top of page

Hasil pencarian

9805 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Inspeksi Pesawat AU, Panglima Soedirman Diterbangkan ke Bali

    HARI ini TNI AU berdirgahayu ke-75. Garda langit NKRI itu lahir di masa revolusi fisik pada 9 April 1946 dengan nama Tentara Repoeblik Indonesia (TRI) Oedara. Sebelumnya, TRI Oedara menyandang nama Tentara Keamanan Rakjat (TKR) Djawatan Oedara. Matra udara militer Indonesia itu kekuatannya dibangun dengan sisa-sisa pesawat bekas Jepang. Salah satunya pernah digunakan untuk menerbangkan Panglima Besar Jenderal Soedirman hingga ke Bali. Pada akhir 28 April 1946, sang jenderal melakonis itu punya agenda tugas ke Malang, Jawa Timur. Mengutip Taufik Abdullah dkk. dalam 50 Tahun Indonesia Merdeka: 1945-1965, Panglima Soedirman akan menginspeksi tawanan tentara Jepang yang sudah dilucuti TRI.

  • Kisah Jenderal Soedirman dan 80 Perompak

    JUMAT, 1 November 1946. Udara pagi Jakarta mulai menghangat, saat serangkaian kereta api istimewa memasuki Stasiun Manggarai. Begitu berhenti, ribuan orang yang memenuhi ruang tunggu mulai ramai bersuara. Suasana mulai histeris manakala dari salah satu gerbong muncul dua orang yang ditunggu: Panglima Besar Tentara Republik Indonesia (TRI) Jenderal Soedirman dan Kepala Staf TRI, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo. “Pekik merdeka kembali berdengung di Jakarta, menyambut kedatangan Pak Dirman,” ujar mantan Menteri Pertambangan di era Orde Baru Soebroto, seperti dikutip sejarawan Moehkardi dalam Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Pisik 1945-1959.

  • Soedirman, Guru Kecil Jadi Panglima Besar

    KETIKA muda, Soedirman aktif berorganisasi di Muhammadiyah. Dia pernah menjadi pemimpin Hizbul Wathan, kepanduan Muhammadiyah daerah Banyumas. Selain itu, dia juga aktif di Pemuda Muhammadiyah. Bahkan, dia terpilih menjadi Wakil Majelis Pemuda Muhammadiyah cabang Banyumas, kemudian Jawa Tengah. Bagi Soedirman, berorganisasi adalah pengabdian, bukan tempat mencari penghidupan. Dia kadangkala mengutamakan kepentingan organisasi daripada keluarga. Karena itu, kendati menjadi pemimpin, rumah tangganya serba kekurangan. Orang pun heran. Namun, baginya itu wajar saja. “Bukankah yang besar itu adalah organisasi. Besarnya dan mekarnya organisasi bukan berarti harus besar dan mewahnya si pemimpin. Untuk mencukupi biaya hidupnya, dia aktif sebagai guru di HIS Muhammadiyah di Cilacap,” demikian tertulis dalam biografi Sudirman Prajurit TNI Teladan. HIS (Hollandsch Inlandsche School) adalah sekolah dasar dengan masa belajar tujuh tahun.

  • Soedirman Suka Main Sepakbola

    SUATU hari menjelang tengah malam pada 1944. Soedirman menyampaikan rencana bergabung dengan pasukan Pembela Tanah Air (Peta) yang dibentuk Jepang. Dia meminta pengertian istrinya, Siti Alfiah. Namun, Alfiah mengkhawatirkannya karena mata sebelah kiri suaminya itu kurang terang. “Lalu, kaki mas yang terkilir waktu main bola itu…” “Tidak apa-apa, Bu, semua pengalaman ada gunanya. Saya harap ibu berhati mantap,” kata Soedirman. Dialog itu termuat dalam biografi Perjalanan Bersahaja Jenderal Sudirman karya Soekanto S.A. seperti dicuplik buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir garapan tim majalah Tempo.

  • Jenderal Soedirman Menjadi Tawanan

    PADA masa perjuangan muncul suasana saling mencurigai. Sampai-sampai rombongan gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman pernah ditawan oleh Batalion 102 pada 23 Desember 1948 di Bendo, kurang lebih 24 kilometer dari Tulungagung. Kapten Soepardjo, ajudan merangkap sekretaris pribadi Soedirman, dibawa ke markas batalion. Sedangkan Soedirman tetap di dalam mobil dengan pasukan pengawal yang telah dilucuti. Di markas batalion, Soepardjo hanya bertemu beberapa perwira yang tak dikenali. Dia pun meminta bertemu dengan komandan batalion, Kapten Zainal Fanani. Seorang perwira menjawab sulit bagi tawanan bertemu dengan komandan.

  • Sang Jenderal Soedirman Berpulang

    PERFILMAN Indonesia berduka dalam dua hari berturut-turut. Setelah Amoroso Katamsi wafat pada Selasa (17/4/2018) dini hari, menyusul aktor senior lainnya, Deddy Sutomo yang mengembuskan napas terakhir pada Rabu (18/4/2018) pagi. Deddy meninggal di kediamannya pada usia 76 tahun. Deddy lahir di Jakarta pada 26 Juni 1941. Menggeluti dunia peran sejak duduk di SMA. Bersama kartunis GM Sudarta, dia mendirikan Teater Akbar. Anggotanya kebanyakan dari Pelajar Islam Indonesia (PII). Teater Akbar sering menjuarai Festival HSBI (Himpunan Seni Budaya Islam). Dalam Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978 tercatat, setelah tamat SMA, Deddy sempat mengikuti kursus jurnalistik. Selain bergiat di Lembaga Seni Surakarta, dia pernah menjadi guru pelajaran prakarya di SMA dan SMEA di Klaten. Dia juga pernah menjadi deklamator "Sajak dan Pembahasan" di RRI Solo.

  • Jenderal “Suci” Soedirman

    DUA pria beda generasi itu bersitegang. Yang muda, Soedirman (diperankan Adipati Dolken), meminta yang lebih tua, Sukarno (Baim Wong), untuk ikut bergerilya dengannya. Mohammad Hatta (Nugie), yang berdiri di samping Sukarno, hanya mendengarkan. Soedirman khawatir akan keselamatan Sukarno dan Hatta setelah pendudukan Belanda atas ibukota Yogyakarta. Sukarno menolak. Baginya, hutan lebih berbahaya bagi keselamatannya ketimbang di kota di mana banyak orang mengenalnya. Hutan juga tempat bagi Soedirman dan anak buahnya (tentara) berjuang. Sukarno dan Hatta sebagai pemimpin politik akan tetap di kota untuk melanjutkan perjuangan menjalankan negeri. Raut wajah Soedirman menunjukkan kekecewaan. Sukarno-Hatta ingkar. Padahal, mereka sudah berjanji ikut bergerilya apabila Belanda kembali menyerang.

  • Si Putih Penunjuk Jalan Jenderal Soedirman

    KEBERHASILAN gerilya Jenderal Soedirman terletak pada kesediaan masyarakat membantu perjuangannya. Mereka menyediakan penginapan dan makanan, membuatkan tandu baru, memikul tandu, dan penunjuk jalan karena penduduk setempat lebih mengetahui arah jalan yang akan ditempuh. “Menjadi kebiasaan rombongan itu untuk menggunakan tenaga-tenaga setempat sebagai penunjuk jalan,” tulis buku Soedirman Prajurit TNI Teladan. Pada 24 Januari 1949 malam, Kapten Tjokropranolo, pengawal Soedirman, memutuskan jalan dari Desa Jambu menuju Warungbung. Penduduk setempat menyarankan agar paginya sudah harus berangkat ke tempat lain karena ternyata rombongan bergerek mendekati markas Belanda di Kasugihan, yang jaraknya kurang lebih 1,5 kilometer.

  • Jenderal Soedirman Tak Selalu Ditandu

    JENDERAL Soedirman tak selalu ditandu ketika bergerilya. Dari Kompleks Mangkubumen Yogyakarta, dia dan pengawalnya naik mobil dan pick-up. Belanda mengetahui perjalanannya itu, sehingga pesawat cocor merah menghujani rombongan. “Rupanya mereka dapat mengetahui rombongan kami karena pada mobil yang kami tumpangi itu masih terpasang bendera Panglima Besar. Dalam keadaan gawat itu Pak Dirman saya dorong ke semak di pinggir jalan sehingga beliau terhindar dari bahaya maut,” kata Harsono Tjokroaminoto dalam otobiografinya, Selaku Perintis Kemerdekaan. Harsono menjadi penasihat politik Soedirman selama bergerilya. Lolos dari bahaya, Soedirman melanjutkan perjalanan dengan mobil sampai Bantul, lalu Kretek. Untuk menghilangkan jejak, Kapten Tjokropranolo, pengawal Soedirman, memerintahkan mobil dan pick-up yang dipakai rombongan dibawa pergi sejauh mungkin, kalau perlu dirusak di lain tempat. Malam itu juga, Soedirman dan rombongan menyeberangi Kali Opak. Sesampainya di seberang kali, mereka dijemput lurah Mulyono Djiworedjo, dengan dokar tanpa kuda.

  • Pengunduran Diri Jenderal Soedirman

    SEBAGAI pernyataan penutup dalam debat calon presiden pada 22 Juni 2014, Joko Widodo membacakan kutipan Panglima Besar Jenderal Soedirman. “Satu-satunya hak milik nasional Republik yang masih tetap utuh dan tidak berubah-ubah meskipun harus menghadapi segala macam soal dan perubahan hanyalah Angkatan Perang Republik Indonesia (Tentara Nasional Indonesia). Maka sebenarnya menjadi kewajiban bagi kita sekalian yang senantiasa tetap mempertahankan tegaknya Proklamasi 17 Agustus 1945. Untuk tetap memelihara agar supaya hak milik nasional republik itu tidak dapat diubah-ubah oleh keadaan yang bagaimana pun juga.” A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia menyebut kutipan tersebut merupakan bagian dari surat Soedirman tertanggal 1 Agustus 1949 kepada Presiden Sukarno yang ditulisnya ketika sakit. Ketika itu, terjadi krisis politik-militer di Yogyakarta. Sesuai Persetujuan Roem-Royen, Sukarno mengeluarkan perintah gencatan senjata pada 3 Agustus 1949.

  • Pangeran Makassar Membela Raja Louis-Prancis

    SETELAH Daeng Mangalle terbunuh di Siam atas tuduhan konspirasi melawan raja Siam, dua anak laki-lakinya, Daeng Ruru dan Daeng Tulolo, kemudian jadi tawanan perang. Beberapa pengikutnya menghabisi istri dan anak Daeng Mangelle dalam pertempuran September 1686 agar tidak menjadi tawanan atau budak, namun Daeng Ruru dan Daeng Tulolo selamat. Keduanya lantas dikapalkan ke Brest, Prancis pada November 1686 dan tiba di sana pada 15 Agustus 1687. “Keduanya masih muda, berumur masing-masing 14 dan 12 tahun,” tulis Ahmad Massiara Daeng Rapi dalam Menyingkap Tabir Sejarah Budaya di Sulawesi Selatan. Keduanya disukai Raja Louis XIV yang berkuasa di Prancis hingga dipersilahkan belajar bahasa Prancis. Bahkan keduanya diperbolehkan memakai nama Louis sehingga Daeng Ruru sebagai Louis Pierre Makassar dan Daeng Tulolo sebagai Louis Dauphin Makassar.

  • Penembak Jitu Desersi Ikut Panglima Polem

    DI BIVAK Cot Dah, Lhokseumawe, Aceh antara 6-8 Juli 1899, seorang fuselier (prajurit infanteri) asal Ambon dengan nomor stamboek 54784 melapor kepada komandan peletonnya bahwa dirinya sedang sakit. Alih-alih mendapatkan izin, prajurit dari Batalyon Infanteri ke-3 Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) itu malah dipukuli oleh sersan di peleton tersebut. Setelah dipukuli, prajurit bernama Kamby itu segera ditugaskan berjaga. Kamby harus terus waspada terhadap serangan para pejuang Aceh yang menjadi musuh pemerintah kolonial meski tubuhnya sedang sakit. Tugas itu tetap diselesaikannya. Setelah berjaga, Kamby dilaporkan hilang.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page