top of page

Hasil pencarian

9864 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Sudiro Memimpin Daerah-Daerah Berbahaya

    USIANYA nyaris 80 tahun. Namun, pria berperawakan kurus itu masih sehat dan jauh dari kesan ringkih penampilannya. Yang tak kalah penting, ingatannya masih kuat dan bicaranya jelas dan lancar. Gaya bicaranya ceplas-ceplos, cepat, dan ada akhiran kata khas yang kuat mengesankan logat Betawi ketimbang Jawa yang menjadi “darah dagingnya”. Ada juga sedikit logat Makassarnya. “Waktu pulang ke sini, kakak-kakak saya logat Jawa, saya logat Makassar,” ujar Tanto Sudiro, pria tadi, kala ditemui Historia.ID di rumahnya di bilangan Bintaro, Jakarta Selatan. Makassar memang jadi tempat kedua “bersosialisasi” baginya setelah Jawa. Ayah artis Tora Sudiro itu masih tiga tahun kala dibawa kedua orangtuanya ke Makassar pada 1951. Kala itu ayahnya, Raden Sudiro, ke Makassar karena ditetapkan pemerintah pusat untuk memimpin Sulawesi sebagai gubernur.

  • Air Mata Bung Karno Meleleh di Aceh

    SEBAGAI upaya untuk memperkuat perlawanan terhadap Belanda, pada Juni 1948, Presiden Sukarno melakukan muhibah ke Aceh. Di ranah rencong tersebut, Sukarno disambut gempita oleh rakyat Aceh dan didapuk sebagai pemimpin oleh para tokoh setempat. Dalam sebuah pertemuan dengan Tengku Daud Beureuh, Sukarno berharap agar tokoh terkemuka Aceh itu mengajak rakyatnya dalam perjuangan melawan Belanda. Daud Beureuh menyambut ajakan Sukarno dengan senang hati. Dia menyatakan sanggup memenuhi permintaan tersebut asal perang dikobarkan adalah perang sabil, perang untuk menegakkan agama Allah. “Sehingga kalau ada di antara kami yang terbunuh dalam perang itu, maka kami berarti mati syahid,” ujar Daud Beureuh dalam Kisah Kembalinya Tengku Muhammad Daud Beureueh ke Pangkuan Republik Indonesia karya M. Nur El Ibrahimy. Sukarno mengiyakan permintaan Daud Beureuh. Dia mengajukan permohonan kedua bahwa apabila perang telah selesai, rakyat Aceh diberikan kebebasan menjalankan syariat Islam. Permintaan ini juga dikabulkan oleh Sukarno. “Hal itu tak usah Kakak (panggilan akrab Sukarno kepada Daud Beureuh) khawatir, sebab 90% rakyat Indonesia beragama Islam,” kata Sukarno.

  • Hutan Tak Lagi Perawan

    TAK lama setelah Batavia berdiri, beberapa pekerja Kongsi Dagang Belanda (VOC) menyusuri sungai untuk mencari kayu. Mereka mendapati kawasan di luar tembok Batavia (Ommelanden) masih diselimuti hutan lebat. Kala itu, Batavia bergantung pada hasil hutan di Ommelanden untuk memenuhi kebutuhan makanan, bahan bakar, hingga bahan bangunan. Akibat bertambahnya penduduk, kebutuhan kayu meningkat. Hutan pun berkurang dengan cepat, lebih awal ketimbang tempat lain di Jawa. “Sayangnya, kita tidak memiliki data kuantitatif tentang laju deforestasi di wilayah ini, tetapi jelas bahwa ekspansi ekonomi dan demografi dari Batavia ke pedalaman pada akhir abad ke-17 adalah faktor utama deforestasi,” tulis Bondan Kanumoyoso dalam “Beyond The City Wall: Socio-Economic Development in The Ommelanden Batavia, 1684–1740,” disertasi di Universitas Leiden, Belanda.

  • Sudiro Dipanggil Sukarno

    KETIKA Jepang datang, hidup Sudiro sebenarnya sudah enak dan tenang di Palembang. Dia menjabat direktur sekolah rakyat Kokumin Gakko di Plaju. Selain itu, dia juga mengajar bahasa Jepang untuk tenaga asing di perusahaan tambang minyak Plaju-Sungai Gerong, dengan perantara bahasa Belanda dan Inggris. Sudiro digaji tiga rupiah per hari, lebih dari cukup untuk biaya hidup sekeluarga. Lagi pula, pejabat Jepang senang kepada Sudiro lantaran fasih berbahasa Jepang. Di samping gaji lumayan, dia juga mendapat rumah besar milik pegawai Belanda. Makan dan pakaian cukup. Bahkan, untuk membantu aktivitasnya, Sudiro diberi dua pembantu orang Sikh, Mager Singh dan Harnaam Singh. Dengan berbagai fasilitas itu, kesejahteraan dan kebutuhan finansialnya terjamin. “Pada suatu hari saya menerima telegram dengan huruf Katakana. Ternyata dari ‘Jakaruta’. Bunyinya: ‘Sugu ni koi putera de hataraki shi’ (Lekas datang untuk bekerja pada Putera). Sebagai pengirim tertulis: Sukaruno,” kata Sudiro dalam Pengalaman Saya Sekitar 17 Agustus 1945.

  • Seulawah RI-001, dari Aceh untuk Republik Indonesia

    SEBELUM memiliki pesawat kepresidenan, Presiden Sukarno mesti datang ke Aceh untuk menggalang dana pembelian pesawat pada 16 Juni 1948. Bung Karno menyebut Aceh sebagai daerah modal perjuangan bangsa Indonesia. Waktu itu, kas negara sedang cekak lantaran blokade ekonomi yang dilancarkan Belanda usai agresi militer pertama. Sementara itu, Aceh merupakan satu-satunya daerah yang belum dikuasai Belanda sepenuhnya. Dalam suatu jamuan makan malam bertempat di Atjeh Hotel Kutaradja, Bung Karno menjelaskan situasi negara yang tengah dilanda krisis. Selain itu, dia juga mengharapkan derma para saudagar Aceh yang tergabung dalam organisasi Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (GASIDA). Sukarno menyerukan agar para saudagar bahu-membah membantu pemerintah membeli pesawat terbang. “Alangkah baiknya apabila kaum Saudagar dan Rakyat Aceh berusaha membuat ‘jembatan udara’ antara satu pulau dengan pulau lain di Indonesia. Untuk ini, saya anjurkan agar kaum Saudagar bersama-sama Rakyat mengumpulkan dana untuk membeli kapal udara, umpamanya pesawat Dakota, yang harganya hanya 25 kilogram emas,” kata Bung Karno seperti dikisahkan Amran Zamzami dalam Jihad Akbar di Medan Area.

  • Panglima Tentara Belanda dari Surakarta (Bagian II)

    PERAN besar di balik tokoh besar. Demikianlah Nan Buurman van Vreeden menafsirkan sepakterjang ayahnya, Letjen Dirk Cornelis Buurman van Vreeden, sebagai perwira tinggi Koninklijke Nederlands Indisch Leger (KNIL/Tentara Kerajaan Hindia Belanda). Nama Buurman memang kalah pamor dari koleganya, Jenderal Simon Hendrik Spoor. Panglima KNIL dan pimpinan tertinggi seluruh tentara Belanda di Indonesia semasa revolusi fisik (1946-1949) itu dikenal paling ngotot menyelesaikan konflik Indonesia-Belanda pasca-Perang Dunia II lewat jalan perang. Faktanya, Spoor hanya memulai. Buurman-lah yang menyelesaikan apa yang dilakukan Spoor. “Ayah saya dan Jenderal Spoor sudah berteman sejak masih dalam pendidikan militer. Akan tetapi ayah saya yang harus melewati masa-masa akhir penyelesaian konflik. Itu hal yang sulit bagi dirinya. Saya mengisahkan ini agar anak-cucu saya mendapat gambaran yang lebih jelas terkait hal itu. Ayah saya memainkan peran besar dalam sejarah itu,” ungkap Nan yang berbagi kisah di laman engelfriet.net, 17 Agustus 2007.

  • Panglima Tentara Belanda dari Surakarta (Bagian I)

    ENTAH perasaan apa yang bergolak dalam hati Letjen Dirk Cornelis Buurman van Vreeden pada 25 Juli 1950 malam di kediaman Komisaris Tinggi Belanda Max Hans Hirschfeld. Dalam hitungan menit, dia mesti berpidato dua bahasa di depan hadirin yang berisi perwakilan Belanda dan Republik Indonesia Serikat. Pidatonya bukan hanya penting bagi dirinya semata, tapi juga bangsanya dan ribuan orang di dalamnya. Lembaran-lembaran kertas sudah dihadapinya. Kacamata pun sudah terpajang di wajahnya. Sejurus kemudian, naskah pidato itu dibacakan secara perlahan oleh Buurman. Isinya: Koninklijke Nederlands Indisch Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda, di mana ia jadi panglimanya, dibubarkan. “Seperti telah saya kataken dalam pidato radio saya, kepada semua militer KNIL. Saya yakin, di manapun tuan-tuan berada dalam pekerjaan selanjutnya, tuan-tuan memperlihatken di sana sifat-sifat baik yang sama itu,” demikain potongan pidatonya berbahasa Indonesia.

  • Literasi Orang Betawi

    BANYAK orang mengira masyarakat Nusantara, termasuk masyarakat Jakarta buta huruf sebelum kedatangan kolonial Belanda. Padahal, masyarakat Betawi telah memiliki tradisi literasi dalam penulisan dan pembacaan naskah aksara Arab-Jawi dengan bahasa Melayu. Ini menunjukkan masyarakat Betawi telah mengenal baca tulis dengan baik. Dengan demikian, mereka hanya buta huruf Latin yang diperkenalkan melalui pendidikan dan budaya kolonial. “Kebudayaan menulis dan membaca telah berkembang jauh sebelum kedatangan kolonial Belanda. Pada masa itu, masyarakat telah mengenal pendidikan agama Islam yang menjadi medium berkembangnya tradisi literasi. Melalui pendidikan tersebut, masyarakat terbiasa mencatat dan membaca menggunakan aksara Arab maupun Jawi. Sehingga mereka itu bukan buta huruf, tetapi buta huruf Latin,” kata Siswantari, sejarawan Universitas Indonesia, kepada Historia.ID. Bukti budaya literasi masyarakat Betawi dapat dilihat dari Pecenongan. Kawasan yang kini dikenal sebagai pusat kuliner, dahulu menjadi pusat kegiatan literasi masyarakat Betawi yang menyimpan banyak manuskrip penting. Pada abad ke-19, Pecenongan dikenal sebagai kawasan yang memiliki banyak skriptorium atau tempat penulisan dan penyalinan naskah.

  • Iswahjoedi dalam Angkatan Udara Belanda

    SEBELUM Perang Dunia II pecah, Raden Iswahjoedi adalah mahasiswa kedokteran di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) Surabaya. Namun, dia gagal menjadi dokter karena perang merembet ke kawasan Asia Pasifik. Iswahjoedi lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 15 Juni 1918 dari pasangan Raden Wirjomiharjo dan Issumirah. Ayahnya bekerja pada kantor Sindikat Gula di Surabaya dan penghasilannya cukup besar. Iswahjoedi kemudian masuk Vrijwilligers Vliegers Corps (VVC) atau Korps Penerbang Sukarela di Kalijati, Subang. Peserta VVC biasanya harus punya ijazah SMA masa kolonial yang jumlahnya tidak banyak.

  • Sudiro dalam Pergerakan

    KONGRES peleburan organisasi-organisasi pemuda kedaerahan menjadi Indonesia Muda diselenggarakan di Surakarta pada 29 Desember 1930 sampai 2 Januari 1931. Sudiro hadir sebagai wakil dari Jong Java cabang Magelang. Pada malam pembukaan, dia terpikat oleh seorang peserta perempuan. Namanya Siti Djauhari, utusan dari Madiun. Sudiro terpilih menjadi ketua Indonesia Muda cabang Magelang. Kegiatannya merambah ke daerah lain. Dia dan teman-temannya mendirikan Indonesia Muda cabang Purworejo. Di situlah dia pertama kali bersikap dan bertindak sebagai propagandis dan orator, berpidato sampai satu setengah jam. Bersama Indonesia Muda cabang Yogyakarta dan Surakarta, Sudiro menerbitkan majalah Garuda Merapi. Selain itu, dia juga mengadakan kursus buta huruf dan klub debat di Magelang. “Meskipun Sudiro merasa puas, sudah dapat ikut serta menyumbangkan pikirannya dalam pembentukan organisasi Indonesia Muda, namun ingatannya tidak mau juga terlepas dari wajah anak gadis utusan dari Madiun itu,” tulis Soebagijo I.N. dalam Sudiro Pejuang Tanpa Henti.

  • Kapten Marah, Komandan Hilang Kuping

    AKHIR tahun 1963, Letnan Kahardiman ditugaskan oleh Deputi Menteri Panglima Angkatan Udara (DMPAU) Komodor Soeharnoko Harbini untuk pergi ke Salatiga, Jawa Tengah. Di sana Kahardiman akan mendampingi Fransiskus Xaverius Adisusanto alias Toto. Toto diseret ke pengadilan karena menyerempet perwira kavaleri Angkatan Darat ketika sedang belajar mengemudikan mobil. Ketika di Salatiga, Letnan Kahardiman mengunjungi salah satu orang berpengaruh di Salatiga, yakni Komandan KOREM 073/Makutarama Letnan Kolonel Roestamadji Wibowo. Kahardiman menyampaikan keperluannya di Salatiga. Komandan KOREM, meski sama-sama Angkatan Darat dengan perwira kavelari yang diserempet tadi, rupanya juga telah berhubungan baik dengan keluarga Toto. Bahkan KOREM rajin mengirimi beras kepada keluarga Rahayu, Ibu Toto.

  • Api Abadi Pemimpin Revolusi

    RASA lelah dan kantuk langsung lenyap saat saya melihat Che Guevara dari kejauhan. Dia berdiri gagah. Sorot matanya tajam. Raut mukanya, yang dihiasi alis tebal dan jambang lebat, mengguratkan keteguhan sikapnya. Ia mengenakan baret dan seragam militer. Tangan kanannya menggenggam senjata, sementara lengan kiri yang terbalut perban menekuk ke perut. Patung perunggu Che Guevara itu memiliki berat 20 ton dengan tinggi hampir tujuh meter. Sebuah monumen yang menjulang jadi pijakannya. Slogan Che yang terkenal terukir di bagian bawah monumen: Hasta La Victoria Siempre! (Sampai Menang untuk Selamanya!). Ketika saya mendekat, beberapa kuntum bunga segar dari pengunjung bergeletakkan di lantai. Patung Che dan lima monumen, yang dibuat Jose Delarra dengan ukuran dan bentuk berbeda, menjadi pemandangan paling menonjol saat saya memasuki kompleks Museum dan Mausoleum Che Guevara di Santa Clara, ibu kota Provinsi Villa Clara, Kuba.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page