top of page

Hasil pencarian

9861 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sebelum Jenderal Soeprapto Pergi

    HARI itu, 29 September 1965, batin Ratna Purwati bergetar saat mendengar satu pertanyaan dari ayahnya, Deputi II/Administrasi Menpangad Mayjen Raden Soeprapto. Pasalnya, kematian tak pernah jadi topik pembicaraan ayahnya saat sedang luang di kediamannya di Jalan Besuki, Menteng, Jakarta Pusat. Sebagai anak tertua, Ratna memang paling sering diajak ‘ngobrol’ oleh ayahnya. Dalam buku Tujuh Prajurit TNI Gugur 1 Oktober 1965: Tuturan Anak-Anak Pahlawan Revolusi, Keluarga Korban, dan Saksi pada Peristiwa Dini Hari, 1 Oktober 1965, ia mengenang, seringkali ayahnya memberi banyak nasihat dan sangat serius ketika mengupas suatu persoalan. Tapi, soal kematian tidak pernah dibicarakan. Oleh karenanya, ucapan sang ayah di hari itu dirasa sangat ganjil oleh Ratna. “Kamu sedih tidak kalau Bapak meninggal dunia?” tanya Jenderal Soeprapto. “Bapak ngomong apa sih?” Ratna bertanya balik. Obrolan pun berhenti sampai di situ. Selebihnya, anak dan bapak itu tenggelam dalam diam.

  • Ujung Sketsa Hidup Henk Ngantung

    BAHKAN di masa tuanya, Henk Ngantung masih mengalami perundungan dan tak lepas dari stigma. Geni Ngantung, anak kedua Henk, masih ingat kejadian memilukan itu, menjelang wafatnya sang ayah. Pada akhir November 1991, Henk berkesempatan memamerkan lukisan-lukisannya di Galeri Jaya Ancol, Jakarta Utara. “Sebelum tanggal 29 November [1991] sebenarnya sudah mau pameran. Intel bilang dianggap berbahaya. Katanya, Henk mau reuni sama orang PKI dan Lekra,” tutur Geniati Heneve Ngantung, yang akrab dipanggil Geni, kepada Historia.ID. Itu adalah pameran terakhir Henk Ngantung. Tidak banyak yang tahu, Henk yang sudah sepuh itu mengalami tekanan sepanjang pameran berlangsung. Aparat intelijen militer dari Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) disusupkan untuk mengawasi jalannya pameran. Henk yang sehari-harinya berpembawaan tenang, memendam amarah dan sakit hati. Keluarganya pun tak habis pikir mengapa Henk sampai diperlakukan sebegitu rupa.

  • Kisah Jenderal Gorontalo

    AWAL November 1945, pemuda-pemuda di Ganti, Gorontalo, dikumpulkan Omar Papeo. Tiba-tiba seseorang dari jauh datang. Dia membawa pesan penting dari Gubernur Sulawesi Sam Ratulangi di Makassar, yakni menentang kedatangan Belanda kembali ke Indonesia. Pemuda-utusan Ratulangi itu mencapai Gorontalo setelah melalui Pare-pare, Majene, Mamuju, dan Pasangkayu. Sepanjang jalan, jika ditanya atau memperkenalkan diri, pemuda itu mengaku bernama Abdul Gani. Untuk mencapai Gorontalo dari Sulawesi Selatan, Abdul Gani harus lewat Sulawesi Tengah. “Dari Donggala Abdul Gani terus ke Palu dan bertempat di rumah Lolon Tamene Lamakarate di Biromaru diadakan pertemuan dan membicarakan instruksi-instruksi gubernur untuk dilaksanakan,” tulis Bambang Suwondo dkk. dalam Sejarah Daerah Sulawesi Tengah.

  • Jenderal dari Keraton

    BERHUBUNG seorang keponakannya akan dikhitan di Delanggu, dirinya ambil cuti pada hari Minggu, 19 Desember 1948 itu. Namun kegembiraannya bertemu keluarga terganggu oleh serangan udara dari militer Belanda. Padahal itu seharusnya masa damai pasca-perundingan Renville. Maka serangan udara ke pabrik gula Delanggu segera disimpulkannya sebagai perang kembali dimulai. Pagi itu, rupanya tentara Belanda menyerang ibukota Republik Indonesia, Yogyakarta. Serangan itu membuatnya ingat pada tempatnya bekerja. Dia pun segera mencari murid-muridnya, entah itu naik sepeda ataupun dengan berjalan kaki. Meski memakan waktu berhari-hari, dia terus mencari murid-muridnya yang tercerai-berai. Dia adalah salah satu dari sekian instruktur di Militaire Academie di Yogyakarta. Namanya Raden Mas Soekasno Poespomidjojo. Pangkatnya Mayor. Daud Sinjal dkk. dalam Laporan Kepada Bangsa: Militer Akademi Yogya menyebut, Soekasno bersama Kolonel Soewardi (eks KNIL) dan Mayor Ismail (Eks Barisan Madura) juga ikut mengajarkan teori militer di akademi.

  • Fosko TNI-AD, Markas Para Jenderal Oposan

    MESKI berbicara dalam nada tenang, nampak sekali Soeharto naik pitam saat berpidato dalam HUT Kopasaandha (kini Kopassus) di markas Cijantung pada 16 April 1980. Kata sang presiden, tersiar kabar bila istrinya, Tien Soeharto menentukan pemenang tender pemerintah dengan pihak swasta dan menerima komisi 10 persen dari transasksi kekuasaan itu. Ada lagi gosip beredar yang menyatakan kalau Soeharto memiliki wanita simpanan seorang artis bernama Rahayu Effendi. Menurut Soeharto, isu itu dihembuskan karena dirinya dianggap sebagai penghalang utama kegiatan politik para pembuat rumor tersebut. Untuk menekan lawan politiknya, Soeharto menebar ancaman. Dia memperingatkan, andaikata dirinya ditiadakan, maka akan muncul lebih banyak kekuatan yang akan memukul balik. “Bahwasanya, toh akhirnya akan timbul mungkin lebih daripada saya, warga negara, prajurit-prajurit anggota ABRI termasuk pula korps Koppasandha baret merah akan tetap menghalangi kehendak politik mereka itu,” tegas Soeharto. Dalam pidatonya, Soeharto sama sekali tidak menyebut nama-nama yang disebutnya sebagai “mereka”. “Tetapi siapapun maklum bahwa yang dimaksud pasti adalah perwira senior yang tidak senang dengannya,” tulis Atmadji Sumarkidjo dalam biografi Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit.

  • Para Panglima Pendukung Orba

    BEBAS dari penjara, kondisi kesehatan mantan Panglima Kodam Siliwangi Letjen (purn.) H.R. Dharsono memburuk. Pak Ton –panggilan akrab Dharsono– jadi rentan penyakit. Sewaktu di penjara, paru-parunya terkena bronkitis yang disebabkan lembabnya ruang penjara. Melihat koleganya yang terbaring lemah, Letjen TNI (Purn.) M. Jasin datang menjenguk ke rumah Dharsono di Bandung. “Sin, kalau dapat memutar sejarah, sebenarnya saya ingin menarik dukungan tertulis kepada Soeharto yang ikut saya berikan tahun 1967, karena dukungan itu mencelakakan saya!” kata Dharsono kepada Jasin. Dharsono mengatakannya sambil menitikkan air mata. Perjumpaan itu dikenang Jasin dalam memoarnya, “Saya Tidak Pernah Minta Ampun Kepada Soeharto”. Jasin dan Dharsono larut dalam nostalgia masa lalu. Haru menyeruak saat keduanya mengenang memori ketika menjadi panglima di Jawa Barat dan Jawa Timur. Senada dengan Dharsono, Jasin pun ikut menyesal. Namun dia hanya bisa menyemangati Dharsono agar lekas sembuh. Tak lama setelah pertemuan itu, Dharsono meninggal pada 5 Juni 1996.

  • H.R. Dharsono, Jenderal Terpidana

    TANGGAL 8 Januari 1985, adalah hari yang nahas bagi Hartono Rekso Dharsono. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan vonis 10 tahun penjara terhadap jenderal terpidana itu. Putusan hakim mendakwa Dharsono bersama tokoh Muhammadiyah A.M. Fatwa terlibat komplotan Islam garis keras yang meledakan gedung BCA di Jakarta Kota. Jika Dharsono orang biasa tak jadi soal. Namun tuduhan itu dilayangkan kepada mantan panglima Kodam Siliwangi. Menurut catatan Atmadji Sumarkidjo dalam Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit, Dharsono adalah satu-satunya perwira tinggi TNI berpangkat letnan jenderal yang pernah ditangkap oleh pemerintah dan dihukum dengan tuduhan subversi. Pada hari vonis akan dijatuhkan, suasananya tegang. Handai tolan dan simpatisan ramai mendatangi persidangan Dharsono. Diperkirakan yang hadir ribuan orang, memadati segenap tempat, baik di ruang persidangan maupun di luar gedung hingga jalanan. Karena kekhawatiran akan munculnya huru-hara, penjagaan dibuat ekstra ketat.

  • H.R. Dharsono, Akhir Tragis Mantan Loyalis

    HARU bercampur jengkel dalam kalbu Ali Sadikin ketika menghadiri pemakaman H.R. Dharsono. Bagaimana tidak, sebagai tokoh militer yang berjasa bagi negara, pemerintah hanya bersedia memakamkan Dharsono di Tempat Pemakaman Umum Sirna Raga, Bandung. Dharsono kehilangan haknya untuk dikebumikan di Taman Makam Pahlawan karena pernah dipenjara lebih dari setahun. Meski berasal dari matra berbeda, kondisi tersebut membuat Ali Sadikin berang. “Berbicara sebagai wakil keluarga, waktu itu Ali Sadikin menyatakan bahwa Dharsono ikut mendirikan Orde Baru dan sekarang ia dibunuh oleh Orde Baru. Belum selesai Sadikin berbicara, seseorang telah maju dan merenggut pengeras suara dari tangannnya,” tulis Aris Santoso dkk. dalam Hoegeng: Oase Menyejukkan di Tengah Perilaku Koruptif Para Pemimpin Bangsa. Kemal Idris lebih geram lagi. Tatkala melepas kepergian terakhir sahabatnya itu, Kemal menggerutu. “Seperti menguburkan kucing saja,” kata Kemal seperti dikutip Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto.

  • Tangisan Hakim Kepada Terdakwa Eks Tjakrabirawa

    TOK.. Tok.. Tok! Hakim Ketua Letkol CKH Sunarko, SH mengetuk palu tanda vonis hukuman dijatuhkan. Kopda Hargijono si terdakwa utama dijatuhi hukuman mati. Pratu Idris dan Pratu Sulemi divonis penjara seumur hidup. Pratu Sardju, Pratu Sumardjo, Kopda Sumarno, Pratu Supandi, dan Pratu Sarindi masing-masing dihukum penjara 17 tahun. Pratu Amin Surono dijatuhi 6 tahun penjara. Sementara itu, Kopda Suwarso dibebaskan dari hukuman karena tak jelas terbukti kesalahannya. Kesembilan terdakwa tersebut merupakan eks anggota Resimen Tjakrabirawa yang terlibat langsung dalam Gerakan 30 September (G30S) 1965. Mereka ditugaskan menjemput Menteri Pertahanan Jenderal TNI Abdul Haris Nasution untuk dihadapkan kepada Presiden Sukarno.

  • L.N. Palar Melawan Nazi Hingga Berdiplomasi

    PEMERINTAH menetapkan Lambertus Nicodemus Palar bersama Tahi Bonar (TB) Simatupang dan KRT Radjiman Wedyodiningrat sebagai pahlawan nasional tahun 2013. Menurut sejarawan George McTurnan Kahin, jika ada orang yang dapat dianggap sebagai pengetua korps diplomatik Indonesia, Palar-lah orangnya. Dia diplomat yang mumpuni dan dihormati. Reputasinya yang cemerlang dalam berdiplomasi tidak lantas membuatnya tinggi hati. “Saat aku bertemu dengannya di Jakarta lima tahun lalu [1976], Palar masih terlihat sederhana, tulus dan lugas sama seperti saat aku bertemu untuk pertama kali dengannya tiga dekade lalu. Dia lebih suka dipanggil Nick daripada Mr. Ambassador atau Dr. Palar,” kenang George McTurnan Kahin dalam “In Memoriam: LN Palar,” dimuat jurnal Indonesia Volume 32, Oktober 1981.

  • Cerita Tank Renta

    KANAL Youtube Jenderal Andika Perkasa mengunggah video kunjungan panglima TNI tersebut ke Markas Komando Marinir Cilandak belum lama ini. Dalam video bertanggal 19 Februari 2022 itu, Jenderal Andika beraudiensi dengan pimpinan korps baret ungu. Kunjungan Andika memang bertujuan ingin mengetahui lebih jauh tentang organisasi Korps Marinir. Selain mendapat penjelasan tentang organisasi korps yang dulu bernama KKO itu, Andika juga berkeliling meninjau persenjataan yang ada di sana. Andika didampingi Komandan Marinir Mayjen (Mar.) Suhartono dan petinggi lain Marinir. Ketika melintas di hadapan deretan kendaraan tempur (ranpur) lapis baja, Andika tampak penasaran dengan sebuah tank yang membuatnya bertanya.

  • Di Balik Garangnya Tank M1 Abrams

    DEMI membendung operasi militer Rusia di Ukraina, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menjanjikan pengiriman bantuan paket alutsista. Di dalamnya termasuk tank tempur berat M1 Abrams. Tank andal nan canggih ini diharapkan bisa jadi tulang punggung bantuan NATO (Pakta Pertahanan Atlantik Utara) dalam rangka membentuk dua batalyon tank. Batalyon berisi 88 unit tank itu akan diisi gabungan tank Leopard 2A6 dari Jerman dan PT-91 Twardy dari Polandia selain M1 Abrams sendiri. Ke-31 tank M1 Abrams yang akan dikirim itu diharapkan bisa berperan besar. Pasalnya, Rusia ditengarai akan melancarkan ofensif berskala besar pada musim semi 2023. Setelah berdiskusi dengan para pemimpin NATO medio Desember 2022 lalu dan dilanjutkan konsultasi intensif dengan Menteri Luar Negeri Antony Blinken dan Menteri Pertahanan Lloyd Austin, Presiden Biden memberi lampu hijau pengiriman paket bantuan Ukraine Security Assistance Initiative (USAI). Selain 31 tank M1 Abrams, AS juga akan memberi pelatihan pada ratusan serdadu Ukraina, terutama yang akan mengawaki tank-tanknya.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page