top of page

Hasil pencarian

9752 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Tantangan Mengembalikan Prasasti dari Inggris

    KALA menguasai Jawa pasca-Geger Sepehi (Juni 1812), pemerintah kolonial Inggris “memanen” benda-benda budaya dan bersejarah di banyak tempat. Di Jawa Timur, mereka menjarah Prasasti Sangguran dan Prasasti Pucangan. Kini, seiring munculnya tuntutan pengembalian benda budaya dan bersejarah yang dijarah Inggris, muncul pula keinginan untuk memulangkan kedua prasasti tersebut. Namun, menurut sejarawan Peter Carey, tantangannya berliku untuk bisa menuntut kedua prasasti itu kembali ke Indonesia. “Butuh upaya yang gigih lantaran dua prasasti itu sudah berbaur dengan kebiasaan publik setempat di Inggris,” ujarnya dalam bincang virtual bersama Pemred Historia  Bonnie Triyana dalam live   Historia . id  bertajuk “Memburu Harta Jarahan: Repatriasi Benda Bersejarah dari Negeri Penjajah”, Rabu (5/8/2020). Prasasti Sangguran yang kemudian dikenal dengan Minto Stone kini berada di pekarangan kediaman eks Gubernur Jenderal Inggris di India, Lord Minto, di Roxburghshire, perbatasan Skotlandia-Inggris. Prasasti berisi kutukan dan karma yang bertarikh 982 Masehi itu merupakan rampasan dari Mojorejo (kini dekat Kota Batu, Malang, Jawa Timur), salah satu wilayah yang direbut Inggris pasca-Geger Sepehi. Kolonel Colin Mackenzie (kiri) & SS Matilda, kapal dagang EIC yang membawa prasasti kuno dari Hindia Timur ke Kolkatta (Foto: Dok. Presentasi Peter Carey) Prasasti berbentuk tablet setinggi dua meter dan berbobot tiga ton itu diambil perwira Skotlandia Kolonel Colin Mackenzie untuk diberikan ke Gubernur Letnan Hindia Belanda Sir Thomas Stamford Raffles. Lantaran dijadikan sebagai benda persembahan untuk Lord Minto, prasasti tersebut dikirim Raffles ke Kolkata pada Mei 1813 menggunakan kapal dagang milik East India Company dari Surabaya. “Masalahnya satu isu, walaupun dulu dirampas, sekarang sudah menjadi bagian dari budaya lokal. Ini menjadi lebih rumit. Prasasti Sangguran di perbatasan Skotlandia-Inggris menjadi salah satu benda budaya yang sangat digemari pasukan Skotlandia dan setiap tahun ada semacam reuni kembali ke kediaman Lord Minto. Ada suatu peleburan budaya dari benda itu kepada budaya lokal,” tutur Peter. Hal serupa berlaku pada Prasasti Pucangan atau Calcutta Stone yang berasal dari tahun 1041. Prasasti berisi kisah kelahiran kekuasaan Raja Airlangga, pendiri Kerajaan Kahuripan, itu ditemukan sendiri oleh Raffles dan juga dikirim sebagai persembahan untuk Lord Minto. “Itu kondisinya memprihatinkan. Lokasinya ada di gudang tua yang bocor di Indian Museum dalam keadaan porak-poranda,” sambungnya. Prasasti Sangguran atau Minto Stone di pekarangan kediaman Lord Minto (Foto: Dok. Presentasi Peter Carey) Merupakan tantangan tersendiri untuk bisa mengembalikan dua prasasti dari abad kesembilan dan abad ke-11 itu. Pasalnya, pada 2006, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata bersama Kedutaan Besar RI di London sudah menyambangi pihak pewaris Lord Minto, namun gagal karena tidak ada titik temu soal kompensasi. “Harus dibuat semacam kasus. (Keluarga) Lord Minto tidak akan gamblang kirim kembali. Harus ada desakan (lagi) dari pemerintah Indonesia dengan semua fakta dari penelitian, sehingga bisa dengan laik balik ke sini,” papar Peter. Yang pasti, kata Peter, butuh persiapan banyak hal untuk menempuh jalan repatriasi yang berliku. “Harus diajukan kasus, tidak simsalabim, tidak seperti mie instan. Harus lewat ketekunan dan ketelitian membuat tafsiran, dan melalui jaringan diplomasi antara Pak (Presiden RI) Jokowi dengan (Perdana Menteri Inggris) Boris Johnson, antara duta besar, ada pengajuan kepada pemerintah dan penghakiman (jalur hukum, red. ),” lanjutnya. Sejarawan Peter Carey (kanan) dalam bincang live “Memburu Harta Jarahan: Repatriasi Benda Bersejarah dari Negeri Penjajah” Peter juga memberi warning agar pihak Indonesia harus menyiapkan dan meyakinkan bahwa dua benda itu bisa ditempatkan di lokasi yang lebih baik. Sehingga, jika kelak dikembalikan, kedua prasasti tidak seperti Prasasti Pucangan di Kolkata yang diletakkan di gudang yang bocor. “Seumpama benda (prasasti) itu kembali, apakah situasinya akan lebih baik dari sebelumnya? Pengalaman saya pada 1989 dengan British Council untuk mengembalikan 75 naskah yang diambil Inggris, kita kembalikan dalam bentuk microfilm kepada pihak Museum Nasional dan Keraton Yogyakarta. Dalam rentang 10 tahun itu hancur semua. Sebab tidak disediakan ruang yang atmospheric , ruangan ber-AC, ditaruh di lemari, tidak dipakai,” ujar Peter mencontohkan. “Harus ada kebijakan persiapan menerima kembali supaya lebih bermanfaat. Mesti ada riset yang menjelaskan benda ini milik si anu, si itu. Harus ada tafsiran berapa nilainya. Semua harus teliti, terperinci, dan tepat sasaran. Kalau tidak, jangan harap (bisa kembali),” tutupnya.

  • Misi Rahasia Jenderal S. Parman

    SUATU hari Willem Oltmans, jurnalis Algemeen Handelsblad  mendapat telepon dari Kolonel Sutikno Lukitodisastro, Atase militer (Atmil) Indonesia di Amerika Serikat (AS). Sutikno memberitahu ada seorang jenderal dari Jakarta yang ingin berbicara dengan Oltmans. Sang jenderal menginap di kamar 1040 Hotel Hilton di Madison Avenue, New York. Oltmans pun segera menghampiri ke sana. “Saya diterima oleh seorang bapak yang ramah dengan pakaian yang sesuai dengan ukuran badannya, yang ternyata adalah Jenderal S. Parman”, kenang Oltmans dalam memoarnya Bung Karno Sahabatku . Oltmans mencatat, pertemuan dengan S. Parman terjadi pada 18 Oktober 1964.    Di Belanda, Oltmans punya reputasi sebagai jurnalis investigatif yang tidak disukai pemerintah Belanda. Tulisan-tulisannya yang mendukung Indonesia dalam sengketa Irian Barat menyebabkannya dirinya kena cap persona non-grata  lantas pindah ke AS. Secara pribadi, Oltmans juga bersimpati kepada Presiden Sukarno. Kepada Oltmans Parman berkisah, dirinya telah mengenal Bung Karno sejak berusia 16 tahun. Sewaktu konflik melanda tentara dalam Peristiwa 17 Oktober 1952, Bung Karno sempat tidak suka kepada Parman mengingat dia disebut-sebut sebagai orang-nya Nasution. Namun ketika Zulkifli Lubis (yang merupakan perwira intel kesayangan Bung Karno saat insiden itu berlangsung) terlibat dalam PRRI-Permesta, “hubungan antara Bapak  dan saya baik kembali,” kata Parman ditirukan Oltmans. Dari Atmil ke Asisten I/Intel Siswondo Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, 4 Agustus 1918. Dalam Siapa Dia? Perwira Tingggi TNI-AD , Harsja Bachtiar mencatat karir militer Parman dimulai sebagai penerjemah kempetai (polisi militer) di zaman Jepang. Setelah Indonesia memperoleh kedaulatan, Parman menjadi komandan Corps Polisi Militer (CPM).  Pada 1951, Parman sempat mengikuti pendidikan Associate Military Company Officer School di Georgia, AS. Pada 1959, Parman diangkat menjadi atase militer untuk Kerajaan Inggris dan bertugas di London. Tugas sebagai Atmil dijalaninya selama tiga tahun. Di periode itu, Jenderal Abdul Haris Nasution merupakan Kepala Staf Angakatan Darat (KSAD). Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Masa Orde Lama mencatat, Parman menjadi salah satu Atmil Indonesia yang ikut menjalankan kampanye Irian Barat di Eropa Barat. Parman tergabung bersama Kolonel Pandjaitan di Bonn dan Kolonel Rachmat Kartakusumah di Paris dalam “Operasi C”.  Nasution menyebut misi para Atmilnya tersebut sebagai diplomasi senyap untuk mempengaruhi sikap tokoh-tokoh penting di Belanda. Ketika Nasution berkunjung ke London pada 1961, Parman turut menyambut. Di hotel, kata Nasution, Parman dengan teliti menyiapkan gayung dan lain-lain kebiasaan Indonesia di kamar mandi. “Agar merasa tidak terlalu asing,” kata Parman ditirukan Nasution. Pada 1962, Parman dipanggil pulang ke Indonesia. Pimpinan dalam tubuh Angkatan darat beralih dari Nasution ke Ahmad Yani. Parman kemudian ditunjuk sebagai Asisten I Menpangad yang mengurusi bidang intelijen. Pada 1964, Parman mendapat kenaikan pangkat sebagai mayor jenderal. Di dalam negeri, Angkatan Darat menghadapi lawan politiknya Partai Komunis Indonesia (PKI). Parman merupakan salah perwira yang menolak tegas wacana Angkatan Kelima gagasan PKI. Dalam rencana itu, buruh dan tani dipersenjatai untuk mengimbangi tentara. “Jabatan S. Parman sebagai pejabat intelijen menyebabkan ia banyak mengetahui kegiatan rahasia PKI. Karena itulah ia menjadi salah seorang pejabat teras Angkatan Darat yang termasuk daftar yang akan dilenyapkan PKI,” tulis tim peneliti Departemen Sosial RI dalam Wajah dan sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional Seri IV .   Wara-wiri Lintas Negara     Mengurusi intelijen Angkatan Darat membuat Parman punya jaringan di mana-mana. Tidak terkecuali di luar negeri. Keberadaan Parman di negeri asing pernah pula disaksikan sejawatnya yang lain, Brigjen Soegih Arto, duta besar Indonesia untuk Birma. Pada pertengahan 1964, Sukarno mengutus Soegih Arto ke Inggris untuk menjajaki perundingan penyelesaian konfrontasi Malaysia. Soegih Arto berangkat ke London melalui Paris. Ketika singgah di rumah Atmil Indonesia di Paris, Soegih Arto bertemu dengan Parman. Soegih Arto heran mengapa Parman berada di Paris namun sungkan bertanya. Soegih Arto kemudian mengetahui bahwa Parman juga mengemban misi yang sama dengannya. Jika Soegih Arto ditugaskan berhubungan dengan Kementerian Luar Negeri Inggris, maka Parman punya saluran ke Markas Besar Angkatan Perang Inggris. Keesokan harinya, Soegih Arto melihat Atmil Indonesia untuk Inggris, Kolonel Sasrapawira menjemput S. Parman. “Beliau diutus karena Beliau adalah Chief Intelligence Angkatan Darat, tetapi juga karena pernah menjabat sebagai Atase militer di Inggris,” kata Soegih Arto dalam Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto .   Menurut sejarawan Universitas Indonesia Linda Sunarti, Parman merupakan utusan Yani sebagai peace feelers atau penjajak perdamaian dengan kemungkinan berunding dengan militer Inggris. Dalam upaya itu, Parman mengadakan pembicaraan rahasia dengan Kolonel Berger, Atmil Inggris untuk Prancis pada 9 Oktober 1964. Meski demikian, pembicaraan tidak berlanjutkan dengan perundingan resmi antar negara. “Pertemuan antara Mayjen S. Parman dan Kolonel Berger hanya berhenti sampai sebatas itu saja, tidak ada pembicaraan lebih lanjut,” tulis Linda dalam disertasi yang dipertahankan di Universitas Indonesia berjudul “Penyelesaian Damai Konflik Indonesia Malaysia 1963--1966”. Koneksi dengan CIA? Sepekan lebih berselang, Parman bersua dengan Oltmans di New York. Pembicaraan diantara mereka kemudian menyinggung nama Werner Verrips. Menurut Oltmans, Verrips adalah orang Belanda agen CIA.  Pada 1950, Verrips terlibat perampokan Bank Indonesia di Surabaya dan S. Parman adalah perwira CPM yang menangkapnya. Mengenai sosok Verrips, Oltmans mengonfirmasi sejumlah hal kepada Parman.   Kepada Oltmans, Parman membenarkan dirinya mengenal Verrips secara pribadi. Mereka bahkan baru bertemu di London untuk membahas masalah Malaysia. Namun Parman membantah pengakuan Verrips mengenai kedekatannya dengan Ahmad Yani. “Ia membual,” kata Parman, “Ia sama sekali tidak mengenal Yani.” Parman kemudian meminta bantuan Oltmans untuk dapat bertemu Verrips. Dengan menggunakan telepon hotel, Oltmans menelepon rumah Verrips di Huister ter Heide, Utrecht, Belanda. Istrinya, Anneke, memberikan nomor tempat Verrips dapat dihubungi. Segera Parman dan Verrips mengobrol lewat telepon. “Kedua 'sahabat lama’ itu mengobrol lewat telepon lintas-atlantik. Tak lama lagi mereka akan bertemu di Belanda, atau mungkin di London,” kata Oltmans. Pada 4 Desember 1964, Verrips mengalami kecelakaan mobil. Dia meninggal dalam peristiwa nahas itu. Apakah kejadian yang menimpa Verrips itu berhubungan dengan Parman, Oltmans sendiri tidak dapat membuktikannya. Pada awal Januari 1965, Oltmans kembali ke rumahnya di Long Island. Dia kemudian menemui Zairin Zain, duta besar Indonesia untuk AS. Dari Zain, Oltmans mengetahui bahwa dirinya juga menjadi target pelenyapan. Kata Zain, Verrips mengetahui terlalu banyak dan selalu ingin buka mulut kepada siapa saja. Sementara itu, Oltmans selalu ingin memuat segala yang ia ketahui dalam koran. Menurut Manai Sophiaan dalam Kehormatan Bagi yang Berhak: Bung Karno Tidak Terlibat G30S/PKI,  Oltmans dan Verrips sudah mengetahui adanya kegiatan mencari dukungan dari Belanda dan Washington atas rencana hendak menggulingkan Sukarno. “Rencana yang tidak mereka setujui dan dikhawatirkan akan melaporkannya kepada Sukarno.”*

  • Wacana Pengembalian Benda Jarahan Inggris

    PADA 1812, pecah perang Sepehi atau Sepoy antara Kesultanan Yogyakarta melawan Inggris. Dinamakan perang Sepehi atau Sepoy karena kala itu Inggris membawa bala tentara Sepoy dari India. Gabungan pasukan Inggris, Sepoy, dan Mangkunegaran itu berhasil menaklukkan benteng Keraton Yogyakarta. Sultan Hamengku Buwono II pun jatuh. Usai geger Sepehi, Inggris menjarah keraton di selatan Jawa itu. Selama empat hari hilir mudik, peti-peti berisi harta benda dari keraton diangkut dengan gerobak. Nilainya melebihi 120 juta dolar AS di masa kini. Hasil jarahan itu diangkut ke kepatihan. Dari manuskrip hingga barang berharga lainnya dibawa ke Rustenburg (keresidenan) lalu dibagikan ke perwira dan serdadu Inggris-India. "Di dalam keresidenan (jarahan, red. ) disortir semua," kata Peter Carey dalam Tur Sejarah "Jejak Inggris di Jawa 1811-1812”, di Yogyakarta, Rabu, 30 Agustus 2017. Kisah penjarahan besar-besaran ini belakangan dibuka lagi oleh keturunan Sultan Hamengku Buwono II. Mengutip krjogja . com , Sekretaris Pengusul Pahlawan Nasional HB II Fajar Bagoes Poetranto juga mendesak pemerintah untuk membantu pengembalian benda-benda hasil jarahan itu. “Kami mengharapkan harta dan benda bersejarah yang dijarah tentara Inggris pada Perang Sepehi tahun 1812 untuk dikembalikan. Barang-barang tersebut merupakan salah satu bagian dari milik Keraton Yogyakarta di masa Raja Sri Sultan Hamengkubuwono II,” ujar Bagoes Rabu, 22 Juli 2020. Bagoes juga menyebut, dalam hasil jarahan itu terdapat logam emas sebanyak 57.000 ton. Namun, surat bukti kepemilikan atau kolateralnya juga dirampas. “Kami meminta agar emas tersebut dikembalikan kepada pihak Keraton atau para keturunan dari Sinuwun Sri Sultan Hamengkubuwono II,” kata Bagoes, seperti dikutip krjogja . com . Riset Asal-Usul Pernyataan Bagoes tentang pengembalian barang jarahan itu, terutama mengenai emas, lalu ramai diperbincangkan. Sayangnya, tuntutan pengembalian barang-barang yang dikeluarkan Bagoes tidak didasari provenance research. Padahal, menurut Ketua Departemen Sejarah Universitas Gadjah Mada Sri Margana, provenance research  merupakan dasar untuk mengembalikan benda-benda tersebut. Riset tersebut untuk membuktikan bahwa benda-benda yang dimaksud benar-benar berasal dari negara jajahan. “Jadi tidak sekedar o...iya ini kayaknya dari Indonesia, kemudian ya udah dikembalikan, enggak. Tetapi harus dibuktikan bahwa memang itu asal-usulnya dari catatan-catatan historis, catatan-catatan penting yang bisa dipakai sebagai landasan mengembalikan pada yang punya,” kata Sri Margana menjelaskan kepada Historia . Selain itu, provenance research  juga penting dalam rangka produksi pengetahuan. Benda-benda yang diteliti tidak hanya dikembalikan untuk disimpan lagi di museum, melainkan dapat menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat. Hasil penelitian itu nantinya akan mengisi celah-celah dalam historiografi sebuah bangsa dan menjadi bukti baru dalam narasi sejarah yang hilang. “Jadi dia harus memberikan efek bagi pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Itulah mengapa syaratnya itu. Syarat pengembalian ada provenance research . Yaitu kajian yang serius, kajian yang mendalam terhadap fungsi benda itu, manfaat benda itu, bagi kebudayaan Indonesia, bagi ilmu pengetahuan, bagi sejarah itu apa. Nah itu yang kemudian dijadikan dasar,” sambung Margana. Hal itu harus dilakukan terhadap benda-benda bersejarah dari Yogyakarta di Inggris mengingat banyaknya koleksi museum-museum Inggris yang berasal dari negara jajahan. British Museum, misalnya, mayoritas koleksinya berasal dari wilayah koloni di Asia, Afrika, dan Oseania. Bahkan, benda-benda tersebut menjadi ikon museum yang mengundang banyak pengunjung. Namun, sampai saat ini tampaknya belum ada upaya Inggris untuk melakukan pengembalian atau repatriasi. “Setau saya Inggris juga belum melakukan apa-apa. Bahwa negara-negara di Afrika mulai membuat tuntutan, iya,” terang Margana. Diplomasi Antar-Negara Wacana dekolonisasi museum memang tengah ramai di Eropa. Museum-museum yang berisi benda-benda hasil rampasan selama masa kolonial dituntut untuk dikembalkan ke negara asal. Belum lama ini, Belanda telah mengembalikan keris Pangeran Diponegoro beserta 1499 benda budaya dan bersejarah lain dari Museum Nusantara di Delf. Sri Margana, yang juga tergabung dalam tim ahli dari Indonesia dalam pengembalian keris Diponegoro, menyebut bahwa hal yang sama juga bisa dilakukan untuk benda-benda bersejarah di Inggris. Kuncinya adalah upaya diplomatik antar-kedua negara. “Jadi sebetulnya, kemungkinan pengembalian itu sangat mungkin. Tapi harus dilakukan dengan upaya-upaya diplomatik yang saling menghormati masing-masing. Jadi setiap negara itu kan punya aturan, punya perwakilan diplomatik,” ujarnya. Belajar dari pengalaman hubungan Indonesia dengan Belanda, proses repatriasi berlangsung bertahap sejak 1975. Kesepakatan-kesepakatan dan kerjasama dalam penelitian juga diadakan. Dari sana dapat diketahui mana benda yang merupakan hasil rampasan atau jarahan secara paksa dan mana yang hadiah atau sukarela. Setelah benda-benda tersebut dikategorigan sebagai hasil ambil paksa, dilakukanlah negosiasi untuk dikembalikan. Sementara untuk benda-benda persembahan atau hadiah, tetap menjadi hak milik dan tidak perlu dikembalikan ke negara jajahan. “Jadi kalau barang-barang yang dari Inggris ini dilakukan, ya saran saya tempuhlah cara-cara yang terhormat. Cara-cara diplomatik sebagai dua negara yang berdaulat, yang memiliki cara-cara tersendiri atau prosedur sendiri dalam hubungan antar negara,” kata Margana. Margana menambahkan, repatriasi tentu saja tidak bisa dilakukan antara negara terhadap individu. Pasalnya, benda-benda bersejarah tersebut telah menjadi properti dari negara yang berdaulat. Lembaga-lembaga negara juga tidak berurusan dengan individu, melainkan dengan lembaga negara lain yang setingkat. “Itu harus perwakilan antar-negara. Tidak bisa individu. Seperti kalau Belanda menyerahkan keris, itu nggak  bisa diserahkan pada keluarganya Diponegoro. Nggak  bisa. Diserahkannya kepada Museum Nasioal karena itu aset bangsa. Tidak bisa dimiliki secara pribadi,” tegasnya.*

  • Zaman Gorombolan DI/TII

    TJUTJU Soendoesiyah (74) masih ingat kedatangan pamannya bernama Sersan Mayor Ombi ke rumahnya pada suatu hari di tahun 1956. Selain temu kangen setelah banyak bertugas ke luar daerah, Ombi juga bermaksud memberi tahu sang kakak, ibunya Tjutju, bahwa dirinya mulai hari itu ditugaskan di Bingawatie. Bingawatie adalah nama tempat yang terletak di Kampung Cangklek, Kabupaten Cianjur. Di sana didirikan sebuah pos militer untuk mengadang gerakan gerilyawan DI/TII dari arah Gunung Gemuruh dan Gunung Gede. "Ya kalau dari rumah saya di Salagedang, jaraknya ada sekitar 7 km," ungkap nenek dari 6 cucu itu. Beberapa hari setelah kedatangan sang paman, Tjutju mendengar berita duka: Pos Bingawatie pada suatu malam diserang sekaligus dibakar oleh gorombolan , sebutan orang Sunda kepada gerilyawan DI/TII. Tak ada yang tersisa. Bangunan pos dan para penghuninya nyaris menjadi abu. "Jasad Mang Ombi sendiri ditemukan sudah merengkel  (mengerut), besarnya menjadi seperti bayi yang baru dilahirkan," kenang Tjutju. Tak lama setelah kehilangan sang paman, Tjutju mendengar kabar sedih kembali. Kali ini dari selatan Cianjur. Diberitakan uaknya yang bernama Tantan tewas disembelih oleh gorombolan  saat mereka menjarah kampungnya. "Waktu zaman gorombolan , hampir tiap waktu kita selalu kehilangan orang-orang yang kita sayangi dan kita kenal sangat akrab. Saat itu pertempuran banyak terjadi, korban pun banyak berjatuhan. Situasi pokoknya sangat kacau," ujar Tjutju. Berbeda dengan Tjutju, Kasa bin Sukadma (76) yang pada 1961 masih berumur 17 tahun mengalami secara langsung kegilaan perang di zaman itu. Bahkan bisa dikatakan dia merupakan salah satu korban keganasan para gorombolan . "Saya harus kehilangan tangan kiri saya yang diteukteuk  (dipotong) oleh salah seorang gorombolan  yang menyerang kampung saya," kenang warga Desa Parentas, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya itu. Ceritanya, pada 17 Agustus 1961 tepat jam 12 malam, ratusan gerilyawan DI/TII menyerang desanya. Penyerangan itu sejatinya menyasar pos tentara di desa tersebut, namun tak ayal mengorbankan juga banyak warga desa. Kasa bersembunyi di tengah sawah yang siap panen. Namun, dasar sial, dia ditemukan oleh enam gerilyawan DI/TII yang memeriksa setiap kotak sawah secara teliti. "Mereka langsung membacok saya dengan golok panjangnya dan kena ke tangan kiri saya hingga putus. Nyawa saya selamat karena begitu tangan saya putus langsung pingsan dan dianggap sudah mati," ujar lelaki yang saat ini bekerja sebagai petani itu. Akibat penyerangan itu, 51 warga Parentas tewas seketika. Puluhan orang lainnya luka-luka. Pihak tentara kehilangan tiga prajuritnya. Sementara itu, di pihak gerilyawan DI/TII hanya ditemukan satu orang tewas dengan lubang peluru di kepala. Selain kegetiran dan kesedihan, zaman gorombolan  pun menguak kisah-kisah jenaka. Sudah menjadi rahasia umum jika pada saat itu rakyat berada dalam dilema menghadapi dua pihak yang tengah berperang. Maka muncullah istilah "kongres" kepanjangan dari hareup nyokong ka tukang beres  (di depan bilang mendukung ke belakang bilang beres). "Rakyat jadi berwajah dua: kalau siang mendukung tentara, nah malamnya membantu gorombolan ," kata Usep Romli H.M., wartawan senior Jawa Barat sekaligus pelaku sejarah zaman gorombolan . Usep yang saat itu warga Cibiuk, Garut memiliki pengalaman lucu. Menjelang DI/TII menyerah kepada pemerintah, dia dan kawan-kawannya ditugaskan oleh seorang pemuka masyarakat mengantarkan kebutuhan logistik untuk urang leuweung  (orang hutan, istilah lain untuk gerilyawan DI/TII). Logistik itu berupa makanan enak, seperti nasi putih, sambal, goreng ikan gurame, lalapan, pepes ikan dan lain-lain. Sampai di tempat yang biasanya warga desa “menyetor” logistik, para utusan DI/TII ternyata belum datang. Hingga tengah malam, ternyata tak satu batang hidung pun gorombolan  terlihat. Apa boleh buat, logistik itu akhirnya "disikat" saja oleh para pengantar hingga ludes. Singkat cerita, para pengantar yang kekenyangan itu pun sampai kembali di desanya. Saat itulah, sang tokoh masyarakat menemui mereka dan langsung bertanya:  "Sudah kalian sampaikan logistiknya?" "Sudah Pak Haji, beresss," ujar Usep. "Oh begitu. Tapi kok mereka tidak memberikan kode tembakan seperti biasanya kalau sudah menerima logistik, ya?" tanya Pak Haji lagi. "Hmmm, oh itu. Mereka bilang sih katanya kehabisan peluru," jawab Usep, sekenanya. Walau sedikit bimbang, Pak Haji pun mengangguk-anggukan kepalanya. Dan soal logistik untuk "orang hutan" itu pun tetap menjadi rahasia Usep dan kawan-kawannya hingga bertahun-tahun, jauh setelah DI/TII turun gunung dan menyerah kepada pemerintah.*

  • Dari Syal hingga Dasi

    Muasal Penggunaan Syal Syal sekarang identik dengan fesyen. Ia digunakan sebagai aksesoris untuk mempercantik penampilan. Namun, siapa sangka dulu syal lebih sering digunakan lelaki ketimbang perempuan? Pada masa Romawi Kuno, lelaki diketahui kerap melilitkan sepotong kain di leher. Tujuannya untuk menyeka keringat. Ini sesuai dengan namanya, sudarium  atau kain keringat. Tak heran, banyak yang memandang Romawi sebagai tempat muasal syal. Setelah kerap dipakai lelaki, barulah perempuan ikut melilitkan syal di leher. Umumnya, syal terbuat dari wol dan sutra. Sementara itu, di Tiongkok syal digunakan untuk mengukur kedudukan seseorang, terutama dalam pemerintahan dan militer. Pada abad ke-17, beberapa tentara Eropa melilitkan kain katun di lehernya untuk membedakan dengan tentara lainnya. Fungsi Kipas bagi Penguasa Beberapa abad lampau, kipas tak sekadar penyejuk badan kala cuaca panas. Kipas juga menunjukkan kemegahan. Penguasa Romawi Kuno biasa mempekerjakan budak­budak untuk mengipasi mereka. Tradisi ini terus bertahan di Eropa hingga Abad Pertengahan. Ratu Inggris Elizabeth I (1558–1603) tercatat gandrung terhadap kipas. Ia hampir tak bisa lepas dari kipas kesayangannya, terbuat dari bulu burung nan indah. Batu pualam atau kulit kerang menambah keindahannya. Louis XVI (1754–1793) tak mau kalah. Penguasa Prancis ini memiliki koleksi kipas yang berhiaskan intan berlian dan emas. [Hendaru Tri Hanggoro] Jas untuk Acara Resmi dan Santai Khalayak Eropa biasa menggunakan jas sejak abad ke-18. Dan memang awal penggunaannya ditujukan untuk acara resmi. Dress-coat  atau frock coat  adalah jas resmi pas badan yang bagian belakangnya memiliki ekor, sedangkan bagian depannya berbentuk meruncing atau kotak. Tapi itu berubah pada abad ke-19. Sejumlah pria mengenakan setelan jas baru untuk bersantai, disebut lounge . Potongannya yang tidak resmi membuat setelan lounge  sangat populer di kalangan seniman, bohemian, dan intelektual. [Hendaru Tri Hanggoro] Fungsi Dasi di Masa Lampau Sehelai kain yang menjuntai dari leher hingga dada ini sudah dikenal sejak zaman Romawi Kuno. Biasanya dipakai oleh juru bicara. Fungsinya sebagai pelindung tenggorokan dan dada. Mereka melilitkan seikat kain dari leher hingga ke dada untuk menjaga kualitas suara. Mereka menggunakan dasi kala berkumpul di agora , sebuah forum publik. Agora  berlangsung dalam koloseum atau teater besar. Sementara di Tiongkok dasi berfungsi sebagai aksesoris prajurit. Prajurit Kroasia mengikuti cara ini pada abad ke-17 M. Dasi menjadi pembeda satu divisi tentara dengan divisi lainnya. Pada era Renaisans, masyarakat Eropa mengenal ruff , kerah kaku dari kain putih menyerupai piringan yang melingkari leher. Pemakaian ruff  yang kerap menyebabkan iritasi tergeser oleh cravat , sehelai sapu tangan terbuat dari bermacam jenis kain yang diikatkan ke leher. Penggunaan cravat  mencuat di Prancis pada medio 1600-an. Ia diperkenalkan orang-orang Kroasia yang jadi tentara sewaan Raja Louis XIII. Sehingga, kata cravat pun berarti “penduduk dari Kroasia”. Keindahan cravat  mewarnai gaya berbusana di Eropa. Ia pun menjadi penanda status sosial si pemakai, hingga menjadi dasi yang kita kenal hari ini. [Martin Sitompul]

  • Dari Pengelana Melayu hingga Bajak Laut Asing

    Ora ng Melayu Mengelilingi Dunia Enrique Malaka, salah satu awak ekspedisi Ferdinand Magellan (1519–1522). Beberapa sejarawan meyakini Enrique seorang Melayu yang diambil sebagai budak oleh Magellan pascapenaklukan Malaka oleh armada Portugis tahun 1511. Ketika Magellan kembali ke Eropa, Enrique dibawa serta. Magellan lalu pergi ke Spanyol untuk meminta sponsor untuk ekspedisinya mencari rute ke kepulauan rempah - rempah. Raja Charles V setuju mensponsori dan mengirimkan armada yang dipimpin Magellan. Enrique diikutsertakan sebagai penerjemah. Ekspedisi itu berangkat dari Sevilla pada 10 Agustus 1519, menyeberangi Samudera Atlantik, melayari pantai timur Amerika Selatan, hingga akhirnya memasuki Samudera Pasifik. Armada tiba di Filipina pada April 1521. Ketika Magellan terbunuh dalam konflik dengan penduduk setempat, Enrique memutuskan menetap di sana. Sisa dari armada Magellan melanjutkan perjalanan dan baru tiba kembali ke Spanyol pada 6 September 1522. Marco Polo dari Timur Rabban Bar Sauma (1220–1294) sering disebut sebagai “Marco Polo dari Timur” karena prestasinya mencapai Eropa dari Asia melalui jalur sutra. Seorang Mongol kelahiran Beijing ini adalah rahib gereja Nestorian, sekte Kristiani yang berkembang pesat di Asia. Dia mendapat perintah dari Khan Mongol untuk menjadi diplomat ke Eropa sekaligus menjalin hubungan politik dengan Prancis untuk menekan dominasi kaum muslim Mamluk di Timur Tengah. Pada 1287, dia dan rombongannya berangkat ke Eropa dan mencapai Konstantinopel dan Sicilia. Pada 1288, dia mencapai Paris, Prancis, dan bertemu dengan Raja Edward I di Bordeaux. Di Roma, dia juga bertemu dengan Paus Nicholas IV. Namun sayangnya, raja-raja Eropa tidak tertarik menjalin hubungan politik dengan bangsa Mongol. Dia menghabiskan masa tuanya di Baghdad sambil menulis catatan perjalanannya, The Monks of Kublai Khan: Emperor of China , yang kali pertama diterbitkan Sir EA Wallis Budge di Inggris pada 1928. Negara Pertama Mencapai Kutub Selatan Roald Amundsen beserta tim ekspedisi dari Norwegia menjadi yang pertama mencapai Kutub Selatan magnetis, ujung medan magnet yang lurus menembus pusat bumi dan menjadi sumbu putar bumi. Mereka tiba pada 14 Desember 1911, empat minggu lebih awal dari ekspedisi Robert Falcon Scott yang membawa panji Inggris. Keberhasilan heroik Amundsen kemudian diberitakan besar-besaran dan dirayakan secara menyeluruh oleh publik dunia. Amundsen lalu menulis kisah keberhasilannya ini dalam laporan berjudul The South Pole: An Account of the Norwegian Expedition in the Fram, 1910-1912 . Bersama dengan Ernest Shackleton dan Robert Falcon Scott dari Inggris, serta Douglas Mawson dari Australia, Amundsen menjadi tokoh kunci ekspedisi penjelajahan Antartika pada Zaman Heroik Penjelajahan Antartika selama pergantian abad ke-20. Setidaknya 17 ekspedisi besar dari 10 negara terjadi selama masa tersebut, dan menjadikan Antartika sebagai pusat riset internasional. Kota Dikuasai Bajak Laut Asing Kota Padang di Sumatra Barat pernah dikuasai gerombolan bajak laut La Meme yang membawa bendera Prancis pada 1793. Menurut E. Netscher dalam Padang, In het laatst der XVIIIe eeuw , La Meme berangkat dari Bordeaux pada 1792 sebagai “utusan” Prancis untuk mengambil alih kekuasaan VOC di Padang setelah Kerajaan Belanda ditaklukkan pasukan Prancis yang dipimpin Napoleon Bonaparte. Melalui pernyataan kapitulasi oleh opperkoopman Padang saat itu, P.F. Chasse, La Meme menyatakan kota Padang takluk dan menjadi daerah kekuasaan Prancis. La Meme menguasai kota Padang selama 16 hari dan selama itu penduduk setempat diminta menyetorkan uang sebanyak 70.000 ringgit sebagai setoran harta jarahan.

  • Rahasia Masa Mahasiswa Kasino

    Sudah lewat dini hari. Api unggun menyala. Udara dingin di bumi perkemahan Cibubur berubah hangat. Tak jauh dari api unggun, sejumlah mahasiswa duduk menghadap sebuah rakit di Situ Cibubur. Di atas rakit, dua orang mahasiswa lagi membanyol. Banyolannya agak jorok dan menyindir kebijakan politik-ekonomi saat itu, tahun 1973. Teman-temannya tertawa mendengar banyolan mereka. Dua mahasiswa tadi bernama Kasino Hadiwibowo dan Nanu Mulyono. Keduanya beda jurusan di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Indonesia (FIS UI). Kasino anak administrasi niaga, Nanu mengambil sosiologi. Tapi keduanya sama-sama punya daya humor yang kuat. Temmy Lesanpura, salah satu mahasiswa di perkemahan sekaligus kru radio Prambors, terpikat dengan polah Kasino dan Nanu. Dia meminta Rudy Badil, mahasiswa antropologi Fakultas Sastra UI sekaligus teman Kasino dan Nanu, untuk membawa keduanya siaran di acara Obrolan Malam Jumat (Omamat) Prambors. Kasino, Nanu, Rudy Badil, dan Temmy bertemu. Kepada mereka, Temmy mengutarakan garis-garis besar acara itu: konsep obrolan seperti di warung kopi. Bercanda tapi pakai otak. Bergurau tapi menyindir ketidakberesan kondisi politik negeri.  Mengangkat Musik Dangdut Bagi Kasino, garis besar siaran itu cocok dengan kehidupan dirinya di kampus. Dia aktif berpolitik di Senat Mahasiswa. “Sekalipun aktivis, Kasino sama sekali bukan mahasiswa yang ‘sok genting’ mau mengurusi soal politik semata-mata,” kata Budiarto Shambazy dalam Warkop Dari Main-Main Jadi Bukan Main. Di luar urusan politik, Kasino senang mencicip beragam aktivitas seperti kesenian, naik gunung bersama Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) UI, dan darmawisata ke desa-desa. “Aku suka tanah lapang, aku menyukai perkampungan yang hijau dan aku menyukai sesuatu yang alamiah,” kata Kasino dalam “Biografi Kasino Warkop” dalam Vista , No. 550 Tahun 1982. Baca juga:  Kasino Sebelum Gabung Warkop Dari berbagai aktivitasnya itu, Kasino melihat bermacam kenyataan sosial di sekitarnya. Dia mengendapkannya, lalu mengolahnya bersama buku-buku yang dia baca dan pengalaman yang dia dapat dari kampus. Wujudnya tampak dalam acara Omamat di Prambors. Nanu, Dono, Kasino, dan Rudy Badil ketika siaran Obrolan Malam Jum'at di Radio Prambors tahun 1976. (Repro Majalah Gadis, 13-22 Mei 1976). Bersama Rudy Badil dan Nanu, Kasino mencuri perhatian pendengar Prambors. Dia sering mengajukan teka-teki. Agak jorok, tapi ternyata ilmiah. “Bulat panjang, warnanya dekil, letaknya di antara paha lelaki, suka dipencet dan ditekan keras-keras. Apa itu? Rem Becak!” kata Kasino, seperti diceritakan Rudy Badil dalam Warkop Dari Main-Main Jadi Bukan Main Kasino mengambil bahan teka-teki dari dosennya Rudy Badil, James Dananjaya, seorang antropolog pengumpul folklor dari berbagai daerah Indonesia. Folklor adalah kekayaan budaya suatu masyarakat yang berbentuk lisan atau gerak isyarat dan meliputi legenda, mitos, dongeng, nyanyian, kepercayaan, serta mainan. Kasino gemar mencatat segala macam cerita lucu. Kemudian dia akan membeberkannya kepada Nanu dan Rudy menjelang siaran Omamat. “Yang lucu-lucu gampang diingat. Kalau pelajaran, suka lupa,” ujar Kasino dalam Tempo , 2 Desember 1978. Baca juga:  Warkop, Ini Baru Namanya Mainan Resep Kasino cukup ampuh. Omamat mempunyai pendengar setia. Tapi Kasino sadar, mengandalkan lawakan saja akan membuat acara itu membosankan. Maka dia coba terobosan baru: menggabungkan musik dangdut dengan lawakan. Saat itu kebanyakan orang memandang musik dangdut sebelah mata. Musik kampungan, kata mereka. Tapi Kasino justru mendekati musik dangdut dengan mengikuti festival musik dangdut antarfakultas di UI. Dia tampil dengan peralatan seadanya bersama teman-temannya. Di tangan mereka, lagu-lagu Barat diparodikan dan diberi irama dangdut. Hasilnya mereka keluar sebagai pemenang. Teman-teman Kasino kemudian membentuk grup sendiri bernama Orkes Mahasiswa Pancaran Sinar Petromaks (OM-PSP). “Sejak itu kelompoknya yang telah sering tampil di berbagai acara dengan melucu itu kerap diiringi musik dangdut rekan mereka. Warkop dengan PSP,” catat Pos Kota , 13 November 1994. Baca juga:  Dono Mahasiswa Kritis Kehadiran musik dangdut melambungkan acara Omamat. Dono menyusul memperkuat Warkop pada 1975. Nama Warkop pun mulai dikenal. Kasino jadi orang tenar di kalangan anak muda dan remaja. Pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) sering kali memintanya untuk mengisi acara mereka. Dia menyambut permintaan itu dengan semangat. “Senang sekali kalau diminta ngurusin anak-anak OSIS,” ungkap Rudy Badil Bertemu Istri Meski waktunya cukup tersita oleh berbagai aktivitas Warkop, Kasino masih sempat naik gunung dan mengadakan kegiatan lapangan. Suatu hari dia bertemu dengan seorang mahasiswi bernama Amarmini, adik kelasnya di FIS. Semula Kasino dan Mieke, panggilan karib Amarmini, berlaku biasa saja selayaknya teman. Lama-kelamaan, hubungan itu berubah. Karena sering berkegiatan bersama, keduanya jatuh cinta.    Kasino mulai mengenakan kacamata gelap. (Potongan film Mana Tahaaan). Kasino mulai berani mendatangi rumah Mieke. Dia pun bertemu dengan orang tuanya dan disapa oleh mereka. “Sudah tingkat berapa, Nak?” kata Ibunya Mieke. “Tingkat empat, Bu,” jawab Kasino. “Rajin-rajin belajar, ya. Biar cepat lulus,” kata sang Ibu. Setahun berselang, Kasino datang lagi. Ibunya Mieke mengulang pertanyaannya. “Sudah tingkat berapa, Nak?” “Tinggal membuat skripsi, Bu.” “Rajin-rajin datang kemari, ya!” Kasino menangkap ucapan itu sebagai lampu hijau hubungannya dengan Mieke. Dia segera melamar Mieke meskipun belum selesai kuliah. Dia merasa sudah bisa memperoleh uang cukup dari membanyol di radio Prambors dan manggung di beberapa tempat lainnya. “Orang tua Mieke sudah maklum, Kasino memang serius untuk menjadikan Mieke sebagai teman hidupnya nanti,” catat Sinar Harapan , 27 Juli 1986. Baca juga:  Jodoh Dono Ditunjukkan Jailangkung Lamaran Kasino diterima keluarga Mieke. Mereka resmi jadi satu keluarga pada 30 April 1976. Kemudian Ayah Mieke yang bekerja sebagai dokter meminta Kasino untuk membantu kliniknya. Dia sempat menerima pekerjaan ini selama satu setengah tahun. Kasino terpaksa mengundurkan diri setelah tak sanggup lagi berbagi waktu. Dia memilih fokus menyelesaikan skripsi dan manggung bersama Warkop. Pegawai Negeri atau Pelawak? Kasino menjadi sarjana pada 1978. Orang tuanya gembira anaknya telah lulus kuliah. Selangkah lagi harapan mereka tercapai. Orang tuanya telah lama menaruh harapan agar Kasino dapat menjadi pegawai negeri. Atau setidaknya, dia bisa bekerja sebagai orang kantoran. Bagi orang tua Kasino, menjadi pegawai negeri atau pekerja kantoran akan memberikan ketenteraman pada anaknya. “Katanya, meski berpenghasilan sedikit, tapi hidup tenang dan tenteram terutama untuk jangka panjang,” cerita Kasino dalam Vista No. 550. Baca juga:  Dono dan Novel-novelnya Kasino tiba di simpangan jalan. Antara memenuhi harapan orang tua atau meneruskan perjalanannya bersama Warkop. Sebenarnya selama manggung bersama Warkop, Kasino sering kepikiran apa dia bisa memenuhi harapan orang tuanya. Dia mengaku sempat menolak tawaran tampil di TV bersama Warkop agar ayahnya tak marah. Dono, Rudy Badil, dan Kasino dalam acara wisuda mereka tahun 1978. (Dok. Andika Aria Sena). “Takut sama ayah yang di daerah. Jauh-jauh disekolahkan, tahu-tahu di Jakarta kerjanya cuma mbadut,” kata Kasino dalam Gadis , 13 Mei 1976. Kasino juga memikirkan bagaimana perasaan orang tuanya jika dia memilih meneruskan perjalanan bersama Warkop. Menurutnya, orang tuanya sudah capek lahir batin membiayai kuliahnya sampai lulus. Pada hari kelulusan Kasino, mereka datang dengan harapan yang masih sama. Kasino lalu berdiskusi dengan teman-teman di Warkop. Dia juga bertanya pada dirinya sendiri. Kesimpulannya, dia memilih meneruskan perjalanan bersama Warkop. Dia ingin serius dan total bersama Warkop. “Kalau nggak salah ingat, waktu itu jawaban untuk orang tua saya adalah saya akan coba dulu dunia lawak, nanti kalau gagal saya akan pakai gelar kesarjanaan untuk mencari sesuap nasi,” kata Kasino dalam Femina , 4 Oktober 1983. Baca juga:  Dono dan Artikel-Artikelnya Bersama Warkop, Kasino justru memperoleh keberhasilan. Ini makin menjauhkan dirinya dari harapan orang tuanya. “Apa boleh buat, jalan menuju ketenteraman banyak. Tidak harus menjadi pegawai negeri seperti kata Bapak,” kata Kasino. Kasino bersedia tampil di TV setelah orang tuanya memberikan restu. Sebagai bentuk terima kasih dan baktinya, dia sering pulang ke rumah untuk menemui orang tuanya. “Beliau hidup di desa sekarang ini. Tetapi setiap bulan aku ketemu dan memberikan pensiun khusus dariku, menurut besar kecilnya hasilku,” kata Kasino. Kasino percaya keberhasilannya berasal dari kerelaan orang tuanya membiarkan dirinya tumbuh memilih jalannya sendiri.

  • Raja-raja Awal Nusantara yang Berkurban

    Kurban hewan muncul dalam beberapa prasasti yang dikeluarkan kerajaan-kerajaan awal di Nusantara. Seperti Prasasti Yupa dari Kerajaan Kutai Kartanegara, Prasasti Tugu dari Kerajaan Tarumanegara, dan Prasasti Dinoyo dari Kerajaan Kanjuruhan, Jawa Timur. "Dalam Prasasti Yupa dan Prasasti Tugu dikisahkan pengurbanan lembu dan jumlahnya fantastis," kata Dwi Cahyono, arkeolog dan dosen sejarah Universitas Negeri Malang, kepada Historia.id . Dalam salah satu Prasasti Yupa yang ditemukan di Muarakaman, Kalimantan Timur,   disebutkan Raja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana   untuk upacara di tanah suci bernama Vaprakeswara. "Di dalam Prasasti Yupa semacam jadi penekanan, bahkan disebutkan tiang atau tugu yang dijadikan tempat mengikat hewan kurban, yang kemudian disebut yupa itu," kata Dwi. Dwi menghubungkan kurban itu dengan kepercayaan Weda yang berkembang pada awal masa sejarah di Nusantara. Dalam praktiknya, Weda menekankan ritual pengorbanan dan brahmana menempati posisi sentral. "Di India awalnya Weda, baru berkembang jadi Hinduisme. Abad-abad awal di Nusantara, religinya yang masuk juga Weda," kata Dwi. Begitu pula dalam Prasasti Tugu yang ditemukan di Kelurahan Tugu, Koja, Jakarta Utara. Awal perkembangan Tarumanegara hanya berselang sebentar setelah munculnya Kutai Kertanegara. Karenanya ada kemungkinan agamanya sama. "Ada beberapa orang berpendapat begitu (pengaruh tradisi Weda,  red .). Saya sendiri juga lebih ke situ. Ini berkaitan dengan kepercayaan Weda pada abad ke-4 hingga ke-5," kata Dwi. Tradisi dari India Hariani Santiko, arkeolog Universitas Indonesia, dalam "The Vedic Religion in Nusantara" yang terbit dalam jurnal Kalpataru, Vol. 31 No. 2, Desember 2013, menjelaskan penyebaran agama Weda di India kira-kira antara 2500–1500 SM. "Ini adalah periode di mana Arya, setelah masuk ke India dari Asia Tengah, pertama kali menetap di lembah Indus, dan secara bertahap memperluas dan mengembangkan budaya dan agama mereka," tulis Hariani.  Weda memiliki empat kitab sumber,yaitu Rgveda (nyanyian pujian untuk para dewata),  Yajurveda (petunjuk ritual pengurbanan),  Samaveda (nyanyian dalam ritual pengurbanan), dan  Atharvaveda (mantra dan ajaran yang bersifat magis). Hariani menjelaskan, ritual pengurbanan menempati posisi penting dalam kepercayaan Weda. Termasuk mempersembahkan susu, biji-bijian, jus tanaman dan buah-buahan.  Ada dua jenis upacara pengurbanan. Pertama, pengurbanan sederhana di rumah masing-masing dan dipimpin oleh penghuni rumah. Makanan sesaji dimasak terlebih dahulu kemudian dipersembahkan kepada Dewa Agni, Prajapati, dan Surya. Kedua, pengurbanan besar yang dilakukan oleh para brahmana di tanah lapang atau dikenal sebagai  ksetra . Altar dan yupa atau tiang pengikat kurban ditegakkan di dekat pintu masuk  ksetra. "Yupa diukir dari batang pohon khusus, tetapi pada periode kemudian, ketika ritual Weda dihidupkan kembali pada periode Hindu, yupa dibuat dari batu," tulis   Hariani.  Menurut arkeolog   Sri Soejatmi Satari dalam "Upacara Weda di Jawa Timur: Telaah Baru Prasasti Dinoyo" yang dipresentasikan dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi 2005, upacara kurban hewan ( pasubandha ) merupakan salah satu ritual dalam kepercayaan Weda   sebagai tahapan dalam penghormatan kepada Dewa Agni (Dewa Api). Hewan yang dikurbankan   diikat di tempat terbuka. Permukaannya ditutup rumput. "Hal yang menandai upacara Weda   adalah diadakannya upacara kurban binatang. Termasuk lembu yang dalam agama Hindu jelas dilarang," tulis Soejatmi. Agama India Pertama Ada tiga raja dalam prasasti yang mengundang para brahmana   untuk melakukan persembahan, yaitu Raja Kutai Kertanegara Mulawarman (abad ke-4), Raja Tarumanagara Purnawarman (abad ke-5), dan Raja Kanjuruhan Gajayana (abad ke-7). Tujuh prasasti yupa yang dikeluarkan Mulawarman diperkirakan dari abad ke-4-5. Isinya banyak menceritakan sumbangsihnya pada upacara keagamaan. Salah satu prasasti menyebutkan   Mulawarman menyumbang emas yang banyak. Lima prasasti menyebutnya   memberikan 20.000 ekor sapi, 11 ekor lembu jantan, monyet merah, banyak minyak wijen, lampu dengan bunga, air sapi (mungkin susu), dan tanah  ksetra . "Setelah mempelajari prasasti Mulawarman, saya menganggap bahwa Mulawarman telah memeluk ajaran Weda,"   tulis Hariani. Alasan yang mencolok karena Mulawarman melakukan persembahannya di ksetra , bukan di   kuil ( prasada ). Dalam Prasasti Tugu disebutkan Purnawarman menyumbang 1000 ekor sapi sebagai persembahan untuk upacaya yang dilakukan oleh para brahmana. "Tersebut nama dua kanal yang digali atas perintah Raja Purnawarman, yaitu sungai Gomati dan Candrabhaga. Kedua nama itu adalah anak-anak sungai Indus, permukiman pertama Arya di India," tulis Hariani. Selain prasasti, ada catatan tertulis yang berasal dari era Tarumanagara. Penulisnya Faxian, pengelana Buddha dari Tiongkok, yang pergi ke India untuk mengunjungi tempat-tempat suci Buddha. Pada 414, Faxian kembali ke negaranya melalui Sri Lanka. Namun, dalam perjalanan, kapalnya diserang badai. Kapalnya karam di Ye-bo-di yang mungkin sebutan untuk Jawa. Menurut Faxian, hanya ada sedikit umat Buddha di Yebodi. Namun, cukup banyak brahmana yang tidak menjalankan agama mereka sebagaimana mestinya. "Apakah Faxian melihat ritual Weda di Tarumanagara, yang berbeda dari ritual Hindu di India? Jadi,   ia menyimpulkan bahwa agama di Tarumanagara tidak dipraktikkan dengan benar?" tulis Hariani. Hariani menyebut ritual Weda   mungkin juga dilakukan di Kota Kapur, Bangka. Di antara tinggalannya adalah   altar Weda dan fragmen arca Wisnu  yang mungkin dari abad ke-5-6. Dari karakteristiknya, Hariani tak yakin temuan itu merupakan sisa-sisa candi. Ukurannya terlalu kecil dan tidak biasa untuk candi. Mungkin sisa-sisa altar Weda untuk persembahan kepada Wisnu karena ditemukan   fragmen arang. Hariani pernah mendapatkan informasi temuan lingga, objek pemujaan yang menyimbolkan Siwa, di tengah sisa-sisa bangunan itu. Bentuknya masih kasar. Ia membandingkannya dengan temuan yupa yang belum selesai di Muarakaman.   Mungkin lingga kasar itu adalah yupa yang belum selesai. Upacara Weda masih dijalankan di Jawa pada abad ke-7. Prasasti Dinoyo (760)   menyebutkan upacara penggantian arca rsi Agastya yang berbahan   kayu cendana menjadi marmer hitam dan indah.   Dalam upacara itu, raja dibantu para imam Weda. "Raja Gajayana bahkan menganut Siwaisme (Hindu-Siwa), namun ia mengundang pendeta-pendeta Weda untuk melakukan persembahan Weda,"   tulis Hariani. Prasasti Dinoyo juga menyebut adanya ahli Rgveda , ahli Weda dalam upacara, para pertapa ( yati ) terbaik, para pemahat, dan para ahli lainnya dari penduduk negeri. Raja menganugerahkan tanah lapang, lembu-lembu gemuk bersama dengan kawanan kerbau, serta sekelompok budak laki-laki dan perempuan. Soejatmi menjelaskan semua hadiah itu disediakan untuk berbagai upacara, seperti  prawara-caru-hawis-snana. Bila dibandingkan dengan upacara Weda di India, upacara ini sangat dekat dengan   Somayajna.  Upacaranya dilaksanakan berjenjang dan rumit. Prawara  adalah seruan kepada pendeta untuk upacara dan seruan Agni untuk melakukan upacara korban.  Caru  adalah   persembahan kepada dewa berupa bubur yang dimasak dalam periuk. Dalam  Somayajna  berupa gandum. Sedangkan dalam Prasasti Dinoyo berupa beras. Hawis  adalah persembahan kepada dewa yang langsung dimasukkan ke dalam api. Persembahan dilakukan lewat perantara Agni sebelum diadakannya upacara.   Snana  merupakan upacara mensucikan diri dengan mandi. Untuk keperluan upacara ini, raja menyediakan tanah lapang, lembu gemuk dan kerbau untuk dipersembahkan kepada dewa. Di Nusantara, tradisi Weda cenderung melakukan persembahan kepada Wisnu. Ini dipercaya akan mendatangkan banyak hal, seperti mengatasi permusuhan dan menghancurkan musuh. "Karena bagi raja, mereka akan mendapatkan kekuatan dan energi yang melekat dalam kerajaan untuk menjadi raja dunia," tulis Hariani. Di Muarakaman ditemukan arca Wisnu dari emas. Di Cibuaya, Jawa Barat, ada dua arca Wisnu. Frgamen arca Wisnu juga ditemukan di Kota Kapur, Bangka. "Membawa saya pada asumsi bahwa agama Weda awal di Nusantara memilih Wisnu untuk ibadah khusus," tulis Hariani. Selain Wisnu, dewa penting lain adalah Agni yang disebutkan dalam Prasasti Yupa. Dalam Prasasti Dinoyo disebut Putikesvara  atau api suci yang menyala ke segala arah. Namun, Dewa Wisnu tidak disebutkan dalam Prasasti Dinoyo karena agama Gajayana adalah Hindu (Siwaisme). Ia mungkin menyembah Agastya, karena sang rsi adalah murid Siwa dan dianggap sebagai mediator antara manusia dan Dewa Siwa. Kemungkinan lain adalah Agastya dikenal sebagai yang dipuja dalam himne Rgveda . "Kita dapat menyimpulkan bahwa agama Weda merupakan agama India pertama yang dianut oleh para penguasa di Nusantara," tulis Hariani.

  • Sintong Dikerjai Tape Recorder Kala Berupaya Merebut RRI

    Jakarta, 1 Oktober 1965. Di markas RPKAD (kini Kopassus) Cijantung, Letda Sintong Panjaitan (di kemudian hari menjadi penasehat militer Presiden Habibie) telah menyiapkan semua keperluan operasi yang akan dijalaninya secara lengkap. Di ranselnya telah ada amunisi untuk garis pertama dan logistik untuk tiga hari. Namun, dia cemas menanti kepastian tanggal tugas berupa operasi penerjunan infiltrasi di Kuching, Sarawak, Malaysia itu. “Sintong memperkirakan pelaksanaannya mungkin pada tanggal 2 atau 3 Oktober. Sebab pada tanggal 1 Oktober, seluruh anggota Kompi Tanjung harus benar-benar sudah dalam keadaan siap tempur,” tulis Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando . Sintong akan memimpin Pleton 1 Kompi Feisal Tanjung. Namun karena status kompi itu dalam operasi tersebut berupa sukarewalan Dwikora, para personil harus menanggalkan semua atribut resmi personil RPKAD mereka, tak terkecuali kartu anggota. Karena itulah seragam dan semua perlengkapan resmi mereka tinggalkan di asrama Batalyon 3 RPKAD di Kandang Menjangan, Kartosuro.   Usai apel pagi 1 Oktober, Sintong diberitahu Lettu Faisal Tanjung yang telah mendapat briefing dari Dan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie bahwa operasi penerjunan ke Kuching dibatalkan. Kompi Tanjung pun dikembalikan sebagai kompi reguler dan akan ditugaskan dalam operasi penumpasan gerombolan G30S yang kabarnya masih belum jelas benar pagi itu. Tugas baru itu membuat Sintong dan semua personil di Kompi Tanjung kalang kabut. Seragam dan semua atribut resmi mereka semua ada di Kartosuro. Mereka akhirnya terpaksa mengenakan seragam perpaduan atasan loreng “darah mengalir” RPKAD yang diberikan mako Cijantung dan bawahan celana hijau sukarelawan Dwikora  ketika berangkat ke Makostrad, Jalan Merdeka Timur, untuk menjalankan tugas. Pangkostrad Mayjen Soeharto menugaskan Kolonel Sarwo untuk merebut RRI dan kantor Telkom. Perintah Soeharto kemudian diturunkan Sarwo Edhie ke Mayor C.I Santoso, lalu ke Lettu Feisal Tanjung. Lantaran informasi intelijen mengabarkan bahwa saat itu RRI hanya dijaga 10-an sukarelawan Pemuda Rakyat, bukan lagi oleh Banteng Raiders, Feisal akhirnya hanya perlu menggunakan kompi Sintong untuk merebut RRI . Selepas magrib, Sintong memimpin Pleton 1 berjalan kaki menuju RRI . Tak ada perlawanan sama sekali sehingga satu demi satu personil Pleton 1 bisa memasuki gedung RRI . Setelah pengecekan ruangan demi ruangan selesai, Sintong melaporkan lewat radio kepada Lettu Feisal bahwa misinya telah berhasil. Laporan Sintong itu sontak mengagetkan Kolonel Sarwo yang memantau di ruangan bersama Feisal sambil mendengarkan siaran RRI. “Apa? RRI sudah diduduki? Coba kamu periksa semua ruangan duu. Itu aktivitas mereka masih di dalam!” kata Sarwo. Sintong pun bingung dibuatnya karena merasa sudah memeriksa semua ruangan dan tak menemukan seorangpun yang masih beraktivitas. Setelah mengulangi pemeriksaan, Sintong kembali melaporkan telah menguasai sasaran. “Laporanmu tidak benar. Kamu bersihkan dulu dengan bersih. Jangan buru-buru kamu lapor. Kamu tangkap dulu semua orang yang berada di situ!” kata Kolonel Sarwo menjawab laporan Sintong. Dalam kebingungannya, Sintong tak sengaja melihat pita tape recorder sedang berputar di alat pemutarnya. “Jangan-jangan ini yang menjadi masalah. Kalau begitu Pak Sarwo menyangka masih ada anggota G30S/PKI yang melakukan siaran, berasal dari suara tape recorder ini,” kata Sintong. Merasa sudah menemukan biang keroknya, Sintong pun berupaya menghancurkan tape player itu menggunakan popor senapannya. Namun dia dicegah seorang karyawan RRI yang segera mematikan tape player tersebut.  Setelah semua selesai, Sintong mempersilakan Kapuspen AD Brigjen Ibnu Subroto, yang karena khawatir minta Sintong mengulangi pemeriksaan keamanan, masuk ruang siaran untuk membacakan teks pidato Pangkostrad Mayjen Soeharto. Usai siaran, beberapa perwira senior RPKAD tiba di sana. Salah seorang di antaranya langsung mengolok-olok Sintong. “Ah, kampungan kamu itu. Masa kamu tadi tidak tahu kalau siaran G30S/PKI itu berasal dari tape recorder ,” kata perwira itu. Tak ingin kehilangan muka, Sintong pun menjawab olok-olok itu. “Ya, tapi tadi saya mendapat perintah mencari orangnya.” Sontak semua yang ada di ruangan tertawa.

  • Kiper Legendaris Manchester Bekas Pemuda Hitler

    MANCHESTER City boleh gagal mempertahankan gelar Premier League (liga teratas Inggris) di musim ini (2019-2020). Namun, rival sekota Manchester United itu boleh bangga terhadap kiper utama Ederson Santana de Moraes yang memetik Premier League Golden Glove Award sekaligus mengukir namanya di jajaran kiper-kiper terbaik The Citizens  (julukan Man. City) dari era Bert Trautmann hingga Joe Hart. Anugerah sarung tangan emas Premier League sendiri baru diadakan pada musim 2004-2005. Sebelum Ederson yang merengkuhnya pada 26 Juli 2020, kiper Man. City Joe Hart pernah mendulangnya bahkan sampai empat kali (2010-2013, dan 2015). Capaian itu membuktikan Man. City merupakan tim Inggris yang senantiasa punya bintang di bawah mistar gawang. Salah satu kiper legendaris Man. City adalah Trautmann, dari era 1950-1960-an. Namanya terdengar asing di telinga publik sepakbola dunia lantaran ia tak pernah mentas di turnamen internasional semisal Piala Dunia. Kisahnya tenggelam dengan kemunculan banyak kiper legendaris dunia setelahnya, mulai dari Gordon Banks, Dino Zoff, Sepp Maier, hingga Peter Schmeichel. Ederson Santana de Moraes (kanan) meraih Golden Glove Award Premier League 2019-2020 (Foto: Twitter @ManCity) Namun ketidakpopulerannya tak berarti kualitasnya buruk. Kiper legendaris Uni Soviet yang jadi panutan kiper-kiper dunia Lev Yashin pernah memuji tinggi Trautmann. “Hanya ada dua kiper berkelas dunia. Satu adalah Lev Yashin, lainnya adalah bocah Jerman yang bermain di Manchester: Trautmann,” kata Yashin menyanjung, dikutip laman klub mancity.com dalam obituarinya untuk Trautmann, 19 Juli 2013. Trautmann memang berasal dari Jerman. Di Perang Dunia II ia turut angkat senjata dengan jadi serdadu Jerman. Riwayatnya dua tahun lalu (rilis 1 Oktober 2018) diangkat ke layar lebar dengan tajuk The Keeper yang diproduksi Zephyr Films dan Lieblingsfilm. Tawanan Perang Bekas Pemuda Hitler Pada 22 Oktober 1923 di Walle, sebuah distrik di barat Bremen, Bernhard Carl ‘Bernie’ Trautmann lahir sebagai sulung dari dua bersaudara hasil pernikahan Frieda Elster dan Karl Trautmann. Olahraga jadi penyaluran kesenangan satu-satunya Trautmann mengingat ia hidup di tengah keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Karl hanyalah pekerja pelabuhan. Rob Steen menuliskan dalam Floodlights and Touchlines: A History of Spectator Sport , Trautmann kecil cakap dalam tiga bidang olahraga: sepakbola, bola tangan, dan dodgeball di tim lokal organisasi gereja. Berbekal kecakapan itu dan dengan kategori sebagai bocah Arya, ia masuk Deutsches Jungvolk (DJ), seksi junior (untuk anak umur 10-14 tahun) di Organisasi Hitlerjugend (Pemuda Hitler), pada Agustus 1933. Ketika Hitler berkuasa, Pemuda Hitler jadi organisasi yang wajib diikuti hampir semua anak usia sekolah. Dari beragam aktivitas di Pemuda Hitler pula Trautmann mengasah skill barunya, teknik mesin. Sebelum Perang Dunia II, ia magang sebagai mekanik otomotif sampai pada 1941, tahun dia mendaftar masuk Luftwaffe (AU Jerman). “Orang-orang bertanya, ‘kenapa (ikut perang, red. )?’, tetapi saat Anda muda perang laiknya sebuah petualangan. Lagipula tumbuh di Jermannya Hitler Anda tak bisa punya pilihan lain,” kata Trautmann, dikutip Steen. Berbekal kemampuan teknik mesin dan elektronik, Trautmann ditempatan sebagai prajurit operator radio. Ia lantas ditransfer ke Spandau dan digojlok lagi untuk masuk unit Fallschirmjäger (lintas udara). Tetapi karena kecelakaan saat bergurau dan mengakibatkan seorang atasannya terluka, Trautmann dipecat pada pertengahan 1941. Namun ia belum puas bertualang di medan perang. Pada Oktober 1941, ia mendaftar masuk ke matra darat dan diterima di Divisi Infantri ke-35 AD Jerman yang dipimpin Jenderal Walther Fischer von Weikersthal yang ditempatkan di front timur, Ukraina. Ilustrasi Bert Trautmann sebagai serdadu Fallschirmjäger di Perang Dunia II (Foto: Repro "Trautmann's Journey"/Twitter @FootballMuseum) Dalam masa inilah ia mengaku sempat kesulitan menerima kenyataan dan horor perang karena mengalami langsung. Utamanya terkait perlakuan brutal pasukan paramiliter Nazi Schutzstaffel (SS) maupun beberapa unit AD Jerman terhadap tawanan Uni Soviet. “Mulanya Anda tak berpikir bahwa musuh adalah sesama manusia. Lalu ketika Anda mulai menangkap para tawanan, Anda mendengar mereka menangis, berteriak menyebut ayah dan ibunya. Saat Anda bertemu musuh, barulah Anda merasa dia sama-sama manusia seperti saya,” ujarnya mengenang. Ada masa ketika dia ditawan pasukan Soviet. Beruntung ia bisa melarikan diri dan bergabung lagi ke pasukannya. Ia lantas dipindah ke Prancis pasca-invasi Normandia (Juni 1944) dan ditempatkan di Kleve, perbatasan Jerman-Belanda. Pemboman Sekutu membuatnya nyaris gila hingga memilih desersi. Sempat ditangkap lagi oleh pasukan Prancis pada Maret 1945, ia kembali meloloskan diri hingga akhirnya ditangkap pasukan Amerika. “Dia mencoba kabur karena takut akan dieksekusi Tentara Amerika. Tapi setelah dia melompat pagar, dia mendarat di hadapan tentara Inggris yang menyapanya: ‘Halo Fritz (sebutan Tentara Inggris untuk Tentara Jerman, red .), mau secangkir teh?’” ungkap Alan Rowlands dalam Trautmann: The Biography. Berakhirlah petualangan Trautmann di medan perang. Ia ditawan dan bergonta-ganti tempat penahanan, mulai dari Ostend (Belgia), Essex, Marbury Hall, Chesire, Fort Crosby, hingga Ashton-in-Makerfield, Inggris. Di kamp itulah Trautmann kembali bermain sepakbola, bersama rekan-rekan sesama tahanan dan penjaga kamp. Mulanya ia jadi penyerang, namun kelamaan dia jadi kiper pengganti setelah Günther Lühr, kiper andalan tim tahanan, cedera. Jagoan Penalti yang Ditakuti Meski belajar jadi kiper secara otodidak, kemampuan Trautmann cukup bikin para penjaga kamp terkesan, sampai dijuluki “Bert”. Sejak itu ia dikenal sebagai Bert Trautmann, nama yang digunakannya ketika diajak para penjaga kamp mengikuti laga-laga eksebisi melawan tim-tim lokal di luar kamp. “Saya mengajukan diri (ke militer) umur tujuh belas. Saya mulanya pasukan payung. Bertempur di Rusia selama tiga tahun. Saya berada di Prancis setelah D-Day (Invasi Normandia). Sempat juga saya di Arnhem, kemudian Ardennes. Saya ditangkap pada Maret 1945 dan ke Inggris sebagai tawanan perang. Di Inggris itulah pelajaran hidup yang sesungguhnya buat saya dimulai pada usia 22,” kata Trautmann kepada Catrine Clay yang dituangkan dalam Trautmann’s Journey: From Hitler Youth to FA Cup Legend. Trautmann mengembangkan bakatnya sebagai kiper di tim sepakbola tahanan perang di Inggris (Foto: Twitter @ManCity) Pelajaran hidup itu terkait olahraga. Walau masih berstatus tahanan, ia bisa menikmatinya dengan leluasa, tak seperti di masa sebelumnya dalam medan perang. “Olahraga sudah menjadi bagian dari hidup saya. Olahraga jadi penyaluran mental dalam segala situasi, baik maupun buruk, bahkan di Rusia ketika saya memerangi partisan dan kami harus menggantung diri di pepohonan dengan sabuk-sabuk kulit kami karena di situlah tempat paling aman. Bahkan di masa seperti itu, resimen punya tim bola tangan,” ungkapnya lagi kepada Clay yang menemuinya di Manchester pada Oktober 2007. “Beberapakali juga saat terbebas dari tugas di front terdepan, kami memainkannya demi menjaga kewarasan. Setelah perang, di Inggris, sepakbola yang saya geluti, lalu menjadi kiper Manchester City dan tiba-tiba jadi orang yang dikenal. Sungguh tak bisa dipercaya,” lanjutnya. Trautmann merintis kariernya sebagai kiper memang bermula dari tim tawanan perang. Ia memilih berdiam di Inggris meski ditawari repatriasi pulang ke negerinya setelah dibebaskan pada 1948. Sembari bekerja sebagai buruh tani, Trautmann main di liga amatir Liverpool County Combination bersama tim St. Helens Town. Sebagai eks-tawanan dan tentara Jerman, Trautmann mendapat perlakuan tak mengenakkan dari publik. Tetapi perlahan ia bisa mengubah masa lalu kelam itu menjadi kekaguman berkat aksi-aksi apiknya di bawah mistar hingga mengantarkan St. Helens Town naik level ke divisi dua liga amatir, Lanchashire Combination, pada musim 1949-1950. Kolase aksi-aksi Trautmann di bawah mistar gawang Manchester City (Foto: mancity.com ) Beberapa klub Football League (kini Premier League) mendengar kisahnya. Dari sekian klub yang dirumorkan kepincut, Manchester City yang pertama meminangnya, 7 Oktober 1949. Trautmann langsung jadi pilihan utama sebulan berselang, setelah kiper utama Frank Swift pensiun. Tetapi makin besar panggungnya, makin besar pula tekanan yang diterimanya dengan perundungan suporter yang sering meneriakinya “Kraut”, “Nazi”. Itu membuatnya harus menata mentalnya lagi dari nol. Beruntung dia didukung kapten tim Eric Westwood yang lebih dulu mengondusifkan internal tim. “Tidak ada perang di ruang ganti ini,” kataWestwood, yang juga eks-kombatan di Invasi Normandia, tegas. Sementara di ruang publik, Rabi Alexander Altmann, pemuka Yahudi di Manchester, yang prihatin, merilis surat terbuka untuk para fans di suratkabar Manchester Evening Chronicle agar meredam teror terhadap Trautmann. “Dia (Altmann) menyatakan, apakah kita bisa menghukum seorang individu atas dosa-dosa sebuah negara?” sambung Steen. Sebulan setelah surat terbuka itu, perundungan terhadap Trautmann mereda. Sang kiper pun menyambangi komunitas Yahudi untuk bertukar pengertian dan berterimakasih atas dukungan terhadapnya. Selepas itu Trautmann bisa berkonsentrasi penuh pada kariernya di Man. City. Total ia mencatatkan 545 laga sejak 1949 hingga 1964. Suporter Man. City berubah menjadi kagum padanya. Selain karena skill , Trautmann dikagumi karena rendah hati dan senantiasa berkenan memberi tanda tangan usai laga. “Selepas laga, saya masih akan selalu di lapangan memberi tanda tangan, biasanya sampai sejam, kadang lebih. Saya tak pernah mau menolaknya. Pemain lain bertanya: ‘Kenapa Anda mau melakukannya, Bert?’ Namun mereka tak mengerti. Setelah perang, saya jadi tawanan dan perlahan mulai diberi pengertian, diberi maaf dan mendapat banyak persahabatan. Saya ingin membalasnya, menunjukkan bahwa masih ada orang Jerman yang baik,” tuturnya kepada Clay lagi. Insiden di final FA Cup 1956 yang mengakibatkan Trautmann bermain dengan cedera leher hingga akhir laga (Foto: fifa.com ) Trautmann jadi kiper yang ditakuti pemain lawan, utamanya kala tendangan penalti. Sepanjang kariernya, 60 persen penalti sukses ia mentahkan berkat intuisi dan kecermatan pandangannya melihat mata pemain lawan. “Dia kiper terbaik yang pernah saya hadapi. Kami selalu mengatakan (pada rekan-rekan setim), jangan melihat gawang ketika mencoba mencetak gol ke gawang Bert. Karena jika melihat ke arah gawang, dia akan melihat mata Anda dan membaca pikiran Anda,” kenang legenda Manchester United Bobby Charlton, juga dikutip Clay. Saking berharganya Trautmann, Man. City sampai menolak tawaran seribu poundsterling dari klub Jerman Schalke 04 yang ingin memulangkannya pada 1952. Man. City merasa Trautmann bernilai 20 kali lipat dari nilai tawaran Schalke. Namun, kiper dengan gaya yang lebih gemar melempar bola jauh ketimbang melakukan tendangan gawang itu hanya bisa mengantarkan satu gelar buat Man. City, yakni gelar FA Cup musim 1955-1956. Di final, Trautmann dkk. menghadapi Birmingham City di Stadion Wembley, 5 Mei 1956. Sialnya, pada menit ke-75 ketika Man. City sedang unggul 3-1, terjadi insiden di mana Trautmann ditubruk pemain Birmingham Peter Murphy di kotak penalti. Lehernya nyeri dan ternyata ia mengalami patah leher. Akan tetapi Trautmann menolak diganti walau menahan rasa sakit tak terkira. Sampai akhir laga, City tetap unggul dan berhak atas trofi FA Cup. “Saya tak pernah lagi merasa takut setelah berperang melawan partisan, bahkan untuk sebuah cedera patah leher. Anda bisa jadi kiper yang baik, namun untuk jadi kiper hebat Anda harus punya hati. Semua kiper hebat memilikinya: hati dan keberanian,” imbuh Trautmann. Selepas pensiun Trautmann jadi SC Preußen Münster, SC Opel Rüsselsheim, Timnas Myanmar, Tanzania, Liberia, hingga Pakistan sebelum wafat pada 2013 (Foto: fifa.com ) Usai pemeriksaan x-ray tiga hari berselang, tim dokter menyatakan tulang tengkuk Trautmann mengalami dislokasi di lima titik. Ia pun harus absen di separuh musim berikutnya, setelah naik meja operasi. Meski comeback , Trautmann sering jadi kiper cadangan. Dia memutuskan mengakhiri 15 tahun kariernya di Man. City pada 15 April 1964 dengan sebuah laga eksebisi antara tim kombinasi Man. City-Man. United melawan tim International XI. “Sebenarnya pertandingan tak pernah benar-benar berakhir. Suporter menyerbu ke lapangan sampai harus diamankan jalur buat kami bisa keluar lapangan. Secara emosional, itulah momen luar biasa saya. Tentu saya menangis dan saya tak malu mengakuinya,” tandasnya. “Berapa banyak momen luar biasa yang pernah Anda alami seumur hidup? Saya selalu berterimakasih pada masyarakat Inggris, utamanya warga Lancashire dan rekan-rekan pesepakbola profesional yang menerima saya setelah masa perang dan sebagai seorang Jerman, dan membuat saya jadi seperti ini,” tutur Trautmann yang wafat pada 19 Juli 2013 akibat penyakit jantung.

  • Berebut Takhta Hitler

    Di hari yang cerah itu, 20 April 1945, segenap pejabat dan perwira terdekat Adolf Hitler berkumpul di aula Kekanseliran, Berlin. Kebetulan tak ada teror pemboman Uni Soviet saat itu, sehingga pesta ulangtahun ke-56 sang führer  bisa digelar meriah. Dengan menyembunyikan tangan kirinya yang menderita tremor ke punggungnya, Hitler tiba di ruangan disambut semua hadirin dengan salam Nazi yang dikomando SS-Reichsführer Heinrich Himmler. Heil ! Semua calon suksesor Hitler turut hadir. Selain Himmler, ada Reichsmarschall Hermann Goering (ejaan Jerman: Göring), orang nomor dua paling berkuasa di Jerman Nazi setelah Hitler. Dikisahkan Ian Kershaw dalam Hitler: 1936-1945 Nemesis , sementara Goering langsung pergi setelah menyalami Hitler, Himmler mencoba membujuk Hitler untuk mau keluar dari Berlin, ibukota Jerman Nazi yang sedang dicecar ofensif Soviet. Dibantu diplomat Walther Hewel, Himmler menyarankan Hitler bernegosiasi politik dengan Sekutu. “Aku muak dengan politik. Tak apa, temanku Himmler yang setia. Pergilah (keluar dari Berlin),” tutur Hitler, dikutip Kershaw. Itu jadi pertemuan terakhir Hitler dengan Himmler dan Goering. Ultimatum Goering Di antara kaki tangan terdekat Hitler, Goering paling banyak mengoleksi titel sejak Hitler naik jadi kanselir pada 1933 dan pemimpin absolut Jerman setahun kemudian. Titelnya   Reichsmarschall des Grossdeutschen Reiches (Marsekal Jerman Raya), sementara jabatannya Präsident des Reichstags (Presiden Perwakilan Rakyat), Menteri-Presiden, Gubernur Prusia, Menteri Penerbangan Jerman, serta tentunya Panglima Luftwaffe (AU Jerman). Goeringlah calon terkuat suksesor Hitler. Kans tersebut diperkuat dengan Dekrit 29 Juni 1941 yang dikeluarkan Hitler. “Dekrit itu menetapkan bahwa, jika Hitler meninggal, Goering menjadi suksesor; dan jika Führer  tidak mampu jadi pemimpin langsung, Goering yang mewakili sebagai deputinya,” tulis J.C. Boone dalam Hitler at the Obersalzberg: With Perceptions. Dua hari setelah menghadiri hari ulangtahun Hitler (20 April), Goering di markasnya di Obersalzberg terkejut mendengar perkembangan situasi di bunker Hitler dari wakilnya, Kepala Staf Luftwaffe General der Flieger Karl Koller. Hitler, kata Koller, menyatakan bahwa Jerman telah kalah perang dan ia akan bertahan di Berlin untuk kemudian bunuh diri. Sebagai wakil Hitler, Goering merasa dialah yang berhak untuk memutuskan nasib Jerman ke depannya. Termasuk opsi negosiasi dengan Sekutu. Namun Goering masih takut dicap pengkhianat jika langsung bertindak tanpa sepengetahuan dan seiizin Hitler di bunkernya. Goering (kanan) bersama Hitler pada satu kesempatan sebelum dicap pengkhianat gegara telegram berisi ultimatum (Foto: nac.gov.pl ) Goering mesti hati-hati mengambil langkah berikutnya. Selain berkonsultasi dengan Koller, Goering juga berdiskusi dengan Men Sekretaris Hans Lammers. Kesimpulannya, Hitler dan semua pejabat yang bertahan di Berlin sudah pasti akan menghadapi kematian dan oleh karenanya Hitler tidak mampu menjalankan lagi pemerintahan. Artinya, Goering merasa berhak menggantikannya. Tapi sebelum itu, lanjut Boone, Goering mengirim telegram pada dini hari 23 April untuk mengonfirmasi bahwa Goering akan melanjutkan kepemimpinan Jerman berpegangan pada dekrit 1941. Goering juga mengeluarkan ultimatum bahwa jika Hitler tak mengirim telegram balasan pada pukul 10 malam, diasumsikan Hitler telah kehilangan kebebasan bertindak alias meninggal. Hal itu jelas meluapkan amarah Hitler. “Hermann Goering telah berkhianat dan meninggalkan aku dan tanah airnya. Di belakangku dia membuka kontak dengan musuh. Tindakannya menandakan sikap pengecut. Melawan perintahku dia memilih menyelamatkan diri di Berchtesgaden!” kata Hitler, dikutip William L. Shirer dalam Rise and Fall of the Third Reich: A History of Nazi Germany. “Ultimatum? Ultimatum bodoh! Sekarang tiada lagi yang tersisa. Tiada kesetiaan yang dijaga, kehormatan yang dirawat. Segera aku perintahkan Goering ditangkap sebagai pengkhianat negara. Lucuti jabatannya!” seru Hitler kepada Generalfeldmarschall Robert Ritter von Greim, orang yang ditunjuk Hitler menggantikan Goering sebagai panglima Luftwaffe. Pada 25 April, Hitler mengirim balasan telegram yang berisikan perintah penangkapan terhadap Goering. Goering diberi pilihan: dieksekusi atau mundur dari semua jabatannya dengan alasan kesehatan. Goering memilih opsi terakhir. Meski begitu, Goering lantas memilih menyerahkan diri ke Sekutu dan ditahan di Radstadt pada 6 Mei. Ia lantas diajukan ke Persidangan Nuremberg dan divonis mati. Goering memilih bunuh diri dengan kapsul sianida di selnya ketimbang dihukum mati di tiang gantung. Himmler yang (Tak) Setia Malam itu, 28 April 1945, Hitler makan malam di bunker bersama orang-orang terdekatnya, di antaranya Menteri Propaganda Joseph Goebbels, Bormann, dan Marsekal Greim. Seraya bersantap, Hitler mengoceh tiada henti tentang pengkhianatan Goering. Hitler juga membandingkan Goering dengan Himmler, panglima SS yang sejak lama dijulukinya “ Der Treue Heinrich” atau “si loyal Heinrich”. Namun di momen makan malam itu, Hitler kemudian menerima laporan dari Deputi Sekretaris Pers Heinz Lorenz. Laporan itu merupakan tangkapan staf operator radio dan komunikasi Oberscharführer (sersan) Rochus Misch terhadap siaran radio BBC dan Reuters tentang upaya Himmler mencoba bernegosiasi dengan Sekutu. Hitler pun terhenyak. “Untuk sejenak Hitler kehilangan kendali. Kemarahannya begitu lantang terdengar dari tempat saya di bawah ruangan makannya: ‘Himmler. Dari semua orang, Himmler!’ Kemarahannya mengingatkan saya terkait reaksinya ketika (Deputi Hitler di Partai Nazi, Rudolf) Hess melarikan diri ke Inggris pada 1941,” kenang Misch dalam memoarnya, Hitler’s Last Witness. Sejatinya Himmler sudah memikirkan negosiasi dengan Sekutu sejak Januari 1945 atau empat bulan sebelum bertemu Hitler di pesta ulangtahun, 20 April 1945. Himmler memulainya dengan mengirim terapis kesehatan pribadinya, Felix Kersten, sebagai perantara negosiasi dengan diplomat Swedia Count Folke Bernadotte. Dari pertemuannya dengan Bernadotte, Kersten lantas mempertemukan Himmler dengan Norbert Masur, wakil Swedia di Kongres Yahudi Dunia. Di belakang Hitler, Himmler dan Masur sepakat menegosiasikan pembebasan tahanan Yahudi di kamp-kamp konsentrasi. Himmler (kanan) yang sempat disebut Hitler sebagai kawan paling setia sebelum berkhianat jelang runtuhnya Nazi (Foto: nac.gov.pl ) Diam-diam, Himmler dengan bantuan pemerintah Denmark dan Palang Merah Swedia lalu menggelar operasi “Bita Bussarna” guna membebaskan 20 ribu tahanan Yahudi pada musim semi 1945. Himmler sendiri baru bertatap muka dengan Bernadotte di Konsulat Swedia di Lübeck pada 23 April atau hari yang sama ketika Goering mengirim ultimatum ke Hitler. “Ia (Himmler) memperkenalkan diri sebagai pemimpin sementara Jerman. Ia mengklaim Hitler akan mati dalam beberapa hari ke depan. Himmler berharap Bernadotte bisa jadi perantara negosiasi dengan Jenderal Dwight Eisenhower (Panglima Tertinggi Sekutu di Eropa), di mana Jerman bersedia menyerahkan Eropa Barat. Bernadotte meminta Himmler mengajukan proposalnya secara tertulis,” sambung Shirer. Proposal itulah yang disiarkan radio-radio Sekutu dan ditangkap Hitler sehingga tahu Himmler telah mengkhianatinya. Sebagai langkah preventif terhadap potensi percobaan pembunuhan, Hitler memerintahkan agar Hermann Fegelein, wakil penghubung Himmler di bunker, ditangkap dan dieksekusi. Kesialan Himmler mencapai puncak saat menerima kenyataan Sekutu menolak bernegosiasi. Ia tetap jadi orang yang diburu sebagai penjahat perang dan arsitek holocaust pasca-kapitulasi Jerman. Pada 23 Mei, ia tertangkap dan ditahan pasukan Inggris di kamp interogasi dekat Lüneburg. Saat tengah diperiksa tim medis, Himmler menggigit kapsul sianida dan 15 menit kemudian nyawanya melayang. Doenitz Pilihan Hitler Panglima Kriegsmarine (AL Jerman) Großadmiral Karl Doenitz (ejaan Jerman: Dönitz) ibarat plot twist dalam kisah Hitler setelah dikhianati Goering dan Himmler. Dialah yang dipilih Hitler sebagai suksesornya. Meski namanya tak termasuk di lingkaran dalam kekuasaan seperti Himmler atau Goering, Doenitz mendapat respek dari Hitler berkat upayanya membangun Kriegsmarine yang berujungtombakkan kapal selam. Doenitz pula yang merancang Rudeltaktik (taktik kawanan serigala kapal-kapal selam Jerman) yang sohor di Pertempuran Atlantik (3 September 1939-8 Mei 1945). Di samping reputasi Doenitz, alasan pemilihan Hitler dilatarbelakangi oleh fakta tak ada satupun perwira Kriegsmarine aktif yang terlibat dalam Plot 20 Juli. Satu-satunya yang terlibat, Laksamana Wilhelm Canaris, saat itu bertugas sebagai kepala Abwehr (Dinas Intelijen Angkatan Bersenjata Jerman). Bukan hanya Doenitz, sejumlah perwira angkatan darat terkejut akan keputusan Hitler di hari-hari terakhirnya itu. “Siapa Tuan Doenitz ini? Pasukan saya tak terikat sumpah kepadanya. Saya akan bernegosiasi sendiri dengan pasukan Inggris di belakang saya,” ujar Obergruppenführer (letjen) Felix Steiner, salah satu jenderal SS di Pertempuran Berlin (16 April-2 Mei 1945), dikutip Ian Kershaw dalam The End: The Defiance and Destruction of Hitler’s Germany 1944-1945. Doenitz menjabat Reichspräsident merangkap menteri perang dan panglima Kriegsmarine. Dia kemudian mendirikan pemerintahan di Flensburg, sebagaimana dimuat dalam wasiat Hitler yang ditandatangani di bunker, 29 April 1945. “ Führer meninggal kemarin (30 April 1945) pada pukul 15.30. Wasiat pada 29 April menunjuk Anda sebagai Reichpräsident (terlampir nama-nama anggota kabinet). Wasiat perintah Führer akan dikirimkan kepada Anda oleh Bormann. Waktu dan dan bentuk pengumuman kepada pers dan pasukan diserahkan pada Anda,” tulis Goebbels dalam telegramnya kepada Doenitz tertanggal 1 Mei 1945, dikutip Shirer. Laksamana Doenitz (kiri) sempat tak percaya ia ditunjuk sebagai suksesor Hitler (Foto: nac.gov.pl ) Doenitz sadar bahwa negaranya sudah di ambang keruntuhan. Opsi menyerah kepada Sekutu jadi harga mati ketimbang menyerah pada Soviet. Maka perintah pertamanya sebagai presiden adalah menggenjot upaya evakuasi sisa-sisa pasukan Jerman di front timur lewat Operasi Hannibal yang sudah ia rintis pada Januari 1945. Evakuasi pasukan dari koridor Polandia dan Prusia Timur dilakukan dengan mengerahkan kapal-kapal Kriegsmarine. Mengingat Soviet kian menguasai Berlin, Doenitz mempercayakan pada wakilnya, Laksamana Hans-Georg von Friedeburg, agar mengulur waktu kapitulasi di markas Jenderal Eisenhower di Rheims. Tujuannya agar ketika kapitulasi disepakati dan ditandatangani, semua sisa pasukan Jerman lebih dulu diselamatkan dari front timur ke front barat. Praktis Doenitz hanya menjabat sebagai presiden selama 22 hari lantaran pada 23 Mei 1945 ia ditahan resimen RAF (AU Inggris). Pemerintahannya di Flensburg pun otomatis bubar. Satu-satunya keberhasilan pemerintahannya, lewat Operasi Hannibal Doenitz menyelamatkan 2,2 juta pasukan Jerman dari penangkapan pasukan Soviet di front timur. Di Pengadilan Nuremberg, Doenitz dihadapkan pada tiga dakwaan: konspirasi terhadap kejahatan terhadap perdamaian dan kemanusiaan, merencanakan dan menginisiasi agresi perang, dan kejahatan terhadap hukum perang. Ia divonis hukuman 10 tahun penjara karena dianggap bersalah pada dakwaan kedua dan ketiga. Doenitz tutup usia pada 24 Desember 1980 akibat serangan jantung. Walau tak dimakamkan dengan upacara militer di Pemakaman Waldfriedhof, banyak mantan anak buahnya hadir untuk memberi penghormatan terakhir.

  • Umpatan Serdadu Belanda di Danau Toba

    Sebagai upaya menyatukan seluruh Nusantara di bawah cengkeramannya, pemerintah kolonial Belanda bergerak menuju ke Tanah Batak. Pax Nederlandica  demikian sebutan untuk misi penyatuan wilayah jajahan itu. Ekspedisi militer tersebut juga bertujuan untuk melindungi para zendeling , misionaris yang menyebarkan agama Kristen. Perlawanan datang dari Raja Batak Sisingamangaraja XII. Sejak Desember 1877, muncul desas-desus, “Si Singamangaraja akan datang dengan pasukan Acehnya untuk membunuh orang Eropa dan orang Kristen di kalangan penduduk,” tulis Walter Boar  Sidjabat dalam Ahu Si Singamangaraja . Berita itu menggemparkan pemerintah kolonial dan juga penginjil Batakmission. Pada 1 Maret 1878, Residen Boyle mengirimkan sebanyak 250 tentara dari Sibolga ke Danau Toba. Pada 20 Maret 1878, tentara Belanda memasuki Lembah Silindung dan membakar beberapa kampung. Pangaloan, Sigompulon, dan Silindung dinyatakan menjadi wilayah taklukan Belanda. Tidak cukup dengan menguasai perkampungan padat penduduk, pasukan Belanda berniat menaklukkan seluruh negeri Batak di sepanjang kawasan Danau Toba. Dalam ekspedisi tersebut, turut serta seorang misionaris bernama Ludwig Inger Nommensen. Dia utusan Seminari  Rheinische Missionsgesellschaft (RMG) di Wupertal-Barmen, Jerman. Selama perang berlangsung, Nommensen yang bertugas sebagai penerjemah dan perantara mencatat dengan seksama apa yang terjadi. “Di mana-mana terlihat kampung yang hangus dan berasap. Penghuninya bersembunyi di jurang-jurang pegunungan dan langsung melarikan diri apabila ada yang mendekat, " kata Nommensen tersuadalam majalah mingguan RMG  Berichte der Rheinischen Missionsgesellchaft  ( BRMG ) tahun 1878 dalam  Utusan Damai di Kemelut Perang: Peran Zending dalam Perang Toba  karya Uli Kozok. Pada 30 April 1878, ekspedisi militer ke huta Bakara untuk menumpas pasukan Sisingamangaraja dimulai. Nommensen mencatat, ketika pasukan mendekati tebing terlihat Lembah Bakara yang indah.Pemandangan yang menakjubkan! Jalannya menurun tajam ke lembah yangterletak 550–600 meter di bawah. Namun setiba di Bakara, pertempuran sengit berlangsung. Nommensen mencatat dalam laporannya, penduduk kampung-kampung melawan dengan gigihnya. Serdadu yang berusaha memanjat tembok dilempari dengan batu sehingga jatuh berguling. Jerit-tangis laki-laki, perempuan, anak-anak, kakek-kakek dan nenek-nenek bergema di seluruh lembah. Raja-raja kecil yang tidak dapat mempertahankan kampungnya menyerah kalah. Di Huta Ginjang, Meat, dan Tangga Batu, para rajanya dikenakan denda dan wajib sumpah setia pada Belanda. Namun di Gurgur, serdadu Belanda dibikin kerepotan oleh pasukan Batak. Jalan menuju Gurgur terjal, sekira 550-600 meter lebih tinggi. Orang Batak sudah berkumpul di atas dan menggulingkan batu ke arah barisan serdadu Belanda. Di sinilah pasukan Belanda mengalami kerugian besar. Sebanyak 2 orang meninggal sedangkan 12 lainnya cedera. Di perjalanan menuju Balige, terlihat pemandangan yang miris. Alam Danau Toba yang permai bersanding dengan nuansa kejamnya perang. Di mana-mana terlihat kampung yang hangus masih berasap. Penghuninya bersembunyi di jurang-jurang pegunungan dan langsung lari apabila ada yang mendekati persembunyiannya. “Itulah saat yang paling menyedihkan bagi kami yang datang sebagai utusan damai dan sekarang kami harus melihat bagaimana penduduk diusir dari rumahnya,” kenang Nommensen dalam laporannya. Setelah Balige dimasuki serdadu Belanda, Raja Balige pun menyatakan tunduk. Panas terik melanda ketika Residen Boyle mengadakan inspeksi meninjau daerah Balige, Serdadu yang datang setengah jam kemudian langsung menceburkan diri ke pinggir danau. Untuk kali pertama mereka langsung merasakan kenyaman Danau Toba. Banyak diantara mereka yang memandang hamparan Danau Toba dengan penuh kekaguman. Namun, ada juga yang mengungkapkan perasaan jengkelnya. “Bahwa bangsa kafir yang jorok itu memiliki bagian dunia yang begitu indah,” demikian umpatan para serdadu pongah itu sebagaimana dikutip Nommensen. Penaklukkan terus berlangsung hingga Mei 1878 yang dikenal sebagai Perang Toba I ( Batak Oorlog ). Menurut filolog Uli Kozok, penaklukan ini punya arti penting dan strategis bagi pemerintah Belanda. Tanah Batak dengan kawasan Danau Toba sebagai jantungnya terletak di antara Aceh dan Minangkabau. Dengan demikian, Tanah Batak diharapkan sebagai wilayah penyangga untuk membendung pengaruh Islam. Sementara kawasan ekonomi di Deli yang sedang berkembang dapat terus berjalan dengan aman. Lebih dari seabad berselang, tepatnya pada 10 Maret 1996, Pangeran Belanda Bernhard of Lippe-Biesterfeld berkunjung ke Sumatra Utara. Tentu saja Bernhard tidak melewatkan kesempatan menyambangi Danau Toba. Usia sang pangeran kala itu 85 tahun. Media massa memberitakan aktivitas Pangeran Bernhard yang tidak dapat menyembunyikan kekagumannya saat mengunjungi Danau Toba. Karena itu, dia ingin lagi datang untuk menikmati keindahan danau Toba.  Bernhard mengakui Toba seperti kampung halamannya sendiri.   Harian Kompas , 12 Maret 1996 mewartakan, “Pangeran Bernhard ingin namanya diabadikan di Toba.” Tawaran itu datang sendiri dari Bernhard langsung.  Pangeran negeri oranye ini mungkin alpa sejarah, bahwa para serdadunya pernah mengumpat di sana usai melakukan penghancuran dan perusakan.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Depok terkenal dengan sambaran petirnya. Banyak memakan korban, sedari dulu hingga hari ini.
bottom of page