top of page

Hasil pencarian

9869 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Gan Kam, Tionghoa Penyelamat Wayang Orang Jawa

    Alunan gending karawitan terdengar merdu dari sebuah gedung di Jalan Kebangkitan Nasional, Solo. Di dalam gedung itu, sekelompok pemain wayang orang Sriwedari tampil dengan berbagai lakon. Meskipun kembang kempis di tengah arus globalisasi, Wayang Orang Sriwedari pernah menjadi kelompok wayang orang komersial yang amat populer. Wayang wong  (wayang orang) telah lama ada di Solo. Menurut  KPH Kusumadilaga, “penciptanya” ialah Kadipaten Mangkunegaran. “Mangkunegaran I (1755-1795) menciptakan pertunjukan wayang wong  dengan cerita wayang purwa,” tulis KPH Kusumadilaga dalam Serat Sastramiruda  yang terbit sekitar tahun 1850. Perkembangan wayang orang di sana merosot akibat Kadipaten Mangkunegaran mengalami defisit keuangan. Pementasan wayang orang tidak lagi dilakukan karena dianggap pemborosan. Para abdi dalem,  yang terdiri dari abdi dalem langenpraja  (kesenian) dan abdi dalem wayang wong , diberhentikan. Baca juga:  Gan Thwan Sing, Pencipta Wacinwa Melihat kondisi memprihatinkan tersebut, pengusaha keturunan Tionghoa bernama Gan Kam memberanikan diri menjadi sponsor pementasan wayang orang di Solo. Ia lalu berinovasi dengan membuat wayang orang lebih komersial pada 1895, yakni dengan merekrut penari dan pemain wayang orang mantan abdi dalem  Mangkunegaran. “Gan Kam berhasil merayu Mangkunegara V untuk memboyong wayang wong  Mangkunegaran keluar tembok istana untuk dipasarkan, atau dapat dinikmati penduduk kota,” kata sejarawan Soedarsono dalam buku Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi . Pagelaran wayang orang yang diinisiasi oleh Gan Kam dilakukan di sebuah bangunan besar berdaya tampung sekitar 200 penonton. “Bangunan itu diperkirakan bekas tempat pembatikan Gan Kam di sebelah selatan pasar Singosaren,” tulis akademisi seni Rustopo dalam Menjadi Jawa . Di tangan Gan Kam, bentuk pergelaran wayang orang berbeda dari yang dilakukan di dalam Kadipaten Mangkunegaran. Di Mangkunegaran, pergelaran wayang orang dilakukan di dalam arena. Pemain berada di tengah pendopo dan penonton menyaksikan di sekelilingnya. Baca juga:  Membaurkan Cina-Jawa dalam Wacinwa Sementara, pergelaran wayang orang yang dilakukan Gan Kam berbentuk prosenium. Pementasan dilakukan di atas panggung lebih tinggi satu atau dua meter dari posisi duduk penonton. Oleh sebab itu, wayang orang inisiasi Gan Kam sering disebut dengan wayang orang panggung. Apabila dalam pementasan arena, penonton dapat melihat dari empat sisi, di pementasan prosenium penonton hanya dapat melihat dari satu sisi. Sebagai pengusaha, Gan Kam menganggap penonton sebagai konsumen sehingga selera penonton dipikirkan. Salah satu hasilnya, ketika pertunjukan wayang orang dengan durasi panjang dianggap membosankan, ia mengusulkan kepada Mangkunegara untuk membuat pertunjukan lebih pendek. “Atas izin Mangkunegaran V, Gan Kam kemudian mengemas pertunjukan wayang orang dalam durasi waktu yang agak pendek, lebih mementingkan dialog daripada tarinya dan dapat menghibur penonton,” kata Soedarsono dalam buku Seni Pertunjukan dari Prespektif Politik, Sosial, dan Ekonomi. Inovasi Gan Kam tidak bertepuk sebelah tangan. Penonton pertunjukan wayang orang panggung berdatangan dari berbagai golongan, pribumi maupun Tionghoa. Mereka tidak segan-segan menonton pertunjukan ini bersama keluarga. Masyarakat tertarik karena belum pernah menyaksikan wayang orang, yang sebelumnya selalu ditampilkan di dalam istana. Pertunjukan Wayang Wong: drama dan tari tradisional Jawa di pelataran Mangkunegara di Solo. ( collectie.wereldculturen.nl ). Sebelum ada wayang orang panggung, masyarakat sudah sering melihat pergelaran wayang kulit. Akan tetapi setelah melihat pertunjukan wayang orang, mereka dibuat kagum oleh perlengkapan busana dalam wayang kulit yang melekat pada tubuh manusia. Sebagai pertunjukan komersial, tentu saja ada harga yang harus dibayar untuk menyaksikan wayang orang. Layaknya pertunjukan komersial ala Barat, Gan Kam membagi harga tiket berdasarkan kelas-kelas. Paling mahal kelas rose (VIP), kemudian di bawahnya ada kelas I, Kelas II, dan Kelas III. Harga tiket paling murah adalah kelas kambing, yakni untuk yang menonton berdiri. Kesuksesan Gan Kam dengan wayang orang garapannya menginspirasi seniman-seniman lain menciptakan wayang orang serupa. Kemunculan wayang orang populer lain seperti wayang orang Sriwedari, wayang orang Sedya Wandawa, atau wayang orang Sono Harsono, membuat ketertarikan penonton terbagi. Mereka yang bosan dengan wayang orang panggung karya Gan Kam beralih menonton wayang orang-wayang orang lain yang pentas di Solo. Baca juga:  Mantra Sakti Sang Dalang Wayang Ketatnya persaingan membuat jumlah penonton wayang orang panggung Gan Kam perlahan menurun. Penghasilan mereka pun menyusut. Mau tidak mau, Gan Kam harus menomboki biaya produksi meliputi honorarium pemain, biaya operasional, hingga pajak. Padahal di sisi lain, usaha batik milik Gan Kam juga mundur. Alhasil tidak ada sponsor untuk menunjang pergelaran wayang orang kelompoknya. “Tidak ada informasi kapan rombongan wayang orang panggung milik Gan Kam dibubarkan,” kata Rustopo. Kendati akhirnya tinggal nama, upaya Gan Kam telah membuat wayang orang menjadi inklusif dan disenangi rakyat. Meskipun modal yang dikeluarkannya cukup banyak dan tidak menuai keuntungan besar, jasa Gan Kam amat besar. “Investasi yang ditanamkan Gan Kam sangat penting ketika di dalam Istana Mangkunegaran kemudian tidak ada kehidupan wayang wong lagi karena sudah bergeser ke luar tembok istana, andai Gan Kam tidak melakukan itu kemungkinan besar wayang wong benar-benar mati sejak saat itu,” kata Rustopo.

  • Menggeruduk Rumah Penggede Orde Lama

    Selama berkuasa, Presiden Sukarno ditopang oleh sejumlah pengusaha swasta yang loyal. Mereka andil dalam membiayai aneka proyek mercusuar gagasan Bung Karno. Sebagai imbal baliknya, para pengusaha ini menikmati fasilitas dan kemudahan dalam menjalankan roda bisnis. Apakah itu dalam bentuk kredit lunak, proyek tender, hingga ekspor-impor komoditi. Setelah terbit Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) 1966, beberapa pejabat negara dianggap sebagai biang kerok penggarong uang negara. Atas perintah Jenderal Soeharto, para pengusaha yang dekat dengan Sukarno turut jadi target penangkapan. Mereka yang paling menonjol jadi sasaran bulan-bulanan masyarakat. Itulah yang terjadi salah satunya kepada eks Menteri Urusan Bank Sentral merangkap Gubernur Bank Indonesia Jusuf Muda Dalam (JMD). Sebelum menjabat menteri, JMD merupakan presiden direktur Bank Nasional Indonesia (BNI). Lama berkecimpung di sektor ekonomi, JMD bergaul akrab dengan pengusaha ternama masa itu. Ia berperan dalam mencairkan kredit luar negeri berjangka setahun (DPC) kepada beberapa pengusaha rekanan. Dalam Supersemar, JMD masuk daftar penangkapan kategori ketiga. Kategori ini merujuk pada pejabat yang hidup amoral dan asosial; hidup dalam kemewahan di atas penderitaan rakyat. Baca juga:  Meringkus Loyalis Sukarno Harian Berita Yudha edisi Minggu, 27 Maret 1966 menyebut rumah milik JMD di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, jadi sasaran penggerebekan kesatuan aksi mahasiswa dan pelajar. Salah satu kompleks perumahan di atas tanah seluas 8000 meter persegi itu lebih mirip taman tempat raja-raja dulu bersenang-senang. Menurut koran yang berafiliasi dengan Angkatan Darat ini, salah satu rumah yang termewah oleh JMD ternyata dijadikan tempat bersuka ria bersama simpanan-simpanannya. Dari jalan raya, rumah itu tampak seperti gedung biasa saja. Namun, ketika dimasuki, terdapat satu kompleks luas dengan tiga gedung yang dibatasi tembok tinggi. Di salah satu gedung itulah JMD biasa menghabiskan waktu dengan beberapa perempuan secara bergantian. Begitu masuk ke dalam,  seisi rumah terlihat mewah lengkap dengan perabotan serba modern. Kisah “taman firdaus” duniawi JMD akhirnya tersingkap setelah seluk-beluk rumah tersebut digeruduk massa. “Di dalam gedung itu didapati berbagai macam foto wanita telanjang, di antaranya terdapat bintang-bintang film Indonesia. Di samping ini juga terdapat alat-alat pemotret serta alat-alat kecantikan dan obat-obat hormone,” sebut Berita Yudha . Baca juga:  Jusuf Muda Dalam, dari Uang Panas hingga Selebritas Menurut keterangan pelayan rumah, seperti dikutip Berita Yudha , JMD dalam seminggu empat kali mengunjungi rumah peristirahatannya itu. Setiap tuannya itu datang selalu disertai wanita. Kadang-kadang si wanita datang lebih dulu. Datangnya pun tak tentu. Kadang-kadang pukul 12 siang, terus menginap. Kira-kira pukul 6 sore kemudian wanitanya pulang. Lanjut lagi pukul 7 malam, datang lagi wanita lain. Ia mengaku, rumah tersebut baru digunakan selama 8 bulan terakhir. “Wanita yang sering berkunjung ke sini umumnya berumur sekitar 18 sampai 23 tahun. Karena demikian banyak dan berlainan yang datang kemari, maka saya sangat sulit untuk mengenalnya satu-satu di antara mereka itu. Tapi yang sudah saya kenal benar ialah 2 orang wanita pegawai Bank Negara,” ujar si pelayan.   Berbeda dari penggerudukan rumah JMD, dalam proses penangkapan Teuku Markam terjadi perlawanan. Markam adalah Direktur PT Kulit Aceh Raya Kapten Markam (Karkam). Dialah raja karet dari Sumatra yang tajir melintir.   Selain itu, Markam merupakan salah satu pengusaha Istana yang menikmati fasilitas DPC. Markam dikenal dekat dengan Presiden Sukarno dan kawan dari JMD. Baca juga:  Tajir Melintir Teuku Markam Markam ditangkap pada 23 Maret 1966. Tentara menjemput Markam di kediamannya di bilangan Kebayoran, Jakarta Selatan. Namun, penangkapan itu, menurut koran Malaysia Berita Harian , 1 April 1966, didahului baku-tembak antara anak buah Markam dan tentara yang hendak menciduknya. “Tentara berjaya menangkap Tuan Markam dan pengikut-pengikutnya,” kata Berita Harian . Markam kemudian dipenjarakan tanpa melalui proses pengadilan. Pada masa Orde Baru, semua harta Markam maupun aset PT Karkam disita oleh negara. Tapi, setelah bebas pada 1974, Markam bangkit lagi dengan merintis PT Marjaya yang bergerak di bidang kontraktor.    Baca juga:  Runtuhnya Kerajaan Bisnis Teuku Markam, Sang Taipan Istana  Kisah mirip JMD juga melanda Potan Harahap. Ia merupakan tangan kanan JMD yang menjabat sebagai gubernur pengganti BNI Unit III. Menurut Ganis Harsono dalam Cakrawala Politik Era Sukarno , Potan salah satu pengusaha asal Sumatra yang termasuk jajaran tim penasihat ekonomi presiden. Dalam kedudukannya itu, Potan bertugas menghimpun dana revolusi dari sejumlah pengusaha. Pada akhir Maret 1966, rumah Potan di Jl. Adityawarman No.21, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan diserbu serombongan massa. Sejumlah satpam penjaga rumah Potan tak berdaya menghadapi jibunan orang yang menggeruduk sejak pukul 5.30 pagi. Kebanyakan massa ini berasal dari kesatuan aksi mahasiswa. Pintu rumah Potan yang memakai kunci luar negeri, dikampak oleh mereka sampai ringsek. Setiba mereka di depan pintu kamar, Potan tak kunjung keluar. Ketika pintu kamar dibobol, Potan ditemukan sembunyi di dalam lemari pakaian dalam keadaan meringkuk ketakutan. Baca juga:  Drama Penangkapan D.N. Aidit “Dia berjongkok di atas tumpukan uang rupiah baru, menggigil pucat melihat para mahasiswa itu,” kata Berita Yudha , 24 April 1966. Menurut Berita Yudha , sejumlah besar dokumen penting ditemukan dalam kamar rumah Potan Harahap. Pada tas koper merek Samsonite tersua surat-surat katebelece dari Menteri Kehakiman Astrawinata maupun JMD. Sementara itu, di meja kerja Potan didapati dokumen-dokumen yang menyangkut perkara moneter. Terselip pula setumpuk buku travellingcheque yang siap diuangkan senilai ratusan ribu dolar Amerika. Yang lebih menyilaukan mata, ditemukan satu sak besar berisi penuh dengan butiran-butiran permata, berlian, dan perhiasan berharga lainnya.    Demikianlah sekelumit cerita penggerebekan kediaman Potan Harahap. Setelah itu, tak banyak lagi informasi yang tercatat mengenai tindak lanjut kasus hukum Potan Harahap. Namun yang jelas, mayoritas pejabat dan pengusaha loyalis Sukarno mengalami nasib nelangsa di zaman Orde Baru.      Baca juga:  Omar Dani, Panglima yang Dinista

  • Celaka Dua Belas di Pintu Dua Belas

    LANGIT pucat di Kepanjen, Malang, menaungi kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menengok Stadion Kanjuruhan pada 5 Oktober 2022. Dari video yang diunggah Sekretariat Presiden di akun Youtube -nya , tampak ekspresi datar Jokowi menyiratkan keprihatinan kala menatap Pintu   12, 13, dan 14 yang jadi saksi bisu pada tragedi Sabtu kelabu, 1 Oktober 2022. Dari tribun, sesekali ia juga melirik akses tangga-tangga menuju tiga pintu tersebut yang sudah diberi garis polisi. Pun juga dengan keadaan sekitar lapangan yang masih bertebaran bermacam benda sisa-sisa tragedi yang merenggut 132 jiwa dan melukai lebih dari 500 lainnya itu. “Sebagai gambaran, tadi saya melihat bahwa problemnya ada di pintu yang terkunci dan juga tangga yang terlalu tajam, ditambah kepanikan yang ada, tapi itu saya hanya melihat lapangannya. Saya kira kita memang perlu evaluasi total semuanya, baik manajemen pertandingan, manajemen stadion, manajemen penonton, manajemen waktu, manajemen pengamanan agar peristiwa ini tidak terjadi lagi,” kata Jokowi di laman kepresidenan , Rabu (5/10/2022). Baca juga: Pelajaran Berharga dari Tragedi Sepakbola Tragedi Kanjuruhan yang terjadi usai laga Arema FC kontra Persebaya itu mulai menampakkan “secercah cahaya dalam terowongan” pihak-pihak yang bertanggungjawab. Tak sampai sepekan pascatragedi, kepolisian pada 6 Oktober sudah menetapkan sedikitnya enam tersangka. Salah satunya berinisial SS selaku security officer  Arema FC. Sehari sebelum penetapan tersangka oleh polisi, SS jadi salah satu pihak yang dianggap bertanggungjawab sehingga dijatuhi sanksi larangan beraktivitas dalam kegiatan sepakbola seumur hidup oleh Komite Disiplin (Komdis) PSSI. Alasannya karena SS lalai membuka pintu keluar yang mestinya sudah dibuka 10 menit jelang bubaran laga. Momen Presiden Jokowi menengok kondisi Stadion Kanjuruhan ( pssi.org ) PSSI juga mengganjar hukuman serupa kepada ketua panita pelaksana (panpel) Arema, Abdul Haris. Sementara, Arema FC sendiri divonis menjalani partai usiran berjarak 210 kilometer dari homebase -nya di Malang hingga akhir musim Liga 1 2022-2023 ditambah denda Rp250 juta. “Kepada officer atau steward , orang yang mengatur semua keluar masuk penonton pintu semuanya. Siapa itu? Security officer Arema FC adalah Suko Sutrisno. Dia bertanggung jawab kepada hal yang harus dilaksanakan tapi tidak terlaksana dengan baik. Merujuk pada pasal 68 huruf A, junto pasal 19, junto pasal 141 Komdis PSSI, tahun 2018, saudara Suko Sutrisno sebagai petugas keamanan security officer tidak boleh beraktivitas di lingkungan sepakbola seumur hidup,” ungkap Ketua Komdis PSSI Erwin Tobing di laman PSSI , 4 Oktober 2022. Baca juga: Lima Petaka Mengerikan di Stadion Sepakbola Selain tindakan berlebihan dari aparat keamanan hingga disertai tembakan gas air mata, akses pintu keluar Stadion Kanjuruhan jadi perkara tersendiri yang belakangan viral di media sosial. Utamanya Pintu 13 yang menyisakan banyak kisah memilukan hati dari para penyintasnya. Kondisi sejumlah tribun, termasuk di Tribun 13, sudah chaos karena ribuan suporter saling mencari selamat dari kepulan asap gas air mata. Akses tangganya curam dan sempit. Lebih celaka lagi, ternyata pintu keluarnya terkunci. Akibatnya, roster ventilasi di sebelah Pintu 13 dijebol agar mereka bisa keluar dari tribun. Pascatragedi, lokasi Pintu 13 paling banyak dijadikan lokasi tabur bunga. Daun pintu besinya tak hanya menampakkan coretan bertuliskan “RIP” tapi juga ucapan-ucapan duka yang tertempel di banyak bagiannya. Pun di sisi kanan dan kiri temboknya, berhias tulisan sederhana: “Selamat Jalan Saudaraku 01-10-22” dan “Saudaraku Dibunuh. Usut Tuntas, 01-10-22.” Nahas di Pintu Dua Belas Duel Superclásico antara dua tim sekota asal Buenos Aires, River Plate dan Boca Juniors, selalu jadi partai panas. Rivalitas keduanya amat keras. Pertemuan dua klub itu selalu memancing fanatisme massa masing-masing suporter. Bagi Miguel Durrieu (46), fans Boca, duel klub tersukses di Argentina itu justru akan membuka luka bagi batinnya. “Kepanikan, rasa takut, dan banyak jeritan. Saya terjatuh dan pingsan tapi saya masih selamat. Saya tak pernah bertemu siapa yang menyelamatkan saya. Sejak saat itu saya tak pernah menonton Boca lagi,” kenang Durrieu kepada Clarín , 24 Februari 2017. Durrieu jadi satu dari sekian suporter Boca yang jadi penyintas Tragedia de la Puerta 12 atau Tragedi Pintu 12 pada 23 Juni 1968 petang di Stadion El Monumental (kini Estadio Antonio Vespucio Liberti). Petaka tersebut memakan korban jiwa 71 fans Boca tewas dan 128 lainnya terluka. Baca juga: Argentina dan Trofi yang Dirindukan Pada petang dengan udara dingin di musim semi itu, River Plate tengah menjamu Boca Juniors di laga Torneo Metropolitano. Laga itu juga jadi pertandingan terakhir legenda hidup Amadeo Carrizo sebelum sang kiper cemerlang itu hijrah ke klub Peru, Alianza Lima. Stadion El Monumental saat itu disesaki 90 ribu penonton yang mayoritas suporter tuan rumah, River Plate. Suporter tim tamu kala itu dilokasikan ke tribun utama. “Pertandingannya membosankan (berakhir imbang 0-0, red. ) dan tampak fans Boca sudah mulai pergi menjelang laga berakhir menuju akses keluar. Tepat ketika laga usai dan saya hendak menuju ruang ganti dari tribun media, saya melihat sesuatu yang mengkhawatirkan, mencurigakan, dan tidak biasa,” tutur jurnalis senior Cherquis Bialo yang juga menjadi saksi mata, pada kolomnya di laman Infobae , 23 Juni 2020. Partai panas River Plate vs Boca Juniors pada 23 Juni 1968 di Estadio El Monumental ( historiadeboca.com.ar ) John Nauright dan Charles Parrish dalam Sports Around the World: History, Culture, and Practice menulis, petaka itu pecah karena beberapa faktor. Salah satunya berkelindan dengan kondisi politik di Argentina. Terlebih, suporter Boca dan River Plate juga tak hanya konflik terkait sepakbola tapi juga terkait penguasa politik yang, dalam petaka ini, berkaitan dengan tindakan polisi terhadap fans Boca. Suporter Boca yang mayoritas berasal dari kalangan kelas pekerja, sudah lama jadi pendukung fanatik Jenderal Juan Perón yang dikudeta pada 1955. Sementara, pendukung River Plate, yang kebanyakan berasal dari kaum miskin, mendukung rezim junta militer yang pada 1968 dipimpin Letjen Juan Carlos Onganía. “Saat terjadi petaka itu juga sempat ada pelemparan gelas plastik berisi air kencing kepada aparat polisi, pembakaran bendera River Plate, dan yel-yel anti-pemerintah yang ditujukan kepada diktator militer Juan Carlos Onganía oleh suporter Boca yang masih berada di tribun atas,” ungkap Nauright dan Parrish. Baca juga: Intisari Rivalitas Sepakbola Sejagat Hal itu berimbas pada ribuan suporter Boca lain di tribun bawah yang sedang berusaha keluar dari tribun menuju Pintu 12. Dari sejumlah pengakuan saksi mata dan penyintas, akses tangga ke Pintu 12 tanpa penerangan yang laik dan saat itu pintu geser besinya hanya terbuka separuh. Lebih lagi ternyata palang pintu putar di depan pintu geser itu menambah penghalang bagi para penonton. “Saya bisa memastikan bahwa 10 menit jelang laga berakhir, Pintu 12 masih terkunci. Putra saya yang berumur 10 tahun sampai pingsan karena berdesakan. Saat ada yang membuka setengah pintunya, mereka yang sudah ingin keluar masih harus dihadapkan pintu putar. Sungguh luar biasa situasinya saat itu,” kenang Enrique Acuña, penyintas Tragedi Pintu 12 lain. Puerta 12 alias Pintu 12 pascatragedi (El Gráfico/La Nacion/ole.com.ar) Alih-alih selamat, sejumlah suporter yang berhasil meloloskan diri dengan susah payah kemudian malah berhadapan dengan sepasukan polisi berkuda yang marah akibat lemparan air kencing dan yel-yel anti-pemerintah tadi. Alhasil, para suporter yang sudah lolos dari pintu besi dan palang berputar berusaha menyelamatkan diri kembali ke arah Pintu 12 dan itu yang memicu “longsor manusia” di akses tangga dan Pintu 12. “Beberapa saksi mata masih ingat ketika pintunya belum dibuka dan beberapa lainya mengatakan pintu palang putarnya belum dipindahkan. Padahal pintu dan palang pintunya mestinya sudah dibuka 15 menit menjelang laga bubar. Polisi berkuda menggunakan tongkat memukuli suporter yang keluar dan memaksa mereka untuk mundur. Setelah terjadi tindakan represif polisi yang terprovokasi itulah tragedinya bermula,” tulis Andreas Campomar dalam ¡Golazo! A History of Latin American Football. Baca juga: Nahas di Stadion Ibrox Para suporter yang dipukul mundur itu bertubrukan dengan suporter yang hendak keluar. Tekanan yang terjadi menimbulkan efek domino, ribuan suporter bertumbangan dan saling menindih satu sama lain. “Tindakan polisi membuat panik dan menimbulkan suasana yang dramatis hingga memakan korban jiwa. Antara mereka yang ingin segera keluar dari tribun karena kedinginan dan mereka yang ingin menyelamatkan diri dari polisi menyebabkan mereka saling berdesakan dan kebingungan, jatuh, dan saling menjerit saat tertindih,” sambung Bialo. Estadio El Monumental pada 1960 sebelum direnovasi (atas) dan kini setelah direnovasi ( cariverplate.com.ar ) Akibatnya, ratusan orang terluka dan mengalami sesak nafas. Sebanyak 71 di antaranya akhirnya tinggal nama. Terlepas dari Presiden River Plate William Kent yang menuding pihak kepolisian sebagai penyebabnya, investigasi selama dua bulan justru tak menghasilkan seujung kukupun keadilan untuk para keluarga korban. Mayoritas korban tewas masih sangat muda, antara usia 13-25 tahun. Meski Hakim Oscar Hermelo yang memimpin investigasi selama dua bulan telah menetapkan dua tersangka dari ofisial River Plate, Americo Di Vietro dan Marcelino Cabrera, serta memberi ancaman sanksi 200 juta terhadap River Plate, kasusnya disetop Majelis Kriminal dan Banding. “Saya sudah menetapkan tersangka terhadap dua orang tapi ketika majelis meninjau ulang, penyelidikan lebih jauh dan kelanjutannya tidak bisa diteruskan,” timpal Hermelo. Baca juga: Lembaran Getir Tragedi Heysel Sementara pihak klub, terlepas sempat menuding pihak polisi, menggalang dana dengan dibantu AFA (federasi sepakbola Argentina) mencapai 100 ribu dolar. Dana itu diniatkan sebagai santunan kepada keluarga korban tewas yang masing-masing akan mendapat seribu dolar dengan syarat, keluarga korban takkan menuntut pihak klub. Lantas berbarengan dengan renovasi El Monumental jelang Piala Dunia 1978, semua pintu yang menyandang nomor diganti dengan huruf. Termasuk Pintu 12 yang berubah menjadi akses pintu keluar darurat Sektor L. Menariknya, pihak klub Boca Juniors pun seakan mengubur dalam-dalam memori pahit itu selama bertahun-tahun tanpa adanya peringatan. Baru pada 2015, sejumlah fans Boca mendesak pihak klub untuk mau mengakui dan memperingati, hingga kemudian pada 50 tahun kejadian pihak klub secara resmi menggelar peringatan rutin. Pintu 12 yang diubah menjadi Pintu L pasca El Monumental direnovasi ( cariverplate.com.ar )

  • Dardanella Menembus Panggung Dunia

    Sorak-sorai dan tepuk tangan penonton memenuhi ruangan pertunjukkan di gedung Munchener Kunstlerhaus, Munich, Jerman, pada 1939, setelah rombongan Dardanella selesai mementaskan “Si Bongkok”, salah satu lakon paling populer dari rombongan sandiwara ini. The Malay Opera Dardanella merupakan salah satu rombongan teater paling bersinar di pertengahan pertama abad ke-20. Dardanella disebut sebagai perintis teater Indonesia modern karena menampilkan pertunjukan dengan pendekatan baru yang dinilai lebih sesuai dengan selera zaman. Rombongan sandiwara ini dimotori oleh Andjar Asmara, Astaman, Ferry Kok, Miss Dja, Miss Riboet II, dan Tan Tjeng Bok yang dijuluki “Java’s Big Five” atau “Dardanella’s Big Five”. Sejarawan Jaap Erkelens membahas tuntas sejarah Dardanella dan perkembangan kesenian teater Indonesia yang diawali dengan kehadiran lakon stambul di Hindia Belanda dalam buku Dardanella: Perintis Teater Indonesia Modern Duta Kesenian Indonesia Melanglang Buana  yang baru terbit oleh Penerbit Buku Kompas (2022). Buku berukuran besar ini diperkaya dengan foto-foto pemeran dan pertunjukan, berita koran, guntingan iklan, dan dilengkapi CD berisi lagu-lagu Dardanella. Buku setebal 500 halaman ini menjadi rujukan utama sejarah Dardanella. Baca juga:  Miss Riboet Memadukan Seni dan Olahraga Ketertarikan Erkelens terhadap Dardanella berawal dari kesukaannya mengoleksi piringan hitam yang berisi lagu-lagu dari masa sebelum Perang Dunia II. Saat berburu piringan hitam di pasar-pasar loak Jakarta,ia menemukan beberapa lagu dalam bahasa Melayu yang kebanyakan lagu-lagu keroncong dan stambul. Beberapa lagu tersebut dinyanyikan oleh penyanyi Miss Riboet yang tergabung dalam rombongan Maleisch Operette Gezelschap Orion dan sejumlah kecil dinyanyikan penyanyi rombongan Dardanella. Penemuan itu mendorong Erkelens menggali lebih dalam mengenai sejarah perkembangan sandiwara di Indonesia, khusunya rombongan Dardanella. Ia mengumpulkan berbagai berita, resensi, dan iklan di media massa,untuk menguraikan sejarah Dardanella dan perjalanannyaselama tur keliling Indonesia dan dunia. Dardanella didirikan oleh Vladimir Klimanoff alias A. Piedro pada 21 Juni 1926. Sebelum Dardanella dan Orion milik Tio Tek Djien Jr. berdiri tahun 1925, hiburan masyarakat Hindia Belanda adalah pertunjukan lakon stambul yang mementaskan beragam kisah dari cerita-cerita Timur Tengah dan seputar dongeng 1001 malam. Dalam pementasannya, para aktor dan aktris dibolehkan menyusun lirik pantun sendiri tetapi terikat pada lagu tertentu yang mereka gunakan sepanjang cerita dipentaskan. Selain itu,mereka juga diizinkan melakukan improvisasi saat tampil di atas panggung. Baca juga:  Bung Karno Dikerjai Anggota Grup Sandiwaranya Berbeda dengan lakon stambul, Dardanella dan Orion mencoba menampilkan pertunjukan dengan gaya baru. Bila pementasan stambul biasanya terdiri atas sejumlah babak yang berlipat ganda,Piedro mengurangi jumlah babak yang dipentaskan rombongannya menjadi tidak lebih dari delapan. Piedro juga menerapkan sejumlah aturan secara ketat bagi aktor dan aktris dalam rombongan Dardanella. Misalnya, mereka diwajibkan menghafal skrip karena tak diizinkan melakukan improvisasi di atas panggung. Kisah yang dipentaskan Dardanella juga tak melulu dari dongeng 1001 malam. Mereka juga turut mengadaptasi cerita film bisu untuk dipentaskan di panggung pertunjukan. Bahkan, Piedro memberanikan diri mementaskan lakon baru yang merupakan saduran dari apa yang kala itu disebut “Indische roman” yang membahas mengenai masalah-masalah sosial dan peristiwa yang benar terjadi. Selain itu, dalam pementasan Dardanella, kata-kata tak lagi dinyanyikan seperti halnya dilakukan para pemain lakon stambul. Piedro memindahkan nyanyian lagu-lagu dan aksi badut ke jeda di antara babak yang kemudian disebut “ekstra”. Meski bahasa yang digunakan dalam pementasan lakon-lakon Dardanella menggunakan bahasa Melayu Rendah atau Melayu Pasar, para pemeran yang tampil dalam adegan-adegan ekstra juga piawai bernyanyi dalam bahasa Inggris dan Belanda, sehingga penonton seolah-olah sedang menonton film bersuara di bioskop. Baca juga:  Omar Rodriga, Aktor Sandiwara di Medan Laga Menurut Erkelens, upaya-upaya yang dilakukan Piedro lambat laun berhasil meyakinkan pemain maupun penonton bahwa waktu telah berubah. Hal senada juga diungkapkan Misbach Yusa Biran dalam Sejarah Film 1900–1950 Bikin Film di Jawa , bahwa pembaruan yang dilakukan kelompok Orion dan Dardanella menjadi penanda peralihan era lakon stambul ke era toneel , istilah Belanda untuk kata sandiwara. Popularitas Dardanella kian menanjak semenjak tampil perdana di Theater Orient, Surabaya pada 8 Agustus 1927. Iklannya dimuat koran Pewarta Soerabaia , 1 Agustus 1927. Lakon pertama yang dipentaskan berjudul “The Sheik of Araby”. Tak berselang lama,Dardanella mengadakan tur keliling: Makassar, Ternate, Ambon, Manado, Balikpapan, Samarinda, Semarang, Yogyakarta, Batavia, danSumatra. Dardanella kemudian memulai tur mancanegara pertama pada 1935. Dalam tur ini, Dardanella terbagi dua kelompok, yakni kelompok teater dan kelompok tari. Kelompok tari yang bernama The Royal Balinese Dancers memulai “Tour d’Orient” di Singapura. Setelah itu, rombongan mengadakan pertunjukan di Hong Kongselama empat hari, 6–9 Maret 1935 pukul 17.00 dan 21.30. Baca juga:  Perempuan dalam Teater Bung Karno Setelah Hong Kong dan Canton, Dardanella meneruskan perjalanannya ke Shanghai. Pada akhir 1935, kelompok tari dan teater Dardanella kembali bertemu di Singapura. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan keliling Asia melalui Malaya,Birma (kini Myanmar), dan India. Popularitas Dardanella membuat perusahaan film India, Radha Film, tertarik mengangkat menjadi film salah satu lakon populer,“Dr. Samsi”. Erkelens menyebut proses rekaman film itu dimulai pada awal Februari 1936 di Calcutta. Sayangnya, sukses pembuatan film tak cukup untuk menutupi segala ongkos yang diperlukan untuk membiayai rombongan sebesar The Royal Balinese Dancers. Rasa tidak puas itu membuat sejumlah anggota rombongan memilih kembali ke Tanah Air. Piedro bersama sisa rombongannya memutuskan kembali ke Singapura. Di Negeri Singa, Dardanella mengumpulkan uang untuk berangkat ke Eropa melalui Asia Selatan dan Timur Tengah. Baca juga:  Sepakbola Seniman Panggung Dardanella Dardanella memulai tur Eropa pada 1 Oktober 1938. Selama satu tahun, mereka berkeliling negara dan kota-kota besar seperti Zurich (Swiss), Strasbourg (Prancis), Brussels (Belgia), Amsterdam (Belanda), hingga Berlin (Jerman). Dalam pertunjukan di Budapest, Berlin, dan Wiesbaden, Dardanella tak hanya mementaskan tarian tetapi juga drama, yakni lakon “Si Bongkok”. Pementasan lakon tersebut mendapat responspositif dari publik. Menurut Ferry Kok, salah satu anggota Dardanella, perusahaan film Jerman, UFA (Universum Film Aktiengesellschaft) bahkan menawarkan kontrak untuk pembuatan film “Si Bongkok”. Perang berdampak pada tur Eropa Dardanella. Saat Perang Dunia II meletus pada September 1939, Piedro bersama rombongan melarikan diri ke Amerika Serikat. Setelah sempat menggelar tur keliling Amerika Serikat selama dua bulan dengan mengunjungi New York, Chicago, Denver, Cleveland, San Fransisco, dan Los Angeles, sejumlah anggota Dardanella memilih kembali ke Tanah Air. Seusai Perang Dunia II, Dardanella tercerai-berai sehingga berakhirlah riwayat nya . Meski begitu pertunjukkan Dardanella pada masa jaya telah menjadi acuan bagi banyak rombongan sandiwara lainnya. *

  • Tayub yang Dilarang Sultan

    Guna mewujudkan rasa syukur dan menggali potensi budaya tradisional yang dimilikinya, masyarakat Dukuh Cempluk, Kelurahan Mangunan Kapanewon Dlingo, Bantul, Yogyakarta menggelar acara “ Merti   dusun”  (bersih-bersih dusun) September lalu. Dalam acara ritual tiga tahun-an yang dihelat Jumat Kliwon itu, dipentaskan pula tari Tayub Bayar Danyang. Ada tujuh penari –berbusana coklat muda dikombinasikan dengan kuning– yang membawakannya. Bersama-sama, mereka menari di panggung terbuka yang dibuat di batas tebing Watu Goyang, destinasi wisata yang ada di Dlingo. “Ini perwujudan rasa syukur masyarakat setelah pandemi dan berbagai kendala namun masyarakat masih bisa tetap panen,” kata Lurah Mangunan Aris Purwanto, diberitakan yogya.inews.id , 16 September 2022. Baca juga:  Memaknai Ulang Tari Jawa Kendati kian terpinggirkan, tayub, sebagaimana banyak seni tradisional lain, masih eksis di Yogyakarta. Kondisinya jelas berbeda dari masa lalu. Kisaran abad ke-19 hingga ke-20, pertunjukan tayub masih menjadi favorit masyarakat di Yogyakarta. Sebagai hiburan rakyat, tayub dapat ditemukan dengan mudah dari desa ke desa. Lantaran hiburan ini melibatkan banyak orang, tentu amat rawan terjadi kekacauan. Oleh karena itulah Sultan Hamengkubuwono VI membuat peraturan khusus untuk pergelaran tayub. Menurut Serat Angger Pradata Awal  hasil translitrasi Endah Susilantini, dkk., tidak seluruh masyarakat diizinkan mengadakan hiburan tayub. “Orang yang diijinkan Sultan menyelenggarakan pergelaran tayub hanyalah rakyat kesultanan Yogyakarta yang berpangkat bupati dan sejenisnya,” demikian kata Serat Angger Pradata Awal . Baca juga:  Tari Gambyong dari Jalanan ke Istana Hingga Pernikahan Modern Rakyat biasa diizinkan mengadakan pergelaran tayub namun hanya boleh pada siang. Keperluannya pun harus jelas, semisal untuk acara perkawinan anak, selamatan tujuh bulan kehamilan, khitanan, dan bagi orang yang memiliki nazar tertentu. Apabila dalam pergelaran tayub terdapat selisih paham antar-orang hingga menyebabkan timbul korban luka atau bahkan mati, maka orang yang mengadakan pergelaran tayub wajib bertanggung jawab. Nantinya patih pejabat Kesultanan Yogyakarta bergelar Adipati Danureja yang akan menetapkan hukuman. Ada ketentuan berbeda-beda terkait hukuman tersebut. Untuk rakyat kesultanan berpangkat Kliwon ke atas, hukumannya berupa denda sebesar 50 reyal. Rakyat yang berpangkat Mantri ke bawah, dendanya 25 reyal. Baca juga:  Tari Topeng Rasinah Melintasi Sejarah Sementara, apabila pergelaran mengakibatkan korban luka atau jiwa, ada aturan lebih lanjut. Apabila ahli waris orang yang menjadi korban tidak terima, maka dapat melanjutkan gugatannya ke perdata. Nanti akan ada dua penanggung jawab dari kesultanan yang menanganai perihal ini. Kasusnya akan diperiksa terlebih dahulu oleh abdi dalem bergelar Tumenggung Nitipraja. Hasilnya kemudian diserahkan ke pemerintah. Hukuman yang sesuai akan ditetapkan oleh Adipati Danureja. Hukuman bagi pelaku bisa berupa denda atau lecut (pecut, red. ) dan pembuangan. Denda bagi pelaku yang melukai tergantung pada kebijakan dan kejadiannya. Akan tetapi jika pelaku tidak dapat membayar, maka di- lecut sebanyak 300 kali lalu dibuang ke luar wilayah kerajaan. Ini berbeda dengan pelaku pembunuhan. “Orang yang membunuh diberi hukuman denda sebesar 500 reyal, jika tidak membayar denda, dilecut sebanyak 500 kali, lalu dibuang ke (hutan) Lodaya atau ke (hutan/pantai) Ayah,” kata Serat Angger Pradata Awal . Baca juga:  Memperingati Maestro Tari Topeng Mimi Rasinah Sejak awal, sultan tidak mengizinkan pergelaran tayub dilakukan pada malam hari tanpa sebab. Apabila ketahuan melanggar peraturan tersebut, penyelenggara akan dikenakan denda sebesar 25 reyal. Kemudian jika terjadi pertengkaran, maka keluarga korban tidak dapat menuntut. Meskipun ahli warisnya tidak terima, gugatan mereka pasti ditolak Tumenggung Nitipraja. Peraturan tersebut dilengkapi lagi dalam Serat Angger Pradata Akhir . Serat tersebut mengatakan agar tidak bergunjing bahkan sampai bertengkar jika ada orang meninggal saat pergelaran Tayub. Denda akan dilayangkan kepada siapapun yang memulai pertengkaran. “Siapa yang memulai akan didenda sepantasnya, jika itu diulangi lagi dalam pertengkaran diumpamakan sebagai anjing yang sedang kawin”, kata Serat Angger Pradata Akhir .

  • Mantiri Dikira Menteri

    Belum lama berdiri, Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) langsung bekerja. Dengan pesawat mereka, AURI harus wira-wiri ke berbagai tempat. Termasuk menjelang Perundingan Linggarjati, yang mana AURI mengirimkan Komodor Muda Abdul Halim Perdanakusuma, Opsir Muda Udara II Muhammad Sujono, dan Opsir Muda Udara III R.I. Mantiri. Mereka berangkat dari Yogyakarta yang sedang menjadi ibu   kota Republik Indonesia. Di Jakarta, mereka menginap di sebuah hotel. Mereka kemudian mengirim telegram ke Yogyakarta dengan mencantumkan nama pendek mereka bertiga. Tak lama datang wartawan yang ingin mewawancarai tentang pergantian kabinet. Mereka bertiga   bingung. Pergantian kabinet tentu urusan Presiden Sukarno atau Perdana Menteri Sutan Sjahrir. Mereka pun menyelidiki. Ternyata nama-nama pendek mereka ditulis sebagai: Perdana Menteri Sujono. Perdana dari Halim Perdanakusuma, Menteri dari Mantiri, dan Sujono dari Muhammad Sujono. Begitu cerita lucu tentang sejarah AURI yang dicatat majalah Angkasa  No. 1 Tahun XXV, 1975. Baca juga:  Enam Perintis TNI AU yang Meninggal Tragis Di lain waktu, Mantiri mengalami kejadian lucu lagi terkait namanya.Waktu itu,dia menjabat sebagai Komandan Pangkalan Udara Campur Darat di Tulung Agung, Jawa Timur. Dalam perjalanan ke Campur Darat dari Yogyakarta, rombongan Mantiri selalu mendapat sambutan istimewa dari para lurah. Mereka disuguhi ayam dan kambing, menu lezat dan mewah di zaman perang yang sulit. Tak hanya suguhan makanan, tenaga sukarela juga disediakan untuk membawa barang-barang rombongan. Rombongan AURI itu mendapat sambutan istimewa karena kurir yang mendahului mereka mengatakan kepada lurah-lurah yang dilaluinya bahwa “Bapak Menteri” dari Angkatan Udara akan melewati desa mereka. Ternyata yang datang “Mantiri” bukan “Menteri”. Dua kali nama Mantiri terbaca atau dikira sebagai Menteri. Mantiri sendiri adalah marga Minahasa. Dalam bahasa lokal di daerah asalnya, Mantiri diartikan sebagai pembuat benda halus. Jadi, Mantiri jelas bukan Menteri apalagi Mantri. Mantiri yang ini adalah Opsir Muda Udara III atau setara pembantu letnan. Baca juga:  Penerjunan Pertama Indonesia Mantiri, disebut Angkasa , juga seorang perwira AURI yang ikut menghadapi blokade udara Belanda. Suatu kali, ketika naik pesawat amfibi Catalina menuju Singapura, pesawat mereka berpapasan dengan pesawat Belanda. Mantiri nekat membuka pintu kokpit pesawat dan mengayun-ayunkan samurai ke arah pesawat musuh. Pesawat Belanda kemudian menghilangmungkin mengira samurai itu senapan mesin 12,7 yang menakutkan. Ketika berpangkat Kapten pada Oktober 1947, Mantiri menjadi saksi kekonyolan Belanda. Setelah Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947, Belanda mengklaim banyak daerah yang dikuasainya. Namun, sebuah pesawat Belanda yang membawa rombongan Komisi Tiga Negara (KTN) untuk meninjau wilayah yang dikuasai Belanda terpaksa mendarat di daerah yang dikuasai Republik Indonesia yaitu di Pameungpeuk, Garut . Buku Album Perjuangan Kemerdekaan, 1945–1950 dari Negara Kesatuan ke Negara Kesatuan menyebut ketika pesawat Belanda itu mendarat, Letnan Mantiri sedang berada di sana. Baca juga:  Iswahjoedi dalam Angkatan Udara Belanda Tidak banyak data tentang Mantiri. Benjamin Bouman dalam Van Driekleur tot Rood-Wit: De Indonesische officieren uit het KNIL 1900-1950 menyebut Mantiri pernah belajar di Vliegschool (Sekolah Penerbang) kolonial di Kalijati pada 1941, lalu pada 28 Oktober 1941 ditugaskan sebagai Milisi Pribumi pada Depot Batalion KNIL 1 di Bandung. Pada 9 Januari 1942, dia naik pangkat menjadi Kopral Milisi. Setelah Indonesia merdeka, Mantiri ikut serta berada di pihak Republik. Dia belajar terbang lagi kepada Komodor Muda Agustinus Adisutjipto hingga punya kemampuan terbang. Mantiri sempat menjadi perwira logistik AURI. Setelah Agresi Militer Belanda II, dia menjadi anggota Staf AURI di Jawa Timur. Baca juga:  Tragedi Kematian Magellan Setelah 1950, Kapten Penerbang Mantiri menjadi Komandan Pangkalan Udara Mandai. Sebelumnya, diamenjadi Inspektur Penerbangan Angkatan Udara Republik Indonesia Serikat (AURIS). Koran  Java Bode , 29 April 1950, menyebut Mantiri sudah berada di Makassar dan menyebut bahwa lapangan terbang itu masih cukup layak kondisinya. Java Bode , 2 Mei 1950, juga menyebut Mantiri pernah ikut melakukan kunjungan dengan pesawat yang kendarainya. Kapten Mantiri rupanya pecinta sejarah. Koran Het N ieuwsblad voor Sumatra , 7 November 1953, dan De V rije P ers , 4 November 1953, memberitakan bahwa Mantiri bersama A . W . F . de Rook telah merilis naskah sejarah berjudul De eerste wereldreis en het rijk Minahassa yang akan diterbitkan V an Hoeve Bandung. Di dalamnya disebut bahwa penjelajah Fernando de Magelhaens atau Ferdinand Magellan tidak tutup usia di Filipina tapi di Minahasa. Mantiri mengaku telah menyelidikinya selama 15 tahun. *

  • Svante Pääbo dan Jalan Panjang Menjawab Asal-Usul Manusia

    BANYAKNYA pertanyaan tentang asal-usul manusia modern yang istilah ilmiahnya Homo sapiens acap jadi perdebatan para ahli saat membicarakan evolusi manusia. Salah satu pertanyaan itu sukses dijawab pakar genetika asal Swedia, Dr. Svante Pääbo, dan timnya di Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, Leipzig, Jerman. Hasil riset panjang Pääbo itu menjadi pemenang Nobel 2022 dalam bidang fisiologi dan kesehatan. Homo sapiens , menilik hipotesa “Out of Africa”, disebutkan –dengan penanggalan karbon– sudah eksis antara 300-200 ribu tahun lampau di bagian timur Benua Afrika dan kemudian menyebar ke seantero bumi lewat empat gelombang migrasi antara 30-40 ribu tahun lalu. Homo sapiens menyebar dan bertahan seiring pergantian zaman sementara manusia-manusia yang lebih dulu seperti Homo heidelbergensis , Homo erectus , Homo neanderthalensis , Homo floresiensis , dan Homo denisova perlahan punah. Riset Pääbo kemudian memberi jawaban dan pembuktian bahwa ternyata, Homosapiens tidaklah hidup sendirian seiring migrasi mereka. Homo sapiens pernah hidup berdampingan dan bahkan kawin dengan manusia Neanderthal, manusia purba yang selama ini dianggap sub-spesies manusia dan punya hubungan paling dekat dengan manusia modern. “Paling tidak kita pernah hidup bareng dengan enam homo yang lain antara 600-250 ribu tahun lalu. Kita pernah hidup berdampingan dengan (manusia) Neanderthal, Naledi, Denisova, Luzon, Flores. Hanya saja kita sudah terbiasa hidup sendirian, jadi kita enggak paham mempunyai masa hidup yang sama. Jadi kita merasa istimewa dan merasa bukan binatang. Padahal secara biologi ya kita binatang,” kata pakar neurogenetika dan biologi molekuler dr. Roslan Yusni Hasan alias dr. Ryu Hasan saat dihubungi Historia. Hasil riset Pääbo dan timnya tentu dikerjakan lewat proses dan perjalanan panjang setidaknya 15 tahun ke belakang. Upaya mereka tak lepas dari munculnya Human Genome Project (HGP) pada 1993 yang dirampungkan pada 2001 oleh sejumlah ilmuwan asal Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Prancis, Jerman, dan China dalam naungan International Human Genome Sequencing Consortium (IHGSC). Hasil dari HGP itu berperan penting ketika Pääbo membandingkan gen dan DNA sejumlah manusia purba yang ia temukan sejak 1990-an. Baca juga: Nobel, Hadiah Atas Rasa Kemanusiaan Pakar neurogenetika dan biologi molekuler, dr. Ryu Hasan (Fernando Randy/Historia) Mengungkap Keterkaitan Satu Sama Lain Buah jatuh tak pernah jauh dari pohonnya. Kiasan itu begitu pas untuk melihat sosok Pääbo yang kecemerlangannya dalam ilmu pengetahuan menurun dari ayah dan ibunya. Lahir di Stockholm, Swedia pada 20 April 1955, Pääbo adalah anak tunggal dari ibu yang seorang ahli kimia, Karin Pääbo dan ayah pakar biokimia, Karl Sune Detlof Bergström. Pada 1982, Bergström berbagi Penghargaan Nobel bersama dua ilmuwan lainnya, Bengt Ingemar Samuelsson, dan John Robert Vane di bidang fisiologi dan kesehatan. “Profesor Samuelsson dan Bergström melakukan analisis struktural kimiawi dari prostaglandin dan itu menjadi dasar bagi Vane yang melakukan studi efek aspirin dan obat-obatan terkait terhadap produksi prostaglandin, di mana ketiganya mendapatkan Nobel pada 1982,” tulis pakar biomedis Sheffield Hallam University, Profesor Kim D. Rainsford, dalam Aspirin and Related Drugs. Baca juga: Kontroversi Nobel Pääbo, lulusan biologi molekuler dan biokimia di Universität Zurich dan University of California Berkeley, awalnya fokus meneliti fosil-fosil hewan dan mumi di Mesir. “Pengurutan DNA kuno pertamakali yang saya lakukan adalah terhadap mumi Mesir yang ternyata sudah terkontaminasi dari manusia saat ini. Kemudian banyak orang mulai mendapatkan DNA dari dinosaurus dan fosil-fosil lainnya,” ungkap Pääbo kepada Nature , 7 Oktober 2022. Ilustrasi kelompok manusia Neanderthal karya Charles R. Knight di tahun 1920 (American Museum of Natural History) Menjelang pergantian milenium, fokus Pääbo beralih ke paleogenetika untuk meneliti spesies-spesies purba, termasuk manusia. Pada 1997, ia sukses melakukan metode pengurutan “mtDNA” atau DNA mitokondria terhadap satu spesimen Homo neanderthalensis yang sudah ditemukan sejak 1856 di Lembah Neander, 12 kilometer sebelah timur kota Düsseldorf, Jerman. Berlanjut di 2002, Pääbo dan tujuh rekan ilmuwannya menemukan mutasi gen FOXP2 dari DNA manusia Neanderthal. “Mutasi gen FOXP2 ini terkait dengan kemampuan verbal. Bahasa itu kan kira-kira matang antara 200-150 ribu tahun lalu. Tapi mutasi ini juga ditemukan pada Neanderthal. Jadi Neanderthal memiliki kemampuan verbal yang sama, tidak berbeda dari Homo sapiens ,” sambung dr. Ryu Hasan. Baca juga: Kelana Opsir KNIL Mencari Manusia Purba Pada 2006, Pääbo dan rekan-rekannya di Institut Max Planck bekerjasama dengan perusahaan bioteknologi Amerika, 454 Life Science, untuk melakoni proyek riset yang berskala lebih besar, yakni Neanderthal Genome Project (NGP). Salah satu langkah awalnya adalah mengurutkan tiga miliar fraksi-fraksi DNA dari sekitar 60 persen genom keseluruhan Neanderthal yang sukses dilakoni pada 2009. Dalam perjalanannya, pada 2010 metode “mtDNA” Pääbo sukses mengidentifikasi satu spesies baru yang berbeda dari Neanderthal maupun Homosapiens . Pääbo mengidentifikasi satu spesimen tulang kelingking yang ditemukan arkeolog Rusia Michael Shunkov di Gua Denisova. Temuan itu kemudian menjadi cikal-bakal Homodenisova, yang kelak diketahui pula punya keterkaitan dengan Neanderthal dan Homo sapiens. “Jadi (manusia Denisova) ini hominid yang sama sekali baru. Itu juga menunjukkan setidaknya ada dua kelompok manusia berbeda yang menghuni Eurasia. Baru ketika Homo sapiens keluar dari Afrika, daratan Eropasudah dikuasai spesies Neanderthal dan Denisova. Keduanya sebetulnya spesies yang sama tapi terpisah menjadi dua spesies dari penanggalan karbon: antara 473-445 ribu tahun yang lalu, di mana awalnya satu spesies,” jelas Ryu. Fosil tempurung kepala manusia Denisova (Mongolian Academy of Sciences) Masih di tahun 2010, tim Pääbo menghasilkan penemuan yang jadi dasar 12 tahun kemudian mendapatkan Nobel. Ia melakoni pengurutan DNA mitokondria dari tulang-belulang manusia Neanderthal kira-kira berasal dari 29-28 ribu tahun lalu di situs Gua Vindija di Donja Voća, Kroasia. Dengan analisa komparatif lewat data dari HGP, ditemukanlah bukti bahwa manusia Neanderthal dan Homo sapiens pernah melakukan kawin silang dan diperkirakan antara 1-4 persen gen manusia modern yang ada kini terkandung gen manusia Neanderthal. “Dan itu didapatkan dari garis ibu karena itu (pengurutan DNA-nya) ada di mitokondria yang hanya dibawa sel telur. Sementara kalau di sperma tidak membawa itu karena mitokondrianya (laki-laki) ada di tulang ekor. Jadi pada 2010 sudah tidak disangsikan lagi ada kawin silang setelah dulu masih debatable . Baru pada 2010 membandingkan HGP dengan NGP timnya Max Planck, ditemukan bukti itu,” lanjut Ryu. Baca juga: DNA dan Keragaman Manusia Temuan itu ia tuangkan di jurnal Science pada Mei 2010 dengan tajuk “A Draft Sequence of the Neandertal Genome”. Empat tahun berselang, dibukukan dengan judul Neanderthal Man: In Search of Lost Genomes, yang berisi kisah-kisah riset mereka dan pemikiran-pemikiran Pääbo tentang evolusi manusia. “Inilah yang saya apresiasi dan layaklah buat saya, Pääbo ini menerima Nobel. Karena kemudian teknik-tekniknya bisa dikuasai banyak orang dan menghasilkan pakar-pakar yang lain. Tahun 2018 misalnya, terdapat upaya identifikasi DNA manusia Denisova dari fosil yang ditemukan di Laos dari sekitar 130 ribu tahun yang lalu. Ternyata manusia Denisova itu sudah keluyuran keluar dari Siberia sampai ke Oseania,” tambahnya. Pemetaan keterkaitan manusia Denisova, Neanderthal, dan manusia modern ( nature.com ) Masih di tahun 2018, pakar paleogenetik Viviane Slon bersama Pääbo menganalisis fragmen tulang manusia lain berjenis kelamin perempuan berusia 90 ribu tahun yang ditemukan di Gua Denisova. Hasilnya ditemukan bukti adanya kawin silang dan bahwa pemilik tulang itu merupakan manusia hibrid yang merupakan keturunan dari manusia Denisova dan Neanderthal. “Jadi kalo dari hasil studi itu ya, bahwa Homo sapiens di Oseania (Asia Pasifik dan Asia Tenggara), pribumi Australia, Melanesia, dan Filipina, itu masih menyimpan 3-6 persen gen (manusia) Denisova. Terus Homo sapiens Asia daratan juga menyimpan 0,2 persen gen (manusia) Denisova. Homo sapiens di luar Afrika masih menyimpan 0,5-2,1 persen gen Neanderthal. Itu adalah kesimpulan yang dihasilkan dari tim (Max Planck) ini.” Baca juga: Mengurai Nenek Moyang Ayu Utami Via DNA Meskipun keenam manusia purba itu sudah mulai punah sekira sejak 40 ribu tahun lampau, setidaknya gen mereka, utamanya gen manusia Neanderthal, masih menyusup ke dalam DNA setiap manusia modern saat ini. Persentasenya bervariasi antara 1-4 persen. Di masa mendatang, seiring kemajuan teknologi pemetaan DNA, tentu tak menutup kemungkinan adanya bukti-bukti baru dari spesimen lain. “Akhirnya sekarang ini hampir semua manusia yang tersisa tersusupi gen Neanderthal dan Denisova. Di sisi lain sekarang ini belum diteliti misalnya Homo florensiensis dan Homo luzonensis . Kita tunggu saja mungkin akan ada penelitian-penelitian berikutnya jika sudah ada pengembangan teknik penelitian lain,” tandas Ryu. Grafik gen manusia Neanderthal yang "menyusup" ke manusia modern ( mpg.de )

  • Abdul Razak Melawan Jepang di Papua

    Di balik minimnya peran militer Belanda dalam Perang Dunia II di front Pasifik, ada peran orang-orang Indonesia yang berdinas dalam militer Belanda. Terutama di daerah Indonesia Timur. Beberapa misi penyusupan digalang oleh Netherlands East Indies Forces Intelligence Service (NEFIS) di sekitar Papua. Misi di daerah Papua yang diduduki Jepang sangat berat. Penyusup yang tertangkap bisa dihukum mati Jepang. Salah satunya misi Langs sekitar Agustus 1944. “Misi ini dipimpin oleh Komandan Letnan Laut Kelas Tiga Mohammed Abdul Razak, dengan seorang kopral Eropa, dua operator radio Eropa, dan enam tentara orang Indonesia,” tulis Louis de Jong dalam Het Koninkrijk der Nederlanden in de Tweede Wereldoorlog Deel IIC Nederlandsch Indie III . Baca juga:  Bangsawan Jawa Memilih KNIL Mereka diterjunkan dengan parasut ke sekitar Kepala Burung. Razak, disebut koran Nieuwe courant , 1 November 1947, memimpin tujuh orang Indonesia sebagai anak buahnya dalam upaya mengumpulkan data intelijen terkait posisi tentara Jepang di sana. Salah seorang di antara anggota misi itu yang berdarah Indonesia mengalami patah kaki pada awal operasi. Tim yang dipimpin Razak, menurut J.J. Nortier dalam Acties in de Archipelde intelligence-operaties van NEFIS-III in de Pacific-oorlog , bergerak ke Inam di mana salah seorang yang terluka ditinggal di bivak mereka. “Karena kekuatan misinya yang sangat lemah, dia tidak berpikir bahwa masuk lebih dalam ke hutan yang tidak ramah itu tidak disarankan,” tulis Nortier. Misi itu berhasil menjalin kontak dengan orang-orang asli Papua. Misi itu jelas sulit bagi Razak. Usianya belum genap 23 tahun ketika memimpin misi itu. Pria kelahiran 20 November 1921 itu jelas tampak seperti anak kemarin sore dalam misi sulit di zaman Jepang itu. Misi mereka berakhir pada akhir 1944 dan kembali ke tempat aman lagi. Baca juga:  NEFIS Belanda Mengawasi Indonesia dari Australia Mohammed Abdul Razak baru empat tahun bergabung sebagai militer. Sebagai orang Indonesia, Razak tentu lebih paham dan cukup aman jika ditugaskan ke wilayah Hindia Belanda. NEFIS kemudian menempatkannya di sekitar Papua setelah Jepang makin lemah dan NICA berdiri di Australia. Razak seperti kebanyakan anggota militer, yang ketika Indonesia merdeka berada di luar negeri atau jauh dari Pulau Jawa, tak tahu kabar Proklamasi kemerdekaan. Selain Razak, Letnan Laut Kelas Tiga Subijakto juga terlambat datang. Kerajaan Belanda menghargai misi rahasia Razak di Papua pada zaman pendudukan Jepang. Dia dianugerahi bintang Bronzen Leeuw (Singa Perunggu) oleh Kerajaan Belanda pada 1947.Ketika itu pangkatnya Letnan Laut Kelas Dua bagian mesin di Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Baca juga:  Serdadu KNIL Jawa di Kalimantan Utara Ketika berdinas di Ambon pada 1940-an, Razak adalah perwira intelijen. Buku Mengenal Laksda Jos Sudarso, 24 Nopember 1925–15 Januari 1962 , menyebut Razak melakukan screening terhadap awak-awak kapal RI yang menyusup ke daerah Indonesia timur dan tertangkap di Ambon. Salah satu dari mereka adalah Yos Sudarso. Rupanya, Razak yang pada 1947 berusia 26 tahun memilih meninggalkan kehidupan mapan sebagai perwira Angkatan Laut Belanda. Ketika itu sedang terjadi perang antara Indonesia dan Belanda. Koran Nederlandsche Staatscourant , 8 September 1948, menyebut bahwa Koninklijk Besluit No. 47 tanggal 30 Juni 1948 menyatakan Letnan Laut Kelas Dua bagian mesin M. Razak telah diberhentikan dengan hormat atas permintaannya sendiri dari Angkatan Laut Kerajaan Belanda. Razak menyusul Subijakto yang sejak awal tahun 1947 sudah bukan anggota Angkatan Laut Belanda. Razak bergabung dalam Koninklijk Marine atau Angkatan Laut Kerajaan Belanda sejak pertengahan 1940. Koran Bataviaasch Nieuwsblad , 27 Juli 1940, menyebut dia dilantik menjadi adelborst (taruna Angkatan Laut) di Surabaya. Dia adalah taruna bagian stoomvaart (mesin kapal) di Koninklijk Instituut voor de Marine (KIM). Soerabaijasch Handelsblad , 3 November 1941, menyebut pada 1941 Razak sudah menjadi kopral taruna. Baca juga:  Kisah Taruna Indonesia dalam Angkatan Laut Belanda Selain Razak, orang Indonesia di angkatannya adalah Nacis Djajadiningrat, Sidik Moeljono, dan Hadjiwibowo. Ketiganya bagian administrasi. Kecuali Nacis, kedua kawannya itu jadi tawanan perang di Makassar dan Jakarta pada masa pendudukan Jepang. Taruna yang tidak tertawan biasanya terus bertugas hingga setelah Jepang kalah. Mereka punya adik kelas orang Indonesia pada 1941, seperti Washington Siahaan, Maurit Nelwan, dan Carl Tauran. Setelah 1950-an, Razak bekerja di pelayaran sipil. H.R. Soenar Soerapoetra dalam otobiografinya, Profil Seorang Bahariwan , menyebut Razak sempat menjadi Kepala Bidang Lalu Lintas Muatan di Yayasan Penguasaan Pusat Kapal-Kapal (Pepuska). Maurit Nelwan menjadi Kepala Bidang Perbekalan di sana. Belakangan, Pepuska berkembang menjadi PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni). Banyak bekas taruna Angkatan Laut Belanda menjadi orang penting. Nacis Djajadiningrat pernah menjadi asisten Subijakto ketika menjadi Kepala Staf Angkatan Laut dan berpangkat terakhir Laksamana TNI. Hadjiwibowo menjadi bos PT Unilever Indonesia. Sidik Moeljono yang ahli pangan pernah menjadi orang penting di Bulog. Washington Siahaan, adik kelasnya, pernah menjadi pembantu Kepala Staf Angkatan Darat Abdul Haris Nasution dan ketika meninggal pada 1960-an mencapai pangkat Brigadir Jenderal Angkatan Darat.*

  • Dari Lapangan Berujung Penembakan

    Tendangan kungfu melayang di Stadion Kanjuruhan, Malang usai pertandingan Arema vs Persebaya. Pelakunya bukan pemain sepakbola, melainkan aparat tentara berbaret hijau. Akibatnya, seorang penonton yang memasuki lapangan terkapar di pinggir lapangan. Aksi barbar aparat belum berhenti sampai di situ. Polisi berbondong-bondong ikut memukuli penonton pakai pentungan. Tembakan gas air mata jadi senjata pamungkas. Banyak penonton yang tergencet di pintu keluar karena berdesak-desakan. Padahal, penggunaan gas air mata telah dilarang oleh federasi sepakbola internasional (FIFA). Seratusan orang akhirnya meregang nyawa kehabisan oksigen. Tragedi yang terjadi pada akhir pekan kemarin (1/10) itu jadi bencana terburuk dalam sejarah sepakbola Indonesia. Cara bengis aparat meredam penonton menuai kecaman. Alih-alih pengamanan, tindakan tersebut dinilai banyak kalangan lebih mendekati pembunuhan massal.    Baca juga:  Lima Petaka Mengerikan di Stadion Sepakbola Dalam skala yang lebih kecil, kekerasan di lapangan sepakbola yang melibatkan kepolisian pernah terjadi setengah abad silam. Pelakunya bahkan masih taruna polisi. Peristiwa itu sampai membuat malu Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso.    Pada 6 Oktober 1970, tepat hari ini 52 tahun yang lalu, pertandingan persahabatan antara mahasiswa ITB Bandung dengan Taruna Akabri-Polisi berujung insiden penembakan. Peluru menerjang tubuh mahasiswa ITB bernama Rene Louis Conrad hingga tewas. Saling ejek antar suporter memang telah terjadi dalam pertandingan yang dimenanangkan mahasiswa ITB dengan skor 2-0 itu. Baku hantam hampir pecah di lapangan. Usai pertandingan, perkelahian berlanjut ke luar lapangan. Ketika taruna di dalam bus perjalanan pulang, Conrad melintas dengan menunggangi motor Harley Davidson di Jl. Ganeca. Taruna yang memendam jengkel sejak dari lapangan pun meludahi Conrad dari dalam bus. Merasa dilecehkan, Conrad membalas taruna dengan ajakan berduel. Para taruna turun mencegat Conrad. Perkelahian tak imbang menyebabkan Conrad jatuh dari sepeda motor, lantas dikeroyok ramai-ramai. Salah seorang taruna bahkan melepaskan tembakan hingga mengantarkan Conrad menemui ajalnya. Baca juga:  Jenderal Ibrahim Adjie Tembak Mati Perampok “Delapan perwira polisi diajukan sebagai tertuduh dalam sidang Mahkamah Militer Priangan-Bogor, yang memeriksa perkara pembunuhan Rene Louis Coenraad, mahasiswa Elektronik Institut Teknologi Bandung (ITB),” lansir Kompas , 9 November 1973.  Peristiwa tersebut membuat malu Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso. Kesalahan berat dalam kasus ini, menurut Hoegeng, adalah penggunaan senjata api oleh salah seorang taruna. Apalagi penggunaan senjata apinya mengakibatkan kematian orang lain. Yang lebih memprihatinkan Hoegeng, penggunaan senjata api dilakukan oleh seorang calon polisi terhadap orang sipil tak bersenjata.  “Saya sendiri merasa malu sebab hal itu dapat merusak citra kepolisian Indonesia, khususnya merusak citra taruna dan AKABRI-Kepolisian,” kata Hoegeng dalam otobiografinya yang disusun Abrar Yusra dan Ramadhan K.H, Polisi: Idaman dan Kenyataan . Baca juga:  Hoegeng, Polisi Anti Suap Hoegeng langsung turun tangan untuk pengusutan kasus Conrad. Ia pergi ke Bandung mengadakan pembicaraan dengan Rektor ITB Prof. Dr. Dody Tisnamidjaja. Kepada rektor dan mahasiswa ITB, Hoegeng memberi jaminan akan membawa kasus Rene Conrad ke pengadilan. Jaminan Kapolri Hoegeng ini ternyata mampu menenangkan mahasiswa yang sebelumnya gencar melayangkan protes. Mahasiswa, seperti disebut Aris Santoso dkk dalam Hoegeng: Oase Menyejukan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa, awalnya bertanya-tanya soal penanganan kasus ini. Maklum, yang diduga sebagai pelakunya adalah taruna Akabri-Polisi, yang walau bagaimanapun masih bagian dari kalangan penegak hukum, meskipun baru berstatus siswa. Yang diinginkan mahasiswa hanyalah ketegasan sikap dari kapolri. Pengadilan digelar di Mahkamah Kepolisian Langlangbuana VII pada akhir 1973. Namun, saat itu Hoegeng tak lagi menjabat kapolri. Akhir dari kasus ini sendiri tak berhasil menyeret pelaku penembakan sebenarnya. Hanya Bripda Djani Maman Surjaman yang ditumbalkan jadi terdakwa. Baca juga:  Bripda Djani Dikorbankan “Banyak yang tidak puas kenapa Djani Maman Surjaman yang diajukan ke pengadilan,” terang Hoegeng. Secara tersirat, Hoegeng mengindikasikan adanya campur tangan kekuasaan dalam kasus ini. “Tegaknya hukum dan keadilan dalam kenyataannya merupakan proses yang memiliki banyak dimensi dan melibatkan banyak lembaga,” ungkapnya. Bripda Djani adalah bintara Brimob yang kebetulan sedang piket di tempat kejadian perkara. Ia divonis 5 tahun 8 bulan penjara, namun setelah banding menjadi 1 tahun 6 bulan. Taruna Akpol yang disebut-sebut sebagai pelaku lolos dari pengadilan. Di antara mereka bahkan ada yang melenggang jadi perwira tinggi Polri.

  • Setahun Pos Bloc Jakarta

    Para model lenggak-lenggok mengenakan pakaian bertemakan vintage . Peragaan busana itu digelar di Pos Bloc Jakarta di Jalan Pos No. 2, Pasar Baru, Jakarta Pusat, pada 27 September 2022. Sejak diresmikan tahun lalu pada 10 Oktober 2021, Pos Bloc Jakarta menjadi tempat alternatif yang menarik untuk dikunjungi. Bekas gedung kantor pos ini menjadi ruang kreatif publik yang memadukan seni, budaya, hiburan, dan sejarah. Pos Bloc Jakarta buka setiap hari kerja mulai pukul 10:00 hingga 21:00 WIB dan pada akhir pekan mulai pukul 07:00 sampai 21:00 WIB. Sejak dibuka jumlah pengunjung rata-rata 2.000 orang per hari yang sebagian besar anak-anak muda. “Orang Indonesia sangat berbeda kebiasaannya dengan orang Eropa, tempat nongkrong atau kafe-kafe lebih sering dikunjungi daripada museum,” ujar Niko Tomas, salah satu pengunjung yang sedang memotret bangunan Pos Bloc. Mengutip posindonesia.co.id , Pos Bloc Jakarta merupakan proyek cipta ruang ( placemaking ) hasil kolaborasi PT Pos Indonesia (Persero) melalui anak perusahaannya, PT Pos Properti Indonesia dengan pihak swasta, PT Ruang Kreatif Pos. Sebelumnya, perusahaan ini membangun ruang kreatif publik M Bloc Space di Jakarta Selatan. Rencananya menyusul Pos Bloc Surabaya dan Pos Bloc Bandung. Pengunjung Pos Bloc Jakarta rata-rata anak muda. (Melan Eka Lisnawati/Historia.ID). Pos Bloc Jakarta merupakan perpaduan modern, minimalis, dan kuno. Berlatar cat putih dengan tiang-tiang kayu berwana abu gelap, serta pilar besar menjadi ciri khas arsitekturnya.Kursi-kursiberjejer bagi pengunjung yang ingin menikmati pemandangan sembari menyaksikan kendaraan berlalu-lalang. Masih di area yang sama, terdapat kotak surat peninggalan kantor pos zaman dulu bertuliskan “Brievenbus”, posisinya persis di depan M Bloc Market bersebelahan dengan Starbucks. Masuk melalui pintu utama disuguhkan ruangan yang luas dengan tempat duduk seperti di bioskop. Baca juga:  M Bloc dari Gudang Kosong Jadi Tempat Nongkrong Arsitektur atap gedung dihiasi warna cokelat kental beserta kipas dan corong lampu kuno, sepintas mirip stasiun Jakarta Kota. Di samping kanan dan kiri terdapat stan makanan, minuman, pakaian, tas, hingga kosmetik. Produk-produk tersebut hasil kerjasama pengelola Pos Bloc Jakarta dengan UMKM di Jakarta. Pesona klasik yang ditawarkan Pos Bloc Jakarta menarik bagi anak muda untuk sekadar meneguk secangkir kopi. Polesan dua pintu tempo dulu dengan jendela kaca besar menjadi objek foto anak-anak muda. Prasasti pahlawan revolusi di Pos Bloc Jakarta. (Melan Eka Lisnawati/Historia.ID). Di area belakang, pengunjung disuguhi pemandangan hijau nan klasik bertemakan kafe outdoor . Di tengah-tengahnya terdapat tugu prasasti untuk mengenang pahlawan revolusi,yaitu Imang, Paimin, Sarmada, dan M. Soetojo. Pegawai jawatan PTT (Pos, Telegraf, Telepon) di Jakarta ini gugur dan hilang antara Agustus–Desember 1945. Di setiap sudut tembok dihiasi lukisan-lukisan gedung dari masa ke masa. “Tempat wisata yang baru beroperasi satu tahun ini, selalu ramai dikunjungi terutama dari sore sampai malam hari. Intensitas pengunjung pun didominasi oleh kalangan muda-mudi,” ujar penunggu salah satu gerai. Gedung Pos Bloc Jakarta dikenal sebagai Gedung Filateli Jakarta. Nama itu terpampang di bagian depan atas gedung. Gedung bekas Kantor Pos dan Giro Pasar Baru ini memiliki sejarah panjang. Windoro Adi dalam Batavia 1740 mencatat, gedung kantor pos ini dirancang oleh arsitek J. van Hoytema pada 1913. Gedung itu dibangun karena kawasan pemerintahan baru Weltevreden yang –meliputi Gambir, Senen, dan Tanah Abang– berdampingan dengan kawasan pendidikan dan perdagangan membutuhkan dukungan layanan penghubung pengiriman dokumen dan komunikasi. Baca juga:  Jakarta dalam Kartu Pos Dalam Ensiklopedi Jakarta Volume 2 disebutkan, secara fisik bentuk bangunan Gedung Kantor Pos dan Giro Pasar Baru menunjukkan arsitektur Belanda dengan relung sertakaca-kaca berkembang yang menghiasi bagian depan gedung, bentuknya mirip bangunan Stasiun Kereta Api Jakarta Kota.Arsitek Hoytema merancang gedung itu dengan gaya arsitektur Art Deco yang dipengaruhi aliran Art and Craft pada detail interiornya. Atap terbuat dari seng dengan tiang-tiang besi pipih sebagai penyangga.Seiring perkembangan zaman, terdapat penambahan ruangan pada bagian ruangan induk tanpa mengubah struktur bangunan lama, karena bangunan lama yangbertingkat dua terbuat dari papan dengan tiang besi berada di dalam ruang bangunan induk. Dalam perjalanan sejarahnya, gedung itu berganti-ganti nama. Buku Gedung Tua di Jakarta terbitan Dinas Museum dan Sejarah Pemerintah DKI Jakarta tahun 1993 menyebut, gedung Kantor Pos Pasar Baru semula lebih dikenal dengan sebutan Gedung PTT atau Kantor PTT. Nama Gedung PTT Pasar Baru dikenal sejak zamanpenjajahan sampai tahun 1945. Pada masa revolusi, namanya berubah menjadi Kantor Pos dan Telegraf Pasar Baru, lalu berganti lagi menjadi Kantor Pos Kawat Pasar Baru. Presiden Sukarno meresmikan pembangunan Gedung Pos Ibukota (GPI) pada November 1963. (IPPHOS). Pada November 1963, Presiden Sukarno meletakan batu pertama peresmian pembangunan gedung pos baru yang disebut Gedung Pos Ibukota (GPI) atau disebut juga KantorPos Ibukota Jakarta Raya. Sudarmawan Juwono dalam Selayang Pandang Arsitektur Kantor Pos Tempo Doeloe menjelaskan, gedung GPI berbentuk persegi enam dengan bangunan terbesar dan tertinggi berlantai enam yang menghadap ke Lapangan Banteng. Aktivitas pelayanan jasa pos dipindahkan ke gedung GPI.Kantor pos lama menjadi bagian dari kompleks GPI yang difungsikan sebagai kantor pelayanan filateli sehingga dikenal sebagai Gedung Filateli Jakarta. “Lingkungan kantor pos lama menjadi sepi karena terjadi penurunan kegiatan pelayanan pos menjadisebatas pelayanan filateli dan penjualan benda koleksi lainnya; tidak seberapa ramai dibandingkan dengan aktivitas pelayanan jasa pos,” tulis Sudarmawan. Baca juga:  Indonesia Dukung Palestina dengan Prangko Untuk menjaga dari penghancuran, Gedung Kantor Pos dan Giro Pasar Baru ditetapkan sebagai cagar budaya pada 1999. Akhirnya, pada 2021 Gedung Filateli Jakarta itu direvitalisasi menjadi ruang kreatif publik Pos Bloc Jakarta. Pos Bloc Jakarta telah menjadi tempat bagi anak-anak muda berkreasi. Setiap akhir pekan, pengelola menyediakan tempat bagi mereka untuk unjuk bakat, mulai dari penampilan band, catwalk , wirausaha, dan lain-lain. “Makanan dan minuman di sini enak dan worth it bagi anak muda, secara tidak langsung tempat ini juga bermanfaat mengenalkan sejarah kepada tiap pengujung,” ujar Helena, pengunjung yang masih mengenakan seragam SMA.* Penulis adalah mahasiswa magang dari Politeknik Negeri Jakarta.

  • A Journey to Greatness: Chess in Indonesia

    ON the seventh floor of Nusantara I Building of the House of Representatives of the Republic of Indonesia (DPR RI) in Senayan area, Jakarta, Utut Adianto was welcoming a guest. In a room with a large oval table situated in the center, some of his colleagues were taking a lunch break. Utut himself chose to sit in the smaller adjacent room where he carried his day-to-day responsibility as the Floor Leader of Indonesian Democratic Party of Struggle.

  • Tinggi Badan Pas-Pasan Tapi Jadi Jenderal

    Setelah memperbolehkan keturunan PKI dan menganulir tes keperawanan dalam pendaftaran masuk TNI, Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa mengambil kebijakan merevisi aturan dalam penerimaan taruna Akademi Militer (Akmil) tahun 2022. Andika menurunkan syarat tinggi badan calon taruna Akmil dari 163 cm –sempat 165 cm– menjadi 160 cm untuk laki-laki dan 157 cm menjadi 155 cm untuk wanita. Perubahan ini membuka kesempatan lebih besar bagi anak-anak di seluruh Indonesia yang rata-rata tingginya 160 cm untuk masuk Akmil di Magelang. Persyaratan tinggi badan belum menjadi persoalan pada awal kemerdekaan. Bahkan, tinggi badan tidak menjadi syarat masuk Akademi Militer Tangerang. Tata Usaha Markas Tentara Keamanan Rakyat Keresidenan Jakarta yang mengeluarkan pengumuman penerimaan calon taruna Akademi Militer pada 10 November 1945 hanya mensyaratkan: umur 18–25 tahun, badan sehat, kemauan sungguh untuk mempertahankan Indonesia tetap merdeka, dan serendah-rendahnya tamat SMP. Baca juga:  Sulitnya Didi Kartasasmita Mundur dari Dinas Militer Sementara itu, pada masa penjajahan, militer Belanda tampaknya menyadari postur orang Indonesia tidak tinggi. Oleh karena itu, pemuda Indonesia dengan tinggi 160 cm diterima masuk Akademi Militer di Negeri Belanda. Pemuda itu adalah Raden Didi Kartasasmita. Dia salah satu pemuda Indonesia yang pernah jadi taruna (kadet) di Koninklijk Militaire Academie (KMA) atau Akademi Militer Kerajaan Belanda di Breda. Koran De Standard , 1 Juli 1935, menyebut sersan kadet Didi Kartasasmita lulus ujian perwira untuk tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) pada tahun itu. Didi lulus sekolah menengah Hogare Burger School (HBS) di Bandung. Tidak semua pemuda Indonesia bisa bersekolah di HBS. Biasanya golongan priayi tertentu saja yang bisa sekolah di sana. Sebagaimana orang-orang pada zamannya, Didi menganggap tinggi badan sebagai kekurangan. “Kalaulah ada kekurangannya pada diri saya, ialah ukuran tubuh. Tinggi badan saya hanya 160 cm saja. Ini batas minimal untuk siswa KMA,” kata Didi Kartasasmita dalam biografinya, Perjuangan bagi Kemerdekaan . Didi menjadi taruna terkecil di KMA Breda antara tahun 1932 hingga 1935. Baca juga:  Didi Kartasasmita dan Pengkhianatan Seorang KNIL Didi diperbolehkan memakai karaben (senapan dengan ukuran pendek) dalam setiap latihan. Namun, dia bukan taruna yang tidak terampil di lapangan dalam pendidikan calon perwira itu. “Saya berhasil memperoleh penghargaaan sebagai ahli pelempar granat ( granaat-werper ). Selain itu saya pun termasuk salah seorang pemain anggar untuk floret dan sabel,” kata Didi yang memudakan umurnya dua tahun ketika mendaftar KMA, dari kelahiran 1911 menjadi 1913. Setelah lulus dari KMA Breda, Didi diangkat menjadi Letnan Dua Infanteri KNIL. Semula ditempatkan di Jawa, dia kemudian ditempatkan di Malukusejak 1938. Sebelum pulang ke Jawa, Didi terlibat dalam pertempuran Ambon melawan tentara Jepang pada 1942. Laki-laki asal Tasikmalaya ini berperan penting dalam menghimpun tandatangan mantan perwira KNIL untuk mendukung Republik Indonesia yang baru merdeka. Jenderal Mayor TNI Didi Kartasasmita (kanan) dan Letnan Jenderal TNI Oerip Soemohardjo di Yogyakarta. (IPPHOS).  Meski pernah menerima Didi yang tingginya hanya 160 cm di KMA Breda, namun KNIL tidak menerima pemuda Boediardjo yang tingginya kurang dari 165 cm untuk masuk pendidikan calon pilot KNIL. “Maka saya tetap putuskan jadi serdadu dengan upah 1 gulden 76 sen seminggu. Selain itu mendapatkan jaminan pakaian, kesehatan dan perumahan alias tangsi. Tidak untuk jadi penerbang, jadi juru radio pun boleh,” kata Boediardjo, lulusan MULO Magelang, dalam Siapa Sudi Saya Dongengi . Belakangan pengalaman Budirardjo sebagai ahli radio berguna bagi perjuangan Indonesia. Dia melatih ahli-ahli radio pada masa revolusi kemerdekaan. Baca juga:  Boediardjo dan Radio PC2 Penjaga Eksistensi Indonesia Di era Orde Lama, rupanya Akademi Militer di Magelang pernah menerima taruna dengan tinggi 156 cm. Pemuda itu adalah Slamet Murtedjo alias Slamet Singgih, yang mendaftar dua kali pada 1961 dan 1962. Pada 1961, Slamet ditolak karena berat badannya hanya 42 kg, sementara syarat minimal berat badan 45 kg. Waktu itu tinggi badan minimal 155 cm. Setelah gagal pada 1961, Slamet berjuang menaikan berat badan untuk mendaftar lagi pada 1962. “Tes awal bisa saya lalui karena berat badan saya sudah 46 kg dan tinggi badan saya 156 cm. Tetapi pada waktu tes tinggi badan, saya turunkan menjadi 155 supaya melebihi indeks,” kata Slamet Singgih dalam Intelijen: Catatan Harian Seorang Serdadu . Tes selanjutnya yang membuat Slamet risau adalah wawancara karena dia meresa sering gagap jika bicara. Namun, tes itu bisa dilaluinya. Slamet Singgih saat menjabat Komandan Kesatuan Intel BIA (Badan Intelijen ABRI). (Repro  Intelijen: Catatan Harian Seorang Serdadu ). Slamet akhirnya diterima sebagai taruna Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang, Jawa Tengah. Slamet satu angkatan bersama bekas prajurit komando dari Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang diberi kesempatan masuk Akademi Militer Magelang. Slamet sangat khawatir dengan masalah kesehatannya karena bisa membuatnya dikeluarkan dari AMN. Dia adalah taruna yang secara akademis biasa saja. Ketika menjadi kopral taruna dia pernah sakit abses dan nyaris tidak bisa ikut ujian sersan. Namun, dia selalu lulus dan tak pernah tinggal kelas. Baca juga:  Slamet Singgih, Benny Moerdani, dan Dara Intelijen Indonesia “Untuk prestasi di bidang fisik, semenjak menjadi calon prajurit taruna sampai sersan mayor taruna (sermatar) saya patut berbangga diri, karena di bidang fisik saya tidak berada di posisi buncit. Bahkan untuk mata pelajaran Cross Country dan halang rintang kebetulan saya selalu berada di lima besar,” kata Slamet. Bahkan, dalam tes lari road and field , dari 426 taruna, Slamet yang sejak bocah menjadi atlet sepatu roda,finis nomor satu bersama Anggiat Sinaga. Padahal, ketika start Slamet terdesak ke belakang, namun satu persatu taruna yang mendahuluinya saat start dilewatinya. Seperti Didi Kartasasmita, Slamet Singgih juga mencapai bintang alias jenderal. Didi terakhir di TNI sebagai Jenderal Mayor. Sementara Slamet, yang bertugas sebagai perwira bidang intelijen, terakhir di TNI sebagai Brigadir Jenderal.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page