top of page

Hasil pencarian

9628 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Berkunjung ke Rumah Penculikan Sukarno-Hatta di Rengasdengklok

    HARI ini, 75 tahun lalu, sebuah rumah di Karawang, Jawa Barat, menjadi saksi bisu sejarah bangsa Indonesia. Rumah Rengasdengklok, begitu orang menyebutnya, menjadi tempat para pemuda menyembunyikan Sukarno dan Hatta dari pengaruh Jepang. Para pemuda yang tergabung dalam Kelompok Menteng 31 membawa mereka beserta Fatmawati dan Guntur, istri dan anak Sukarno, dari Jakarta ke Rengasdengklok pada pagi 16 Agustus 1945.

  • Rumah Penculikan Sukarno-Hatta di Rengasdengklok

    CALON presiden Joko Widodo mengunjungi Rumah Sejarah Rengasdengklok di Kampung Kali Jaya (dulu Kalimati) RT 001/09 Desa Rengasdengklok Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, pada tengah malam, 16 Juni 2014. Di tengah para pendukungnya, Jokowi membacakan piagam yang antara lain berisi: "Indonesia harus benar-benar merdeka. Tugas pemimpin adalah memerdekakan rakyat mereka." Rumah itu dianggap sebagai saksi sejarah perjalanan kemerdekaan Indonesia. Sehari sebelum proklamasi kemerdekaan, para pemuda "menculik" Sukarno-Hatta serta Fatmawati dan Guntur yang masih bayi, dan menempatkannya di rumah milik seorang tuan tanah Djiau Kie Siong.

  • Evolusi Angkatan Perang Indonesia

    “ANEH, negara zonder tentara.” Itulah pernyataan terkenal dari Oerip Soemohardjo, mantan perwira Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL), tak lama setelah Indonesia merdeka. Atas dorongan Oerip dan sejumlah rekannya, terbitlah Dekrit Presiden 5 Oktober 1945 tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang kini dikenal dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). “Sejarah lahirnya TNI itu unik sekali. Kenapa unik? Indonesia merdeka bulan Agustus, sementara TKR baru dibentuk dua bulan setelahnya (bulan Oktober). Dalam dua bulan lebih, negara ada, tetapi zonder tentara,” ujar sejarawan militer Genoveva Ambar Wulan Tulistyowati.

  • Ikut HUT ABRI Berujung Dieksekusi

    ATAS perintah Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto di Jakarta, beberapa kompi pasukan dari batalyon infanteri 530/Para Brawijaya yang berkedudukan di Madiun secara bergelombang berangkat ke ibukota. Perwira yang ikut tak hanya para komandan kompi tapi juga perwira staf seperti Letnan Satu (Lettu) Ngadimo Hadisuwignjo. Sehari-harinya dia adalah perwira Seksi I/Intelijen. “Tanggal 26 September saya berangkat ke Jakarta bersama dua kompi dari Madiun lewat jalur selatan,” terang Ngadimo dalam persidangan perkara Untung tahun 1966, seperti dikutip dalam G-30-S, Gerakan 30 September, dihadapan Mahmillub di Djakarta: Perkara Untung .

  • Pencabutan TAP MPR Membuka Lagi Wacana Gelar Pahlawan Soeharto, Begini Kata Sejarawan

    PEMBERIAN gelar pahlawan pada seseorang semestinya pada yang telah mendarmabaktikan dirinya pada negeri dalam upaya mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan dan mesti tanpa cela. Maka menjadi perdebatan apakah rekam jejak sosok Jenderal (Purn.) Soeharto yang merupakan presiden RI kedua itu memenuhi kriteria dan moralitas itu? “Dari tahun 2014, kemudian tahun 2019, kemudian sekarang dan seringkali wacana (gelar pahlawan) itu mulai hidup ketika mendekati tahun-tahun politik, tahun-tahun ada kontestasi politik,” tutur sejarawan Bonnie Triyana dalam diskusi SINTAStalk bertajuk “Habis Sukarno, Terbitlah Soeharto: Manipulasi Memori dan Politik Sejarah di Indonesia” yang digelar kelompok akademisi Sejarah Lintas Batas secara daring via Zoom , Sabtu (5/10/2024) petang.

  • Sejak Kapan Orang Tersenyum Saat Difoto?

    BERPOSE dengan mengatakan cheese telah menjadi ciri khas budaya foto populer masa kini. Tak heran bila kemudian kata ini umum digunakan untuk mengarahkan orang agar tersenyum saat difoto. Kebiasaan tersenyum di depan kamera mulai muncul pada awal abad ke-20. Sebelum itu, foto-foto yang dipotret pada abad ke-19 umumnya menampilkan wajah-wajah dengan ekspresi serius atau datar dengan tatapan mata yang seringkali kosong. Di era Victoria, senyum menampilkan gigi saat difoto tak umum untuk dilakukan. Hal ini dianggap tidak sopan bagi orang-orang kalangan atas. Menurut Marcus Collins dalam For the Culture: The Power Behind What We Buy, What We Do, and Who We Want to Be , tersenyum di depan kamera semakin dihindari karena pada masa itu para praktisi seni rupa menganggap bahwa tersenyum adalah sebuah praktik yang hanya dilakukan oleh para petani, pemabuk, atau anak-anak.

  • Menelusuri Leluhur B.J. Habibie

    SETELAH berkonflik salama setengah abad dengan VOC, Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667. Perjanjian ini menandai awal kekuasaan penuh Kompeni di bagian timur Nusantara. Banyak orang, termasuk para ksatria dan bangsawan, memilih pergi daripada hidup di bawah kekuasaan penjajah. Mereka tersebar ke berbagai daerah Nusantara. Salah satunya Lamakasa, nama singkatnya Lakasa, dari suku Bugis. Bagi orang Bugis, kata “La” biasanya ditambahkan di depan nama seorang anak laki-laki. Lamakasa dan kawan-kawan meninggalkan kampung halamannya dengan kapal layar yang memuat perbekalan dan dilengkapi persenjataan. Mereka mendarat di Sulawesi bagian utara. Pada masa itu, daerah Gorontalo sering diganggu bajak laut dari Mangginano atau orang-orang Mindano yang merampok dan membunuh penduduk yang tinggal di pesisir pantai.

  • Biarkan Batin Melayang

    SUATU sore, karena keasyikan bermain petak umpet, S.K. Trimurti kecil pulang begitu malam tiba. Dia berjalan sendirian melalui lorong-lorong kecil dengan pepohonan besar di kiri-kanan jalan. Tiba-tiba terdengar sesuatu jatuh berdebam. Dia kira buah nangka. Ternyata, sosok hitam kecil yang makin lama makin besar hingga setinggi pohon nangka. Dia lari sekuat tenaga. Ketika membantu ibunya membatik, Trimurti menceritakan pengalaman aneh itu. Saparinten, sang ibu, menjawab: “Itu memang suatu kemampuan yang hanya dimiliki almarhum kakekmu. Ternyata, kemampuan melihat badan halus itu diturunkan kepadamu.”

  • Cahaya Kristus di Pulau Nias

    NIAS sedang mengalami kesulitan hari ini. Harga barang melonjak meski pulau itu tidak terendam banjir seperti di Tapanuli, Sumatra Selatan. Penyebabnya, ketergantungan perekonomian Pulau Nias pada Tapanuli dengan pelabuhannya di Sibolga. Maka, harga barang-barang di Nias, yang lebih mahal dibandingkan di Sibolga sebelum banjir Tapanuli, kini menjadi semakin tinggi. “Jalur barang ke Nias nyaris dari Sibolga saja. Selama bencana ini barang-barang naik di Nias karena barang ke sana [kini] dikirim dari Padang,” kata Dian Purba, pengajar sejarah di Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Tarutung.

  • Ziarah Sejarah ke Petamburan (3-Habis)

    DARI makam Johan Kepler Panggabean, kita berjalan terus ke pengujung belakang TPU Petamburan, terdapat blok makam Tionghoa. Di salah satu deretan, tersua makam Tan Tjeng Bok. Meski tak megah, keterangan pada nisannya menarik perhatian. Di bagian atas nisan, terukir tanda salib yang diapit dua sosok malaikat. Bagian selanjutnya menjelaskan siapa sosok yang dimakamkan. “Aktor Tiga Zaman. Telah Pulang ke Rumah Bapak di Surga. Lahir 04 Juni 1900. Wafat 15 Februari 1985. Tan Tjeng Bok (Pak Item),” demikian keterangan pada nisan.

  • Riwayat Konglomerat Dasaad

    SEBUAH gedung megah berdiri di tepi Kali Besar, Taman Sari, Jakarta. Dari kejauhan, bangunan itu memancarkan pesona kejayaan masa lalu. Pilar-pilarnya berdiri kokoh. Arsitekturnya menampilkan gaya Art Deco yang elegan. Sementara bagian fasadnya terpahat tulisan Dasaad Musin Concern. Dasaad Musin Concern merupakan sebuah konglomerasi bisnis milik Agus Musin Dasaad. Di bawah naungannya, terdapat berbagai perusahaan yang bergerak di multisektor, mulai dari ekspor-impor, perkebunan, keagenan, pabrik tekstil, kertas, hingga radio. Keberhasilan Dasaad dalam mengelola beragam bisnisnya membuat namanya melambung dan dikenal sebagai salah satu pengusaha paling berpengaruh di Indonesia.

  • Keruntuhan Bisnis Dasaad

    DI balik reputasinya sebagai konglomerat besar, Agus Musin Dasaad dikenal sebagai pengusaha yang menaruh perhatian pada politik. Jauh sebelum Republik Indonesia berdiri, ketika ia masih berstatus sebagai pekerja kantoran biasa, Dasaad sudah aktif memberikan dukungan kepada tokoh-tokoh politik, terutama Sukarno. Dukungan itu terlihat ketika Sukarno keluar penjara Sukamiskin pada 31 Desember 1931 setelah dihukum karena aktivitas politiknya bersama Partai Nasional Indonesia (PNI). Ini adalah pertemuan pertama Dasaad, yang kala itu masih berusia sekitar 26 tahun, dengan Sukarno. Momen ini dikisahkan Sukarno dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat , yang ditulis oleh Cindy Adams.

bottom of page