top of page

Hasil pencarian

Search this site

10034 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ayrton Senna dalam Kenangan

    SETELAH beberapa waktu absen, McLaren Automotive comeback di ajang pameran Goodwood Festival of Speed di Chichester, Inggris, 11-14 Juli 2024. Pabrikan mobil mewah Inggris itu hadir untuk memperingati dua momen bersejarah: 50 tahun kemenangan pertama tim McLaren di Indianapolis 500 dan peringatan 30 tahun kematian tragis pembalap legendaris Formula One (F1) Ayrton Senna. Di garasi McLaren House dalam pameran itu, McLaren menghadirkan mobil M16C/D yang memenangkan empat race di Indianapolis 500. Mclaren juga akan memamerkan mobilnya mengelilingi area pameran. “Senang rasanya kembali ke Goodwood Festival of Speed dengan line-up yang ikonik untuk merayakan dua peringatan penting bagi tim (McLaren F1). Masa lalu kami jadi penyemangat masa sekarang dan Goodwood Festival of Speed jadi ajang yang bagus untuk memperlihatkan pencapaian tim dan merayakan masa-masa jaya sebagai tim balap,” ujar COO McLaren Formula 1 Team, Piers Thynne, di laman resmi McLaren, 25 Juni 2024.

  • Trah Djiwandono dalam Kabinet

    PRESIDEN Joko Widodo melantik tiga pejabat baru di kabinetnya kemarin, Kamis (18/7/2024). Salah satu nama yang dilantik adalah Thomas Djiwandono. Bendahara Umum Partai Gerindra itu ditunjuk presiden menjadi wakil menteri keuangan. Thomas merupakan putra pasangan Soedrajad Djiwandono dan Biantiningsih Djojohadikusumo, putri begawan ekonomi Soemitro Djojohadikusumo yang merupakan ayah presiden terpilih Prabowo Subianto. Soedrajad sendiri merupakan salah satu orang kepercayaan mantan Presiden Soeharto di bidang keuangan, hingga dipercaya menduduki beberapa jabatan dalam Kabinet Pembangunan pemerintahan Orde Baru. Soedrajad berasal dari lingkungan Keraton Yogyakarta. Ketika Sri Sultan Hamengkubuwono VIII bertakhta di era 1930-an, keraton punya banyak abdi dalem. Salah satunya Thomas Sastro Djiwandono.

  • Sabang, Singapura yang Gagal

    DINIHARI 22 Juni 2024, sampailah KRI Dewaruci –yang membawa rombongan Muhibah Budaya Jalur Rempah– di Teluk Sabang. Kapal latih TNI AL itu tiba lebih cepat lantaran mendahului jadwal demi kenyamanan pelayaran. Lantaran mendahului jadwal pula, Dewaruci tak bisa langsung sandar di pelabuhan. Maka para awak Dewaruci harus sabar menunggu untuk sandar pada hari berikutnya. Jadi keindahan Sabang nan mungil itu untuk sehari ini hanya bisa dilihat dari kapal saja. Kendati kecil dan tidak seramai Jawa, Sabang dikenal bangsa Indonesia sebab ada lagu “Dari Sampai Merauke”. Sabang yang berada di ujung barat-laut dianggap sebagai titik nol Republik Indonesia.

  • Menjaga Harta dan Hati dalam Pernikahan

    KELUARGA adalah inti terpenting dalam tatanan sosial masyarakat Mesir Kuno. Orang Mesir memiliki rasa bangga yang besar terhadap keluarga dan garis keturunan mereka. Bahkan, sudah menjadi kebiasaan untuk mengabadikan bukan hanya sosok sang pria pada prasasti makamnya, tetapi juga istri, anak-anak, orangtua, dan sering kali kakek-neneknya. Potret kehidupan keluarga yang bahagia ini juga terpancar jelas melalui patung-patung di dalam makam. Figur istri digambarkan duduk berdampingan dengan suaminya, sembari melingkarkan lengan dengan penuh kasih di pinggang sang suami. Sementara itu, anak-anak mereka, baik laki-laki maupun perempuan, berada di dekat kaki kedua orang tuanya. Keharmonisan yang terpancar dalam karya seni tersebut nyatanya ditopang oleh pembagian peran yang jelas serta pengakuan hukum yang adil di dalam rumah tangga. Dalam struktur keluarga di Mesir Kuno, suami bertindak sebagai kepala rumah tangga. Kendati demikian, istri tetap dihormati sebagai mitra sejajar, dan status hukumnya yang setara dengan pria tidak memudar setelah mereka menikah. “Seperti yang telah kita lihat, meskipun memiliki status sosial yang tinggi, perempuan tidak bersaing dengan laki-laki di masyarakat. Tapi di rumah, di wilayahnya sendiri, seorang perempuan adalah penguasa dan tugasnya adalah membesarkan anak-anaknya dan mengelola rumah tangga seefisien mungkin,” catat egiptologis Barbara Watterson dalam karyanya Women in Ancient Egypt. Kedudukan hukum perempuan yang mandiri serta besarnya penghormatan terhadap institusi domestik inilah yang membentuk keunikan sistem hukum perkawinan di Mesir Kuno. Ikatan pernikahan tidak dipandang sebagai penyerahan hak istri kepada suami, melainkan sebuah kemitraan yang diatur secara adil. Untuk memahami bagaimana keharmonisan keluarga tersebut dijaga, penting untuk melihat bagaimana masyarakat Mesir Kuno mengatur hak finansial dan perlindungan hukum sejak awal bersatunya sepasang kekasih, hingga mekanisme yang terjadi apabila ikatan tersebut harus berakhir. Patung keluarga bangsawan Seneb dan istrinya, Senetites, bersama anak-anak mereka. Terbuat dari batu kapur yang dicat, ditemukan di makam mastaba mereka di Giza. Berasal dari era Kerajaan Lama, milenium ke-3 SM. (Wikimedia Commons) Makna Pernikahan Dalam masyarakat Mesir Kuno, menikah di usia muda sangat disarankan dan dianjurkan. Menikah muda dipandang sebagai sebuah pilar penting demi mewujudkan tujuan utama pernikahan, yaitu membangun rumah tangga dan memiliki anak. Tak ada batas hukum formal mengenai usia minimal untuk menikah. Namun rata-rata masyarakat Mesir Kuno melakukannya segera setelah mereka memasuki masa dewasa. Biasanya untuk pria berusia 16 hingga 20 tahun, sedangkan perempuan di usia 14 tahun. Menurut arkeolog Douglas J. Brewer dan egiptologis Emily Teeter dalam Ancient Egyptian Society and Family Life, tanda seseorang mulai memasuki masa dewasa adalah menstruasi bagi perempuan dan upacara sunat bagi anak laki-laki. Kendati pernikahan muda sangat dianjurkan demi kelangsungan garis keturunan, masyarakat Mesir Kuno tetap bersikap realistis. Pada kenyataannya, tidak ada jaminan bahwa pasangannya cocok dan menghasilkan keturunan. Karena itu, beberapa orang memilih melakukan semacam “pernikahan sementara” atau “pernikahan percobaan”. Selama satu tahun, pasangan suami istri tinggal bersama. Apabila tak sesuai yang diharapkan, mereka bisa berpisah dan dianggap bercerai. Sebaliknya, jika ternyata cocok, mereka bisa mengukuhkan pernikahan mereka. Bagi masyarakat Mesir Kuno, pernikahan memiliki arti penting yang mendalam dengan banyak makna. Barbara Watterson dalam Women in Ancient Egypt mencatat, kata paling umum untuk “menikah” adalah mni. Menariknya, kata ini juga berarti “menambatkan perahu” atau “bergabung dengan pelayanan kultus”. Selain itu mni punya makna lain, yakni “mati”, yang menurut Watterson dibumbui selera humor, mudah-mudahan tidak pernah digunakan untuk merujuk pernikahan. Pemaknaan tersebut tentu tak bisa lepas dari lanskap budaya mereka. Bagi orang Mesir Kuno, Sungai Nil adalah urat nadi kehidupan. Menambatkan perahu (mni) setelah perjalanan panjang melambangkan keamanan, stabilitas, dan menemukan pelabuhan terakhir untuk menetap. Pernikahan, bagi mereka, adalah fase di mana seseorang berhenti berkelana dan berkomitmen untuk melabuhkan hidupnya bersama pasangan dalam sebuah ikatan suci yang menuntut kedisiplinan dan pengabdian penuh. Frasa lain yang sering digunakan untuk makna menikah adalah ‘k r pr yang berarti "masuk ke rumah", hmsi r-c yang berarti "duduk bersama", dan grg pr yang berarti “mendirikan rumah tangga”. Hal tersebut sejalan dengan realitas yang terjadi di masa itu. Orang Mesir menganggap sebuah pernikahan terjadi ketika dua orang memutuskan untuk mulai tinggal bersama di bawah satu atap. Biasanya, perempuan akan pindah ke rumah milik suaminya. Menariknya, tak ada upacara keagamaan atau ritual khusus kendati perayaan atau pesta bisa saja diadakan oleh keluarga. Tak ada juga akta nikah karena negara menganggap pernikahan sebagai urusan privat. Relief Firaun Tutankhamun dan istrinya, Ratu Ankhesenamun, 1330 SM. Relief ini menggambarkan Ankhesenamun sedang merawat suaminya. (Wikimedia Commons). Perjanjian Pernikahan Sebelum pasangan tersebut tinggal serumah, pihak laki-laki biasanya akan meminta izin kepada ibu dari pihak perempuan. Selain itu membuat perjanjian pernikahan dengan ayah perempuan, kendati calon istri sering kali menjadi pihak yang menentukan. Perjanjian pernikahan merinci hadiah atau mahar yang diberikan untuk keluarga perempuan, harta bawaan sang istri, dan apa yang dimilikinya apabila terjadi perceraian atau suami meninggal dunia. Perjanjian ini ditandatangani oleh kedua belah pihak di depan beberapa saksi. Salinannya diserahkan kepada pihak netral untuk disimpan atau ditempatkan di arsip sebuah kuil. Perjanjian pernikahan sama sekali tidak berfungsi sebagai bukti perkawinan, juga bukan persyaratan hukum. “Sebuah pernikahan dapat dilakukan tanpa adanya dokumen apapun. Jadi, perjanjian tertulis tidak diperlukan untuk pernikahan sah, yang tentu saja tidak berarti bahwa pihak-pihak tidak bebas untuk membuat perjanjian tertulis, baik segera setelah menikah maupun nanti,” catat P.W. Pestman, sejarawan dan ahli papyrologi dari Belanda, dalam Marriage and Matrimonial Property in Ancient Egypt. Perjanjian pernikahan sering kali disebut 'n hmt', 'dm' n hmt', atau yang paling umum 'sh n hmt'. Secara harfiah, masing-masing frasa tersebut berarti “dokumen mengenai seorang istri”, yang oleh para ahli sering diartikan sebagai “kontrak pernikahan”. Namun Watterson menilai istilah kontrak pernikahan kurang tepat dan lebih aman menerjemahkannya sebagai “penyelesaian pernikahan”. Selain itu, terdapat perjanjian khusus bernama sh n s'nh yang secara harfiah berarti “dokumen yang menyebabkan hidup”, atau dengan kata lain, dokumen nafkah. Dalam dokumen nafkah, seorang suami berjanji untuk mendukung istrinya dalam segala hal dan membayar tunjangan, dihitung setiap tahun tetapi dibayarkan setiap bulan. Menurut P.W. Pestman, saat memasuki pernikahan, calon suami membayar mahar (sp) dan memperoleh hak tertentu atas istrinya (hp n hm.t). Mahar bukanlah uang untuk "membeli" istri melainkan simbol sakral transisi sosial bahwa ikatan si perempuan dengan keluarganya terputus dan ikatan baru dengan suaminya dimulai. Istilah hp n hm.t juga bukan berarti suami memiliki tubuh atau harta (properti) istri melainkan hak moral agar sang istri menjalankan perannya dengan baik seperti mengelola rumah tangga dengan bijak, menjaga kesetiaan (tidak berzina), dan lain-lain. Menariknya, alih-alih berupa hadiah dari pihak suami, ada pula jenis pernikahan yang justru mengedepankan pemberian hadiah dari pihak istri, yang dikenal dengan sebutan "uang untuk menjadi istri". Tipe perkawinan unik ini tercatat muncul untuk pertama kalinya pada tahun 517 SM. Dengan kata lain, perjanjian pernikahan sering kali terjadi di antara pasangan yang setara dan dapat berlaku dua arah. Fleksibilitas ini berakar kuat pada struktur sosial masyarakat Mesir Kuno yang menempatkan kedudukan hukum laki-laki dan perempuan secara sejajar. Praktik ini juga membuktikan bahwa kesetaraan gender bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah nilai yang hidup dalam masyarakat Mesir Kuno. P.W. Pestman menambahkan, seiring waktu, fungsi mahar di Mesir Kuno mengalami evolusi. Selaras dengan kuatnya status hukum kaum perempuan, mahar tersebut sepenuhnya menjadi hak milik istri, bukan orang tuanya. Perlahan, peran ayah dalam mengatur pernaikahan anak perempuannya mulai memudar, sehingga nilai mahar pun ikut berkurang. Pada tahap akhir, mahar tidak lagi diserahkan di awal pernikahan namun kalau terjadi perceraian yang ditetapkan di dalam perjanjian. Menurut Douglas J. Brewer dan Emily Teeter, berdasarkan teks peninggalan Mesir, setiap pasangan tetap memegang hak milik atas harta yang mereka bawa sebelum menikah, sedangkan properti yang didapatkah setelah menikah akan menjadi milik bersama. Mengenai kepemilikan harta selanjutnya ketika terjadi perceraian bisa diatur dalam perjanjian pernikahan. Dalam keadaan normal, seorang pria Mesir kuno memiliki satu istri. Kendati jarang, mereka bisa mengambil istri lain dengan persetujuan sang istri. Kendati demikian, ideal hubungan Mesir kuno adalah pasangan yang tetap setia satu sama lain dan memiliki anak. Relief kehidupan pasangan Mesir Kuno bernama Sennedjem dan Ti di akhirat, di mana mereka sedang memanen padi. (Wikimedia Commons). Perceraian yang Fleksibel Di Mesir Kuno, perceraian merupakan proses yang mudah dan tidak dipandang sebagai hal yang tabu oleh masyarakat. Sama seperti pernikahan yang sah cukup dengan cara mulai tinggal bersama, perceraian pun dianggap sah secara sosial hanya dengan tindakan sebaliknya, yaitu berpisah rumah. “Jika pernikahan berakhir dengan bercerai, tinggal bersama juga berakhir. Karena rumah perkawinan biasanya milik suami, istri lah yang meninggalkan rumah ini jika terjadi perceraian, baik atas keinginan sendiri atau karena ditinggalkan oleh suaminya,” catat P.W. Pestman. Karena perceraian juga dianggap sebagai urusan privat, negara sama sekali tidak ikut campur di dalamnya. Pihak suami atau istri dapat langsung menyampaikan keinginan mereka untuk berpisah secara lisan, membagi harta bersama sesuai kesepakatan dalam perjanjian pernikahan, dan dengan begitu hubungan pernikahan mereka sudah dinyatakan berakhir. “Namun sesederhana apa pun perceraian dalam teori, dalam praktiknya sering kali tidak semudah itu. Tekanan sosial, keuangan, dan keluarga kadang-kadang bisa menentang pasangan untuk bercerai; dan kesepakatan yang dibuat sebelum pernikahan bisa saja menetapkan hukuman finansial yang begitu berat sehingga pemisahan hukum menjadi tidak praktis,” catat Watterson. Ada banyak alasan pasangan bercerai, entah karena tidak cocok, kekerasan dalam rumah tangga, tidak memiliki anak, atau perselingkuhan. Perceraian dapat diinisiasi oleh pihak suami maupun istri. Jika suami menceraikan istrinya, ia berkewajiban mengembalikan seluruh harta bawaan atau mahar sang istri (nkwt n shmt) serta menyerahkan "hadiah pernikahan" (sp n shmt) yang telah disepakati sebelumnya dalam perjanjian. Selain itu, ia harus membayar sejumlah uang kompensasi dan memberikan bagian harta bersama (biasanya sepertiga, namun terkadang setengah bagian) dari seluruh properti yang diperoleh selama masa pernikahan. Sebaliknya, apabila inisiatif perpisahan datang dari pihak istri, ia berhak mendapatkan kembali seluruh harta bawaan pribadinya serta bagian dari harta bersama. Ketentuan pembagian gono-gini sangat bergantung pada faktor kesalahan. Jika perceraian terjadi murni karena kesalahan di pihak istri (misalnya terbukti tidak setia), maka ia akan kehilangan hak atas harta bersama tersebut. P.W. Pestman mencatat bahwa kendati bukan merupakan syarat formal, dalam beberapa kasus, terutama yang terjadi di wilayah Thebes dan sekitarnya, masyarakat membuat akta khusus pasca-perceraian. Dokumen ini menyatakan bahwa sang perempuan tidak lagi terikat oleh hubungan pernikahan sebelumnya dan bebas untuk menikah kembali. Setelah bercerai, baik laki-laki maupun perempuan bebas menikah lagi kapan pun mereka mau. “Kenyataan bahwa banyak dari mereka melakukannya, meskipun mungkin bukan contoh dari kemenangan harapan atas pengalaman, adalah bukti betapa orang Mesir kuno menghargai pernikahan,” catat Watterson. Kendati demikian, sebuah pernikahan diharapkan berlangsung seumur hidup, bahkan terus berlanjut hingga ke alam baka. Masyarakat Mesir Kuno meyakini bahwa hubungan pernikahan berpengaruh besar terhadap kehidupan mereka di akhirat, karena pasangan yang mendampingi mereka selama hidup di dunia akan terus bersama mereka di kehidupan selanjutnya.*

  • Mercu Buana Ditutup Karena Skandal Suap

    SUMATRA Utara, khususnya Kota Medan, banyak melahirkan jago-jago rumput hijau yang bermain di berbagai klub, mulai PSMS Medan yang dulu tampil di kompetisi amatir, Perserikatan, hingga Pardedetex dan Mercu Buana di kompetisi semiprofesional, Galatama (Liga Sepakbola Utama). Sebut saja Bambang Nurdiansyah dan Djadjang Nurdjaman (Djanur) yang sekarang membesut Persib Bandung di Liga 1 Indonesia. Keduanya pernah merumput di Mercu Buana yang bermarkas di Stadion Teladan, Medan. Djanur berseragam Mercu Buana dengan posisi winger (pemain sayap) selama tiga tahun (1982-1985). Mercu Buana didirikan oleh Probosutedjo, adik Presiden Soeharto. Klub ini dinamai sesuai perusahaan yang didirikannya, PT Mercu Buana. Mercu Buana bermarkas di Medan karena Probo pernah menjadi guru di sana pada 1950-an dan beristri orang Pematang Siantar. Kelak, Probo juga mendirikan universitas bernama Mercu Buana pada 1985.

  • Skandal PSPB

    KETIKA menghadiri rapat koordinasi penanggulangan atau pencegahan bahaya komunisme yang diselenggarakan Musyawarah Pimpinan Kecamatan Parengan, Tuban pada 19 Mei 2016, Ketua PGRI Kecamatan Parengan Drs. Karsono mengusulkan dua mata pelajaran yang telah dihilangkan dari bangku sekolah agar diajarkan kembali. Dua mata pelajaran itu adalah Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). “Perlu dihidupkan kembali pelajaran tersebut (PMP/PSPB), agar para siswa mengetahui kalau ajaran komunis itu berbahaya, karena telah melakukan pemberontakan kepada negara,” ujar Karsono sebagaimana diberitakan tubankab.go.id. PSPB merupakan mata pelajaran wajib yang diajarkan dari sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas semasa Orde Baru. Mata pelajaran tersebut dibuat Mendikbud Nugroho Notosusanto untuk merespon kemauan Presiden Soeharto menularkan nilai-nilai 45 kepada generasi muda, dan diberlakukan sebagai mata pelajaran lewat Kurikulum 1984.

  • HUT PKI dan Pengumuman Pilpres

    “KAMI semuanya teman-teman, jangan tidak percaya tanggal 22 itu juga ada beberapa informasi dari teman-teman saya jenderal bahwa ternyata tanggal 22 adalah hari ulang tahun PKI. Ini ada surat dari pemimpin PKI. Dan insya Allah kita semangat, dan berjuang sebelum tanggal 22 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno menjadi presiden dan wakil presiden…” Demikianlah perkataan Iwan Adi Sucipto Pattiwael dalam video yang viral di media sosial. Dalam video itu, dia juga melakukan provokasi yang membenturkan TNI dan Polri. Polisi telah menangkap dan menetapkannya sebagai tersangka. Iwan menyebut tanggal 22 Mei sebagai hari ulang tahun PKI. Dia hendak mengaitkannya dengan tanggal pengumuman hasil Pilpres. Namun, dia keliru karena hari ulang tahun PKI tanggal 23 Mei.

  • Compagnie Eric

    MAYOR Jenderal Engles, panglima militer Belanda di Jawa Barat, berang. Tentaranya tak jua dapat meringkus eks Kopral Johannes Cornelius Princen, bekas anak buahnya yang membelot. Menurut laporan Badan Intelijen Militer Belanda (NEFIS), Princen bergabung dengan Divisi Siliwangi. Dan sepulang long march dari Jawa Tengah, dia didapuk menjadi komandan Pasukan Istimewa Batalyon Kala Hitam pimpinan Mayor Kemal Idris dengan pangkat letnan. “Dia berada di bawah komando kompi Kapten Saptadji,” tulis Ronald Frisart dalam laporan berjudul “Speurtocht Door Vergeeld Papier Naar Poncke Princen” di koran Leidsch Dagblad, 11 September 1993.

  • Poncke Princen, Oposan Sepanjang Zaman

    JOHANNES Cornelius Princen lahir di Den Haag, Belanda, pada 21 November 1925. Sedari remaja dia bercita-cita menjadi rohaniawan. Karena itulah dia memasuki seminari di Weert. “Setelah beberapa saat merasakan suasana pendidikan calon rohaniawan, aku sadar bahwa tempatku bukan di sana,” ujar Princen. Keluar dari seminari pada 1943, dia terlibat dalam perjuangan melawan pasukan Jerman yang menjajah negerinya. Nahas, Princen tertangkap dan ditahan di berbagai kamp konsentrasi. Kala waktu senggang, dia membacakan buku Pastor Poncke karya J.H. Eekhout kepada kawan-kawannya sesama tahanan.

  • Priyayi dan Haji Lampung Bantu Belanda

    JENDERAL Mayor Johan Harmen Rudolf Kohler (1818-1873) dikenal sebagai jenderal Belanda yang tertembak mati pada 14 April 1873 di luar Masjid Raya Aceh. Aceh bukan satu-satunya musuh Belanda yang dihadapi Kohler. Belasan tahun sebelumnya, sedari 1856-1857, Kohler yang masih berpangkat Kapten juga ikut menghadapi perlawanan orang Lampung di bawah pimpinan Radin Inten II. Radin Inten II adalah penguasa daerah Negara Ratu. Dalam menghadapi Belanda, di kubu Radin Inten II terdapat Pangeran Singa Branta dan pemuka-pemuka masyarakat yang lain. Radin Inten II merupakan putra dari Radin Imba Kesuma sekaligus cucu dari Radin Inten I. Encyclopedie van Nederlandsch Indie II karya S de Graaf menyebut bahwa Radin Inten I punya darah Banten dan ibunya keturunan Dara Putih Lampung.

  • Kasus Crossdressing yang Menghebohkan Eropa

    SEJUMLAH orang berkumpul di kediaman Nyonya Cole di London pada Mei 1810. Orang-orang dari berbagai profesi itu –seorang profesor anatomi, dua ahli bedah, seorang pengacara, dan seorang jurnalis– bermaksud untuk memeriksa jasad Chevaliere d’Eon, teman sekamar Nyonya Cole yang telah tinggal bersamanya selama empat belas tahun. Hasil pemeriksaan sungguh mengejutkan. Sebab, d’Eon yang selama ini dikira wanita ternyata pria. Teka-teki mengenai jenis kelamin d’Eon telah menjadi perdebatan publik di Inggris dan Prancis sejak akhir abad ke-18. Pasalnya, sebelum tutup usia, dia kerap mengenakan pakaian wanita, padahal di masa mudanya ia berpakaian pria dan aktif dalam kegiatan militer Prancis. Chevalier d’Eon, yang bernama lengkap Charles Genevieve Louise Auguste André Thimothée d'Eon, lahir dari keluarga aristokrat di Tonerre, Prancis pada 5 Oktober 1728. Menurut Vern L. Bullough dan Bonnie Bullogh dalam Cross Dressing, Sex, and Gender, ketika berusia dua belas tahun, d’Eon dikirim ke Paris untuk menyelesaikan pendidikannya di College de Mazarin.

  • Maria Ullfah Defeating the Roosters

    MS. Soewarni Pringgodigdo, Chairwoman of Istri Sedar, hadn’t yet finished her speech when the sound of a rooster’s crowing was heard coming from the mouths of several men in a corner of the congress hall. “Cock-a-doodle-doo… cock-a-doodle-doo…” they said, mocking Soewarni. She immediately flew into a rage and announced her withdrawal from the women’s congress. The incident at the Second Indonesian Women’s Congress in Batavia, July 20–24, 1935, began with Ratna Sari, a representative of Permi (the Indonesian Muslim Association) from West Sumatra, who had previously delivered a speech on the status of women under Islamic marriage law. Maria Ullfah, later Minister of Social Affairs of Indonesia, considered the content of Ratna’s speech too orthodox. “(The speech) caused a stir, because Ratna Sari accepted and defended polygamy,” said Maria Ullfah in her lecture at the Kebangkitan Nasional Building in Jakarta on February 28, 1981. Soewarni, who was given the opportunity to respond, immediately expressed her disagreement. “I don’t accept that!” said Soewarni. “Men are just like roosters. All they do is go around collecting women!” Soewarni added. That remark was immediately met with the sound of a rooster crowing and snickering laughter from the male attendees. The congress was on the verge of breaking up. The participants split into two large, opposing groups.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page