top of page

Hasil pencarian

9810 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kisah Nyai dalam Sastra

    TANPA dilatari percekcokan atau pertengkaran, Nyai Dasima, gundik lelaki Inggris bernama Edward Williams, pergi meninggalkan tuan dan anaknya. Bukan hanya itu, ia bahkan mau dijadikan istri kedua lelaki pribumi bernama Samioen. Guna-guna Samioen ternyata yang membuat Dasima melakukan itu semua. Samioen sebenarnya hanya mengincar harta Dasima. Tak heran bila dalam pernikahan ini Dasima mendapat perlakuan buruk dari mertua dan istri pertama Samioen. Dasima akhirnya meninggal. Kisah itu terdapat dalam prosa Nyai Dasima karya G. Francis tahun 1896. Ada banyak versi tentang Nyai Dasima, yang kisahnya bahkan menjadi folklore. Dalam cerita karya Francis, semua tokoh jahat merupakan pribumi muslim yang menyalahgunakan agama untuk memuaskan keserakahan mereka.

  • Sastrawan Peranakan yang Terlupakan

    SEPASANG bocah sekolah bikin perkara kecil. Pulang kemalaman naik sepeda tanpa lampu, kedua bocah itu, Willem Tan (Candra Eko Mawarid) dan Johan Liem (Randi Anggara), iseng mengelabui politie agent Indo-Belanda dan Bugis dengan memberi nama dan alamat palsu. Namun keisengan itu justru menimbulkan masalah besar. Tan Tjo Lat (Derry Oktami) sang wijkmeester alias “bek”: atau pejabat kepala kampung nan pongah dan congkak memanfaatkan perkara itu demi mendapatkan promosi menjadi kapitan Tionghoa, jabatan tertinggi yang bisa dipegang orang Tionghoa di masa kolonial. Si bek bikin rekayasa dan hoax dengan mengaku bahwa dia menangkap dua pemuda yang dimaksud. Alih-alih berhasil mengambil hati Komisaris Polisi De Stijf (Aryo Bimo), si bek malah kena tulah. Ternyata yang dibawa ke kantor polisi bukan tersangka yang sebenarnya. Alhasil, sang bek dibui.

  • Pemberontakan Terhadap Sastra India

    KISAH Panji terpahat pada dinding candi-candi Kerajaan Majapahit. Kemunculannya menunjukkan pemberontakan terhadap sumber-sumber bacaan India. Karsono H. Saputra, dosen Sastra Jawa Universitas Indonesia menjelaskan Kisah Panji berawal dari tradisi lisan yang muncul sebelum 1400 M. Kisah ini kian dapat panggung pada era akhir Majapahit. Setidaknya ia dijumpai dalam bentuk seni rupa, relief, arca dan seni pertunjukkan. “Beberapa candi punya relief Kisah Panji. Misalnya, Candi Gambyok, Candi Panataran, Candi Gajah Mungkur, Candi Yuddha, dan Candi Sakelir. Semuanya dibangun era Majapahit akhir,” ujar Karsono dalam acara seminar internasional Kisah Panji/Inao 2018 di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (10/7).

  • Sastra yang Dicap Anti-Islam

    Aku tak tahu Syariat Islam Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah Lebih cantik dari cadar dirimu Gerai tekukan rambutnya suci Sesuci kain pembungkus ujudmu Rasa ciptanya sangatlah beraneka Menyatu dengan kodrat alam sekitar Jari jemarinya berbau getah hutan Peluh tersentuh angin laut… Demikian Sukmawati Sukarnoputri berpuisi dalam acara 29 Tahun Anne Avantie di Indonesia Fashion Week 2018. Puisi berjudul “Ibu Indonesia” itu kini menuai kontroversi. Bait puisinya hingga akhir menyinggung syariat Islam. Dia dianggap tengah membandingkan azan dengan kidung Indonesia dan cadar dengan konde. Aliran protes datang dari kelompok-kelompok Islam. Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) menuntut putri sang Proklamator itu meminta maaf secara resmi. Ancaman melanjutkan hal ini ke pihak kepolisian pun digulirkan. Somasi atas dugaan penistaan agama juga dilayangkan.

  • Banten dalam Karya Sastra Eropa Klasik

    DI MASA lalu, Kesultanan Banten atau Bantam merupakan bandar internasional dengan komoditas utama lada. Bangsa-bangsa Eropa berlabuh untuk berniaga. Banten pun masyhur di kalangan orang-orang Eropa. Sampai-sampai ketenaran Banten menjadi bahan cerita dalam karya-karya sastra dan drama Eropa klasik. Claude Guillot dalam Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII, memuat lima karya sastra tersebut. Love for Love (1695) Drama Love for Love karya William Congreve (1670-1729) mengisahkan kehidupan pemuda, Valentin, dari keluarga terpandang. Ayahnya, Sir Sampson Legend, murka karena dia boros sehingga berhenti membiayainya.

  • Sastrawan Komunis Pimpin Pusat Kebudayaan

    SEMENJAK mengenal komunisme, Takeda Rintaro jarang masuk kelas meski sering muncul di kampus. Ketimbang mengikuti perkuliahan, mahasiswa jurusan Sastra Prancis Universitas Tokyo itu lebih aktif memimpin dan menghidupkan kelompok studi Marxist. Kala itu, tahun 1926, gerakan dan pemikiran komunisme berkembang pesat di Jepang. Aksi protes buruh dan tani yang sedang marak mendapat dukungan mahasiswa. Dua tahun berselang, pemuda kelahiran Osaka, 9 Mei 1904 itu, kian radikal. Selain memimpin gerakan mahasiswa, dia mulai terlibat mengorganisasi gerakan buruh. Di sela aktivitasnya di lapangan pergerakan, Takeda rajin menulis. Cerpennya dimuat sejumlah media. Karyanya memihak kaum buruh dan tani. Salah satu cerpennya yang terkenal, Nihon Sanmon Opera, mengkritik keras kesenjangan sosial dan getirnya kehidupan rakyat jelata. Karena karya-karyanya, nama Takeda popular dan dijuluki sastrawan proletar.

  • Dinamika Majalah Sastra di Indonesia (Bagian I)

    MAJALAH sastra Horison pernah menjadi kiblat dan barometer kesusasteraan Indonesia modern. Sejak didirikan oleh para sastrawan Angkatan ‘66, Horison tampil sebagai majalah sastra paling berpengaruh terutama pada periode awal Orde Baru. Sebagai majalah sastra terkemuka, Horison termasuk pula yang paling eksis hingga mencapai usia enam dekade (1966–2026). Namun, kritikus sastra Zen Hae mengatakan, penerbitan majalah sastra di Indonesia sejatinya sudah marak sejak masa pra-kemerdekaan. Horison sendiri baru terbit pada Juli 1966. Sementara itu, landasan majalah kesusastraan di Indonesia bisa ditarik dari periode kolonialisme. “Masa-masa ketika modernitas awal 1920-an melanda Hindia Belanda. Orang-orang bumiputra yang mendapatkan pendidikan sekolah Belanda, mereka membangun semacam budaya baru, tulisan baru, membawa pengaruh sastra Belanda ke dalam karakter sastra berbahasa Melayu saat itu,” kata Zen dalam diskusi “Yang Terbit, Yang Tenggelam: 60 Tahun Majalah Horison” di Balai Sastra H.B. Jassin, Jakarta pada Minggu, 10 Mei 2026. Menurut Zen, majalah sastra punya peran penting dalam merepresentasikan suasana zaman. Ia menjadi organ yang tumbuh secara terikat dengan satu masa atau satu generasi sastra. Para tokoh sastra seperti Mohammad Yamin, Sanusi Pane, dan Roestam Effendi adalah generasi pertama sastrawan Indonesia. Namun, mereka belum merasakan karyanya diterbitkan oleh majalah sastra. Katakanlah Yamin, yang puisi-puisinya diterbitkan dalam kalawarta yang bersifat kedaerahan seperti majalah Jong Sumatra, yang memiliki lembar sastra atau rubrik puisi. Diskusi publik “Yang Terbit, Yang Tenggelam: 60 Tahun Majalah Horison” di Balai Sastra H.B. Jassin, Jakarta pada Minggu, 10 Mei 2026. (Martin Sitompul/Historia.ID). Selain itu, tokoh-tokoh sastra generasi pertama seperti Toelis Sutan Sati, Mara Rusli, atau Abdul Moeis termasuk sehimpunan pengarang nasionalis yang buku-bukunya diterbitkan oleh Balai Pustaka. Selain menerbitkan buku sastra, Balai Pustaka juga menerbitkan majalah umum Pandji Poestaka yang memuat lembar puisi. Jadi, sastrawan generasi awal, selain di majalah-majalah yang bersifat kepemudaan atau kedaerahan, mereka juga menerbitkan karyanya di Pandji Poestaka. “Nah, generasi ini, meskipun tidak tumbuh dalam budaya majalah sastra, mereka sudah memulai suatu perkenalan baru dengan sastra modern. Generasi yang lebih mapan kemudian, adalah mereka yang kita sebut sebagai generasi Pujangga Baru. Pujangga Baru itu sebetulnya suatu generasi penulis yang awalnya tumbuh dari semacam sempalan dari penerbitan kolonial Balai Pustaka,” terang Zen. Para punggawa Pujangga Baru seperti Armin Pane dan Sutan Takdir Alisjahbana adalah sastrawan yang tidak puas dengan kultur penerbitan Balai Pustaka yang terlalu kolonialistik. Kelompok sastrawan Pujangga Baru dianggap pula sebagai angkatan peralihan dari sastra lama ke sastra modern di Indonesia. Pada Juli 1933, mereka kemudian menerbitkan majalah Poedjangga Baroe yang orientasinya sastra dan kebudayaan. Sejak itu, muncullah puisi-puisi kesohor sastrawan Pujangga Baru karya Sutan Takdir Alisjahbana, Rifai Ali, Jan Engelbert Tatengkeng, Amir Hamzah, dan lainnya. Menurut Eka Yulianti Bur, majalah Poedjangga Baroe bertujuan untuk membawa dan atau menyebarkan semangat baru dalam lapangan kesusastraan, kesenian, kebudayaan, dan sosial. Pada akhirnya tujuannya adalah terbentuknya persatuan bangsa. Kelihatan pada semboyan Pujangga Baru yang beberapa kali mengalami perubahan. Mulai dari berjuang untuk memajukan kesusastraan (1933); memberikan semangat baru dalam kesusastraan, seni, kebudayaan, dan soal masyarakat umum (1935); pembimbing dan semangat baru yang dinamis untuk membentuk kebudayaan baru, kebudayaan persatuan Indonesia (1936). “Pujangga Baru adalah satu-satunya majalah yang memuat karya sastra secara khusus pada waktu itu,” ulas Eka dalam bunga rampai Sejarah Sastra Indonesia. Majalah Poedjangga Baroe tampil dengan format sederhana. Bentuknya kecil seperti buku tulis. Wajar saja, pendirinya adalah sastrawan-sastrawan cekak tapi getol mengusung perubahan bersastra dari kolonialisme ke nasionalisme. Selama sembilan tahun berkiprah (1933–1942), Poedjangga Baroe menerbitkan sembilan puluh edisi, termasuk lebih dari tiga ratus puisi, lima drama, tiga antologi puisi, sebuah novel, berbilang esai, dan beberapa cerita pendek. Majalah Poedjangga Baroe. (Ensiklopedia Jakarta). Seturut terbitnya, majalah Poedjangga Baroe menjadi tempat berkumpul kaum budayawan, seniman, dan cendekiawan Indonesia pada masa itu. Susunan redaksinya didominasi oleh pengarang asal Sumatra. Nama-nama seperti Armin Pane, Sutan Takdir Alisjahbana, Mr. Sumanang, Mr. Amir Sjarifoeddin, Mr. S. Muh. Sjah, Dr. Ng. Poerbatjaraka, W.J.S. Poerwadarminta, H.B. Jassin menjadi jajaran penghuni redaksi. “Nama-nama itu silih berganti, kecuali Sutan Takdir Alisjahbana yang sampai pun masa sesudah perang ketika majalah itu diterbitkan kembali, tetap duduk memegang kemudi redaksi,” sebut sastrawan Ajip Rosidi dalam Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Secara bisnis, penerbitan majalah Pujangga Baru tak bisa dikatakan sukses. Tirasnya tak sampai seribu. Pentolannya bukannya tak berusaha. Sutan Takdir Alisjahbana, misalnya, sampai mencoba menyurati sejumlah kesultanan Melayu untuk mendukung penerbitan tersebut. Namun, tiada satu pun kesultanan yang merespons. Meskipun diterjang kesulitan finansial, majalah Poedjangga Baroe terbit dengan setia berkat pengorbanan dan keuletan Sutan Takdir Alisjahbana. Oplah tertingginya mencapai 500 eksemplar. Pelanggan setia yang membayar saban kali terbit sekitar 150 orang. Selain Takdir Alisjahbana, kerugian juga ditanggung oleh Armin Pane. Namun, yang terpenting menurut Zen, majalah Poedjangga Baroe menjadi wadah diskursus yang menggagas semacam polemik. Seperti misalnya, pada 1935, muncul perdebatan sastra dalam Poedjangga Baroe, yang menyoal konsep Indonesia baru. Polemik bahkan melibatkan para cendekiawan seperti Sanusi Pane, Poerbatjaraka, hingga dr. Amir. “Jadi itu sebuah situasi polemik yang pertama kali muncul dalam konteks budaya Indonesia,” tutur Zen. Dinamika sastra dan penerbitan majalah sastra di Indonesia sempat terhenti di masa pendudukan Jepang. Majalah Poedjangga Baroe dilarang terbit oleh Jepang karena dianggap kebarat-baratan. Hingga kemudian Chairil Anwar dan kawan-kawan sastrawannya yang lain menggebrak lewat angkatannya yang disebut Angkatan 45.*

  • Abang Ulama, Adik Pendeta

    ABDUL Wadud Karim Amrullah siap berangkat ke kantor Pacto Tour and Travel di Bali pada pagi 10 Juni 1981. Istrinya, Verra Ellen, ingin mengatakan sesuatu yang penting; dia sangat mencintai Wadud dan ingin bersama masuk surga bila telah meninggalkan dunia ini. Tetapi, kata Verra, “siapa saja yang tidak menerima dan mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, dia tidak akan masuk surga.” Wadud merasa terganggu. Dia tak jadi pergi ke kantor. Sambil menahan kekesalan, dia mengatakan, “sebagai orang muslim, saya mengakui dan menghormati Yesus Kristus. Jika orang Islam tidak mengakui dan menghormati Isa Almasih, dia bukan orang Islam yang baik.” “Orang Islam hanya mengakui Yesus sebagai nabi,” kata Verra, “sementara Alkitab mengatakan bahwa siapa yang tidak mengakui dan menerima Yesus Kristus sebagai Anak Allah dia tidak akan masuk kerajaan surga.”

  • Sengkarut Tawa dan Sendu dalam Memoir Seorang Guru

    SENYUM Alias (diperankan Danish Zamri) saat masuk kelas mendadak getir pagi itu. Untuk kesekian kalinya ia terlambat, membuat Cikgu Sunan (Rosyam Nor), wali kelas merangkap guru mata pelajaran bahasa Melayu, habis kesabaran. Seisi kelas 6 Gemilang langsung mencekam ketika Alias dipanggil ke muka kelas. Bersama kedua karibnya, Mat (Hafiy Altamis) dan Mihad (Baqir Jamalullail), Alias selama ini dicap trio murid bengal oleh Cikgu Sunan. Alias hampir saban hari datang terlambat dan dengan polosnya ia juga hampir selalu berhujah ia terlambat gegara kelakuan Chot, beruk peliharaannya. “Kali ini apa yang terjadi pada beruk kamu?” tegur Cikgu Sunan pada Alias di muka kelas. “Ooh, beruk. Beruk saya memanjat pohon...” Plak! Belum juga Alias selesai berhujah, telapak Cikgu Sunan sudah menghempas ke pipi dan telinga Alias. Para murid tercengang dalam hening. Alias memegangi telinganya yang memar seraya meringis menahan perih di telinga dan di hatinya sejurus ia dihukum berdiri di luar kelas.

  • The Steps: Semua Tinton Punya

    BAGI Kusdaryanto alias Tinton Soeprapto, menyalurkan hobi bukanlah hal sulit. Sedari muda, putra Mayor Jenderal Haji Drs. Soejatmo itu sudah tajir melintir. Dia punya penggilingan beras di Sukabumi, pabrik anyaman bambu di Tasikmalaya, penyewaan truk yang melintasi Jawa-Bali, dan bengkel kendaraan bermotor. Dia juga mengambil rumput laut dari daerah Jampang Kulon, Sukabumi dan mengekspornya ke Jepang. “Dunia” Tinton boleh dikata “sebatas” hobinya. Selain bisnis, hidupnya tak jauh dari balapan dan percintaan. Namun, belakangan Tinton punya hobi lain. Setelah melihat musik pop digemari banyak orang, terpikir oleh Tinton untuk membangun sebuah grup band. Maka tak sulit bagi Tinton untuk mewujudkannya. Selain punya banyak uang, Tinton punya kawan yang amat mungkin diajak kerjasama untuk mewujudkan keinginannya itu. Namanya Muhammad Ali Imron, yang berprofesi sebagai gitaris. Imron pernah bermain di band Deselina, band tempat drumer pertama God Bless Fuad Hassan (1942-1974) juga pernah jadi drumer.

  • Mitos dan Fakta Kolera di Aceh

    KONON penyakit kolera (ta’eun) yang membuat masyarakat Aceh kalang kabut adalah akibat ulah perang jen (jin). Jin kafir menyerang jin muslim dengan panah. Mereka berlindung di antara manusia tanpa membedakan muslim atau bukan. Akibatnya, banyak manusia terkena panah itu yang menyebabkan penyakit kolera. Mitos muasal kolera itu disebut dalam buku De Atjehers karya Snouck Hurgronje. Ia tinggal di Aceh dari 1857 hingga 1936. "Sebagaimana di Jawa," kata Snouck, "kekuatan-kekuatan gaib memainkan peran penting berkaitan dengan cacar dan kolera, meskipun konsepsi orang Aceh sangat berbeda rinciannya dengan konsepsi Jawa." Di balik mitos itu, ternyata epidemi kolera di Aceh berawal dari serangan Belanda yang bagi orang Aceh adalah perang sabil melawan kafir. "Terhadap Belanda, rakyat Aceh sudah bertekad sabil, menang atau syahid," tulis Mohammad Said dalam Aceh Sepanjang Abad Jilid 2.

  • Ketika Hantu Kolera Mengamuk di Tanah Batak

    ADA satu masa penyakit misterius melanda Tanah Batak. Ratusan ribu nyawa melayang karena penyakit ini mewabah begitu cepat dan ganas. Orang-orang Batak menyebut penyakit ini dengan nama Begu Attuk. Mengapa disebut Begu Attuk? Secara harfiah, Begu artinya hantu sedangkan Attuk berarti memukul. Maka jika diterjemahkan Begu Attuk sama dengan hantu yang terus-menerus memukul. Gejalanya adalah muntah-muntah dan buang air besar yang hebat. Mereka yang mengalami penyakit ini mengalami derita kesakitan seperti dipukul pada bagian perut. Dalam Masyarakat dan Hukum Adat Batak, J.C. Vergouwen, ahli hukum adat kebangsaan Belanda yang pernah betugas di Tapanuli pada 1927-1930, menyebut bahwa Begu Attuk adalah sebutan orang Batak untuk penyakit kolera. Setiap tahun menjelang musim kering, tetua adat yang disebut datu kerap kali memimpin upacara kurban penolak bala akibat wabah Begu Attuk. Namun sejak kapan penyakit ini menjadi momok yang menakutkan bagi orang-orang Batak?

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page