top of page

Hasil pencarian

9868 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Petualangan Pelancong Inggris Mencari Suku Baduy Dalam (2)

    TUKANG becak mengantar Nina Consuelo Epton, pelancong asal Inggris, dari tempat Hoesein Djajadiningrat ke sebuah bungalow di sudut jalan yang sepi di daerah permukiman Jakarta. Setibanya di sana, ia disambut pelayan yang mengantarkannya ke ruangan yang nyaman dan berperabot lengkap. Tak lama kemudian Hilman Djajadiningrat masuk ke dalam ruangan. “Sama sekali tidak ada gunanya kamu pergi sendirian, kamu tidak akan bertemu siapa-siapa dan tidak ada yang bisa masuk ke wilayah Baduy Dalam kecuali orang Baduy,” kata Hilman sebagaimana ditulis Epton dalam Magic and Mystic of Java yang berisi catatan perjalanannya selama mengunjungi Indonesia pada 1950-an. Hilman pernah menjabat bupati Serang (1935–1945) dan gubernur daerah federal Batavia (1948–1950). Ia bercerita kepada Epton bahwa salah satu anggota keluarganya mempekerjakan seorang Baduy pelarian bernama Japar di perkebunan karetnya. Seperti nenek moyang Djajadiningrat kami dari abad ke-17, ia juga anak seorang Pu’un atau pemimpin Suku Baduy Dalam.

  • Petualangan Pelancong Inggris Mencari Suku Baduy Dalam (1)

    PERJALANAN mengunjungi sejumlah wilayah di Indonesia pada 1950-an menjadi pengalaman yang berkesan bagi Nina Consuelo Epton (1913–2010). Tak heran bila tiga tahun setelah perjalanan pertamanya, wanita yang pernah bekerja sebagai wartawan BBC London itu kembali ke Indonesia untuk melakukan ekspedisi. Kali ini misinya menemui Suku Baduy yang ia sebut sebagai “the invisible people” atau “orang-orang tak terlihat”. Dalam bukunya, Magic and Mystic of Java, Epton berkisah awal mula perkenalannya dengan Suku Baduy. Wanita kelahiran Hampstead, London tahun 1913 itu mulai tertarik dengan suku yang mendiami wilayah Banten tersebut sejak membaca tentang mereka di buku The History of Java karya Sir Thomas Stamford Raffles. Mantan Letnan Gubernur Jenderal Inggris di Jawa itu menulis bahwa Suku Baduy yang tinggal di pedalaman Banten merupakan keturunan dari orang-orang yang lari ke dalam hutan setelah runtuhnya bagian barat kota Pajajaran pada abad kelima belas. Meski tidak sempat bertemu orang-orang Baduy selama masa tugasnya di Hindia Belanda, Raffles memiliki ketertarikan dan rasa ingin tahu yang besar terhadap masyarakat tersebut. Oleh karena itu, ia mengumpulkan informasi mengenai Suku Baduy dan menuliskannya ke dalam salah satu bagian bukunya.

  • Jiwa Seni Asrul Sani

    NAMA Asrul Sani turut mewarnai sejarah kebudayaan Indonesia modern. Sebagai seniman, karya-karyanya sohor dalam berbagai puisi, cerpen, drama, dan film. Meski telah wafat pada 11 Januari 2004 silam, namanya dikenang sebagai salah satu seniman terbesar Indonesia. “Asrul Sani sosok yang tidak hanya menghasilkan karya-karya tetapi juga membentuk arah perkembangan kebudayaan nasional. Sebagai penyair Angkatan ‘45, dia turut menghadirkan semangat kemerdekaan dan kemanusiaan dalam sastra Indonesia. Sebagai penulis skenario dan sutradara, karya-karyanya menjadi tonggak penting dalam sejarah perfilman nasional,” kata Sekjen Kementerian Kebudayaan Bambang Wibawarta dalam pembukaan pameran “Jejak Langkah Kreatif Asrul Sani” di Perpustakaan Nasional, Jakarta, 9 Juni 2026. Asrul Sani lahir di Rao, Pasaman, Sumatra Barat, pada 10 Juni 1925. Bungsu dari tiga bersaudara ini berayah-ibu Sultan Marah Sani Syair Alamsyah dan Nuraini Nasution. Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Bukittinggi, Asrul melanjutkan pendidikan ke Jakarta. Setamatnya dari sekolah Taman Siswa, dia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Kedokteran Hewan Bogor. Tapi, ketertarikannya pada sastra dan suasana perjuangan kemerdekaan saat itu menyebabkan kuliah kedokteran hewannya mangkrak.

  • Gatotkaca Terbang, Mendarat di Museum

    HARI Penerbangan Nasional tahun ini, Selasa (27/10/2020), patut dijadikan cermin untuk merenungkan sudah sejauh mana Indonesia melangkah dalam dunia kedirgantaraan. Persaingan ketat di bidang kedirgantaraan internasional yang telah diikuti negara seperti RRC, India, bahkan Brazil, boleh dibilang belum “mengikutsertakan” Indonesia secara penuh di dalamnya. Kondisi tersebut seakan mundur dari masa ketika Indonesia masih bayi. Menurut Kepala Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala (Muspusdirla) Yogyakarta Kolonel Sus. Dede Nasrudin dalam webinar “Gatotkaca Mengguncang Dunia”, Selasa (27/10/2020), republik yang walaupun masih bayi sudah berusaha menelurkan pembuktian kompetensinya dalam hal dirgantara berkat penerbangan yang dilakukan Komodor Udara Agustinus Adisutjipto pada 27 Oktober 1945. Saat itu yang digunakan adalah pesawat bekas Jepang, Yokosuka K5Y alias “Cureng”. “Hari ini ditetapkan sebagai Hari Penerbangan Nasional sejak 27 Oktober 1945 Pak Adisutjipto menggunakan pesawat Cureng dengan identitas roundel merah putih pertamakali terbang di atas Maguwo (kini Lanud Adisutjipto) dan kota Yogyakarta. Ini bukti kepada dunia internasional bahwa kita sudah bisa menerbangkan pesawat dengan pilot asli orang Indonesia berlogo merah putih,” ujarnya.

  • Saat Jenderal Gatot Soebroto Beraksi di Yugoslavia

    SEPTEMBER, 1961. Presiden Sukarno berkunjung ke Yugoslavia dalam rangka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Non-Blok. Selain didampingi Letjen TNI Gatot Soebroto, Deputi Kepala Staf Angkatan Darat, Bung Karno juga mengajak putra sulungnya, Guntur. Rombongan Bung Karno menumpang pesawat carter Pan Am DC-707. Selain untuk menghadiri KTT Non-Blok, tujuan muhibah Sukarno adalah meninjau kapal perang pesanan Indonesia yang sedang dibuat di Yugoslavia. Sehubungan dengan kepentingan tersebut, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Abdul Haris Nasution telah tiba duluan di Yugoslavia. Adapun kapal perang yang tengah dipesan itu adalah jenis Submarin chaser buatan Yugoslavia, kapal anti kapal selam yang mampu bergerak cepat sebagai kapal pemuburu. Dalam penerbangan, Sukarno menuturkan betapa canggihnya kapal tempur pesanan TNI itu. Guntur antusias mendengarnya dan menanyakan berbagai hal, mulai dari meriam, radar, hingga daya tempuh tembakan. Sayangnya, Sukarno kurang begitu paham soal seluk-beluk alustista. Dia menyarankan Guntur untuk bertanya lebih lanjut kepada Jenderal Gatot.

  • A.H. Nasution dan Zulkifli Lubis Akur, Gatot Soebroto Senang

    DEMI bisa melihat upacara pelantikan suaminya, Kolonel A.H. Nasution, menjadi KSAD untuk kali kedua, di Lapangan Banteng pada 1 November 1955, Johana Sunarti terpaksa menumpang pada seorang kenalan suaminya, Kadir. Dari rumah Kadir yang berada di pinggir Lapangan Banteng itulah Johana bisa leluasa melihat upacara pelantikan itu. “Beda dengan protokol masa Orde Baru (Orba), maka di masa liberal itu sang isteri pejabat tidak masuk protokol, jadi tidak diundang, kebiasaan dari masa perjuangan 1945-50 masih dihayati,” kata Nasution dalam otobiografinya, Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 3. Upacara pelantikan itu juga berbeda dari pelantikannya sebagai KSAD saat pertamakali (1949) dan pelantikan-pelantikan para petinggi militer lain sebelumnya. “Sejak 1945 baru kali inilah pelantikan pejabat tinggi TNI dilakukan di depan pasukan. Sejak dulu pelantikan dilakukan di Istana Presiden. Prakarsa ini datang dari Kolonel Z. Lubis, yang menganggap lebih tepat di depan pasukan daripada di Istana. Saya sependapat dengan beliau,” sambung Nasution.

  • Bahasa Belanda Gatot Soebroto di India

    DI BANDARA Kemayoran, sejumlah petinggi negara berkumpul. Tampak di antara mereka Menteri Keamanan Nasional/Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal Abdul Haris Nasution, yang berbincang dengan wakilnya Letnan Jenderal Gatot Soebroto. Selain Nasution, turut mendampingi Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Surjadi Suryadarma bersama Gubernur DKI Jakarta Soemarmo dan Panglima Kodam V Jaya Kolonel Umar Wirahadiusumah. Duta Besar India dan Myanmar beserta atase militer masing-masing pun tampak mengiringi. Mereka hendak mengantar rombongan misi Angkatan Darat bertolak ke India dan Myanmar. “Misi ADRI ke India dan Birma untuk persahabatan dan meninjau objek militer,” demikian diwartakan Harian Patriot, 19 April 1960.

  • Pembajakan 19 Hari

    DESA De Punt, Glimmen, Belanda, 11 Juni 1975 pukul 05 pagi. Keheningan suasana desa disobek suara enam pesawat F-104 Starfighter AU Belanda yang terbang rendah di atas sebuah keretapi. Para personil Bijzondere Bijstands Eenheid/BBE Marinir Belanda di dekat kereta itu langsung menyerbu kereta. Mereka berupaya membebaskan penduduk sipil yang disandera sekelompok pemuda pejuang Republik Maluku Selatan (RMS) di dalam kereta tadi. Pembajakan kereta dan penyanderaan itu jadi imbas tak langsung dari Pengakuan Kedaulatan di pengujung 1949 dan penguasaan Kepulauan Maluku oleh Tentara Nasional Indonesia setahun berikutnya. Banyak mantan personel KNIL yang jadi pejuang dan simpatisan kemerdekaan RMS lalu memilih tinggal Belanda. Selain adanya ikatan emosional kuat antara mereka dengan Belanda, jaminan bantuan pemerintah Belanda untuk mewujudkan RMS menjadi alasan kuat mengapa mereka memilih tinggal di Belanda. Namun, alih-alih mendapatkan apa yang mereka impikan, dari hari ke hari mereka justru mendapat perlakuan sebaliknya. Tempat penampungan mereka tak layak, hanya kamp-kamp berkondisi buruk. Yang lebih penting, tak terlihat upaya sungguh-sungguh pemerintah Belanda dalam menepati janji mewujudkan RMS. Mereka pun marah.

  • Teknologi Radar di Microwave

    KETIKA Percy Spencer mengamati tabung yang memancarkan gelombang mikro, bagian dari sistem radar untuk pertahanan Sekutu di Perang Dunia II, permen di saku bajunya meleleh. Insinyur di Raytheon Manufacturing Corporation, Massachusetts, Amerika Serikat itu menyadari tengah berada dalam momentum penemuan menarik bahwa gelombang mikro tidak hanya bermanfaat untuk menghalau kekuatan lawan, tetapi juga dapat memanaskan makanan. Inilah cikal bakal terciptanya microwave. Kemunculan microwave berkaitan dengan pengembangan radar. Mulanya, sejumlah ilmuwan Inggris meneliti sumber energi gelombang mikro untuk menggerakan sistem radar bagi kepentingan militer. Para ilmuwan gencar melakukan penelitian karena ancaman invasi Jerman ke Eropa. Hasilnya, pada Februari 1940, dua ilmuwan dari Universitas Birmingham, John Randall dan Henry Boot, merancang tabung elektronik disebut valve yang menghasilkan energi gelombang mikro dengan sangat efisien. “Kemampuan unik magnetron untuk mentrasmisikan gelombang mikro dengan daya sangat tinggi memungkinkan peralatan radar dibangun dengan ukuran yang jauh lebih kecil, daya yang lebih besar, dan akurasi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan rancangan sebelumnya. Alat ini dapat dipasang di pesawat terbang untuk ‘melihat’ pesawat lain atau target di darat,” tulis Leo R. Reynolds dalam “The History of the Microwave Oven”, termuat di The Journal of Microwave Power and Electromagnetic Energy, Volume 10, No. 5, 1989.

  • Kakek Buyut Ole Romeny Korban Perang Pasifik

    NAMA Ole Romeny sudah ramai disebut sebagai calon pemain naturalisasi tim nasional Indonesia dari Belanda sejak November 2024. Kini, proses naturalisasinya bersama dua pemain lain, Dion Markx dan Tim Geypens, yang diajukan PSSI bersama Kemenpora lewat rapat kerja sudah disetujui Komisi X DPR RI pada Senin (3/2/2025). “Atas nama Komisi X (DPR), selamat dan selamat datang kepada Dion dan Ole (yang hadir via daring). Mari jalani tugas kita untuk Indonesia bersama-sama. Dengan ini kami menyatakan bahwa Anda bukan sekadar menjadi bagian dari tim nasional tapi juga bagian dari keluarga besar Indonesia. Kami percaya kalian bisa membawa nama Garuda dengan kebanggaan di tim nasional Indonesia,” tukas Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menutup rapat kerja yang disiarkan via streaming di Youtube TVR Parlemen, Senin (3/2/2025). Pemain yang lahir pada 20 Juni 2000 dengan nama Ole Lennard ter Haar Romenij itu meniti kariernya dari akademi muda DVOL hingga menembus karier profesional pertamanya pada 2018 bersama NEC Nijmegen. Setelah tampil gemilang bersama FC Emmen dan FC Utrecht, pada 5 Januari 2025 Romeny resmi hijrah ke kasta pertama Liga Inggris, EFL Championship, bersama klub Oxford United yang notabene dimiliki Ketum PSSI Erick Thohir bersama pengusaha Anindya Bakrie.

  • Hitam Putih Baju Baduy

    PRESIDEN Joko Widodo memakai pakaian adat suku Baduy atau Kanekes ketika menyampaikan pidato kenegaraan dalam sidang tahunan MPR RI dan sidang bersama DPR RI dan DPD RI pada 16 Agustus 2021. Jokowi memesan pakaian itu dari Kepala Desa Kanekes, Jaro Saija. Kepada Kompas.com, Saija menjelaskan, pakaian adat yang dikenakan Jokowi merupakan pakaian sehari-hari warga Baduy Luar yang disebut baju kampret. Baju hitam bermakna kesederhanaan, ikat kepala (lomar) bermakna persatuan, dan tas koja bermakna kelestarian alam yang masih dijaga masyarakat Baduy. Namun, ada yang memaknai baju hitam itu sebagai “lambang kotor atau dosa. Orang Baduy yang lalai atau tak mampu mengikut aturan adat keluar dari kampung dan mulai berbaju hitam sebagai bentuk pengakuan atas kesalahan diri”.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page