Hasil pencarian
9817 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kegagalan Sekutu dalam Pengadilan Tokyo
PADA 6 dan 9 Agustus 1945, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nakasaki. Tak lama, Sekutu menduduki Jepang dan dokumen penyerahan Jepang ditandatangani di atas kapal tempur Amerika Serikat, USS Missouri. Untuk menghukum penjahat perang Jepang, Sekutu menggelar Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh di Tokyo –lebih dikenal sebagai Pengadilan Perang Tokyo atau Pengadilan Tokyo– pada 29 April 1946 hingga 12 November 1948. Sebanyak 28 pemimpin militer dan politik Jepang dituntut melakukan kejahatan kelas A (kejahatan terhadap perdamaian) dan lebih dari 300.000 orang Jepang dituntut atas kejahatan kelas B dan kelas C –masing-masing untuk kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
- Pengadilan untuk Nona dan Nyonya Belanda
SETELAH kekalahan Jepang, pada awal Januari 1946, Letjen Sir Philip Christison, panglima Sekutu, memutuskan untuk menggelar pengadilan militer terhadap penjahat perang Jepang. “Pengadilan militer yang akan dibentuk itu ialah pengadilan Belanda, karena Belandalah yang menjadi negara yang berdaulat di Indonesia. Oleh karena itu tidaklah sah didirikan pengadilan militer Inggris,” tulis Soeloeh Merdeka, 4 Januari 1946. Untuk konkretnya, dalam pertemuan di Singapura, Belanda dan Inggris membuat kesepakatan. Isi kesepakatan, perkara-perkara mahapenting akan diperiksa pengadilan Inggris. Selebihnya, tergantung perkaranya; jika mengenai kepentingan Inggris, pengadilan Inggris akan memeriksanya, dan kalau mengenai kepentingan Belanda, pengadilan Belanda yang akan memeriksanya. “Jika pengadilan Inggris akan memeriksa suatu perkara yang mengenai kepentingan kedua pihak, yaitu Inggris-Belanda, maka dua utusan Belanda akan didudukkan di majelis pengadilan Inggris dan sebaliknya,” tulis Penjoeloeh, 10 Januari 1946.
- Kisah Hewan Peliharaan Sukarno dan Hatta
SEORANG petugas keamanan Plaza Indonesia tersorot kamera netizen ketika sedang memukul anjing pelacak yang berjalan bersamanya. Rekaman itu viral seketika dan menuai kecaman dari aktivis pecinta hewan. Presenter acara gosip Robby Purba pun ikut-ikutan menghujat di media sosialnya. Dari sudut pandang kamera CCTV mall, anjing pelacak itu justru terlihat sedang menerkam anak kucing. Itulah sebabnya, petugas keamanan yang diketahui bernama Nasarius itu memukul anjing pelacak guna mengoreksi agresivitasnya. Tapi, karena rekaman video itu sudah menyebar ke mana-mana, Nasarius ketiban apesnya. Satpam malang itu harus kehilangan pekerjaan alias dipecat lantaran pihak manajemen mall memutus kontraknya secara sepihak. Padahal, Nasarius hendak menyelamatkan baik anjing pelacak maupun anak kucing yang diterkam. “Saya sebagai pribadi minta maaf. Maafkan saya. Dia itu anjing saya. Saya pukul dia karena terpaksa, supaya dia berhenti terkam anak kucing. Saya sayang dia. Dia anjing saya,” kata Nasarius seraya terisak dalam video klarifikasinya.
- Presiden Sukarno Memberangkatkan Timnas Indonesia
PARA pemain Timnas Indonesia di bawah asuhan pelatih anyar Patrick Kluivert bertolak ke Sydney, Australia kemarin (16/3). Keberangkatan ke "Negeri Kanguru" itu dalam rangka pertandingan lanjutan kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia. Dengan penuh harapan, Ketua Umum PSSI yang juga Menteri BUMN Erick Thohir melepas langsung keberangkatan Timnas Indonesia. “Selamat berjuang Timnas Indonesia yang malam ini berangkat ke Australia. Mohon doa dan dukungan seluruh masyarakat Indonesia agar Timnas bisa memberikan yang terbaik,” kata Erick Thohir dikutip dari akun Instagram-nya. Dalam pertandingan yang bakal digelar hari Kamis (20/3) nanti, Timnas Indonesia dituntut menang atas kesebelasan tuan tumah Australia. Saat ini, Indonesia berada di posisi ke-3 klasmen sementara Grup C kualifikasi Piala Dunia Zona Asia. Sementara, Austrlia berada di urutan kedua dengan selisih satu poin saja dengan Indonesia. Kemenangan atas Australia bakal memperbesar asa Timnas Indonesia untuk lolos ke putaran final Piala Dunia sekaligus untuk pertama kalinya dalam sejarah. Itulah sebabnya harapan publik membubung tinggi terhadap skuad Garuda, julukan Timnas Indonesia.
- Sukarno: Juara Dunia Tak Boleh Jadi Pegawai dan Berdagang!
BURUKNYA reputasi para pengusaha Indonesia yang mengekspor hasil bumi membuat banyak perusahaan Belanda menghentikan impor komoditas itu dari Indonesia. Mereka kesal, banyak barang yang diimpor ternyata isinya berkualitas buruk, beberapa bahkan berisi sampah. Kondisi yang terjadi pada tahun 1964 itu membuat Ibrahim Tambunan alias Bram Tambunan, pengusaha berjuluk “Raja Ban”, prihatin. Sebagai bentuk kepeduliannya, dia lalu menemui Presiden Sukarno. “Mereka tiba pada kesimpulan bahwa kita harus mempunyai kantor di Belanda dan berbadan hukum Belanda. Kantor inilah yang akan mengimpor hasil bumi dari Indonesia,” catat Kwik Kian Gie dalam Menelusuri Zaman.
- Oplet, Moyang Angkot di Indonesia
SEBUAH oplet berwarna biru dengan sedikit garis hitam memanjang di bagian kap mesin mendekam di ingatan banyak orang Indonesia. Oplet ini muncul di sinetron laris berjudul Si Doel Anak Sekolahan pada dekade 1990-an. Umurnya telah lanjut. Hampir setua dengan pemiliknya di sinetron. Benyamin Sueb, aktor kawakan, berperan sebagai pemilik oplet di sinetron Si Doel Anak Sekolahan. Dalam suatu episode, dia pernah bilang bahwa opletnya berasal dari zaman Jepang. “Ini oplet dari zaman Jepang belum pernah ditubruk. Kalau nubruk, emang sering,” begitu katanya dengan nada kocak. Celetukan Benyamin ada benarnya sekaligus ada pula salahnya. Oplet Si Doel memang berusia tua. Tapi tidak berasal dari zaman Jepang. Oplet itu buatan pabrik mobil Morris asal Inggris. Ia bertipe Morris Minor Traveler 100 keluaran 1950-an. “Oplet model begini masuk ke Jakarta pada 1960-an,” kata Ahmad Mathar Kamal, penulis buku Colek Cemplung Cerita yang Tercecer dari Tanah Betawi.
- Mengatasi Kisruh Taksi
RIBUAN sopir taksi konvensional dan angkutan umum menggelar unjuk rasa besar-besaran di Jakarta. Mereka menuntut pemerintah menutup layanan angkutan berbasis daring (online) dengan alasan “liar” alias ilegal karena tak memenuhi regulasi transportasi. Unjuk rasa serupa digelar di beberapa daerah. Danang Parikesit, guru besar transportasi Universitas Gadjah Mada yang juga ketua Masyarakat Transportasi Indonesia, melihat adanya kompetisi yang hilang. Layanan baru berbasis daring seolah dipaksakan ikut dalam regulasi yang sudah ada. “Ini beda struktur, tarif; model bisnisnya juga beda,” ujarnya kepada Historia.ID. Taksi berpelat kuning memang lebih terkena beban biaya akibat regulasi pemerintah. Dari seragam supir, database supir, sertifikasi supir, pangkalan taksi, pemeliharaan, uji layak kendaraan (KIR), hingga kewajiban pajak. Ini pula yang jadi alasan tarifnya menjadi lebih mahal dibandingkan “taksi” berpelat hitam.
- Arief Sopir Sukarno
DI LUAR politisi, tokoh pergerakan dan pengusaha, mungkin hanya Arief orang terdekat Presiden Sukarno. Sebagai sopir pribadi Sukarno, Arief terlihat tidak pernah merasa canggung jika berhadapan dengan sang presiden, dalam situasi apapun. Kedekatan itu terlihat nyata jika keduanya sedang terlibat suatu pembicaraan. “Saya sendiri belum pernah melihat Bung Karno marah kepada Pak Arief,” ujar Mangil Martowidjojo, pengawal Sukarno sejak 1945. Dalam Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967, Mangil berkisah, pada akhir 1945, Sukarno mengunjungi Garut dan berpidato di Lapangan Cisurupan. Begitu selesai, Sukarno langsung menaiki mobilnya, namun tetiba turun kembali karena Arief belum ada di belakang setir. Dia lantas menyuruh beberapa ajudannya untuk mencari Arief.
- Cerita Para Bintang Telenovela di Indonesia
ANDITYA Restu Aji masih ingat kejadian seperempat abad silam. Siang itu, sang ibu menjemputnya sepulang sekolah di SD Marsudirini, Yogyakarta. Rencana pulang ke rumah mendadak berubah setelah salah satu orang tua murid, teman Anditya, mengajak ibunya ke alun-alun. “Mbak, ayo ke depan Kantor Pos dan BNI (Titik 0 KM Jogja). Paulina sedang diarak menuju Alun-Alun Lor (Alun-Alun Utara)!” ajaknya kepada ibu Anditya penuh antusias seperti dikisahkan ulang Anditya (35) kepada Historia.ID. Masyarakat Yogyakarta berduyun-duyun datang ke alun-alun pada hari itu. Mereka ingin menyaksikan Gabriela “Gaby” Spanic. Nama Gaby melejit di tengah publik Indonesia setelah sukses membintangi telenovela Meksiko La Usurpadora (Cinta Paulina) yang tayang di TPI pada 1999.
- Nona Manis Jagoan Bulutangkis
HINGGA kini, predikat “Ratu Bulutangkis Indonesia” masih milik Susi Susanti. Kendati segudang prestasi sudah ditorehkan bintang-bintang putri Indonesia mulai Imelda Gunawan, Verawaty Fajrin, Ivanna Lie, Sarwendah, hingga Mia Audina Susi punya prestasi yang tak dimiliki bintang lain: medali emas Olimpiade. Susi bahkan menjadi pebulutangkis putri pertama di dunia yang merebutnya. Namun, teladan dari semua teladan pebulutangkis putri Indonesia merujuk pada satu nama: Minarni Soedarjanto. Soal skill dan prestasi, Minarni bisa bandingkan dengan bintang lain, tapi soal asam garam pengalaman hingga kecakapan berorganisasi, Minarni sulit dicari tandingannya. Lembaran sejarah karier bulutangkis Minarni dimulai sedari masa remajanya. Ensiklopedi Indonesia mencatat, legenda kelahiran Pasuruan, Jawa Timur pada 10 Mei 1944 itu mulai berbulutangkis sejak usia 13 tahun sebagai pemain tunggal.
- Uber Cup, Lambang Supremasi Bulutangkis Putri
GENAP 22 tahun Indonesia puasa gelar Uber Cup. Empat tahun berturut-turut para srikandi raket tanah air selalu kandas di perempat final. Terakhir, pil pahit mesti ditelan Greysia Polii cs. di Bangkok, Thailand, 21-26 Mei 2018, lantaran keok 2-3 dari tuan rumah di delapan besar. “Di atas kertas, Thailand masih di atas kita baik dari seeded dan ranking. Saat sempat unggul di atas angin, justru terbeban. Tertekan, main enggak lepas dan tegang. Faktor tuan rumah juga membuat lawan lebih percaya diri. Ini memang sudah sesuai target dan prediksi, paling tidak kita lolos delapan besar,” kata Susi Susanti, manajer tim, disitir situs resmi PBSI, 24 Mei 2018. Pencapaian itu jelas menunjukkan kemunduran prestasi bulutangkis putri Indonesia. Delapan besar dianggap sudah memenuhi target. Tak heran bila perkembangan bulutangkis putri Indonesia tertinggal dari Thailand yang masih se-lichting JKT 48.
- Utami, Srikandi Bulutangkis Putri
SETIDAKNYA ada lima wakil Indonesia yang masuk nominasi BWF Player of the Year 2018, sebuah penghargaan yang diberikan kepada para pebulutangkis jempolan dunia saban akhir tahun. Tiga di antaranya pebulutangkis putri. Ini menandakan Indonesia belum kehabisan talenta di nomor putri kendati harus diakui belakangan sulit menyandingkan diri dengan China, Korea, India, Jepang, bahkan Denmark. Tiga nama itu adalah Gregoria Mariska Tunjung dan Apriani Rahayu di kategori Eddy Choong Most Promising Player of the Year, dan Leani Ratri Oktila di kategori Female Para-badminton Player of the Year. Tentu ada harapan nama-nama itu akan menyambung kelegendaan putri-putri Indonesia di panggung bulutangkis dunia. Pebulutangkis putri Indonesia sudah lama absen “bicara” di pentas dunia. Terakhir, era Susi Susanti dan Mia Audina yang sudah lebih dari 20 tahun. Keduanya merupakan pemegang tongkat estafet yang sudah dimulai sejak akhir 1960-an oleh Minarni Soedarjanto, Imelda Wiguno, Theresia Widiastuti, Regina Masli, dan Utami Dewi Kurniawan.





















