top of page

Hasil pencarian

9737 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Menziarahi Raja Ali Haji

    USAI bermalam menunggu jadwal sandar, pada Jumat pagi, 5 Juli 2024, KRI Dewaruci  mulai mendekati dermaga Lantamal Tanjung Uban, Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Ketika dermaga makin dekat, Kelasi Dua Robi Nugraha melemparkan tali kecil ke arah dermaga sehingga kapal bisa ditambatkan ke dermaga. Kapal pun kemudian bisa merapat dengan sempurna di dermaga. Setelah disambut dengan pemberian kerudung dan tanjak (ikat kepala khas Melayu), komandan Dewaruci dan para peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah (MBJR) disuguhi musik dan tari rakyat Melayu nan enerjik dan gembira di gedung serbaguna Kompleks Lantamal. Setelahnya, para peserta MBJR naik bus menuju Tanjung Pinang. Perjalanan Tanjung Uban-Tanjung Pinang memakan waktu sekitar satu jam dengan menyusuri pesisir barat Pulau Bintan. Sesampai di Tanjung Pinang, para peserta MBJR naik kapal kecil yang disebut Kepompong. Tujuannya adalah Pulau Penyengat, yang berjarak sekira 1,5 km dari Pulau Bintan. Perjalanan laut ini memakan waktu 15 menit saja.

  • Bisnis Candu Kompeni Belanda

    PEKERJAAN rumah besar menanti Gustaaf Willem van Imhoff (1705-1750) kala dirinya ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal VOC (Kongsi Dagang Hindia Timur) di Batavia pada 1743. Van Imhoff dituntut melakukan reformasi ekonomi oleh Heeren XVII , dewan direksi pemegang saham terbesar VOC. Saat itu, efek huru-hara di Batavia yang berujung pembantaian 10.000 orang Tionghoa membuat perekonomian Batavia pincang. Profit dagang intra-Asia VOC stagnan. Rempah-rempah VOC tidak lagi menjadi primadona setelah komoditas baru seperti tekstil India, teh Cina, dan kopi Arab mulai masuk pasaran.

  • Ngalap Berkah Kala Ziarah

    HARI Raya Idul Fitri atau lebaran tak hanya kental dengan tradisi silaturahim dengan tetangga, keluarga, kerabat, dan sahabat. Di beberapa daerah, di masa lebaran juga kental dengan tradisi ziarah ke makam keluarga, leluhur, maupun makam orang-orang besar yang dikeramatkan demi minta berkah. Menurut sejarawan Johan Wahyudhi dalam program Dialog Sejarah bertajuk “Kisah di Balik Budaya Ziarah Makam Keramat di Jakarta” di kanal Youtube Historia.ID , 28 Februari 2026, tradisi itu sudah eksis di Nusantara sejak era pra-Hindu. Ziarah kubur sudah dipraktikkan masyarakat pra-Islam sejak zaman purba hingga masa Hindu-Buddha “Tradisi mengunjungi (makam) orang suci kalau kita runut sudah ada sejak zaman purbakala, di mana misalnya kita melihat peninggalan-peninggalan seperti punden berundak. Kemudian kenapa makam-makam atau tempat-tempat yang dikeramatkan selalu berhubungan dengan posisi yang ada di atas secara geografis, di gunung atau di lereng bukit dan lain-lain, karena memang ada semacam aura positif ketika seseorang itu dekat ke tempat-tempat yang di atas yang dianggap suc. Maka itu menentramkan batin. Kemudian menyambungkan secara spiritual dengan para leluhur,” ujarnya. Di zaman Majapahit yang bercorak Hindu-Buddha, contohnya. Dalam kakawin Nagarakretagama diceritakan Raja Hayam Wuruk sampai enam kali berperjalanan ke Pajang, Lasem, Lodaya, Lumajang, Tirib Sompur, Palah Blitar, dan Simping kurun 1353-1363 Masehi. Dalam rangkaian perjalanan itu, ia menyertainya dengan ziarah ke makam-makam orang-orang besar, salah satunya ke patung Siwa Buddha yang jadi perwujudan Raja Kertanagara di Singhasari. Pun di Candi Singhasari, Hayam Wuruk mempersembahkan sesaji-sesaji berupa harta, makanan, dan bunga sebagai dharma bagi leluhurnya, Sri Rajasa. “Dan ketika Islam datang, tradisi itu kemudian bergeser ke arah yang berbau Islami dengan adanya doa-doa seperti tahlil, tahmid dan lain-lain,” lanjut Johan yang juga pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Bagi umat Islam sendiri, ziarah mulanya dilarang Nabi Muhammad SAW. Baru kemudian ziarah diperbolehkan. Fungsinya menurut sebuah hadist adalah agar umat Islam ingat pada mati dan akhirat. Hanya saja di Indonesia dan khususnya di Jakarta, ziarah kubur atau tabarruk yang populer disebut “ngalap berkah”, terkadang ditempuh dengan jalan keliru. Bukan untuk mengingat kehidupan setelah kematian tapi malah “menyembah” demi meminta hal-hal duniawi yang cenderung kepada perbuatan syirik. “Di Jakarta ada beberapa makam-makam yang hingga kini masih menjadi magnet umat Islam untuk ngalap berkah, mendapatkan semacam pencerahan rohani yang mana pencerahan itu kadang-kadang tidak bisa mereka dapatkan hanya mengandalkan ibadah rutin. Ada nuansa batin tersendiri kalau kita sering ziarah karena di situ kita bisa napak tilas sehingga sepertinya masyarakat masih membutuhkan itu untuk menciptakan gairah spiritual baru yang kemudian itu berdampak positif bagi kehidupan mereka,” tambahnya. Sejarawan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Johan Wahyudhi ( Historia.ID ) Makam Pangeran Jayakarta hingga Mufti Betawi Di Jakarta ada beberapa situs makam yang dianggap keramat dan biasa dijadikan tempat “ngalap berkah”. Di antaranya makam Pangeran Achmad Jayakarta di Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Tokoh yang dihormati tersebut merupakan penguasa Jayakarta sebelum kedatangan Belanda. “Dia semasa hidup sebagai penguasa Jayakarta yang menggerakkan perekonomian, kemudian mendorong adanya budaya pesisir Jakarta yang juga sangat kuat itu prakolonial. Sekitar tiga bulan lalu saya ke sana memperhatikan, memang maksud orang macam-macam. Ada yang meminta sesuatu, ada yang dia bawa wewangian sendiri, bawa dupa sendiri dari rumah, dan dia berzikir dengan khusyuk. Ada yang hanya duduk membaca tahlil, membuka Al-Quran,” imbuh Johan. “Jadi gaya orang berziarah itu macam-macam dan mereka menghormati karena kebesarannya. Kekeramatannya mungkin masih kita bisa perdebatkanlah. Tapi yang tidak bisa kita nafikan itu adalah pengaruh besar di masanya. Pangeran Jayakarta sebagai penguasa sebelum kolonial yang punya pengaruh besar yang juga sangat dihormati oleh penguasa Banten ataupun penguasa Cirebon.” Situs lain yang juga banyak diziarahi adalah Masjid Jami Keramat Luar Batang yang terdapat makam Habib Busain bin Abu Bakar Alaydrus alias Habib Luar Batang. Sosok tersebut adalah pendiri surau pada 1739 yang diubah jadi masjid pada 1827 itu. Letaknya di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara. “Masjid ini pada awalnya sama saja dengan masjid-masjid di Betawi pada umumnya. Masjid Luar Batang menjadi terkenal karena di halaman masjid itu dimakamkan Sayid Husein bin Abubakar bin Abdillah Alaydrus yang tutup usia pada 24 Juni 1756. Sejak dimakamkannya di sana, masjid tersebut menjadi banyak disinggahi orang untuk berziarah. Dan bahkan di antaranya tak jarang yang bermalam di sana sampai 7 hari,” kata buku Ziarah Masjid dan Makam terbitan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2006. Johan punya pengalaman pribadi. Sewaktu remaja dan menjelang ujian nasional, ayahnya membawanya untuk ziarah ke masjid dan makam Habib Luar Batang. Di sana, ayahnya mengajaknya untuk berzikir, membaca tahlil, dan surat Yasin. “Tapi lambat laun ketika saya ke sana lagi, kemudian saya melihat apa sih sebenarnya yang dicari orang-orang ini? Ternyata memang luar biasa sekali ya. Orang mendapat pencerahan, bahkan banyak yang merasa hajatnya itu terkabul ketika sudah berkunjung ke Luar Batang,” urai Johan. Makam pemuka Islam keturunan Arab yang juga sering diziarahi adalah makam Habib Utsman bin Yahya yang kondang dikenal sebagai Mufti Betawi. Lokasinya berada di kompleks Masjid Abidin, Pondok Bambu, Jakarta Timur. “Dahulu Habib Utsman ‘dilabeli’ –yang masih diperdebatkan– sebagai ulama yang dekat dengan kepentingan kolonial. Tapi orang-orang Arab punya strategi tersendiri, di antaranya Habib Utsman menyediakan karya-karyanya dicetak dengan stensilan yang murah agar bisa dimanfaatkan dan disebaruaskan. Ini saya kira yang masih perlu kita bicarakan lebih jauh ya tentang keterlibatan Habib Utsman dalam mendorong literasi Islam di Batavia dan sekitarnya,” tandasnya.

  • 27 Maret 1968: Wilhelmus Zakaria Johannes Menjadi Pahlawan Nasional

    HARI ini dalam sejarah, 27 Maret 1968, Prof. dr. Wilhelmus Zakaria Johannes ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden No. 06/TK/1968. Wilhelmus Zakaria Johannes lahir di Termanu, Rote, Nusa Tenggara Timur pada 16 Juli 1895. Dia sepupu Prof. Dr. Ir. Herman Johannes (pejuang, ilmuwan, guru besar dan rektor UGM) dan paman dari Helmi Johannes (presenter berita dan produser eksekutif VOA Indonesia). Herman Johannes ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2009. WZ Johannes lulus dari School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) atau Sekolah Dokter Bumiputra pada 1920. Setahun kemudian dia menjadi dosen di Nederlandsch-Indische Artsen School (NIAS) atau Sekolah Dokter Hindia Belanda di Surabaya. Setelah itu, pada 1930 dia bertugas di rumah sakit Muara Aman Bengkulu, Kayu Agung Sumatra Selatan, dan Palembang. WZ Johannes kembali ke Batavia dan diangkat sebagai asisten dokter B.K. van der Plaats, guru besar radiologi, di Centrale Burgelijke Ziekenhuis (kini RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo). Pada 1935, dia dipindahkan ke Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting Semarang (kini RSUP Dr. Kariadi) dan berperan dalam pengembangan radiologi di sana. Gambar terakhir Wilhelmus Zakaria Johannes. (Perpusnas RI). Setelah mengabdi setahun di Semarang, WZ Johannes kembali ke CBZ Batavia dan sejak itu dikenal sebagai ahli radiologi pertama Indonesia. Pada 1939, dia diangkat sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat) mewakili Keresidenan Timor. Sebenarnya, dokter Indonesia pertama yang mengaplikasikan pemeriksaan radiologi di Rumah Sakit Semarang dan Surabaya adalah Notokworo. Namun, dokter Indonesia pertama yang mendapat ijazah roentgenoloog  (ahli radiologi) adalah WZ Johannes. Pada masa pendudukan Jepang, WZ Johannes mendirikan Badan Persiapan Persatuan Kristen (BPPK) bersama Dr. Sam Ratulangi, dr. Sitanala, dan lain-lain. Dia berkali-kali diancam ditembak tentara Belanda karena mengibarkan bendera Merah Putih di depan rumahnya. Dalam bidang politik, pada 1950 dia pernah menjadi Ketua Umum pertama Partai Kristen Indonesia (Parkindo). WZ Johannes berjasa dalam mengembangkan radiologi di Indonesia. Guru besar radiologi pertama di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini merintis Sekolah Asisten Roentgen (kini Akademi Penata Roentgen) pada 1946 dan Ikatan Ahli Radiologi Indonesia (kini Perhimpunan Dokter Spesialis Radiologi Indonesia) pada 1952. WZ Johannes pernah menjabat Rektor Universitas Indonesia pada Maret 1952, namun hanya enam bulan karena meninggal dunia di Belanda pada 4 September 1952. Jenazahnya dimakamkan di Indonesia.*

  • A.A. Maramis, Pejabat Republik Urusan Candu

    JIKA ada pejabat negara yang menjadi Menteri Keuangan Republik Indonesia berkali-kali, maka orang itu ialah Alexander Andries Maramis. Tokoh asal Minahasa tersebut menjabat sebagai bendahara negara sejak 25 September 1945 pada Kabinet Presidensial I. Maramis memangku lagi jabatan itu pada Kabinet Amir Sjarifuddin I (1947), II (1947), dan Kabinet Hatta (1948). Jadi, Maramis menjabat sebagai menteri keuangan sebanyak empat kali. “Dalam jabatan tersebut, Alex Maramis menandatangani uang RI yang pertama. Uang tersebut adalah Oeang Repoeblik Indonesia, yang lebih terkenal dengan ORI,” kata Fendy E.W. Parengkuan dalam biografi A.A. Maramis, SH  yang diterbitkan Depdikbud pada 1982. Selain memprakarsai pencetakan ORI, Maramis bertugas mencari dana untuk membiayai angkatan perang Indonesia. Ketika itu, Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan menghadapi Belanda yang menjajah kembali. Sebagai menteri keuangan (menkeu), Maramis mesti mengupayakan sendi-sendi keuangan negara mampu berjalan dengan baik.

  • Banjir Darah di Puri Smarapura

    SATU dari 472 artefak asal Indonesia yang direpatriasi dari Belanda tahun ini adalah keris pusaka Klungkung. Meski belum bisa dipastikan secara detail siapa pemiliknya, keris yang bilahnya berbahan nikel dan gagangnya bertabur batu permata serta berlapis emas itu sangat kental menggambarkan keris milik seorang bangsawan Kerajaan Klungkung yang dijarah Belanda dari Puri Smarapura semasa Puputan Klungkung 1908. “Yang kembali [tahun] ini 472 objek dari empat koleksi berbeda. [Salah satunya] keris dari Klungkung. Tahun 1908 Belanda menyerbu Klungkung, terjadi puputan. Ini kerisnya dibawa ke sana [Belanda],” ujar Dirjen Kebudayaan RI Hilmar Farid dalam siniar bertajuk “Belanda Kembalikan Ratusan Benda Pusaka tapi Tak Ada Ganti Rugi Korban Westerling” di akun Youtube Akbar Faizal Uncensored, 17 Juli 2023. Sebagaimana jarahan Belanda yang lain, keris yang disimpan Belanda selama 115 tahun itupun “berlumuran darah”. Ia jadi saksi bisu Puputan Klungkung yang menewaskan ribuan nyawa, termasuk penguasa Kerajaan Klungkung Dewa Agung Jambe II.

  • Bisnis Haram Kaum Republik

    TAHUN 1948, Letnan Muda Sho Bun Seng adalah anggota telik sandi TNI (Tentara Nasional Indonesia) dari unit Singa Pasar Usang di Padang, Sumatera Barat. Selain memata-matai posisi musuh, Sho juga dikenal sebagai piawai dalam urusan penyelundupan, terutama menyelundupkan candu. “Barang-barang haram itu kami jual dengan harga tinggi di Singapura lalu hasilnya dibelikan senjata dan amunisi,” kenangnya. Selama berlangsung Agresi Militer Belanda II di Sumatera Barat, Sho mengaku aktif ”berniaga” candu. Barang-barang itu didapat rata-rata dari rekan-rekannya sesama gerilyawan seperti Letnan Kolonel Abdul Halim melalui Kompi Bakapak dan Letnan Samik Ibrahim dari Kesatuan Hizbullah.

  • Candu untuk Revolusi Indonesia

    PERJALANAN kereta api Surakarta-Yogyakarta itu berlangsung lancar. Tak ada gangguan berarti sepanjang rute kecuali para pengungsi yang kadang nekat menyetop kereta api di tengah jalan. Sebelum masuk kota Yogyakarta, tetiba kereta api berhenti di Stasiun Lempuyangan. Letnan Satu Anom (bukan nama sebenarnya) dari Brigade III Kiansantang Divisi Siliwangi lantas turun dan memerintahkan anak buahnya membongkar muatan berupa peti-peti besar. Di dalam stasiun, penjagaan begitu ketat dilakukan oleh pasukan penjemput yang berjumlah satu kompi (sekira 100 orang). Setelah berbicara sebentar dengan Anom dan memperlihatkan surat perintah, tanpa banyak cakap lagi, seorang kapten menyuruh sebagian anak buahnya membawa peti-peti itu ke atas truk yang sudah siap sedia di halaman stasiun. Sebagian lagi nampak masih mempertahankan posisi siaga.

  • Kuntilanak dan Pontianak

    JAUH sebelum Suzzanna dikenal karena aktingnya sebagai kuntilanak dalam film-film horornya, kota Pontianak sudah lama diidentikkan dengan kuntilanak. Pontianak bahkan dianggap sebagai nama lain dari kuntilanak. Kuntilanak adalah hantu yang dipercaya berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia. Hantu semacam ini tak hanya dipercaya di Kalimantan Barat ataupun Jawa, di Thailand pun juga. Di Pontianak, kisah tentang kaitan kuntilanak dan nama kota itu dimulai oleh cerita rakyat ( folklore ) yang mengisahkan tentang Sultan Syarif Abdurahman bin Husin Alkadrie (1729-1807)  sang pendiri Kesultanan Pontianak. Dalam cerita rakyat dikisahkan, Sultan Syarif Abdurrachman suatu ketika hendak membuka sebuah negeri di Kalimantan Barat. Ketika dia memulai pendirian daerah itu, konon pontianak (kuntilanak) datang untuk mengganggunya.

  • Belajar dari Dostoevsky

    FYODOR Mikhailovich Dostoevsky tengah berbincang dengan saudara perempuan dari istrinya, Anna Grigorievna, yang baru dinikahinya. Tiba-tiba wajahnya berubah pucat. Tubuhnya merosot dari permukaan sofa dan bersender lunglai pada sisi tubuh istrinya. “Tiba-tiba kami mendengar suara tangisan penuh ketakutan, sebuah tangisan tanpa titik kemanusiaan di dalamnya –hampir menyerupai raungan. Tubuh lunglai suami saya semakin tersender pada saya,” tulis Anna, stenograf yang dinikahi Dostoevsky tahun 1867 setelah kematian istri pertama, dalam Anna Dostoevskaya’s Diary in 1867  (1923). Dostoevsky, penulis besar kelahiran Rusia, mengalami serangan epilepsi dan dia tak menutupi kenyataan. Bahkan, dia mencatat rapi berbagai detail serangan epilepsi yang dialaminya dalam buku harian.

  • Breaking the Stigma of Epilepsy

    IT was almost five o'clock in the morning. Ahmad Sururi, a student at the Vocational School of Pharmacy, woke up and rushed to ablution. The prayer mat was spread out, and he began to pray. When he prostrated, then rose for the second rakat, his eyes widened. His body suddenly felt light, and in seconds, he lost consciousness. Ahmad fell down and fainted for a few minutes. Once he woke up, he stood up and got ready for school, completely forgetting that he was in the middle of praying. At school, Ahmad had many activities which often made him exhausted. His mind was drained, and he fainted several times. Typical fatigue, Ahmad thought. However, his condition worsened over time and it interfered with his activities. He finally went to the hospital, and the doctor diagnosed him with epilepsy symptoms. Knowing Ahmad had epilepsy, his family became protective and forbade him from participating in many activities. Friends began to rarely invite him to activities. Upset by the different treatment, Ahmad was determined to prove that people with epilepsy could undertake normal activities.

  • Beraksi Mengatasi Epilepsi

    HAMPIR pukul lima pagi. Ahmad Sururi, seorang siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Farmasi, bangun dan bergegas wudu. Sajadah terhampar. Dia mulai salat. Ketika sujud, lalu bangkit masuk rakaat kedua, pandangannya melamur. Tubuhnya terasa ringan. Kesadarannya hilang. Dan... bluk! Ahmad terjatuh dan pingsan selama beberapa menit. Begitu tersadar, dia berdiri dan bersiap ke sekolah. Lupa bahwa tadi dia sedang salat.  Di sekolah, Ahmad punya banyak kegiatan. Dia sering kelelahan. Pikirannya juga terkuras. Dia sempat pingsan beberapa kali. Keletihan biasa, pikir Ahmad. Tapi lama-lama kondisinya memburuk dan mengganggu aktivitasnya. Dia pergi ke rumah sakit. Dokter mengatakan dia terkena gejala epilepsi. Mengetahui Ahmad kena epilepsi, keluarga bersikap protektif dengan melarangnya ikut kegiatan ini-itu. Teman-teman mulai jarang mengajaknya berkegiatan. Kesal menerima perlakuan berbeda, Ahmad bertekad membuktikan penyandang epilepsi bisa beraktivitas normal.

bottom of page