Hasil pencarian
9797 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Semaoen Anak Didik Sneevliet
PADA siang hari 16 Juli 1917, untuk sebuah pekerjaan propaganda buruh serikat kereta api, Semaoen dan Henk Sneevliet pergi mengunjungi Probolinggo. Atas anjuran seorang kusir, mereka menuju sebuah hotel di tengah kota Probolinggo. Ketika pesuruh hotel membawa koper masuk dan Sneevliet tengah duduk di kursi goyang, pemilik hotel datang menyambangi Sneevliet dan bertanya, “siapakah inlander yang datang bersamamu itu? Apa pekerjaanya?” “Dia kolega saya, tuan,” kata Sneevliet sopan. “Apakah dia seorang guru?” tanya pemilik hotel berkulit putih itu. Sneevliet kembali mengatakan bahwa lelaki yang pergi bersamanya itu kawannya tak lebih tak kurang. Mendengar jawaban tersebut, pemilik hotel mengatakan bahwa hotelnya tidak biasa menerima seorang tamu bumiputra untuk menginap. Dia berkilah merasa tak enak dengan tamu-tamunya yang lain. “Ada hotel lain di sini, milik seorang Tionghoa, di mana orang seperti kawanmu itu bisa menyewa kamar,” kata pemilik hotel, sontak membuat Sneevliet marah.
- ABRI Masuk Kampus Calon Guru
UNTUK ke sekian kalinya, Soeharto dilantik menjadi presiden pada 11 Maret 1998. Ketika itu krisis moneter sudah melanda Asia. Ekonomi Indonesia pun hancur seketika. Harga bahan makanan, yang era itu dikenal sebagai Sembilan Bahan Pokok (Sembako), mendadak naik. Begitu pula harga minyak bahan bakar seperti bensin. Soeharto berusaha membuat masyarakat tetap tenang dan menyerahkan semua padanya. Namun sia-sia, sebagian golongan mulai tak percaya lagi padanya. “Sejak 4 Mei 1998, mahasiswa Medan, Bandung dan Yogyakarta menyambut kenaikan harga bahan bakar minyak dengan demonstrasi besar-besaran. Demonstrasi itu berubah menjadi kerusuhan, saat para demonstran terlibat bentrokan dengan petugas keamanan,” catat Djadja Suparman dalam Jejak Kudeta 1997-2005.
- Perlawanan dari Gejayan
ALIANSI Rakyat Bergerak menyerukan kepada seluruh mahasiswa dan elemen masyarakat Yogyakarta untuk mengikuti aksi #GejayanMemanggil pada 23 September 2019. Massa akan bergerak dari Gerbang Utama Universitas Sanata Dharma, Pertigaan Revolusi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, dan Bundaran Universitas Gadjah Mada, ke pusat titik kumpul di Pertigaan Colombo, Gejayan. “Gejayan di tahun 1998 menjadi saksi perlawanan mahasiswa dan masyarakat Yogya terhadap rezim yang represif. Di tahun 2019, Gejayan kembali memanggil jiwa-jiwa yang resah karena kebebasan dan kesejahteraannya terancam oleh pemerintah,” demikian bunyi seruan #GejayanMemanggil. Dalam selebaran yang viral, #GejayanMemanggil menyebut pemerintah telah memojokan rakyat melalui RKUHP, RUU KPK, RUU Ketenagakerjaan, RUU Pertanahan, kriminalisasi aktivis di berbagai sektor, dan ketidakseriusan pemerintah dalam menangani isu lingkungan dan RUU PKS yang tak kunjung disahkan.
- Mozes Gatutkaca Dibunuh Aparat Waktu Cari Makan
SORE telah menghilang di Yogyakarta. Perut pun waktunya diisi. Mereka yang tidak memasak di rumah, tentu harus pergi ke warung kaki lima. Di Jalan Mrican, dulu ada banyak warung tenda yang menjual pecel lele, bermacam makanan nasi, lele goreng dengan sambel serta lalapan kubis dan daun kemanginya. Tentu ada banyak menu selain pecel lele di sana. Seperti orang-orang yang lain, Mozes Gatutkaca juga harus makan petang itu demi memenuhi kebutuhan perutnya. Dirinya, yang tidak masak di rumah, pun harus ke luar menyusuri Jalan Mrican. Dalam perjalanan, ada orang Mrican yang mengenalnya memperingatkannya bahwa adanya kekacauan di sekitar Jalan Gejayan pasca-demonstrasi. Karena merasa tak terlibat dalam demonstrasi, Mozes meneruskan perjalanannya ke arah selatan untuk mencari makan.
- Jejak Kuasa Raja Sunda
PERJALANAN penjelajah Portugis Tome Pires akhirnya sampai juga di Jawa. Sebuah negeri yang kebudayaannya jelas berbeda dengan Malaka (basis kekuatan Portugis di Asia) cukup membuatnya tercengang. Kondisi budaya dan politik di sana telah memberi pemahaman baru baginya. Satu kerajaan yang menarik perhatian sang penjelajah adalah Kerajaan Sunda, sang penguasa bagian barat Jawa. Keberadaan Sunda telah banyak diketahui Pires sejak pendaratan pertamanya di Jawa. Ia mendapat kabar dari orang-orang di pelabuhan tentang negeri itu. Berdasar informasi tersebut, Pires lalu menulis di dalam catatan perjalanannya, Suma Oriental, tentang gambaran Kerajaan Sunda. “Sebagian orang menegaskan bahwa Kerajaan Sunda menguasai setengah Pulau Jawa. Sebagian lainnya, yakni orang-orang yang memiliki kedudukan dalam pemerintahan, meyakini bahwa Kerajaan Sunda menduduki sepertiga atau seperdelapan bagian pulau,” tulisnya.
- Apa yang Salah dengan Lambang Palang Merah?
PANITIA kerja RUU Palang Merah Indonesia (PMI) DPR RI studi banding ke Denmark dan Turki. Mereka berencana mengubah lambang PMI menjadi Bulan Sabit Merah. Entah atas dasar apa para anggota parlemen itu ingin mengganti lambang PMI. Palang Merah telah ada sejak masa Hindia Belanda. Pada 21 Oktober 1873 pemerintah kolonial Belanda mendirikan Nederlands Rode Kruis Afdeling Indie (Nerkai), yang dibubarkan pada masa pendudukan Jepang. Sekira tahun 1932, Dr. R.C.L. Senduk dan Dr. Bahder Djohan mengusahakan untuk mendirikan palang merah nasional. Mereka berusaha membawa rancangan itu ke konferensi Nerkai pada 1940, tapi ditolak mentah-mentah. Saat pendudukan Jepang, mereka mencoba lagi, namun kembali gagal. Baru pada 3 September 1945 Presiden Sukarno memerintahkan untuk membentuk badan palang merah nasional. Dua hari kemudian, Menteri Kesehatan Kabinet I, Boentaran Martoatmodjo membentuk Panitia Lima, terdiri dari: dr R. Mochtar (ketua), dr. Bahder Djohan (penulis); dan dr. Djuhana, dr. Marzuki, dr. Sitanala (anggota). Akhirnya, Palang Merah Indonesia berhasil dibentuk pada 17 September 1945.
- Sirnanya Kerajaan Pajajaran
MEMASUKI abad ke-15, hampir tidak ada kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara yang mampu menahan gempuran pengaruh Islam di wilayahnya. Bukan hanya di Jawa, fenomena peralihan kuasa agama itu juga terjadi di pulau-pulau lain. Tidak ada yang mampu menghentikannya. Dan keadaan itu akhirnya sampai juga mengancam tanah Pasundan pada abad ke-16. Di Tatar Sunda sendiri usaha menghalau pengaruh Islam di tengah masyarakat sebenarnya telah dimulai sejak pertama kali agama itu masuk. Tercatat sejak era kekuasaan Galuh, para penguasa terus mengupayakan agar pengaruh Hindu-Buddha tetap menjadi yang utama di Jawa Barat. Bahkan ketika salah seorang pangeran Galuh yakni Haji Purwa, menjadi tokoh Muslim penting di tanah Sunda, kerajaan dengan cepat bertindak. Ia selamanya diasingkan dari negerinya sendiri oleh sang ayah. Namun pertumbuhan Islam yang begitu cepat, ditambah semakin melemahnya kekuatan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara membuat usaha raja-raja di tanah Sunda pada akhirnya tidak membuahkan hasil. Kekuasaan Hindu-Buddha semakin terdesak. Puncaknya, raja Sunda memindahkan pusat pemerintahannya dari Kawali (Ciamis) ke Pakuan (sekarang Bogor). Kerajaan Sunda di Pakuan Pajajaran pun menjadi benteng terakhir dan salah satu harapan untuk tetap menghidupkan ajaran Hindu-Buddha di Nusantara.
- Taktik Banten Taklukkan Pakuan Pajajaran
KERAJAAN Pajajaran didirikan pada 1333 oleh beberapa bangsawan dari Galuh. Kerajaan yang beribu kota di Pakuan (kini, Bogor) itu untuk pertama kalinya berhasil menyatukan seluruh wilayah Jawa Barat, dari selatan sampai utara, di bawah kekuasaan tunggal. Pajajaran melancarkan serangan ke pelabuhan-pelabuhan pesisir utara, termasuk ke Wahanten Girang atau Banten Girang. Sejarawan Claude Guillot dalam Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X–XVII mencatat, karena tak ada satu indikasi pun yang memungkinkan dugaan bencana alam, terpaksa disimpulkan bahwa Banten Girang musnah dalam perang sekitar tahun 1400. Banten Girang hancur dan perekonomian berhenti.
- Kala Pesawat Mata-mata Amerika Dimangsa Jet Tempur Soviet
BUAT mahasiswa seperti Martin Kakosian –di kemudian hari menjadi seniman-pematung tenar Armenia, kuliah lapangan merupakan kesenangan tersendiri. Selain bisa tetap bersama teman-teman, mereka juga akan terhindar dari kejemuan kuliah dalam ruang dan berpotensi mendapatkan hal-hal baru di luar. Maka begitu perjalanan field trip ke ibukota Yerevan tiba, mereka begitu antusias mengikutinya. Mereka berangkat menggunakan bus pada 2 September 1958 siang menjelang sore. Ketika sampai di Desa Nerkin Sasnashen (Nerkin Sasunashen) di Provinsi Aragatsotn, Armenia, Kakosian dan kawan-kawan “disuguhi” pemandangan tak lazim di langit. Pesawat-pesawat tempur MiG-17 AU Uni Soviet terlihat mengelilingi sebuah pesawat angkut yang berbadan lebih besar. Pesawat angkut itu ternyata merupakan C-130A-II “Hercules” AU Amerika Serikat (AS) bernomor ekor 60528. Pesawat yang berpangkalan di Rhein-Main AB, Jerman Barat, itu sedang menjalani tugas di Pangkalan Udara Adana di Incirlik, Turki.
- Hari Tua Seorang Mata-mata
FURQAN Lubis ingat betul masa ketika screening yang dijalankan pemerintah Orde Baru menghentikan jalannya menjadi dosen. Dia tak tahu apa yang membuatnya tak lulus. Alih-alih memberi tahu, si petugas malah berpesan: “Kamu jangan mencontoh orang tuamu, ya.” Penasaran, Furqan menceritakan pengalaman itu kepada ayahnya. Zulkifli Lubis, ayahnya, menjawab singkat: “Itu kan orang yang tidak mengerti perjuangan.” Zulkifli Lubis tak pernah menceritakan kiprahnya dalam politik dan militer kepada anak-anaknya. Meski punya peran penting di kancah politik nasional pada 1950-an, dia menutupinya rapat-rapat. Pekerjaan dan keluarga adalah dua hal yang terpisah baginya. Anak-anaknya pun akhirnya tak ambil pusing. “Justru yang lebih tahu orang lain daripada anaknya sendiri,” ujar Furqan, anak keenam Zulkifli Lubis. Pergantian kekuasaan membuat Lubis seolah jadi orang asing. Konstelasi politik yang baru terasa kabur baginya. Sejak paruh pertama 1960-an, dia mendekam di Rumah Tahanan Militer Budi Utomo, Jakarta. Rezim Sukarno, yang menjebloskannya ke penjara, berada di ambang kehancuran. Sukarno sendiri menjadi tahanan rumah, dengan akses sangat terbatas. Lubis, yang dibebaskan dari tahanan pada 1966, pun tak beroleh izin dari militer untuk menjenguknya.
- Ketika Jepang Tertipu Mata-mata Palsu
AKSI spionase Jepang di Amerika Serikat pada masa Perang Dunia II tidak selalu berhasil. Dalam sebuah peristiwa, Jepang justru dengan mudah diperdaya oleh mata-mata gadungan yang berujung pada penangkapan sejumlah spion Jepang di Amerika. Peristiwa ini terjadi pada medio awal tahun 1941. Menurut Terry Crowdy dalam The Enemy Within: A History of Espionage, pada Mei 1941, FBI melaporkan telah menemukan kegiatan spionase seorang perwira Jepang bernama Itaru Tachibana. Sejak tahun 1939, Tachibana beroperasi sebagai pemilik klub malam dengan nama samaran Mr. Yamamoto, memata-matai peningkatan teknologi Angkatan Laut AS dan memimpin jaringan mata-mata terbesar di Pesisir Barat.
- Kisah Putri Bangsawan India Jadi Mata-mata Inggris (Bagian II)
SETELAH mendapat pengarahan lengkap, Noor Inayat Khan, putri bangsawan India, bersama agen wanita lainnya diterbangkan ke Prancis pada Juni 1943. Setibanya di sana, wanita bernama sandi Madeleine itu bergegas menuju Paris, di mana dia melakukan kontak dengan Garry, yang sirkuitnya diberi nama Cinema –kemudian diubah menjadi Phono– karena mirip bintang film Gary Cooper. Tak butuh waktu lama, Noor mulai menjalankan tugasnya. Menurut Peter Jacobs dalam Setting France Ablaze: The SOE in France During WWII, pada saat itu pesawat radio nirkabel Noor belum tiba –dia baru akan menerima perangkatnya sendiri beberapa minggu kemudian– sehingga dia bertemu dengan Gilbert Norman, perwira Angkatan Darat Inggris yang bertugas sebagai Eksekutif Operasi Khusus di Prancis selama Perang Dunia II. Pesawat radio Norman disembunyikan di Institut Pertanian di Grignon yang berada di pinggiran barat Paris. Dengan menggunakan perangkat radio milik Norman, Noor dapat melakukan transmisi pertamanya. “Transmisi itu terjadi hanya tiga hari setelah penempatannya dan merupakan respons tercepat dari operator radio setelah tiba di lapangan,” tulis Jacobs.




















