top of page

Hasil pencarian

9869 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Gubernur Jenderal Van Imhoff Melarang Mandi di Kali

    CUACA panas tengah melanda sejumlah negara di Asia tak terkecuali Indonesia. Meningkatnya suhu, menurut Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisikan (BMKG), terjadi akibat gerak semu matahari. Fenomena ini menjadi siklus yang terjadi setiap tahun. Paparan matahari yang meningkat juga diprediksi sebagai tanda Indonesia akan memasuki musim kemarau pada akhir Mei hingga akhir September. Oleh karena itu, masyarakat yang beraktivitas di ruang terbuka diimbau menggunakan alat pelindung dari terik matahari. Cuaca panas membuat orang mudah gerah dan berkeringat sehingga lebih sering mandi. Kondisi Indonesia sebagai negeri tropis menyebabkan masyarakatnya terbiasa mandi dua kali sehari.

  • Supaya Panglima Tertinggi Tak Celaka Lagi

    MAULWI Saelan, 87 tahun, kali pertama bertemu Presiden Sukarno pada 1958. Ketika itu, Sukarno mampir di Parepare, dalam perjalanannya dari Manado. Sebagai Wakil Komandan Batalion VII/CPM (Corps Polisi Militer) Makassar, Maulwi ditugaskan bertanggung jawab atas keamanan Sukarno selama di Parepare sampai Danau Tempe, tempat terakhir perjalanan kembali ke Jakarta. Maulwi sangat terkesan dengan Sukarno. “Dia ramah dan perhatian kepada para pengawalnya,” kata Maulwi kepada Historia. Sementara itu, Sukarno sudah pula kenal Maulwi lewat penampilannya sebagai kiper sekaligus kapten timnas Indonesia di Olimpiade Melbourne pada November 1956. Waktu itu timnas Indonesia berhasil menahan imbang Uni Soviet 0-0. Setelah terjadinya percobaan pembunuhan terhadap Sukarno saat salat Iduladha pada 14 Mei 1962, Menko Hankam/KASAB Jenderal TNI A.H. Nasution mengusulkan pembentukan pasukan pengawal presiden dan keluarganya. Nasution meminta Letnan Kolonel CPM Moh. Sabur, ajudan presiden, untuk menyampaikan rencana itu kepada presiden.

  • Jenderal Gebrak Meja

    PASANGAN capres-cawapres Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar hadir di acara Mata Najwa. Anies blak-blakan menceritakan di balik pertemuan yang menggagalkan Agus Harimurti Yudhoyono, ketua umum Partai Demokrat, sebagai calon presiden. “Nama itu tidak ditolak tetapi tidak dideklarasikan sekarang. Dicoba dicari penjembatan sampai akhirnya tidak ketemu,” kata Anies. Puncaknya pada hari Selasa sore. Pertemuan berakhir denganDemokrat dipersilakan bila mau melakukan opsi-opsi lain. Sudah selesai tidak ada kesepakatan. “Di situ Tim 8 terjadi perbedaan pandangan yang sangat keras bahkan sampai gebrak meja,” kata Anies. Politik memang keras hingga gebrak meja. Karena intrik politik pula seorang jenderal pernah menggebrak meja di hadapan Presiden Soeharto.

  • Jenderal Yani Memiting Anaknya

    LEMA “piting” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti apit atau jepit (dengan kaki atau lengan). Kata ini kemungkinan diserap dari sifat hewan kepiting, yang memiliki capit untuk menangkap dan memakan mangsanya. Kata "piting" juga biasanya akrab di arena gulat sebagai jurus untuk mengunci atau membuat lawan tidak mampu bergerak. Kata “dipiting” baru-baru ini jadi viral usai Panglima TNI Laksamana Yudo Margono menyerukannya di hadapan jajaran prajurit TNI menyikapi kerusuhan di Pulau Rempang. Bermula dari instruksi Yudo kepada komandan satuan bawahan untuk memiting pelaku kerusuhan di sana. Sebenarnya Yudo bermaksud agar prajuritnya tidak menggunakan senjata atau kekerasan. Tapi, barangkali dia tidak menemukan kata yang tepat, sehingga terlontarlah kata “dipitingi aja satu-satu.” Atas ucapan blundernya itu, Yudo mengaku salah dalam bertutur kata. Dia mengaku, waktu kecil suka bermain piting-pitingan dengan kawannya. Dia pun meminta maaf atas pernyataannya yang sempat menghebohkan publik itu. Permintaan maaf Yudo sekaligus mementahkan klarifikasi dari Kepala Pusat Penerangan TNI, yang menerangkan maksud kata dipiting adalah merangkul.

  • Jenderal Patton Tampar dan Cekik Anak Buah

    HARI itu, 3 Agustus 1934, Prajurit Charles H. Kuhl terduduk di atas sebuah kursi dengan posisi membungkuk di Rumah Sakit Evakuasi ke-15 di Nicosia, Sisilia, Italia. Tak seperti sesama serdadu Amerika Serikat di sekitarnya, Prajurit Kuhl sama sekali tak menderita luka. Hanya saja, tatapannya hampa dan pikirannya nge-blank. Ia sampai tak berdiri dan memberi hormat ketika Letjen George S. Patton datang berkunjung. Sikap dan keadaan prajurit asal Kompi L Resimen Infantri ke-26 Divisi Infantri ke-1 Angkatan Darat (AD) Amerika itu jelas mencolok di mata Jenderal Patton. Panglima pasukan AD ke-7 nan temperamental itu kemudian menegur Kuhl kenapa tak memberi hormat. “Sepertinya saya hanya tak sanggup lagi,” jawab Kuhl lirih, dikutip D.A. Lande dalam I Was with Patton: First-Person Accounts of WW II in George S. Patton’s Command. Apa yang diderita Kuhl tak kasat mata. Ia mengalami battle fatigue atau terkena penyakit mental berupa depresi akibat kelelahan di medan perang. Diagnosa dari bangsal medis darurat di Batalyon ke-3 Resimen ke-26 sudah mengonfirmasi mental illness yang diderita veteran front Afrika Utara itu.

  • Sebelum Jenderal S. Parman Pergi

    MINIATUR keretaapi dan wayang kulit. Dua hal itu jadi hobi Asisten I (Intelijen) Men/Pangad Mayjen Siswondo Parman. Soebagiono, adik Jenderal S. Parman, mengungkapkan kakaknya dekat dengan atasannya, Men/Pangad Letjen Ahmad Yani di lingkup militer dan juga dekat dengan Presiden Sukarno. Parman sering dimintai pendapat tentang lakon-lakon wayang apa yang cocok dipentaskan di Istana. “Beliau memiliki dua kotak wayang kulit. Sambil duduk di kursi malas, beliau memainkan wayang, mengikuti cerita Ki Dalang lewat siaran RRI,” kenang Soebagiono, dikutip Berita Yudha, 17 Oktober 1965. Sedangkan soal miniatur keretaapi, kata Sumirahayu istri sang jenderal dalam Tujuh Prajurit TNI Gugur 1 Oktober 1965: Tuturan Anak-Anak Pahlawan Revolusi, Keluarga Korban, dan Saksi pada Peristiwa Dini Hari, 1 Oktober 1965, Jenderal S. Parman punya beberapa koleksi yang disimpan di ruangan belakang yang cukup luas di kediamannya, Jalan Serang, Menteng, Jakarta Pusat. Sang jenderal acap memainkannya selepas kerja bakti di hari-hari libur.

  • Sebelum Jenderal Soeprapto Pergi

    HARI itu, 29 September 1965, batin Ratna Purwati bergetar saat mendengar satu pertanyaan dari ayahnya, Deputi II/Administrasi Menpangad Mayjen Raden Soeprapto. Pasalnya, kematian tak pernah jadi topik pembicaraan ayahnya saat sedang luang di kediamannya di Jalan Besuki, Menteng, Jakarta Pusat. Sebagai anak tertua, Ratna memang paling sering diajak ‘ngobrol’ oleh ayahnya. Dalam buku Tujuh Prajurit TNI Gugur 1 Oktober 1965: Tuturan Anak-Anak Pahlawan Revolusi, Keluarga Korban, dan Saksi pada Peristiwa Dini Hari, 1 Oktober 1965, ia mengenang, seringkali ayahnya memberi banyak nasihat dan sangat serius ketika mengupas suatu persoalan. Tapi, soal kematian tidak pernah dibicarakan. Oleh karenanya, ucapan sang ayah di hari itu dirasa sangat ganjil oleh Ratna. “Kamu sedih tidak kalau Bapak meninggal dunia?” tanya Jenderal Soeprapto. “Bapak ngomong apa sih?” Ratna bertanya balik. Obrolan pun berhenti sampai di situ. Selebihnya, anak dan bapak itu tenggelam dalam diam.

  • Ujung Sketsa Hidup Henk Ngantung

    BAHKAN di masa tuanya, Henk Ngantung masih mengalami perundungan dan tak lepas dari stigma. Geni Ngantung, anak kedua Henk, masih ingat kejadian memilukan itu, menjelang wafatnya sang ayah. Pada akhir November 1991, Henk berkesempatan memamerkan lukisan-lukisannya di Galeri Jaya Ancol, Jakarta Utara. “Sebelum tanggal 29 November [1991] sebenarnya sudah mau pameran. Intel bilang dianggap berbahaya. Katanya, Henk mau reuni sama orang PKI dan Lekra,” tutur Geniati Heneve Ngantung, yang akrab dipanggil Geni, kepada Historia.ID. Itu adalah pameran terakhir Henk Ngantung. Tidak banyak yang tahu, Henk yang sudah sepuh itu mengalami tekanan sepanjang pameran berlangsung. Aparat intelijen militer dari Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) disusupkan untuk mengawasi jalannya pameran. Henk yang sehari-harinya berpembawaan tenang, memendam amarah dan sakit hati. Keluarganya pun tak habis pikir mengapa Henk sampai diperlakukan sebegitu rupa.

  • Kisah Jenderal Gorontalo

    AWAL November 1945, pemuda-pemuda di Ganti, Gorontalo, dikumpulkan Omar Papeo. Tiba-tiba seseorang dari jauh datang. Dia membawa pesan penting dari Gubernur Sulawesi Sam Ratulangi di Makassar, yakni menentang kedatangan Belanda kembali ke Indonesia. Pemuda-utusan Ratulangi itu mencapai Gorontalo setelah melalui Pare-pare, Majene, Mamuju, dan Pasangkayu. Sepanjang jalan, jika ditanya atau memperkenalkan diri, pemuda itu mengaku bernama Abdul Gani. Untuk mencapai Gorontalo dari Sulawesi Selatan, Abdul Gani harus lewat Sulawesi Tengah. “Dari Donggala Abdul Gani terus ke Palu dan bertempat di rumah Lolon Tamene Lamakarate di Biromaru diadakan pertemuan dan membicarakan instruksi-instruksi gubernur untuk dilaksanakan,” tulis Bambang Suwondo dkk. dalam Sejarah Daerah Sulawesi Tengah.

  • Jenderal dari Keraton

    BERHUBUNG seorang keponakannya akan dikhitan di Delanggu, dirinya ambil cuti pada hari Minggu, 19 Desember 1948 itu. Namun kegembiraannya bertemu keluarga terganggu oleh serangan udara dari militer Belanda. Padahal itu seharusnya masa damai pasca-perundingan Renville. Maka serangan udara ke pabrik gula Delanggu segera disimpulkannya sebagai perang kembali dimulai. Pagi itu, rupanya tentara Belanda menyerang ibukota Republik Indonesia, Yogyakarta. Serangan itu membuatnya ingat pada tempatnya bekerja. Dia pun segera mencari murid-muridnya, entah itu naik sepeda ataupun dengan berjalan kaki. Meski memakan waktu berhari-hari, dia terus mencari murid-muridnya yang tercerai-berai. Dia adalah salah satu dari sekian instruktur di Militaire Academie di Yogyakarta. Namanya Raden Mas Soekasno Poespomidjojo. Pangkatnya Mayor. Daud Sinjal dkk. dalam Laporan Kepada Bangsa: Militer Akademi Yogya menyebut, Soekasno bersama Kolonel Soewardi (eks KNIL) dan Mayor Ismail (Eks Barisan Madura) juga ikut mengajarkan teori militer di akademi.

  • Fosko TNI-AD, Markas Para Jenderal Oposan

    MESKI berbicara dalam nada tenang, nampak sekali Soeharto naik pitam saat berpidato dalam HUT Kopasaandha (kini Kopassus) di markas Cijantung pada 16 April 1980. Kata sang presiden, tersiar kabar bila istrinya, Tien Soeharto menentukan pemenang tender pemerintah dengan pihak swasta dan menerima komisi 10 persen dari transasksi kekuasaan itu. Ada lagi gosip beredar yang menyatakan kalau Soeharto memiliki wanita simpanan seorang artis bernama Rahayu Effendi. Menurut Soeharto, isu itu dihembuskan karena dirinya dianggap sebagai penghalang utama kegiatan politik para pembuat rumor tersebut. Untuk menekan lawan politiknya, Soeharto menebar ancaman. Dia memperingatkan, andaikata dirinya ditiadakan, maka akan muncul lebih banyak kekuatan yang akan memukul balik. “Bahwasanya, toh akhirnya akan timbul mungkin lebih daripada saya, warga negara, prajurit-prajurit anggota ABRI termasuk pula korps Koppasandha baret merah akan tetap menghalangi kehendak politik mereka itu,” tegas Soeharto. Dalam pidatonya, Soeharto sama sekali tidak menyebut nama-nama yang disebutnya sebagai “mereka”. “Tetapi siapapun maklum bahwa yang dimaksud pasti adalah perwira senior yang tidak senang dengannya,” tulis Atmadji Sumarkidjo dalam biografi Jenderal M. Jusuf: Panglima Para Prajurit.

  • Para Panglima Pendukung Orba

    BEBAS dari penjara, kondisi kesehatan mantan Panglima Kodam Siliwangi Letjen (purn.) H.R. Dharsono memburuk. Pak Ton –panggilan akrab Dharsono– jadi rentan penyakit. Sewaktu di penjara, paru-parunya terkena bronkitis yang disebabkan lembabnya ruang penjara. Melihat koleganya yang terbaring lemah, Letjen TNI (Purn.) M. Jasin datang menjenguk ke rumah Dharsono di Bandung. “Sin, kalau dapat memutar sejarah, sebenarnya saya ingin menarik dukungan tertulis kepada Soeharto yang ikut saya berikan tahun 1967, karena dukungan itu mencelakakan saya!” kata Dharsono kepada Jasin. Dharsono mengatakannya sambil menitikkan air mata. Perjumpaan itu dikenang Jasin dalam memoarnya, “Saya Tidak Pernah Minta Ampun Kepada Soeharto”. Jasin dan Dharsono larut dalam nostalgia masa lalu. Haru menyeruak saat keduanya mengenang memori ketika menjadi panglima di Jawa Barat dan Jawa Timur. Senada dengan Dharsono, Jasin pun ikut menyesal. Namun dia hanya bisa menyemangati Dharsono agar lekas sembuh. Tak lama setelah pertemuan itu, Dharsono meninggal pada 5 Juni 1996.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page