata Mahendra.
- Sepakbola Gajah demi Bumi Cendrawasih
SEBAGAI klub yang ikut mendirikan PSSI, Persebaya Surabaya merupakan klub yang kaya sejarah. Prestasinya pun fenomenal dalam persepakbolaan tanah air. Sayang, tim berjuluk “Bajul ijo” (buaya hijau) itu acapkali tersangkut skandal. Dari sejumlah kasus yang pernah mencoreng kebesaran namanya, paling bikin geger adalah skandal “Sepakbola gajah” di kompetisi Perserikatan 1988. Aib yang berkalang dendam di satu sisi dan tujuan mulia di sisi lain itu menjadi skandal kecurangan pertama, jauh sebelum timnas Indonesia mengalah di Piala Tiger (kini AFF Cup) 1998 atau kasus PSIS Semarang di Liga Indonesia 2014. Dalam buku Sepak Bola Gajah Paling Spektakuler, Slamet Oerip Prihadi dan Abdul Muis mengungkapkan, kisahnya bermula dari laga Divisi Utama Wilayah Timur di mana Persebaya menjamu Persipura Jayapura di Stadion Gelora 10 November, 21 Februari 1988. Persebaya yang sangat berpotensi menang. Terlebih mereka tampil di hadapan dukungan penuh arek-arek Suroboyo.
- Dari Merpati Putih untuk Gajah Putih
PENCAK silat memberi kebanggaan besar pada Indonesia di Asian Games 2018. Sebagai penyumbang terbesar medali emas, pencak silat menjadi “juara” di rumah sendiri. Bukan hanya itu, olahraga beladiri asli Nusantara itu juga membanggakan lantaran semakin dikenal di kancah global. Para atlet Thailand, yang membawa pulang dua perak dan lima perunggu dari silat, empat di antaranya berasal dari Perguruan Pencak Silat Beladiri Tangan Kosong (PPS Betako) Merpati Putih (MP) asal Indonesia. Dua pelatihnya pun dari MP, Andy Zulkarnaen dan Ellvia Zahara. Tak heran bila usai pertandingan keempat pesilat Thailand selalu memberi hormat sama seperti yang dilakukan 1300 pesilat MP ketika memecahkan rekor dunia MURI dalam bentuk mematahkan 1000 besi pompa serentak di Pusdiksi Zeni, Bogor, 10 Februari 2018: tangan kanan mengepal ke arah jantung dan tiga jari tangan kiri mereka terlipat sementara dua jari lain mengacung ke arah kening.
- Gajah Sultan Banten
FRANCOIS VALENTIJN (1666-1727), misionaris dan naturalis Belanda, yang berkunjung ke Kesultanan Banten pada 1694 menyaksikan gajah sebagai salah satu hewan peliharaan sultan. Dia menggambar pemandangan Banten yang menunjukkan bahwa pada pertengahan pertama abad ke-17 terdapat seekor gajah di lapangan di bawah sebuah bangunan beratap. Sajarah Banten (pupuh 44) menyebutkan bahwa gajah itu bernama Rara Kawi yang diikat pada sebuah tonggak di panyurugan (galangan kapal kerajaan) di tepi sungai. Jean Baptiste Tavernier, pedagang dan penjelajah Prancis, berkunjung ke Banten pada Juli 1648. Dia menghitung ada 16 ekor gajah di bagian dalam istana Kesultanan Banten. Dia juga menyebut bahwa raja memiliki jauh lebih banyak gajah.
- Bandoola, Gajah Pahlawan Perang Dunia
EVAKUASI menggunakan gajah terhadap pengungsi asal Desa Awng Lawt, Kachin, Myanmar awal April lalu berhasil menyelamatkan banyak nyawa. Evakuasi tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya gajah dalam kehidupan masyarakat Myanmar. Semasa Perang Dunia II, evakuasi menggunakan gajah telah menyelamatkan ratusan nyawa penduduk sipil dari kekejaman tentara Jepang yang menduduki Burma (kini Myanmar). Evakuasi itu dipimpin Letkol James Howard Williams alias Elephant Bill dan gajahnya yang bernama Bandoola. Bandoola gajah kuat, cerdas, dan penyayang yang lahir sama dengan Bill, November 1897. “Bandoola satu-satunya gajah yang tercatat dalam buku besar perusahaan karena tak memiliki bekas luka pelatihan,” tulis Vicki Croke dalam Elephant Company: The Inspiring Story of an Unlikely Hero and the Animals.
- Kompi Gajah Bikin Inggris Tak Jadi Kalah
DIPANDU para pawang, gajah-gajah membantu evakuasi pengungsi asal Desa Awng Lawt di Danai, Negara Bagian Kachin, Myanmar, awal April lalu. “Para penduduk desa dengan hiasan kepala tradisional mengangkat anak-anak ke punggung beberapa mahluk raksasa itu untuk menyeberangi sungai,” tulis straittimes.com, 15 Mei 2018. Pengungsian itu terjadi setelah Desa Awng Lawt tak aman akibat meningkatnya eskalasi konflik antara pasukan Kachin Independence Army (KIA) dan militer Myanmar. Penduduk mengungsi ke kamp-kamp Internally Displaced Person (IDP) yang berjarak lebih dari 100 kilometer. Mereka mencapai tepi sebuah sungai di Danai dalam keadaan kehabisan makanan. Penduduk desa setempat langsung membantu dengan mengerahkan gajah-gajah untuk mengangkut orangtua, anak-anak, dan orang yang sakit. Evakuasi menggunakan gajah pernah dilakukan semasa Perang Dunia II. Bersama Bandoola dan gajah-gajah lain di Kompi Gajah, Letkol James H. Williams alias “Elephant Bill” berhasil mengungsikan warga sipil dari Burma (kini Myanmar) ke India sekaligus berkontribusi bagi kemenangan Sekutu di Burma.
- Gajah Putih di Thailand
GAJAH memiliki peran penting dalam budaya masyarakat Thailand. Hewan ini dihargai karena ketahanan dan kekuatannya, sehingga kerap diterjunkan dalam pertempuran. Ketika itu, raja sering menunggangi gajah ke medan perang. Semakin banyak gajah yang dimiliki seorang raja, maka semakin besar pula kekuasaannya. Di antara berbagai jenis gajah, gajah putih berada di tingkat paling tinggi. Menurut Dacota Shell dan Meg Villalobos dalam “Elephants”, termuat di May Term Thailand, gajah putih tidak hanya dianggap sebagai simbol kerajaan di Thailand, tetapi juga simbol suci dalam agama Buddha dan Hindu. Begitu dihormati membuat semua gajah putih dianggap milik raja dan jumlah gajah putih yang dimiliki raja menentukan kekuasaan dan statusnya. Selain itu, gajah putih dipercaya sebagai pembawa keberuntungan bagi kesejahteraan dan kemakmuran negara. Peran gajah dalam budaya Thailand berkaitan dengan sejarah Kerajaan Ayutthaya. Borommatrailokkanat atau Trailok, raja agung Ayutthaya yang memerintah tahun 1448–1488, dikenal sebagai raja pertama yang memiliki gajah putih. Namun, keberadaan hewan sakral ini dalam cerita kerajaan kerap dikaitkan dengan Raja Maha Chakkraphat yang dikenal sebagai Raja Gajah Putih. Raja Ayutthaya yang berkuasa dua periode (1548–1564 dan 1568–1569) itu memiliki tujuh gajah putih yang dianggap sebagai pembawa nasib baik dan pelindung dari hal-hal buruk di masa pemerintahannya.
- Cerita Kumis Pahlawan Nasional Raja Haji Fisabilillah
PADA 6 Januari 2016, Kota Tanjungpinang berusia 232 tahun. Penetapan hari jadi tersebut pada 1989. Tanggal tersebut merujuk pada peristiwa sejarah kemenangan Raja Haji Fisabilillah atas Belanda di Pulau Penyengat pada 6 Januari 1784. Opu Daeng Celak alias Engku Haji adalah bangsawan Bugis yang bermigrasi ke Riau dan memperoleh gelar Yang Dipertuan Agung (pembantu sultan dalam urusan pemerintahan) Kerajaan Riau-Johor. Ketika dia wafat tahun 1744, anaknya, Raja Haji yang berusia 19 tahun diangkat menjadi Engku Kelana. Tugasnya mengatur pemerintahan dan menjaga keamanan seluruh wilayah Kerajaan Riau-Johor. Dia juga teribat dalam pertempuran melawan Belanda dalam Perang Linggi (1756-1758). Menurut buku Jejak Pahlawan dalam Aksara yang diterbitkan Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia dan Departemen Sosial Republik Indonesia, sejak Raja Haji menjadi Yang Dipertuan Muda IV tahun 1777, Kerajaan Riau-Johor mengalami kemajuan pesat dalam bidang ekonomi, pertahanan, sosial-budaya, dan spiritual.
- Langkah Kaki Sudiro di Parlemen
BERBEDA dari hubungannya dengan Bung Karno dan Bung Hatta yang sudah sejak dikenalnya sejak zaman pergerakan kemerdekaan, hubungan Sudiro dengan “Bung Kecil” Sutan Sjahrir baru terjadi setelah proklamasi kemerdekaan. Tepatnya saat Sudiro jadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). “Sidang-sidang pertama KNIP sekaligus juga merupakan permulaannya Sutan Sjahrir kembali muncul di panggung politik bangsanya, setelah selama zaman Jepang tidak pernah disebut-sebut namanya,” tulis Soebagijo Notodidjojo dalam Sudiro: Pejuang Tanpa Henti. Mayoritas anggota KNIP dari kaum muda, termasuk Sudiro, mulanya tak mengenal Sjahrir. Selain tak hadir dalam Proklamasi 17 Agustus 1945, Sjahrir sibuk bersiasat di dalam negeri dan berdiplomasi di luar sejak kedatangan NICA. Sampai-sampai setelah ditunjuk jadi ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), Sjahrir mesti dijemput tiga anggota KNIP untuk hadir di sidang-sidang KNIP.
- Miskinnya Sisingamangaraja XII
KAPUR (Dryobalanops aromatica) sebagai tanaman kini hampir tak dikenal orang. Di daerah penghasilnya, Kabupaten Pakpak, Sumatera Utara pun masyarakat tak mengetahui tanaman penghasil kapur barus tersebut. “Ditanya warga, kapur gak tahu,” ujar Ichwan Azhar, pengajar sejarah di Universitas Negeri Medan (Unimed). Berangkat dari realitas tersebut, Ichwan terpacu untuk menelitinya. Berbekal rekannya yang –sesama dosen– menjadi wakil bupati kabupaten tersebut, Ichwan menelusuri hutan alam yang ada di sana beberapa tahun belakangan. “Setelah kami telusuri, ada dan masih dicari [orang] di hutan. Harganya Rp700.000 satu botol. Satu botol minuman limun itu,” sambungnya.
- Cerita di Balik Gambar Sisingamangaraja XII
PADA 1954, Augustin Sibarani, pelukis dan karikaturis terkemuka Indonesia, menghadiri pertemuan besar keluarga masyarakat Tapanuli yang diselenggarakan Panitia Sisingamangaraja XII di gedung Adhuc Stadt (sekarang gedung Bappenas) di Menteng, Jakarta Pusat. Dalam pertemuan itu hadir seorang tokoh Batak yang sudah tua, Sutan Paguruban Pane, ayah pengarang terkenal Sanusi dan Armijn Pane. Waktu Sisingamangaraja XII bergerilya di daerah Dairi, Sutan bekerja sebagai klerk (juru tulis) di kantor pemerintah Hindia Belanda di Sibolga. Panitia memutuskan agar Sibarani membuat gambar Sisingamangaraja XII berdasarkan keterangan dari Sutan Paguruban Pane. Aneh memang, tidak ada foto Sisingamangaraja XII, sementara ayahnya, Sisingamangaraja XI ada fotonya yang dibuat oleh Franz Wilhelm Junghuhn, naturalis asal Jerman. Ada cerita bahwa tak ada foto Sisingamangaraja XII karena kesaktiannya membuat juru foto Belanda menjadi kaku ketika hendak memotret jenazahnya, dan kameranya hangus terbakar.





















