top of page

Hasil pencarian

9861 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Seabad Flu Spanyol

    TEPAT satu abad silam, Flu Spanyol mengguncang dunia. Tidak ada negara yang luput dari serangannya. Pandemi influenza itu membunuh jutaan orang. Flu Spanyol membunuh sekitar dua sampai 20 persen penderita yang terinfeksi. Persentase tersebut jauh lebih besar dibandingkan influenza biasa yang hanya mampu membunuh 0,1 persen dari total penderita. Dahsyatnya serangan wabah ini membuat virologis Amerika Serikat Jeffery Taubenberger menyebut Flu Spanyol sebagai "The Mother of All Pandemics." Asal-muasal virus ini masih menjadi perdebatan. Menurut Frank Macfarlane Burnet, virologis Australia yang mendedikasikan hidupnya untuk mempelajari influenza, pandemi 1918 bermula di Camp Funston dan Haskell County (Kansas) Amerika Serikat. Sementara menurut North China Daily News, seperti dikutip harian Pewarta Soerabaia, pandemi bermula di Swedia atau Rusia lalu menyebar ke Tiongkok, Jepang, dan Asia Tenggara. Beberapa epidemiologis Amerika menyimpulkan, virus flu dibawa oleh buruh Tiongkok dan Vietnam yang dipekerjakan militer Inggris dan Perancis selama Perang Dunia I (PD I). Alasan utamanya, mereka terbiasa hidup berdekatan dengan burung dan babi. Namun argumen tersebut dibantah Dr. Edwin Jordan, editor dari Journal of Infectious Disease, dengan menyebut bahwa wabah flu di Tiongkok tidak menyebar dan berbahaya. Jordan juga tidak sepakat dengan teori yang menyebutkan India atau Perancis sebagai asal dari virus mengingat virus flu di kedua negara tersebut hanya bersifat endemik.

  • Kala Kewarganegaraan Seorang Anggota Parlemen Dipertanyakan

    EMILE Francois (E.F.) Wens tentu senang. Sebagai satu dari sedikit kalangan minoritas, dirinya diundang menghadiri acara penting di Istana Negara, Jakarta pada awal 1956. Wens dan lebih dari 250 orang lain, yang berhasil meraup suara dalam Pemilu 1955, dipercaya menjadi anggota Parlemen. Mereka akan dilantik di Istana Negara. “Pelantikan anggota DPR dilakukan oleh Presiden Sukarno tanggal 25 Maret 1956 di Istana Negara –Jakarta. Sedangkan pelantikan anggota-anggota Konstituante tanggal 10 November 1956 di Gedung Merdeka (kemudian terkenal sebagai Gedung Konstituante – Bandung,” tulis Idham Chalid, politikus NU, dalam Napak Tilas Pengabdian Idham Chalid: Tanggung Jawab Politik NU dalam Sejarah. Dari jumlah anggota DPR yang kurang dari 300 itu, tak semua mewakili partai politik. Mereka terdiri dari beberapa kriteria. “Ketika dilantik tanggal 26 Maret 1956 di Istana Negara, Jakarta, jumlah anggota DPR adalah 272, yang terdiri atas 257 hasil Pemilu 1955, 3 orang wakil Irian Barat diangkat, dan 12 wakil dari golongan minoritas keturunan asing/Tionghoa,” kata perempuan-politikus Aisyah Amini dalam Pasang-Surut Peran DPR-MPR, 1945-2004.

  • Balap Mobil dengan Chaerul Saleh, Guntur Ditegur Sukarno

    GUNTUR Soekarnoputra pernah ditegur ayahnya, Presiden Sukarno, karena melakukan manuver di jalanan. Hobinya memacu mobil sport VW Karmann Ghia bahkan dilakoni bersama Menteri Perindustrian Dasar dan Pertambangan Chaerul Saleh. Chaerul Saleh juga menunggangi Karmann Ghia warna merah. Aksi kebut-kebutan Guntur bersama salah satu menterinya itu membuat Bung Karno gusar. Seperti dikisahkan Guntur dalam memoarnya Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku, Bung Karnomendapat kabar Guntur dan Chaerul sering balapan di bilangan Kebayoran, persisnya di Jalan Sisingamangaraja dan Senopati. Tukang-tukang becak di sekitaran Cikini sampai menyingkir karena takut kena serempet Karmann Ghia milik mereka. Bung Karno juga menerima laporan dari kepolisian bahwa Guntur mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi sampai menabrak adik dari artis Baby Huwae. Bung Karno mengancam, sekali lagi insiden itu terjadi lagi, maka mobil Guntur akan dibakar.

  • Jejak Putra Sang Fajar di Surabaya

    RUMAH pemimpin Sarekat Islam di Gang Peneleh VII No. 29–31 itu tampak suwung. Daun pintu yang bercat krem berpadu hijau tertutup rapat siang itu. Andai saja tak ada plang informasi yang berdiri di depan rumah, mungkin orang tak bakal mengira kalau rumah sederhana itu pernah jadi tempat tinggal bagi aktivis politik zaman pergerakan dari berbagai kalangan dan ideologi. Mulai Sukarno yang nasionalis sampai Musso yang komunis dan S.M. Kartosoewirjo yang mengusung gagasan negara Islam, pernah indekos di rumah itu. Rumah yang pernah menjadi kediaman keluarga H.O.S. Tjokroaminoto itu kini memang tak lagi serupa sediakala. Bangunan asli rumah berdiri memanjang ke belakang dengan dua tembok yang menyekat sayap kiri dan kanan rumah sehingga menyisakan koridor yang memanjang di tengah rumah. Bagian utama rumah dengan deret kamar kos di belakang, yang salah satunya pernah ditempati oleh Sukarno, dibatasi tembok dapur dengan satu pintu yang kini telah ditutup. Satu set kursi kayu kuno terpasang di ruang tamu seluas 2x4 meter persegi. Sebuah foto pengantin remaja Sukarno dan Oetari terpampang di tembok dekat pintu masuk. “Itu pemberian bapaknya Mbak Maia,” ujar Eko Hadiratno, ketua RT II Kampung Peneleh sekaligus kuncen rumah Tjokroaminoto. Bapaknya Mbak Maia yang disebut Eko adalah Ir. Harjono Sigit, ayah penyanyi Maia Estianty, mantan istri rocker Ahmad Dhani. Harjono adalah cucu Tjokroaminoto dan pernah jadi rektor Institut Teknologi Surabaya (ITS) periode 1982–1986.

  • Jenderal Tempur Ryamizard Ryacudu

    JENDERAL TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu meninggal dunia pada 31 Mei 2026. Ryamizard merupakan Menteri Pertahanan (Menhan) Kabinet Kerja (2014–2019) di periode pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo. Semasa menjabat Menhan, Ryamizard dikenal tegas, berani, dan suka bicara ceplas-ceplos. Misalnya, Ryamizard pernah menolak wacana rekonsiliasi terhadap korban tragedi 1965. Menurutnya, rekonsiliasi tidak diperlukan sebab yang terjadi adalah peristiwa pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI). Bagi Ryamizard, penumpasan kader dan simpatisan PKI yang memakan banyak korban warga sipil sama seperti perang. Oleh karena itu, rekonsiliasi tak diperlukan apalagi permintaan maaf dari negara. “Rekonsiliasi dengan siapa? Orang PKI? Sudah pada mati kok. Enggak usah lagi lah. Ini pemberontakan ditumpas, pantas-pantas saja mati,” kata Ryamizard dalam “Simposium Anti PKI” pada 2016 silam.

  • Kisah Sukarno Kecil di Mojokerto

    DARI Surabaya, ketika berusia enam tahun, Sukarno dan keluarga pindah ke Mojokerto, Jawa Timur. Mereka tinggal di daerah yang miskin. Meski demikian, tetangga-tetangga Sukarno masih punya uang untuk membeli jajan. Sedangkan Sukarno kecil tidak. Dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Sukarno bercerita pada hari lebaran, ia mengurung diri di kamar karena tidak bisa membeli petasan. Ia hanya bisa mengintip dari lubang udara ketika teman-temannya sedang bermain petasan di luar. “Di sekeliling terdengar bunyi petasan berletusan disela oleh sorak-sorai kawan-kawanku karena kegirangan. Betapa hancur-luluh rasa hatiku yang kecil itu memikirkan, mengapa semua kawan-kawanku dengan jalan bagaimanapun dapat membeli petasan yang harganya satu sen itu –dan aku tidak!” kisahnya.

  • Sukarno Memimpikan Presiden Penggantinya

    PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono bermimpi. Suatu hari, Presiden Joko Widodo mendatangi kediaman SBY di Cikeas. Mereka kemudian menjemput Ibu Megawati di rumahnya, Jl. Teuku Umar 29. Selanjutnya, SBY, Jokowi, dan Mega bersama-sama menuju Stasiun Gambir. Ada kejutan di Stasiun Gambir karena presiden RI ke-8 telah menunggu ketiganya. Sang presiden yang baru terpilih itu telah membelikan karcis kereta api Gajayana tujuan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebelum berangkat, SBY, Jokowi, Mega, dan presiden RI ke-8 itu sempat ngopi-ngopi bareng sambil bercengkrama. Usai ngopi, SBY, Jokowi, dan Mega naik kereta api dengan tujuan masing-masing. Presiden RI ke-8 mengantarkan kepergian mereka. Di perjalanan, SBY, Jokowi, dan Mega menyapa segenap rakyat dengan hangat. “Rakyat yang pernah kami pimpin dengan penuh kesungguhan hati. Memimpin bangsa yang tak pernah sepi dari tantangan,” kata SBY.

  • Tiga Pemuda Menyusup ke Rombongan Sukarno

    PRESIDEN Sukarno mengadakan kunjungan ke Sumatra Selatan padaApril 1956. Ia menyapa rakyat di Palembang, Lahat, Tebing Tinggi, dan Talang Betutu. Nahas, dalam kunjungan initerjadi kecelakaan perahu di sungai Musi yang ditumpangi para penyambut rombongan Sukarno. Selain itu, ada kejadian penyusupan oleh tiga orang pemuda: dua orang guru sekolah rakyat dan seorang anggota kepanduan di Lahat. Mereka menyusup ke dalam rombongan Sukarno ketika kereta api istimewa berhenti di Lahat dalam perjalanan menuju Tebing Tinggi. Dalam perjalanan mereka mengaku wartawan yang turut dalam rombongan Sukarno. Sehingga mereka mendapat pelayanan seperti anggota rombongan lainnya dalam penginapan dan makanan. Begitu pula pelayanan dalam perjalanan kembali ke Palembang.

  • Kemaritiman Era Sukarno

    PRESIDEN Sukarno bertekad menjadikan Indonesia berjaya sebagai negara maritim. Hal itu disampaikannya dalam beberapa kesempatan. Salah satunya dalam amanatnya dengan judul “Kembalilah Menjadi Bangsa Samudera” pada resepsi pembukaan Munas Maritim ke-I di Jakarta pada 23 September 1963. “Kita sekarang satu persatu, seorang demi seorang harus jakin bahwa Indonesia tidak bisa mendjadi negara jang kuat, sentausa, sedjahtera, djikalau kita tidak menguasai pula samudera, djikalau kita tidak kembali mendjadi satu bangsa samudera, djikalau kita tidak kembali mendjadi satu bangsa bahari, bangsa pelaut sebagai kita kenal dizaman bahari itu,” ujar Presiden Sukarno. Setahun kemudian Presiden Sukarno mengeluarkan Keputusan Presiden No. 249 tahun 1964 yang menetapkan tanggal 23 September sebagai Hari Maritim Nasional.

  • Ada Jalan Sukarno di Tunisia

    SEIRING hari lahir bapak bangsa cum proklamator Ir. Sukarno, gaung ketokohannya turut diapresiasi sampai ke Afrika Utara. Di Tunisia, nama Bung Karno diabadikan menjadi nama jalan ibukota Tunisia. Nama jalan itu diresmikan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Tunisia pada Kamis (6/6/2024). “Rue Du Leader Ahmed Soekarno”, demikian nama jalan itu, diresmikan oleh Dubes RI untuk Tunisia Zuhairi Misrawi di kawasan Lac, kota Tunis dengan dihadiri Sekretaris Walikota Tunis Kamal Liwahisyi dan beberapa perwakilan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Luar Negeri Tunisia, serta sejumlah warga negara Indonesia (WNI) di Tunisia. Peresmian ini merupakan apresiasi penting dari pemerintah Tunisia. Itu sekaligus jadi hadiah amat bermakna untuk memperingati hari lahir figur Bung Karno yang juga tokoh yang disegani dunia.

  • Konferensi Asia Afrika di Mata Pelajar Indonesia

    TANGGAL 24 April diperingati sebagai Hari Solidaritas Asia Afrika. Penetapannya bertepatan dengan peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika pada 2020. Konferensi Asia Afrika kali pertama berlangsung pada 18–24 April 1955 di Bandung. Tujuannya membangun kerja sama dan solidaritas panjang untuk mewujudkan dunia yang adil, bebas dari penjajahan, dan damai. Selama KAA, pelajar Indonesia dilibatkan. Mereka berkumpul di lapangan Tegalega, Bandung pada 18 April pagi. Mereka berbaris rapi, menunggu tetamu penting dari 29 negara peserta KAA. Saat matahari agak tinggi, tetamu bermunculan di lapangan. Antara lain Gamal Abdul Nasser dan Jawaharlal Nehru. Melihat tetamu datang, para pelajar mulai bersenam. Mereka sangat antusias. Tak hirau cuaca terik demi menghibur tetamu. Peristiwa ini terekam dalam album 30 Tahun Indonesia Merdeka 1955–1965. Ini menunjukkan para pelajar turut menyambut KAA.

  • Ketika Ali Sastroamidjojo Menutup Konferensi Asia-Afrika

    Para Sri Paduka. Para Paduka Yang Mulia, Nyonya-nyonya dan Tuan-tuan! Saudara-saudara sekalian! Setelah kita sekarang tiba pada penutupan Konperensi ini, sesudah mengalami suatu minggu yang amat penting, saya ingin untuk mengucapkan terima kasih kepada tuan-tuan sekaliannya atas semangat goodwill dan kesudian untuk memaklumi yang tuan-tuan telah perlihatkan dengan nyata dan terus menerus selama pembicaraan-pembicaraan kita yang berhasil itu: Adalah semangat dan kesudian ini yang memungkinkan untuk bekerja sama dan mendapatkan hasil-hasil yang baik, serta apabila tuan-tuan memperkenankan saya menyatakan suatu perasaan hati saya sendiri yang membuatnya suatu kegembiraan bagi saya, untuk menjadi ketuanya. Paragraf di atas merupakan penggalan pidato penutupan acara Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 di Kota Bandung, Jawa Barat, yang dibacakan oleh Ketua Umum Kofrensi Asia-Afrika (KAA) Ali Sastroamidjojo.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page