Hasil pencarian
9862 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Wasit Hindia di Olimpiade
RABU malam, 13 Juni 1928. Stadion Olimpiade di Amsterdam, Belanda, dipenuhi ribuan penonton. Mereka antusias untuk menyaksikan final ulangan cabang sepakbola Olimpiade yang mempertemukan dua kekuatan besar Amerika Selatan: Uruguay dan Argentina. Di tepi garis lapangan, berdiri seorang hakim garis dari negeri jauh di timur. Sosoknya mungkin tidak dikenal oleh publik Belanda. Namun, kehadirannya menjadi kebanggaan tersendiri bagi sepakbola Hindia Belanda. Dia adalah Max Foltynski. Foltynski tak sendirian. Di sisi lapangan lainnya terdapat H. Maeck dari Belgia. Sementara yang memimpin pertandingan adalah J. Mutters dari Belanda. Begitu peluit berbunyi, Uruguay langsung menekan. Kemelut terjadi di depan gawang Argentina. Penonton menahan napas. Permainan berkembang cepat. Bola bergerak dari sisi ke sisi. Dua tendangan sudut berganti diambil dan sorak seru protes terdengar bersahutan. Di tengah hiruk-pikuk itu, Foltynski selalu sigap. Benderanya terangkat setiap kali garis offside terlewati. Keputusannya tegas tanpa gentar di bawah tatapan ribuan pasang mata.
- Naskah Pegon Tertua di Jawa
SEBUAH naskah kuno Islam dari masa keemasan Majapahit ditemukan. Naskah ini ditulis dengan huruf Arab dalam bahasa Jawa atau disebut pegon. Berdasarkan angka tahun yang terbaca di dalamnya, diduga naskah ini ditulis pada 1347 Masehi. Naskah ini sekaligus menjadi naskah pegon tertua di Jawa sejauh ini. Isinya tentang sejarah para nabi dan ajaran tasawuf dalam bentuk tembang. “Naskah ini dimiliki seorang kolektor, katanya ditemukan di NTB (Nusa Tenggara Barat). Ternyata, menurut beberapa info dan beberapa temuan lain, ada upaya membawa naskah ini ke luar negeri. Saya berterima kasih kepada kolektor yang membawa naskah ini ke Salatiga,” kata Masyhudi Muhtar, peneliti bidang arkeologi Islam di Balai Arkeologi Yogyakarta, dalam diskusi daring berjudul “Beberapa Jejak Peradaban Asing di Jawa”, Kamis, 15 April 2021. Saat ditemukan oleh tim peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta pada 2019, naskah ini dalam kondisi kurang terawat. Naskah berbahan daluwang ini disimpan di dalam kotak kayu yang di dalamnya terdapat botol berisi minyak. Bahan daluwang dibuat dari kulit kayu atau serat tanaman.
- Akulturasi Budaya dalam Naskah Pegon
BALAI Arkeologi Yogyakarta menemukan naskah pegon di Salatiga pada 2019. Naskah pegon ini ditemukan di Nusa Tenggara Barat. Sempat ada upaya untuk membawa naskah pegon ini ke luar negeri. Beruntung kolektor benda kuno menyelamatkannya ke Salatiga. Peneliti menyakini naskah pegon itu tertua di Jawa, yang diketahui dari angka tahun yang terbaca di dalamnya, yaitu 1347 Masehi. Masyhudi Muhtar, peneliti arkeologi Islam di Balai Arkeologi Yogyakarta, yang meneliti naskah pegon itu, menjelaskan pada bagian akhir naskah terdapat kalimat puji-pujian dan memohon pertolongan kepada Allah. Puji-pujian itu ditulis dalam bahasa Arab. Di bawahnya terdapat angka Arab yang dibaca 1347 (bihamdillah wa ‘aunihi sanah 1347 M), yang di bawahnya terdapat huruf mim.
- Meninjau Kembali Temuan Naskah Pegon Tertua di Jawa
NASKAH pegon temuan Balai Arkeologi Yogyakarta tahun 2019 diklaim sebagai yang tertua karena peneliti membaca angka tahun 1347 sebagai tahun Masehi. Masyhudi Muhtar, peneliti bidang arkeologi Islam di Balai Arkeologi Yogyakarta, menjelaskan, pada bagian akhir naskah terdapat kalimat puji-pujian dan memohon pertolongan kepada Allah. Puji-pujian itu ditulis dalam bahasa Arab. Di bawahnya terdapat angka Arab yang dibaca 1347 (bihamdillah wa‘aunihi sanah 1347 M), yang di bawahnya terdapat huruf mim. “Mim dalam bahasa Arab itu meladiyah, artinya kelahiran, yang dimaksud di sini adalah kelahiran Nabi Isa AS, maka angka tahun ini diambil dari angka tahun Masehi,” kata Masyhudi dalam diskusi daring berjudul “Beberapa Jejak Peradaban Asing di Jawa”, Kamis, 15 April 2021.
- Humor ala Bakir
RAWANA mengadakan pesta. Ia memberi minuman kepada raksasa, berupa “brandi dan konyak syampanye, maka sekaliannya mabuk... Maka piala yang bertatahkan ratna mutu manikam pun diisi oranglah daripada minuman arak dan brem dan anggur sampanye dan brandi konyak”. Cuplikan adegan dalam Hikayat Sri Rama, yang disadur Muhammad Bakir bin Syafian bin Usman bin Fadli, terasa janggal bila pembaca berbekal bingkai cerita Ramayana. Naskah yang selesai disalin pada 17 Desember 1896 ini memang memuat cerita yang bersumber pada Ramayana. Namun Bakir menyisipkan kejadian aktual. Bahkan, dalam cerita wayang dan petualangan, dia memasukan nama-nama tempat di Jawa; Batavia, Gunung Gede, Muara Ancol, Muara Baru, Pasar Baru, dan Bekasi. Tujuannya, “memberikan aspek realis, modern, dan profan kepada cerita fiksi, kuno, dan sedikit banyak sakral,” tulis Henri Chambert-Loir dalam pengantar Katalog Naskah Pecenongan Koleksi Perpustakaan Nasional: Sastra Betawi Akhir Abad-19.
- Literasi Orang Betawi
BANYAK orang mengira masyarakat Nusantara, termasuk masyarakat Jakarta buta huruf sebelum kedatangan kolonial Belanda. Padahal, jauh sebelum itu masyarakat Betawi telah memiliki tradisi literasi dalam penulisan dan pembacaan naskah aksara Arab-Jawi dengan bahasa Melayu. Ini menunjukkan masyarakat Betawi telah mengenal baca tulis dengan baik. Dengan demikian, mereka hanya buta huruf Latin yang diperkenalkan melalui pendidikan dan budaya kolonial. “Kebudayaan menulis dan membaca telah berkembang jauh sebelum kedatangan kolonial Belanda. Pada masa itu, masyarakat telah mengenal pendidikan agama Islam yang menjadi medium berkembangnya tradisi literasi. Melalui pendidikan tersebut, masyarakat terbiasa mencatat dan membaca menggunakan aksara Arab maupun Jawi. Sehingga mereka itu bukan buta huruf, tetapi buta huruf Latin,” kata Siswantari, sejarawan Universitas Indonesia, kepada Historia.ID. Bukti budaya literasi masyarakat Betawi dapat dilihat dari Pecenongan. Kawasan yang kini dikenal sebagai pusat kuliner, dahulu menjadi pusat kegiatan literasi masyarakat Betawi yang menyimpan banyak manuskrip penting. Pada abad ke-19, Pecenongan dikenal sebagai kawasan yang memiliki banyak skriptorium atau tempat penulisan dan penyalinan naskah.
- Sudiro Sang Guru Pergerakan
AKHIR 1939, datanglah ke Kota Magelang seorang juara dunia catur dari Belanda bernama Max Euwe. Di sana dia bertanding catur melawan 41 orang. Koran De Locomotief, 23 September 1930, memberitakan, dari 41 pertandingan yang dimainkan Max, 36 laga dimenangkannya, dua seri (melawan Soejono dan Ratib, pelajar Hogare Kweekschool, HKS), dan tiga kalah. Kekalahannya terjadi saat melawan Residen Van Pelt, Liem Tjay An, dan Sudiro seorang pelajar HKS. Sudiro adalah siswa tahun terakhir di HKS Magelang. Putra kepala laboran (pengelola laboratorium) pabrik gula di Klaten itu lulus dari sekolah tersebut pada 1931. Dari Magelang, Sudiro kemudian pindah ke Madiun. Memulai kariernya sebagai guru. Guru Rival Aparat Kolonial Di Madiun, Sudiro ditampung di sekolah-sekolah milik Boedi Oetomo, yang sudah memiliki sekolah menengah MULO (Meer Uitgebrid Lager Onderwijz) dan sekolah guru Kweekschool. Sudiro dipercaya menjadi direktur MULO-Kweekschool Boedi Oetomo.
- Cerita Lucu dari Demonstrasi Mahasiswa
AKSI gerakan mahasiswa 2019 di berbagai kota kini tengah menjadi pemberitaan luas di media massa dan media sosial. Bukan hanya sekitar tuntutan mereka saja, berbagai cerita lucu nan konyol di sekitar demonstrasi juga bertebaran di Instagram, Facebook dan Twitter. Sejatinya pengalaman konyol nan jenaka itu juga dimiliki oleh gerakan-gerakan mahasiswa sebelumnya. Soe Hok Gie sempat merekam cerita-cerita lucu itu di buku hariannya yang kemudian dibukukan menjadi Catatan Seorang Demonstran. Bagi Soe Hok Gie, kisah-kisah itu tidak hanya sekadar membuat hiburan namun juga menjadi ikatan penguat dari perjuangan mereka. “…Dalam petualangan inilah lahir kisah humor-humor mahasiswa.”
- Cerita Menarik di Balik Gelar Anumerta Raja Gowa
SUASANA siang di salah satu kantin di bawah kolong Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin Makassar cukup gerah. Beberapa dosen menikmati kopi dan bediskusi lepas. Topiknya beragam dari ekonomi, politik, hingga makna di balik nama. Sesekali diskusi diselingi candaan atau tertawa lebar terbahak-bahak. Akhirnya, tersebutlah beberapa nama raja dan bangsawan. Seperti nama raja di wilayah Pangkep, yakni Petta Tallese Lesee, yakni raja yang dikebiri agar fokus tetap berperang dan tidak memikirkan hal lain. Kamudian diurutlah beberapa nama raja. Salah seorang adalah pendiri Benteng Somba Opu, Tumapa’risi’ Kallonna. Nama lengkap raja ini adalah Daeng Matanre, Karaeng Mangutungi, Tumapa’risi’ Kallonna (Raja Gowa IX periode 1510-1546). Selama berkuasa, dia menciptakan undang-undang tata pemerintahan dan aturan perang.
- Cerita di Balik Gambar Sultan Hasanuddin
PADA 1951, Jawatan Penerangan Provinsi Sulawesi Selatan akan menerbitkan sebuah majalah. Nomor perdananya memuat laporan pemberontakan Kahar Muzakkar yang memimpin Brigade Hasanuddin. Para redaktur memutuskan untuk menghiasi sampul majalahnya dengan gambar Sultan Hasanuddin (1631-1670). “Tapi di mana bisa ditemukan potret dari Sultan? Dokumen sejarah tak mewariskan gambarnya. Ada Sinrili (legenda atau cerita rakyat yang dituturkan dengan diiringi oleh alat musik yang dinamakan keso-keso atau rebab), tapi itu pun masih ditimbang-timbang kebenarannya,” tulis majalah Mimbar, No. 14 Tahun II, 20 April 1972. Akhirnya, para redaktur memutuskan untuk membuat gambar Sultan Hasanuddin, Raja Gowa XVI. Tarekat Kimin, pelukis Jawatan Penerangan Provinsi Sulawesi Selatan, ditugaskan membuat sketsa di atas kertas dengan pensil. “Saya kerjakan dua jam,” kata Tarekat yang saat itu berusia 48 tahun.
- Otto Skorzeny yang Ditakuti
SOROT mata Otto Skorzeny begitu tajam. Codet di pipi kiri sang hauptsturmführer (kapten) dari pasukan komando Schutzstaffel (SS) Jerman itu menambah kesan garang kala mencoba meyakinkan jenderal polisi Italia Fernando Soleti dengan setengah memaksa. Sang jenderal pun “menurut” dibawa ke sebuah misi penting: menyelamatkan Il Duce Benito Mussolini. Sejak ditangkap Carabinieri (polisi militer) Italia pada 25 Juli 1943, posisi Mussolini sebagai perdana menteri telah dilengserkan. Pelengseran dilakukan setelah Gran Cosiglio del Fascismo (Dewan Fasisme Italia) menetapkan mosi tidak percaya terhadap Mussolini pasca-invasi Sekutu ke Pulau Sisilia dan pemboman terhadap ibukota Roma. Raja Vittorio Emanuele III pun menetapkan Marsekal Pietro Badoglio untuk menggantikan posisi Mussolini. “Perintah untuk membebaskan Mussolini diberikan kepada Skorzeny oleh Hitler sendiri, sekalipun tindakan itu diambil Hitler lebih didorong pertimbangan politik daripada pertimbangan sentimentil,” tulis P.K. Ojong dalam Perang Eropa: Jilid II.
- Dinamika Majalah Sastra di Indonesia (Bagian 3)
SEJAK Orde Baru, Horison tampil sebagai majalah sastra yang mendominasi penerbitan karya sastra di Indonesia. Sebagai majalah sastra paling berpengaruh, Horison menjadi tolok ukur karya kesusastraan. Belum afdol jadi sastrawan kalau karyanya belum pernah dimuat dalam Horison. Begitulah pandangan umum yang berlaku saat itu. Namun, memasuki dekade 1990-an, Horison mengalami penurunan. “Pada saat yang sama, muncul juga media-media sastra dan budaya alternatif yang penting. Misalnya, jurnal kebudayaan Kalam yang terbit pada 1994, yang dikelola oleh Goenawan Muhammad dan kawan-kawan, kemudian juga menguatnya otoritas koran,” terang kritikus sastra Zen Hae. Pada 1992, harian Kompas, menggagas penghargaan anugerah cerita pendek (cerpen) terbaik. Cerpen pilihan Kompas dibukukan dari tahun ke tahun. Sejak itu, cerpen-cerpen bermutu bermunculan dalam Kompas maupun koran lain. Hal ini mulai menggeser perhatian para sastrawan, khususnya penulis cerpen. Orientasi mereka yang semula ingin diterbitkan dalam majalah sastra beralih ke media cetak.





















