Hasil pencarian
9823 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Cerita dari Kota Kelahiran
DEBAT di arena kongres VII ISDV berlangsung seru. Dua kubu beradu argumentasi ihwal perlu tidaknya merespons tawaran Henk Sneevliet untuk bergabung dengan Komintern. Semaoen dan Pieter Bergsma setuju ISDV merapat ke Moscow. Menurut mereka, penggabungan yang disertai syarat perubahan nama organisasi perlu dilakukan untuk menarik garis demarkasi antara kelompok sosialis sejati dengan sosialis palsu. Adapun Hartogh, sang ketua, tegas menolak. Dia berpandangan, gerakan kiri di Hindia Belanda saat itu belumlah kuat. Ketimbang bergabung dengan Komintern, kata Hartogh lebih baik fokus bekerja membangunkan rakyat dengan memperbanyak pengalaman proletariat. Het Vrije Woord melaporkan, perdebatan pada 23 Mei 1920 itu terus berlanjut dan tak menghasilkan titik temu. Pemimpin sidang lalu menggelar voting. Hasilnya, mayoritas peserta kongres ingin bergabung dengan Komintern dan menyepakati perubahan nama ISDV menjadi Persarekatan Komunis di Hindia (PKH). Petrus Blumberger dalam De Communistische Beweging in Nederlandsche Indie menyebut peristiwa yang menjadi tonggak kelahiran PKI itu terjadi di Kantor Sarekat Islam (SI) Semarang. Kantor SI Semarang yang dimaksud Blumberger berada di Kampung Gendong, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Semarang Timur. Kini, setelah 95 tahun, ia masih berdiri tegak di tengah permukiman warga. Pada 2012, bangunan yang kerap disebut Gedung SI itu, pernah hendak dibongkar oleh yayasan pengelola. Namun, niat itu berhasil digagalkan oleh para pegiat sejarah di Kota Lumpia. Medio 2014 Gedung SI ditetapkan sebagai cagar budaya dan dipugar dengan anggaran Rp600 juta dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Namun, sayang hingga kini, bangunan itu tak kunjung difungsikan.
- Berawal dari Kelompok Diskusi
HENK Sneevliet baru setahun tinggal di Hindia Belanda ketika ide untuk menyatukan kaum sosialis muncul di kepalanya. Saat itu, beberapa gelintir sosialis biasa menggelar diskusi selepas kerja: tentang perkembangan situasi politik baik di Hindia maupun di Belanda dan juga ide-ide Marxisme yang sedang mewujud dalam berbagai gerakan politik di Eropa. Mulanya tak semua orang bersetuju kalau kelak organisasi yang bakal dibentuk itu mengambil peran terlalu jauh dalam urusan politik di Hindia Belanda. Sebagian yang tak setuju itu meyakini bahwa masyarakat Hindia Belanda hanya dapat berubah melalui tahapan evolusi. Karena, “sosialisme hanya akan berarti dalam konteks negara dengan industri berkembang yang melahirkan proletariat,” demikian tulis Ruth McVey dalam Kemunculan Komunisme Indonesia. Gagasan tak seragam. Di lain pihak, ada usulan kalau organisasi itu kelak harus berada di dalam arus gerakan politik di Hindia Belanda, bukan sekadar cabang dari partai politik tertentu di negeri induk, Belanda. Sehingga berbagai analisis tentang tahapan perkembangan masyarakat di Hindia Belanda tak jadi pertimbangan utama bagi penyebaran gagasan sosialisme.
- Menuju Kepunahan Mamalia Terbesar
DI perahu pertama yang berlayar mencari ikan paus, para pemburu berteriak: “Baleo..! Baleo..! Baleo..!” Teriakan itu pertanda kawanan koteklema atau paus sperma (catodon macrocephalus) menampakkan diri. Yang lainnya pun siap beraksi. Perburuan paus dilakukan masyarakat Lamalera di Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur sejak lama. Dokumen Portugis pernah mencatatnya pada 1624 –dan empat abad kemudian masih berlangsung. Tradisi serupa juga dilakukan masyarakat adat di belahan bumi lainnya. Dan mereka melakukannya secara arif, tak berlebihan dan paus yang diburunya pun bukan jenis langka. Ancaman sebenarnya justru datang dari industri yang memanfaatkan tubuh dan bagian ikan paus. Mereka tak henti memburu mamalia terbesar sejagat ini. Beberapa jenis ikan paus pun terancam punah. Padahal, paus berperan dalam menjaga ekosistem laut.
- Penyu Menopang Bumi
BAGI suku Indian Iroquis, penyu adalah penopang bumi. Ketika anak perempuan Sang Roh Maha Tinggi dibuang dari langit karena hamil akibat hubungan terlarang, ia mendarat di atas seekor penyu. Dengan lumpur yang melekat di punggung penyu, ia pun membentuk bumi. Mayor John Norton yang berdarah Indian Cherokee, Skotlandia (dan kemudian diangkat sebagai Indian Mohawk) mendokumentasikan kepercayaan ini dalam The Journal of Major Norton (1816). Mitologi Hindu di Bali juga meninggikan penyu. Mereka meyakini bahwa Dewa Wisnu menjelma menjadi Badawangnala (penyu) dan menyangga Gunung Mandara sehingga bumi tak tenggelam serta menemukan kembali tirta amerta (air kehidupan). Peran penting penyu dalam kosmologi penciptaan ini didokumentasikan Jose Miguel Covarrubias, seniman Meksiko yang awalnya berada di Bali untuk berbulan madu bersama istrinya, Rosa Rolando, pada 1930. Terpesona oleh daya tarik alam dan filosofi masyarakat Bali, suami-istri ini memutuskan kembali pada 1933. Covarrubias melatih keterampilan berbahasa Bali dengan menerjemahkan manuskrip mitologi penciptaan, Catur Yoga. Dalam The Island of Bali, dia mencatat “Pada awalnya adalah ketiadaan, semuanya hampa, hanya ada ruang kosong. Dengan bermeditasi, Sang Dewa Ular Antaboga menciptakan penyu Bedawang, di atasnya melingkar dua ekor ular, sebagai penopang dunia.”
- Bisnis Penyu Tempo Dulu
PENYU menjadi satu dari ribuan spesies hewan yang menghiasi wilayah laut Indonesia. Tetapi hewan yang mampu hidup puluhan tahun, bahkan konon ratusan tahun ini selalu menjadi target perburuan liar. Setiap tahun pemerintah berusaha mengagalkan penyelundupan penyu-penyu ke luar negeri. Dilansir dari laman kkp.go.id, hanya tersisa tujuh spesies penyu di dunia, dan Indonesia menjadi rumah bagi enam spesies di antaranya. Pemerintah pun telah mengatur pelarangan perburuan hewan laut ini dalam UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Hayati dan Ekosistem, serta UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Namun, siapa sangka, hewan yang masuk dalam kategori terancam punah dan dilindungi itu pernah diperjualbelikan secara legal di Indonesia.
- Permainan Monopoli dan Mimpi Kaya di Tengah Krisis Ekonomi
SETIAP orang ingin kaya apalagi orang miskin yang sudah lelah dengan kemiskinan. Keinginan menjadi kaya mendorong orang untuk bekerja, menabung, hingga berinvestasi. Sayangnya, impian itu sulit terwujud bila masyarakat harus menghadapi krisis ekonomi. Alih-alih menjadi kaya, masyarakat justru terancam PHK dan inflasi membuat hidup semakin berat. Dalam situasi krisis ekonomi banyak orang hidup dalam kondisi bertahan atau survival mode. Ketika upah tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mereka memangkas pengeluaran yang tidak perlu. Mereka tak bisa menabung atau berinvestasi, sehingga impian hidup mapan semakin sukar untuk digapai. Di tengah ketidakpastian dan ketakutan akan nasib di masa depan, sebuah permainan memberikan kesempatan bagi para pemainnya untuk merasakan sensasi menjadi orang kaya. Permainan itu adalah monopoli yang digandrungi masyarakat Amerika Serikat ketika menghadapi Depresi Besar tahun 1929 hingga 1930-an. Stephen Feinstein dalam The 1930s: From the Great Depression to the Wizard of Oz menulis, banyak warga Amerika yang harapan dan impiannya hancur akibat Depresi Besar. Sementara yang lainnya terpaksa hidup dengan menurunkan standar harapan mereka demi tetap bisa bertahan di tengah krisis yang tidak pasti. “Dengan kondisi seperti ini, tak heran jika banyak orang terpikat oleh permainan monopoli yang mendapatkan popularitas luar biasa meski krisis ekonomi tengah melanda masyarakat. Para pemain bisa, sejenak, menjadi kaya melebihi impian terlihat mereka –setidaknya dalam imajinasi mereka sendiri,” tulis Feinstein. Besarnya minat terhadap monopoli tidak hanya karena pemainnya bisa berfantasi menjadi kaya. Mereka juga dapat melupakan kekhawatiran dan ketakutan akan masa depan untuk sementara waktu karena permainan ini berlangsung lama sehingga waktu cepat berlalu. Menurut Lawrence R. Samuel dalam The American Dream: A Cultural History, permainan ini menjadi lebih menarik karena membuat para pemain berusaha membangkrutkan pemain lain dalam perburuan properti di berbagai kotak yang disediakan. Hal ini seakan menjadi interpretasi dari American Dream, yang tak jarang dikaitkan dengan konsep seleksi alam. Mereka yang mampu beradaptasi akan bertahan, sedangkan yang tidak mampu akan punah. “Para pemain memulai dari posisi yang sama di monopoli, dan para pemain menikmati gagasan ‘siapa yang menang, dia yang mendapat semuanya’. Dengan berbagai aturan bermain yang ditulis sebanyak empat halaman, membutuhkan waktu berjam-jam untuk memainkannya. Monopoli menjadi hit yang tak terduga, terutama selama Depresi Besar,” tulis Samuel. Kesuksesan monopoli yang dipasarkan perusahaan permainan Parker Brothers menarik perhatian banyak orang. Di tengah banyak orang menahan diri untuk tidak membeli barang-barang tak perlu, penjualan monopoli justru fantastis. Dalam waktu 18 bulan sejak permainan ini dipasarkan, lebih dari dua juta eksemplar monopoli telah terjual. Mary Pilon menulis dalam “How the Great Depression Became a Golden Age for Board Games” di History.com, 28 Mei 2025, kesuksesan monopoli menjadi gambaran popularitas board game di kalangan penduduk Amerika selama Depresi Besar. Dijual dengan harga terjangkau, monopoli menjadi permainan yang banyak dimainkan keluarga di Amerika, tidak hanya oleh anak-anak tetapi juga orang dewasa. Pilon menyebut board game tetap menjadi titik terang di tengah resesi ekonomi, yang biasanya menjadi masa suram bagi peritel, karena dijual dengan harga relatif murah, dapat dimainkan berkali-kali, dan menghibur berbagai usia. “Satu papan monopoli dapat menghibur sebuah keluarga selama berhari-hari, sebuah keuntungan mengingat banyak keluarga memperketat anggaran pengeluaran mereka di masa itu,” tulisnya. Popularitas monopoli di masa Depresi Besar karena masyarakat Amerika banyak yang menjadi korban PHK massal, sehingga mereka lebih banyak tinggal di rumah. Dengan meningkatnya pengangguran dan kondisi keuangan terpuruk, orang-orang tidak memiliki uang untuk pergi ke bioskop atau mencari hiburan di luar rumah. Untuk mencegah rasa bosan selama di rumah, monopoli menjadi solusi. Pilon menyebut monopoli tidak hanya menyediakan hiburan murah, tetapi juga menawarkan obat penenang psikologis, di mana permainan tersebut memberikan para pemainnya “perasaan menjadi orang kaya”. “Namun, yang membuat permainan ini tetap populer adalah peluang untuk meraih keuntungan pribadi. Sebab, monopoli mendorong munculnya kompetisi untuk mengalahkan orang lain. Orang-orang juga bisa bermain monopoli tanpa merasa itu adalah akhir dari dunia. Semacam pelepasan dari ketegangan kehidupan sehari-hari,” jelas Pilon. Meningkatnya popularitas monopoli memicu kontroversi siapakah pencipta permainan tersebut. Ketika monopoli menjadi permainan yang paling diminati masyarakat Amerika, keuntungan tidak hanya dirasakan Parker Brothers, yang selamat dari kebangkrutan setelah membeli hak penjualan monopoli, tetapi juga mengubah hidup Charles Darrow. Darrow terdampak krisis ekonomi sehingga kehilangan pekerjaan. Dia harus memutar otak untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Di tengah himpitan ekonomi dia mengembangkan versi baru dari permainan yang kemudian dinamai monopoli. Dia menawarkan hak penjualan permainan itu kepada Parker Brothers pada 1935. Tingginya penjualan monopoli mengubah hidup Darrow, dari pengangguran menjadi jutawan. Namun, menurut Jennifer Scanlon dalam “Board Game”, termuat di The Guide to United States Popular Culture, kemunculan monopoli sesungguhnya tidak berawal dari Charles Darrow, tetapi dari Elizabeth Magie Phillips. Di awal tahun 1900-an, wanita itu menciptakan dan mematenkan permainan bernama The Landlord’s Game. Phillips yang merupakan pendukung Henry George, tokoh yang memopulerkan teori pajak tunggal di abad ke-19, merancang permainan tersebut untuk mempromosikan gagasannya yang menganggap hanya properti real estate yang seharusnya dikenai pajak. “Phillips mengenalkan Landlord’s Game kepada George Parker dari Parker Brothers, namun Parker menilai permaianan itu terlalu politis untuk dijual secara luas kepada masyarakat. Phillips kemudian menjual Landlord’s Game secara mandiri, permainan ini menjadi sangat populer di berbagai universitas,” tulis Scanlon. Melalui permainan itu, Phillips ingin menunjukkan bahwa sewa yang berlebihan hanya menguntungkan pemilik properti yang serakah dan merugikan penyewa. Wanita aktivis itu hendak menyindir keserakahan korporasi Amerika. Menurut Cynthia R. Comacchio dan Neil Sutherland dalam Ring Around the Maple: A Sociocultural History of Children and Childhoods in Canada, 19th and 20th Centuries, kesan itu lambat laun berubah seiring dengan penyebaran The Landlord’s Game di berbagai wilayah Amerika. “Permainan yang telah berganti merek [menjadi monopoli] ini merupakan kebalikan total dari niat Magie untuk menyindir keserakahan korporasi Amerika; pesannya berubah menjadi ‘cepat kaya’, tentu saja [hanya] mimpi di era Depresi Besar,” tulis Comacchio dan Sutherland.*
- Dramatis Tanpa Adegan Sadis
UNTUK kali kedua, peristiwa evakuasi sekira 400 ribu pasukan Sekutu dari Dunkerque (Dunkirk), sebuah kota kecil di pantai utara Prancis, pada 1940 naik ke layar lebar. Kali ini tanpa adegan berdarah-darah. Tak ada duel tangan kosong atau adu rentetan senjata. Bahkan sosok serdadu Nazi-Jerman nyaris tak dihadirkan. Film dengan tema dan judul yang sama pernah dibuat sutradara Leslie Norman pada 1958. Tapi, berbeda dari pendahulunya, sutradara Christopher Nolan ingin menggambarkan bagaimana pasukan Sekutu, terlebih Pasukan Ekspedisi Inggris (BEF), tengah berada di ujung tanduk dan nyaris dihancurkan Nazi-Jerman. Dia mengedepankan drama. Film ini punya tiga plot yang terkait satu sama lain. Pertama, plot “The Mole” atau tanggul di pantai Dunkirk yang jadi tujuan pasukan Sekutu melarikan diri dari kejaran Jerman.
- Hubungan Diplomatik Indonesia-Chile
DRAMA hoax penganiayaan memasuki babak kedua. Pelakonnya, Ratna Sarumpaet, ditangkap polisi di bandara Soekarno-Hatta, saat hendak terbang ke Santiago, Chile, pada malam Jumat, 4 Oktober 2018. Sebelumnya, Ratna mengarang cerita bohong bahwa dirinya dianiaya, padahal luka pada wajahnya karena operasi plastik. Cerita khayalan yang dia sebut karena bisikan setan itu diviralkan oleh teman-temannya di tim Prabowo-Sandiaga Uno. Bahkan, Prabowo pun menggelar konferensi pers mengecam perbuatan itu. Polisi gerak cepat menyelidiki cerita khayalan itu. Ratna pun tak berkutik dan mengakui telah melakukan kebohongan. Tak ingin seperti kasus Habib Rizieq Shihab terulang yang pergi tak pulang-pulang, polisi pun menangkap Ratna yang akan terbang ke Chile. Polisi menetapkan Ratna sebagai tersangka.
- Skandal Memalukan Chile demi Piala Dunia
CHILE boleh berbangga menjadi dua kali pemegang gelar Copa America dalam dua edisi terakhir. Mengangkangi beberapa tim besar Amerika Latin macam Brasil dan Argentina. Sayangnya, Chile justru nelangsa karena gagal lolos ke Piala Dunia 2018. Padahal La Roja, julukan timnas Chile, salah satu tim Amerika Latin yang punya tradisi baik di pentas Piala Dunia. Mereka mulai debutnya di Piala Dunia pertama pada 1930. Bahkan, ketika menjadi tuan rumah Piala Dunia 1962, Chile berhasil menjadi juara ketiga. Kekecewaan Alexis Sanchez Cs. saat ini mungkin hampir sama dengan kegagalan mereka tampil di Piala Dunia 1990 di Italia. Chile gagal melaju ke Piala Dunia gara-gara skandal memalukan portero (kiper) andalannya, Roberto Rojas.
- Riwayat Lahirnya Milisi Tionghoa Pao An Tui
MALAM terasa semakin mencekam bagi penduduk Tionghoa di Tangerang dan sekitarnya. Saat itu Mei 1946, hari-hari di kala revolusi berkobar di Indonesia, ada desas-desus beredar: Laskar Rakyat akan membumihanguskan Tangerang yang dikenal sebagai buffer zone vital dan strategis penghubung dengan Jakarta dan wilayah lain di bagian Barat. Tak mengherankan bila Belanda maupun pihak Indonesia, berupaya keras menguasai daerah itu. Warga Tionghoa Tangerang yang sejak awal khawatir dengan keselamatan mereka, bisa bernapas lega sejenak karena rencana bumi hangus itu tak terjadi. Namun, ternyata situasi itu hanya berlangsung sementara. Pada 2 Juni 1946 malam, serombongan Laskar Rakyat yang dipersenjatai bambu runcing, karaben, pistol, dan samurai, menyerang penduduk Tionghoa di Tangerang Barat. Rumah dan toko diluluhlantakkan, seluruh harta benda mereka dirampok. Dalam sekejap, kerusuhan menjalar ke berbagai wilayah di Tangerang. Menurut laporan Star Weekly, 16 Juni 1946, sebanyak 40–50 perkampungan luluh lantak; 1.200 rumah rata dengan tanah; lebih dari 700 orang Tionghoa terbunuh, 200 korban di antaranya wanita dan anak-anak; 200 orang Tionghoa dinyatakan hilang; dan kerugian materi lebih dari 7 juta rupiah. Belum lagi ribuan pengungsi yang memutuskan meninggalkan Tangerang guna mencari tempat aman.
- Di Balik Pendirian Pao An Tui
REPORTER militer Hans Post meliput pendaratan tentara Belanda di pantai timur Sumatra pada Oktober 1946. Pada bulan pertama kegiatan liputannya di Medan, dia tertarik mengamati keberadaan serdadu dari kalangan Tionghoa. Hans kaget menyaksikan mereka yang berseragam aneh dengan corak kuning berbahan drill itu. Mereka memakai topi pet dan menenteng senapan laras panjang. Pemimpinnya diketahui bernama Lim Seng yang segera memberi penjelasan perihal pasukannya kepada Hans. Lim Seng menuturkan, pemuda-pemuda Tionghoa harus selalu berjaga dan patroli untuk menghentikan aksi para ekstremis. Pejuang Indonesia bersenjata ini kerap meresahkan; menyerang rumah-rumah milik orang Tionghoa. Mereka merampok dan kadangkala berakhir dengan jatuhnya korban jiwa. Tentara Inggris menolak memasok senjata kepada pemuda-pemuda Tionghoa. Hingga Maret 1946, pemuda-pemuda Tionghoa hanya bersenjatakan tombak dan tongkat. “Inggris menyadari bahwa teror itu menjadi terlalu serius bila tetap bersikap pasif. Setelah sejumlah kecil senjata api disediakan, tak ada lagi penjahat - pencuri - berani memasuki distrik Tionghoa di bawah perlindungan pasukan penjaga Tionghoa,” demikian catat Hans Post dalam reportasenya Bandjir over Noord-Sumatra Volume I: Bandjir over Noord Sumatra yang terbit tahun 1948.
- Pao An Tui yang Dibenci Kaum Republik
KAWASAN pecinan di Pasar Sentral, kota Medan cukup tenang pada siang hari. Aktivitas para pekerja dan pedagang berjalan sebagaimana biasa. Namun memasuki waktu malam, keadaan berubah mencekam. Letusan tembakan acap kali menggema. Demikianlah suasana keamanan di distrik Tionghoa itu pada awal 1946. Menurut keterangan warga setempat yang dikutip Abdullah Hussain, Kepala Polisi Langsa yang sedang tugas di Medan, orang-orang Tionghoa di kawasan itu telah dipersenjatai oleh NICA. Mereka membentuk sebuah barisan sendiri yang diberi nama Pao An Tui. “Dari atas loteng rumahnyalah mereka melepaskan tembakan kepada pejuang-pejuang Indonesia yang menyusup masuk ke dalam kota pada waktu malam,” kenang Abdullah dalam Peristiwa Kemerdekaan di Aceh.





















