top of page

Hasil pencarian

9710 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Anjing Super Penjaga Galaksi

    KECIL-KECIL cabe rawit. Meski sosoknya kecil, anjing antariksa super Cosmo the Spacedog (di- voice over Maria Bakalova) punya peran besar dalam misi kelompok superhero Guardians of the Galaxy. Dengan berbalut kostum kosmonot beremblem “CCCP”, Cosmo mengerahkan kekuatannya guna menyelamatkan ratusan anak dan hewan yang jadi tawanan High Evolutionary (Chukwudi Iwuji). Sebelumnya, di sela upaya mengalahkan High Evolutionary, para Guardians of the Galaxy –digawangi Star-Lord/Peter Quill (Chris Pratt), Gamora (Zoë Saldaña), Rocket (di- voice over Bradley Cooper), Groot (di- voice over Vin Diesel), Drax (Dave Bautista), Mantis (Pom Klementieff), dan Nebula (Karen Gillan)– turut membebaskan ratusan tawanan anak ciptaan High Evolutionary dan sejumlah hewan. Mereka merupakan objek percobaan sang “raja terkhir” di kapal Osgocorp.

  • Berjudi di Pacuan Anjing

    GELANGGANG Pacuan Kuda Pulo Mas bukan satu-satunya tempatberjudi di Jakarta pada 1970-an. Tempat lain yang tak kalah populer adalah arena pacuan anjing di Senayan. Kendati menjadi tempat favorit para penjudi, tak sedikit pula pengunjung yang datang sekadar mencari hiburan. Dalam Ensiklopedi Jakarta: Culture & Heritage Volume 2 terbitan Dinas Kebudayaan dan Permuseuman Pemerintah Provinsi DKI Jakarta disebutkan, pacuan anjing juga dikenal dengan nama toto greyhound . Nama itu mengacu pada jenis anjing yang dipertandingkan dalam balapan adu cepat lari. Terdapat enam ekor anjing yang ditandingkan dalam setiap satu putaran. Para penonton yang tertarik bertaruh dapat memilih berdasarkan nomor punggung si anjing.

  • Hachiko, Sepuluh Tahun Penantian

    CERITA berawal ketika Prof. Parker Wilson (Richard Gere) menemukan seekor anjing kecil di stasiun kereta api Bedridge, Wonsocked, Amerika Serikat, tempat ia biasa pergi dan pulang bekerja. Ia membawa pulang anjing berjenis akita itu ke rumah dan memberinya nama Hachiko. Parker dan istrinya Cate (Joan Allen) merawat Hachiko hingga tumbuh besar. Tiada hari yang dilewatkan Parker tanpa bermain dengan Hachiko. Suatu hari, ketika Hachiko sudah beranjak dewasa, tanpa disangka ia mengikuti Parker, yang hendak berangkat kerja, ke stasiun. Parker terpaksa keluar dari kereta untuk memulangkan Hachiko ke rumah. Namun, sorenya, Hachiko menjemputnya di stasiun. Sejak itu Parker membiarkan Hachiko mengantar-jemputnya di stasiun. Sampai suatu hari, Hachiko tak menemukan Parker di stasiun. Parker meninggal dunia karena serangan jantung ketika ia tengah mengajar.

  • Masa Pahit Kesultanan Langkat

    ISTANA Kesultanan Langkat di Tanjung Pura dirongrong massa pada hari-hari pekan pertama Maret 1946. Belum pulih dari rasa terkejut, Sultan Mahmud Abdul Djalil Rahmat Shah, raja Kesultanan Langkat, kedatangan sepasang tamu tak diundang. Mereka antara lain Marwan dan Usman Parinduri, dua orang pentolan front rakyat ( volksfront ) Langkat. Di selasar Istana, Sultan menerima mereka dengan hati berat dan jantung berdebar-debar.   Berkatalah seorang dari kedua bandit tadi dengan petantang-petenteng kepada Sultan.   “Rakyat meminta Anda untuk menyerahkan kedaulatan,” ujar Marwan membuka percakapan.   “Rakyat yang mana? Kedaulatan yang mana?” tanya Sultan, “Kalau yang kau maksud rakyat adalah orang-orang yang datang dan menembaki istanaku semalam, maka rakyat yang kau bicarakan itu cuma sekumpulan penyamun, pencuri, dan tukang rusuh.” Sultan memaki Marwan dengan sumpah serapah.   “Hati-hati kalau bercakap! Silap lidah hilang nyawa,” ancam Marwan.   Usman Parinduri yang semula duduk santai sembari mengisap rokok, lalu buka suara.   “Kalau Sultan bisa berkompromi, kita selesaikan persoalan ini baik-baik,” timpal Usman diikuti hembusan asap rokoknya yang ditiup ke arah muka Sultan.   Sultan Mahmud ditekan untuk menyerahkan tanahnya kepada buruh-buruh penggarap perkebunan karet milik Belanda. Menurut Usman dan Marwan itulah harga yang pantas dibayar Kesultanan Langkat kepada negara Republik yang baru berdiri. Itu sekaligus penebusan dosa leluhur Sultan yang turun-temurun memeras tenaga orang-orang jelata. Tapi, Sultan Mahmud tak terima dengan tudingan itu.   “Saya dan leluhur saya tak pernah berbuat dosa! Kaummu yang datang kemari mencari hidup! Pemerintah Belanda yang mengangkut kakek-nenekmu ke tanah ini! Sejak awal, kami tak bertanggungjawab atas kelangsungan hidupmu dan kaummu! Orang-orang dari seberang jangan berlakon jadi korban teraniaya!” hardik Sultan.   “Jadi Anda mau atau tidak?” todong Usman. “Negosiasi ini singkat saja. Tapi keputusannya jelas. Kita tak punya banyak waktu. Buatlah keputusan selekas mungkin. Rakyat sedang gelisah. Amat sangat gelisah. Saya khawatir mereka tidak cukup sabar menunggu keputusan Anda.”   Percakapan tersebut memang rekaan dalam novel Luka dari Pantai Timur karya Yoga Aditama. Namun, nama-nama itu adalah tokoh sebenarnya yang terlibat dalam revolusi sosial di Langkat pada Maret 1946. Dalam peristiwa itu, Istana Kesultanan Langkat porak-poranda. Tangan-tangan liar menjarah seisi harta benda kesultanan. Beberapa keluarga bangsawan Langkat ditangkap, dianiaya, dilecehkan, bahkan ada yang dibunuh.  Kesultanan Terkaya  Kesultanan Langkat berada dalam puncak kejayaannya ketika Sultan Mahmud naik ke tampuk kekuasaan. Inilah kesultanan yang disebut-sebut paling kaya di Hindia Belanda memasuki abad 20. Dapat ditilik dari bangunan arsitektur Istana Darussalam dan Istana Darul Aman yang megah, serta Mesjid Raya Azizi sebagai pusat pendidikan Islam. Begitu pula harta benda kepunyaan Sultan Mahmud yang meliputi 13 mobil limosin, 2 kapal pesiar, hingga kapal tanker.  Kemakmuran Sultan Mahmud merupakan buah yang dirintis sejak zaman ayah dan kakeknya. Bila tetangganya Kesultanan Deli menjadi kaya karena konsesi tanah perkebunan tembakau yang dimodali tuan kebun Belanda, maka Kesultanan Langkat tajir melintir lewat kandungan minyak bumi yang ditemukan di Telaga Said, Pangkalan Brandan. Dari pertambangan minyak, Kesultanan Langkat memperoleh royalti dari perusahaan Royal Dutch Petroleum yang mengeksplorasi sekaligus menjadikan Pangkalan Brandan sebagai kilang minyak terbesar di Sumatra.   “Sultan Langkat memperoleh sekitar 3.000 dolar, Sultan Serdang lebih dari 1.200 dolar, sedangkan Sultan Deli mencapai 4.000 dolar setahun. Tidak seluruhnya penghasilan ini dipergunakan untuk pembiayaan aktivitas kerajaan, sebagian dari cukai ini secara pribadi masuk juga ke kantong Sultan,” ulas Usman Pelly dan Ratna M.S dalam Sejarah Pertumbuhan Pemerintahan Kesultanan Langkat, Deli, dan Serdang .   Pendapatan Kesultanan Langkat tak hanya berasal dari minyak bumi. Tanah Langkat juga kaya dengan hasil bumi berupa perkebunan tembakau dan kayu hutan. Dari situ, Sultan Mahmud menjalankan kerajaan yang makmur, stabil, kaya raya, beragama, dan terdidik.  Kehidupan kaum bangsawan di Langkat menimbulkan kesenjangan dengan masyarakat pendatang. Mereka pada umumnya bekerja sebagai petani dan penggarap tanah. Revolusi sosial yang menjalar di Sumatra kawasan timur untuk meruntuhkan kekuasaan feodal kerajaan-kerajaan lokal turut menyasar Kesultanan Langkat. Padahal, beberapa waktu sebelumnya, Sultan Mahmud telah menyatakan sumpah setia mendukung Republik Indonesia.   “Kami sultan-sultan dan raja-raja telah mengambil keputusan bersama untuk melahirkan sekali lagi iktikad kami bersama untuk berdiri teguh di presiden dan pemerintah Republik Indonesia dan turut menegakkan dan memperkokoh Republik Indonesia,” kata Sultan Mahmud dalam pidatonya tanggal 3 Februari 1946, seperti termuat dalam Perjuangan Rakyat Semesta Sumatra Utara yang diterbitkan Forum Komunikasi Eks Teritorium VII Komando Sumatra.  Tragedi Putri Sultan  Sebulan sebelum tragedi, Sultan Mahmud telah memaklumatkan Kesultanan Langkat bergabung menjadi bagian dari Indonesia. Namun, pada 3 Maret 1946, pecahlah gerakan aksi sepihak yang dikenal sebagai revolusi sosial. Beberapa kerajaan dan kesultanan diserbu bahkan istananya digeruduk.   “Tindakan pertama ialah membunuh para bangsawan yang ada dalam daftar hitam, kemudian menangkapi semua bangsawan atau yang dianggap musuh baik juga wanita dan anak-anak, lalu merampoki harta benda mereka, dan kemudian baru mencari bukti kalau ada mengenai hubungan mereka dengan NICA. Lalu kemudian barulah tokoh rakyat yang dianggap moderat atau pro Barat,” catat Tengku Luckman Sinar dalam “Revolusi Sosial Pihak Kiri 1946 di Serdang” termuat di kumpulan tulisan Revolusi Nasional di Tingkat Lokal .   Aksi inilah yang terjadi di Tanah Karo, Simalungun, Asahan, dan Labuhan Batu. Sementara itu, di Kesultanan Langkat, sebagaimana dicatat Luckman Sinar, aksi dipusatkan di Binjai dan Tanjung Pura yang dipimpin oknum Pesindo dan PKI. Sekira 38 orang bangsawan utama dibunuh dan dikuburkan di dalam beberapa lubang massal, termasuk wakil pemerintah RI untuk Langkat, Amir Hamzah yang juga sastrawan Pujangga Baru merangkap keponakan dan menantu Sultan Mahmud. Korban lain di sekitar Binjai ialah ratusan orang India dan orang terkemuka dari berbagai suku bangsa serta orang Toba dari Pasukan Kelima.   Tak hanya membunuh dan merampas harta Kesultanan Langkat, pimpinan gerakan Marwan dan Usman Parinduri juga menodai dua putri Sultan Mahmud. Menurut Tengku Fery Bustaman dalam Bunga Rampai Kesultanan Asahan , perbuatan itu akhirnya ketahuan. Kaum ulama bereaksi keras atas perkosaan terhadap putri-putri Sultan Langkat. “Dan dengan segera, Komite Nasional Indonesia Langkat atas desakan partai-partai agama mengadakan sidang kilat, lalu memutuskan hukuman mati bagi kedua pelaku,” ulas Tengku Fery.   Usman Parinduri dan Marwan ditembak mati sebagai hukuman setimpal atas perbuatannya. Meski pahit, peristiwa revolusi sosial tetap diceritakan turun-temurun di lingkungan Kesultanan Langkat sebagai upaya memulihkan luka sekaligus merawat ingatan sejarah.*

  • Jayapura Bermula dari Kamp KNIL

    SETELAH dilanda kegelapan akibat listrik padam beberapa hari sebelumnya, Jayapura kembali dilanda musibah Jumat (6/10/23) kemarin. Kali ini berupa gempa bumi. Detik.com , yang mengutip Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), melaporkan bahwa gempa yang berkekuatan magnitudo 3,3 di Kabupaten Jayapura itu terjadi pada pukul 16.56 WIT. Pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer. Jayapura sendiri merupakan ibukota Provinsi Papua. Sebelum ada pemekaran provinsi di pulau terluas kedua di Indonesia itu, Jayapura menjadi satu-satunya ibukota provinsi di sana. Sejarah Jayapura merentang sejak zaman penjajahan Belanda. Ketika Papua masih dikuasai Belanda, kota tersebut merupakan bagian dari Keresidenan Ternate. Pemerintah kolonial Belanda menempatkan seorang wakilnya untuk Papua di Manokwari. Pejabat tersebut tinggal di sana dengan satu detasemen tentara Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL).

  • Moesirin, Serdadu KNIL yang Digoelis

    GEMPITA kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 disambut rakyat dengan pendirian berbagai organisasi maupun badan perjuangan. Pada 15 September 1945, berdirilah Partai Buruh Indonesia (PBI). Beberapa bekas pekerja di Dinas Tenaga Kerja zaman pendudukan Jepang ada di dalam partai ini. PBI kemudian dipimpin oleh Setiadjit yang baru pulang dari Belanda dan Moesirin yang belum lama pulang dari Australia.  Ketika masih di Australia, Moesirin sudah bergerak melawan Kerajaan Belanda yang hendak menduduki kembali Indonesia. Koran De Waarheid tanggal 10 April 1947 menyebut Moesirin telah mengorganisir pemogokan buruh dermaga di Australia dalam rangka mendukung kemerdekaan Republik Indonesia.

  • Sersan KNIL Kolonel RMS

    SETELAH pengakuan kedaulatan pada 27 Desember 1949, perang antara Indonesia dan Belanda berakhir. Tentara Belanda yang bule dengan senang hati kembali ke negerinya. Sementara Tentara Kerajaan Hindia Belanda atau Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) justru gelisah. Di antara mereka kemudian pulang ke Ambon. Agoes Anwar dalam Soumokil Dan Hantjurnja RMS  menyebut KNIL-KNIL berdatangan sejak 17 Januari 1950, tidak lama setelah pengakuan kedaulatan. Di antara KNIL yang datang itu terdapat bekas pasukan khusus baret hijau (komando) yang dipimpin Sersan Thomas Nussy dan bekas baret merah (penerjun payung) yang dipimpin Kopral Corputty. Selain KNIL yang baru datang itu ada pula pasukan KNIL lain yang sudah berada di Ambon.

  • KNIL Pakai Pendeta dan Ulama

    Bila sekarang di Tentara Nasional Indonesia (TNI) terdapat unit Pusat Pembinaan Mental Tentara Nasional Indonesia (Pusbintal TNI), dulu di zaman Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) ada Pusat Pemeliharaan Rohani ABRI (Pusroh ABRI). Ini pertanda militer sadar bahwa prajurit butuh siraman rohani untuk menjaga mental mereka melalui jalur agama. Namun sejatinya bukan hanya TNI/ABRI saja yang punya perangkat yang mengurusi masalah rohani atau tentara. Tentara kolonial Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL) yang sedari dulu memerangi anak bangsa pun juga punya. Sebab, KNIL berisi banyak tentara dari bermacam kepercayaan. Jangankan yang beragama Kristen seperti orang Belanda, yang beragama Islam pun banyak.

  • Persahabatan Sersan KNIL Boenjamin dan dr. Soemarno

    Sebuah kapal merapat di Tanjungselor, Kalimantan Timur pada Juni 1938. Di dermaga, orang-orang yang hendak menjemput para penumpang kapal itu telah berkerumun. Di antara orang yang berkerumun itu terdapat pria bernama Boenjamin. Dia merupakan bintara administrasi tentara kolonial, Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL), yang belum lama ditugaskan di Tanjungselor. Bersama beberapa orang Belanda dan Indo serta seorang juru rawat bernama Yusuf, Boenjamin hendak menjemput pria asal Jawa bernama Soemarno Sastroatmodjo beserta istrinya Armis dan anak mereka, Mamang alias Sidharta Manghurudin. Soemarno adalah dokter muda lulusan Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) –alias Sekolah Dokter Hindia Belanda– di Surabaya. Dia ditugaskan ke Tanjungselor, wilayah yang secara tradisional merupakan daerah kekuasaan Kesultanan Bulungan.

  • KNIL Muslim dari Tulehu

    WAKTU tentara Jepang memasuki Hindia Belanda pada 1942, Oemar Kotta belum lama menjadi prajurit dua infanteri di tentara kolonial Hindia Belanda alias Koninklijk Nederlandch Indische Leger (KNIL). Dia mendaftar sebagai sukarelawan pada 1941 dan diterima kemudian bertugas di Depot Batalyon Infanteri ke-3 di Gombong, Jawa Tengah. Tepat sehari setelah ulang tahunnya yang ke-22 tahun, 8 Maret 1942, Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada tentara Jepang di Kalijati, Subang. Lebih dari sebulan, putra pasangan Hasanuddin Kotta dan Fatma Malawat yang asal Tulehu itu menganggur. Namun, itu tak lama. Kartu tawanan perang atas nama dirinya menyebut Omar tertangkap sekitar 17 April 1942 di Jawa. Ketika dirinya ditangkap, istrinya berada di Surabaya. Omar kemudian kemudian dikirim ke Sumatra. Seperti umumnya militer yang ditawan Jepang, Omar dipekerjakan di proyek-proyek. Dia baru dibebaskan pada 14 September 1945 di Pekanbaru.

  • Eks KNIL Tajir

    DI zaman Hindia Belanda, ada seorang sersan Jawa bernama Kunto. Jebolan kelas dua  Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) ini masuk Koninklijk Nederlandsche Indische Leger (KNIL) sejak muda. Dia pernah bertugas di Kutaraja, Tapak Tuan, Purworejo, Semarang, dan Magelang. Gaji seorang sersan KNIL kala itu lebih bagus dibanding sersan TNI sekarang. Setidaknya, Sersan Kunto tiap bulan bisa terima gaji lebih dari 100 gulden. Selagi muda, Kunto sering iseng beli lotre. Majalah Benteng Negara tahun 4 tahun VIII 1957 menyebut, dia enam kali menang lotre. Dia pernah memenangkan hadiah lotre sebesar 30 ribu gulden. Alih-alih segera menghabiskan uang panas itu, dia justru menggunakannya untuk investasi. Beberapa mobil dia beli untuk disewakan.

  • Karier Kapten Prawirodipuro Eks Pengikut Diponegoro Moncer di KNIL

    KETIKA ketika tentara kolonial yang belakangan disebut Koninklijk Nederlandsch Indisch Leger (KNIL) baru didirikan zaman Gubernur Jenderal van den Bosch pada awal 1830-an, tentara kolonial Hindia Belanda itu mempekerjakan perwira-perwira beretnis Jawa. Kinerja mereka cukup baik dalam pertempuran. Maka ada beberapa perwira etnis Jawa itu sampai mendapat bintang dan ksatria dari Kerajaan Belanda. Mayor Andreas Victor Michiels (1797-1849), veteran Perang Waterloo yang tahun 1832 dilibatkan dalam pemadaman kerusuhan orang-orang Tionghoa di Karawang, Jawa Barat, benar-benar puas pada kinerja mereka. Koran Rotterdamsche Courant  tanggal 6 Oktober 1832 menyebut Mayor Michiels memuji bawahan-bawahannya dalam pemadaman kerusuhan  orang-orang Tionghoa itu. Tak hanya prajurit Belanda saja yang dipujinya, tapi juga prajurit Jawa yang ikut dengannya.

bottom of page