top of page

Hasil pencarian

9627 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Jalan Panjang Arca Bhairawa dan Arca Nandi Pulang ke Indonesia

    UNTUK kedua kalinya, kesepakatan kerjasama kebudayaan RI-Belanda sejak 2017 menghasilkan repatriasi 288 benda cagar budaya Nusantara. Dua di antaranya adalah Arca Bhairawa dan Arca Nandi yang merupakan warisan kecerdasan nenek moyang bangsa Indonesia. Sebelumnya pada 10 Juli 2023, sebanyak 472 benda repatriasi resmi diserahterimakan pasca-melalui provenance research (penelitian asal-usul) secara kolaboratif antara tim ahli Indonesia di bawah Komite Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda yang diketuai I Gusti Agung Wesaka Puja dan para pakar Belanda di bawah Commissie Koloniale Collecties pimpinan Lilian Gonçalves-Ho Kang You.Ke-472 benda itu meliputi sebilah Keris Klungkung, empat arca dari Candi Singhasari, 132 benda seni koleksi Pita Maha, dan 335 harta jarahan Ekspedisi Lombok 1894.

  • Jenderal dari Cibitung

    NAMA Cibitung umum digunakan di Jawa Barat dan Banten. Dua provinsi tersebut memiliki daerah bernama Cibitung. Selain Cibitung di Bekasi yang terkenal dengan industrinya, ada pula Cibitung di Pandeglang atau di Bandung Barat. Di Cibitung, Bandung Barat itulah Henri Nicolas Alfred Swart dilahirkan pada 12 Oktober 1863. Henri merupakan gubernur Aceh era Hindia Belanda terlama. Koran Het Nieuws van den dag voor Ned. Indie tanggal 11 Oktober 1933 menyebut, Henri lahir di perusahaan perkebunan kina di Cibitung. Kemungkinan orangtuanya bekerja pada perkebunan tersebut.

  • PNI Lahir Kembali di Masa Revolusi

    TAK lagi menjabat sebagai menteri, Sartono mulai memikirkan tentang partai. Dia mengajak beberapa teman dekatnya berdiskusi tentang pembentukan sebuah partai nasionalis yang meneruskan cita-cita Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Indonesia (Partindo), dan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo).   Diskusi kian intens setelah keluarnya Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945, ditandatangani Wakil Presiden Mohammad Hatta, yang mendorong pembentukan partai-partai politik. Sartono mengumpulkan beberapa rekannya di kantor Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Jalan Cilacap, Jakarta. Mereka adalah Sarmidi Mangunsarkoro, Lukman Hakim, Wilopo, Sabillal Rasjad, dan Sudiro.

  • Serba-serbi Pemburu Tikus, Pekerjaan Populer di Abad ke-19

    REVOLUSI industri yang berlangsung sejak paruh kedua abad ke-18 tak hanya merangsang pertumbuhan sejumlah kota di Inggris, yang mendorong perpindahan ribuan penduduk dari wilayah pedesaan ke kota-kota besar. Revolusi industri juga memicu persoalan baru, salah satunya berkaitan dengan kebersihan dan kesehatan warga kota yang timbul akibat kepadatan penduduk. Seiring dengan pertumbuhan kota yang semakin besar, limbah yang dihasilkan dari berbagai aktivitas di dalamnya juga bertambah. Limbah tak hanya memicu munculnya bau tidak sedap, tetapi juga mendorong pertumbuhan tikus, hama yang umum selama revolusi industri. Tikus membawa penyakit yang mematikan sehingga banyak keluarga kaya di Inggris berlomba-lomba mempekerjakan penangkap tikus untuk membasmi hewan pengerat yang merepotkan ini.

  • Simpang Jalan Milisi Partai

    JALAN sunyi di pusat kota Cianjur itu masih menyisakan masa lalu. Pohon-pohon mahoni tua berderet, menaungi rumah-rumah lama dan bangunan-bangunan toko. Sementara itu, di ujung jalan, beberapa gedung sekolah milik yayasan Katolik berdiri megah. Orang-orang Cianjur mengenal ruas jalan itu sebagai Jalan Barba (Barisan Banteng). “Nama itu diambil dari Laskar BBRI (Barisan Banteng Republik Indonesia) yang pada zaman revolusi pernah sangat berjaya di kota ini,” ujar Moeljadi, 77 tahun.

  • Jejak Berlawan dari Bumi Lorosa’e

    TAKSI kuning yang membawa saya dari Bandara Internasional Nicolau Lobato menuju Timor Hotel di kota Dili, Timor-Leste, melaju santai. Sepanjang jalan, beberapa toko atau restoran masih menggunakan papan nama berbahasa Indonesia.   Pengemudi taksi juga fasih berbicara bahasa Indonesia. Obrolan kami mengalir ke mana-mana. Mulai dari Basuki Thajaja Purnama atau Ahok dan Pilkada DKI hingga kasus kematian Mirna Salihin yang santer dibicarakan di sana.

  • Pembantaian dan Penjarahan di Bali Selatan

    SEBANYAK 288 benda cagar budaya Nusantara yang berada di Belanda resmi dikembalikan ke Indonesia. Lebih dari 200 di antaranya merupakan benda jarahan semasa Puputan Badung dan Tabanan seiring ekspedisi militer Belanda di Bali Selatan pada 1906. Ke-288 benda yang masuk daftar repatriasi tersebut meliputi empat arca: Ganesha, Brahma, Bhairawa, dan Nandi, serta 284 benda bersejarah yang dijarah usai pembantaian di Badung dan Tabanan. Peresmian serah terimanya diteken oleh Dirjen Kebudayaan RI Hilmar Farid dan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda Eppo Egbert Willem Bruins di Wereldmuseum, Amsterdam, Jumat (20/9/2024).

  • Makam Dua Jenderal Belanda dan Putra Iskandar Muda

    MUSEUM Tsunami berdiri megah di Jalan Iskandar Muda, Banda Aceh. Ia didirikan untuk mengenang mereka yang menjadi korban tsunami 2004. Tepat di sebelah Museum Tsunami terdapat permakaman. Orang menyebutnya permakaman Kerkhof Peucut. Isinya kebanyakan makam orang Belanda. Mereka itulah yang dulu ikut mengorbankan banyak orang Aceh. Tsunami bukan satu-satunya yang membuat ratusan ribu orang Aceh menjadi korban. Jauh sebelum itu, ratusan ribu orang Aceh jadi korban keganasan kolonial.

  • Wasit Sepakbola Digebuki Pemain Tempo Dulu

    LAGI-LAGI sepakbola Indonesia ternodai oleh aksi kekerasan. Insiden ini terjadi pada pertandingan perempat final sepakbola Pekan Olahraga Nasional (PON) di Aceh dua pekan lalu. Dalam laga yang mempertemukan kesebelasan Aceh lawan Sulawesi Tengah (Sulteng) itu, wasit jadi korban pemukulan oleh salah satu pemain. Sejak menit pertama kedua tim saling ngotot dan laga pun berlangsung keras. Beberapa kali pertandingan harus dihentikan karena keributan dalam lapangan maupun aksi penonton yang melempari botol ke lapangan. Hingga babak pertama usai, Sulteng unggul dengan skor 1-0. Memasuki babak kedua, masing-masing tim tidak mengendorkan tempo permainan. Nahas bagi Sulteng, dua pemainnya dikartu merah oleh wasit Achmad Hafid Hilmi.

  • Pulangnya Arca Ganesha dari Lereng Semeru

    SATU dari 288 benda bersejarah yang direpatriasi dari Belanda tahun ini berupa sebuah arca Ganesha. Berbeda dari arca-arca sebelumnya yang dipulangkan pada agenda repatriasi 2023 dan 2024, arca Ganesha ini bukan berasal dari Candi Singhasari, melainkan dari sebuah mandala di lereng Gunung Semeru. Pada repatriasi 2023, empat di antara 472 objek cagar budaya Nusantara yang pulang ke tanah air dari Belanda berupa arca Ganesha, Mahakala, Durga, dan Nandiswara. Keempatnya merupakan arca yang diboyong dari Candi Singhasari oleh pejabat kolonial Nicolaus Engelhard pada 1803. Dua arca lainnya, yakni Nandi dan Bhairawa, ada di antara 288 benda bersejarah yang direpatriasi tahun ini.

  • Januari “Ngeri” di Shanghai

    SENJA, 27 Januari 1932 di Shanghai, China. Dari seorang kawannya asal Kwantung yang bernama Siangseng Tze, Tan Malaka mendapat peringatan bahaya. “Siangseng Tze, dari Kwantung, memperingatkan kepada saya supaya pindah rumah, karena something will happen this night (akan ada kejadian malam hari ini). Katanya, ‘ The Canton soldiers will resist Japanese agression .’ Saya dinasehatkan pindah rumah, karena pertempuran akan terjadi di sekitar kampung saya,” kata Tan Malaka dalam otobiografinya, Dari Penjara ke Penjara Jilid 2. Alih-alih menuruti, Tan Malaka justru mengabaikan nasihat temannya itu. Toh, peringatan serupa juga sudah diterima Tan Malaka sebelumnya dari Siangsen Chen, kawannya asal Kwantung yang punya kontak dengan Tentara ke-19 (19th Route Army). “Saya sebagai orang asing, tentulah tidak bisa langsung menerima kebenarannya kabar di atas,” sambung Tan Malaka.

  • Kaum Perempuan Nasionalis

    KOLABORASI PNI dengan gerakan perempuan sudah berlangsung sejak awal mula partai itu berdiri. Kongres pertama PNI pada Mei 1928 di Surabaya menuai simpati yang besar dari golongan wanita. Terlebih karena dalam putusan kongres PNI mengupayakan perbaikan derajat kaum wanita: memerangi perkawinan anak, perkawinan paksa, dan memajukan perkawinan dengan satu istri (monogami). Putusan tersebut ditetapkan menjadi bagian AD/ART PNI saat itu. “Pemimpin-pemimpin kaum wanita muda tampil ke muka seperti nona Suwarni Djojoseputro mula-mula dari Puteri Indonesia,” tulis Soenario dalam Banteng Segitiga .

bottom of page