Hasil pencarian
9797 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Lima Konser Band yang Memekakkan Telinga
MENDENGARKAN musik keras-keras baik langsung lewat konser-konser maupun dengan bantuan alat pengeras suara memang seru dan mengasyikkan. Namun konsekuensi sound horeg atau suara menggelegar yang memekakkan telinga di atas 85-100 desibel (dB) lebih mudah menimbulkan potensi kehilangan pendengaran. Menurut World Health Organization (WHO) dalam laporannya yang dirilis Juli 2019, “Make Listening Safe WHO: Estimaton of the Risk of Developing Hearing Loss Due to Exposure to Loud Sounds in Recreational Setting”, mendengarkan musik antara 75-100 dB lebih dari 15 menit sama mendengarkan bisingnya para pekerja industri selama delapan jam per hari yang akan mengekspos kondisi telinga dan bisa berdampak kehilangan pendengaran. “Suara alat pendengaran sejenis ear-bud maksimal berkisar 88-113 dB. Sementara rata-rata tingginya volume suara di diskotek juga berkisar antara 104-112 dB. Sedangkan dalam konser-konser, bisa lebih tinggi. Di Eropa, beberapa negara sudah membatasi standar keamanannya di batasan 80 dB saja selama 40 jam per pekan. Adapun Australia, Inggris, dan Kanada membatasi kebisingan di angka 85 dB untuk 40 jam per pekan.
- Gedoran Corregidor
PERASAAN Letjen Masaharu Homma membuncah. Malam itu, 6 Mei 1942, ia sudah ditunggu tamu istimewa di teras sebuah rumah bertembok putih di pesisir Bataan, Filipina. Namun, Panglima Tentara Angkatan Darat (AD) ke-14 Jepang itu mesti menjaga sikapnya sebagai pihak pemenang. Homma sengaja membuat tamunya, Letjen Jonathan Mayhew Wainwright IV, komandan pasukan Amerika Serikat di Filipina (USFIP), menunggu dengan cemas sedari pukul 4 hingga pukul 6 petang. Walau Wainwright sudah menyiarkan menyerahnya pasukan gabungan Amerika dan Filipina pada siangnya, serdadu Jepang belum berhenti bermanuver. Sejak memulai invasi ke Corregidor, sebuah pulau benteng yang jadi kubu pertahanan terakhir Amerika di Filipina, pada dini hari 5 Mei 1942, sedikit demi sedikit tentara Jepang menerabas perimeter-perimeter pertahanan. Walau sudah mendengar siaran menyerahnya Wainwright pada pukul 11 siang 6 Mei 1942, Homma belum berniat menghentikan laju pasukannya yang nyaris mencapai markas bawah tanah Wainwright di Bukit Malinta, Pulau Corregidor atau dalam catatan resmi Amerika bernama Fort Mills.
- Geliat Seni Rupa Semasa Pendudukan Negeri Sakura
SEJAK didirikan Agustus 1942, Sendenbu (Departemen Propaganda) menggenjot produksi alat propaganda lewat berbagai media. Radio, film, surat kabar, serta pameran dan pertunjukan seni merupakan media propaganda Jepang di Indonesia. Untuk memaksimalkan usaha propaganda tentang perang Asia Timur Raya, Jepang juga membentuk Biro Pengawas Siaran Jawa (Jawa Hoso Kanrikoru), Perusahaan Surat Kabar Jawa (Jawa Shinbunkai), dan Perusahaan Film Jepang (Nihon Eigasha Nichi’ei). Alhasil, banyak karya seni anak bangsa muncul semasa pendudukan Jepang. Hal itu mendorong Dewan Kesenian Jakarta membuat pameran arsip bertajuk “3,5 Tahun Bekerja”. “Arsip kesenian masa Jepang belum banyak digali. Padahal perlu adanya pembacaan ulang atas seni masa Jepang bukan hanya sebagai alat propaganda,” kata Afrizal Malna mewakili Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta kepada Historia.ID.
- Guru Pak Dirman
RUMAH di Jalan Pangadegan Jakarta Selatan ini tampak biasa-biasa saja. Bangunannya sudah tua. Namun, ada kemewahan yang sulit dinikmati di rumah-rumah di Jakarta. Pekarangannya luas, dengan pepohonan dan rumput hijau. Udara segar tersebar dengan baik bagi penghuninya. Di rumah itu, Poppy Julianti tinggal bersama anaknya, Miranti Soetjipto-Hirschmann, yang dikenal sebagai seorang wartawan. Dulu tentu rumah itu lebih ramai. Tidak hanya semua anaknya tinggal di sana, tapi juga ayah dan ibunya, Soewardjo Tirtosoepono dan Markamah, yang tinggal di salah satu pavilion rumah itu. Kenangan tentang Soewardjo, yang tutup usia tahun 1992, masih hidup dalam memori Poppy dan Miranti. Bertahun-tahun mereka membuatkan kronik riwayat hidup Soewardjo. Tak lupa mereka menyimpan dan merawat semua kenangan dari Soewardjo: catatan tangan, surat penghargaan, kartu-kartu. Tidak semua orang mengenal sosok Soewardjo Tirtosoepono. Tapi jika menyebut salah satu muridnya, semua orang pasti tahu: Soedirman.
- General Soedirman's Teacher
A HOUSE on Jalan Pangadegan, South Jakarta, looks unassuming. The building is old, but it has something considered luxuries to typical houses in Jakarta: a wide yard filled with lush trees and green grass, with a breeze of crisp fresh air. Residing inside the house are Poppy Julianti and her daughter, Miranti Soetjipto-Hirschmann, a journalist. The house, for sure, was more alive in the past. Poppy and all of her siblings lived there with their parents, Soewardjo Tirtosoepono and Markamah, who resided in one of the house's pavilions. The memory of Soewardjo, who died in 1992, is still fresh in Poppy and Miranti's mind. For years, they wrote a chronicle of Soewardjo's life story and kept and maintained all of Soewardjo's aide-mémoire: handwritten notes, letters of appreciation, and cards.
- Ketika Panglima Besar Soedirman Turun Gunung
PERJANJIAN Roem-Royen disepakati oleh pihak Indonesia dengan Belanda pada 7 Mei 1949. Salah satu klausul dalam kesepakatan itu adalah Belanda harus menarik pasukannya dari ibu kota RI Yogyakarta jika ingin melanjutkan proses penyelesaian konflik antar dua negara tersebut. “Itu yang menjadi tawaran mutlak dari pihak Indonesia,” ujar sejarawan Rushdy Hoesein. Karena ada desakan internasional yang sangat kuat, Belanda tak bisa menghindar dan terpaksa menyetujuinya. Maka, pada 29 Juni 1949, secara berangsur, tentara Belanda meninggalkan Yogyakarta. Kepergian mereka disusul dengan masuknya para prajurit TNI ke dalam kota Yogyakarta.
- Kisah Pematung Jenderal Soedirman di Usia Senja
INDONESIA memiliki banyak sekolah atau kampus seni di berbagai daerah yang sudah berdiri sejak lama. Banyak alumnusnya mewarnai sejarah seni Indonesia. Salah satunya Azmir Azhari, seniman patung realis, kelahiran 1953 di Payakumbuh, Sumatra Barat. Pria yang memiliki puluhan kucing ini dikenal karena patung-patung figur tokoh terkenal seperti Jenderal Soedirman di Purbalingga hingga patung Taufik Kiemas. Azmir tertarik dengan dunia seni sejak kecil. “Saya sejak SD sudah suka melukis, hingga kalau melihat gundukan tanah liat saya bikin patung, hingga lulus SMA tahun 1973 saya kuliah di ASRI di Yogyakarta sekarang namanya ISI, Awalnya saya ambil jurusan seni Lukis,” katanya.
- Raden Suprapto, Kawan Perjuangan Jenderal Soedirman yang Berakhir Mengenaskan
MASIH ingat film Pengkhianatan G30S/PKI? Dalam salah satu adegannya, ada seorang jenderal kesulitan tidur karena sakit kepala. Sang jenderal lalu membuat sketsa di atas kertas putih. Ketika istrinya menanyakannya sedang menggambar apa, jenderal tersebut menjawab sedang menggambar rencana Museum Perjuangan di Yogyakarta. Namun karena gambarnya dianggap aneh, sang istri pun berkomentar. “Kok kaya kuburan?” Jenderal yang digambarkan dalam film itu pun terdiam. Dialah Jenderal (Anumerta) Suprapto, satu dari enam perwira tinggi yang gugur oleh sepasukan Tjakrabirawa beberapa jam setelah adegan tersebut. Raden Suprapto lahir di Purwokerto, Jawa Tengah pada 20 Juni 1920 dari pasangan Raden Pusposeno dan Raden Ajeng Alimah. Bungsu dari sepuluh bersaudara itu memiliki lima saudara lak-laki dan empat saudara perempuan.
- Inspeksi Pesawat AU, Panglima Soedirman Diterbangkan ke Bali
HARI ini TNI AU berdirgahayu ke-75. Garda langit NKRI itu lahir di masa revolusi fisik pada 9 April 1946 dengan nama Tentara Repoeblik Indonesia (TRI) Oedara. Sebelumnya, TRI Oedara menyandang nama Tentara Keamanan Rakjat (TKR) Djawatan Oedara. Matra udara militer Indonesia itu kekuatannya dibangun dengan sisa-sisa pesawat bekas Jepang. Salah satunya pernah digunakan untuk menerbangkan Panglima Besar Jenderal Soedirman hingga ke Bali. Pada akhir 28 April 1946, sang jenderal melakonis itu punya agenda tugas ke Malang, Jawa Timur. Mengutip Taufik Abdullah dkk. dalam 50 Tahun Indonesia Merdeka: 1945-1965, Panglima Soedirman akan menginspeksi tawanan tentara Jepang yang sudah dilucuti TRI.
- Kisah Jenderal Soedirman dan 80 Perompak
JUMAT, 1 November 1946. Udara pagi Jakarta mulai menghangat, saat serangkaian kereta api istimewa memasuki Stasiun Manggarai. Begitu berhenti, ribuan orang yang memenuhi ruang tunggu mulai ramai bersuara. Suasana mulai histeris manakala dari salah satu gerbong muncul dua orang yang ditunggu: Panglima Besar Tentara Republik Indonesia (TRI) Jenderal Soedirman dan Kepala Staf TRI, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo. “Pekik merdeka kembali berdengung di Jakarta, menyambut kedatangan Pak Dirman,” ujar mantan Menteri Pertambangan di era Orde Baru Soebroto, seperti dikutip sejarawan Moehkardi dalam Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Pisik 1945-1959.
- Soedirman, Guru Kecil Jadi Panglima Besar
KETIKA muda, Soedirman aktif berorganisasi di Muhammadiyah. Dia pernah menjadi pemimpin Hizbul Wathan, kepanduan Muhammadiyah daerah Banyumas. Selain itu, dia juga aktif di Pemuda Muhammadiyah. Bahkan, dia terpilih menjadi Wakil Majelis Pemuda Muhammadiyah cabang Banyumas, kemudian Jawa Tengah. Bagi Soedirman, berorganisasi adalah pengabdian, bukan tempat mencari penghidupan. Dia kadangkala mengutamakan kepentingan organisasi daripada keluarga. Karena itu, kendati menjadi pemimpin, rumah tangganya serba kekurangan. Orang pun heran. Namun, baginya itu wajar saja. “Bukankah yang besar itu adalah organisasi. Besarnya dan mekarnya organisasi bukan berarti harus besar dan mewahnya si pemimpin. Untuk mencukupi biaya hidupnya, dia aktif sebagai guru di HIS Muhammadiyah di Cilacap,” demikian tertulis dalam biografi Sudirman Prajurit TNI Teladan. HIS (Hollandsch Inlandsche School) adalah sekolah dasar dengan masa belajar tujuh tahun.
- Soedirman Suka Main Sepakbola
SUATU hari menjelang tengah malam pada 1944. Soedirman menyampaikan rencana bergabung dengan pasukan Pembela Tanah Air (Peta) yang dibentuk Jepang. Dia meminta pengertian istrinya, Siti Alfiah. Namun, Alfiah mengkhawatirkannya karena mata sebelah kiri suaminya itu kurang terang. “Lalu, kaki mas yang terkilir waktu main bola itu…” “Tidak apa-apa, Bu, semua pengalaman ada gunanya. Saya harap ibu berhati mantap,” kata Soedirman. Dialog itu termuat dalam biografi Perjalanan Bersahaja Jenderal Sudirman karya Soekanto S.A. seperti dicuplik buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir garapan tim majalah Tempo.




















