Hasil pencarian
9740 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Penjaga Alexandria yang Menolak Tunduk pada Napoleon
SITUASI geopolitik di Eropa pada pengujung abad ke-18 turut berpengaruh ke Afrika Utara, bahkan Nusantara. Revolusi di Prancis yang berujung pada lahirnya Republik Prancis Pertama (1792), dimanfaatkan perwira militer jenius dan berdarah dingin Napoleon Bonaparte untuk memperluas ekspansi secara tidak langsung ke Jawa dan “menyenggol” wilayah Kekhalifahan Turki Utsmani di Mesir. Bergolaknya Eropa sejurus Napoleon melancarkan Perang Revolusi Prancis (1792-1802), berimbas ke Hindia Timur (kini Indonesia). Masa itu bertepatan dengan kondisi Kongsi Dagang Hindia Timur VOC berada di pengujung kebangkrutan akibat kekalahan Republik Belanda dari Inggris dalam Perang Inggris-Belanda Keempat (1780-1784). “Kerapuhan VOC sudah tampak nyata ketika terjadi Perang Inggris-Belanda Keempat. Upaya membendung Inggris dengan inisiatif-inisiatif baru dalam hal pertahanan VOC tak bisa diwujudkan akibat guncangan geopolitik seiring Revolusi Prancis 1798,” tulis Gerrit Knapp dalam Genesis and Nemesis of the First Dutch Colonial Empire in Asia and South Africa, 1596-1811.
- Orang Somalia Lebih Mengenal Sukarno
PADA 5 April 1964, pukul 23.00, KRI Dewa Ruci merapat di pelabuhan Djibouti, Somalia. Muncullah para pekerja pelabuhan. Mereka berdiri berkelompok memandangi tiang-tiang Dewa Ruci dan tali-temali yang memenuhi geladak. Mereka kemudian pergi ke haluan dan ramai memperdebatkan patung Dewa Ruci yang tepaku kokoh di bawah cocor. Kemudian terjadi komunikasi dalam bahasa Inggris yang sangat kaku. Kemampuan bahasa Inggris awak Dewa Ruci memang belum begitu bagus, begitu pula dengan bahasa Inggris mereka tidak lebih baik. Kendati begitu, dengan isyarat tangan dan bahasa tubuh yang universal, komunikasi dapat berjalan secukupnya.
- Kisah Pasukan Kristen dan Muslim Mengusir Invasi Viking
SEJAK penaklukan Kerajaan Hispania oleh Kekhalifahan Umayyah kurun 711-715 Masehi, wilayah Andalusia (kini wilayah selatan Spanyol) pada abad ke-9 bergeliat sebagai pusat keilmuan dunia Islam di bumi belahan barat. Namun yang tak disangka, bangsa Viking di masa yang sama juga tengah gencar berekspansi ke selatan. Wilayah Andalusia termasuk yang dibidik. “Mulai 834 (Masehi) serangan-serangan bangsa Viking berubah menjadi ekspedisi berskala besar. Setiap biara, gereja, dan kota di Kepulauan Britania diserang dan dijarah orang-orang Nordik dari utara – kini Denmark, Swedia, dan Norwegia. Berturut-turut London dijarah (pada 841) kemudian Nantes, Rouen, Paris, dan pedalaman Gaul. Orang-orang Nordik dari Swedia juga merebut kota Kiev, di mana pemimpinnya, Rurik, mendirikan ibukota permanen setelah memperbudak para penduduk Slavik,” ungkap Arthur Herman dalam The Viking Heart: How Scandiavians Conquered the World.
- Menyibak Mitos Haji Djamhari
DALAM historiografi populer, nama Haji Djamhari sering disebut sebagai penemu rokok kretek. Namun, selama bertahun-tahun sosok ini dipandang sebagai figur mitologi. Sebuah legenda lokal yang tidak memiliki dasar historis yang kuat. Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat Kudus, Haji Djamhari hidup pada akhir abad ke-19. Dia dikisahkan mengalami sakit di bagian dada yang sudah lama dideritanya. Setiap kali serangan sesak napas datang, dia merasakan penderitaan yang begitu berat. Dalam upaya meredakan penyakit tersebut, dia mencoba menggunakan minyak cengkih dengan mengoleskannya pada dada dan punggungnya. Cara itu memberinya sedikit kelegaan, meskipun belum benar-benar menyembuhkan.
- Catatan Snouck Hurgronje Tentang Kebiasaan Umat Islam di Hindia Belanda
MINAT besar Christiaan Snouck Hurgronje terhadap pemikiran dan kehidupan umat Islam Hindia Belanda yang ditemui di Arab Saudi membawanya berlayar ke wilayah koloni itu. Perjalanannya dimulai pada 1889, setahun setelah pria kelahiran Oosterhout, 8 Februari 1857 itu ditunjuk menjadi pejabat negara yang diutus ke Hindia Belanda. Menurut peneliti sekaligus dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jajang A. Rohmana, keputusan Snouck menerima tugas sebagai pejabat negara di wilayah koloni cukup menarik perhatian sejumlah pihak. “Setelah melakukan perjalanan ke Makkah dan banyak menulis tentang komunitas ulama-ulama Nusantara yang ada di Makkah, Snouck kembali ke Belanda. Kemudian barulah dia datang ke Hindia Belanda. Banyak orang yang menebak-nebak apa motif dan tujuan Snouck melakukan perjalanan ke Hindia Belanda, terlebih pada saat itu Snouck ditawari untuk menjadi seorang profesor di Leiden,” jelas Jajang dalam dialog sejarah Historia.ID berjudul “Snouck Hurgronje: Agen Pengetahuan atau Spionase Belanda?”
- Demi Minyak Pasukan Khusus Dikirim Ke Jambi
CORNELIS Plaatzer masih berusia 20 tahun ketika mendaftar jadi relawan Angkatan Darat Kerajaan Belanda (Koninklijk Landmacht/KL) tak lama usai Perang Dunia II. Pemuda asal Putten, Belanda ini kemudian dikirim ke Indonesia yang baru merdeka guna mengembalikan kontrol Belanda yang lepas usai dikalahkan Jepang. Belanda harus menjalani perang melawan Indonesia demi merebut kembali wilayah yang dulu disebutnya Hindia Belanda itu. Cornelis Plaatzer datang ke Indonesia sebagai bagian dari Batalyon 2 Resimen 9 KL. Cornelis Plaatzer lalu terpilih masuk pasukan khusus penerjun payung berbaret merah. Akhir 1948 dia tinggal di sekitar Bandung, dalam sebuah barak tentara. Kesatuannya adalah kompi para dari Regimen Special Troepen (RST), dia salah satu pasukan terjun. Pada 20 Agustus 1948, anak dari Jan Plaatzer dan Jannetje Kool ini mendapat pangkat kopral sementara.
- Cara Gratis Dapat Kapal Perang
SUATU hari, India meluncurkan satelit barunya, tetapi jatuh di Samudra Hindia. Pecahannya terdampar di perairan Aceh. Begitu mendapat laporan, Asisten Operasi Kasum ABRI Laksda TNI Soedibyo Rahardjo segera mengirim pesawat C-130 Hercules untuk mengambil pecahan itu. Tak banyak yang tahu, rongsokan apa yang harus buru-buru diambil itu. Waktu diangkut, pilot mengomel, “rongsokan gini aja kok harus dibawa ke Jakarta.” Begitu mendarat di Halim Perdanakusumah, Soedibyo menyimpannya di gudang khusus. Dikunci dan dijaga ketat.
- Nasionalisme Peci Sukarno
PEMUDA itu masih berusia 20 tahun. Dia tegang. Perutnya mulas. Di belakang tukang sate, dia mengamati kawan-kawannya, yang menurutnya banyak lagak, tak mau pakai tutup kepala karena ingin seperti orang Barat. Dia harus menampakkan diri dalam rapat Jong Java di Surabaya, Juni 1921. Tapi dia masih ragu. Dia berdebat dengan dirinya sendiri. “Apakah engkau seorang pengekor atau pemimpin?” “Aku seorang pemimpin.” “Kalau begitu, buktikanlah,” batinnya lagi. “Majulah. Pakai pecimu. Tarik nafas yang dalam! Dan masuklah ke ruang rapat... Sekarang!” Setiap orang ternganga melihatnya tanpa bicara. Mereka, kaum intelegensia, membenci pemakaian blangkon, sarung, dan peci karena dianggap cara berpakaian kaum lebih rendah. Dia pun memecah kesunyian dengan berbicara: ”…Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia. Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.”
- Propaganda Wortel Inggris Melawan Jerman dalam Perang Dunia II
SUDAH menjadi pengetahuan umum bahwa mengonsumsi wortel baik untuk kesehatan mata. Berangkat dari manfaat sayuran berwarna oranye yang mengandung Vitamin A itu, tersebar rumor di masyarakat Inggris pada masa Perang Dunia II bahwa wortel juga dapat meningkatkan kemampuan melihat dalam gelap. Rumor tersebut berkaitan dengan pengembangan teknologi penting yang memungkinkan pasukan Inggris dapat mengantisipasi serangan Nazi Jerman selama serangan kilat ( Blitzkrieg ) tahun 1940. Ketika itu, pesawat-pesawat Luftwaffe sering melakukan serangan dalam kegelapan. Untuk mempersulit pesawat-pesawat Jerman itu mencapai target, Inggris memadamkan listrik di berbagai kota.
- Indonesia, CIA, dan Crypto AG
PADA 11 Februari 2020, harian Washington Post , stasiun televisi Jerman ZDF , dan stasiun televisi Swiss SRF, merilis laporan hasil penyelidikan terhadap Crypto AG di Swiss, perusahaan komersial yang menawarkan jasa menjaga kerahasiaan data. Ternyata, secara diam-diam, CIA (Dinas Intelijen Amerika Serikat) dan BND (Dinas Intelijen Jerman), selama puluhan tahun melakukan pengintaian terhadap negara-negara di seluruh dunia yang menggunakan jasa Crypto AG. Mulai dari pasca Perang Dunia II hingga kini, lebih dari 120 negara menggunakan perangkat pengkodean komunikasi Crypto AG. Voaindonesia.com melaporkan bahwa pemerintahan negara-negara itu tidak mengetahui bahwa Crypto AG secara diam-diam dimiliki oleh CIA dan BND. Dw.com menyebut kepemilikan CIA dan BND di perusahaan itu disamarkan sedemikian rupa sehingga tidak diketahui publik. Hingga otoritas Swiss menginvestigasi dugaan bahwa Crypto AG hanyalah perusahaan terselubung yang dioperasikan CIA dan BND.
- Putri Sunda Penyebab Perang Bubat
PRABU Maharaja sudah tujuh tahun menjadi raja. Dia terkena muslihat, mendapat bencana akibat putrinya yang bernama Tohaan akan menikah. Terlalu besar kemauan sang anak. Dalam rangka pernikahannya, banyak orang yang berangkat mengantarkan ke Jawa. Sebabnya, sang putri tak mau punya suami orang Sunda. Maka terjadilah perang di Majapahit. Demikianlah penyebab Perang Bubat dalam Carita Parahyangan, sumber tertulis dari masa Sunda Kuno. Menurut arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam Gajah Mada, Biografi Politik , kisah dalam naskah itu merujuk kepada peristiwa di Bubat, yang menurut Pararaton terjadi pada 1279 Saka atau 1357 M. Ceritanya tak dituturkan secara rinci.
- Cerita Tutur Perang Bubat
ROMBONGAN Kerajaan Sunda sudah tiba di dermaga Bubat. Letaknya tak jauh dari Sungai Jetis, di utara Trowulan, ibu kota Kerajaan Majapahit. Mereka datang untuk mengawinkan sang putri, Dyah Pitaloka dengan Hayam Wuruk, raja Majapahit. Barang-barang pun segera diturunkan dari kapal. Oleh para prajurit Majapahit, barang-barang itu diangkut ke bangsal paseban. “Barang-barang kami jangan disimpan di paseban!” tegur salah seorang patih Sunda tiba-tiba. “Memang kenapa?” tanya prajurit keheranan. “Paseban itu hanya untuk menyimpan upeti dari daerah jajahan,” kata sang patih.























